What do you think?
Rate this book


132 pages, Paperback
First published January 1, 2009
Aku tahu bahwa di dasar cangkir, takdirku tersembunyi dalam ampas kopi. Untuk menemukannya, selama berjam-jam aku meminum cairan yang menutupinya, berhari-hari berturutan. Cairan itu gelap, tanpa ada akhirnya. Meminumnya untuk selama-lamanya adalah takdirku.
MENGHORMATI GENRE
Seorang lelaki terbangun di samping perempuan yang tidak ia kenal. Dalam cerita detektif situasi ini bisa diakibatkan oleh efek alkohol, obat bius, atau hantaman di kepala. Dalam cerita sains fiksi, si lelaki pada akhirnya paham bahwa dia berada dalam semesta pararel. Dalam novel eksistensialisme, ketidakkenalan tadi bisa jadi hanya karena perasaan terasing, absurditas. Dalam karya eksperimental, misteri ini akan tetap tak terpecahkan dan situasinya diatasi lewat permainan bahasa. Para editor makin lam amakin penuntut dan si lelaki tahu, dengan suatu perasaan putus asa, bahwa bila ia tidak lekas-lekas berhasil memosisikan diri dalam genre tertentu, selamanya dan dengan menyakitkan ia akan berisiko tidak pernah diterbitkan.
PRIA MUDA YANG DITAKDIRKAN MENJADI KAKEKKU
Untuk menghindari agar tidak dikirim ke medan perang pria muda yang ditakdirkan menjadi kakekku mencopoti semua giginya, tapi tidak manjur. Lantas ia memotong semua jari di tangan kanannya, tapi belum cukup. Dengan kapak ia mengamputasi separuh kakinya, tapi masih juga belum cukup. Ia sorongkan benda tajam ke dalam telinganya untuk membuat dirinya tuli, tapi ia masih saja diterima. Akhirnya ia memutilasi diri sedemikian rupa sampai akhirnya ia mengubah takdir hidupnya: mereka tidak memberangkatkannya ke medan perang, tapi ia juga tidak bisa menjadi kakekkku.