Namaku Vennelica Calista, saat aku terbangun dalam tidur panjangku, tidak ada satu pun ingatan tersisa di benakku, termasuk mengingat namaku sendiri. Aku harus mencari tahu semuanya, siapa orang terdekatku selain keluarga dan sepupuku, hingga masa laluku yang belum diketahui. Hingga akhirnya….
Aku bertemu lelaki bermata hazel dengan wajahnya yang sedingin es dan beberapa orang yang menganggapku seseorang yang telah lama meninggal. Siapakah mereka? Mengapa mereka begitu yakin aku adalah bagian dari masa lalunya. “Terserah sih lo mau atau gak, yang jelas lo bakal kehilangan satu kesempatan untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum ingatan lo hilang. Dan lo gak akan pernah tahu, apa aja yang pernah terjadi di masa lalu lo.”
Apakah ada maksud dari kalimat itu? Dan apakah Vennelica berhasil menguak masa lalunya?
Sekuel dari Novel Indriya kai ini sungguh diluar ekpektasi saya. Saya tidak menaruh harapan banyak ketika pernah membaca sekuel pertamanya. Kemajuan yang luar biasa jika dibandingkan novel pertamanya. Jika di sekuel pertama banyak typo bertebaran di hampir setiap halamannya. Kali ini tulisannya sangat rapih. Saya hanya menemukan satu kata yang typo dan itu tidak penting dan tidak mengganggu bahkan mungkin tidak ada yang menyadari. Saya sendiri juga sudah lupa dengan kata yang mana itu.
Kedua, tentang cerita. Kisah kelanjutan Vanilla sungguh menarik. Saat di sekual pertama, tokoh-tokoh dala novel sungguh banyak dan tidak terlalu penting, kali ini Indriya sukses mengeksekusi setiap tokoh yang muncul. Saya sendiri suka dengan karakter Vino. Di novel diceritakan Ferrio yang membantu Vanilla mengingat kembali. Tetapi jika dibaca lagi, menurut saya buku Diary yang diberikan Vino lah yang membantu ingatan Vanilla.
Ketiga, Alur cerita yang bagus dan apik jika dibandingkan sekual pertama. di novel pertama, alur ceritanya sangat rumit dan susah dimengerti. Tetapi kali ini sungguh rapih. Tidak ada yang dipaksakan disini, akhir cerita juga diakhiri dengan baik.
Menurut saya Indriya belajar banyak dari komentar dan kritikan di novel pertamanya. Sukses untuk Indriya di novel-novel selanjutnya.
Berharap banyak sekali mengingat buku yang pertama. Ternyata tidak.
Ceritanya lebih sederhana dari yang pertama. Pemilihan katanya cukup bagus sehingga suasana dari cerita ini terbangun. But, for me, this book is to easy to guess. Too long. Intinya cuman di akhir dan terlalu ribet alur ceritanya tapi tidak di paksakan seperti yan pertama.
Good job kak Indriya, you did well💓
This entire review has been hidden because of spoilers.
Akhirnya aku baca juga sequel IYKW ini, sebenarnya aku berharap banyak dari sekuel ini tapi ternyata ga sebagus itu juga. Banyak banget repetisinya sampai bosen bacanya, dialognya juga flat dan suasananya kurang dapet ㅠㅠ, konfliknya jg mudah ditebak banget sih. Dan terlalu banyak kebetulan si Dava muncul mulu, juga agak ga make sense di umur 13 bisa beli apartemen tanpa ktp dan lain-lain.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Alur di buku pertama lumayan alot tapi aku masih bisa terima karena semua inti cerita ada disana. Tapi buku kedua benar-benar terasa sangat alot. Di bab-bab awal udah mulai merasa bosan. Aku berusaha menamatkan buku kedua karena sejak awal tujuanku baca lagi buku pertama dan kedua supaya lebih enak lanjut baca buku ketiganya (terakhir baca buku pertama dan kedua 6 tahun lalu).
Konfliknya lebih sederhana dari buku pertama tapi alot sekali, banyak banget repetisi, sampe bosan dengar perasaannya Vanilla, galaunya Dava, nasehat-nasehat teman-teman mereka. Dan sekali lagi, ada saja bagian-bagian yg tidak masuk akal seperti di buku pertama.
Aku sudah baca sampe buku ketiga dan ngerasa keknya aku akan lebih menikmati buku ini kalau buku kedua dan buku ketiga kisahnya lebih dipadetin dan dijadiin satu buku aja. Karena kesan dibuku ketiga yg aku dapatkan pun sama, bosan.
novel ini tidak se complicated yg sebelum nya,lebih to the point apa yg ingin penulis ceritakan. typo cuma ada sedikit dan font tulisan nya lebih enak dibaca dari sebelum nya. menurut ku ada sedikit yg kurang tp gak tau apa/?
It's pretty good walaupun gak sebagus yang pertama. Alurnya mudah ketebak dan feel nya kurang dapet. Konfliknya gak serumit yang pertama. Lumayan lah untuk isi waktu luang kala libur
I don't know how to say, tapi aku gak terlalu suka sama buku yang bersambung sambung. I mean this book is actually trilogi. Dan ada satu lagi yang belum kubaca.