Dengan mengikuti petualangan si Doel, anak Betawi yang diburu intel Yahudi lantaran mendapatkan dokumen top secret agen rahasia Israel dan romantika percintaannya dengan gadis Belanda, kita bukan disajikan kisah picisan, namun sebuah epik berlatar sosial-politik tanah air dan perkaitannya dengan perkembangan internasional sejak 1948-1978.
Ramuan pengetahuan historis serta gaya narasi sastra yang khas dan kaya humor akhirnya membuat novel Ridwan Saidi ini bukan saja mampu menghadirkan dunia Betawi dengan segala kekhasannyadan nafas Islam yang kental dalam tradisinya. Lebih jauh lagi adalah perkaitannya dengan Indonesia dan pada akhirnya dunia internasional, wabil khusus dalam konteks persaudaraan dan perjuangan Islam sedunia.
Ripiunya menyusul, setelah membaca buku yang hampir setebal 300 halaman, tapi berakhir dengan kesal!!! Huuhhh! ---------------------------------------------- Pertama Cerita dalam buku ini dibagi menjadi tiga bagian.
Kedua Saya memang memberi satu bintang, hanya untuk menandakan kalau saya menjadi tidak suka dengan buku ini. Wah, sentimen pribadi nih :D
Ketiga Saya harus mengakui kalau pada awalnya, saya sebenarnya suka dengan cerita di bagian satu dan bagian dua. Kenapa? Saya bisa belajar sedikit tentang budaya Betawi. Lalu, saya juga menemukan banyak istilah Betawi. Misalnya, saya jadi tahu darimana istilah "ajojing" itu muncul. Ada juga cerita tentang legenda si Pitung, Nyai Dasimah, dan Mariam, si Manis Jembatan Ancol.
Keempat Membaca buku cukup membuat saya tersenyum, walau tidak selebar ketika saya membaca Da Peci Code-nya Ben sohib. Tapi setidaknya, bisa bernostalgia dengan celetukan lucu Mandra di sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Makanya, saya sempat merasa harus memberikan minimal 3 bintang untuk buku. Tapi...
Kelima Saya memutuskan untuk tidak menyukai buku ini, karena di bagian ketiga dari ceritanya, saya merasakan semakin besarnya tendensi si penulis mengajak pembaca buku ini untuk membenci golongan/etnis tertentu. Sebenarnya, di bagian pertama dan kedua saya sudah ada sedikit-sedikit, tapi bisa saya maklumi. Okelah, golongan atau etnis tertentu itu mungkin telah atau memang pernah atau sering berbuat keji. Tapi, buat saya cukuplah diinformasikan dengan cara yang biasa saja. Saya pernah membaca Nazi dan kekejamannya dalam beberapa buku, tapi saya tidak pernah diajak oleh buku-buku yang saya baca itu untuk membenci Nazi. Buku-buku itu hanya menginformasikan fakta sejarah dan soal membenci atau tidak, itu jelas urusan saya pribadi.
Tapi buku ini bukan soal Nazi kok. Soal apa? Kalau berminat, baca sendirilah ya. Mungkin karena saya sendiri tidak suka diprovokasi dan juga tidak mempan diprovokasi, tapi kok rasanya kesal ya kalau ada yang mencoba memprovokasi, lewat buku pula. Perlu saya tegaskan, saya hanya menuliskan kekesalan hati saya setelah membaca buku ini.
Engga bangget dehhhh!!! Jadi, tunjuk satu bintang karena pada akhirnya I didn’t like it.
Berhasil melewati buku 300halaman lebih, 3 chapters yg berasa kaya lagi maraton 3 season si “Anak Betawi Diburu Intel Yahudi”. Pembaca juga berkenalan dg berbagai budaya di betawi di era zaman setelah merdeka hingga zaman orde baru. Nuansa belanda nya juga masih dapet, dan ga ketinggalan juga nuansa per-politikan Palestina dan Yahudi banyak di masukkan disini. Bahasa lembayung yg nyastra banget, somehow agak kurang cocok di aku, kek apaaan sihh? Intinya aja deh. Tp malah dibawa muter muter muter, jadinya malah bosen. 🥱
Buku yang dibagi dalam tiga bab. Bab pertama bercerita tentang Mat Sani jagoan Betawi di masa-masa awal kemerdekaan. Nuansa sejarahnya aku rasa keren banget di bab ini, udah berharap (salah sendiri) buku ini akan berakhir bagus. Masuk bab kedua tentang masa kecil si Doel. Yah yang ini lebih ke kehidupan dan adat istiadat orang Betawi, masih seru-seru aja dibaca (walau aku tidak suka Doel!!). Masuk bab ketiga malah makin melempem semangat bacanya dan langsung mempraktekkan ajian skimming ala cak Nanto.
Kalo meminjam istilahnya Palsay nih, buku ini adalah buku yang harus dimaklumi. Judul yang provokatif tapi isinya kebanting, terutama bab terakhir yang terkesan begitu dipaksakan. Menyuarakan kebencian terhadap bangsa tertentu bagiku sangat tidak etis, lah wong FIFA saja mendengung-dengungkan no racism kok!
Btw yang punya ato baca buku ini datanglah ke Kopdar GRI Jakarta tanggal 12 Juli yah karena ini salah satu buku yang aku akan swap :D
Sebagai anak betawi tulen i really love this book. Nuansa budaya dan bahasa betawi yang kentel jadi bertambah bangga dilahirkan dari kedua orang tua asli Jakarta. Penggambaran suasana politik pasca kemerdekaan uga dijelaskan secara gamblang di novel ini.