What do you think?
Rate this book


152 pages, Paperback
First published March 26, 2018
Novel Yang Fana adalah Waktu merupakan salah satu karya seorang sastrawan Indonesia, yaitu Prof. Dr. Sapardi Djoko Darmono. Sapardi, atau yang kerap dikenal dengan SDD, lahir pada 20 Maret 1940 dan tumbuh besar di Surakarta. Ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada. Pada masa itu, Sapardi sudah mulai mengirimkan hasil karya-karyanya seperti puisi, sajak, drama, cerpen, dan novel ke berbagai media. Dengan karirnya yang berkembang, Sapardi menjadi dosen di Universitas Indonesia, dan bahkan sempat menjadi salah satu Guru Besar UI. Sampai sekarang pun, ia masih menerbitkan buku-bukunya, mengajar, dan juga menjadi pembimbing tesis di beberapa universitas lainnya seperti IKJ, Undip, dan ISI Surakarta.
Salah satu karya dari Sapardi merupakan trilogi Hujan Bulan Juni. Buku pertama dari trilogi tersebut, Hujan Bulan Juni, telah diadaptasi menjadi sebuah film yang disutradarai oleh Hestu Saputra. Dilanjut dengan buku keduanya, Pingkan Melipat Jarak, dan buku penutup dari trilogi Hujan Bulan Juni, yaitu Yang Fana adalah Waktu. Buku penutup ini dirilis pada 16 Maret 2018 disertai dengan buku puisi karya Sapardi yang berjudul Sajak-sajak untuk Pingkan.
Yang Fana adalah Waktu menceritakan tentang kelanjutan dari kisah cinta Sarwono dan Pingkan setelah Pingkan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studinya, didampingi oleh Katsuo. Sejak itu, Sarwono jatuh sakit dengan alasan rindu karena ditinggal Pingkan. Walaupun begitu, mereka rajin untuk mengabari satu sama lain melalui surel ataupun Skype. Hingga pada suatu waktu, Katsuo datang ke dorm Pingkan di Kyoto dan bercerita akan situasinya mengenai perjodohan yang ibunya rancang agar Noriko dan Katsuo menikah. Noriko merupakan anak yatim piatu yang telah Ibu Katsuo urus sejak Noriko ditinggal oleh kedua orang tuanya. Tujuan kedatangan Katsuo adalah untuk meminta Pingkan pergi bersamanya ke kampung halamannya di Okinawa untuk meyakinkan Noriko, yang pada awalnya curiga akan hubungan Pingkan dan Katsuo, agar dapat diyakinkan bahwa tidak ada hubungan antara Katsuo dan Pingkan melainkan teman.
Walaupun begitu, Katsuo menerima perjodohan ini karena semata-mata ini sebuah amanah dari ibunya yang harus ia turuti, namun hatinya masih jatuh kepada Pingkan. Di samping itu, Pingkan bimbang untuk menuruti ajakan Katsuo atau tidak, karena ia juga memikirkan perasaan Sarwono jika ia membuat keputusan tanpa persetujuan Sarwono. Pada saat yang sama, setelah Sarwono mengambil penghargaan atas penilitiannya di Jakarta, Sarwono mendapat tawaran untuk menyampaikan penelitiannya di Tokyo, Jepang. Sarwono ditemani Dewi, asisten penelitiannya, pergi ke Jepang. Mereka disambut oleh Pingkan dan Katsuo. Dewi, yang mengetahui berita bahwa Katsuo akan menikah, bersikeras ingin bertemu Noriko di Okinawa. Maka dari itu, setelah Sarwono menyampaikan penelitiannya, mereka pergi ke rumah Katsuo di Okinawa. Sebagian besar waktu dihabiskan oleh Dewi yang menanyakan segala hal kepada Noriko, termasuk tentang masa lalunya, yang merupakan topik sensitif bagi Noriko. Namun, Noriko tetap menjawabnya dengan tenang, karena yang ia tahu pertanyaan dari Dewi hanyalah sebatas penelitian saja.
Setelah menemui Noriko di rumah Katsuo, Pingkan mengajak Sarwono untuk pergi ke sebuah restoran dan sebuah danau bernama Danau Biwa di Okinawa, Pingkan berkata bahwa ia ingin menghapus kenangannya akan Katsuo setiap kali ia pergi ke dua tempat tersebut yang merupakan tempat Katsuo dan Pingkan pernah menghabiskan waktu bersama. Tak berapa lama, Sarwono dan Dewi kembali ke Indonesia. Sementara itu, sejak pertemuannya dengan Pingkan di Okinawa, Noriko pergi menemui Pingkan di Kyoto tanpa sepengetahuan siapapun. Pada saat itu, Noriko baru sadar akan perasaannya yang sebenarnya tidak tertuju kepada Katsuo. Noriko hanya mengikuti alur yang dirancang oleh ibunya Katsuo. Noriko pun meminta untuk tinggal di dorm Pingkan untuk sementara, dan berharap untuk pergi ke Solo, tempat Pingkan tumbuh besar. Tidak lama pun harapannya terwujud untuk pergi ke Solo, disertai dengan tawaran Pingkan untuk menginap di rumah ibunya. Di saat yang sama, Sarwono mendapat tawaran untuk melanjutkan studi sambil mengajari di Kyodai, Jepang. Di akhir cerita, setelah Pingkan mengantarkan Noriko ke Indonesia, Pingkan kembali ke Jepang bersama Sarwono dengan membuka halaman selanjutnya akan kisah mereka.
Pada novel ini, Sapardi berhasil menggambarkan kelanjutan kisah Sarwono dan Pingkan yang sedang melalui hubungan jarak jauh. Novel ini memaparkan mengenai aspek akan menghargai perasaan orang lain yang mana dapat ditemui ketika Pingkan meminta izin kepada Sarwono terlebih dahulu untuk pergi ke Okinawa, juga pada saat Dewi menanyakan masa lalunya Noriko tanpa mengetahui bahwa hal tersebut merupakan topik sensitif. Selain itu, novel ini memaparkan tentang kejujuran hati, yang mana dapat ditemui ketika Noriko sadar bahwa ia tidak memiliki perasaan kepada Katsuo, begitupun dengan Katsuo yang menerima perjodohan dari ibunya sendiri walaupun perasaan Katsuo hanya tertuju kepada Pingkan. Konflik ini dibawa oleh Sapardi dengan menarik mengenai pertanyaan yang sering orang-orang bicarakan, yaitu “Apakah cinta harus memiliki?”. Pertanyaan ini bisa ditemui dalam masalah yang dihadapi oleh Katsuo. Katsuo yang sedang berada di situasi perjodohannya dengan Noriko, hanya memiliki cinta untuk Pingkan, namun kenyataan pahit menerjangnya bahwa Pingkan adalah milik orang lain, Sarwono.
Yang Fana adalah Waktu juga memberikan nilai moral dan nilai budaya ketika memunculkan peranan orang tua dari Pingkan dan juga Sarwono yang berasal dari suku yang berbeda, namun mereka tetap saling menghargai satu sama lain. Unsur budaya ini mungkin didapat oleh Sapardi, sang penulis, yang berlatar belakang suku Jawa yang lumayan kental. Selain itu, novel ini tidak hanya menyampaikan kisah cinta atau hubungan baik antara satu dengan yang lain, namun juga nilai pendidikan yang dibawa oleh Pingkan dan Sarwono, tentang bagaimana Pingkan melanjutkan studi di Jepang dan Sarwono yang mendapatkan penghargaan dan juga tawaran untuk menyampaikan penelitiannya di Jepang.
Keunggulan lainnya dari novel ini adalah bagaimana Sapardi menggunakan diksi dan struktur kalimatnya yang tepat sehingga dapat memperindah gaya penulisannya. Sapardi juga seringkali menggunakan perumpamaan dalam menyatukan unsur puisinya terhadap cerita yang ia tulis. Maka, hal inilah yang menjadi salah satu faktor novel ini bersifat naratif puitis, yang berbeda dengan novel-novel lainnya.
Di samping itu, terdapat beberapa kelemahan dari novel ini yang membuat saya kurang puas ketika mengakhiri novel ini. kehidupan Pingkan dan Sarwono pada dasarnya sangat sederhana, namun terkesan dipanjang-panjangkan sehingga untuk beberapa pembaca, buku ini dapat menjadi membosankan. Novel ini juga tidak memberikan tanda baca ketika terdapat dialog, melainkan menyatukannya dengan cerita sehingga terlihat padat dan dapat membingungkan untuk beberapa pembaca, walaupun mungkin hal ini sebuah kesengajaan yang dilakukan Sapardi untuk menyatukan karakter puitisnya terhadap ceritanya.
Secara keseluruhan, saya sangat menyukai bagaimana novel ini dieksekusi, walau saya sedikit sayangkan akan akhir dari cerita ini yang berakhir namun tidak berakhir, begitupun berawal namun tidak berawal. Entah disengaja atau tidak, atau bahkan untuk kebaikan dari akhir cerita dari Yang Fana adalah Waktu, hal ini dikarenakan dengan tidak adanya kabar Katsuo di akhir cerita yang tidak dijelaskan akan keberadaaanya, padahal Pingkan dan Sarwono, juga Noriko telah mendapatkan arah kehidupan mereka berikutnya. Setelah saya baca novel ini secara menyeluruh dan teliti, juga melalui diskusi dengan teman-teman saya, saya dapat simpulkan bahwa novel ini menggantung. Di samping itu, saya menyukai bagaimana Sapardi membentuk karakter Pingkan yang tulus, jujur, dan tegas di dalam cerita. Pingkan yang dapat menarik perhatian Sarwono, Katsuo, bahkan Noriko dan telah memberikan pengaruh kepada mereka untuk menjadi lebih baik. Saya juga suka bagaimana Sapardi menyampaikan ceritanya dan menyelingi budaya antara Jawa dan Manado, Jepang dan Indonesia, juga bagaimana setiap karakter dari latar belakang yang berbeda dapat melengkapi satu sama lain. Buku ini dapat dibaca oleh pembaca dari usia remaja hingga dewasa. Namun, untuk beberapa pembaca memang harus beradaptasi dengan novel yang bersifat naratif puitis seperti novel ini.