Jump to ratings and reviews
Rate this book

Trilogi Hujan Bulan Juni #3

Yang Fana Adalah Waktu

Rate this book
Dalang tidak berpihak kepada nasib tetapi kepada takdir.

Kau pasti masih ingat kita pernah suatu saat membayangkan sebuah dongeng tentang waktu yang ujudnya remah-remah yang bisa kita kunyah, telan, dan muntahkan kapan saja agar tetap ada. Kita menyukai dongeng yang katamu indah itu meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya memahami apa maknanya. Sar, kalau saja kita bisa hidup di luar waktu, tiba-tiba katamu.

Bagaimanakah akhir perjalanan Pingkan dan Sarwono? Akankah waktu mempertemukan atau justru memisahkan mereka karena campur tangan takdir? Ikuti akhir kisah mereka dalam Yang Fana Adalah Waktu, novel ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono.

152 pages, Paperback

First published March 26, 2018

51 people are currently reading
811 people want to read

About the author

Sapardi Djoko Damono

122 books1,589 followers
Riwayat hidup
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.

Kumpulan Puisi/Prosa

* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
* "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
* "Mata Pisau" (1974)
* "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
* "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
* "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
* "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
* "Perahu Kertas" (1983)
* "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
* "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
* "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
* "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
* "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
* "Hujan Bulan Juni" (1994)
* "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
* "Arloji" (1998)
* "Ayat-ayat Api" (2000)
* "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
* "Mata Jendela" (2002)
* "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
* "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
* "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
* "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.

* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
* Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari.
* Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu
* Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
* satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.

Buku

* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
176 (30%)
4 stars
240 (42%)
3 stars
131 (22%)
2 stars
14 (2%)
1 star
9 (1%)
Displaying 1 - 30 of 137 reviews
Profile Image for Ragil Suprapto.
16 reviews7 followers
March 25, 2018
Saya lebih menyukai karya yang mengangkat sisi manusia dengan sederhana (sekaligus rumit) seperti ini. Ketimbang karya dengan tema tema besar yang meledak-ledak dengan balutan sejarah atau sains dan kelimuan eksakta yang dikerubutin banyak info serta teori sains (yang ujung-ujungnya sekadar seru-seruan belaka).

Cerita yang sesungguhnya sangat sederhana, malah boleh dibilang terlalu biasa saja, dibor sedalam mungkin. Ada kesan dipenuhi narasi yang terkesan diulur-ulur, ditarik-tarik sampai menemukan titik non-halusinatif, aaahh ini dipanjang-panjangin. Tapi di sini sumber sejatinya manusia. Si Bapak menulisnya dengan proyeksi nyata. Kita bisa bimbang, ini sederhana kok dibikin rumit ya? Si Bapak bisa menyindir masa manusia yang sesungguhnya: sederhana yang rumit. Itu kisah manusia generik.


Terus terang edisi penuntas ini meyakinkan bahwa cerita bisa sederhana, tapi eksekusi bisa lebih rumit dari yang sesungguhnya. Terus terang ini keren. Meski menyakitkan saat menyelesaikannya. Salut, Pak!
Profile Image for Steven S.
703 reviews66 followers
May 1, 2018
Penutup yang tidak mengecewakan.

Sebermula kisah hujan bulan juni diangkat menjadi karya novel, saya tidak terlalu antusias untuk mengikutinya. Tetapi setelah membuka halaman pertama novel itu saya tidak bisa tidak menuntaskan percintaan Sar dan Pingkan yang bikin gereget. Saya harus. Iya Sar! Sar!

Sar!

yang fana adalah waktu menghadirkan penjelasan demi penjelasan selain penutup yang diharapkan dapat memuaskan khalayak pembaca, yang saya suka banget di buku ini adalah kekuatan pak Sapardi dalam pakemnya menulis, pemilihan diksi dan penyampaian yang asyik, syik, asyik, aku suka bagaimana Pingkan berkasih-kasihan dengan Sar, celotehan-celotehan sayang mereka.

Bikin iri!

1 review
December 3, 2018
Buku merupakan sebuah bacaan yang berisi penuh makna dalam setiap bacaannya. Setiap buku memiliki isi berbeda-beda serta memiliki makna tersendiri yang terkandung di dalamnya. Yang Fana Adalah Waktu merupakan buku novel karya ciptaan Sapardi Djoko Damono yang menceritakan sebuah kisah cinta Sarwono dan Pingkan. Buku ini diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama. Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan bahwa buku ini merupakan sebuah buku trilogi ciptaan Sapardi Djoko Damono. Dalam buku novel ini fokus mengenai kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan, dan dalam buku terakhir dari trilogi yaitu Yang Fana Adalah Waktu diceritakan akhir dari seluruh cerita dari buku karya Sapardi.

Sebelum penulis membaca buku Yang Fana Adalah Waktu berdasarkan dari cover novel tersebut cukup simple dan dapat membuat seseorang menarik untuk membaca isi dari buku tersebut. Setelah membaca ringkasan mengenai buku tersebut yang tercantum dalam cover belakang buku tersebut, dapat dipastikan buku ini merupakan buku terakhir dari buku- buku sebelumnya yang pernah terbit. Sudah pastinya dalam buku ini menceritakan bagaimana kelanjutan hubungan antara Sarwono dan Pingkan yang menjadi buku lanjutan dan terakhir dari Hujan di Bulan Juni.
Dalam buku novel terakhir ini menceritakan sebuah komitmen yang sangat kuat antara Sarwono dan Pingkan. Di novel ini diumpamakan kisah cinta mereka berdua seperti burung merpati, yang berarti suara mereka yang sangat abadi, serta jika dilepaskan ke alam bebas akan tetapi kembali ke tempatnya.

Dalam hal ini menunjukan bahwa kedua insan tersebut memiliki sebuah komitmen yang kuat antara satu sama lain. Walaupun mereka berdua diberikan sebuah cobaan yang sangat besar dari dalam maupun di luar hubungan mereka berdua, Sarwono dan Pingkan tetap kuat menghadapinya. Dalam hal ini waktu yang menguji mereka berdua, karena waktu terkadang membuat manusia terlena.
Walaupun hubungan mereka terpisah oleh jarak dan waktu, Pingkan dan Sarwono tetap aktif melakukan komunikasi satu sama lain melalui surel, dan beberapa media lainnya. Hal tersebut diakibatkan oleh Pingkan yang sedang melakukan studinya di Kyoto, Jepang. Walaupun dipisahkan oleh tempat dan waktu yang berbeda, kedua pasangan tersebut tetap memiliki hubungan yang erat dan kuat. Antara Pingkan dan Sarwono yakin atas ketulusan cinta mereka berdua, sehingga dalam situasi dan kondisi apapun, mereka tetap kuat untuk menghadapinya walaupun terasa berat bagi keduanya.

Pada saat Pingkan melanjutkan studinya di Jepang, dan ia memiliki teman dekat yaitu Katsuo. Selama di Jepang Pingkan sangat sering bersama dengan Katsuo untuk membantu satu sama lain. Seiring berjalannya waktu Katsuo mulai memiliki perasaan suka kepada Pingkan. Akan tetapi orang tua Katsuo telah menjodohkan dengan Noriko yang merupakan seorang anak yatim piatu yang telah ditinggalkan oleh Ibunya karena meninggal, serta Noriko memiliki seorang ayah seorang serdadu rendahan Amerika yang telah meninggalkan ia begitu saja semenjak Noriko bayi. Selama hidupnya Noriko dihadapi oleh cemoohan orang-orang sekitarnya, dan ia harus terus kuat dan berjuang untuk menjalani hidupnya. Hal tersebut merupakan sebuah awal mula pertemuan antara orang tua Katsuo, yaitu Ibunya dengan Noriko. Ibu Katsuo sangat menyayanginya dan menginginkan anaknya yaitu Katsuo untuk dapat menikahinya dan menjadi pendamping Katsuo selama hidupnya, karena orang tua Katsuo menilai bahwa Noriko merupakan seorang gadis yang sangat baik.

Pada suatu saat Katsuo pernah mengajak Pingkan untuk bertemu dengan Noriko dan
menjelaskan bahwa dirinya dan Pingkan tidak memiliki hubungan apapun, hanya sebatas teman dalam studinya yang mereka lakukan. Noriko sudah jatuh cinta kepada Katsuo, dan Noriko sangat menginginkan dirinya dapat hidup bahagia bersama Katsuo. Tetapi seiring berjalannya waktu, Katsuo perlahan mulai jatuh hati kepada Pingkan. Akibat dari perjodohan yang telah dilakukan oleh orang tua Katsuo yaitu Ibunya, Katsuo memutuskan mengurung diri atau hikikomori untuk memikirkan hal tersebut.

Setelah pertemuan yang dilakukan antara Pingkan dan Noriko memberikan hal yang positif kepada dua perempuan tersebut. Noriko mulai untuk dapat memiliki komitmen yang kuat pada dirinya untuk bersikap yang ia pelajari dari Pingkan. Noriko melihat Pingkan memiliki keteguhan hati dan memiliki komitmen yang sangat kuat dalam dirinya. Dari hal tersebut Pingkan dan Noriko menjadi teman baik, dan juga mereka saling menyanyangi.

Dari buku trilogi terakhir ciptaan Sapardi Djoko Damono ini, hubungan antara Sarwono dan Pingkan semakin erat. Kedua pasangan ini semakin kuat komitmen dalam dirinya masing-masing untuk menjalani kisah hubungan mereka berdua, walaupun mereka dipisahkan oleh tempat dan waktu yang berbeda. Seirig berjalannya waktu dengan hubungan yang dijalani oleh Sarwono dan Pingkan terjadi beberapa permasalahan yang diakibatkan diluar hubungan mereka, yaitu salah satu permasalahan mengenai pernikahan berbeda suku, ras, budaya, ataupun status sosial mereka. Hal tersebut asing bagi kedua orang tua mereka. Jika kita relasikan dengan kehidupan di zaman modern seperti saat ini, hal tersebut bisa saja terjadi dan tidak bisa kita hindari. Selama kita hidup, kita akan kenal dengan bermacam- macam orang yang terlahir dari suku, ras, budaya yang berbeda. Akan tetapi, suatu saat akibat dari perkenalan seseorang dengan orang asing lainnya yang dapat kita temui kapan saja, dapat menjadi sebuah awal mula kisah cinta seseorang yang dapat melengkapi satu sama lain,
bahkan dapat menjadi pendamping hidup mereka.

Pernikahan antar suku, ras, budaya, bahkan antar warga lokal dan warga asing sudah
sering terjadi jika kita lihat pada zaman modern ini. Dalam hidup ini kita tidak bisa menghalangi rasa cinta kita dengan seseorang akibat adat atau kebiasaan lama, yang jika kita lakukan di zaman yang berbeda akan tidak sesuai. Walaupun kedua orang tua Sarwono dan Pingkan pada awalnya tidak setuju mereka berdua menjalankan hubungan yang keduanya memiliki budaya yang berbeda, tetapi pada akhirnya kedua orang tua dari mereka menyadari bahwa hal tersebut tidak bisa dipaksakan melalui kebiasaan atau budaya lama. Hal tersebut merupakan pilihan, selama hal tersebut untuk hal positif, dan kita tetap memegang teguh kebudayaan asli yang kita miliki, hal tersebut lumrah jika dilakukan.

Menurut pandangan saya, buku karya Sapardi Djoko Damono ini memiliki isi yang sangat bagus untuk dibaca karena setiap kata-katanya memiliki makna tersendiri. Membuat para pembaca buku ini ingin terus mengetahui kelanjutan dari isi cerita dalam buku ini. Sapardi pun berhasil membuat para pembacanya dapat seakan-akan mereka berada di dalam cerita tersebut. Hal pertama yang saya sukai dari buku ini yaitu sangat simple mulai dari penggunaan kata-kata, serta dari cover buku ini pun terlihat sangat simple, sama seperti isinya yang dapat semua orang baca dengan mudah untuk dimengerti. Dapat kita ketahui juga bahwa Sapardi merupakan seorang Guru Besar dan Sastrawan, yang seringkali menciptakan karyanya sangat puitis dan berisi sastra-sastra yang tidak semua orang dapat mengerti, tetapi berbeda dengan buku ini. Dalam buku ini Sapardi dapat menggabungkan keduanya, yaitu antara kalimat-kalimat puitis dengan bahasa sehari-hari atau bisa disebut bahas modern saat ini yang dapat dimengerti oleh berbagai kalangan.

Dalam buku ini juga Sapardi dapat mengangkat beberapa nilai kebudayaan bangsa
Indonesia, mulai dari suku budaya, ras, serta status sosial dari setiap karakter tokoh yang ada dalam buku ini. Dapat dilihat dari kedua tokoh dalam buku ini yaitu Sarwono dan Pingkan yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Sarwono merupakan orang Jawa yang merupakan keluarga Raden yang sudah pastinya memiliki budaya Jawa yang sangat kental, dan erat dalam dirinya, serta sifat-sifatnya yang menggambarkan ia sebagai orang Jawa, seperti halus, sabar, dapat memiliki komitmen yang kuat dalam dirinya. Jika dilihat dari sisi Pingkan yang memiliki latar belakang budaya Manado yang memiliki marga Pelenkahu, ia menggambarkan orang Manado yang cenderung sangat ramah, dan tidak terlalu banyak bicara, serta dirinya sama seperti Sarwono memiliki sifat yang kuat dalam memegang prinsip atau komitmen. Kedua sifat dari pasangan tersebut tergambarkan dalam buku ciptaan Sapardi Djoko Damono ini.

Dalam buku ini juga dijelaskan bahwa begitu pentingnya sebuah komitmen dan kejujuran satu sama lain dalam menjalankan sebuah hubungan. Hal tersebut dapat dilihat bahwa keduanya merupakan pondasi utama yang sudah seharusnya dilakukan oleh pasangan, apalagi seperti Sarwono dan Pingkan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh. Kejujuran satu sama lain yang membuat mereka tetapi dapat menjalani hubungannya dengan baik, walaupun terkadang kita tahu bahwa jujur itu menyakitkan, akan tetapi itu lebih baik dibandingkan kita berbohong atau menutupi hal yang sebenarnya terjadi.

Dari beberapa kelebihan yang ada dalam buku ini, akan tetapi sudah pasti ada kekurangan dalam buku ini. Menurut saya pribadi, alur cerita dalam buku ini sangatlah datar. Terkadang saya sedikit merasa bosan saat membaca buku ini. Akibat dari alur cerita yang sangat datar disebabkan oleh buku ini yang terlalu fokus kepada karakter tertentu, dan kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan saja. Konflik yang terjadi dalam buku ini bisa dikatakan tidak terlalu banyak.

Selain itu juga terkadang ada beberapa halaman yang berisikan kata- kata puitis yang terkadang seseorang yang membacanya harus berpikir sejenak untuk mengartikannya, walaupun kata-kata atau kalimat puitis tersebut tidak terlalu rumit, akan tetapi terkadang membuat pembacanya untuk berpikir sejenak untuk mengartikannya.

Setelah saya membaca buku ini saya sangat merekomendasikan buku ini kepada orang-orang, terutama anak-anak muda, untuk dapat mempelajari sebuah kisah cinta atau arti cinta yang lebih kompleks. Selain hal tersebut saya juga tertarik ada buku kecil yang terselip dalam buku novel ciptaan Sapard Djoko Damono ini yang berisi sajak-sajak yang mengenai kisah cinta Sarwono dan Pingkan yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, Jawa dan Manado. Dari kelebihan dan kekurangan dalam buku ini, saya merasa buku ini sangat layak untuk dibaca oleh berbagai kalangan, dan dapat dinikmati isi dari buku ini oleh setiap orang.
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
August 2, 2018
Selama baca buku ini, saya bertanya-tanya apakah kalau bukan Sapardi Djoko Damono saya akan semekmaklumi ini? Ceritanya sebetulnya sederhana dengan ide yang cukup menarik. Kenapa dibuat rumit dan kesannya dipanjang-panjangkan? Dan diputar-putarkan dengan dialog puitis yang membuat tidak bisa fokus. Bahkan ada beberapa bagian yang karakter-karakternya saja bingung dengan apa yang dibicarakan. Bagaimana yang baca tidak ikutan bingung. Kadang juga dialog-dialognya dibuat kekinian yang malah menjadikan keseluruhan novelnya jadi kurang terikat dengan halus.

Atau mungkin itu yang ingin disampaikan oleh SDD? Atau memang karena SDD yang tulis buku ini, jadi mudah memaklumi? Padahal saya juga tidak begitu ngerti sih sama buku pertama dan keduanya. Tapi kan sayang kalau menggantung dan tidak beli buku pamungkasnya. Dan sisipan buku puisinya menarik sekali.
Profile Image for Jonas Vysma.
30 reviews32 followers
January 9, 2019
Sesuatu yang membuat saya sedikit menggaruk lembut kepala saya adalah, trilogi Hujan Bulan Juni ini sebenarnya bisa dibikin 1 buku kok dipecah jadi 3 buku ya? Hmm saya kurang paham. Apakah karena proses penciptaan atau strategi pemasaran atau penulis memang memberi pesan yang tidak tunggal dan atau yang lain berkenaan dengan satu cerita dibagi ke dalam beberapa bagian buku.

Kesan pada novel ini sama seperti buku puisi Saaprdi - Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? - yang terakhir saya baca; Sapardi membuat suatu cerita yang sederhana, tentang kehidupan asmara dua sejoli lengkap dengan dinamika sosial-budaya para tokoh. Namun dengan narasi yang mengajak pembaca berpikir; kok malah jadi runyam & pelik sih?!

Secara pribadi dengan pemahaman seadanya, saya lebih suka buku puisi Sapardi ketimbang novelnya. Di novel ini juga ada sisipan bonus puisinya, kumpulan puisi Sarwono untuk Pingkan. Secara keseluruhan sebagai sebuah ide cerita dan sebuah cerita dalam format novel, Yang Fana Adalah Waktu adalah rangkaian cerita yang menutup kisah asmara Sarwono & Pingkan, dengan digantungi cerita Noriko - gadis Jepun - yang tidak jadi berasmara dengan Katsuo, yang malah memutuskan hidup di Solo. Hadeuh, ada-ada saja. Saya suka novel ini. Gaya penceritaan Sapardi tak sesuai ekspetasi saya pada awalnya. Karena seorang Sapardi lebih lekat sebagai penyair dalam benak saya. Misalnya saja saya hadirkan penulis Djenar Mahesa Ayu yang gaya penulisan ceritanya lebih banyak berima.

Jangan di filmkan deh. Soalnya ekspetasi saya terhadap tokoh Pingkan dan Noriko itu cantik ala-ala saya. Tapi kayaknya ada, ya, film Hujan Bulan Juni?
Hmm... Buku ini layak dibaca oleh masyarakat awam & yang tidak awam. Gaya penuturan ceritanya tak seperti penulis novel Indonesia yang saya tahu. (ya iyalah, saya kan cuma tahu sedikit siapa novelis Indonesia wkwk).
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
March 25, 2018
Kadang mikir, kok yaaa aku tetep saja membeli dan membaca novel trilogi Hujan Bulan Juni yang novel ini ya? Entahlah. Heeheee....

Kisah Sarwono dan Pingkan sejatinya sudah tidak lagi menarik diikuti bahkan semenjak buku pertama saya baca. Saya pernah bilang, hanya Pak Sapardi yang boleh dan laris menulis novel seperti ini. Kisahnya berlarat-larat, dipanjang-panjangin. gitu.....

Kalau alasan saya membeli cetakan pertama bagian ketiga ini adalah akan adanya sisipan puisi yang ditulis raden sarwono hadi kepada pingkan. saya rasa ini akan menjadi harta karun yang mungkin tidak lagi ditemukan di cetakan selanjutnya.
1 review
November 18, 2018
Resensi "Yang Fana Adalah Waktu"

1. Detail Buku

a. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

b. Ilustrasi: Suprianto

c. Pengarang:
    Sapardi Djoko Damono lahir pada tanggal 20 Maret 1940 di Surakarta, Jawa Tengah. Ia telah menerima penghargaan pencapaian seumur hidup dibidang FIB UI, The Habibie Center, Akademi Jakarta (2012), dan banyak penghargaan lainnya. Saat ini, ia masih mengajar dan membimbing tesis, dan disertasi mahasiswa pascasarjana di IKJ, UI, Undip dan ISI Surakarta. 

2. Inti Resensi   
a. Sinopsis
     Kau pasti masih ingat kita pernah suatu saat membayangkan sebuah dongeng tentang waktu yang ujudnya remah-remah yang bisa kita kunya, telan, dan muntahkan kapan saja agar tetap ada. Kita menyukai dongeng yang katamu indah itu meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya memahami apa maknanya. Sar, kalau saja kita bisa hidup di luar waktu, tiba-tiba katamu.
     Bagaimanakah akhir perjalanan Pingkan dan Sarwono? Akankah waktu mempertemukan atau justru memisahkan mereka karena campur tangan takdir? Ikuti akhir kisah mereka dalam Yang Fana Adalah Waktu, novel ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Darmono.

b. Ringkas Cerita:
     Sarwono sudah mendengar tentang Pingkan dari temannya, Toar, namun, saat pertama kali Sarwono melihat dan bertemu dengan Pingkan secara langsung, ia sudah jatuh cinta kepadanya. Pertemuan pertama Sarwono dan Pingkan bertempat di kediaman Bu Pelenkahu (Ibu Pingkan) pada saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sejak itu, hubungan mereka berlanjut dengan komunikasi cinta lewat surat.
   Pingkan dan Sarwono terpaksa harus menjalani hubungan jarak jauh. Pingkan harus pergi ke Jepang untuk melanjutkan tanggung jawab kuliahnya. Sedangkan Sarwono tetap di Indonesia, awalnya di Solo namun karena ada pekerjaan di Jakarta ia jadi pindah ke Jakarta. Sejak mereka berdua terpisahkan oleh jarak, Sarwono jadi sering sakit-sakitan karena merindukan Pingkan yang amat sangat. Ia jadi harus bulak-balik ke rumah sakit karena kondisinya yang kian menurun. Ibu Sarwono khawatir akan kondisinya dan menawarkan untuk tinggal di Jakarta dengan Sarwono untuk merawatnya. Namun, Sarwono menolak. 
    Saat Pingkan lagi di Jepang, ada seorang pemuda laki-laki Jepang yang mencoba untuk mendekati dia. Dengan maksud ingin menjadi pacarnya, walaupun ia tahu bahwa Pingkan sudah memiliki Sarwono. Laki-laki tersebut bernama Katsuo. Pingkan pun bingung. Ia masih sayang akan Sarwono, tapi ia juga berpikir kalau Katsuo juga sudah baik dengannya. Saat Pingkan dan Sarwono sedang video call pun, hal yang diceritakan Pingkan ke Sarwono adalah Katsuo. Katsuo penasaran "Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka?" Namun Pingkan meyakinkan Sarwono kalau mereka hanya sebatas teman.
    Noriko merupakan seorang yatim piatu. Ibunya sudah meninggal, sedangkan bapaknya sudah lama meninggalkannya entah kemana, makanya ia anggap bapaknya sudah meninggal. Katsuo dijodohkan dengan Noriko oleh ibunya. Ibu Katsuo memaksa Noriko untuk menjadi mertuanya. Noriko menyetujuinya karena ia berfikir untuk membalas budi Ibu Katsuo karena ia sudah banyak menolong Noriko sejak ibunya meninggal. Noriko dan Katsuo sebenarnya tidak saling cinta, tapi mereka tidak dapat melakukan apa-apa, selain menerima pasrah. Katsuo sebenarnya mencintai Pingkan, tetapi Pingkan sudah terlanjur cinta dengan Sarwono. Pingkan pulang ke Solo untuk menemani Sarwono. Akhirnya, mereka (Pingkan dan Sarwono) memutuskan untuk pindah ke Jepang. Mereka ingin memulai kembali hubungan mereka dari awal.

3. Keunggulan dan Kekurangan Novel
a. Keunggulan
     Terdapat banyak sekali hikmah dan nilai-nilai kehidupan yang dapat kita ambil dari novel ini. Mulai dari pengorbanan untuk mempertahankan sebuah hubungan sampai terpaksanya menjalin hubungan dengan adanya paksaan dari pihak lain. Buku ini juga relatable kepada beberapa orang, terutama para pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh. Karena, saat membaca buku ini, jika salah satu dari kita mengalaminya pasti akan berpikir seperti "wah bener banget tuh!" 
    Selain dari sisi alur cerita, novel ini juga banyak mengandung unsur budaya campuran Jepang dan Indonesia. Pembaca jadi dapat belajar banyak tentang budaya asing, Jepang. Bagaimana Pingkan harus beradaptasi dengan budaya Jepang, perbedaan budaya Indonesia dan Jepang dan hal-hal lain semacam itu.

b. Kekurangan
     Walaupun halaman di buku sedikit, namun alur cerita novel sedikit bertele-tele. Selain itu, alur cerita saat pertama kali membaca akan sedikit membingungkan. Mungkin, karena buku ini adalah buku ketiga dari trilogy Hujan Bulan Juni, jadi saya tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Mungkin karena halaman sedikit itu pula, penulis jadi harus menambah-nambah kalimat agar alur cerita terlihat panjang. Tetapi, akhirnya menjadi bertele-tele. 
      Selain itu, buku ini mengandung banyak filosofi yang mungkin banyak orang awam – termasuk saya – tidak mengerti apa maksudnya. Pembaca harus benar-benar tahu apa arti dan mempelajari filosofi untuk mengerti apa yang penulis maksud. Tetapi, hal ini dapat menjadi keunggulan juga karena dari sini, kita dapat mengambil nilai-nilai yang tercantum dalam novel.

4. Unsur intrinsik dan Ekstrinsik
a. Unsur Intrinsik
Tema: Waktu dan Percintaan

Penokohan:
- Sarwono dan Pingkan: Mereka adalah tokoh utama dalam novel ini dan juga seri novel Hujan Bulan Juni. Karena mereka tokoh utama, hampir semua konflik cerita mengarah ke mereka berdua. Sarwono dan Pingkan sudah saling mengenal dan menjalin hubungan sejak mereka SMP.  
- Pingkan dan Katsuo: Katsuo menyukai Pingkan. Ia berusaha mendekati Pingkan, walaupun ia tahu Pingkan sudah memiliki pacar, Sarwono. Sayangnya, nasib dan hati berkata lain. Hati Pingkan masih sama Sarwono. Walaupun Pingkan suka sama Katsuo dan berpikir Katsuo itu orang baik, tetapi ia lebih mencintai Sarwono.
- Katsuo dan Noriko: Noriko adalah perempuan yang dijodohkan oleh ibunya untuk Katsuo. Walaupun keduanya tidak saling cinta, ibunya bersikeras untuk dijodohkan. Katsuo tidak menyukai Noriko karena ia sudah terlanjur suka dan sayang kepada Pingkan, tapi itu tidak terjadi. Sedangkan Noriko menyetujui perjodohan karena ia merasa Ibu Katsuo sudah membantu banyak dalam kehidupan Noriko, jadi dengan inilah ia mungkin dapat membalas kebaikan dan pertolongan Ibu Katsuo selama ini.
- Noriko dan Ibu Katsuo: Noriko merupakan anak yatim piatu. Ibunya sudah meninggal, sedangkan bapaknya sudah lama meninggalkannya, jadi ia anggap bapaknya sudah tidak ada juga. Sejak ibu Noriko meninggal, Ibu Katsuo lah yang selalu membantu Noriko dalam segala hal. Walaupun Noriko merasa tidak enak dan sudah menolak, tetapi Ibu Katsuo selalu memaksa untuk membantu. Ibu Katsuo juga ingin Noriko jadi istri Katsuo. 

Latar:
- Solo: Solo adalah kota dimana Pingkan dan Katsuo pertama tinggal. Mereka pertama bertemu di rumah Bu Pelenkahu (Ibu Pingkan) yang terletak di Solo. Sarwono juga merupakan orang asli Solo, maka dari itu, kental sekali budaya Jawa yang terdapat di novel ini. Walaupun keluarga Pingkan (Pelenkahu) berasal dari Manado, tetapi ia tinggal di Solo. 
- Jakarta: Sarwono pindah dari Solo ke Jakarta. Alasan Sarwono pindah ke Jakarta adalah karena ada urusan pekerjaan. Namun, sejak di Jakarta, ia jadi sering sakit-sakitan. Orangtuanya berasumsi bahwa itu karena ia merindukan Pingkan yang sedang ada di Jepang. Ia harus bolak-balik rumah sakit selama ia di Jakarta karena kondisinya yang kian menurun.
- Kyoto: Tempat dimana Pingkan tinggal selama ia di Jepang. Ia juga pertama kali bertemu dan didekati dengan Katsuo di Kyoto, Jepang. Kyoto merupakan tempat dimana Pingkan melanjutkan studinya yang akhirnya Sarwono juga datang untuk melanjutkan studinya. Di akhir cerita, mereka juga akhirnya memutuskan untuk menetap di Kyoto untuk mengulang kembali hubungan mereka berdua.
- Okinawa: Okinawa adalah tempat dimana Pingkan bertemu Noriko untuk pertama kalinya. Okinawa juga merupakan daerah asal Katsuo. Ibu Katsuo dan Noriko tinggal disana.

Amanat:
- Dalam sebuah hubungan harus ada pengorbanan dan kepercayaan antar satu sama lain: Di dalam buku, disebutkan berulang kali bahwa Sarwono dan Pingkan harus menjalankan hubungan jarak jauh. Mereka terpaksa harus dipisahkan oleh jarak dan perbedaan waktu. Sarwono harus menetap di Indonesia, sedangkan Pingkan harus ke Jepang untuk sementara waktu. Satu-satunya komunikasi yang mereka dapat lakukan adalah dengan melakukan video call. Namun, mereka dapat mempertahankan hubungan mereka sampai akhir cerita karena adanya kepercayaan antar satu sama lain. Hal tersebut membuktikan bahwa jarak dan waktu bukanlah sebuah halangan dalam satu hubungan jika keduanya mau berkorban dan percaya pada pasangan yang lainnya.  
- Jangan mengganggu hubungan orang lain: Kisah percintaan buku "Yang Fana Adalah Waktu" menunjukkan adanya cinta segitiga. Dimana Sarwono dan Pingkan sedang bahagia berpacaran, namun Katsuo mengusik kebahagiaan mereka. Mungkin Katsuo tidak menyadarinya, namun yang dia lakukan sudah mengganggu hubungan mereka. Selain itu, Katsuo mengetahui kalau Pingkan sudah mempunyai pacar, tapi tetap saja ia dekati Pingkan dan berharap ia menjadi pacarnya.
- Ikutilah kata hatimu bukan kata pujaan hatimu: Ibu Katsuo menjodohkan Katsuo dan Noriko. Noriko menyetujuinya karena ia dipaksa oleh ibunya, dan juga karena ibu Katsuo sudah banyak membantunya jadi seperti balas budi. Namun dari situ, hidup Noriko jadi menderita karena ia sebenarnya tidak mencintai Katsuo. Ia melakukannya dengan terpaksa. Dari cerita tersebut mengajarkan kita untuk jangan ikuti kemauan orang lain, namun lakukanlah untuk diri sendiri. Kita, diri sendirilah yang menentukan takdir hidup kita.

Sudut Pandang: : Campuran. Karena, terkadang penulis menuliskan memakai saya, dan juga memakai nama tokoh.

Gaya Bahasa: Campuran. Bahasa sehari-hari dan Bahasa filosofi.

b. Unsur Ekstrinsik
- Latar Belakang Penulis
     Sapardi Djoko Damono adalah seorang dosen di beberapa universitas ternama di Indonesia. Di dalam novel, disebutkan juga bahwa pekerjaan Sarwono adalah dosen, sama seperti dirinya. Maka dari itu, ia membagikan pengalamannya sebagai dosen untuk dijadikan cerita. Selain itu, Sapardi juga merupakan orang jawa – ia lahir di Solo – maka dari itu, kental sekali budaya jawa – seperti Bahasa, adat, kebiasaan, dll – yang ada dalam novel.

5. Kesimpulan
     Menurut saya, secara keseluruhan, buku ini bagus untuk dibaca. Karena, buku ini mengandung nila-nilai kehidupan yang jarang didapat di novel lainnya. Selain itu, alur cerita juga cukup menarik untuk dibaca, walau kadang sedikit membosankan.  Namun, buku ini mungkin tidak cocok untuk anak berusia dibawah tiga belas tahun karena bahasa yang digunakan dan juga alur cerita yang cukup dewasa. Mereka mungkin tidak akan mengerti alur cerita. Buku ini cocok untuk anak remaja dan juga pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh.
Profile Image for Raden Mas Satyo.
1 review
November 15, 2018
Buku Yang Fana adalah Waktu adalah buku yang ditulis oleh orang yang bernama Sapardi Djoko Damono. Beliau dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh dengan makna kehidupan. Beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun publik umum. Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini, SDD sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Buku tersebut merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya, yaitu novel yang berjudul Hujan Bulan Juni. Novel ini adalah novel terakhir yang Sapardi Djoko Damono publikasikan. Novel yang ketiga ini masih melanjutkan sebuah kisah tentang Sarwono dan Pingkan. Berdasarkan buku yang saya baca ini, terdapat banyak tradisi dari berbagai macam daerah seperti Jawa dan Manado. Karena ada unsur-unsur yang di mana buku ini menjelaskan tentang gelar yang bernama “Raden” dan nama keluarga dari Manado yaitu “Keluarga Pelankahu”. Para pembaca pasti tidak asing kepada hal-hal seperti ini (terutama untuk orang Jawa dan Manado), karena penulis Sapardi Djoko Damono itu lahir di Solo. Tidak hanya ada penjelasan tentang gelar dari Jawa dan nama keluarga dari Manado, tetapi juga ada berbagai Bahasa Jawa yang diaplikasikan ke dalam buku tersebut seperti edan tenan (gila bener) dan bibit-bobot-bebet (ungkapan yang menunjukkan bahwa orang harus berasal dari keluarga baik-baik jelas asal-usulnya, dan mampu memberi nafkah).
Buku ini adalah kelangsungan cerita Sarwono dan Pingkan yang di mana ceritanya masih menggantung seperti novel yang pertama yang berjudul Hujan Bulan Juni dan masih ada jarak Kyoto dan Solo/Jakarta terlepas setelah buku Pingkan Melipat Jarak. Sarwono yang sedang menjalani masa penyembuhan kembali saling berkomunikasi melalui email dengan Pingkan yang melanjutkan studinya di Jepang. Cinta dua sejati itu tidak terganggu sama sekali, terlepas dari apa yang sudah terjadi, tapi jarak jauh dan waktulah yang membawa kembali di antara mereka. Sementara itu, pasangan bapak dan ibu Hadi beserta Ibu Pelankahu tampak masih berkasak-kusuk perihal hubungan kedua anak mereka. Hubungan antara Pingkan dan Katsuo semakin asing ketika pria Jepang itu menyeret Pingkan ke Okinawa, kampung halamannya, untuk menemui Noriko, gadis yatim piatu yang dijodohkan ibu Katsuo untuk anaknya. Katsuo ingin meyakinkan gadis itu, bahwa tak ada hubungan spesial antara dirinya dengan Pingkan. Hal yang tampaknya diada-adakan, karena, tentu saja, Katsuo sejak mula tidak menganggapnya demikian. Tak disangka, perkenalan kedua perempuan dalam hidup Katsuo membawa arah baru dalam kehidupan dan jalinan hubungan mereka.
Tentu, buku tersebut memiliki sebuah keunggulan. Saya kalau membaca buku ini, selalu mengingatkan saya kepada momen-momen di mana saya sedang jatuh cinta kepada seorang gadis, tapi sayangnya saya ditolak. Tapi itu sebuah momen penting yang di mana saya bisa merasakan cinta itu seperti apa. Waktu saya mendekati perempuan itu, jantung saya berdegup-degup dengan cepat. Dengan kondisi seperti itu, saya sedang merasakan sebuah ketegangan, tapi rasa tegang tersebut menghasilkan sebuah hal yang positif, tidak seperti tegang saat melakukan berbicara di depan publik. Rasanya itu penuh dengan campuran antara senang dan tegang. Karena pada saat saya mau mengincar hatinya, yaitu pada saat hari terakhir di SMP, dia sudah pindah sekolah. Saya sangat sedih sekali, tetapi saya masih bisa mengobrol dengan dia pada saat dia mempunyai waktu bebas. Tapi saya tidak bisa bertemu lagi dengan dia. Juga, saya hanya mengobrol lewat Online.
Pada saat saya membaca buku ini, buku ini persis dengan apa yang saya telah alami. Saya telah mengalami hubungan jarak jauh dengan dia. Tapi bedanya adalah Sarwono dan Pingkan mempunyai sebuah derajat solidaritas yang ketat. Tapi, saya telah ditinggal oleh dia, karena dia sekarang sudah mempunyai pacar. Dengan waktu kurang lebih seminggu, saya telah menyelesaikan buku ini. Setelah saya menyelesaikan buku ini, saya bingung dengan diri sendiri. Saya bertanya kepada saya sendiri tentang mengapa sebuah hubungan cinta bisa selalu erat?. Saya menjadi bingung dan penuh dengan kegalauan. Mengapa hidup itu tidak adil? Mengapa dia harus meninggalkan saya? Apa salah saya? Itulah yang saya tanyakan kepada saya sendiri setelah membaca buku ini. Tapi, saya juga harus berpikir positif, karena rupanya dia masih ingat dengan saya. Jadi saya bisa bilang kalau kita berdua bisa berteman. Pada awalnya, saya tidak tahu maksud buku ini apa. Juga, definisi “Cinta” di buku ini itu apa. Makanya saya membaca awalnya sebanyak dua kali. Pada akhirnya, saya menjadi mengerti. Dengan itu, saya bisa melanjutkan ceritanya dengan pemikiran-pemikiran tentang cinta. Buku ini membuat saya galau dan buku ini membawa perasaan-perasaan senang tentang hubungan antara Pingkan dan Sarwono. Saya bisa membayangkan kalau saya sudah menikah dan mempunyai istri, maka urusan saya dengan istri saya akan menjadi lebih nyaman.
Menurut saya, buku ini sangat patut dibaca oleh orang-orang, terutama generasi-generasi millennial (seribu tahun) yang sedang galau maupun berpacaran. Karena, apa yang saya baca, tema buku tersebut seperti film “Ada apa Dengan Cinta?”. Semuanya menceritakan hal-hal tentang cinta. Walaupun saya tidak suka membaca, saya sangat suka buku ini, karena mempunyai cerita yang sangat bagus. Bahkan, saya yang bermalas-malasan untuk membaca, saya menjadi ketagihan dalam membaca buku ini. Biasanya saya membaca buku ini ditemani oleh momen-momen penting saya dengan dia, cerita tentang hubungan antara ibu dan bapak saya dan tentu lagu yang energik. Mengapa demikian? karena sebuah kenangan indah harus selalu dikenang sampai saya tua, dan sebuah lagu yang membuat saya semangat biasanya bisa berpikiran yang sangat positif. Tidak hanya positif, tapi juga harus berpikir optimis. Biasanya saya sangat semangat kalau membaca buku sambil mendengarkan lagu DJ atau Disc Jockey, dan lagu dari band yang bernama Queen, karena mereka memiliki sebuah musik Rock n Roll yang di mana mempunyai banyak arti, terutama kalau si Freddy Mercury bernyanyi.
Tentu saja, semua hal didunia ini tidak ada yang sempurna. Manusia mempunyai sebuah kelemahan yang tidak bisa dihindari. Bahkan untuk menjadi sebuah perfeksionis saja tentu mempunyai suatu kelemahan. Sama seperti buku ini, buku ini mempunyai beberapa kekurangan. Bahkan saya yang menjadi salah satu pembaca untuk buku ini, telah mengetahui beberapa kesalahan. Menurut saya, yang pertama adalah mempunyai beberapa istilah bahasa Jawa yang susah untuk dimengerti. Itu mungkin karena bahasa Jawa saya sangat buruk, tetapi bukan berarti saya bisa membaca artinya di Footnote bukunya. Ada beberapa bahasa Jawa yang saya mengerti, seperti Edan. Tapi kalau istilah seperti bibit-bobot-bebet (ungkapan yang menunjukkan bahwa orang harus berasal dari keluarga baik-baik jelas asal-usulnya, dan mampu memberi nafkah). Kalau istilah seperti ini, tentu juga salah satu kelemahan saya, karena bahasa Jawa saya tidak lancar sama sekali. Pasti ada definisi yang sebenarnya di balik istilah itu. Yang kedua adalah buku ini bukan buku yang mudah untuk dimengerti. Karena ketika saya membaca awalnya, sepertinya ada sesuatu yang harus dipecahkan, yaitu arti bagian awal dari buku ini. Buku ini mempunyai awalan yang bagus, tapi saya tidak mengerti apa yang penulis coba beritahukan kepada para pembaca. Kalau yang ketiga, buku ini tidak mempunyai daftar isi, dan judul Bab. Pada saat saya membaca, saya tidak tahu sudah berapa bab yang saya baca sejauh ini. Apakah sudah melebihi bab 5 atau tidak? Padahal kalau membaca sebuah buku novel, judul bab dan daftar isi itu sangat penting. Karena kalau ingin mengadakan sebuah diskusi atau seminar sokratis dengan teman-teman, maka saya bisa mengutip halaman dan judul bab dengan mudah, sehingga saya dan teman-teman mengerti tentang apa yang saya bicarakan. Kalau yang terakhir, itu berhubungan dengan tema buku ini, yaitu percintaan. Saya suka sesuatu yang berhubungan dengan cinta, tapi saya juga kurang suka kalau ceritanya dari awal sampai akhir begitu saja, tanpa ada permasalahan antar pacar. Saya inginnya ada alur yang diubah atau bisa di panggil “Plot Twist”. Dengan itu, para pembaca mempunyai reaksi yang sangat berbeda dan membuat mereka penasaran. Misalnya Sarwono dan Pingkan sudah lama pacaran. Tiba-tiba Pingkan minta putus kepada Sarwono karena Pingkan sudah dimiliki oleh Katsuo dan Pingkan tidak akan pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan Sarwono. Jadinya akan ada sebuah konflik antara Katsuo dan Sarwono. Maka yang menang akan mendapatkan Pingkan.
Tapi dari berbagai komentar saya, saya memberikan buku ini 8 dari 10. Karena sudah mempunyai cerita singkat yang bagus, sangat sesuai dengan orang-orang yang sedang galau, dan mempunyai kisah cinta yang menyenangkan. Sehingga, para penggemar buku atau film drama bisa membayangkan seperti apa kondisi si Sarwono dan Pingkan pada waktu itu. Saya juga yakin bahwa dari buku yang pertama yaitu Hujan Bulan Juni sampai buku yang terakhir yang berjudul Yang Fana adalah Waktu. Semuanya terkoneksi antara satu dengan yang lain. Karena saya sadar bahwa kalau awalnya membingungkan, maka saya harus membaca bukunya dari awal. Jadi, saya bisa tahu bagaimana Sarwono dan Pingkan bertemu dan menjadi suka satu dengan yang lain. Saya bisa katakan bahwa kalau ingin membuat semua trilogi ini terkoneksi, maka saya harus mencari informasi tentang buku-buku sebelumnya. Saya ingin memberitahu kepada penulisnya bahwa penulis sudah melakukan yang terbaik dan membuat para pembaca senang dengan trilogi bukunya.

1 review
November 16, 2018
Di sini saya akan menjelaskan tentang resensi dari novel ini. Akan tetapi, sebelum saya mulai menjelaskan semuanya, saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang si pengarang dari novel ini. Berikutnya, saya tentu saja akan memaparkan tentang bagaimana ceritanya berjalan dan apa yang terjadi dengan tokoh utama maupun tokoh yang lain. Di akhir cerita, saya akan mengulas tentang kelebihan dan kekurangan dari buku ini.

Sapardi Djoko Damono adalah penulis novel ini, yang berjudul Yang Fana adalah Waktu. Sapardi Djoko Damono lahir di Solo, 20 Maret 1940. Ia adalah seorang sastrawan dan guru besar. Ia menghabiskan masa pendidikannya duduk di bangku SMP dan SMA di Solo. Pada masa SMA, ia mulai menulis dan menerjemahkan puisi, cerpen, novel, esai, dan drama. Kesukaannya dalam menulis bertumbuh pada saat ia menjalani masa kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selama hidupnya, ia telah menerima penghargaan pencapaian seumur hidup di bidang kebudayaan dari FIB UI pada Tahun 2017, The Habibie Center pada Tahun 2015, Akademi Jakarta 2012, dan Freedom Institute pada Tahun 2003. Sebagai seorang penulis, ia banyak sekali telah menghasilkan buku puisi yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama yakni diantaranya adalah “Hujan di Bulan Juni”, “Babad Batu”, “duka-Mu abadi”, “Ayat-ayat Api”, “Ada Berita Apa Hari Ini Den Sastro?”, “Kolam”, “Namaku Sita”, “Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita”, dan “Perahu Kertas”. Selain puisi, PT. Gramedia Pustaka Utama juga menerbitkan novel diantaranya adalah Trilogi Soekram, “Hujan Bulan Juni”, “Pingkan Melipat Jarak” (sekuel kedua novel “Hujan Bulan Juni”, esai “Bilang Begini Maksudnya Begitu” (buku apresiasi puisi), dan “Alih Wahana”. Novel karya Sapardi Djoko Damono ini merupakan novel ketiga dari trilogi novel yang berjudul “Hujan Bulan Juni”. Novel ini sebenarnya di satu sisi memiliki kekurangan, tetapi meskipun begitu novel ini paling tidak bisa menginspirasi orang-orang Indonesia karena novel ini juga memiliki kelebihan yang perlu diambil.

Sarwono adalah tokoh utama dari novel ini. Ia tinggal di Solo, Jawa Tengah, Indonesia bersama kedua orang tuanya. Terlebih, dalam buku ini juga ada beberapa unsur budaya Jawa karena apabila kita lihat bukunya, ada beberapa penulisan yang menggunakan bahasa Jawa, seperti misalnya “edan tenan”(yang artinya “Gila kamu”), “bibit-bebet-bobot” (yang artinya “Orang yang harus berasal dari keluarga baik-baik jelas asal-usulnya, dan mampu memberi nafkah). Terlebih, Jawa juga mempunyai sebutan gelar yaitu “Raden”. Tidak hanya berhubungan dengan kebudayaan dari Jawa, tetapi ada satu kebudayaan lagi yang berasal dari provinsi yang berbeda, yaitu nama “Pelenkahu” adalah nama dari marga Minahasa.

Pada awal cerita, Pingkan sangat suka sekali mengarang dan membaca dongeng. Terlebih, ia mengatakan bahwa ibunya adalah sosok yang paling ia hargai karena ibunya Pingkan adalah orang pertama yang mengajarinya bagaimana mengarang dan membaca dongeng, dan itu sudah tertular kepada Pingkan. Sebagai seorang perempuan, Pingkan berhubungan dengan laki-laki asal Solo, Jawa Tengah dengan Sarwono, yang juga seorang peneliti antropologi. Mereka pertama kenal pada saat mereka bertemu secara langsung di kediaman Bu Pelenkahu yang juga ibunya Pingkan, dan mereka semakin sering berhubungan cinta lewat surat dan surel. Sebagai seorang pasangan, mereka berhubungan cukup baik meskipun Sarwono sering sakit-sakitan dan agak sedikit bodoh ketika melakukan percakapan dengan Pingkan. Di sisi lain, kedua orang tua Sarwono sangat perhatian sekali terhadap anaknya sendiri, dan yang menjadi masalah adalah mereka sering berselisih paham. Mengapa mereka suka berselisih paham karena mereka sangat khawatir tentang keadaan Sarwono. Seperti misalnya dikatakan dalam cerita bahwa ibunya Sarwono selalu khawatir tentang keadaan Sarwono yang jauh dari orang tuanya. Sementara itu, bapaknya hanya bisa tertawa-tawa saja dan berbicara yang tidak jelas.

Saya rasa kalau saya lihat sesuatu yang menggambarkan Pingkan dan Sarwono, pasti saya langsung merasa bahwa mereka adalah pasangan yang baik dan juga cocok karena kami melihat bahwa hubungan Pingkan dan Sarwono berjalan dengan sangat baik dan semakin baik dari waktu ke waktu. Akan tetapi, yang menjadi masalah di sini adalah, Pingkan digodai oleh seorang laki-laki keturunan Jepang yang juga menyukai Pingkan bernama Katsuo. Diceritakan di dalam cerita ini bahwa Katsuo menyukai Pingkan dengan mendatangi kosnya dan mengajaknya untuk berbicara bersama. Di sisi lain, Pingkan hanya berpura-pura saja terhadap Katsuo karena pada dasarnya Pingkan tidak mencintai Katsuo. Suatu hari, Katsuo mengajak Pingkan pergi ke Jepang untuk berlibur bersama. Meskipun Pingkan sedang berlibur dengan Katsuo, tetapi Sarwono tidak pernah menyerah untuk terus mendekati Pingkan dan ia melakukan hubungannya melalui surel. dan Sarwono menyusulnya. Ketika Sarwono berlibur ke Jepang, Sarwono dan Pingkan kemudian pergi ke Sulawesi Utara untuk berlibur bersama.

Pada halaman 101, Pingkan dan Sarwono bermesra-mesraan dan menikmati keseruan bersama di Sulawesi Utara. Pada saat itu, ada hal yang membuat saya cukup manis sekali, yaitu pada saat Pingkan meremas-remas rambut dan mencium bibir Sarwono, tiba-tiba saja Sarwono menghindarkannya dan menangkap badan dan kepala Pingkan dengan cekatan dan memeluknya. Awwww so sweet. Saya rasa itu menandakan betapa sayangnya Sarwono terhadap Pingkan.

Katsuo menyukai seorang perempuan yang berasal dari Jepang bernama Noriko. Noriko adalah anak yatim piatu, ia tidak mempunyai ayah dan tidak mempunyai ibu. Melihat keadaan Noriko yang seperti itu, ibunya Katsuo merasa sangat kasihan dan peduli terhadap Noriko dan ia sudah menanggap Noriko sebagai anaknya sendiri. Menurut ibunya Katsuo, Katsuo sangat layak sekali untuk berhubungan dekat dengan Noriko, karena telah dianggap sebagai anaknya sendiri.

Akhirnya, mereka menyukai satu sama lain. Di akhir cerita, mereka pergi liburan ke Kyoto, Jepang. Pada saat pesawat hendak mendarat, tidak ada lagi yang bisa Sarwono lakukan kecuali memeluk Pingkan sambil mencium dahi dan lehernya dan membisikkan kata-kata “Aku mencintaimu”. Ketika pesawat mulai mendarat dan rodanya mulai berada di landasan, Pingkan terbangun dari tidurnya dan mengusap matanya. Setelah terbangun, ia langsung menatap muka Sarwono dan mengatakan bahwa “Kita sudah sampai”.

Buku ini memiliki kekurangan khusus bahwa apabila novelnya terlalu membahas tentang percintaan dengan lawan jenis, maka itu akan mempengaruhi semua orang terutama anak kecil, karena di novel tersebut juga terdapat adegan-adegan yang belum pantas untuk anak kecil, misalnya ada adegan cium-ciuman, ataupun segala adegan yang kira-kira belum pantas untuk dilakukan oleh anak-anak.

Kelebihan dari buku ini adalah, buku ini bisa menjadi contoh untuk semua orang karena kita juga bisa belajar dari Pingkan yang semenjak kecil menyukai membaca, menulis, dan mengarang cerita. Saya terus terang sebagai pembaca, sangat mengapresiasi buku ini karena sekali lagi Pingkan bisa menjadi contoh yang baik bagi semua orang dan anak-anak Indonesia bagaimana dia belajar dari ibunya yang sudah seperti guru di sekolah. Terlebih, ia menganggap ibunya adalah sosok yang paling utama di dalam hidupnya, dan dalam keadaan apa pun ia selalu peduli terhadap ibunya dan selalu menghargainya. Kalau saya hubungkan dengan anak-anak dan juga remaja di generasi sekarang, banyak sekali anak-anak yang kurang memanfaatkan waktunya untuk belajar, mereka kebanyakan menghabiskan waktunya untuk bermain sepuasnya tanpa mengenal waktu. Padahal, sebenarnya waktu itu adalah sesuatu yang berharga dalam hidup ini. Maka dari itu, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar banyak, untuk mendapatkan ilmu yang banyak. Karena, apabila kita membuang waktu sekecil apapun, maka sama saja kita menyia-nyiakan materi yang diberikan. Yang paling utama di sini adalah, belajar adalah langkah awal untuk menjadi lebih baik lagi.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, buku ini memiliki kelebihan dan kekurangan khusus. Maka dari itu, novel ini diperuntukkan untuk dewasa, karena semua yang dideskripsikan itu adalah semuanya untuk dewasa. Seperti contohnya, karena mereka adalah seorang mahasiswa yang saling jatuh cinta. Jatuh cinta adalah sesuatu yang kita lakukan karena kita sayang terhadap lawan jenis. Menurut ilmu sains termasuk psikologi, jatuh cinta dilakukan oleh orang yang sudah mengalami pubertas atau bagi mereka yang sudah remaja, bukan pada saat mereka masih kecil. Karena apabila kita masih kecil, kita belum tahu apa-apa dan hanya bisa berbuat sesuatu secara asal-asalan dengan tidak mengerti ini maksudnya apa. Apabila kita sudah besar, maka kita akan mengerti segala hal, dan mulai melakukan yang namanya berhubungan dengan lawan jenis seperti contoh yang dilakukan oleh Sarwono dan Pingkan. Maka dari itu, novel ini kurang pantas untuk dibaca oleh anak di bawah umur atau yang belum menginjak kedewasaan. Bagi anak di bawah umur, saya sarankan untuk dibimbing oleh orang tua, karena pada dasarnya anak kecil itu ketika melihat sesuatu yang bagi mereka belum pantas, mereka terkadang suka mengikutinya dan berbuat sesuatu yang aneh. Sekali lagi saya tegaskan sekali di sini bahwa remaja Indonesia harus membaca buku ini agar mereka bisa belajar banyak dari isi bukunya. Yang paling penting adalah, buku ini dapat memberikan pelajaran yang berharga untuk anak-anak terutama remaja-remaja Indonesia agar mereka lebih menggunakan waktu mereka dengan baik untuk belajar.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
November 23, 2018
Resensi ‘Yang Fana Adalah Waktu’ oleh Sapardi Djoko Damono
Sarah Mann

Judul Buku: Yang Fana Adalah Waktu
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2018
Isi: 144

Sapardi Djoko Damono adalah seorang sastrawan Indonesia yang dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan. Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin, Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Yang Fana Adalah Waktu adalah trilogi ketiga dalam buku Hujan Bulan Juni. Novel pertama yang berjudul Hujan Bulan Juni pertama diterbitkan pada Juni 2015, novel keduanya Pingkan Melipat Jarak hadir pada Maret 2017. Hujan Bulan Juni awalnya sebagai puisi pada tahun 1989, banyak orang telah membuat kembali sampul lagu, film, novel, dan buku yang terinspirasi dari Hujan Bulan Juni.
Buku Yang Fana Adalah Waktu oleh Sapardi Djoko Damono menceritakan tentang hubungan dua manusia ditahan oleh perbedaan budaya dan agama. Pingkan dan Sarwono menghadapi banyak masalah yang tidak hanya dapat mengganggu cinta mereka, tetapi juga budaya mereka. Yang Fana Adalah Waktu mengikuti gaya modern, dengan kata-kata yang lebih banyak remaja akan pahami dan relatable. Sapardi Djoko Damono ingin menarik penonton yang lebih muda, ia memiliki kemampuan untuk memahami apa yang sedang diperjuangkan generasi sekarang. Sebagian besar remaja menemukan cinta di usia muda dan tidak peduli tentang aturan pernikahan.

Sarwono jatuh sakit karena paru-paru dan harus terbaring berbulan-bulan untuk masa penyembuhan, di kala itu Pingkan sudah pergi ke Jepang bersama Jepun sontoloyo, Katsuo, untuk melanjutkan studinya. Pingkan masih meragukan cintanya kepada Sarwono, Pingkan masih tetap bahwa Sarwono adalah cinta satu-satunya dan juga Sarwono. Pingkan dan Sarwono yang berhubungan lewat email dan alat komunikasi Skype untuk melipat jarak mereka.
Orang-orang di sekitar Sarwono, semuanya juga mengkhawatirkannya, karena jujur mereka ingin berduaan selamanya, tetapi Sarwono berpikir bahwa ini mungkin direncanakan oleh keluarga mereka; seperti merpati dikurung bersama. Pingkan di sisi lain, khawatir tentang Sarwono tetapi saat ini di suatu tempat yang jauh. Katsuo, setelah mendapatkan keuntungan yang tidak adil, jarak yang jauh, maju di Pingkan, sementara juga meminta dia untuk bertemu Noriko, yang kebetulan menjadi cinta pertama Katsuo.
Noriko, yang memiliki masa lalu yang menyedihkan. Sendirianlah hidup Noriko, Ibunya yang sudah meninggal dan Ayah prajurit Amerika meninggalkannya sejak bayi itu, harus hidup oleh tetangga dan berjuang sendirian, sedini awal pertemuan Noriko dan Nyonya Katsuo sampai Ibu Katsuo mencintainya dan memohon Katsuo untuk menikahi Noriko karena dia adalah gadis yang baik.
Noriko, yang sudah mencintai dan berharap Katsuo ingin bahagia dengan Katsuo, tetapi bukannya menerima Katsuo yang diam dari perjodohan ini dan berniat untuk hikikomoriri. Sepanjang jalan Sarwono menulis penelitian tentang studi sosial yang ia menangkan penghargaan sementara saudaranya Budi dan teman Sarah keduanya menikah.
Noriko merasa seperti dia tidak memenuhi hidupnya, dia meminta Pingkan bahwa Noriko inging ikut dengan Pingkan ke Solo. Pingkan bingung dengan ini, karena Noriko baru saja menikah dengan Katsuo. Noriko ingin menjelajahi kehidupan Pingkan dan segera menjelajahi kehidupannya sendiri sehingga dia bisa merasa terpenuhi. Pingkan menerima dengan senang hati, mereka pun berdua pergi ke Solo. Pingkan memberitahu Ibunya untuk menemani Noriko dan membiarkannya tidur di rumahnya. Pingkan dan Sarwono pun berangkat kembali ke Kyoto, Pingkan merasakan cinta sejati untuk Sarwono dan Sarwono merasakan cinta sejati untuk Pingkan.

Menurut pendapat saya, novel Yang Fana Adalah Waktu menunjukkan perjuangan dua individu, yang berasal dari budaya yang berbeda, suku yang berbeda, dan ideologi yang berbeda. Penulis Sapardi Djoko Damono dengan jelas menuliskan ceritanya dengan banyak perhatian. Novel ini bisa sangat relevan untuk remaja di Indonesia. Kita bisa mengerti Pingkan atau Sarwono atau bahkan Katsuo dan Noriko. Itu membuat para pembaca, kita, untuk mencerminkan antara budaya keluarga kita dan cinta sejati. Buku ini juga menghadirkan kesabaran cinta antara Pingkan dan Sarwono. Sarwono yang sabar terhadap Pingkan dan dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian Pingkan. Pingkan yang selalu menemukan kenyamanan di Sarwono benar-benar mengharukan. Mungkin penulis Sapardi Djoko Damono mengimplementasikan sebagian masa mudanya di buku itu.

Buku Yang Fana Adalah Waktu memiliki banyak tulisan hebat tentang cinta dan kesulitan, seperti: “Ping, kita ini ternyata sekadar tokoh dongeng yang mengikuti pakem purba seperti yang berlaku dalam segala jenis dongeng dan tontonan Jawa.” (hlm. 86). Memang cerita buku ini oleh Sapardi Djoko Damono memiliki rasa acara drama TV, sinetron, yang biasanya kita tonton. Tidak terasa klise atau terlalu sering digunakan, karena di sebagian besar acara televisi kita dapat mengatakan bahwa mereka adalah aktor.
Sedangkan di dalam buku, rasanya asli dan kita bisa membayangkan skenario itu. Di akhir buku, itu tidak menunjukkan apakah Pingkan atau Sarwono menikah tetapi kita dapat membayangkannya, kita dapat membuat akhir cerita kita sendiri untuk mereka. Kupikir Sapardi Djoko Damono menginginkan akhir cerita seperti itu. Itu adalah pendapat saya dan mengapa saya suka buku yang memiliki akhir yang kreatif.
Aspek yang saya suka dari buku Yang Fana Adalah Waktu adalah karakternya, Sapardi Djoko Damono menyelidiki kehidupan dan sekitarnya untuk menciptakan karakter uniknya. Pingkan yang sangat cerewet dan ekstrovert tetapi dengan banyak simpati terhadap orang lain membuat pembaca merasa terhubung dengannya. Sarwono masih muda dan memiliki karakter berani yang bersedia menunggu bertahun-tahun untuk cinta Pingkan. Sarwono berkomitmen pada kehidupan relasinya dan kita ingin mendukungnya juga.
Dengan karakter Noriko, kita dapat bersimpati kepadanya karena dia berjuang dengan begitu banyak masalah dan sebagian besar adalah orang buangan. Itu membuat kita merasakan cinta padanya. Sapardi Djoko Damono mampu menciptakan karakter yang menarik ini dan itu adalah hal yang paling penting dengan sebuah buku.

Komentar saya tentang buku Yang Fana Adalah Waktu, saya tidak tahu banyak tentang aspek budaya Indonesia dan bagaimana setiap individu yang memiliki suku yang berbeda datang dalam kehidupan, tetapi setelah saya membaca buku ini, saya memahami betapa budaya itu sangat penting. Indonesia masih memegang teguh keyakinan mereka dan bahkan millenial juga. Saya tahu pasti bahwa dalam kehidupan nyata, hal-hal ini tidak akan diterima dengan mudah.

Cerita Yang Fana Adalah Waktu bisa agak sulit jika Anda belum membaca seluruh trilogi. Banyak sekali paragraf-paragraf yang terus berlanjut tanpa ada tanda baca sama sekali dan tiba-tiba satu bab sudah selesai. Saya tidak fasih berbahasa Indonesia dan dalam buku Yang Fana Adalah Waktu, banyak kata bahasa Indonesia yang saya tidak paham maka untuk itu saya harus memakai kamus.
Tidak banyak tanda koma dan itu membuat saya kesulitan membaca. Tanpa koma atau tanda titik, itu membuat ceritanya membingungkan dan buruk. Bagian pertama dari cerita bisa membosankan karena tidak menunjukkan banyak aksi atau interaksi antara Pingkan dan Sarwono. Ada saat-saat sulit untuk membedakan gaya penulisan, antara berbicara secara lisan atau e-mail dan Skyping di dalam buku.
Buku ini kurang menarik perhatian, mungkin karena ada banyak genre dalam buku yang memiliki tema berulang yang sama yaitu cinta segitiga. Itu bisa membosankan karena temanya. Kisah cinta sangat populer di seluruh dunia dan tanpa ragu, akan selalu ada pasangan tragis, cinta tak berbalas, dan akhir yang bahagia.

Bahasa dari Yang Fana Adalah Waktu bisa menyulitkan jika Bahasa Indonesia bukan bahasa pertama Anda karena ada banyak slang Bahsa Indonesia. Sapardi Djoko Damono masuk ke dalam area kids zaman now untuk menjadi referensi dalam penulisannya. Mungkin penulinya, Sapardi Djoko Damono tujuannya untuk lebih mudah dipahami dan sangat enak untuk dibaca untuk remaja-remaja Indonesia. Dalam buku itu, ia memberikan catatan kaki untuk kata-kata yang ada dalam bahasa lain, seperti Jawa dan Jepang. Itu sangat membantu jika Anda bukan orang Jawa atau Jepang. Contoh, “Hus, jangan keras-keras, nanti kalau Ibu dengar pasti dikuyo-kuyo lagi aku perkara Pingkan” (hlm. 16) arti dikuyo-kuyo adalah dimarahi-marahi. “Ia pernah sekilas bilang padaku bahwa aku ini cinta pertamanya, bahwa aku memiliki Iyashikei,” (hlm. 76) arti Iyashikei adalah kualitas yang menjadikan orang gampang terpikat. “Yang suka bilang begitu ya hanya orang pengung” (hlm. 25) arti pengung adalah kata ejekan: tidak begitu paham, bodoh.

Di dalam buku Yang Fana Adalah Waktu, saya temui paragraf-paragraf yang terus berlanjut. Seperti “…jelas yang warna putihnya jelas yang tegang lenturnya jelas yang terhubung dengan sosok yang jelas yang kemudian ya ya yang kemudian ya ya yang kemudian entah kenapa-…”(hlm. 111) banyak kata yang berulang yang sulit untuk mengatakan apakah itu kesalahan penulisan atau Sapardi Djoko Damono disengajakan menulisnya seperti itu.

Saya merekomendasikan pembaca untuk membaca ini jika Anda menyukai kisah cinta segitiga klasik, cinta di antara budaya yang berbeda, dan kehidupan mencari akhlak. Buku ini bisa menarik dan kelihat bahwa Sapardi Djoko Damono menaruh banyak pemikiran dan usaha untuk menyelesaikan buku ini. Buku Yang Fana Adalah Waktu mengajarkan kita bahwa tak ada yang abadi di dunia ini kecuali waktu. dan bahwa kita tidak perlu membuang waktu untuk memfokuskan sesuatu yang tidak akan memengaruhi hidup kita. Gunakan waktu kita untuk menemukan seseorang yang mau mendengarkan dan berbicara dengan Anda, menemukan seseorang yang dapat mendukung Anda dan mencintai Anda.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
November 25, 2018
1. Judul buku: Yang Fana adalah Waktu
2. Detail Buku
a. Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
b. Ilustrasi Sampul : Suprianto
c. Pengarang : Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono lahir pada tanggal 20 Maret 1940 di Surakarta, Jawa Tengah. Ia telah menerima penghargaan dari FIB UI, The Habibie Center, Akademi Jakarta (2012), dan masih banyak lagi. Saat ini Sapardi sedang mengajar, membimbing tesis, dan disertasi mahasiswa pascasarjana di IKJ, UI, Undip dan ISI Surakarta.
d. Cetakan : Cetakan kedua Juli 2018
e. Tebal buku : 144 halaman
f. Harga buku : Rp75.000,00.-
Novel ini adalah buku ketiga dari trilogi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Kisah ini menceritakan tentang kisah cinta Sarwono dan Pingkan. Sarwono, seorang akadamisi dan dosen di UI, menjalin hubungan dengan Pingkan yang berkuliah di Kyoto, Jepang. Tak seperti pasangan kekasih lainnya, bagi mereka jarak tidak bermain peran yang signifikan dalam hubungan mereka. Yang keduanya butuhkan hanya rasa percaya dari satu sama lain. Cerita yang cukup sederhana dan simpel ini bisa dijelma ke dalam bentuk prosa oleh Sapardi Djoko Damono. Oleh karena itu, ciri khas yang menonjol dari buku ini adalah; walau inti cerita sederhana, namun makna kata-kata dan filosofi yang terkandung di dalamnya mempunyai makna yang luas. Yang semua pembacanya bisa mengartikannya tergantung imajinasi mereka sendiri-sendiri.

1. Sinopsis
Dari sinopsis yang terletak di sampul belakang novel ini, saya masih belum bisa melihat jalan cerita apa yang akan dikisahkan. Mungkin karena saya belum membaca dua novel sebelumnya. Namun harus saya akui, sinopsis yang tercantum ini membuat pembaca penasaran. Apa maksudnya hidup di luar waktu? Apa makna dari judul novel ini? Dongeng seperti apakah yang bisa dikunyah dan ditelan? Ini adalah pertanyaan yang akan muncul setelah membaca sinopsis ini. Pembaca akan bertanya-tanya mengenai isi cerita, dan misteri tersebut diharapkan dapat terjawab saat pembaca sudah menyelesaikan dan memahami buku ini dengan saksama. Oleh karena itu sinopsis ini bisa mengajak pembaca untuk membacanya.

2. Unsur Intrinsik
♣ Tema: kekeluargaan dan cinta
♣ Tokoh & Penokohan:
o Sarwono
o Pingkan
o Katsuo
o Noriko
o Ibu Katsuo
o Bu Hadi
o Pak Hadi
♣ Alur: campuran dan maju
♣ Latar:
o Latar tempat: Kamar Sarwono, asrama Pingkan di Kyoto, rumah Katsuo di Okinawa, Cafe, danau di Okinawa
o Latar waktu: sore, malam
o Latar suasana: sedih, bingung, mesra, tegang
♣ Sudut Pandang: campuran
o Buku ini ditulis dalam sudut pandang campuran, yaitu sudut pandang orang pertama pemeran utama dan sudut pandang orang ketiga. Terkadang saya menemukan penggunaan kata “aku” di beberapa halaman, si “aku” itu adalah Sarwono dan terkadang Pingkan. Tetapi terkadang saya membacanya dari sudut pandang orang ketiga saat sedang menceritakan tentang Sarwono dan orang di sekitarnya.
♣ Gaya Bahasa: tidak formal namun sering kali menyelipkan kata kiasan.
♣ Amanat:
o Cinta harus didasarkan kepercayaan
o Jangan memaksakan kehendak, biarkan seseorang menentukan takdir mereka sendiri-sendiri
o Tidak boleh berpikiran sempit tentang dunia
o Cinta tidak bisa muncul karena terpaksa
Menurut saya unsur-unsur intrinsik dalam buku ini tidak terlalu berkesan. Mungkin yang paling menonjol hanya amanatnya dan tokoh-tokohnya seperti Sarwono, Pingkan, Katsuo, dan Noriko. Namun latar dan alur dari cerita ini tidak ‘nyangkut’ di hati saya. Beberapa unsur intrinsik ada yang tidak tersirat. Pembaca yang harus mencari-cari bagaimana alur ini bisa sesuai dengan aturan pendahuluan, awal mula permasalahan, klimaks, tensi permasalahan, dan akhir cerita. Karena cerita ini sangat sederhana, alur pun menjadi samar-samar. Klimaksnya tidak terlalu menegangkan seperti novel-novel lainnya. Namun menurut saya, ini juga termasuk sebuah keunggulan. Apa yang membuat novel ini unik karena sulit untuk dipahami. Yakni pembaca harus mengidentifikasi berbagai aspek dengan menggali kembali kalimat-kalimat yang yang ada dalam buku. Karena sebagian besar sudut pandang yang digunakan itu sudut pandang orang pertama, jadi pembaca akan membaca setiap paragrafnya seakan-akan tokoh utama yang sedang berbicara. Oleh karena itu, kalimat yang terlontar dari Sarwono, atau si ‘aku’, harus benar-benar bisa dipahami agar bisa mendapat petunjuk mengenai alur cerita juga unsur intrinsiknya.
Jika dilihat dari tokoh dan penokohan, saya rasa novel ini cukup sukses dalam menghidupkan tokoh lewat kata-katanya. Sifat-sifat tokoh bisa ditafsirkan lewat dialog antar tokoh, juga perilaku mereka. Walau dialog yang terjadi kadang tidak terlalu jelas, namun gaya bicara setiap tokoh seolah-olah mempunyai karakternya sendiri. Ada Sarwono yang penyabar dan bicaranya lembut juga halus (tentu saja halus, ia orang Solo!), ada Pingkan yang energik, optimistik, dan juga riang, ada Katsuo yang terlihat depresi dan pesimis dalam hidup, dan juga ada Noriko yang terlihat sebagai perempuan tidak berdaya yang hanya nurut-nurut saja. Tokoh-tokoh ini tergambar dengan baik karena walaupun saya belum membaca dua novel sebelumnya, saya sudah bisa melihat sifat-sifat mereka. Ini adalah salah satu keunggulan buku. Dalam kehidupan nyata, kata-kata yang terlontar dari mulut seseorang bisa menunjukkan sifat asli seseorang. Dalam buku ini pun berlaku demikian, sehingga setiap tokoh mempunyai karakternya masing-masing.

3. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik yang tercantum dalam buku ini sama halnya dengan unsur intrinsik. Yakni pembaca harus ‘mengubek-ubek’ dan menafsirkan sendiri kalimat yang terlontar dari sang sudut pandang orang pertama. Seperti contohnya unsur kebudayaan yang terdapat dalam buku adalah budaya Jawa dan Manado. Keluarga Jawa adalah latar belakang Sarwono, sedangkan Pingkan adalah orang Manado. Keduanya mempelajari budaya satu sama lain. Sarwono belajar mengenai mitologi Minahasa, yakni suku yang berasal dari Manado. Bisa terlihat di halaman 99, Katsuo berkata “Tapi kau bukan Lumimuut, kan?”. Lumimuut adalah salah satu mitologi dari Minahasa. Pingkan juga mempelajari tari tradisional Jawa. Pingkan merasa tari-tarian Jawa itu anggun dan indah. Begitupun juga dengan Noriko. Ia ingin seperti Pingkan yang bisa menari Jawa. Noriko ingin memulai hidup barunya di Solo dengan cara mempelajari budaya-budaya baru yang ada. Menurut saya unsur ekstrinsik yang dicantumkan lebih tersirat daripada unsur intrinsiknya. Sehingga pembaca bisa lebih mudah menganalisisnya.
Contoh unsur ekstrinsik lainnya adalah latar belakang sosial, dimana pernikahan menjadi salah satu fokus cerita. Hal ini sangat jelas dipaparkan bahwa di Indonesia, pernikahan memang hal yang sakral. Pernikahan dilihat sebagai keharusan untuk melanjutkan hidup agar mempunyai keturunan atau generasi selanjutnya. Pasangan yang dipilih pun tidak boleh sembarangan, harus orang yang benar dan disetujui oleh keluarga. Namun sistem "bibit-bebet-bobot" sudah tak lagi berlaku untuk keluarga Hadi (keluarga Sarwono). Karena mereka merasa bahwa hal ini tidak penting, asalkan Sarwono bahagia memilih pasangannya sendiri. Menurut saya hal ini dapat dijadikan pesan moral untuk orang tua yang masih berpikiran kecil. Latar belakang sosial kali ini dapat menjadi contoh agar para orang tua tidak memaksa jodoh anak-anak mereka dan biarkan mereka menentukan jalan hidup masing-masing. Ini adalah salah satu keunggulan buku.

4. Keunggulan dan Kelemahan Buku
Bagi orang yang tidak suka membaca, buku ini cukup sulit untuk dipahami. Ini adalah salah satu kekurangan buku, karena walau jumlah halaman yang sedikit, yakni 144 halaman, tetap tidak memungkinkan semua orang dapat memahaminya dengan benar-benar. Menurut saya, jika sedikit saja tidak mengikuti arah kalimat atau tidak mengerti maksud dari suatu kalimat, maka pembaca tidak akan mengerti maksud dari tulisan dalam buku ini. Karena banyak sekali kata kiasan yang bisa bermakna luas. Dimana pembaca harus selalu mempunyai pemahaman komprehensif mengenai kata-kata tersebut. Pembaca harus pintar-pintar menafsirkannya agar bisa dipahami lebih mudah. Juga, banyak paragraf yang tidak disertai oleh tanda baca maupun titik. Penulis sering kali sengaja menuliskannya dengan gaya seperti ini agar sudut pandang orang pertama pemeran pertama lebih terlihat. Sehingga pembaca akan membacanya seperti nada bicara sang pemeran utama yang mungkin sedikit "ngegas" dan ngelantur saat sudah bicara seadanya. Itulah mengapa terkadang suatu paragraf seperti tidak bermakna, tetapi padahal itu menyiratkan sesuatu yang besar.
Novel ini juga menggunakan struktur yang unik jika dibandingkan dengan novel-novel lainnya. Seperti contohnya, dialog yang dituliskan dalam buku tidak ditandai dengan tanda baca kutipan seperti novel biasanya. Penulis menunjukkan adanya dialog antara dua orang dengan membuatnya seakan-akan mereka saling balas-membalas. Pembaca harus menganalisis sendiri dimana dialog mulai, dan kapan dialog selesai. Karena tidak ditandai tanda baca, pembaca harus menganalisis dari gaya penulisan kalimatnya. Jika sudah seperti orang saling bercakap-cakap, maka di situlah dialog mulai.
Novel ini mempunyai banyak sekali pesan moral yang dapat diambil. Seperti mengenai percintaan, pernikahan, dan takdir. Mungkin topik yang disajikan tidak cocok untuk pembaca awam. Juga pesan moral yang disampaikan berlaku untuk orang dewasa yang sedang menemukan jati diri, dan belum menemukan cinta. Jika untuk remaja-remaja seperti saya, tidak terlalu bisa mengaplikasikan pesan-pesan moralnya ke kehidupan sehari-sehari. Untuk orang dewasa sangat cocok jika sedang bermasalah dalam mencari cinta sejati atau calon pendamping hidup. Oleh karena itu menurut saya novel ini sangat bisa dipahami oleh orang yang pernah merasakan ‘cinta’. Jika belum, merasakan rasa cinta saja belum pernah, bagaimana ingin memahaminya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
November 26, 2018
Yang Fana adalah Waktu adalah buku karya pujangga terkenal asal Surakarta, Sapardi Djoko Damono. Sapardi lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Beliau menghabiskan waktu SMP-nya membangun ketertarikan terhadap menulis, sehingga berlanjut ke janjang kuliah di mana kemampuan menulisnya itu mulai dikembangkan hingga menjadi penulis aktif. Beliau mendapat banyak penghargaan dalam karier menulisnya, salah satunya adalah anugerah SEA Write Award pada tahun 1986, sehingga tidak heran karyanya selalu diapresiasi dan banyak orang yang menyukainya. Sapardi terkenal dengan puisinya yang membicarakan hal-hal sederhana namun penuh dengan makna kehidupan, Kata-kata yang digunakan dalam ceritanya juga dikenal puitis dan terkenal di kalangan sastrawan maupun pembaca umum.
Novel ini bercerita mengenai hubungan romantis dua tokoh utama, Pingkan dan Sarwono. Diikuti dengan kisah cinta Noriko dan Katsuo yang secara langsung juga berkaitan dengan hubungan Pingkan dan Sarwono, menimbulkan banyak permasalahan baru yang menghalangi jalan percintaan Sarwono dan Pingkan. Hubungan Sarwono dan Pingkan dihujani peristiwa yang cukup untuk membuat ikatan mereka goyah. Dari awal, Pingkan meninggalkan Sarwono yang sedang mengalami sakit parah di Solo, namun ia memilih untuk hijrah ke Jepang walaupun Sarwono begitu memerlukan diri Pingkan di sisinya. Dipisahkan jarak yang cukup jauh dan waktu yang tidak mudah bertemu, tidak membuat Sarwono dan Pingkan berhenti menghubungi satu sama lain melalui e-mail atau surel.
Tentu cerita cinta mereka tidak akan melewati jalan mulus, Sarwono yang beretnis Jawa dan Pingkan yang berlatar belakang Manado, mencoba menjalani hubungan mereka tanpa memikirkan perbedaan suku mereka. Di Jepang, Pingkan bertemu dengan Katsuo yang kebetulan belajar di universitas yang sama dengannya, mereka berdua memiliki hubungan yang cukup dekat. Dari situ, permasalahan-permasalahan kecil mulai bermunculan. Mulai dari goyahnya hubungan Pingkan dan Sarwono, ikut campurnya Katsuo dalam hubungan mereka, dan juga hubungan Katsuo dengan tunangannya yang terhadang adalah konflik-konflik yang terjadi di dalam mayoritas cerita ini.
Bicara mengenai keunggulan dan kekurangan dari sebuah karya, terkadang melihatnya dari perspektif berbeda setiap individual, poin-poin tersebut pasti akan ditemukan. Dimulai dari tampilan fisik novel ini, buku ini terlihat tidak terlalu tebal dan hanya memiliki 146 halaman. Dengan jumlah halaman yang terbilang tidak terlalu banyak, kita bisa mengharapkan bahwa ceritanya dapat disajikan secara padat, jelas, singkat namun tetap menghibur dan tidak menghilangkan detail-detail alur ceritanya. Bagi sejumlah pembaca, hal ini dapat dilihat sebagai kelemahan, karena ceritanya tidak dapat diperluas sehingga pembaca mungkin tidak mampu menangkap inti dari cerita atau permasalahan di novel ini. Transisi dari buku sebelumnya (Hujan Bulan Juni dan Pingkan Melipat Jarak) terlihat tidak cukup mulus, mengingat pembaca yang membaca buku ini pertama akan kebingungan mengenai cerita sebelumnya dan penokohan para tokoh, termasuk hubungan-hubungan tokoh yang ada di novel, atau permasalahan yang berlanjut dari seri sebelumnya. Cerita yang disuguhkan di novel ini terbilang kurang seru dan permasalahan yang muncul pun hanya begitu saja, sekadar batu sandungan kecil yang tidak membuat alur ceritanya berubah ataupun tokoh yang melakukan hal di luar area nyaman mereka. Poin klimaks dari permasalahan di novel ini cukup sulit untuk ditemukan, menandakan bahwa sang penulis tidak mengembangkan potensi cerita yang sudah ditulis dalam 2 buku menjadi cerita yang lebih bagus dan membuat penasaran para pembaca. Selain itu, mengenai akhir dari novel ini diceritakan secara menggantung dan tidak ada kepastian jelas mengenai nasib percintaan Sarwono dan Pingkan, kondisi kesehatan dan kesejahteraan hidup Katsuo ataupun kelanjutan kehidupan Noriko yang tinggal bersama dengan Ibu Palenkahu. Detail ini sangat disayangkan karena dapat membuat ceritanya lebih menarik dan memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca mengenai kondisi masing-masing tokoh di masa yang akan datang.
Terlebih dari itu, cara penulisan sang penulis juga menimbulkan banyak pertanyaan, mengenai artinya maupun hanya sekadar bingung. Banyak bagian percakapan atau dialog yang mungkin sulit diartikan bagi beberapa pembaca karena kata-kata yang dipakai sangat jarang digunakan di kehidupan sehari-hari. Hal lain yang dapat dilihat sebagai kelemahan buku ini adalah minimnya penggunaan tanda baca ataupun kata penghubung dalam mayoritas paragraf setiap bab. Pasti bukan hanya saya yang merasa bingung dan diputar-putar saat membaca novel ini karena tidak adanya tanda baca yang digunakan membuat pembacaan suatu paragraf berakhir tanpa jeda sama sekali. Pembaca kurang dapat menghubungkan pengertian mereka dengan pesan yang dilontarkan penulis, dan terkadang harus membaca ulang agar dapat mengerti lebih baik. Kemudian, penggunaan kata-kata deskriptif yang bermakna sama namun dipakai berulang kali hanya untuk memperjelas, walaupun dengan penggunaan satu atau dua kata saja sudah dapat memberi imajinasi kepada para pembaca secara jelas, penulisan ini terkesan monoton di mata para pembaca.
Di balik semua kekurangan itu, banyak kelebihan yang dapat membayangi poin lemah dari novel ini. Sebagai pembaca, saya dapat berempati dengan perasaan Sarwono dan Pingkan perihal hubungan mereka, karena cerita cinta jarak jauh mereka terasa begitu realistis. Permasalahan yang dideskripsikan dalam novel ini menggarisbawahi isu sosial dan stereotipe yang seringkali muncul di Indonesia maupun dunia. Mulai dari perbedaan suku Sarwono dan Pingkan, sehingga menimbulkan kontra dari orang tua Sarwono mengenai hubungan mereka. Rintangan yang mereka hadapi dalam hubungan mereka merupakan masalah-masalah yang biasa dihadapi banyak pasangan di Indonesia, sehingga saya yakin banyak pembaca yang dapat menghubungkan diri mereka sendiri kepada tokoh di novel ini. Latar belakang para tokoh diungkap secara menarik dan penokohan yang ditentukan terlihat begitu kental dalam beberapa kesempatan, sehingga memberi gambaran yang jelas untuk para pembaca mengenai tokoh di novel ini. Penulis Sapardi Djoko Damono juga dikenal dengan kata-kata puitis yang digunakan termasuk di novel ini, membuat kalimat-kalimatnya terlihat indah dan enak untuk dibaca atau dihayati. Perumpaan yang ditulis juga begitu indah sehingga dapat memainkan imajinasi para pembaca, seperti kutipan yang di bawah ini yang menggambarkan hubungan mereka berdua:

Masih ingat jalan ke Solo, Ping?
Ingat dan tidak ingat.
Apa jalan itu masih bisa kita lewati, Ping?
Bisa dan tidak bisa.
Apa nama jalan itu, Ping?
Jalan Lurus.
Jalan Lurus, Ping?
Ya.
Kamu mau menemani aku, Ping?
Pergi sendiri-sendiri tidak akan bisa, Sar.
Tapi sudah lama kita tidak berziarah ke sana, Ping.

Munculnya kata-kata Bahasa Jawa di beberapa bagian juga menandakan gaya bahasa yang dipakai. Ada poin yang saya sukai dari novel ini, adalah semacam kolaborasi antara budaya Jepang dan Indonesia, di mana interaksi antara tokoh orang Indonesia dan orang Jepang itu membuat pertemanan budaya itu terasa nyata. Semua kelebihan ini menjadi pemanis dari unsur-unsur novel ini, membuatnya menjadi buku yang dapat diletakkan di kategori bagus.
Novel ini dibangun dari hubungan antara tokoh, tempat, suasana, alur cerita dan juga moral cerita. Tokoh yang ditunjukkan dalam novel ini antara lain adalah Sarwono, Pingkan, Katsuo, Noriko, Ibu Palenkahu, Ibu dan Bapak Hadi. Interaksi semua tokoh cukup penting untuk membangun alur cerita, terutama korelasi antara Sarwono dan Pingkan serta hubungan mereka yang tak henti-hentinya diungkit dalam buku ini. Perasaan cinta mereka begitu murni sehingga membawa kita ke suasana yang cukup menenangkan dan menimbulkan perasaan berbunga-bunga bagi pembaca. Ikatan Katsuo dan Noriko menjerumuskan kita ke suasana yang lebih jenuh, dan membingungkan karena kita tidak mengetahui tujuan ke mana hubungan itu akan berjalan. Hubungan segitiga antara pasangan Sarwono-Pingkan, Katsuo dan Noriko juga menjadi permasalahan utama novel ini. Pak Sapardi Djoko Darmono mengambil latar tempat yang tepat dan sesuai untuk setiap bagian cerita dari novel ini.
Sapardi Djoko Darmono lahir, besar dan kuliah di wilayah Solo dan Yogyakarta sehingga hal itu dapat menjelaskan bagaimana tempat, kebudayaan hingga Bahasa Jawa kerap muncul di buku ini, termasuk latar belakang karakter utamanya, yaitu Sarwono. Beliau sengaja menggunakan latar belakang tersebut karena ia paling mengerti mengenai etnis tersebut, dan wilayahnya. Salah satu contohnya adalah suara burung yang ditulis, menurut pendengaran orang Jawa, “Wok-wok khetekur”. Beliau memasukkan berbagai referensi hal-hal modern, menandakan cerita ini mengambil waktu pada tahun 2010-an.
Saya dapat menyimpulkan bahwa buku ini termasuk dalam buku yang bagus dan ringan untuk dibaca. Walaupun ada beberapa kekurangan yang dapat dilihat dengan kasatmata, namun jika pembaca dapat mendalami buku dengan baik, maka semua pesan yang ingin disampaikan penulis akan terserap. Saya menganjurkan buku ini untuk pembaca yang senang akan karya-karya puitis maupun puisi yang memiliki makna tersendiri, terutama karya Sapardi Djoko Damono. Walaupun buku ini memiliki kekurangannya sendiri, namun tetap saya rekomendasikan sebagai karya yang unik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
November 19, 2018

Judul Buku Resensi: Yang Fana adalah Waktu
Genre: Romansa
Penerbit: Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama
Penulis: Sapardi Djoko Darmono
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 146 halaman
Nomor Edisi Terbit: ISBN 978-602-03-8305-7

Yang Fana adalah Waktu adalah seri ketiga dan terakhir dari trilogi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Tidak lepas dari seri kedua, Pingkan Melipat Jarak, seri ketiga dari trilogi ini masih meliput kehidupan serta kisah cinta yang dialami oleh Sarwono dan Pingkan. Buku ini sangatlah singkat, berbeda dengan novel pada umumnya, novel ini hanya berisikan sekitar 140 halaman sehingga dapat diselesaikan dengan cepat. Penikmat dari karya Sapardi Djoko Damono pastinya kurang puas akan kandungan buku yang cenderung lebih sedikit dibandingkan buku novel pada umumnya, karena cerita yang disampaikan juga pastinya sangat singkat.
Secara garis besar, cerita yang dibawakan di dalam novel ini masih seputar kisah cinta Sarwono dan Pingkan yang mengalami banyak sekali halangan. Hubungan keduanya dibatasi oleh jarak serta halangan-halangan yang lain, seperti penyakit Sarwono yang mengganggu kelancaran hubungan mereka. Di awal cerita pun sangat jelas bahwa Sarwono dan Pingkan sedang berada di posisi geografis yang berbeda, yakni Pingkan yang sedang berada di Kyoto dan Sarwono berada di Solo. Hal ini mengharuskan keduanya menjalankan hubungan jarak jauh, maka mereka hanya dapat berinteraksi melalui surel ataupun media sosial online lainnya. Dengan demikian, terjadi cinta segitiga diantara hubungan mereka, Katsuo yang menjadi pendamping Pingkan selama di Kyoto mulai jatuh cinta dengannya meskipun ia sendiri sudah dijodohkan dengan orang lain, yakni Noriko. Meski diterjang oleh halangan-halangan tersebut, Pingkan dan Sarwono tetap kuat menghadapinya dan cerita berakhir sesuai keinginan mereka.
Meski begitu singkat, cerita dapat dimuat dengan padat dan jelas. Sayangnya, cerita ini memiliki kekurangan dari segi kejadian signifikan yang terjadi selama keseluruhan alur. Menurut saya, hal ini menjadi salah satu kekurangan terbesar dari novel Yang Fana adalah Waktu, karena membatasi esensi dari cerita. Dengan demikian, kecintaan antara Pingkan dan Sarwono yang seharusnya kekal tidak dapat dikomunikasikan secara maksimal. Untungnya terdapat banyak elemen-elemen puitis yang menggambarkan cinta keduanya, sehingga pembaca tetap dapat mendapatkan sensasi romantis dalam hubungan Pingkan dan Sarwono.
Dari segi kemudahan memahami gaya bahasa penulis, menurut saya hal ini relatif dan bergantung pada pembacanya sendiri. Namun seharusnya pembaca dapat bertoleransi terhadap gaya bahasa penulis seiring cerita berjalan. Walaupun menurut saya gaya bahasa pada awal cerita sangatlah sulit dimengerti, pembaca seharusnya dapat terbiasa dengan gaya bahasa penulis. Dengan gaya bahasa yang cenderung puitis, fokus pembaca terkadang dapat melenceng karena kesulitan memahami konteks cerita, walau penulis seringkali merubah gaya bahasa menjadi lebih awam. Pasalnya, perbincangan antara Pingkan dan Sarwono seringkali santai walau terkadang keduanya juga sangat puitis. Ditambah lagi, penggunaan tanda baca yang sangat minim dapat menambahkan kesulitan membaca bagi beberapa pembaca, khususnya pada bagian analogi-analogi dan peribahasa yang diutarakan penulis. Mungkin penulis berambisi untuk mengkomunikasikan tulisannya dengan pembaca seakan ia sedang berbicara, dalam arti pembaca diajak untuk membaca nada dari penulisan tersebut. Selebihnya, keseimbangan dalam gaya bahasa sangatlah baik, karena penulis mampu menyeimbangkan penggunaan gaya bahasa puitis dan gaya bahasa santai. Selain itu, penulis juga sering menggunakan istilah-istilah yang terdengar asing oleh pembaca, seperti bahasa Jawa maupun Jepang. Ini menjadi poin plus bagi cerita karena maksud dari beberapa istilah tersebut juga dijelaskan di footnote sehingga memudahkan pembaca untuk mengikuti alur dan konteks cerita. Penulis juga terlihat tidak asal-asalan ketika menggunakan istilah-istilah tersebut, bahkan menurut saya wawasan penulis sangatlah luas dan penggunaan istilah asing tidaklah memberikan kesulitan lebih bagi pembaca untuk memahami isi buku.
Dalam buku yang cukup singkat ini, tetap ada banyak sekali latar suasana serta perasaan yang berbeda-beda, khususnya dari interaksi antar tokoh. Penulis juga bisa mengkomunikasikan latar suasana secara jelas sehingga pembaca dapat sepemikiran dengan situasi dalam cerita. Walau menurut saya masih bisa dibilang kurang kuat, pembaca dapat mengerti perasaan di balik interaksi Sarwono dan Pingkan. Dialog antara Pingkan dan Sarwono yang sangat substantif dan asyik menghasilkan suasana yang sesuai dengan motif mereka. Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa peran-peran utama di cerita ini watak karakter serta motif yang jelas. Sayangnya, terkadang penulis menyelipkan peran pembantu yang memiliki watak dan motif yang masih kurang jelas.
Biasanya, watak karakter memiliki latar belakang etnis yang kuat sehingga penulis tampak menggunakan unsur ekstrinsik budaya yang kuat. Setiap karakter dijelaskan latar belakang etnis masing-masing, sehingga mereka memiliki watak yang identik dengan latar belakang budaya masing-masing karakter. Dengan demikian, banyak juga unsur toleransi antar budaya yang diangkat di dalam cerita. Pingkan dan Sarwono sendiri merupakan dua orang dari latar belakang budaya yang berbeda. Sarwono merupakan orang Solo, alhasil penulis menyisipkan banyak istilah-istilah Jawa di dalam cerita, sedangkan Pingkan adalah orang Manado dengan nama marga “Pelenkahu”. Keduanya bisa bertoleransi terhadap perbedaan yang mereka miliki meski salah satu saudara dari Sarwono menginginkannya untuk menikah dengan orang Jawa juga. Unsur-unsur dan detil-detil kecil di cerita seperti budaya dapat mengandung pesan yang dapat memperkaya cerita itu sendiri, sehingga pembaca pun dapat menambah wawasan mereka dari hal-hal kecil yang bukan menjadi ide pokok dari cerita. Menurut saya ini menjadi salah satu keunggulan besar bagi buku ini karena pembaca dapat menyerap informasi baru yang tidak ada di buku lain.
Seringkali pembaca merasa terganggu dengan kualitas unsur ekstrinsik cerita yang membawakan tentang budaya negara lain, namun menurut saya penulis dapat mengkomunikasikan unsur-unsur kebudayaan Jepang dengan baik. Bahkan, saya merasa bahwa hal ini menjadi daya tarik sendiri bagi buku ini karena penulis juga tidak berlebihan dengan adanya unsur ini. Akan tetapi, ada hal sedikit janggal karena saya tidak yakin ada orang Jepang yang memiliki wawasan tentang Indonesia seluas Noriko. Ia bahkan tertarik dengan budaya Solo dan kota tersebut bukanlah salah satu kota besar di Indonesia. Menurut saya, hal ini terlalu dibuat-buat dan berlebihan.
Sebagai seri ketiga dan terakhir dari trilogi Hujan Bulan Juni, menurut saya akhir dari cerita ini tidak merangkum cerita dengan baik, sebab menurut saya akhir dari cerita ini sangatlah hambar. Penulis harusnya merangkum dan mengakhiri cerita dengan sesuatu yang lebih luar biasa dari yang telah saya baca, setidaknya itu yang saya harapkan. Menurut saya, jika anda mengikuti trilogi ini atau anda merupakan penggemar dari karya penulis, pasti anda tidak akan puas terhadap akhir cerita ini yang menurut saya mengecewakan, padahal perkembangan cerita dan keseluruhan alur sudah cukup menarik. Hal ini disebabkan kurangnya kejelasan tentang bagaimana nasib setiap karakter pada saat cerita akhir, Katsuo yang menguncikan dirinya hilang begitu saja dan tidak ada ketegasan dalam keputusan akhir Pingkan dan Sarwono. Bisa disebut bahwa cerita seakan belum tuntas walau menjadi buku yang mengakhiri sebuah trilogi.
Selama cerita berjalan, saya menemukan banyak sekali pesan-pesan tersembunyi dalam cerita. Penulis dapat menghubungkan cerita yang ia bawakan dan kehidupan sehari-hari dengan cukup baik. Ia dapat beradaptasi dengan dunia yang terus berkembang dan memuat elemen-elemen minor yang cocok dengan cerita sehingga pembaca pun juga dapat melihat kembali ke dunia nyata dan mengambil pesan tersendiri dari cerita.
Secara keseluruhan, menurut saya buku ini bisa lebih baik lagi, sebab banyak hal-hal kecil yang menurunkan standar buku ini, apalagi sebagai buku yang mengakhiri sebuah trilogi. Pembaca yang seharusnya menantikan sebuah mahakarya akan mengharapkan lebih. Namun, sebagai masyarakat awam yang tidak gemar membaca, saya cukup menikmati buku ini karena banyak hal-hal unik yang saya temukan dan semuanya dimuatkan di dalam buku yang singkat. Saya pribadi lebih menikmati buku yang singkat, maka jika anda tidak gemar membaca, menurut saya buku ini dapat memikat ketertarikan anda untuk membaca. Dengan demikian, saya dapat menarik kesimpulan bahwa buku ini sangatlah menarik walau masih banyak kekurangannya, maka dari itu saya dapat merekomendasikan buku ini jika anda merupakan orang yang jarang membaca. Namun, jika anda gemar membaca dan adalah penggemar dari Sapardi Djoko Damono, maka jangan berharap terlalu tinggi dan tetapkan standar yang rendah karena seharusnya buku ini bisa menjadi mahakarya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
November 18, 2018
Buku ini adalah buku ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Setiap buku dalam trilogi ini merupakan puisi-puisi ternama miliknya. Buku ketiga ini merupakan tafsiran dari puisi dengan judul sama, Yang Fana adalah Waktu. Buku ini melanjutkan kisah romansa antara Sarwono dan Pingkan yang sejak buku pertama hingga sekarang belum diselesaikan. Metode penceritaan yang digunakan oleh penulis sering berganti sudut pandang. Terkadang cerita berada pada sudut pandang Sarwono dan lain kali berada di sudut pandang Pingkan. Tujuan penulis mengganti sudut pandang adalah supaya pembaca dapat mengetahui jalan cerita sesuai sudut pandang tokoh yang berbeda.

Kisah mereka berdua dibuat lebih rumit dengan kepergian Pingkan ke Kyoto untuk melanjutkan studinya. Saat itu Sarwono sedang berada dalam keadaan yang buruk dan terpaksa harus dirawat di Solo, dengan demikian memisahkan hubungannya dengan Pingkan lebih jauh. Walaupun mereka berdua masih sering berbicara dengan mengirim surel atau menggunakan media sosial lainnya, tanpa sadar mulai berkembang perasaan-perasaan yang menunda kisah cinta mereka berdua.

Cerita ini mulai mendaki ke arah klimaks pada saat Katsuo mengetuk pintu kamar Pingkan. Tentunya tokoh Katsuo adalah salah satu peran penting dalam cerita ini. Katsuo yang mengajak Pingkan untuk mengunjungi gadis bernama Noriko di Okinawa. Noriko adalah gadis blasteran asal Jepang dan Amerika. Sejak kematian ibunya, Noriko telah dirawat oleh ibunya Katsuo. Ibunya Katsuo yang mulai menyayangi Noriko menjodohkannya dengan anaknya, Katsuo. Pada saat itu, Noriko yang mencurigai hubungan antara Pingkan dengan calon suaminya ingin menemui Pingkan.

Tidak hanya Noriko saja yang terpengaruh dengan hubungan antara Pingkan dan Katsuo, Sarwono pun terkena masalah oleh karenanya. Teman-teman Sarwono sering sekali mengganggu Sarwono dengan ledekan-ledekan mengenai hubungan Pingkan dan Katsuo yang mencurigakan. Walaupun Sarwono merasa sedikit cemburu, ia percaya akan kejujuran cinta Pingkan terhadapnya dan tidak akan membiarkan ledekan-ledekan tersebut mempengaruhi kepercayaannya terhadap Pingkan.

Buku ini bukan hanya menceritakan kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan, tetapi juga menceritakan hubungan antara Katsuo dan Noriko. Katsuo dijodohkan dengan Noriko oleh ibunya, meskipun cintanya tertuju ke arah Pingkan. Noriko pun juga merasa bahwa dirinya belum siap untuk menikah, ia hanya tertarik dengan kebudayaan Jawa dan ingin belajar lebih dalam tentang hal tersebut. Pada akhirnya Katsuo dan Noriko menyadari bahwa keinginan masing-masing terletak pada hal yang jauh berbeda.

Kisah cinta pada buku ini ditutup dengan Sarwono dan Pingkan kembali bersama. Mereka berdua juga membantu Noriko untuk melanjutkan studinya di Fakultas Ilmu Seni dan Budaya di Universitas Indonesia. Saat itu Katsuo menghilang, sebab buku ini tidak memberi informasi dengan keberadaannya. Pada akhirnya, Sarwono yang menerima penghargaan dari Kyoto Daigaku kembali ke Jepang bersama Pingkan.

Yang Fana adalah Waktu merupakan buku asal tafsiran puisi pertama yang pernah saya baca. Banyak sekali cara penulisan dan juga bahasa-bahasa yang asing bagi saya. Walaupun bahasa yang digunakan merupakan bahasa puitis dan mungkin berhasil menyentuh beberapa hati pembaca-pembaca lainnya, sering sekali saya menemukan diri saya kehiliangan arti dan inti yang dibicarakan oleh sang penulis. Hal tersebut sering terjadi karena sang penulis menulis satu kalimat yang panjangnya sebanding dengan satu paragraf. Hal tersebut merupakan satu kendala pada pembacaan buku ini yang pada akhirnya memaksa saya untuk membaca satu halaman berulang-kali.

Berhubungan dengan bahasa yang digunakan, banyak istilah-istilah dan kebudayaan Jawa yang digunakan saat menulis buku ini. Latar belakang Jawa penulis terpancar dengan cerah sepanjang cerita berjalan. Mulai dari istilah-istilah seperti “wok-wok-kethekur” yang menggambarkan cara orang Jawa mendengar suara merpati, sampai dengan kebudayaan Jawa lainnya. Tentunya topik tentang budaya tidak lagi asing pada buku ini. Sebab yang menjadi satu konflik terbesar pada buku ini adalah perbedaan budaya antara budaya Jepang dan Indonesia (Jawa).

Buku ini sangat pandai dengan menangani permasalahan yang ditimbulkan oleh perbedaan budaya. Meskipun tokoh yang seperti Sarwono, Pingkan, Katsuo dan Noriko yang sudah memiliki toleransi antar budaya, masih ada banyak tokoh yang masih memegang pola pikiran kuno. Salah satu contoh dapat diambil dari adiknya Ibu hadi yang enggan menyetujui hubungan antara Sarwono dengan Pingkan karena Pingkan bukanlah orang Jawa tulen. Contoh lain dapat diambil pada saat Raden Adjeng Hardhati–gadis asal keluarga darah biru–yang terpaksa sekolah dan meraih ilmu tinggi kedokteran demi menikahi Budiman, yang berasal dari keluarga biasa. Meskipun masih banyak yang menentang pernikahan antar budaya yang berbeda, buku ini menunjukan bahwa cinta melebihi garis perbedaan budaya.

Saya dapat menghubungkannya dengan kehidupan saya pada saat membaca perbedaan budaya yang ada di dalam buku. Bapak saya berasal dari Ternate yang memiliki darah Arab sedangkan ibu saya adalah orang Cina. Meskipun sekilas mata banyak sekali konflik yang terjadi antara kedua budaya tersebut, saya tidak menemukan permasalahan satu pun di keluarga saya. Adakala yang terjadi adalah kedua perbedaan budaya tersebut membuka kesempatan untuk mempelajari budaya-budaya baru yang berbeda, seperti yang dikatakan oleh ibu Hadi dan bapak Hadi dalam cerita.

Buku ini tidak hanya membahas permasalahan yang dapat timbul karena perbedaan budaya, buku juga membahas permasalahan yang terjadi pada hubungan jarak jauh. Salah satu masalah yang harus ditempuh oleh Sarwono dan Pingkan adalah long distance relationship atau hubungan jarak jauh. Pada saat Sarwono sedang sakit dan harus dirawat di solo, Pingkan mendapatkan kesempatan untuk sekolah di Jepang. Buku ini berhasil melukis hal-hal yang sering terjadi pada hubungan jarak jauh. Sarwono yang tidak dapat bertemu langsung dengan Pingkan melainkan melewati media sosial, harus menanggung segala perasaan yang sudah mulai tumbuh. Sering sekali Sarwono diledekan oleh teman-temannya akan kedekatan Pingkan dengan Katsuo. Rasa cemburu mulai tumbuh di pikiran Sarwono, namun pikiran seperti itu langsung dibuang oleah Sarwono dan ia tetap percaya akan kesetiaan Pingkan dengan cintanya. Banyak nilai-nilai yang dapat diambil dari karakter Sarwono, bahwa salah satu hal terpenting dalam hubungan adalah saling percaya satu sama lain.

Namun konflik-konflik yang saya sebut di atas datang terlambat di cerita. Hal tersebut disebabkan oleh perkenalan dan persiapan yang terlalu panjang untuk sebuah buku yang relatif tipis. Bagi para pembaca yang lebih menyukai aliran buku yang penuh aksi dan drama, Yang Fana adalah Waktu bukanlah buku yang cocok untuk dibaca. Saya termasuk salah satu pembaca seperti itu. Pertama kali saya membaca judul buku ini, saya memegang ekpektasi yang cukup tinggi. Saya mengharapkan sebuah cerita yang berputar-putar sebagaimana wahana roller coaster. Apa yang menyambut saya adalah perjalanan dengan perahu melewati sungai yang tenang. Hal tersebut membuat saya sulit untuk membaca buku ini, ditambah lagi dengan adanya kalimat-kalimat membentang. Tetapi, di balik ketenangan itu, saya dapat melihat dengan jelas pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh sang penulis. Cerita yang ada di dalam buku ini mulai menempuh arus kuat pada bagian-bagian akhir buku.

Seperti yang saya ucapkan pada paragraf sebelumnya, buku ini tidak menyediakan cerita yang penuh dengan jalan yang berputar-putar dan berelok-elok. Cerita ini merupakan jalur lurus yang mengisahkan hubungan antara dua orang yang saling mencintai, dan hanya itu saja. Mengapa saya bisa berkata seperti itu? Sebab buku ini penuh dengan percakapan antara Sarwono dan Pingkan melalui surel. Mungkin karena saya tidak terlalu memahami bahasa-bahasa puitis yang digunakan, sering sekali saya berfikir bahwa percakapan Sarwono dan Pingkan hanyalah basa-basi yang penuh dengan arti yang hampa. Ada kemungkinan dimana saya tidak paham artinya, tetapi menurut saya buku ini akan lebih menarik jika sang penulis bisa mendalami tokoh-tokoh lain yang ada di buku ini, bukan hanya Sarwono dan Pingkan. Banyak tokoh yang menarik untuk saya, seperti Katsuo, yang tersisihkan dan ceritanya tidak diselesaikan.

Sebagai kesimpulan,Yang Fana adalah Waktu bukanlah cerita yang penuh dengan aksi dan drama, melainkan sebuah kisah dua orang yang sudah berhubungan dengan lama. Mungkin buku ini tidak cocok untuk sebagian besar pembaca sebab tersedia buku lain yang lebih mendalami permasalahan budaya dan juga hubungan jarak jauh. Tetapi bagi para pembaca setia karya Sapardi Djoko Damono, yang sudah mengikuti trilogi ini dari novel pertama, buku ini merupakan kesimpulan yang memuaskan untuk kisah cinta Sarwono dan Pingkan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
November 19, 2018
Resensi Buku Yang Fana adalah Waktu

Judul Buku Resensi: Yang Fana adalah Waktu
Genre: Romantis
Penerbit: Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama
Penulis: Sapardi Djoko Darmono
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 146 halaman
Nomor Edisi Terbit: ISBN 978-602-03-8305-7

Buku Yang Fana adalah Waktu adalah buku ketiga yang dikeluarkan oleh Sapardi di dalam triloginya, yang sebelumnya Sapardi memutuskan untuk mengeluarkan buku berjudul Hujan Bulan Juni sebelum Yang Fana adalah Waktu. Buku ini melanjutkan cerita yang sebelumnya digantung di dalam bukunya itu, yaitu melanjutkan cerita antara Pingkan dan Sarwono dan pada akhirnya cerita mereka tetap digantung dalam buku ini. Buku ini memulai ceritanya dengan membawa Sarwono kembali ke alam sadar yang sebelumnya berada di dalam koma yang sangat lama. Cinta kedua kekasih ini harus mengalami tantangan yang sangat berat yaitu hubungan jarak jauh, karena Pingkan yang meninggalkan Sarwono ke Jepang untuk melanjutkan perguruan besarnya. Mereka hanya bisa berhubungan atau berkomunikasi dengan sesama hanya melalui dengan surel internet atau disebut email. Selama Pingkan berada di Jepang, ia kenal dengan pria jepang yang bernama Katsuo. Katsuo mengalami permasalahan dengan kehidupan cintanya karena ia jatuh cinta kepada Pingkan tetapi ia telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan perempuan blasteran Amerika dan Jepang bernama Noriko. Katsuo pada akhirnya tidak mendapatkan Noriko maupun Pingkan. Pingkan pada sebaliknya, kembali bersama Sarwono dan mereka akhirnya bisa menjalankan cinta keduanya di Jepang.
Bagi saya buku ini memiliki banyak kelebihan yang telah saya temukan sepanjang saya membaca. Kelebihan-kelebihan ini bisa berasal dari alur cerita yang bagus sampai adanya masukan tentang tradisi-tradisi yang terkandung. Walaupun saya bukan orang yang minat untuk membaca buku, tetapi menurut saya buku ini memiliki alur cerita yang bagus dan juga menyampaikan ceritanya dengan baik hingga saat membaca buku ini, saya bisa merasakan atmosfer ceritanya dan juga bisa merasakan keseruan dalam cerita yang dibuat Sapardi ini. Sapardi berhasil memperkenalkan konflik cerita kepada pembaca dengan baik, dan hal yang saya suka dengan konflik dalam bacaan ini yaitu adanya pertemuan atau menabraknya sebuah konflik dengan konflik. Konflik antara Pingkan dan Katsuo adalah konflik yang bertentangan dengan cinta. Katsuo jatuh cinta dengan Pingkan karena ia merasa bahwa Pingkan adalah seseorang yang membuat dia jatuh cinta cepat. Tetapi Katsuo tidak bisa merebut Pingkan semudah itu, karena Katsuo sudah dijodohkan dengan perempuan bernama Noriko. Konflik Katsuo dengan Pingkan menyambung dengan konflik Katsuo dengan Noriko. Jika Katsuo jatuh cinta dengan Pingkan, secara langsung Katsuo dengan Noriko tidak bisa menikah karena cinta mereka tidak saling memiliki.
Saya juga menyukai sejarah-sejarah yang secara tidak langsung disampaikan di buku ini. Contoh sejarah yang ada yaitu pada cerita asal-usulnya Noriko. Ibu dari menceritakan kepada Noriko bahwa dia juga mempunyai darah Amerika. Ibu dari Noriko menikah dengan seorang anggota militer Amerika yang sedang menjalankan tugasnya di Jepang. Semenjak beliau menikahi dengan ayah dari Noriko, ia mulai dikucilkan oleh orang-orang yang dikampungnya itu. Saya merasa bahwa mereka masih mempunyai perasaan dendam dengan orang-orang Amerika yang telah membunuh banyak saudaranya saat kejadian bom Hiroshima dan Nagasaki. Di bagian cerita ini saya merasa bahwa bagaimana sejarah orang-orang Jepang yang sebelumnya masih berjuang atas memulihkan jepang dari penumpahan darah yang banyak. Dan saya membaca bagian ini dengan senyuman sedikit karena saya sendiri mempunyai darah Jepang.
Cerita ini juga mengandung banyaknya budaya-budaya asing maupun lokal yang bisa menyangkut atau menyambung dengan kehidupan masa kini. Sebagian dari budaya ini mungkin masih bisa ditemukan dan mungkin sudah jarang ditemukan. Budaya yang masih asing menurut saya adalah di mana Noriko harus tinggal di rumah Katsuo. Ini adalah budaya tradisi Jepang di mana jika ada pasangan yang sudah dijodohkan dengan sesama dan mereka akan menjalani pernikahan, sang mempelai perempuan harus tinggal di rumah yang lelaki maupun sebaliknya. Ini menyangkut kepada cerita Noriko kenapa ia berada di rumah Katsuo dan tinggal bersama Ibunda dari Katsuo. Ada juga budaya Jepang tentang bagaimana Katsuo mengimajinasi Pingkan sebagai karakter perempuan di sebuah anime. Budaya yang dilampirkan dalam bagian ini adalah budaya orang-orang Jepang yang banyak menyukai kartun berbentuk anime ini, sampai-sampai orang dunia menyimbolkan anime berasal dari negara Jepang.
Dalam buku ini, saya merasa adanya tradisi dalam menikah. Tetapi dalam cerita ini, mereka tidak terlalu mementingkan tradisi dalam pernikahan antar dua suku atau adat. Jika diperhatikan baik-baik, Sarwono adalah laki-laki yang berdarah Jawa dan menghabiskan waktu kecilnya di Solo dan Pingkan adalah perempuan yang Manado karena marganya yang bernama Pelenkahu, sedangkan Sarwono mempunyai marga raden dan marga raden adalah marga yang biasanya dipunyai oleh keluarga yang mempunyai darah biru. Marga dalam keluarga Manado adalah hal yang penting bagi mereka, jika mereka mempunyai satu anak lelaki, marga itu akan tetap berlanjut, tetapi jika hanya anak perempuan marga itu akan hilang karena diganti dengan marga mempelai laki-laki. Mereka tidak ada perselisihan yang bersangkutan dalam adat atau suku dalam hubungan cinta antara mereka berdua. Mereka terlihat lebih toleransi dengan sesama. Menurut saya ini adalah salah satu pesan yang terkandung dalam cerita ini, kita sebagai masyarakat Indonesia yang terkenal sebagai negara yang mempunyai banyak suku, adat dan agama. Maka dari itu buku ini mengasih pesan kepada kita bahwa kita harus saling toleransi dengan sesama jika berbeda agama, suku, adat, maupun warna kulit, karena kita semua makhluk yang tidak sempurna, selalu ada kekurangan dan kelebihan.
Buku ini juga membuat saya mempertanyakan apakah cinta harus memiliki? Dalam ceritanya, banyak bukti bahwa cinta harus memiliki. Jika lelaki cinta dengan perempuannya dan perempuannya juga cinta kepada lelaki itu, pasti perjalanan cinta itu memiliki persentase yang tinggi untuk berlanjut dengan lama atau bisa dibilang langgeng. Contohnya adalah cinta Sarwono dan Pingkan, mereka mencintai sesama. Walaupun mereka sedang menjalani hubungan jarak jauh dan juga adanya Katsuo yang selalu menginginkan untuk mengubah pikiran Pingkan untuk meninggalkan Sarwono untuk dia, tetapi Pingkan tidak tergoda dan masih cinta dengan Sarwono pada akhirnya. Ada juga konflik Katsuo dengan Noriko. Katsuo adalah cinta pertamanya Noriko, tetapi cinta itu hanya sebuah khayalan belaka karena Katsuo tidak mencintai Noriko dan akhir-akhirnya mereka tidak melanjutkan untuk menikah. Hubungan mereka juga dikarenakan orang tua dari Katsuo yang menginginkan Noriko menjadi menantunya dan Katsuo juga dipaksa untuk menikahi Noriko. Pada akhirnya kita bisa melihat bahwa cinta itu tidak bisa dipaksa, seberapa banyak paksaan untuk menyatukan cinta, hal itu tidak akan berjalan karena cinta hanya datang dan pergi sesuai hukum alam. Tidak ada yang bisa menghentikan cinta ataupun membuat cinta karena mereka datang dengan tiba-tiba.
Ada beberapa kekurangan dari buku ini yang menurut saya mungkin bisa mengganggu pembaca. Yang pertama adalah jarang adanya tanda baca, karena tanda baca adalah unsur penting dalam penulisan. Saat saya membaca buku ini, saya lumayan kesusahan untuk mencari di mana saya bisa berhenti sejenak setelah membaca beberapa kalimat. Bagi saya tanda baca yang sangat kurang di buku ini adalah tanda baca koma, karena saya terkadang melewati batas kalimat yang seharusnya dibaca dengan jeda. Alur cerita dalam buku ini menurut saya juga lumayan datar, terkadang saya tidak merasa bahwa yang seharusnya adalah bagian puncak konflik cerita. Saya bisa menemui banyak konflik di cerita ini, tetapi saya masih ragu bahwa apakah buku ini ada puncak bagi konflik cerita atau tidak. Terakhir, hal yang saya mau ajukan adalah romantisisme yang terkandung di dalam buku ini. Menurut saya, romantisisme di buku ini tergolong kan terlalu basi atau bosan untuk dibaca atau dimengerti, terkadang saya juga merasa malu sendiri saat membacanya bagian yang ada romantisismenya.
Menurut saya buku ini lumayan bagus bagi orang yang baru mulai membaca buku atau memiliki pengalaman kecil dalam membaca buku karena ceritanya yang mudah dimengerti dan juga diserap. Tetapi saya menganjurkan untuk menambahkan tanda baca koma di buku ini, supaya pembaca bisa mengetahui di mana mereka bisa berhenti sejenak saat membaca. Saya juga menganjurkan untuk memberi bumbu lagi dalam ceritanya supaya bisa terlihat di mana awal konflik dan di mana puncak konflik. Dan terakhir, jangan terlalu memaksa dalam hal romantisisme dalam cerita, karena pembaca bisa merasa tidak nyaman membacanya, apalagi pembaca di dalam era ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review20 followers
January 11, 2019
Yang Fana Adalah Waktu adalah buku ketiga dari trilogi Hujan di Bulan Juni oleh Sapardi Djoko Damono. Buku ini melanjutkan kisah di antara Sarwono dan Pingkan dan memberi detail yang lebih mendalam tentang tokoh-tokoh yang berada di sekitar Sarwono, Pingkan dan hubungan-hubungan yang ada di antara mereka. Buku ini tidak melanjutkan pembangunan cinta antara Sarwono dan Pingkan yang menunjukkan masalah-masalah mereka saat membangun sebuah hubugan antara mereka dengan perbedaan budaya di antara mereka, namun sekarang buku ini lebih fokus kepada kekuatan dan loyalitas cinta Sarwono dan Pingkan terhadap sesama.
Buku ini dimulai dengan cerita Sarwono tentang dua merpati yang pernah dia miliki, yang satu jantan dan yang satu lagi betina. Kedua merpati ini, bahkan setelah dikeluarkan dari kandangnya masih sangat dekat dengan sesame lain. Yang jantan akan terbang berputar-putar sebentar sebelum kembali lagi kepada merpati betina yang menunggu pasanganya sambil dipegang oleh ayahnya. Karena kedua merpati itu hampir selalu berada di kandang mereka, sudah secara alamiah bahwa mereka akan dekat dengan sesama. Namun kalau mereka dilepaskan, tidak tentu apakah mereka akan terus bersama, atau apakah pada suatu saat mereka akan berpisah. Cerita yang mendahului novel ini menjadi analogi tentang bagaimana Sarwono merasa terperangkap, seperti seolah-olah semua yang sedang terjadi di saat itu, seperti Pingkan yang pergi ke Jepang ditemani oleh Katsuo, dan Sarwono sendiri yang tidak boleh kemana-mana karena penyakitnya, telah direncanakan, mungkin oleh orang lain. Cerita di awal ini memberikan pertanda-pertanda yang menarik bagi masa depan Sarwono.
Melanjutkan dari buku sebelumnya, Sarwono pada masa kini sedang beristirahat di rumahnya karena penyakit paru-parunya sambil menulis makalah akademis, sedangkan Pingkan ke Jepang untuk melanjutkan studinya. Mereka berdua masih berkomunikasi antara satu sama lain melalui berbagai peron, seperti Twitter, WhatsApp dan tentunya melalui imel, untuk menuliskan surat-surat yang lebih panjang. Mereka berdua sering berbicara tentang hiruk-piruk yang terjadi pada kehidupan masing-masing, yang diwarnai dengan orang-orang yang terdekat dengan mereka ingin melibatkan mereka dalam kehidupan Sarwono dan Pingkan, baik dengan tujuan untuk membantu atau menganggu mereka. Di sisi Sarwono, Orangtua dia sering bertengkar tentang apakah Pingkan bisa dicocokkan dengan Sarwono atau tidak, dan prihatin tentang kondisi Sarwono yang terus bekerja keras dalam dunia akademis sehingga mereka menjadi agak protektif terhadap Sarwono. Sedangkan di sisi Pingkan, Katsuo memaksa Pingkan untuk bertemu dengan Noriko, calon istri Katsuo yang dipilih oleh ibunya Katsuo. Dia meminta Pingkan untuk bertemu dengan Noriko karena ingin meyakinkan bahwa tidak ada hubungan apa-apa dengan Katsuo dan Pingkan kecuali sebagai teman, meskipun itu tidak diperlukan karena Pingkan sendiri tidak suka dengan Katsuo kecuali sebagai teman dan Noriko juga tidak mencurigai Katsuo. Pada kenyataanya, Katsuo sebenarnya mencintai Pingkan dan Noriko ingin bebas, dan suatu hari ingin menikahi lelaki Jawa.
Terkadang, motif-motif karakter tertentu untuk melibatkan diri mereka dalam kehidupan Sarwono dan Pingkan tidak terlalu jelas. Contohnya, Dewi, kolega Sarwono, terus mengali-gali detail-detail dalam hubungan Sarwono dan Pingkan dan kemudian dari Katsuo dan Noriko, seperti jurnalis yang mencari bahan untuk dijadikan berita. Alasan dia tidak jelas, mungkin Dewi ingin membantu teman-temanya, namun pada akhirnya Dewi hanya terlihat seperti paparazzi yang suka mengintai selebriti terkenal. Sering kali Dewi melibatkan diri dalam urusan-urusan yang mestinya dia tidak ikuti, dan pada akhirnya Dewi terasa seperti karakter yang menjengkelkan.
Sering kali juga ada karakter-karakter tertentu yang terasa dimasukkan untuk mengisi halaman saja, namun mereka tidak memiliki tujuan yang terlalu konkrit untuk berada di adegan tersebut. Contohnya adalah Budiman, teman Sarwono yang hanya muncul untuk memberikan undangan pernikahan dia dengan seorang penari terkenal, atau teman Sarwono dan Pingkan yang hamil tiga bulan, mungkin karena incest, yang sepertinya tidak terlalu relevan dalam ceritanya kecuali untuk memberikan masukan beberapa kali saja. Noriko pun juga terasa tidak terlalu relevan selain menjadi perangkat alur untuk kisah Katsuo sampai di bagian tengah akhir cerita saat masa lalu Noriko diceritakan, dan Noriko ingin pergi melihat Manado dan Solo.
Saya secara pribadi tidak terlalu bisa merasakan koneksi terhadap karakter-karakter di buku ini. Sarwono, meskipun bisa dimaklumkan bahwa dia sedang sakit, terasa seperti dia tidak melakukan terlalu banyak hal dan malahan hanya bereaksi secara pasif terhadap kejadian-kejadian di sekitar dia. Katsuo tidak bisa teguh dalam pendirianya terhadap dilemma perasaan dia terhadap Pingkan dan Noriko, dan malah sering memaksa Pingkan untuk ikut campur dalam urusan yang sebenarnya tidak begitu penting. Pacing dari buku ini juga aneh, karena jarang ada pembangunan terhadap momen-momen penting dan bagian-bagian cerita yang crusial tiba-tiba muncul begitu saja, dan biasanya tidak terjadi secara langsung. Kebanyakan konteks dari ceritaya dijelaskan secara panjang lebar dalam surat-surat antara Pingkan dan Sarwono, sedangkan narasinya sendiri suka melompat-lompat ke bagian-bagian penting secara tiba-tiba.
Karena Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair guru besar, maka sudah secara alamiah bahwa gaya menulisnya pada buku ini tidak mengikuti cara menulis yang konvensional, atau bahkan tidak mengikuti bahasa Indonesia yang baku. Selain beberapa kata-kata bahasa Inggris dan bahasa Jawa yang ditaburkan sekali-sekali di antara dialog, satu hal yang menarik tentang buku ini adalah bahwa tidak ada tanda kutip sama sekali, tidak seperti buku-buku sebelumnya dalam trilogi ini. Percakapan dialog antara tokoh ditunjukkan dengan memberi spasi yang memisahkan dialog per tokoh, yang biasanya dilakukan dalam sudut pandang pertama atau pada percakapan yang dilakukan lewat imel atau social media seperti Twitter, atau dengan menggunakan huruf miring, yang biasanya dilakukan pada sudut pandang orang ketiga, dan dilakukan saat percakapan ditulis dalam paragraph-paragraf yang panjang.
Secara teori, selain tidak mengikuti standar KBBI, mungkin perubahan ini tidak begitu besar dan bahkan terdengar menarik karena SDD yang merupakan penyair yang berpengalaman bisa bereksperimen dengan gaya menulis ini. Namun pada awal-awal membaca buku ini, saya menjadi bingung dan frustrasi dengan bagaimana cara membacanya. Dialog yang dispasikan bisa terlihat membingungkan karena terkadang susah untuk mengetahui dialog yang ini dikatakan oleh siapa, atau siapa yang sedang berbicara. Mungkin itu sebabnya kedua tokoh utama sering menambahkan “Sar” atau “Ping” dalam akhir kalimat mereka supaya jelas siapa lawan bicara mereka. Namun, masalahnya Sarwono dan Pingkan bukan satu-satunya tokoh yang ditulis seperti ini, sehingga menjadi lebih membingungkan lagi. Untuk dialog yang ditulis dengan huruf miring, pada awalnya juga terasa aneh, dan tidak konsisten dengan spasi yang digunakan untuk setiap paragraf. Biasanya, kalau melihat huruf miring, saya mengasosiasikan dialog itu dengan pikiran-pikiran tokoh, namun setelah dibaca baik-baik, ternyata adegan ini bukan tentang tokoh-tokoh yang saling melakukan telepati terhadap pikiran masing-masing.
Satu hal lagi yang saya perhatikan adalah bahwa pada bagian-bagian tertentu, tidak ada tanda koma seperti semestinya. Lagi-lagi, ini terlihat seperti hal yang kecil, namun ketika sedang membaca satu paragraph panjang, dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya bisa dijadikan kalimat majemuk, pada akhirnya membacanya jadi lelah, dan banyak detail-detail yang bisa dilewatkan karena lelahnya membaca satu kalimat yang terlalu panjang. Jadi, untuk pembaca-pembaca yang tidak terlalu kenal dengan karya SDD, akan kebingungan, setidaknya pada awal-awal cerita, dengan gaya menulis SDD pada buku ini, baik dengan buku ini secara keseluruhan karena seringnya berganti gaya penulisan dialog, atau dengan buku-buku sebelumnya dimana dialog antar tokoh masih bisa dibedakan dengan mudah.
Menurut saya, buku ini dapat saya rekomendasikan kepada orang-orang yang sudah lama menyukai karya Sapardi Djoko Damono atau secara umum menyukai literatur Bahasa Indonesia yang hampir seperti puisi, yang terutama cocok bagi pencinta novel roman. Sebagai buku terakhir di dalam trilogi, sayangnya buku ini tidak bisa dibaca sebagai cerita tersendiri, namun bagi yang sudah membaca dua buku sebelumnya akan lebih menghargai pembangunan hubungan Pingkan dan Sarwono. Jika anda tidak terlalu memikirkan tentang tatabahasa yang terlalu akurat dan lebih menyukai kalau sang penulis bisa bereksperimen dan mengekspresikan diri dalam gaya menulisnya, maka anda bisa menghargai cerita dan gaya buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
December 6, 2018
Judul: Yang Fana Adalah Waktu (Trilogi Hujan Bulan Juni #3)
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penyelia Naskah: Mirna Yulistisanti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Cetakan Pertama, Maret 2018
Format : Paperback, 146 Halaman

“Sebermula adalah seutas benang seutas saja yang ujung daun pangkalnya jelas yang kelokan-kelokanya jelas yang warna putihnya jelas yang tegang lenturnya jelas yang terhubung dengan sosok yang jelas yang kemudian yang kemudia yang kemudian entah kenapa ketika ditarik agar ujung-ujugnya bersatu malah memanjang dan semaking Panjang dan jadi lentur dan entah kenapa tersangkut…” (Hal. 111)

Yang fana adalah waktu adalah buku ketiga dalam trilogi ini, dan dari segi tokoh Sarwono dan Pingkan, ikatan mereka lebih diperjelaskan melalui kisah kisah yang dimiliki orang-orang sekitar mereka. Mereka berdua menjadi lebih rapat, dilepaskan dari angin yang tadinya menangkap mereka. Yang membawa masa lalu melalui cerita-cerita mereka. Salah satunya adalah perihal keasingan, yaitu identitas sebagai sebuha liyan, yang sudah tidak bisa dihindari di masa modern. Perkawinan antar suku bahkan antar negara pun sudah menjadi hal yang terbiasa. Sehingga sekarang adat-adat kuno seperti ini bisa terkalahkan oleh cinta sejati, di mana pun itu. Hadirnya Noriko di tengah-tengah mereka memperjelas bahwa keasingan bisa dilawan dengan cinta, karena cinta bisa menimbulkan sesuatu dalam diri kita yang mendorong kita untuk melakukan usaha untuk mendekatkan satu sama lain, atau dalam kata lain “Melipatkan Jarak”.
Cerita dan konflik yang terdapat dalam yang fana adalah waktu adalah tentang kelanjutan kisah cinta Sarwono dan Pingkan, paska kesembuhan Sarwono dari penyakit yand dideritakanya. Sarwono setelah dirawat di rumah sakit cukup lama, kembali ke rumahnya dan harus mulai menerima keadaan bahwa Pingkan sekarang sedang tinggal di Jepang Bersama Katsuo. Dalam novel ini digambarkan betapa galau Sarwono terhadap situasi Pingan di jepang yang sehari-hari Bersama Katsuo di Kyoto. Walaupun begitu, Sarwono dan Pingkan masih berkomunikasi dengan melalui media surat elektronik. Dalam kondisi teresbut pun dikisahkan kegelisahan yang dialami bapak dan ibu hadi, dan juga ibu palenkahu atas kelanjutan hubungan anak-anaknya. Calon besan yang sedang memperjuangkan cinta anak-anaknya ini sengaja menyetting seknario dimanoa keberadaan Sarwono-Pingkan dapat berlangsung hingga pelaminanya.
Setelah sembuh dari sakitnya, Sarwono yang dulu berjanji pada Pingkan untuk menyusul ke jepang akhirnya dapat menepatikan janjinya kepada dia ketika penelitian yang dikerjakannya mendapat kesempatan untuk direpresntasikan di Kyoto. Tentulah hal ini menjadi kabar baik untuk keduanya, tetapi pada saat yang sama, Katsuo sedang mencoba mendekatkan dirinya kepada Pingkan agar cintanya dapat diterima oleh wanita itu. Tetapi sebenarnya dia telah dijodohkan oleh ibunya kepada Noriko, yatim piatu yang bekerja di rumah ibu Katsuo.
Konflik utama yang ada di dalam novel yang Fana adalah waktu terjadi ketika sarwono yang berada jauh di Solo harus menahan rindunya kepada Pingkan yang sedang menempuh masa belajar di Kyoto. Pada saat yang bersama pula, Katsuo masih menaruh hati pada Pingkan dan berusaha untuk mendekatkan dirinya dalam hubungan yang membingungkan. Di satu sisi dia begitu mencintai Pingkan, namun di sisi lain dia menuruti keinginan ibunya untuk dijodohkan dengan Noriko. Pingkan sendiri dalam keadaan terdesak karena hampir setiap hari berdekatan dengan Katsuo, sedangkan dalam hatinya hanya Sarwono seorang, cinta pertamanya (juga terakhirnya).
Sama seperti novel-novel sebelumnya dalam trilogi hujan bulan juni, Yang Fana Adalah Waktu ini dihiasi dengan diksi-diksi indah dan penuansaan yang begitu mengena khas seorang maestro romantisme Sapardi. Sapardi berhasil menggambarkan Sarwono sebagai dirinya sendiri, seorang lelaki kelahiran tanah Jawa yang begitu puitis bahkan hingga bahasa sehari-harinya. Percakapan Sarwono dengan Pingkan senantiasa dihiasi diksi-diksi puitis, pun juga dengan arah pembicaraan mereka berdua yang sering kali ngalor-ngidul melintas dalam dunia puitis Sapardi. Uniknya jika pembaca adalah pengikut setia karya-karya Sapardi seperti kumpulan puisi Hujan Bulan Juni juga Melipat Jarak, kita dapat menemui kalimat-kalimat tertentu yang menghiasi bait-bait puisi populer Sapardi. Contoh saja seperti kalimat “tak ada yang lebih tabah, lebih bijak, dan lebih arif” yang tertulis dalam percakapan Sarwono-Pingkan ini identik dengan puisi populer Sapardi berjudul Hujan Bulan Juni. Satu lagi adalah kalimat “kumpulan awan yang tak menjadi hujan agar tidak menjadi tiada” identik dengan puisi populer Sapardi berjudul Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana.

“Ping, Kita ini ternyata sekadar tokoh dongeng yang mengikuti pakem purba seperti yang berlaku dalam segala jenis dongeng dan tontonan jawa” (hal 86)
“Mereka sepenuhnya percaya bahwa dongeng diciptakan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang tak akan ada habisnya” (Hal. 139)

Sesaat saya membaca buku ketiga ini, awalnya saya sangat bingung karena belum pernah membaca buku sebelumnya. Karena ada berapa detail yang berhubungan dengan buku buku sebelumnya dan saya tidak mengerti referensinya. Tentulah jika buku ini dibaca dengan urutan yang benar dari buku pertama, kedua dan setelah itu buku ini akan memberi sensasi yang jauh berbeda dari yang jika anda membaca buku ini tanpa konteks. Terutama yaitu Tarik-ulur hubungan pingkan dengan Sarwono yang mungkin saja akan mencapai titik akhirnya di buku ini.
Sebagaimana kedua novel sebelumnya, dalam buku ini, penulisnya masih berganti ganti dengan menanmpilkan narasi, epistolary dan “stream of consciousness” secara bergantian. Walaupun saya belum membaca dua buku sebelumnya di trilogi ini, ada titik dimana saya beropini bahwa buku ini tidak perlu sebenarnya dijadikan bagian dari trilogy, dan lama lama opini saya ini menjadi lebih kuat sesaat saya mendapati kepahaman bahwa buku tidak hanya sekadar ingin menyampaikan kisahnya, ada hal yang lebih mendalam di balik semua itu. Terlebih dengan adanya berbagai sindiran social dan filosofis yang terselip di dalam percakapan-cakapan Pingkan dan Sarwono, menjadikan lingkup kisah ini lebih meluas, sehingga kita bisa menghubungkanya dengan kehidupan kita saat ini di zaman modern. Secara kesulurhan, membaca buku ini lebih seperti membaca sebuah pusisi, yang perlu kita reguk saripatinya dan melihat lebih seksama kalimat yang tadinya terlihat seperti tidak ada berarti, tapi sebenarnya ada artinya, tapi sulit untuk dipahami pada awalnya.


“Ketika sebuah kisah mendekati akhir ada saja kisa baru yang muncul menggantikanya…” (hal. 130)

Kisah Sarwono dan Pingkan masih tergantung seperti sejak awal di novel sebelumnya yaitu “Hujan Bulan Juni”, Dan karena itu jarak antara Kyoto dan Solo/Jakarta “Terlepas” setelah Pingan melipat jarak antar dua tempat itu. Sarwono yang masih dalam masa penyembuhan akibat penyakit yang melambatkan langkahnya melanjutkan korespondensi dengan pingkan, yang masih melanjutkan studinya di Jepang, ya tentulah Katsuo, seorang anak jepang kembali untuk berada di antara mereka. Cinta mereka berdua itu tidak terganggu sama sekali, walaupun terlepas dari apa yang sudah terjadi, tetapi jarak dan waktu adalah yang masih bermasalah. Sementara itu, pasangan Bapak dan Ibu Hadi yang selalu disebut sebagai calon besan -Ibu pelenkahu tampak masih “berkasak-kusuk” perihal hubungan antar kedua anak mereka.
Hubungan antara Pingkan dan Katsuo semakin aneh sesaat ketika pria dari Jepang itu menyeretkan si Pingkan bepergian ke Okinawa, Kampung halamanya, untuk menemui Noriko, Gadis yatim piatu yang telah dijodohkan oleh ibu Katsuo untuk anaknya. Alasan Katsuo membawa Pingkan ke dia adalah dia ingin meyakinkan bahwa tak ada hubungan spesial antar dirinya dengan Pingkan. Hal yang awalnya hanya tampak diada-adakan, karena tentu saja sebenarnya Katsuo sejal mula tidak menganggapnya demikian. Tak disangka olehnya perkenalan antara kedua perempuan itu dalam hidup Katsuo membawa arah baru dalam kehidupan dan hubungan mereka.
Setelah menelan buku ini lalu ketika ada yang bertanya apakah Sapardi berhasil menghadirkan nuansa romantis dalam novel Yang Fana Adalah Waktu, serta merta akan dijawab Ya dengan tiga buah tanda seru di belakangnya. Sarwono-Pingkan, juga Katsuo berhasil membawa alur cerita romantis, sedih, galau, juga sedikit menegangkan (karena mereka-reka kelanjutannya) dengan pembawaan khas Sapardi. Kata-kata yang dapat dicerna masyarakat awam namun juga dapat ditinjau dari sisi kritis khas kritkus sastra. Buku ini berhasil memaksa pembacanya untuk meminta pada penulis. “Lanjutkan kisah Sarwono-Pingkan hingga keduanya masuk dalam liang kubur!”.
Kisah ini pun akhirnya ditutup dengan manis dan bersih.

“Katamu kenangan itu fosil, gak bisa diapa-apakan”
“Tapi yang ini bisa.”
(hal. 95)
Profile Image for Audi M ridwan.
2 reviews1 follower
November 12, 2018
Yang Fana adalah Waktu merupakan buku ketiga dari trilogi Hujan Bulan Juni. Buku ini menceritakan sebuah pasangan yang bernama Pingkan dan Sarwono, perlu diketahui bahwa tidak banyak buku yang menceritakan hubungan long distance relationship ditambah dengan cinta segitiga, kisah ini terasa nyata seakan penulis telah mengalami kisah ini dalam hidupnya. Kisah cinta yang di ceritakan buku mungkin terdengar cliché namun memang terdapat unsur unsur mabuk cinta pada kedua pasangan di cerita ini. Pengarangnya sendiri terinspirasi oleh puisi yang di buatnya dengan judul yang sama yaitu puisi Yang Fana adalah Waktu.

“Yang fana adalah waktu

Kita abadi

Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.” –Sapardi Djoko Damono

Itulah yang Sapardi katakan dalam puisinya, sebuah metafora akan waktu dan cinta. Waktu dan cinta merupakan topik utama buku ini karena dalam sebuah cinta ada waktu dan pada waktu ada cinta, pembahasan cinta dan waktu dalam buku ini tidak akan pernah habis bagai kapal yang menyusuri dunia laut, kapal itu tetap berlayar hingga ajalnya.
Sapardi Djoko Damono merupakan sastrawan Indonesia yang terkenal karena puisi dan karya sastra lainnya yang menyentuh hati pembacanya, ia lahir pada 20 Maret 1940 di Surakarta, mungkin karena latar belakang Jawanya ia kerap menggunakan peribahasa Jawa dalam karya-karya sastranya. Ia juga kerap dipanggil SDD sebuah singkatan dari namanya yang panjang. Di samping itu, Sapardi juga seoarng dosen, pengamat sastra, kritikus sastra dan pakar sastra Indonesia.
Unsur Intrinsik pada buku ini adalah, pertama tema buku ini adalah cinta segitiga seorang dosen, pasangan dosen dan pria jepang. Tokoh, ada tiga tokoh utama dalam buku ini yaitu Sarwono, Pingkan dan Katsuo. Penokohan, Sarwono adalah seorang dosen yang rasional namun terkadang mabuk karena cintanya pada Pingkan, Pingkan adalah seorang pelajar yang baik hatinya sehingga menarik seorang lelaki bernama Katsuo walau terkadang Pingkan terlihat seperti wanita yang jutek namun ia juga wanita yang penyayang, Katsuo adalah pria Jepang yang tidak bisa memilih akan cintanya pada Pingkan atau Noriko mungkin ini terjadi karena sikap Katsuo yang kurang dewasa dalam topik cinta. Alur dalam buku ini maju mundur, terkadang penulis menceritakan masa lalu tokoh dalam buku ini untuk mengisi plot atau menambah makna puitis pada cerita tersebut. Latar utama yang paling menarik adalah Jepang dan Ruma Sarwono karena disana plot-plot inti terceritakan di dalamnya. Sudut pandang campuran dalam buku ini telah memberikan keunikan tersendiri sehingga penulis dapat menceritakan tiap tokoh dengan perspektif dan perasaan mereka. Gaya Bahasa formal dan kasual atau bisa disebut campuran merupakan gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini. Amanat dan pesan yang terdapat dalam buku Yang Fana adalah Waktu adalah cinta merupakan seputik daun kehidupan dimana semua orang akan mencarinya dan jika kalian menemukan itu maka jagalah dan jangan sampai hilang.

Cara menulis buku ini terasa seperti penulis merupakan tokoh utama yang merasakan sendiri apa yang di rasakan tokoh dalam dunia nyata atau mungkin cerita ini adalah adaptasi fiksi dari pengalaman penulis dahulu. Penetuan tokoh utama Sarwono yang memiliki latar belakang Jawa membuat saya yakin bahwa cerita dalam buku ini merupakan adaptasi dari pengalaman penulis. Pembuatan judul terinspirasi oleh salah satu puisi yang dibuat Sapardi dengan nama yang sama yang disebut diatas.
Dalam cerita ini Sarwono jatuh sakit karena Pingkan pergi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya disana kemudian datang seorang lelaki Jepang yang bernama Katsuo, ia telah menaruh hatinya pada Pingkan mungkin karena sikap dan keunikan orang Indonesia telah meluluhkan hati Katsuo untuk Pingkan namun mengetahui bahwa Pingkan telah memiliki kekasih tidak membuat Katsuo patah semangat, walaupun sebenarnya Katsuo sudah dijodohkan dengan perempuan lain pilihan ibunya. Tentu saja Pingkan menceritakan semuanya kepada Sarwono yang masih di Jakarta, Sarwono menjelaskan bagaimana cintanya kepada Pingkan seperti jalan lurus. Pingkan adalah rintangan disetiap jalannya yang harus Sarwono lewati namun jalan tersebut tidak pernah ada ujungnya begitu pula dengan Pingkan, ia selalu mengisi hidup Sarwono dalam jalan tersebut. Mengetahui bahwa di negeri Jepang ada yang mencintai Pingkan, tentu Sarwono cemburu kemudian pingkan berkata “tidak apa-apa kan di cintai dua orang”. Perasaan Pingkan sangat membingungkan, bagaimana tidak karena sebenarnya Pingkan telah menaruh hatinya pada Sarwono dan Sarwono juga telah menaruh hatinya pada Pingkan, disini cerita mulai antara cinta segitiga yang semua memili budaya yang berbeda namun saling mencintai. Katsuo memiliki latar belakang berbeda tentu memiliki cerita masa lalu yang berbeda, usut demi usut ternyata Katsuo telah dijodohi oleh ibunya kepada wanita Jepang yang cantik dan muda bernama Noriko namun Katsuo tidak mencintai Norika karena dia mencintai Pingkan yang sudah dimiliki orang lain. Katsuo berkata pada dirinya apakah diriku layang-layang yang pergi entah kemana namun akhirnya balik ketempat yang sama, perumpamaan Katsuo mengenai cinta sangat dalam dan saya mensetujui, Katsuo telah memberikan definisi baru cinta yaitu, mungkin kita akan pergi menjauhi cinta dan takdir yang telah ditentukan namun pada akhirnya kita akan kembali ke asal, kembali ke takdir. Mengetahui ini Sarwono cemburu terhadap Pingkan yang dicintai oleh Katsuo. Noriko, wanita Jepang ini mencintai Katsuo namun cintanya pada Katsuo tidak terbalaskan. Tugas Pingkan adalah membantu Noriko untuk mencintai Katsuo vice versa, dengan itu Pingkan dapat mencintai Sarwono dengan damai.
Buku ini telah memberikan makna cinta cinta tokoh; Sarwono, Membacamu, Sarwono ingin dapat mengetahui atau paham apa yang Pingkan mau dan dapat merasakan perasaan hati Pingkan disaat sedih maupun bahagia. Pingkan adalah mimpi dongeng seorang Sarwono. Mendengarmu, Sarwono ingin menjadi pendengar cerita disaat duka maupun gembira, Sarwono ingin menjadi lelaki untuk mendengar Pingkan disaat penting atau gurauan. Menghapalmu, Sarwono ingin mengetahui semua tentang Pingkan, mengetahui bagaimana mimpinya akan hidup di dunia dongeng ini. Katsuo, Ibu itu seperti gembok yang sudah diputar agar aku tidak bisa pergi dari rumah yang disediakan, maksud Katsuo pilihan hidup dan tujuan hidup Katsuo dari semejak dia lahir telah ditetapkan oleh orangtuanya jika gembok itu dihancurkan maka hancur pula hubungan Katsuo dengan ibunya. Katsuo sebagai layang-layang, memang hidup Katsuo terasa seperti layang layang yang terombang ambing oleh angin dan dikendalikan oleh seseorang, kemanapun layang layang pergi Katsuo akan kembali kepada norika sang pengendali, mungkin sudah takdir katsua untuk mencintai. Noriko, Pingkan ingin hidup di luar waktu agar momen cinta dan kasih sayang berhenti dan kekal abadi, pingkan ingin hidup di luar waktu agar perasaan Pingkan dengan sarwono tetap sama dan kekal abadi, bagaimana cinta dapat pudar jika waktu itu berhenti dan tidak pernah berjalan.

Pingkan ingin hidup di luar waktu karena yang fana adalah waktu, kita abadi. kasih sayang dan cinta tidak berumur dan menua oleh waktu, seperti hujan yang deras dan mengguyur lautan tapi air entah pergi kemana air itu tetap ada cinta itu tetap ada walaupun Pingkan merasa tidak di cinta, memesan rasa rasa (Cinta) yang asing itu. di restoran itu Pingkan dan Sarwono duduk memesan makanan dan minuman, Pingkan memesan rasa sakit yang ia dapatkan dari Pingkan dan cinta yang telah hilang walau mereka duduk dekat berdua.

Ada pula definisi cinta seperti, tokoh dongeng, kita adalah tokoh dongen yang mengikuit pakem purba. mungkin memang cinta ini seperti akem purba atau tontonan jawa bagi Sarwono yang berartikan cinta mereka terasa tidak nyata bagai di dongen namun cukup nyata untuk dirasakan penonton yakni mereka berdua juga adalah penonton dan pemainnya. Boneka kulit, waktu ke waktu cinta ini mungkin akan pudar namun dari situlah kita dapat merasakan satu sama lain lebih dalam, berlubang berartikan pengalaman mereka berdua dalam cerita pakem purba tontonan jawa.

Kesimpulan dari resensi ini adalah buku Yang Fana adalah Waktu merupakan buku yang cocok untuk semua orang terutama kalang muda yang masih mabuk akan cinta. Buku ini juga menceritakan persepktif cinta yang berbeda budaya dan bagaimana mereka dapat melaluinya, definisi definisi dari perumpamaan puisi atau kehidupan yang dikatakan oleh tokoh melalui penulis telah memberikan makna yang berbeda-beda untuk setiap pembaca. Pengalaman unik untuk setiap pembaca merupakan hal yang paling menarik dari buku ini.
1 review1 follower
November 19, 2018
Yang Fana Adalah Waktu merupakan buku terakhir dari trilogi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Buku ini, seperti buku lainnya dalam trilogi tersebut memiliki unsur-unsur metafora yang sangat puitis. Hal ini dikarenakan Sapardi Djoko Damono yang dikenal untuk puisi-puisi yang menceritakan hal-hal sederhana namun dengan makna yang mendalami dan ketiga buku tersebut adalah adaptasi dari puisi-puisi terkenal miliknya. Dalam trilogi ini, kita mengikuti kisah Sarwono, Pingkan dan Katsuo. Dalam Yang Fana Adalah Waktu, Sarwono dan Pingkan menjalani hubungan jarak jauh yang penuh dengan cinta, konflik dan tekanan dari orang-orang di sekitar mereka; Katsuo memiliki konflik batin dan tekanan orang tua yang memaksanya untuk mencintai Noriko walaupun dia masih mencintai Pingkan; dan Noriko yang ingin bebas dari pegangan ibu Katsuo dan ingin merasakan kehidupan di Indonesia.
Buku ini berbeda dari buku lain karena beberapa bagian dalam buku yang memiliki penulisan puitis. Ini tidak mengherankan atas Sapardi Djoko Damono lebih dikenal untuk puisi yang dihasilkannya. Untuk beberapa orang (terutama yang menyukai puisi Bahasa Indonesia atau buku lain dari trilogi Hujan Bulan Juni), bagian-bagian ini akan mereka cintai karena pertanyaan dan pernyataan yang dikatakan Sarwono dan Pingkan sangatlah menarik dan membuka pikiran. Pernyataan seperti “Tidak ada yang tidak ada Sar. Ketika aku balik bertanya, Adakah sebenarnya perbedaan antara yang ada dan yang tidak ada? - kau jawab, Ada dan tak ada suka tetukar” yang dapat ditemukan pada awal cerita akan menarik perhatian pembaca dan pernyataan tersebut akan ditafsirkan untuk beberapa waktu. Namun, untuk beberapa orang, bagian-bagian tersebut menggangu proses membaca karena mereka melambat alur cerita. Beberapa orang tersebut adalah pembaca yang hanya ingin mengetahui akhir cerita tanpa berhenti dan penulisan puitis itulah yang akan melambat atau bahkan menghentikan mereka. Secara pribadi, saya merasa penggunaan tulisan puitis bukanlah masalah tetapi konsistensi penulisannya yang penting. Penulisanya sangat konsisten dari awal sampai akhir, tujuan dan isi buku ini akan menjadi jelas di mata pembaca. Namun, buku ini tidak memiliki konsistensi yang dibutuhkan karena penulisan puitis banyak digunakan di awal cerita dan lebih jarang ditemukan di tengah maupun akhir cerita.
Berhubungan dengan penulisan, Sapardi Djoko Damono juga memiliki penulisan dialog yang sangat unik. Dialog ini tidak menggunakan tanda kutip dan tidak mencantumkan nama-nama dari orang yang terlibat pada perbincangan tersebut. Dialog biasanya di italic atau dipisah dari badan utamanya. Nama-nama orang yang terlibat pada perbincangan biasanya mudah didapat dari panggilan nama di dalam dialog seperti Ping atau Sar. Kebanyakan dialog yang terdapat berbolak-balik antar-tokoh dalam gaya sebuah naskah. Hal ini tidak menjadi masalah saat perbincangan tertulis dengan singkat dan tokoh yang diperkenalkan buku hanyalah Pingkan dan Sarwono. Namun, pada bagian tengah cerita saat kita diperkenalkan dengan banyak sekali tokoh, hal ini membuat membaca lebih sulit karena banyaknya hubungan berbeda antara berbagai tokoh. Secara pribadi, saya merasa pada bagian tengah cerita, beberapa dialog membutuhkan dibaca ulang. Namun, dengan kekurangan yang sebelumnya dicantumkan, perbincangan tokoh (terutama Sarwono dan Pingkan) merasa sungguh-sungguh. Sarwono dan Pingkan yang perbincangannya bermacam-macam dari perbincangan yang sangat filosofis; perbincangan yang cukup kenak-kanakan yang penuh dengan bersenda gurau; sampai dengan perbincangan yang penuh dengan cinta dan kerinduan. Tidak hanya bermacam-macam, perbincangan ini selalu menarik untuk dibaca dan tidak lepas dari karakter Sarwono dan Pingkan. Perbincangan ini juga menyempurnakan kedua tokoh tersebut. Secara pribadi, saya merasa perbincangan antara kedua tokoh tersebut selalu menarik untuk dibaca dan selalu saya ikuti. Berbeda dengan unsur-unsur lainnya pada buku ini, keunggulan yang dicantum sebelumnya tidak terbatas pada tokoh Sarwono dan Pingkan dan dapat ditemukan di tokoh-tokoh lain dan perbincangannya. Hal ini juga termasuk perbincangan antara tokoh pendukung seperti Bu Hadi dan Pak Hadi. Melalui perbincangan yang mereka miliki, sisi kemanusiaan mereka mulai terlihat dan menjadi tokoh yang dapat saya bayangkan dan dengan mudah dipahami. Tokoh-tokoh ini terasa seperti orang-orang yang dapat saya temukan pada kehidupan sehari-hari dan mereka menjadi mudah untuk dicintai. Ini juga meningkatkan minat saya terhadap tokoh tersebut, hal ini sampai pada titik yang saya ingin tahu lebih banyak tentang mereka.
Sayangnya, Alur cerita buku ini penuh dengan kekurangan. Kekurangan terbesar dari alur cerita buku tersebut adalah alur yang kurang konsisten. Buku dimulai dengan awal cerita yang cukup pelan, namun alur meningkat seiring melajunya perkembangan cerita. Menurut saya, buku ini diakhiri dengan kejadian yang terasa terpaksa dan terburu-buru. Hal ini terlihat jelas saat awal cerita membutuhkan 60 halaman yang jelas tidak pantas untuk buku yang relatif singkat dengan 140 halaman. Tengah cerita dan akhir cerita, masing-masing merentang 40 halaman. Akhir cerita buku jelas membutuhkan lebih dari 40 halaman karena banyaknya hubungan dalam cerita (selain Sarwono-Pingkan) yang harus memiliki resolusi. Cerita yang dimaksud termasuk hubungan antara Pingkan dan Katsuo; hubungan antara Katsuo dan Noriko; hubungan antara Noriko dan Pingkan. Semua itu terasa terlalu banyak untuk dicantumkan pada buku dengan 140 halaman. Hubungan Sarwono-Pingkan memiliki alur yang terbaik tetapi ini mungkin disebabkan oleh cerita mereka yang sudah berjalan selama dua buku sebelumnya. Saya juga merasa cerita mereka diakhiri dengan penceritaan yang indah yang menunjukan bakat Sapardi Djoko Damono. Ditambahkan dengan perbincangan yang dijelaskan sebelumnya yang sepenuh hati yang hanya meningkatkan keindahan dan kerukunan dari hubungan Sarwono dan Pingkan. Sayangnya, hanya hubungan inilah yang memiliki resolusi yang bermakna. Hubungan yang tidak diselesaikan dapat dihubungkan dengan tokoh utama yang terlalu banyak, walaupun hubungan antara Sarwono, Pingkan, dan Katsuo sebenarnya sudah cukup. Sehubungan dengan hubungan tokoh yang tidak memiliki resolusi. Tokoh-tokoh utama tercantum pada cerita juga memiliki kekurangan yang serupa. Tokoh-tokoh utama yang dimaksud adalah Sarwono, Pingkan, Katsuo, dan Noriko. Dari semua tokoh yang dicantum: Sarwono dan Pingkan memiliki resolusi yang jelas, cerita Noriko terasa terburu-buru untuk mendapatkan resolusi, dan Katsuo yang tidak memiliki resolusi yang jelas. Noriko yang masa lalunya yang menarik dicantum dengan singkat di akhir buku dan akhir cerita Noriko terasa sangat terpaksa dan mendadakan walaupun tindakan yang dilakukan memiliki konsekuensi besar yang dapat dieksplorasi lebih lanjut. Namun, resolusi ini tidak seburuk Katsuo yang menghilang dari buku secara tiba-tiba dan tokoh-tokoh lain yang sepertinya tidak peduli dengan dia. Saya mengerti bahwa buku ini memang ditulis untuk menceritakan mengenai Pingkan dan Sarwono tetapi Sapardi Djoko Damono memperkenalkan tokoh-tokoh baru yang menarik tetapi tidak menggali lebih dalam. Sebagai pembaca, saya ingin mengetahui lebih banyak mengenai tokoh-tokoh tersebut dan akhir cerita dari perjalanan mereka. Sayangnya, ini hanyalah harapan yang tidak akan terwujud.
Setelah membaca garis terakhir dari cerita dan menutup buku. Saya merasa pesan cerita buku ini tidak ditulis secara langsung dan dapat diinterprestasikan secara berbeda-beda . Pesan cerita bisa didapatkan dari perbincangan karakter atau pemikiran karakter. Namun, ada satu pesan cerita yang bisa diambil semua orang yaitu toleransi. Pingkan yang berasal dari daerah berbeda dari Sarwono tetapi mengerti dan bahkan pernah melakukan budaya yang terdapat pada Jawa. Pingkan tidak hanya menunjukan cinta pada Indonesia tetapi kepada kota Kyoto. Sedangkan, Noriko, perempuan blasteran dari Osaka yang dibenci oleh orang-orang sekelilingnya dilihat sebagai perempuan yang cantik dan bisa melebihi kecantikan Pingkan. Selain itu, Noriko juga memiliki cinta pada kota dan budaya di Indonesia terutama Solo.
Yang Fana adalah Waktu adalah buku yang singkat dan unik. Buku ini pantas untuk pembaca yang mencintai cerita cinta dengan unsur-unsur puitis. Buku ini juga menarik untuk mengikuti cerita Pingkan dan Sarwono, sayangnya, tokoh-tokoh lain tidak mendapatkan cara penulisan yang sama. Secara keseluruhan ini adalah buku yang bagus jika Anda hanya ingin menghabiskan waktu untuk membaca. Buku ini bisa dikatakan sama seperti puisi cinta yang dibacakan dengan tokoh-tokoh tambahan, setiap pembaca dapat membacanya, menginterprestasikan, dan memiliki pengalaman yang berbeda-beda.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
November 19, 2018
Sapardi Djoko Damono adalah seorang sastrawan Indonesia yang dikenal dengan puisi-puisi ternama, antara lain Yang Fana Adalah Waktu, yang lalu diolah menjadi buku terakhir dari suatu novel trilogi yang didahului oleh dua novel dengan judul yang sama dengan puisinya, Hujan Bulan Juni dan Pingkan Melipat Jarak. Berkelanjutan dengan buku sebelumnya, Yang Fana Adalah Waktu lanjut mengisahkan romansa Pingkan dan Sarwono yang penuh dengan masalah, cinta, dan pengorbanan. Buku ketiga menceritakan Pingkan dan Sarwono yang tengah menjalin hubungan jarak jauh, Sarwono seorang dosen di Universitas Indonesia, dan Pingkan yang sedang menuntut ilmu di Jepang.

Dalam novel ini, Sapardi Djoko Damono menceritakan kisah kehidupan Sarwono yang baru saja pulih, dan Pingkan yang sedang belajar di Kyoto, Jepang. Kerinduan Sarwono terhadap Pingkan yang sedang di Jepang tidak berhenti di buku ini. Setiap hari, Sarwono tak bosan mengirim Pingkan sajak-sajak tentang kehidupannya selama jarak memisahkan mereka, dan Pingkan tiada hentinya bercerita ke Sarwono segala hal yang dialami olehnya pada hari itu. Meskipun hanya melalui surat elektronik, jarak justru mendekatkan keduanya, tumbuhnya kepercayaan dan munculnya sebuah pemahaman hubungan mereka.

Buku dibuka dengan suatu cerita dari sudut pandang Sarwono, mengisahkan dua ekor merpati yang selalu mengingatkan dirinya dengan Pingkan. Selama di Jepang, Pingkan menjadi dekat dengan seorang lelaki Jepang bernama Katsuo, yang terus menemaninya selama studi di Kyoto. Di dalam buku, Katsuo bisa disebut sebagai gunting yang mengganggu tali hubungan antara Sarwono dan Pingkan, menjadikannya permulaan dari rantai masalah yang lalu muncul dalam buku. Beberapa kali di dalam novel Katsuo menyatakan betapa jatuh cinta dirinya kepada Pingkan, dan Pingkan juga mengatakan secara jujur ke Sarwono bahwa dirinya sempat tertarik dengan Katsuo. Tapi hal tersebut tidak memisahkan dua sejoli ini, malah mendekatkan mereka lagi. Walaupun kepercayaan antara keduanya semakin hari semakin tumbuh, Sarwono, yang terpisahkan oleh jarak, tidak bisa menahan dirinya untuk mempertanyakan hubungan antara Pingkan dan Katsuo. Rasa cemburu terhadap hubungan keduanya itu secara jelas terlihat dari pemilihan kata Sarwono di dalam surat elektronik yang dikirim olehnya ke Pingkan. Tapi kejujuran antara pasangan itu saat berkomunikasi yang meyakinkan Sarwono bahwa tidak ada hubungan lebih dari teman antara Pingkan dan Katsuo. Maka Sarwono memilih untuk tetap bertahan dan teguh dengan asmaranya dengan Pingkan, tahu bahwa perempuan yang ia cinta akan selalu jujur kepadanya.

Selama di Jepang, Pingkan dikejutkan dengan permohonan Katsuo untuk menemaninya pergi ke Okinawa untuk menemui seorang gadis bernama Noriko, seorang yatim piatu yang ibunya paksa untuk menikah dengannya. Katsuo bercerita bahwa Noriko mencurigai hubungan antara dirinya dengan Pingkan, lalu memaksa untuk bertemu dengan Pingkan. Sesampainya di Okinawa, Pingkan sudah siap berbincang dan menenangkan seorang gadis yang terkesan “belum dewasa” bahwa tidak ada apapun antara dirinya dan suaminya nanti itu. Ternyata, ia bertemu dengan perempuan desa yang tertarik mempelajari budaya dan bahasa Jawa. Tidak ada gadis yang digambarkan oleh Katsuo sebagai menyebalkan dan terus mengganggu kehidupan Katsuo. Melihat Pingkan sebagai pintu keluar dari suatu lubang neraka, Noriko memohon Pingkan untuk bawa dia pergi jauh dari tekanan menikah dengan Katsuo. Noriko, dengan tegas, menyatakan bahwa ia tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak mencintai dan menghargai dirinya. Noriko sendiri sadar bahwa Katsuo masih mencintai Pingkan dan akan sulit untuk dirinya mencintai orang lain, walaupun Pingkan semakin hari semakin cinta dengan Sarwono. Dalam pikiran Katsuo, segala hal yang membuat Pingkan bahagia, akan membuat dirinya bahagia juga. Sarwono dan Pingkan akhirnya memilih untuk membantu Noriko melanjutkan pendidikannya dalam mempelajari budaya Jawa, dan pasangan tersebut bersatu kembali, keduanya berangkat ke Jepang.

Buku ini memiliki gaya penceritaan yang unik dengan berganti sudut pandang, mau antar tokoh maupun cara penyampaian (orang pertama, kedua, atau ketiga), agar pembaca dapat mengetahui cerita dari perspektif tiap tokoh yang memiliki penyampaian berbeda-beda. Namun, hal ini malah dapat mencegah pembaca untuk benar-benar mengikuti alur cerita dengan sudut pandang yang sering berganti-ganti, terutama pembaca yang tidak bisa menangkap perubahan sudut pandang secara cepat. Karena buku diadaptasi dari puisi, ada banyak bahasa puitis di dalam cerita yang bisa menyebabkan kesulitan pembaca dalam mengerti maksud cerita.

Menggunakan bahasa puitis yang tidak biasa digunakan sehari-hari, juga penggunaan tanda baca yang terkadang ada dan tiada, buku ini bisa membingungkan seseorang yang membaca tanpa menyadari bahwa itulah inti dari ceritanya sendiri, dengan Pingkan yang cerewet dan berbicara seperti tidak ada tanda koma, dan Sarwono, yang mencintai sajak-sajak. Penggunaan bahasa bisa menimbulkan kebingungan maksud cerita yang penulis ingin ceritakan kepada para pembaca (jika tidak cocok dengan yang membaca), tetapi dalam cerita karya Sapardi Djoko Damono ini, kesenjangan yang kemungkinan besar muncul memberi kesempatan bagi setiap pembaca untuk menafsirkan cerita sesuka mereka sendiri.

Sebetulnya, selain bahasa puitis yang suka digunakan dalam buku, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sering didengar tiap hari, namun dijadikan rumit oleh penulis, mengubah arti dari suatu kata yang sederhana menjadi berliku-liku, ataupun menyelubungi kata dengan arti yang berbeda dan tak biasa dihubungkan dengan kata itu. Tapi sebetulnya, tidak ada peraturan di karya sastra yang melanggar seorang penulis untuk bebas mengekspresikan pesan yang ingin disampaikan dalam buku, maka sesungguhnya tiap penulis bisa memilih gaya penulisan sesuka mereka yang menurutnya paling layak untuk ditampilkan.

Sebagai orang yang tidak pernah membaca karya Sapardi Djoko Damono sebelumnya, saya sudah siap membaca bahasa puitis yang membingungkan dan penggunaan majas yang berlebih, ditambah lagi latar belakang sang penulis sebagai seorang pujangga. Namun, saat saya terus lanjut membaca buku karyanya itu, saya sadar bahwa diantara adegan-adegan yang rumit ada bagian klise yang mudah ditangkap dan alur yang dikenal pembaca. Saya tidak mengatakan bahwa memiliki cerita yang bisa tebak adalah ide yang buruk, tetapi bukan berarti itu adalah hal yang terbaik untuk dilakukan. Di satu sisi, kita bisa melihat bahwa adanya alur klise menghadirkan rasa keakraban bagi para pembaca untuk setidaknya mengetahui yang sebenarnya sedang terjadi dalam buku. Di sisi lain, setidaknya dalam kasus saya sebagai pembaca, saya mengharapkan lebih dari itu. Saya bukannya tidak suka dengan cerita klise, karena saya percaya alur yang sama terus terulang karena itulah yang pembaca suka baca, tetapi cerita mengenai “dua sejoli yang ingin bersama namun terpisahkan oleh masalah” terlalu sering digunakan. Saya hanya ingin merasakan kejutan dan terkejut akan suatu bagian cerita, bukan mengetahui yang akan terjadi di akhir cerita. Walaupun dasar bukunya memiliki banyak bahasa puitis, alurnya terlalu mudah dibaca. Setidaknya pembaca bisa menebak bahwa buku ini akan memiliki akhir yang bahagia. Dan betul, keduanya bertemu tanpa ada permasalahan yang cukup signifikan dalam memisahkan mereka, melanjutkan semangat dalam hubungan yang terkesan tidak realistis.

Namun, kita bisa belajar banyak dari buku Yang Fana Adalah Waktu. Hubungan antara Sarwono dan Pingkan mungkin terlihat datar, tapi hubungan mereka cukup dewasa untuk tidak membiarkan masalah kecil merusak hubungan antara keduanya. Terhadap hubungan Pingkan dan Katsuo, Sarwono memiliki kepercayaan yang cukup tinggi terhadap gadis miliknya itu, walaupun cemburu, ia tahu bahwa Pingkan sungguh mencintainya. Mereka melalui banyak percobaan tapi cinta mereka tetap berdiri teguh. Membangun ekspektasi yang tinggi dalam memiliki hubungan jarak jauh bisa dilihat sebagai suatu cara untuk penulis menyampaikan bahwa kita dapat mencapai apapun yang kita inginkan jika kita percaya bahwa kita bisa, dan berani melewati banyak percobaan untuk mencapainya.

Bagi para remaja, buku ini bisa mengajarkan cara bertingkah lebih dewasa saat menjalin suatu hubungan, bahwa berpasangan itu bukan hanya sekedar status, melainkan penuh dengan kerja keras dan upaya untuk terus bersama orang yang kita cintai. Sebetulnya buku ini bisa berlaku untuk siapapun, tidak hanya bagi remaja. Sapardi Djoko Damono menggunakan banyak kata-kata yang ambigu sehingga kita bisa menginterpretasikan maksud ceritanya bagaimanapun tiap pembaca melihatnya karena bisa diartikan lebih dari satu cara.
This entire review has been hidden because of spoilers.
3 reviews
November 20, 2018
Membahas Buku Yang Fana adalah Waktu
oleh Croccifixia Juliette Zefanya

Tentang Buku
Judul buku : Yang Fana adalah Waktu
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Cetakan : Cetakan Kedua Juli 2018
Tahun terbit : Juli 2018
Tebal buku : 144 halaman
Harga buku : Rp75.000,00
ISBN : 978-602-03-8305-7

Membahas Isi Cerita
Novel ini adalah novel ketiga dari sebuah trilogi yang menceritakan kisah cinta antara Pingkan dan Sarwono. Kisah cinta dua sahabat yang berubah menjadi pasangan. Buku terakhir dari seri berlatar di Jepang dan Indonesia. Di dalam buku ini, Pingkan sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi di Jepang sementara Sarwono harus tetap di Indonesia karena kondisi kesehatannya yang menurun. Sarwono dan Pingkan harus beradaptasi dengan satu sama lain dan berhubungan jarak jauh melalui Email, Whatsapp, Facetime, dan surat. Tidak banyak buku yang mendalami cinta jarak jauh karena hubungan jarak jauh memiliki begitu banyak rintangan dan keterbatasan.
Novel ini juga mengungkap isu-isu tentang feminisme, status sosial, dan budaya perjodohan. Kisah-kisah tentang perjodohan seringkali kita lihat di dalam novel percintaan atau roman Indonesia lama.

Menurut saya, buku ini merupakan sebuah buku yang memberikan banyak pelajaran tentang toleransi antara perbedaan, cinta, dan menjalin hubungan jarak jauh. Buku ini cukup unik, karena struktur penulisannya dikembangkan dengan struktur penulisan puisi, sehingga banyak mengandung sajak-sajak yang memiliki arti yang dalam. Sarwono dan Pingkan dianalogikan seperti dua burung merpati yang tidak pernah berjauhan. Hal ini berarti bahwa Sarwono dan Pingkan tidak akan terpisahkan meski sangat jauh dengan satu sama lain, dan dipisahkan oleh waktu. Beberapa bab di dalam buku ini membuat saya terharu karena hubungan istimewa antara protagonis dengan orang tua mereka, serta dengan satu sama lain dideskripsikan dengan jelas.

Terdapat isu-isu tentang budaya Indonesia, toleransi terhadap orang-orang yang berbeda ras, suku, dan agama dan hal tersebut diceritakan kepada pembaca melalui interaksi setiap tokoh. Buku yang bertema kisah cinta ini akan lebih cocok jika dibaca oleh generasi milenial karena kisah cinta utama kedua protagonis yaitu Pingkan dan Sarwono terjadi saat mereka sedang menempuh pendidikan universitas, sehingga generasi milenium dapat menjadi lebih terkait dengan karakter utama novel.

Kelemahan buku
Buku ini memiliki penulisan yang sedikit berbeda dibandingkan dengan novel lainnya karena buku ini tidak menggunakan tanda baca yang biasa digunakan dalam penulisan dialog dan monolog mereka, seperti tanda baca (,”.). Tanpa adanya tanda baca yang sesuai dengan percakapan batin karakter, serta percakapan dialog antara karakter novel menjadi lebih sulit dimengerti. Hal ini membuat saya bingung dalam membedakan narasi, dan dialog dari karakter karena tidak ada tanda yang jelas sejak awal membaca buku. Setelah membaca ulang bab-bab awal hingga pertengahan, barulah saya menyadari bahwa penulisan dialog ditulis dalam huruf italic.
Saya juga menemukan beberapa kelemahan di dalam karakter yang terdapat di dalam cerita ini. Saya menemukan bahwa karakter-karakter di dalam novel tidak menunjukkan sebuah representasi yang tepat dalam menunjukkan kepribadian karakter-karakter yang seharusnya lebih modern, terutama dalam representasi orang muda. Terdapat beberapa kebiasaan yang saya temukan yang menurut saya tidak biasa. Kebiasaan seperti menulis surat, mengirim surat, dan berbicara dalam dialog yang formal di antara teman dekat, tidak sering saya temukan di kehidupan sehari-hari, tetapi hal tersebut adalah yang selalu dilakukan oleh karakter-karakter novel seperti Pingkan dan Sarwono.

Keunggulan buku
Buku ini memiliki banyak sajak dan puisi yang menghibur. Sajak-sajak yang dituliskan memiliki arti yang dalam, dan memberikan pesan yang manis bagi pembacanya. Hubungan antara karakter juga memiliki kepribadian yang positif dan dapat memberikan dampak pengaruh yang baik terhadap pembacanya, contohnya seperti Pingkan yang meneruskan pendidikan di perguruan tinggi dengan beasiswa di Jepang. Pingkan memberikan kesan yang berbeda dari banyak perempuan di Indonesia karena prioritasnya terhadap pendidikan dan tidak hanya kepada pernikahan atau hubungan seperti yang biasanya perempuan tradisional Indonesia lakukan.
Novel ini juga memiliki esensi humor yang membuat buku menjadi lebih menyenangkan untuk dibaca. Kepribadian Pingkan, Sarwono, dan beberapa karakter di novel memiliki kesan lucu saat mereka berinteraksi. Novel ini juga memiliki nilai-nilai yang mengajarkan pembacanya untuk menjadi lebih peduli terhadap masalah-masalah sosial dan budaya yang sering kita temukan di kehidupan sehari-hari seperti feminisme, diskriminasi, dan toleransi.
Ada sebuah karakter di dalam Novel yang bernama Budiman. Di awal cerita, pada halaman 20--40 diceritakan bahwa ia ingin menikah dengan seorang perempuan Jawa. Budiman juga orang Jawa namun, meski keduanya merupakan orang Jawa, tingkat status perempuan lebih tinggi karena perempuan memiliki nama Raden Ajeng dan hal itu menyebabkan kedua orang tua dari perempuan tidak merestui hubungan keduanya.

Kritik (Seminar Sokratik)
Saya juga berpartisipasi di dalam kegiatan seminar sokratik untuk mendapatkan pengertian yang lebih dalam tentang pesan, moral, dan arti dari buku ini. Topik seminar sokratik kami bertema dengan cinta, dan banyak membahas tentang hubungan Pingkan dan Sarwono, Katsuo dan Noriko, dan juga cinta segitiga antara Katsuo, Pingkan, dan Sarwono. Saya menyimpulkan bahwa masalah utama di dalam cerita melingkup tentang isu perbedaan suku, dan ras. Cinta utama antara Sarwono dan Pingkan tidak mudah untuk berjalan karena keduanya berasal dari ras yang berbeda. Sarwono adalah pria Jawa asli sedangkan Pingkan adalah perempuan Manado. Hal ini menyebabkan keluarga dari pihak keduanya untuk tidak setuju terhadap hubungan mereka.
Saya juga menganalisis interaksi keduanya. Sarwono dan Pingkan tidak pernah menyatakan perasaan mereka secara langsung, dan tidak banyak mengekspresikan pendapat mereka tentang satu sama lain kepada orang lain, sehingga pembaca harus banyak mencari pesan tersirat dalam setiap sajak dan bab di novel untuk membuktikan perasaan mereka.
Menurut saya, Pingkan dan Sarwono tidak membutuhkan afirmasi akan perasaan mereka karena keduanya sudah saling mengerti. Hubungan mereka yang tidak menyatakan perasaan mereka secara langsung, namun dapat saling mengerti adalah salah satu bentuk contoh dari sifat pengertian, sifat yang sangat penting di dalam persahabatan. Tidak hanya itu, hubungan mereka berdua sebenarnya tidak direstui oleh pihak keluarga mereka terutama orangtua Sarwono, dan Pingkan.

Tinjauan Bahasa
Tidak ada kesalahan teknis dalam penulisan novel yang saya baca. Penulisan cerita dituliskan berdasarkan sudut pandang orang ketiga dari awal hingga akhir cerita. Sudut pandang ketiga digunakan untuk menceritakan pengalaman Sarwono dan Pingkan bergantian, serta menceritakan cerita karakter lainnya. Dilihat dari segi bahasa yang digunakan pengarang sederhana, akan tetapi memikat. Kalimat-kalimat dalam paragraf disusun secara runtut sehingga mudah dipahami bagi pembacanya. Buku ini banyak mengandung bahasa Jawa, dan kata-kata asing, namun buku ini mempermudah pembaca membacanya melalui penjelasan arti di footnote yang terdapat di dalam novel.


Kesimpulan
Secara keseluruhan buku ini adalah buku yang mengharukan, dan menghibur. Meski ada beberapa kelemahan, namun hal tersebut tidak menghilangkan esensi positif. Buku ini akan menjadi lebih baik lagi jika penulisan kalimat percakapan dialog dan monolog karakter ditulis dengan tanda baca yang sesuai. Buku ini tidak hanya memberikan cerita unik tentang percintaan, tetapi juga mengajarkan pembaca tentang nilai pertemanan, dan kekeluargaan. Menurut saya, buku ini sangat cocok untuk dibaca bagi orang muda, tetapi siapapun dapat membaca buku ini. Para pembaca juga dapat membaca gaya penulisan Sapardi yang unik.
Setelah selesai membaca, saya banyak belajar tentang nilai dan budaya Indonesia. Banyak perumpamaan bahasa Jawa yang menarik dan penulis juga menyertai perumpamaan dengan artinya. Buku ini mengandung nilai dan moral yang dapat memberikan dampak baik bagi pembacanya. Ceritanya juga cocok dibaca bagi pembaca yang sedang menjalani hubungan jarak jauh, yang ingin seperti Pingkan, hidup di luar waktu. Tidak hanya itu, sajak-sajak yang terdapat di dalam buku ini juga memiliki makna yang dalam sehingga sangat menyentuh bagi para pembacanya.
Bagi Anda yang memiliki jiwa menulis, dan kesukaan akan sastra dan puisi, buku ini adalah buku yang sangat tepat untuk Anda.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
December 2, 2018
Resensi Novel Yang Fana adalah Waktu karya Sapardi DJoko Damono
oleh Cindy Rahmatya


Yang Fana Adalah Waktu ditulis oleh seorang sastrawan Indonesia bernama Sapardi Djoko Damono. Sapardi lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 20 Maret 1940. Sapardi menghabiskan masa mudanya di Surakarta, ia gemar menulis sampai ia berhasil membuat beberapa karya. Sapardi adalah mantan Dekan Fakultas Sastra UI. Sejak tahun 1957, Sapardi aktif menulis sajak, lomba baca puisi, dan festival teater. Pada tahun 1969 Sapardi menerbitkan belasan buku kumpulan sajak. Sajak-sajak yang diterbitkan oleh Sapardi telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab, Hindi, Jepang, Tiongkok, Prancis dan Inggris. Sapardi dikenal dari puisi-puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana namun bermakna. Yang Fana Adalah Waktu merupakan novel penutup Trilogi Hujan Bulan Juni yang juga ditulis oleh Sapardi Djoko Damono.
Saling kasih yang terbangun antara dua insan dengan perbedaan latar belakang suku menjadi awal mula kisah cinta Pingkan dan Sarwono. Novel ini menceritakan tentang kisah cinta Sarwono dan Pingkan yang sangat rumit dan berliku-liku. Kisah cinta mereka tidak terlepas dari konflik-konflik kecil yang menjadi penghalang. Kisah cinta Sarwono dan Pingkan masih menggantung sejak awal novel Hujan Bulan Juni dan hubungan jarak jauh juga masih berlangsung. Jika di novel kedua yang berjudul Pingkan Melipat Jarak menampilkan kesedihan Pingkan dan kisah cinta segitiga, Yang Fana Adalah Waktu berkisah tentang kelanjutan dari novel sebelumnya yang diawali dengan Sarwono yang memberi gambaran mengenai hal-hal yang membuatnya ingat pada Pingkan lalu diceritakan tentang Pingkan yang melanjutkan studinya di Jepang. Saat Pingkan melanjutkan studinya di Jepang, Sarwono saling bersurel dengan Pingkan, namun, merantaunya Pingkan ke Jepang membawa Katsuo kembali di antara mereka, ditambah lagi dengan campur tangan orang tua Sarwono, Pingkan, Katsuo dan juga Noriko yang sama-sama ingin memberi yang terbaik untuk anaknya. Hubungan antara Pingkan dan Sarwono menjadi semakin asing sejak Katsuo datang kembali ke kehidupan Pingkan. Disini juga diceritakan bahwa ibu Katsuo dan ibu Noriko memiliki kesepakatan untuk menjodohkan Katsuo dengan Noriko karena satu dan lain hal namun saat itu keadaannya Katsuo sedang jatuh hati pada Pingkan sehingga ia menolak perintah dari ibunya yaitu untuk menikahi Noriko. Sama halnya dengan Noriko, Noriko tidak ingin menikah dengan orang yang tidak memiliki niat yang kuat untuk menikahi dirinya. Bahkan, ibu Katsuo sempat turun tangan dan menggembok Katsuo agar tidak menjalin hubungan dengan Pingkan. Tak disangka, perkenalan Katsuo dengan Noriko justru membawa arah baru dalam kehidupan dan jalinan hubungan mereka.
Di buku ketiga ini, ikatan Sarwono dan Pingkan semakin erat terlepas dari masalah perbedaan suku dan masa lalu, kekekalan cinta mereka sempat digambarkan pada cerita sepasang burung merpati dengan keabadian bunyi wok-wok kethekur, suara yang dilontarkan oleh burung merpati meskipun sudah dilepas ke alam bebas lalu kembali lagi bersama pasangannya dan juga analogi layang-layang yang menggambarkan kisah cinta Pingkan dan Sarwono seperti tarik-ulur . Secara garis besar, kegelisahan soal perbedaan suku atau asal daerah Pingkan dan Sarwono masih menjadi pertimbangan bagi keduanya, terlebih lagi bagi Sarwono. Namun, novel ketiga ini semata menceritakan soal pangkal dan ujung kisah cinta Pingkan dan Sarwono yang berakhir dengan kebahagiaan.
Karakter Sarwono terkesan sangat tidak pantang menyerah, sopan, berprinsip dan sabar. Ia rela melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan sampai ia rela jatuh sakit karena terlalu banyak berkhayal tentang Pingkan. Karakter Pingkan tidak jauh berbeda dengan Sarwono, Pingkan juga adalah orang yang memiliki prinsip, Pingkan menghargai dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan sehingga ia dan Sarwono mempertimbangkan masalah perbedaan marga dan keturunan. Selain sikap karakter yang ternilai baik, banyak amanat yang dapat kita serap dari novel ini, amanat-amanat tersebut mencakup nilai-nilai pertemanan, kekeluargaan dan toleransi.
Berbicara mengenai inti dari cerita dari novel Yang Fana Adalah Waktu, saya sebagai pembaca dapat melontarkan beberapa keunggulan dan kekurangan dari novel ini. Novel terakhir dari trilogi Hujan Bulan Juni ini seperti beradaptasi kepada era modern, penulis mulai menjadikan era modern sebagai referensi tulisannya, walaupun ia masih berbicara tentang masalah perbedaan suku yang terdengar sangat tradisional, namun cara penyampaiannya tetap jelas, lantang dan bisa diterima oleh masyarakat modern. Walaupun menjadikan era modern sebagai referensi penulisannya, permainan bahasa dan sastranya tetap kuat sehingga sebagian orang akan perlu menghabiskan lebih banyak waktu untuk memahaminya dan sebagian orang lainnya mungkin bisa menikmati. Novel ini juga mengangkat kisah sepasang kekasih dengan sederhana tanpa adanya konflik atau klimaks yang terlalu bergejolak, pada akhirnya pembaca mungkin dapat lebih berempati karena kisahnya sangat sederhana, mungkin bukan hanya tokoh Pingkan dan Sarwono saja yang mengalami. Novel ini juga menyajikan cerita yang berdasar pada realita dan tidak menuntut pembaca untuk berkhayal terlalu jauh, karena cerita ini menghadirkan penjelasan yang sangat lengkap. Selain itu, bersama dengan novel Yang Fana Adalah Waktu, diselipkan sebuah buku kecil yang berjudul Sajak-Sajak untuk Pingkan yang berisi puisi-puisi karya Sarwono untuk Pingkan. Dengan begitu pembaca akan lebih bisa berempati dengan perasaan Sarwono pada Pingkan saat itu dengan membaca puisi-puisi atau sajak-sajak yang ditulis Sarwono untuk Pingkan karena puisi-puisi tersebut cukup untuk menggambarkan suasana dan perasaan seorang tokoh.
Novel ini bisa dibilang novel yang singkat, karena cuma mengandung 146 halaman. Karena jumlah halaman yang singkat, terkadang menjadi terlalu padat dan kurang adanya transisi antar kejadian atau adegan. Juga, pada sebagian paragraf tidak banyak mengandung tanda baca sehingga kesannya tidak ada jeda di satu paragraf tersebut. Terlebih lagi, novel ini menyajikan akhir cerita yang menggantung, Pingkan dan Sarwono akhirnya bersatu kembali dan Sarwono berhasil menyatakan cintanya pada Pingkan, namun kita tidak tahu tepatnya kemana mereka pergi dan bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka yang pada akhirnya menuntut pembaca untuk berasumsi.
Secara keseluruhan, novel Yang Fana Adalah Waktu adalah sebuah novel yang kompleks dan menyangkut banyak aspek seperti aspek suku dan budaya. Bahkan, suku dan budaya tersebut dijadikan sebuah konflik yang cukup panjang dan kompleks yang menjadi penghalang utama hubungan Pingkan dan Sarwono. Mungkin sebagian besar orang menganggap novel ini terlalu susah untuk dipahami karena banyaknya perumpamaan dan majas yang digunakan. Padahal, novel ini sudah mengadaptasi unsur modern dan menjadikan modernitas sebagai referensi. Artinya, penulis sudah mempermudah penggunaan bahasa dan menghubungkan cerita dalam novel dengan kehidupan modern atau kekinian supaya para pembaca dapat berempati dengan kisah Pingkan dan Sarwono. Kekurangan-kekurangan yang sudah disebutkan sebelumnya juga tentunya tertutupi oleh kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh novel ini, tetapi alangkah lebih baiknya jika penulis dapat menggambarkan lebih lagi mengenai kisah-kisah dari seri trilogi yang sebelumnya agar pembaca awam mendapat gambaran yang lebih jelas sebelum membaca seri yang terakhir.
Sebagai pembaca yang tidak memiliki latar belakang sastra sama sekali, saya sebagai pembaca dapat mengatakan bahwa novel ini adalah salah satu novel yang sulit dipahami. Menurut saya, masalah utama dalam memahami novel ini adalah penggunaan bahasa yang sangat asing bagi saya. Namun setelah membaca secara berulang-ulang dan membaca beberapa ulasan mengenai novel ini saya dapat menyimpulkan intisari dan memahami maksud dari cerita yang terkandung dalam novel ini.
Menurut saya pribadi, novel ini ternilai sebagai novel yang menarik karena jalan ceritanya tidak rumit, tetapi justru memahami cerita secara keseluruhan yang ternilai sulit karena penggunaan bahasa yang tidak biasa. Menurut saya, novel ini pantas dibaca oleh mereka yang memiliki latar belakang sastra atau orang-orang yang gemar merangkai dan membaca puisi karena dengan begitu, pasti pembaca sudah memiliki ilmu lebih untuk dapat memahami dan mendalami novel ini. Cerita yang terkandung dalam novel ini menurut saya adalah cerita yang dapat diterima oleh siapa pun karena tidak ada singgung-meyinggung dan tidak mengangkat sebuah topik yang sensitif. Justru novel ini menjunjung tinggi nilai toleransi dan kekeluargaan serta persahabatan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Muhammad Reza.
1 review
January 11, 2019
Yang fana adalah waktu adalah kelanjutan dari novel Hujan Bulan Juni, yang menceritakan kisah cinta Pingkan dan Sarwono setelah Pingkan berangkat ke Jepang dan meninggalkan Sarwono. Awal novel menunjukkan bahwa Pingkan dan Sarwono masih sering berkomunikasi menggunakan surel, walau Sarwono masih dalam tahap pemulihan dari penyakitnya. Dalam novel ini kisah percintaan Sarwono dan Pingkan mengalami banyak sekali cobaan, lebih lagi mereka melakukan hubungan jarak jauh Sarwono dari Solo dan Pingkan dari Jepang. Selama di Jepang Pingkan berteman dengan seseorang bernama Katsuo, Katsuo adalah seorang peneliti yang sedang bingung dengan masalah keluarganya. Masalah Katsuo dengan Ibunya dan calon istrinya akan menjadi salah satu masalah terbesar dalam novel ini, sebab masalah ini menyangkut dengan percintaan Sarwono dan Pingkan.
Novel ini adalah buku yang bisa dikatakan singkat. Novel ini hanya memiliki 140 halaman sehingga dapat dibaca dengan cepat, namun bagi sebagian pembaca hal ini adalah kerugian karena mereka tidak dapat menikmati novel dengan puas. Pembaca yang ingin membaca buku ini harus mengetahui inti dari novel-novel Pak Sapardi sebelumnya yaitu Hujan Bulan Juni, sebab buku ini dimulai dengan percakapan kedua tokoh melalui surel. Jika pembaca tidak mengetahui tokoh-tokoh pada awal cerita maka mereka akan menjadi bingung ketika membaca ceritanya. Novel ini adalah novel yang sangat menghibur untuk dibaca karena ceritanya yang menarik dan sekaligus realistik. Novel cerita tentang pasangan yang melakukan hubungan jarak jauh dan memiliki beberapa rintangan supaya dapat menjalani hubungan mereka. Lanjutan dari novel sebelumnya Hujan Bulan Juni novel ini melanjutkan akhir yang gantung ketika Sarwono masih sakit dan Pingkan pindah ke Jepang. Saya sangat terikat ketika membaca buku ini karena novel Yang Fana Adalah Waktu memiliki banyak hal yang menurut saya sangat menarik dan sekaligus menggantung, seperti ketika Sarwono dan Pingkan menulis surel dengan bahasa yang puitis, ketika Pingkan cerita tentang masalah Katsuo dan Noriko, ketika orangtua Pingkan membicarakan tentang pernikahan antar suku dan masih banyak lagi hal-hal yang menarik yang dapat ditemukan di dalam novel ini. Seperti yang saya tulis sebelumnya puisi adalah bagian yang sangat penting bagi novel ini, lagipula novel ini juga dibuat karena sebuah puisi, puisi adalah yang membuat semua hal di dalam novel dramatis.
Pak Sapardi adalah penulis yang sangat bagus tetapi juga ada beberapa hal yang bisa di kritik dalam penulisanya, saya sebagai pembaca memiliki beberapa kritik setelah membaca novel ini. Pertama adalah penggunaan Bahasa Jawa, penggunaan bahasa daerah ini tidak seluruhnya saya mengerti, dan saya yakin banyak pembaca novel yang merasakan hal ayng sama. Bahasa Jawa bukanlah bahasa pertama saya sehingga beberapa hal yang di bicarakan Sarwono dan Pingkan kurang mengerti. Kalimat bahkan paragraf yang tidak memiliki tanda baca adalah hal yang membuat saya sangat membingungkan bagi saya, cara menulis puitis sering sekali tanpa menggunakan tanda baca. Tanda baca bagi saya adalah petunjuk akan bagaimana cara membaca cerita, tetapi karena novel ini tidak memiliki tanda baca saya selalu berfikir bahwa saya sangat ‘bablas’ ketika membacanya. Hal lain yang saya kurang senang adalah bagaimana kisah ini berakhir, Yang Fana adalah Waktu adalah buku terakhir dari trilogy Hujan Bulan Juni tetapi Novel ini memiliki akhir yang sangat menggantung. Pada akhir cerita penulis tidak memberi keterangan tentang apa yang akan terjadi di masa depan, seperti bagaimana nasib Katsuo yang menguncikan diri di kamar dan sedang mngalami stres berat karena tidak ingin menikah, atau nasib Noriko yang sudah pindah ke Solo untuk tinggal bersama Ibu Palenkahu, dan yang paling penting adalah bagaimana nasib kisah cinta Pingkan dan Sarwono yang selama ini melewati banayak sekali cobaan. Ceritanya yang mneggantung bukanlah masalah satu satunya, untuk beberapa pembaca kisah cinta Sarwono dan Pingkan adalah kisah biasa yang terjadi sehari hari, sehingga buku ini bisa dikatakan membosankan bagi yang kurang menyukai kisahnya.Walau memiliki kekurangan-kekurangan buku ini tetap menjadi buku yang sangat baik menurut saya karena dengan puisi-puisi yang di dalam buku, pembaca bisa mengartikan kisah cinta dengan cara yang berbeda beda. Mengartikan puisi bukanlah hal yang dilakukan dengan mudah dan dapat dilakukan dengan arti yang berbeda, satu kata dalam puisi dapat memiliki seribu arti, oleh karena itu pembaca memiliki opini masing-masing tentang arti dari puisi dalam buku. Keindahan
Selama cerita pembaca dapat melihat banyak interaksi yang berbeda antar tokoh yang pertama dan paling penting adalah Pingkan-Sarwono, Pingkan sepertinya sudah mencintai Sarwono dengan sepenuh hati dalam novel ini, dan Sarwono yang selalu mimikirkan dan mengirim surel kepada Pingkan. Pingkan-Katsuo, Katsuo yang mencintai Pingkan harus rela karena Pingkan sudah memiliki Sarwono untuk menjadi kekasihnya, walau sudah rela Katsuo masih bingung dengan kelanjutan hidupnya. Pingkan yang selalu mendukung Katsuo walau tidak bisa bersamanya. Katsuo-Noriko, Noriko yang sudah berusaha mencintai Katsuo, tetapi Katsuo yang tidak bisa mencintainya idak berani untuk mengungkapkan kebingungannya. Pingkan-Noriko, Noriko yang melarikan diri dari kediaman Ibu Katsuo ingin bersama Pingkan untuk mencari jawaban, Pingkan dengan senang hati menerima Noriko dan ingin menjaganya dengan baik. Dengan interaksi tokoh yang begitu rumit Bapak Sapardi membuat pembaca buku ini tertarik dan menghasilkan rasa ingin tahu lanjutan dari cerita tersebut. Selain dari Interaksi antar tokoh, interkasi antara okoh dan latar. Pak Sapardi menggunakan interaksi ini dengan cara yang sangat baik, Pak Sapardi melibatkan latar-latar yang sangat berkesan bagi tokohnya, beberapa contohnya yaitu: interaksi antar Pingkan dan kafe di Kyoto, Pingkan biasanya menghabiskan waktu bersama Katsuo. Pingkan pergi ke kafe tersebut bersama Sarwono untuk penghapusan pikiran, Pingkan ingin melupakan pengalamanya bersama Katsuo di kafe tersebut dan mneggantikannya dengan Pingkan. Selain dari kafe kota solo juga menjadi tempat yang sangat penting bagi Pingkan dan Katsuo karena disanalah cinta mereka dimulai, bukan hanya kota solo, budaya orang Jawa pun sangat terlihat dari interaksi mereka.
‘Apel tidak jatuh jauh dari pohonya’ Yang Fana Adalah Waktu adalah Novel karya Sapardi Djoko Damono, Pak Damono lahir dan dibesarkan di kota Solo Jawa Tengah begitu juga latar tempat di novel ini. Pak Damaono sengaja meggunakan Kota yang tidak asing karena ia lebih memahami kota tersebut dibandingkan kota lainya. Budaya Jawa Tengah juga terlihat di novel ini, seperti ketika orangtua dan keluarga Sarwono ingin merencanakan pernikahannya tetapi juga mimikirkan bahwa Pingkan bukanlah dari keturunan atau suku yang sama begitu juga dengan bahasa yang digunakan Saarwono dan Pingkan, bahkan beberapa kali saya tidak mengerti apa yang diomongkan. Pak Darmono terkenal sebagai puitis dan hal tersebut terlihat di dalam novel, ia menggunakan bahasa yang puitis untuk menjelaskan masalah-masalah pada novel ini.
“Jalan lurus, Ping?”
“Ya jalan yang tidak berhak dan tidak mungkin berbuat lain kecuali tetap lurus’
Jalan lurus difikiran kebanyakan orang adalah jalan lurus biasa, tetapi Pak Darmono menggunakan ‘jalan lurus’ sebagai analogi jalanya cinta Sarwono dan Pingkan. Jalan lurus bagi Sarwono dan Pingkan itu tidak mungkin dengan hanya melewati ‘jalan lurus berarti bahwa cinta mereka tidak terganggu, tetapi hal masalah di jalan mereka tidak dapat di hindari sehingga mereka harus berbelok.
“Kau yakin peta itu masih ada, Ping?”
“Masih Sar kita tersesat di peta itu”
‘Peta” adalah hal yang memastikan mereka memiliki tujuan yang sama, dengan ‘peta’ tersebut mereka dapat melewati jalan yang berbelok belok tetapi tetap dapat sampai tujuannya. Sarwono sedang menjadi dosen di Universitas Indonesia (UI) saya tidak kaget oleh hal ini karena Pak Sapardi sendiri sudah pernah menjabat sebagai dekan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di UI selama empat tahun. Hanya dengan melihat kehidupan penulis novel kita dapat banyak sekali persamaan antar kehidupan penulis dan is buku. Pak Sapardi menulis buku dengan cara terbaiknya yaitu menulis tentang hal yang dekat dengannya.
Yang Fana adalah Waktu adalah novel yang sangat baik, tetapi sebaiknya bagi pembaca sebelum membaca novel ini baca buku sebelumnya yaitu “Hujan Bulan Juni” walau ada beberapa kekurangan, novel ini tetap menjadi novel yang sangat baik, dengan menggunakan bahasa yang puitis dan sekaligus menyentuh aspek budaya dan sosial. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca buku ini.


This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review1 follower
December 6, 2018
Resensi Buku “Yang Fana Adalah Waktu” karya Sapardi Djoko Damono
Oleh Khadiza Refry

Sapardi Djoko Damono lahir pada tanggal 20 Maret 1940, seorang penulis berlatar belakang pensiunan Guru Besar Universitas Indonesia (UI) yang masih mengajar dan membimbing tesis dan disertasi mahasiswa pascasarjana di perguruan tinggi seperti Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro, dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sejak beliau masih menjadi murid SMA, ia telah menulis dan menerjemahkan puisi, cerpen, novel, esai, dan drama. Beberapa dari karya puisinya telah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU). Puisi-puisi seperti Hujan Bulan Juni, Melipat Jarak, Babad Batu, Ayat-ayat Api, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Perahu Kertas. Selain buku puisi-puisinya, ada beberapa novel-novel beliau juga diterbitkan oleh GPU, di antara itu adalah Trilogi Soekram, Hujan Bulan Juni, dan Pingkan Melipat Jarak, serta esai Bilang Begini Maksudnya Begitu dan Alih Wahana.
Karya beliau yang berjudul Yang Fana Adalah Waktu merupakan novel berdasarkan salah satu puisi dari kumpulan puisi Perahu Kertas. Adaptasi puisi ini bertujuan untuk menjadi sebagai “satire” bagi manusia yang mengaku kekal dan menyebut waktu adalah fana. Seperti yang terlihat dari sinopsis buku ini, “Bagaimanakah akhir perjalanan Pingkan dan Sarwono? Akankah waktu mempertemukan atau justru memisahkan mereka karena campur tangan takdir?”, waktu merupakan pembahasan utama puisi dan cerita buku ini.
Buku Yang Fana Adalah Waktu menceritakan tentang dua tokoh, Sarwono dan Pingkan yang saling mencintai pada akhirnya. Pada awalnya, Sarwono mencintai Pingkan yang tinggal jauh darinya. Sarwono tinggal di Solo, Indonesia dan Pingkan di Kyoto, Jepang, sedang bersekolah. Mereka selalu saling mengirim surel, itulah cara komunikasi mereka behubungan jarak jauh. Di jepang, Pingkan punya teman, Katsuo, yang menyayanginanya. Tetap Katsuo dijodohkan oleh ibunya untuk menikah dengan Noriko. Pada akhirnya, Katsuo dan Noriko tidak menikah karena Katsuo tidak mencintai Noriko seperti Noriko mencintai Katsuo. Selama Katsuo dan Noriko berhubungan, belum tentu dalam arti saling menyayangi, dalam rahasia Pingkan menyukai Sarwono, yang mencintai Pingkan di Solo. Pingkan tidak tahu cara merespon Katsuo ketika bertindak sayang kepadanya, sehingga Pingkan tidak memberi tahunya kalau dia tidak suka dengannya. Selama ini Sarwono berpikir Pingkan menyukai Katsuo karena mereka berdua tinggal di Kyoto. Sampai suatu hari Pingkan mengirim surel ke Sarwono mengatakan cinta dia terhadap Sarwono. Lalu Sarwono ke Jepang dan tinggal bersama Pingkan disana. Di bagian lain, Noriko ke Indonesia tinggal bersama ibunya Pingkan.
Sarwono dan Pingkan berkomunikasi melalui surel, sering sekali mereka saling mengirim surel, bercerita keadaan mereka di tempat tinggalnya. Dalam surat-suratnya, cara tokoh cerita pengalaman mereka lebih mendetail, sehingga pembaca pun dapat mengerti yang diceritakan. Pembaca dapat membayangkan keadaan mereka saat Sarwono membaca surel dari Pingkan dan kebalikannya. Rasa ketegangan dan kesedihan yang dialami tokoh dapat dirasakan oleh pembaca. Oleh karena itu, pencitraan hubungan Sarwono dan Pingkan mudah dipahami. Selain itu, komunikasi dengan menggunakan surel juga dapat membangun hubungan dengan pembaca zaman sekarang. Internet bukanlah sesuatu yang baru, cara orang-orang mengirimkan surat sekarang dengan surel. Sudah jarang sekali ada yang masih menggunakan pengiriman pos dan mengirim surat fisik, orang-orang lebih memilih internet karena lebih mudah dan cepat. Terutama jika ingin mengirim surat dari luar kota, surat akan datang lebih lama, apalagi kalau dikirim dari luar negeri. Menggunakan surel sebagai alat komunikasi Sarwono dan Pingkan dapat menghubungkan pembaca dengan cerita lebih menarik, karena cara mereka berkomunikasi dengan cara yang mirip dengan yang orang-orang pakai sekarang. Pembaca juga dapat memahami hubungan Sarwono dan Pingkan lebih baik, karena mereka mengalami hubungan yang mirip dengan orang lain, sehingga mereka mengerti hubungan intim yang terbuat melalui komunikasi online.
Selain itu, sudut pandang yang digunakan penulis adalah orang pertama, orang pertama tokoh utama, yaitu Sarwono. Sudut pandang ini dapat membuat buku ini diceritakan seakan-akan seperti buku harian Sarwono. Oleh karena itu, pembaca dapat mengerti sisi pribadi Sarwono dalam ceritanya, sehingga pembaca dapat merasakan emosi Sarwono dalam cerita lebih jelas. Sudut pandang orang pertama juga menimbulkan penulisan yang kekinian atau santai, maka anak muda pun dapat membacanya. Dari pandangan sesorang remaja, menurut saya cerita dalam buku Yang Fana Adalah Waktu mudah dimengerti. Dari intonasi Sarwono pun dapat merasakan suasana ceritanya. Dari situ saja bisa mengerti garis besar ceritanya. Tetapi pemahaman amanat yang didapat dari ceritanya cukup sulit. Karena seringkali saat saya baca, tidak ada transisi, tiba-tiba berubah menjadi sudut panjang ketiga. Jika saya lupa bahwa sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama tokoh utama, sulit dimengerti tujuan bab tersebut. Inilah yang dapat menyulitkan pembaca untuk memahami amanat ceritanya, karena amanat yang dimengerti belum tentu bertuju kepada tokoh yang dipahami. Selain itu, transisi sudut pandang juga dapat menimbulkan masalah dalam memahami alur ceritanya. Seringkali saya pikir bahwa Sarwono dan Pingkan sedang bergantian untuk bercerita, padahal yang sedang menceritakan perspektif Pingkan adalah Sarwono sendiri. Dengan itu, untuk membaca buku ini diperlukan konsentrasi yang cukup tinggi dan selalu ingat sudut pandang ceritanya, untuk memahami cerita sesuai dengan penyampaian penulisnya.
Dalam awal ceritanya, orang tua Sarwono sangat sayang kepada anaknya yang sakit. Mereka selalu melakukan hal yang terbaik untuk Sarwono. Walaupun Sarwono sudah besar, bahkan sudah bekerja secara profesional, mereka tetap ingin merawat anaknya di Solo. Mereka juga ikut berpikir sebab penyakit Sarwono, mereka pikir penyakit itu karena Sarwono tidak bersama Pingkan. Dari sini, pembaca dapat memahami bahwa kita harus sayang kepada orang tua. Karena mereka akan melakukan apa pun untuk kita dan selalu melakukan hal yang terbaik. Ini adalah amanat yang sangat penting untuk kalangan muda, kita harus menghargai orang tua dan mencintai mereka sepenuhnya. Namun, cerita ini tidak diangkat secara detail pada awal ceritanya. Menimbulkan esensi amanat yang tidak cukup. Sehingga pembaca mungkin tidak menangkap amanat ini jika pembaca tidak mengerti betul hubungan Sarwono dengan orang tuanya. Hanya pembaca yang fokus membaca dapat memahaminya.
Sayang sekali bagian cerita ini tidak secara penuh diangkat dalam buku. Bagian ini bisa meningkatkan pemahaman pembaca terhadap hubungan dekat antara Sarwono dan orang tuanya. Namun, mungkin bagian cerita ini sudah diceritakan dalam buku-buku prekuelnya. Oleh karena itu, mungkin buku ini lebih fokus kepada cerita hubungan Pingkan dan Sarwono. Seandainya bagian cerita ini dibicarakan lebih panjang, pembaca dapat mengenal usaha Sarwono terhadap hubungannya dengan Pingkan. Dimana orang tuanya membantu Sarwono untuk tetap mencoba. Bisa dipahami juga dari bagian cerita ini untuk selalu berusaha. Selalu berharap untuk yang terbaik, karena Tuhan akan selalu memberikan kita yang terbaik. Kita perlu sabar dan tetap mencoba. Seperti yang Sarwono lakukan, orang tuanya selalu mendukungnya untuk sabar dan mencoba agar tidak putus asa pada gol yang ingin dicapai. Sarwono tidak langsung berputus asa pada hubungannya dengan Pingkan, walaupun dia merasa Pingkan memiliki hubungan yang dekat dengan Katsuo di Kyoto, dia tetap percaya terhadap hubungan yang dia punya dengan Pingkan. Dukungan orang tua sangat berarti, karena mereka akan selalu mendampingi anaknya untuk tetap berusaha.
Pembaca yang sedang dalam masa percintaan muda akan senang sekali membaca buku ini, karena mereka sedang mengalami waktu dimana mereka seringkali beraktivitas seperti Pingkan dan Sarwono. Melakukan hal-hal seperti jalan-jalan bersama, saling menjumpa di negara mereka tinggal, untuk pasangan yang mengalami hubungan jarak jauh. Saat ini ada banyak sekali pasangan muda yang berhubungan jarak jauh, sebagian besar karena salah satu sekolah di luar kota atau negeri. Buku ini penting untuk dibaca oleh kalangan muda, karena cerita ini dapat menimbulkan ketenangan untuk para pasangan hubungan jarak jauh dan untuk seluruh kalangan muda bahwa perbedaan suku, hubungan jarak jauh dan komunikasi bukanlah masalah dalam berhubungan pada zaman sekarang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
November 15, 2018

Novel Yang Fana adalah Waktu merupakan salah satu karya seorang sastrawan Indonesia, yaitu Prof. Dr. Sapardi Djoko Darmono. Sapardi, atau yang kerap dikenal dengan SDD, lahir pada 20 Maret 1940 dan tumbuh besar di Surakarta. Ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada. Pada masa itu, Sapardi sudah mulai mengirimkan hasil karya-karyanya seperti puisi, sajak, drama, cerpen, dan novel ke berbagai media. Dengan karirnya yang berkembang, Sapardi menjadi dosen di Universitas Indonesia, dan bahkan sempat menjadi salah satu Guru Besar UI. Sampai sekarang pun, ia masih menerbitkan buku-bukunya, mengajar, dan juga menjadi pembimbing tesis di beberapa universitas lainnya seperti IKJ, Undip, dan ISI Surakarta.

Salah satu karya dari Sapardi merupakan trilogi Hujan Bulan Juni. Buku pertama dari trilogi tersebut, Hujan Bulan Juni, telah diadaptasi menjadi sebuah film yang disutradarai oleh Hestu Saputra. Dilanjut dengan buku keduanya, Pingkan Melipat Jarak, dan buku penutup dari trilogi Hujan Bulan Juni, yaitu Yang Fana adalah Waktu. Buku penutup ini dirilis pada 16 Maret 2018 disertai dengan buku puisi karya Sapardi yang berjudul Sajak-sajak untuk Pingkan.

Yang Fana adalah Waktu menceritakan tentang kelanjutan dari kisah cinta Sarwono dan Pingkan setelah Pingkan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studinya, didampingi oleh Katsuo. Sejak itu, Sarwono jatuh sakit dengan alasan rindu karena ditinggal Pingkan. Walaupun begitu, mereka rajin untuk mengabari satu sama lain melalui surel ataupun Skype. Hingga pada suatu waktu, Katsuo datang ke dorm Pingkan di Kyoto dan bercerita akan situasinya mengenai perjodohan yang ibunya rancang agar Noriko dan Katsuo menikah. Noriko merupakan anak yatim piatu yang telah Ibu Katsuo urus sejak Noriko ditinggal oleh kedua orang tuanya. Tujuan kedatangan Katsuo adalah untuk meminta Pingkan pergi bersamanya ke kampung halamannya di Okinawa untuk meyakinkan Noriko, yang pada awalnya curiga akan hubungan Pingkan dan Katsuo, agar dapat diyakinkan bahwa tidak ada hubungan antara Katsuo dan Pingkan melainkan teman.

Walaupun begitu, Katsuo menerima perjodohan ini karena semata-mata ini sebuah amanah dari ibunya yang harus ia turuti, namun hatinya masih jatuh kepada Pingkan. Di samping itu, Pingkan bimbang untuk menuruti ajakan Katsuo atau tidak, karena ia juga memikirkan perasaan Sarwono jika ia membuat keputusan tanpa persetujuan Sarwono. Pada saat yang sama, setelah Sarwono mengambil penghargaan atas penilitiannya di Jakarta, Sarwono mendapat tawaran untuk menyampaikan penelitiannya di Tokyo, Jepang. Sarwono ditemani Dewi, asisten penelitiannya, pergi ke Jepang. Mereka disambut oleh Pingkan dan Katsuo. Dewi, yang mengetahui berita bahwa Katsuo akan menikah, bersikeras ingin bertemu Noriko di Okinawa. Maka dari itu, setelah Sarwono menyampaikan penelitiannya, mereka pergi ke rumah Katsuo di Okinawa. Sebagian besar waktu dihabiskan oleh Dewi yang menanyakan segala hal kepada Noriko, termasuk tentang masa lalunya, yang merupakan topik sensitif bagi Noriko. Namun, Noriko tetap menjawabnya dengan tenang, karena yang ia tahu pertanyaan dari Dewi hanyalah sebatas penelitian saja.

Setelah menemui Noriko di rumah Katsuo, Pingkan mengajak Sarwono untuk pergi ke sebuah restoran dan sebuah danau bernama Danau Biwa di Okinawa, Pingkan berkata bahwa ia ingin menghapus kenangannya akan Katsuo setiap kali ia pergi ke dua tempat tersebut yang merupakan tempat Katsuo dan Pingkan pernah menghabiskan waktu bersama. Tak berapa lama, Sarwono dan Dewi kembali ke Indonesia. Sementara itu, sejak pertemuannya dengan Pingkan di Okinawa, Noriko pergi menemui Pingkan di Kyoto tanpa sepengetahuan siapapun. Pada saat itu, Noriko baru sadar akan perasaannya yang sebenarnya tidak tertuju kepada Katsuo. Noriko hanya mengikuti alur yang dirancang oleh ibunya Katsuo. Noriko pun meminta untuk tinggal di dorm Pingkan untuk sementara, dan berharap untuk pergi ke Solo, tempat Pingkan tumbuh besar. Tidak lama pun harapannya terwujud untuk pergi ke Solo, disertai dengan tawaran Pingkan untuk menginap di rumah ibunya. Di saat yang sama, Sarwono mendapat tawaran untuk melanjutkan studi sambil mengajari di Kyodai, Jepang. Di akhir cerita, setelah Pingkan mengantarkan Noriko ke Indonesia, Pingkan kembali ke Jepang bersama Sarwono dengan membuka halaman selanjutnya akan kisah mereka.

Pada novel ini, Sapardi berhasil menggambarkan kelanjutan kisah Sarwono dan Pingkan yang sedang melalui hubungan jarak jauh. Novel ini memaparkan mengenai aspek akan menghargai perasaan orang lain yang mana dapat ditemui ketika Pingkan meminta izin kepada Sarwono terlebih dahulu untuk pergi ke Okinawa, juga pada saat Dewi menanyakan masa lalunya Noriko tanpa mengetahui bahwa hal tersebut merupakan topik sensitif. Selain itu, novel ini memaparkan tentang kejujuran hati, yang mana dapat ditemui ketika Noriko sadar bahwa ia tidak memiliki perasaan kepada Katsuo, begitupun dengan Katsuo yang menerima perjodohan dari ibunya sendiri walaupun perasaan Katsuo hanya tertuju kepada Pingkan. Konflik ini dibawa oleh Sapardi dengan menarik mengenai pertanyaan yang sering orang-orang bicarakan, yaitu “Apakah cinta harus memiliki?”. Pertanyaan ini bisa ditemui dalam masalah yang dihadapi oleh Katsuo. Katsuo yang sedang berada di situasi perjodohannya dengan Noriko, hanya memiliki cinta untuk Pingkan, namun kenyataan pahit menerjangnya bahwa Pingkan adalah milik orang lain, Sarwono.

Yang Fana adalah Waktu juga memberikan nilai moral dan nilai budaya ketika memunculkan peranan orang tua dari Pingkan dan juga Sarwono yang berasal dari suku yang berbeda, namun mereka tetap saling menghargai satu sama lain. Unsur budaya ini mungkin didapat oleh Sapardi, sang penulis, yang berlatar belakang suku Jawa yang lumayan kental. Selain itu, novel ini tidak hanya menyampaikan kisah cinta atau hubungan baik antara satu dengan yang lain, namun juga nilai pendidikan yang dibawa oleh Pingkan dan Sarwono, tentang bagaimana Pingkan melanjutkan studi di Jepang dan Sarwono yang mendapatkan penghargaan dan juga tawaran untuk menyampaikan penelitiannya di Jepang.

Keunggulan lainnya dari novel ini adalah bagaimana Sapardi menggunakan diksi dan struktur kalimatnya yang tepat sehingga dapat memperindah gaya penulisannya. Sapardi juga seringkali menggunakan perumpamaan dalam menyatukan unsur puisinya terhadap cerita yang ia tulis. Maka, hal inilah yang menjadi salah satu faktor novel ini bersifat naratif puitis, yang berbeda dengan novel-novel lainnya.

Di samping itu, terdapat beberapa kelemahan dari novel ini yang membuat saya kurang puas ketika mengakhiri novel ini. kehidupan Pingkan dan Sarwono pada dasarnya sangat sederhana, namun terkesan dipanjang-panjangkan sehingga untuk beberapa pembaca, buku ini dapat menjadi membosankan. Novel ini juga tidak memberikan tanda baca ketika terdapat dialog, melainkan menyatukannya dengan cerita sehingga terlihat padat dan dapat membingungkan untuk beberapa pembaca, walaupun mungkin hal ini sebuah kesengajaan yang dilakukan Sapardi untuk menyatukan karakter puitisnya terhadap ceritanya.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai bagaimana novel ini dieksekusi, walau saya sedikit sayangkan akan akhir dari cerita ini yang berakhir namun tidak berakhir, begitupun berawal namun tidak berawal. Entah disengaja atau tidak, atau bahkan untuk kebaikan dari akhir cerita dari Yang Fana adalah Waktu, hal ini dikarenakan dengan tidak adanya kabar Katsuo di akhir cerita yang tidak dijelaskan akan keberadaaanya, padahal Pingkan dan Sarwono, juga Noriko telah mendapatkan arah kehidupan mereka berikutnya. Setelah saya baca novel ini secara menyeluruh dan teliti, juga melalui diskusi dengan teman-teman saya, saya dapat simpulkan bahwa novel ini menggantung. Di samping itu, saya menyukai bagaimana Sapardi membentuk karakter Pingkan yang tulus, jujur, dan tegas di dalam cerita. Pingkan yang dapat menarik perhatian Sarwono, Katsuo, bahkan Noriko dan telah memberikan pengaruh kepada mereka untuk menjadi lebih baik. Saya juga suka bagaimana Sapardi menyampaikan ceritanya dan menyelingi budaya antara Jawa dan Manado, Jepang dan Indonesia, juga bagaimana setiap karakter dari latar belakang yang berbeda dapat melengkapi satu sama lain. Buku ini dapat dibaca oleh pembaca dari usia remaja hingga dewasa. Namun, untuk beberapa pembaca memang harus beradaptasi dengan novel yang bersifat naratif puitis seperti novel ini.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ilham Ferdianto.
2 reviews
November 15, 2018
Salam sastra kawan-kawanku pecinta sastra. Sekian buku yang telah aku baca, baru kali ini saya akan memuat balik sebuah buku “ Yang fana adalah waktu “ ditulis oleh Sapardo Djoko damong. Buku “ yang fana adalah waktu” Adalah buku pertama saya akan ulaskan pada halaman ini. Saya sudah membaca buku ini selama 2 minggu lebih dan juga menganalisis aspek-aspek penting dalam buku . Saya juga akan memberikan opini pribadi saya mengenai buku , dari sisi kelebihan dan kekurangan .
Buku ini ditulis oleh Sapardi djoko damono dan seri ketiga dari trilogi hujan bulan juni. Buku ini mempunyai cerita dengan alur campuran, berbolak- balik dari masa depan dan masa lalu. Buku ini mempunyai 146 halaman yang disertkan dengan judul setiap bab yang mencengkapkan. Dalam buku ada sebuah buku kecil yang berisi puisi-puisi tertulis yang menyimpulkan setiap bab dan halaman. Puisi yang disertakan ada 42 halaman dan masing-masing merepresentasiakn salah satu Bab.
Saya mempunyai puisi favorit sendiri setelah membaca buku. Puisi pertama dari halaman 3 dari Raden sarwono hadi, yang tertulis
Kita di negeri apa ?
Kudengar kau tertawa
Topimu diterbangkan angin
Di tepi tornado

Kilau cahaya menyisir air
Memijar di riak danau
Ada yang terdengar bersiut
Mengacau rambutku

Di selaserat-serat cahaya
Angin bermain jauh di seberang
Merentang titis pengemis
Menenun biangala

Meninggalkan riak tornado
Erat-erat aku merangkulmu
Biangala masih bersama kita
Bahkan setelah danau tak ada

Saya suka puisi ini karena unsur cerita kehiudpan. Sesuai bacaan, dimana orang yang dimaksud dalam puisi mempertanyakan diri sendiri tentang keberdaanya dan semakin jauh dari dia yang ia cintai. Puisi ini mengambil unsur perasaan penulis dan dijakdikan kalimat personifikasi. Penulis juga mencamtumkan hiperbola , yang dipakai terlalu banyak dalam puisi tersebut. Puisi ini merefleksikan halaman 74 dimana ping meninggalkan sarwono dengan katsuo di jepang, halaman yang sngat sedih bisa kulihat.



Puisi kedua ini adalah puisi yang saya bilang sangat bagus dalam hal cerita cinta mereka berdua, berikut adalah puisi mereka

Berulang siut itu
Kita menangkapnya
Berulang desir itu
Kita melepasnya

Akhirnya angkasa
Putih sepenuhnya
Tak terlacak juga
Bisik- bisik kita

Kita menangkap
Dan melepasnya
Agar terbaca
Bahasa tanpa suara

Berulang siut itu
Kita menangkapnya
Berulang desir itu
Kita melepaskanya

Puisi ini menjelaskan cerita cintaa antara pingkan dan sarwono yang enggah-enggah belum sampai selesai. Pada akhirnya mereka pun tidak bersama, akan tetapi puisi ini menjelaskan hubungan antar mereka berdua. Sarwono adalah sebuaj dosen yang bertugas di jakarta dan pingkan adalah sbeuah murid S1 kuliah di jepang. Mereka mempunyai hubungan yang aktif dan juga non-aktif, dari sarwono yang terbaring di rumah sakit dan pingkan yang terus didekati oleh katsuo di jepang, mereka berdua meragukan hubungan mereka dan akhirnya kalian kalau baca akan mengetahui sendiri .

Setelah menganalisa puisi, saya melanjutkan membaca buku dan menganalisanya daru berbagai aspek yaitu dari segi intrinsik, ekstrinsik. Segi intrinsik terdiri dari dari tujuh segi yaitu tema, tokoh dan penohkohan, alur, setting , sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Tema yang ada di dalam cerita umumnya tentang cinta, sebuah cinta yang tidak akan [ernah terjadi karena kedua sejoli yang kurang memperhatiakn suatu hubungan. Bisa dilihat dari halamn 1 ke 39, dimana sarwono dan pingkan saling cinta, akan tetapi bingung bagaimana cara mengatakan cinta. Mereka hanya beraba – raba andaikan suaru petunjuk. Selanjutnya adalah topik tokoh dan penokohan yang artinya kalau tokoh adalah karakter yang berada di dalam cerita dan penokohan adalah sifat yang karakter punya.

Dari sekian variasi karakter saya akan sebutkan sebagian saja, yaitu Pingkan, sarwono, katsuo, ibu pingkan, ibu dan bapak sarwono dan noriko. Analisis karakter pertama adalah pingkan, Pingkan dalam halamn 15 diceritakan sebagai orang medan yang telah tinggal di jakarta sudah lama. Dalam cerita pingkan diceritakan sebagai pribadi yang baik dan lembut, akan tetapi dia tidak bisa memilih dan kurang tempat. Selanjutnya adalah sosok sarwomo, sarwono mempunayi sifat yang penyabar dan penyanyang bisa dibuktikan dalam ungkapan kalau dia khawatir hubungan pingkan dan katsuo akan bertambah besar.
Sarwono adalah seorang pemuda bekerja sebagai dosen di universitas. Dia adalah orang jogja dibuktukan dari cara dia berbicara dan kosakata yang dipakai orang biasa di jogja. Ibu pingkan adalah karakter yang pasti dan harga tinggi, dimana dia lebih menerima katsuo dripada sarwono , karena ibu pingkan merasa bahwa katsuo mempunyai harta yang lebih hebat daripada sarwono. Sedangkan ayah dan bapak sarwono mempunyai istilah gaya yang santai. Karena dalam cerita mereka mau menerima cinta pingkan terhadap sarwono, kedua orang tua yang sbara dan tulus membuktikan orang tua dan hubungan anak yang sehat.

Alur yang disediakan berbau campuran, dimana masa lalu pingkan dengan sarwono diceritakan sementara dunia dini masih diceritakan kondisi cerita bagaimana cerita berlanjut. Setting bersudut ke berbagai tempat, pada halamn pertama bolak balik antara jakarta, jogja dan medan karena urusan keluarga pingkan dan sarwono, dna pada halaman berikutnya munculah kata kota tokyo dan keindaha di dalamya. Sudut pandang yang disediakan adalah sudut pandang ketiga, kafrena penulis memakai nama karakter dalam buku dan menjelaskan aksi mereka. Gaya bahasa dipakai campur,

Gaya bahasa yang saya dapatkan terdiri dari dua kategori, yaitu formal dan non formal . Formal adalah kata kata yang dipakai karakter yang sopan dan bagus, dipakai di setiap perckapan anar dua sejoli yaitu pingkan dan sarwono. Dan mereka juga memaki kata kata informal seperti Lu, gue dan kata kata yang kurang bercolok moral ketika berbicara dengan teman sepantaran. Ada juga gaya bahasa yang secarah kata agah susah dijelaskan. Kata yang digunakan adalah kata-kata mendalam sebuah puisi yang harus di teliti secara rinci, seperti contoh halaman 9 sampau 12 dimana setiap kata bukan dalam bentuk paragraf , akan tetapi sepepatah baris. Saya akan mengambil sebuah contoh

masih kau ingat ping jalan ke solo, ping ?
ingat dan tidak ingat
Apa jalan itu masih bisa kita lewati ping ?
Bisa dan tidak bisa
Apa nama jalan itu, ping ?
Jalan lurus
Jalan lurus, ping ?
Ya, jalan yang tidak berhak dan tidak mungkin berbuat lain kecuali kau tetap lurus

Kita bisa analisis jika katang yang dipakai baku dan formal. Setiap kata yang dikatan secara emosional mendalami setiap kata andaikan personifikasi yang mereka bawa. Dalam puisi diatas menceritakan kalau ping dna sarwono akan selalu mempunyai jalan khusus untuk kembali ke cinta mereka . Selanjutnya adalah analisa manat yang bisa idambil dari buku, amanat adalah sebuah pesan morl yang bisa dipertik dari cerita.

Dari hasil analisa , konklusi moral yang saya dapat kan banyak mengenai cinta.
“ cinta adalaj hal yang perluh dijaga di dunia ini, krena jika tidak keburu hari jumpa akan menemukanmu”
Hasil quote itu saya ambil dari hubungan pingkan dan sarwono. Pingkan dan sarwono mempunyai cerita cinta yang amat rumit, oleh karena itu hubungan mereka bukan hanya sekedar cinta, akan tetapi lebih dari itu. Dari cerita cinta yang bercabang ke lura sampai cerita cinta yang berkahir tragis, kisah ini yang mengispirisansikan saya untuk bikin quote ini.

Selanjutnya adalah unsur ekstrinsik yang terdiri
• Latar belakang masyarakat
• Latar belakang penulis
• Nilai yang terkandung di dalam cerpen : Nilai Agama, Nilai Sosial, Nilai Moral, Nilai Budaya
Unsur Dalam cerita
Latar belakang masyarakat Dalam cerita ada unsur Bahasa Jawa yang halus dan sopan. Kemungkinan masyarakat sekitar dalam cerita adalah orang Jawa
Dalam cerita ada unsur jepang. Karena dalam buku masyarakat juga ada yang berasa jepang dan memperlihatkan perilaku jepang
Latar belakang penulis Penulis mungkin berasal dari Jawa, karena Bahasa dan daerah yang disebutkan
Nilai yang terkandung Nilai sosial ada yaitu nilai dimanah budaya dan ekonomi dilihatkan juga, antara Pingkan yang tercukupan dan kasui yang kurang

Menurut saya cerita ini sangatlah bagus dalam segi cerita dan sesi romantisme. Akan tetapi cerita cinta di dalam buku ini kurang memakaua dunia asli, karena cerita cinta di dalam cerita bersifat tidak realis dan kurang bagus., Maksud saya adalah Makanya hal cinta dalam buku sangatlah kurang, mungkin saya akan berikan 5 antar 10.
1 review1 follower
November 18, 2018
Yang Fana Adalah Waktu merupakan novel karangan penulis ternama Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Beliau lahir pada 20 Maret 1940 di Surakarta, Jawa Tengah dan lebih dikenal sebagai pujangga terkemuka berkebangsaan Indonesia. Maka dari itu, isi novel ini pun memiliki banyak unsur ataupun pengaruh dari budaya Jawa. Namun tetap dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat umum. Tidak luput dari cara penulisannya, beliau telah menulis banyak karya sastra yang terkemuka di kalangan pujangga ataupun masyarakat umum. Telah menjadi suatu surplus bagi beliau yang sering kali membawa amanat yang terkesan sederhana, namun memiliki segudang hikmah akan kehidupan sehari-hari. Terlepas dari hikmah isi cerita, Sapardi Djoko Damono mengisi cerita ini seakan-akan pernah melewati perjalanan suatu hubungan asmara, yakni long distance relationship serta cinta segitiga. Sehingga beliau dapat menumbuhkan rasa yang nyata dalam buku ini.

Novel ini merupakan seri ketiga dari trilogi novel Hujan Bulan Juni yang menceritakan mengenai perjalanan hubungan asmara antara kedua tokoh utama trilogi tersebut, yakni Sarwono dan Pingkan.

Cerita dari novel Yang Fana Adalah Waktu berlanjut dari novel sebelumnya, Pingkan Melipat Jarak. Seperti kisah Sarwono dan Pingkan pada edisi sebelumnya, kisah hubungan asmara antara kedua orang tersebut masih menggantung dan tersisa jarak antara keduanya, yakni Kyoto dan Solo. Walau terpisah oleh jarak, mereka terus-menerus bertukar surel. Sarwono yang sedang menjalani masa penyembuhannya, dan Pingkan yang sedang melanjutkan studinya di Jepang. Masuknya Katsuo dalam kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan terus teruji. Cinta antara Sarwono dan Pingkan dipermasalahkan bukan dengan kehadirannya Katsuo, melainkan dengan adanya jarak dan waktu.

Hubungan Katsuo dengan Pingkan pun semakin tersisih akibat Katsuo yang mengajak Pingkan untuk pergi ke Okinawa, kampung halaman Katsuo. Ia ingin Pingkan menemui gadis yatim piatu yang ingin dijodohkan oleh ibunya, yaitu Noriko. Namun Katsuo sendiri tidak percaya ada hubungan cinta antaranya dan Noriko. Lalu secara tidak terduga, pertemuan antara Noriko dan Pingkan akan membawa arah yang baru terhadap kehidupan Katsuo. Sementara itu, hubungan Sarwono dan Pingkan semakin diperjelas dengan adanya tokoh-tokoh di sekitar mereka.

Walau terkesan sulit untuk dapat membaca novel Yang Fana Adalah Waktu tanpa membaca kedua novel sebelum novel ini, saya rasa cukup mudah untuk dapat mengerti unsur-unsur utama dalam cerita ini yang akan tersaji dalam novel edisi ketiga dari trilogi Hujan Bulan Juni ini. Novel ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, suka dan duka. Tentu dengan mengetahui profil penulis yang tidak perlu diragukan kualitasnya, memiliki segudang keunggulan.

Satu hal yang mengikat perhatian saya pada sampul depan buku adalah judulnya. Sebagai orang awam, tentu kita akan terheran dengan munculnya kata “fana”. Bila diperdalam dengan membaca puisi Yang Fana Adalah Waktu, saya rasa bahwa novel ini akan menceritakan mengenai waktu. Suatu hal yang patut dihargai keberadaannya mengetahui bahwa hidup itu semata-mata hanya sementara. Namun setelah membacanya, cerita ini memiliki alur yang relatif rata, tanpa adanya konflik antar karakter yang besar atau utama, namun tidak membosankan untuk terus dibaca oleh orang awam sekalipun.

Dengan mudah saya temui di awal cerita penggunaan kata-kata yang tergolong berat untuk digunakan pada kehidupan sehari-hari. Walau saya mengerti tujuan penulis untuk menghadirkan suasana yang berbeda dan lebih menyentuh, namun terkadang sulit untuk dapat kita artikan dan koneksikan pada kehidupan kita sehari-hari. Sehingga kita merasa bahwa cerita dalam buku ini kesannya sulit untuk dimengerti. Namun pada kenyataannya, setelah melewati fase tersebut, dapat dengan mudah kita menjalani dan mengerti alur cerita yang mulai terbentuknya dengan berbalasan surat antara Sarwono dan Pingkan. Pada dasarnya penggunaan kata-kata yang berat pada awal cerita adalah untuk membawa suasana yang lebih memikat hati saya akan hubungan Sarwono dan Pingkan, serta menekankan atau menggarisbawahi hal-hal yang sedang dipikirkan di benak tokoh-tokoh dalam cerita ini. Namun selepas membaca di babak awal cerita, bahasa yang digunakan dalam alur cerita selanjutnya mulai mudah untuk dipahami.

Saya merasa bahwa buku ini patut saya acungkan jempol untuk bagaimana penulis menceritakan ataupun membawa cerita beserta alurnya secara tertulis. Dengan maksud bahwa para pembaca dapat mengerti walau terkadang sedikit sulit untuk mendalami. Untuk saya yang terkadang sulit untuk memiliki motivasi membaca, novel ini telah menarik perhatian saya sebab pemilihan kata oleh penulis di babak awal cerita. Saya merasa sedang membaca karya seorang filsuf sastra, dengan pemilihan kata yang begitu menyentuh hati. Namun pemilihan kata ini hanya berlangsung di awal-awal buku saja, sehingga jika pembaca yang tidak mengerti di awal, dapat memahami alur cerita yang sudah berlangsung.

Selain itu, alur cerita yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono terasa tidak stagnan. Alur yang kerap kali berubah-ubah selama cerita berlangsung begitu menarik. Alur yang terus berjalan membuat saya merasa bahwa novel ini layak untuk dibaca, walau pada awal-awal saya ragu. Sebagai masyarakat umum, baik yang cinta membaca atau tidak, sama-sama dapat menikmati jalannya kisah cinta Sarwono dan Pingkan ini. Namun memang kerap kali kita dapat temui bagian di mana ada kekurangan unsur tanda baca dapat membuat pembaca sulit untuk mengatur nafas, serta mengerti apa yang sebetulnya ingin dimaksud oleh penulis. Walau menjadi suatu kekurangan, namun hal tersebut tidak dapat memungkiri enaknya alur cerita serta tingkat kemudahan bacanya.

Terkadang bagi sebagian orang, cerita yang berbicara mengenai cinta sudah serasa bosan dan klise. Itulah yang terjadi dalam kisah yang satu ini. Kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan yang terasa basi dan kadaluwarsa begitu menyeluruh. Serasa cerita yang sudah menjadi sebuah stereotip buku-buku zaman ini. Walau demikian, Sapardi Djoko Damono telah menjalankan tugasnya dengan baik. Bahwasanya walau klise, beliau telah mencampur-aduk unsur kebudayaan lokal yang menjadi suatu persoalan antar kisah cinta Sarwono dan Pingkan. Unsur budaya lokal tersebut berhasil diimplementasikan oleh penulis sehingga memiliki karakter dan masalah tersendiri yang tidak dapat dijumpai dalam kisah cinta lainnya.

Tidak lepas dari unsur budaya lokal, budaya asing pun berhasil diimplementasikan di buku ini. Tak terkecuali karena latar cerita yang berada di Jepang. Dengan demikian masuknya budaya asing di cerita ini. Budaya asing tersebut digunakan oleh penulis untuk menegaskan isi cerita, agar para pembaca dapat memahaminya. Selain itu, banyaknya metafora yang terkandung membuat suasana cerita lebih menarik dan bersinggung pada pembacanya. Maka dari itu amanat serta hikmah yang diberikan oleh penulis untuk pembacanya begitu dalam. Seperti kekekalan cinta, yang fana adalah waktu, hingga belas kasih orang tua merupakan sedikit amanat yang diberikan dalam cerita kali ini.

Secara keseluruhan, Sapardi Djoko Damono telah berhasil membawa amanat yang begitu mendalam bagi hampir semua orang yang membacanya. Sebab beliau membawa cerita ini sedemikian rupa begitu asli dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sehingga pembacanya terkadang dapat dengan mudah memahami isi cerita dan dapat menghayati apa yang sedang terjadi pada tokoh utamanya. Sejatinya buku ini begitu cocok untuk dibaca oleh orang-orang yang sedang dalam hubungan asmara dengan sang kekasih. Orang-orang yang sedang menjalankan hubungan jarak jauh, ragu-ragu akan kisah cintanya, cinta beda suku atau budaya, hingga berada dalam cinta segitiga. Sebab orang-orang yang sedang mengalami hal tersebut, dapat menyesuaikan dan menghubungkan dirinya dengan tokoh-tokoh utama dalam buku Yang Fana Adalah Waktu. Selain itu, dapat saya sarankan buku ini kepada kalangan remaja yang dapat memetik banyak ilmu dan menghubungnya dengan kehidupan mereka, termasuk kehidupan cinta mereka. Tidak hanya mengenai kisah asmara, namun bagi masyarakat yang gemar akan puisi pun memiliki bagian dalam buku ini. Begitu demikian karena banyaknya sisipan majas atau kata kiasan yang terkandung, tak heran sebab Sapardi Djoko Damono yang terkenal akan karya sastranya. Selepas dari semua hal, buku ini dapat dihayati oleh semua kalangan, dari remaja hingga dewasa, terutama yang gemar membaca novel kisah asmara dan karya sastra lainnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 137 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.