Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya

Rate this book
“Bagaimana jika tirai ini aku buka dan ternyata sudah pagi? Bagaimana jika pendekar yang kamu ceritakan itu ternyata sudah selesai bertarung dan alun-alun kota sudah sepi? Bagaimana jika sepanjang kita ada di sini, ternyata di luar sana kota ini telah bangkit dari reruntuhan dan kita tidak mengenalinya lagi?”

Maka kita akan terus hidup. Tidak ada jalan yang lain.

---

Dari kisah seorang ayah yang jauh dari keluarganya, seorang aktris perempuan yang terlupakan, hingga pendekar-pendekar yang menyerbu bulan – Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya adalah kumpulan cerpen dari sepasang kekasih yang dikisahkan sebelum mereka harus berpisah.

212 pages, Paperback

First published February 1, 2018

16 people are currently reading
220 people want to read

About the author

Raka Ibrahim

2 books16 followers
Raka Ibrahim adalah penulis, penerjemah, dan jurnalis yang tinggal dan bekerja di Jakarta.

Tulisannya mengenai musik, seni rupa, gender, dan politik telah diterbitkan oleh beberapa jurnal dan media independen seperti Jakarta Beat, OK Video, Indoprogress, Pamflet, dan Subjectivities. Pada 2013, ia turut mendirikan media independen yang mengulas musik dan seni budaya, Disorder Zine.

Naskah panjangnya tentang sejarah musik independen Jakarta dimuat dalam "#narasi: Antologi Prosa Jurnalisme" (Pindai, 2016) bersama naskah lain oleh Andreas Harsono, Yusi Avianto Pareanom, dan lainnya.

Buku fiksi pertamanya, "Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya", diterbitkan oleh Comma Books pada 2018.

Saat ini, ia menulis untuk Jurnal Ruang.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
68 (31%)
4 stars
99 (45%)
3 stars
37 (17%)
2 stars
11 (5%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 50 reviews
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
December 3, 2019
Raka Ibrahim
Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya
Kepustakaan Populer Gramedia
212 halaman
8.4 (Best New Book)

Dalam Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya Raka Ibrahim membuktikan bahwa ia bukan hanya sekadar pengulas musik yang ugal-ugalan dan penulis opini yang tajam, melainkan juga seorang pendongeng yang ulung.

Lewat buku fiksi debutnya, Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya, Raka Ibrahim kini tak lagi hanya akan dikenal sebagai seorang pengulas musik yang “ugal-ugalan” dan penulis opini yang tajam dan mendetail, tetapi juga seorang pendongeng yang ulung. Seharusnya saya tak perlu terkejut, terutama ketika saya membaca ulasan serta tilikan Raka, baik melalui blog pribadinya maupun melalui jejak-jejak daring yang dia tinggalkan.

Tulisannya bertabur detail-detail, permainan kata, serta kalimat yang menggebu-gebu. Jika saya memiliki kemampuan sinestesia, tulisan Raka akan terdengar seperti meriam yang meletup. Dalam Cahaya, Raka Ibrahim masih belum meninggalkan ciri khasnya dalam menulis ulasan atau opininya, mengandalkan kata-kata garib yang masih mampu menimbulkan emosi bagi saya.

Rasanya sukar untuk mengulas Cahaya, apalagi dari awal sulit untuk mengelompokkan buku ini ke dalam sebuah kumpulan cerpen atau sebuah novel, seakan-akan Raka ingin mendobrak pakem dan patokan yang mengungkungnya. Cahaya bisa disebut kumpulan cerita yang mengisahkan seorang ayah yang jauh dari keluarganya, seorang aktris perempuan yang terlupakan, pendekar-pendekar dari bulan, penceritaan ulang sebuah jurnal ilmiah--seperti yang berusaha dirangkum oleh blurb di belakang buku ini.

Namun, sepertinya blurb tersebut belum mampu menjustifikasi isi, karena ada satu benang tak kasatmata yang menjalin cerita-ceritanya. Itulah alasan mengapa Cahaya bisa pula disebut sebagai novel karena kisah-kisah yang saling terhubung itu membentuk satu cerita utuh. Namun, ke mana pun buku ini dikelompokkan, Raka berusaha mengunjukkan kemampuannya dalam menulis kisah fiksi dan meskipun dia mengaku bahwa menulis fiksi bukanlah kepiawaiannya, Cahaya membuktikan sebaliknya.

Buku ini diawali dengan deskripsi samar sepasang kekasih di sebuah kamar hotel. Sementara di luar kamar mereka sebuah peperangan absurd antara tiga orang pendekar sedang berlangsung, sang narator sekaligus sang pendongeng ini mulai bercerita kepada kekasihnya tentang kisah-kisah yang tak kalah absurdnya.

Dalam kisah pertama, Anasir, yang menceritakan seorang ayah yang tinggal jauh dari keluarganya, Raka menggambarkan kehidupan urban yang terkesan real dalam deskripsi kota Terang Bulan—sebuah versi alternatif dari kota Surabaya. Latar semacam ini mengingatkan saya akan karya fiksi spekulatif Vice dalam Pekan Fiksi Indonesia 2038, tetapi Anasir lebih terfokus pada karakter Pak Tua—alih-alih latar kota Terang Bulan—yang telah kehilangan istrinya dan anak-anak yang tak lagi akrab dengannya dan hanya berkawan dengan seorang tukang becak bernama Heru.

Anasir bernuansa sendu dan sepi, terlihat jelas dari gambaran Pak Tua yang sibuk bernostalgia dengan masa lalu yang menyenangkan. Namun, dia tak sadar bahwa kondisi kota di sekelilingnya menua: gambaran Taman Remaja yang melengang mengingatkan saya akan Taman Sriwedari di Solo yang tahun lalu akhirnya tutup.

Akhir cerita ini, menurut kebanyakan orang, mungkin termasuk akhir yang tak bahagia, tetapi Raka menolak gagasan tersebut dan menekankan bahwa akhir yang bahagia sendiri bergantung pada perspektif kita sendiri. “Saudara memang mengaku tak pernah stres, tapi apakah Saudara pernah bahagia?” barangkali merupakan pertanyaan yang diutarakan oleh dokter Pak Tua. Namun, pertanyaan itu juga menyentil kita dan masih begitu relevan bagi kehidupan masyarakat modern.

Anasir bukan satu-satunya kisah berlatar urban yang ada di dalam buku ini. Nyatanya, latar cerita dalam buku ini hanya bisa dibedakan menjadi dua tempat: urban dan negeri antah berantah. Contoh kisah urban yang lain bisa kita baca dalam Gambar Bergerak, sebuah tafsiran Raka terhadap Eternal Sunshine of the Spotless Mind karya Charlie Kaufman.

Gambar Bergerak mendeskripsikan sebuah film tentang sepasang pria dan wanita yang baru menjalani terapi penghapusan memori untuk melupakan masa lalu dan kenangan mereka yang pahit. Mereka sedang dalam perjalanan kereta menuju ibu kota untuk mendaftar nama baru mereka, sementara mereka mengobrol sepanjang perjalanan untuk menemukan nama baru mereka yang tepat.

Ketika sang pria mengingat kelebatan kenangan masa kecilnya di kereta, dia tahu bahwa ada residu memori yang tertinggal. “Kita tidak bisa benar-benar sembuh, ya?” katanya. Perjalanan pun berakhir dan tatkala mereka hendak tiba di Balai Kota untuk mendaftar nama mereka yang baru, sang wanita pun membisikkan sesuatu kepada sang pria dan film pun berakhir.

Berbeda dengan Anasir, Gambar Bergerak cenderung manis meskipun tetap terasa getir. Pasalnya, film kecil ini sempat terlupakan oleh masyarakat dan para pemeran utamanya terpaksa menghadapi dunia nyata yang kejam. Namun, akhir dari cerita ini, tentang apa yang dibisikkan oleh sang wanita, membuat saya mencelus. Raka seorang penulis yang keji pula; dia membiarkan saya digantung.

Raka jelas terkesan lebih terampil ketika menafsirkan ulang sebuah dongeng karena dia cenderung asyik sendiri dan terjebak dalam kata-kata yang dia tulis ketika berusaha menuliskan kisahnya sendiri. Hal ini menjadikan beberapa bagian dalam buku ini membingungkan dan membuat saya kesulitan untuk menangkap apa yang berusaha Raka sampaikan.

Lain halnya saat Raka menuliskan ulang legenda Raja Sunyata dan Khashkhash dari Kordoba yang menembus Samudra Kabut (Atlantik) dan menemukan Benua Amerika dalam cerita Samudra Kabut. Dalam cerita ini Raka seperti sedang bermain dalam taman bermainnya sendiri, dengan gaya bercerita yang sangat memikat, terlihat nyaman dalam menggambarkan ulang kisah penemuan Benua Amerika yang liar dan keji ini.

Kata-katanya mengalir lancar, seakan-akan Raka sedang menyanyikan ode bagi dongeng-dongeng masa lampau. Samudra Kabut terlihat seperti sebuah wiracarita yang terasa tidak berhubungan dengan cerita modern lainnya, tetapi kisah ini berhubungan erat dengan kehidupan modern. Ini mengingatkan saya akan cerita pendek karya Ted Chiang, The Truth of Fact, the Truth of Feeling, meskipun perbandingan ini agak sedikit terlalu jauh, tetapi atmosfer yang Raka berusaha ciptakan terasa mirip.

Kisah-kisah lain dalam Cahaya sesungguhnya memiliki nuansa yang sama. Semuanya terkesan muram, sepi, dan menyedihkan. Jika Cahaya diibaratkan sebagai sebuah album musik, title track dari buku ini diletakkan di bagian akhir, merangkum seluruh perasaan yang ditimbulkan ketika saya membaca buku ini.

Dalam Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya, Raka menggambarkan sebuah hubungan yang kandas, perpisahan yang tragis, dan asa yang semu. Meski demikian, ada secercah harapan yang tersimpan dalam buku ini. Cahaya mungkin bukan sebuah buku religius, tetapi lewat bukunya Raka—yang dibesarkan dalam keluarga yang multiagama—mengingatkan kita semua bahwa janji Tuhan adalah pasti dan tidak pernah kedaluwarsa.

Buku ini adalah debut solid dan forte dari seorang Raka Ibrahim, sebuah kumpulan cerita yang kohesif, diikat oleh permainan kata-kata Raka yang cermat dan gradasi warna kelabu yang sama meskipun beberapa bagian masih bisa dipoles. Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya adalah sebuah Best New Music.

Baca ulasan lengkapnya di Jurnal Ruang.
Profile Image for Ursula.
302 reviews19 followers
March 31, 2018
Well, so many people give this book good rating but I don't expect much from it. First, it is about romance (though the couple is about to separate) that I do not usually enjoy. Second, I rarely enjoy contemporary Indonesian writer except for Rain Chudori and Eka Kurniawan (his last book is also a disappointment). But look at me now, deeply in love with everything about Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya.

To put it short, it is a novel built from short stories –kinda like The Arabian Nights. But instead of saving his life like ‎Scheherazade, our storyteller is trying to save his relationship because his girl (unnamed) probably wants to die. So they go to an unknown place, stay in an unknown hotel, and he starts telling her stories. About their first meeting, his family, her family, their relationship, and their possible ending. Nothing is certain here because, well, they are just stories. The girl might decide to stay and marry the man, or maybe they will really split.

Anyway the plot doesn't matter because what do you expect from a love story anyway? Either the couple lives happily ever after together, or they break up; the end. Some might take a different route by creating hook ending but that sucks, too cliché and Murakamiesque. Honestly, I hate how Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya ends but then again, never expect too much from a love story.

I will talk about Raka Ibrahim's powerful writing style. This book makes me feel like reading the Old Testament. Magically flowing and whimsical words that create a dreamy universe where everything is possible. Like three magic users fight one another but none of them will ever win; or people that take a train journey with their biggest regret as the last stop. Or some dysfunctional families that the characters have.

These stories are beautifully crafted and really make me sad. Quotes like: "Aku menyadari kesalahanku–bahwa aku tidak bisa menyayangimu lebih dari kebencianmu pada dirimu sendiri." which is crazy and will make Dilan throws himself off the cliff. It's romantic, not cheesy.

This book is good. Buy it. Read it. Drown yourself in the bittersweet world of Raka Ibrahim.
Profile Image for Hanif.
110 reviews71 followers
July 10, 2018
Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya membuat saya merasa ditemani seorang pacar yang romantis dan pandai bercerita. Jujur saja, kesendirian seperti sirna. Kalau buku ini benar-benar bisa dijadikan pacar, saya betul-betul akan menembaknya. Raka Ibrahim memiliki trik bercerita untuk mengemas kumpulan cerpennya agar terasa seperti novel.

Cerita tentang masa tua yang tidak bergairah dan kelabu pada "Anasir" dan "Belajar menanam Bapak" berhasil membuat saya sesenggukan. Muncul ketakutan akan tumbuh dewasa setelah membaca cerita tersebut. Rasanya ketika tua nanti semakin sering suatu memori untuk dikenang, semakin pudar pula perasaan nostalgia yang dibawanya. Menurut saya itu menakutkan.

Kesedihan dan romantisme yang disampaikan dalam buku ini cocok dengan ilustrasi sampulnya. Sepasang kekasih yang sedang mengobrol dengan warna yang agak kelabu dan lembut.

Ada beberapa bagian di mana Raka terlihat seperti meracau dalam bercerita sehingga saya agak sulit mencernanya. Seperti dalam "Samudra Kabut" dan "Pendekar dari Bulan." Sedikit kekurangan yang ada tidak membuat Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya tidak termasuk dalam karya debut yang luar biasa. 😊

"Kau bilang, kau tidak ingin menggantungkan harapanmu pada orang lain, karena itu tidak adil bagimu dan bagi orang tersebut. Sebab, tidak ada manusia yang layak menjadi sandaran bagi siapa pun kecuali pada dirinya sendiri."
Profile Image for melmarian.
400 reviews134 followers
June 24, 2018
Absurd, tragis dan sekaligus magis. Membaca kumcer ini terasa seperti membaca dongeng yang dileburkan dengan seenaknya saja dengan kehidupan urban oleh penulis. Jujur saja ada beberapa bagian yang tidak sepenuhnya saya pahami tapi itu semua terbayarkan oleh penulisan yang cantik.

"Kita terus hidup, sayang. Tak ada jalan lain. Hari ini kita tidak percuma. Tak seperti yang sudah-sudah." - hal.207
Profile Image for Helix.
146 reviews45 followers
April 10, 2018
“[...] Barangkali, di tanah yang jauh dan samar ini, kau akan menemukan kedamaian yang selama ini kau dambakan. Kau tak akan lagi terasing dari dirimu sendiri.”

Sebuah perjalanan yang elok melalui relung-relung kota, diisi dengan terang rembulan, bintang-bintang yang tak berujung, dan serpihan surga. Bahkan bagi seorang agnostik seperti saya, Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya membuat saya ingin percaya dengan hadirnya Tuhan, lebih dari bujukan agama manapun, lebih dari mukjizat manapun. It is a beautiful book modelled after 1001 Nights, but it shines with the light of its own creation. Truly a book that manages to make me cry, and I do not say that lightly, since no book before has managed to make me do that, no matter how deep it touched me. Somehow, btmc has touched me somewhere other books couldn’t.

“Tuhan telah menciptakan cahaya dan menjadikannya terang di hati anak manusia.”
Profile Image for Zulfy Rahendra.
284 reviews76 followers
January 1, 2021
Buku pertama yang selesai di 2021. Harusnya ini selesai di hari terakhir 2020 kemarin biar nambahin jumlah buku dibaca di 2020, tapi karena ketiduran jadi yaudahlahya.

Bukunya... menarik. Pertama karena saya bingung mendeskripsikan buku ini novel atau kumcer. Ceritanya tumpuk-tumpukan; ada dongeng, kisah hidup, cerita utama sepasang kekasih yang mau berpisah. Di blurbnya katanya ini kumcer, tapi cara ceritanya bikin ini keliatan kayak novel. Walaupun semua ceritanya punya nuansa surem, tapi saya suka. Mungkin inilah yang dinamakan menjadi dewasa. Mulai sadar kalo hidup emang banyak suremnya hhhhhh.

Suka banget terutama suka di endingnya. Dan dongeng-dongengnya, dan slice of life-nya. Dan semuanyaaa. Diksinya bagus bangat. Ga berlebihan sok puitis tapi pas, ngena, sukses bikin saya berkaca-kaca dan nyesek dimana-mana.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
December 4, 2018
gambar bergerak sukses membuat saya mengingat banyak sosok di masa lampau. saya tidak menduga bahwa saya akan teramat sangat menikmati buku ini. cerita pembuka sayangnya kurang nendang, tapi saat sudah mencapai cerita akhir, rasanya sangat tidak ingin lekas berpisah.

mungkin ini salah satu buku favorit saya tahun ini.
Profile Image for weirdniss.
39 reviews5 followers
September 26, 2020
Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya merupakan kumcer yang di dalamnya terdiri dari kisah-kisah menarik, yang dibalut oleh tinta-tinta romantis, dibalur oleh cara bertutur yang begitu hangat.

Membaca ini, rasanya seperti tengah didongeng oleh pacar. Iya, rasanya seperti itu. Meski kisah-kisahnya sederhanaㅡya, ada beberapa sih yang tidakㅡtapi hal itu tidak lantas menutup bahwa buku ini menyenangkan sekali untuk dibaca.

Kamu seperti diajak duduk berdua dengan pacarmu, sementara pacarmu bercerita tentang apa saja yang ada di dunianya, dan kamu menikmati tiap jengkal ruang dari isi kepalanya yang pacarmu suguhkan kepadamu.

Kumcer 'Belajar Menanam Bapak' dan 'Abrakadabra' mampu membuatku menyajikan rasa haru, lalu termenung setelahnya.

Dan, kumcer paling kusuka, kusayangi, kucintai, berjudul sama dengan sampul buku, 'Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya'

Kesimpulannya, sederhana, bagi kalian yang merasa sendiri dan butuh teman cerita tetapi tidak tahu kepada siapa, kalian bisa membaca ini. Niscaya kesepian itu sirna, dan keriangan menyapa.

"Kita terus hidup, sayang. Tak ada jalan lain. Hari ini kita tidak percuma. Tak seperti yang sudah-sudah." ㅡ hal.207
Profile Image for Nike Andaru.
1,638 reviews111 followers
January 6, 2019
7 - 2019

Wah Raka Ibrahim memang pendongeng. Tidak mudah menjadi pencerita apalagi pendongeng, walau terkesan seenaknya saja melebur cerita legenda dengan saat ini tapi memang cerita dalam buku ini begitu adanya. Apalagi jika buku ini dijadikan bacaan sebelum tidur, dibacakan lagi rasanya benar seperti dongeng kekinian.

Favorit saya : Belajar Menanam Bapak dan Pendekar Dari Bulan.
Profile Image for owlshell.
64 reviews10 followers
August 3, 2021
“Aku menyadari kesalahanku—bahwa aku tidak bisa menyayangimu lebih dari kebencianmu pada dirimu sendiri”.

menurutku ini salah satu buku underrated yang harus dibaca banyak orang.

judul favoritku, Anasir dan Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya. 🥲
Profile Image for Khansaa.
171 reviews214 followers
May 10, 2020
Kumpulan cerpen oleh seorang pendongeng yang lihai. Raka akan membawamu pergi ke berbagai tempat, menghayati berbagai perasaan, bahkan merasakan kehangatan dan kebencian di waktu yang sama.
Profile Image for Aksa.
41 reviews2 followers
January 14, 2019
Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya karangan Raka Ibrahim terbitan @penerbitkpg @thecommabooks
.
Buku ini mengajak para pembacanya bertamasya dalam alur. Saya mengalaminya. Bagaimana alur dalam buku ini mengalir begitu saja dan sangat dapat dinikmati hingga akhirnya saya terlupa bahwa cerita ini bercerita tentang apa. Tapi, inilah tamasya alur yang ditawarkan buku ini. Cerita pada akhirnya kembali ke jalurnya kembali dan menyadarkan saya lagi bahwa ceritanya tentang hal "ini".
.
Terdiri dari 8 cerita pendek, yang entah kenapa saya merasa buku ini adalah sebuah dialog antara sepasang kekasih. Dibuka dengan "Prolog: Sampai Pagi, Sampai Mati" dan ditutup dengan "Epilog: Segara, Mandira" yang merupakan percakapan asli kedua tokoh utama.
.
Di dalamnya, kedua tokoh bercerita tentang beberapa cerita - 6 lebih tepatnya. "Anasir", "Dongeng Setelah Tidur", "Samudera Kabut", "Abrakadabra", "Gambar Bergerak" dan ditutup dengan "Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya". Setiap cerita tentunya berusaha menghadirkan sentuhan-sentuhan magisnya tersendiri. Kerelaan, bagi saya adalah hal paling utama yang berusaha disampaikan dalam setiap cerita. Tentunya dengan cara yang berbeda-beda.
.
Saya menyukai buku ini dengan segala sentuhannya. Kabut, sejarah, cinta, persepsi. Saya menikmati setiap perjalanan dalam buku ini, setiap luka, bahkan kenangan yang tanpa sengaja dihadirkan. Terima kasih.

#pengenceritaaja #bagaimanatuhanmenciptakancahaya #penerbitKPG #commabooks #bookstagram #rakaibrahim #negeribuku
Profile Image for anninox.
6 reviews
January 21, 2019
Buku yang harus disesap pelan-pelan bagai secangkir teh hangat di pagi hari, dinikmati dalam diam layaknya cuplikan senandung lagu kesukaan. Buku yang membekas bagai ingatan masa lampau yang bayangannya terpantulkan dari mata orang lain. Buku yang membuat orang bertanya, merasa.

Banyak bagian yang tidak saya pahami, tapi entah kenapa saya yakin di situ lah letak daya tarik kisa-kisah ini. Meskipun begitu saya tidak bohong kalau ada beberapa cerita yang ingin segera saya lewati karena uraian yang terlalu bertele-tele, memaksa saya mengintip ke belakang untuk tahu berapa halaman yang tersisa.

Namun, saya yakin Gambar Bergerak akan menjadi satu cerita yang akan saya ingat bahkan ketika saya sudah membaca ratusan buku lainnya. Begitupun sebuah Epilog yang membuat saya tak begitu takut lagi akan perpisahan karena simulasinya diceritakan dengan begitu alamiah, tidak indah, namun realistis.

Sebuah buku yang nantinya akan saya buka sekali-sekali ketika hati ingin dibisiki oleh hal-hal yang selalu saya hindari.
Profile Image for Rain Chudori.
Author 10 books57 followers
March 5, 2018
“Once upon a time, in the new world, a man approaches a woman in a station platform and asked when the train printed on his ticket will arrive. They decided to wait together. Through flashbacks and cut-scenes, the audience realizes that both of them went through the same memory erasing therapy. The train arrives soon after, and they both embarked to the capital city.”
Profile Image for HF Jaladri.
56 reviews
February 4, 2019
Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya mengingatkan saya pada buku-buku cerita lama karangan Budi Darma, atau Kumpulan Cerpen kurasi kompas tahun 1992.

Absurditas masa itu dibangunkan lagi oleh Raka Ibrahim. Terima kasih.
Profile Image for Kacangcokeelat.
5 reviews1 follower
April 7, 2020
Membaca sebelum berkisah
Mendongeng sebelum berpisah-


Mungkin dua kata itu bisa menjadi gambaran dari keseluruhan tentang isi buku ini. Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya adalah judul yang diambil dari salah satu judul cerpen di dalamnya. Raka Ibrahim menyebutkan dalam sinopsinya jika kumpulan cerpen ini dari sepasang kekasih yang dikisahkan sebelum berpisah. Menariknya gaya bahasa yang dipakai seraya menempatkan pembaca sebagai gadis kekasih dari laki-laki yang mendongengkan cerita-ceritanya. Bahkan disertai dialog-dialog pendek antar sepasang kekasih itu sehingga membuat pembaca seakan ikut berinteraksi ke dalam cerita. Buku ini terasa berbeda karena menggunakan nama tokoh dan tempat yang asing yang jarang kita dengar.

Buku ini terdiri dari 10 kisah dengan judul-judul yang anti-mainstream. Meskipun terkesan romantis kisah di dalamnya bukan melulu romansa pria dan wanita, lebih dari itu adalah tentang manusia dan masalah duniawinya. Sebagian besar kisah mengandung unsur kearifan lokal yang lekat dengan masyarakat seperti tradisi, legenda, mitos, dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Ada beberapa kisah yang terdengar seperti solusi meskipun muskil dilakukan tetapi menghibur ketika kita membayangkan. Melalui bahasa yang mudah dipahami kita tau bahwa Raka Ibrahim adalah pendongeng ulung dengan selera humor yang menarik.

Meskipun secara bahasa mudah dipahami, pembaca harus berpikir dua atau tiga kali untuk menangkap maksud keseluruhan isi cerita. Seolah Raka Ibrahim membentangkan benang merah yang tak kasat mata untuk menggambarkan secara utuh kisah-kisah dalamnya. Tidak hanya itu pembaca juga merasa digantung di beberapa bagian terutama di bagian akhir. Akhir setiap kisah mungkin tidak akan memenuhi ekspektasi pembaca, namun menjadi menarik karena kisah yang disuguhkan tidak melulu berakhir hanya dengan bahagia, sedih, pun kecewa. Jelas bahwa buku ini tidak diperuntukkan bagi pembaca yang suka dengan akhir yang pasti.
Profile Image for Irmaningsih.
11 reviews
June 21, 2020
Sebenarnya sudah sejak dua tahun lalu saya ingin membaca buku karya Raka Ibrahim ini, berawal dari terbitnya beberapa buku yang dipromosikan di instagram comma books.
Tahun ini saya akhirnya memutuskan untuk membaca.

Saya bisa bilang ini adalah buku fiksi terbaik (so far) yang saya baca di tahun 2020.
Saya rasa, buku ini punya unsur magis, yang kemudian membuat saya mengamini bahwa saya tidak sedang membaca, melainkan mendengarkan kekasih saya mendongeng, lalu tenggelam dalam setiap ceritanya.

Tidak seperti kebanyakan buku fiksi yang membuat letupan-letupan konflik sehingga saya penasaran ingin terus membacanya, Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya adalah aliran sungai tenang yang membuat saya ingin tahu ke mana ia bermuara.
Setiap alur ceritanya membuat saya jatuh cinta pada kekasih saya yang sedang mendongeng. Terlalu piawai. Manis sekali. Beberapa kali saya tersadar sedang senyum-senyum sendiri, berdebar-debar, hingga berkali-kali saya harus berhenti dan mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya masih waras; setelah ingat kekasih saya tidak bisa mendongeng; kemudian ingat lagi bahwa saya tidak punya kekasih; dan kenapa saya jadi memikirkan persoalan kekasih, karena... bukannya saya sedang membaca buku?

3 bagian cerita yang paling saya sukai: Dongeng Setelah Tidur dan Samudera Kabut (karena saya merasa dua bagian ini sangat berkaitan), Gambar Bergerak, dan Pendekar dari Bulan.

5 bintang untuk Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya!
Profile Image for rasya swarnasta.
103 reviews21 followers
January 23, 2020
Saya kesulitan untuk bertahan menamatkan cerita ini. Saya bisa paham apabila orang-orang menyukainya (kumcer Raka Ibrahim ini sendiri direkomendasikan oleh teman saya), tetapi sepertinya buku ini bukan untuk saya. Gaya bahasa Raka Ibrahim begitu berciri khas: mendongeng, bernarasi, cenderung hangat.

Kumcer ini tidak menspesifikkan latar tempat di mana, latar waktu kapan ... atau hikayat tentang Sultan Agung, Raja Sunyata, atau pendekar yang bertarung, itu terasa begitu jauh dan tidak menyimbolkan apa pun. Barangkali kumcer ini memberi istilah-istilah yang memang hanya berhenti di situ saja, e.g. Ujung Timur, Ibu Kota, atau Delta Besar, tetapi saya mendapati diri saya merasa suntuk.

"Gambar Bergerak," cukup bagus. Sepertinya karena itulah cerpen favorit teman yang merekomendasikan saya kumcer ini. "Samudra Kabut" dan "Belajar Menanam Bapak" terlalu panjang dan bertele-tele bagi saya.

Saya sungguh bosan dan merasa bersalah karena buku kumcer ini bisa menemukan pembaca yang lebih baik, alih-alih harus terjebak dalam minggu-minggu penuh penderitaan bersama saya yang terus mengulur-ulur waktu untuk menamatkannya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for geminorvs.
1 review1 follower
January 2, 2021
"Sebab, tidak ada manusia yang layak menjadi sandaran bagi siapa pun kecuali pada dirinya sendiri"

Buku "Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya" adalah sebuah buku yang berisi kumpulan cerpen yang dikemas sedemikian rupa ditiap bagiannya sehingga terkesan mirip sebuah novel. Saya tipikal orang yang kurang suka dengan cerita pendek, akan tetapi hal ini berbeda, dimana cerpen dalam buku ini memilki sisi yang unik dimana adanya keterkaitan antara satu bagian cerita dengan bagian cerita lainnya.

Dalam buku ini, penulis menulis karyanya dengan bahasa yang puitis dan dibuat seolah-olah seperti sedang mendongeng, hal ini membuat para pembaca harus menyelami setiap kalimatnya lebih dalam agar lebih paham mengenai apa yang digambarkan oleh sang penulis, dan ini menjadi nilai plus untuk saya pribadi. Walaupun jujur, pada kenyataannya ada beberapa bagian yang sampai saat ini saya kurang paham dan masih bertanya-tanya, kemanakah arah dari cerita tersebut. dan ditambah lagi dari segi alur yang saya rasa susah ditebak. oh iya, buku ini banyak menuliskan mengenai perpisahan didalamnya.

Cerpen favorit saya di buku ini adalah Anasir, Pendekar dari Bulan, dan Belajar Menanam Bapak.
Profile Image for Rheza Ardi.
32 reviews1 follower
January 17, 2021
Kumpulan cerpen buatan Raka Ibrahim ini terasa segar. Banyak kisah yang ajak pembaca ikut ke dalam cerita.

“Pada suatu hari, terdapat seorang gadis. Kita anggap saja namanya persis sama dengan namamu.”

Favoritku, kisah berjurul Gambar Bergerak. Ada semacam penghormatan untuk film Eternal Sunshine of a Spotless Mind. Cerpen ini berkisah tentang sepasang kekasih yang menjalani praktik penghapusan ingatan tertentu.

Lebih dari itu, dalam judul tadi Raka menyelipkan kritik atas kesetaraan gender melalui pemilihan nama. Ada pula sindiran bagi praktik jurnalisme kita yang semacam ini:

“Segelintir media nusantara yang ingin meliput kisah inspiratifnya berusaha sangat keras untuk tidak menyinggung orientasi seksualnya, namun gagal.”

Ada nuansa sureal (Samudera Kabut), getir (Abrakadabra), hingga puitis. Dan sensasi demikian bisa muncul berrombongan dalam satu judul yang sama.

Membaca buku Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya menjadi pengalaman literasi yang menyenangkan. Setelah ini saya mempertimbangkan buat baca rilisan Comma Books selanjutnya.
Profile Image for Lilacdawn.
4 reviews
November 9, 2018
Pertama kali saya baca buku ini saya benar benar harus mencerna kata demi kata dengan perlahan demi memahami makna narasi tersebut.

Satu satunya buku yang dapat membuat hati saya sakit dan mempertanyakan pilihan” saya

Saya sampai meminjamkan buku ini kepada teman saya dan menyuruhnya untuk membaca buku ini lalu berdiskusi dengan saya mengenai makna yang ingin disampaikan penulis.
Buku ini benar benar meninggalkan jejak di hati pembacanya.
Bab favorit saya adalah Samudra Kabut dan Belajar Menanam Bapak.
Jujur ingin sekali saya menyebut karya ini merupakan salah satu masterpiece indonesia.
Profile Image for Shendi C.
Author 1 book
December 11, 2019
Bagaimana Tuhan menciptakan Cahaya mengangkat tema romantisme yang melankolis. Kata yang di gunakan oleh Raka, begitu puitis dan dekat dengan harapan harapan yang semua orang inginkan, yaitu berbahagia dengan pasangannya. seperti kutipan dalam bukunya " Sementara, kita akan bertambah tua dirumah, tanpa mesti memikirkan atau menanti apa-apa lagi. Untuk apa pula?Kita terlalu sibuk berbahagia."

Selain itu ada absurditas yang di ambil dari beberapa cerita. kepintaran raka dalam meramu kata meembuat saya bingung apakah kisah yang dia ceritakan itu adalah masa itu apa dia sedang menceritakan cerita orang lain.

Profile Image for 沈沈.
737 reviews
July 5, 2021
“Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya” adalah tentang bagaimana manusia harus menanggung cinta dan hidup masing-masing. Seberapa besarnya orang lain menyanyangimu tidak akan ada artinya saat kita tidak bisa menyayangi diri sendiri. Cinta yang terlalu besar di saat kita sendiri rapuh hanya akan menjadi perangkap atau malah beban.

Buku ini boleh berjudul Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya, tapi cerita-cerita di dalamnya adalah mengenai kerumitan-kerumitan hidup yang baru terlihat ketika gelap tersibak dan lampu panggung dinyalakan. Buat saya, Raka Ibrahim adalah penerang yang baik dalam setiap karangannya.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews38 followers
December 1, 2020
Saya tidak bisa menikmati ini. Cerpennya panjang-panjang, dan terkesan dipanjang-panjangkan. Kebanyakan memakai sudut pandang orang kedua yang membuat saya capek. Saya juga tidak suka cerpen-cerpen eksperimental dengan latar waktu dan tempat yang absurd, tapi tak sepenuhnya fantasi. Mungkin judul yang saya suka hanya Belajar Menanam Bapak, itu pun akan lebih baik jika dipersingkat. Yang paling tidak dapat saya nikmati malah cerpen yang dibuat judul bukunya: Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya.

Oh iya, satu lagi. Jenis kertasnya terlalu putih. Silau meeen. Membuat tidak nyaman saat membaca.
Profile Image for triawan herdian.
27 reviews2 followers
January 24, 2019
Cerita apik yang dibalut permainan kalimat ini cukup untuk membawa kembali perenungan akan penerimaan diri sendiri, juga orang lain; perjalanan akan temu dan pisah, namun tetap akan ada cahaya. Cerita "Anasir" dan "Belajar Menanam Bapak" cukup membekas. Bagian pamungkas kumcer ini, seperti judul bukunya, meringkas perasaan dari cerita-cerita sebelumnya. Seperti ilustrasi pada covernya, cerita ini bermula dan berakhir di satu ruangan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for echa.
14 reviews
May 13, 2018
Baca buku ini rasanya seperti sedang naik rollercoaster emosi. Oh dan juga seperti baru makan kue yang enak sekali sampai takut habis.

Buku ini berisi kumpulan cerita pendek yang memiliki benang merah yang cukup samar tapi cukup bisa membuat satu cerita dengan cerita yang lain tidak dengan mudah dipisahkan begitu saja.

Cerita Favoriku : Belajar Menanam Bapak dan Anasir.
Profile Image for Lisna Atmadiardjo.
146 reviews24 followers
December 22, 2018
Ceritanya, cara berceritanya, gaya bahasanya, imajinasinya, referensinya, semuanya membuat jatuh cinta. Tidak berekspektasi akan banyak dongeng dalam kumpulan cerita pendek ini. Kirain akan seperti terbitan Comma lain yg isinya esai personal. Terima kasih Raka untuk tulisan-tulisannya. Terutama cerita Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya.
4 reviews
May 26, 2020
At the first, I read this book because it has a good review here.
and that is true.
How shocked I am when I realized the author is a Man. How he deliver the story in each paragraphs do not stop making me touched.
I love every word that he told on his book. The way he plays diction in the story sometimes making me so emotional.

And my only one favorite is: "Gambar Bergerak"
Profile Image for Aldi Prima Putra.
1 review31 followers
November 7, 2020
Seorang teman mengisahkan kepadaku bahwa membaca buku ini seperti berbicara dengan diriku. Meloncat-loncat dengan topik yang beragam. Berbeda dengan loncatan cerita-ceritaku yang grasak grusuk, membaca cerita yang Raka tulis dalam buku ini, terasa berada di dalam dunia pikiran yang berbeda-beda, namun indah, membawa imajinasi ikut berloncatan dan menanti kemana pikiran ini akan dibawa.
Displaying 1 - 30 of 50 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.