Jump to ratings and reviews
Rate this book

Raumanen

Rate this book
Jakarta Tahun '60-an

Raumanen seorang gadis cantik, rajin, independen. Monang seorang pemuda flamboyan, doyan pesta, bermobil sedan mengilap mewah merek Impala. Raumanen orang Manado, Monang orang Batak, walaupun keduanya besar di Jakarta.

Tentu saja mereka jatuh cinta. Perasaan yang menyusup perlahan-lahan dan baru mereka sadari setelah menjungkirbalikkan semuanya di dunia mereka.

*******

Raumanen adalah novel Marianne Katoppo yang pernah menang sayembara penulis novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975, Hadiah Yayasan Buku Utama 1978, dan SEA Write Award 1982 (Marianne Katoppo menjadi perempuan pertama yang menang hadiah ini).

Di balik bahasanya yang indah tapi tetap renyah, Raumanen juga punya semangat menjungkirbalikkan. Tanpa menggurui ataupun mengganggu laju tuturannya, Marianne Katoppo telah berhasil menggoyahkan, kemudian mengubah, konsep-konsep kita tentang cinta, ketegaran perempuan, kepengecutan laki-laki, identitas kesukuan, siapa itu "orang Indonesia", dan apa itu keimanan: hal-hal paling penting dalam kehidupan, baik di Jakarta tahun 60-an maupun sekarang.

137 pages, Paperback

First published January 1, 1977

26 people are currently reading
517 people want to read

About the author

Marianne Katoppo

15 books13 followers
Born in Tomohon, North Sulawesi, on 9 June 1943, Katoppo studied theology from 1963 at the Jakarta Theological Seminary, Sekolah Tinggi Teologi.

In 1979, Katoppo spoke about "Asian Theology: An Asian Woman's Perspective" at the first Asian Theological Conference in Sri Lanka. She served the ecumenical idea as a member of the Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT), and was part of the executive committee of the Indonesian National Council of Churches (PGI). She has been described as "independent, forthright, and conversant in a dozen Asian and European languages", and was internationally known as a female theologian. Katoppo died in Bogor on 12 October 2007.

Katoppo's Christian novel Raumanen, published in 1977, won the first prize at the Jakarta Arts Council Novel Competition. Her book Compassionate and Free. An Asian Woman's Theology was published in 1980 by Orbis in Maryknoll, New York. It was one of the first books to present an Asian feminist theology which used Asian myths and stories to interpret theology, and supports an image of God also as a mother. The book was translated into Dutch and German. Because Katoppo considered her work apolitical and did not want it thought of as having any feminist political agenda, she believed the term "feminist theology" to be "too loaded". Susan Evangelista of Ateneo de Manila University summarized Katoppo's perspective of the virgin Mary as being the core of "women's theology"; and rather than being limited to the role of the virgin mother of Jesus, Evangelista believes Katoppo saw Mary as a totally complete woman who, while obedient to God, serves as the perfect balance to men.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
102 (26%)
4 stars
139 (36%)
3 stars
112 (29%)
2 stars
22 (5%)
1 star
9 (2%)
Displaying 1 - 30 of 71 reviews
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
August 5, 2011
Jakarta tahun 60-an. Sebelum hiruk pikuk politik terjadi di negara ini, terkisah seorang gadis Menado yang cantik, rajin, dinamis, indpenden. Raumanen namanya. Nama ini berasal dari bahasa Minahasa kuno yang berarti “pemudi pemberi kuncup”. Selain cantik Raumanen adalah aktifis kampus yang dikenal sangat loyal terhadap organisasinya.

Dalam suatu kesempatan Raumanen bertemu dengan Monang, pemuda Batak flamboyan, kaya, palyboy dan doyan pesta. Seperti kebiasaan Monang yang selalu mendekati gadis-gadis cantik, demikian pula yang dia lalukan dengan Raumanen. Berawal dari pertemuan di sebuah pesta, Monang yang mudah terpesona oleh kecantikan wanita, tergerak untuk mendekati Raumanen dan berniat untuk menaklukkannya.

Pendekatan Monang membuahkan hasil, walau awalnya Manen menganggap Monang sebagai sahabatnya, lambat laun iapun mencintainya. Sebetulnya Manen menjadi mangsa yang begitu empuk bagi Monang, si perebut hati wanita. Dalam salah satu kesempatan mereka berdua menuju ke Puncak, ketika hendak pulang, tiba-tiba mobil Monang mogok di tengah hujan deras dan mengharuskan mereka berteduh di sebuah bungallow. Bisa ditebak apa yang terjadi pada mereka berdua. Manen menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan, untungnya Monang segera menyatakan akan bertanggung jawab dan siap menjadikan Manen sebagai istrinya.

Apakah sesederhana itu kisah novel ini? Tentu saja tidak, disinilah konflik mulai timbul. Walau Monang menyatakan tanggung jaawabnya, keraguan timbul di hati Manen, apakah Monang benar-benar mencintainya atau sekedar bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya ? Usaha Monang mendekatkan dirinya pada adik-adiknya, mencarikan rumah untuk rumah tangga mereka, tak mengusir keraguannya, belum lagi rasa bersalah pada kejadian di Puncak membuat jiwanya tertekan . Aku tak tahu, pikirnya. Seharusnya aku bahagia, karena Monang sudah membuka jalan ke arah pernikahan kami. Tetapi aku tidak bahagia, cuma merasa bersalah karena kejadian di bungalow itu. Lagi pula aku takut. Takut masa depan. Haruskah aku menjadi istri Monang sekarang? Membagi hidupku dengannya, mengarahkan cita-citaku agar serasi dengan cita-citanya? Sedangkan aku tak tahu apakah ia mencintaiku. (hlm 65)

Lambat laun keraguan di hati Manen semakin menjadi, hubungannya dengan Monang tidak dilihatnya sebagai hubungan cinta, melainkan semata-mata sebagai suatu ‘tanggung jawab’ karena mereka sudah ‘terlanjur’ melakukan hubungan yang terlarang. Perasaan ini diperkuat dengan sikap Monang yang selalu berguarau secara sinis dalam setiap percakapan dengannya, alih-alih Monang merayunya, ia malah sering membesar-besarkan kekurangan-kekurangan yang dimiliki Manen.

Selain masalah dirinya dengan Monang, perbedaan suku antara mereka menjadi rintangan yang sulit ditembus. Di tahun 60-an persamaan suku dalam memilih pasangan hidup masih merupakan syarat yang mutlak. Begitupun dengan orang tua Monang Waktu itu memang Republik masih muda, mungkin saja semboyan “Bhineka Tunggal Ika” belum meresap ke hati warganya. Bagi Manen yang telah memiliki wawasan yang luas hal ini memberikan kesimpulan dalam dirinya bahwa, hampir 20 tahun sesudah revolusi, sesudah dua windu lebih penduduk Nusantara berpengalaman hidup sebagai “orang indonesia”, ternyata beban prasangka serta wasangka terhadap suku lain masih belum dapat dilepaskan dengan begitu mudah. “Orang Mana?” dan “Anak Siapa?” masih tetap jadi nada-nada pertama suatu perkenalan baru (hlm 22).

Konflik semakin memuncak ketika akhirnya Manen hamil dan Monang diperhadapkan pada pilihan yang sulit karena harus menerima pilihan orangtuanya dalam menentukan pasangan hidup baginya.

Tema yang diangkat oleh penulisnya dalam novel ini memang tema yang biasa, namun ditangan penulis Mariaenne Katopo cerita cinta ini diramu dan diceritakan dengan menarik. Di lembar-lembar pertama halaman novel ini Manen bertutur mengenai dirinya di masa kini yang kini merasa kesepian ditinggal teman-temannya dan memendam rindu pada Monang. Tentu saja hal ini akan membuat pembaca segera mengetahui bagaimana akhir dari kisah cinta mereka. Namun novel ini tetap menarik karena Manen menuturkan kisahnya sedemikain rupa sehingga pembaca akan terus menebak-nebak dimana kini Manen berada. Sebelum pembaca menyadari dan mengetahui apa yang tejadi dengan Manen dan dimana kini Manen berada, di bab selanjutnya giliran Monang yang bercerita. Sama seperti Manen, Monganpun memendam rindu yang dalam pada Manen. Padahal sudah sepuluh tahun, Raumanen. Sudah sepuluh tahun, hampir seperempat hidupku, aku terpaksa hidup terpisah darimu. (hlm 7)

Setelah melewati dua bab pertama, barulah novel ini kembali ke masa lalu penulis, saat Manen bertemu dengan Monang, namun terkadang, Manen kembali mengambil alih peran penutur dan kembali bertutur mengenai keadaannya kini dengan kalimat-kalimat yang mengundang rasa penasaran pembacanya untuk mengetahui bagaimana keadaan Manen ketika ia sedang menuturkan kisahnya dan bagaimana akhir dari kisah ini.

Selain keunikan dari gaya penulisan novel ini, novel yang ditulis dengan tuturan yang indah, halus, lembut namun tidak cengeng ini mengajak pembacanya untuk membedah makna cinta dan merubah pandangan kita tentang konsep-konsep cinta. Pergulatan batin tokoh-tokoh dalam Raumanen disajikan secara cermat, dan tabrakan-tabrakan yang terjadi akibat masalah kesukuan menjadikan novel ini sebuah saksi kondisi sosial waktu itu yang mungkin saja masih terjadi hingga kini. Novel ini semakin menarik karena dibalut dengan masalah identitas kesukuan, keindonesiaan, bahkan keimanan beserta konflik-konflik yang mengungkap batas ketegaran dan jati diri seorang perempuan terpelajar yang diperhadapkan pada kepengecutan seorang lelaki yang harus tunduk pada tradisi kesukuan.

Novel ini juga menyajikan ending yang menghentak sehingga setelah dikejutkan dengan ending ceritanya, bukan tak mungkin pembaca yang masih penasaran akan kembali membaca ulang bab-bab berjudul Raumanen dan Monang yang berisi penuturan-penuturan Manen dan Monang di masa kini untuk menemukan kalimat-kalimat tersembunyi yang awalnya tidak disadari oleh pembaca bahwa kalimat-kalimat tersebut mengarah pada ending cerita.

Ketika pertama kali novel ini diterbitkan (1977), Raumanen mengundang kontroversi karena penggambarannya yang jujur tentang hubungan lelaki dan perempuan dan tentang ketegangan antar agama dan suku – hal-hal yang saat itu masih merupakan masalah yang mungkin tabu untuk diungkapkan bagi masyarakat di Indonesia . Namun dibalik riuhnya kontroversi yang berkembang terhadap isi novel ini, novel ini memperoleh apresiasi yang sangat baik dari kalangan sastrawan, hal ini terbukti dengan diraihnya tiga hadiah sastra bergengsi baik dari dalam dan luar negeri yaitu : Pemenang Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta 1975, Hadiah yayasan Buku Utama 1978, dan Sea Write Award 1982 dimana Marianne Katoppo merupakan wanita novelis ASEAN pertama yang memenangkan hadiah tersebut.

Kini setelah karya besar ini lama dilupakan orang hampir 30 tahun lamanya, Raumanen kembali hadir dalam cover dan kemasan yang menarik oleh penerbit Metafor. Tak hanya Raumanen, Metafor juga telah menerbitkan ulang Orang-Orang Bloomington (Budi Darma), Stasiun (Putu Wijaya). Semoga dengan diterbitkannya kembali karya-karya, karya-karya monumental yang pernah mengguncang jagad sastra nasional, karya-karya tersebut akan dapat terus terbaca dari generasi ke generasi. Kita berharap Metafor memiliki nafas panjang untuk terus konsisten menerbitkan karya-karya sastra bermutu seperti yang kini telah dilakukannya.

@htanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
April 27, 2023
Salah satu karya terbaik tahun 1975 dari penulis wanita Indonesia. Raumanen adalah potret wanita yang menjadi korban patriarki, budaya dan tentu saja norma masyarakat yang cenderung kaku dan menempatkan mereka pada posisi yang serba sulit. Mengingat situasi negara yang ketika itu belum lama merdeka, pembangunan yang masih dalam tahap pertumbuhan, Raumanen hidup di zaman itu, menjadi mahasiswa hukum yang juga berorganisasi mendorong perubahan bagi masyarakat melalui organisasi mahasiswa, Raumanen seolah terjebak ketika kemudian Monang hadir dalam hidupnya yang semarak, menawarkan cinta, bujuk rayu hingga hal yang tak Raumanen inginkan terjadi dan menghancurkan mimpi-mimpinya yang paling indah. Monang yang tak mampu melawan budaya, adat istiadat kesukuannya, justru memberikan bola panas kembali pada Raumanen, gadis malang itu.

Sebuah novel pendek yang begitu baik ditulis pada zamannya. Isu-isunya masih cukup bisa kita kenal di zaman sekarang, napas-napasnya juga bisa dicerna dengan baik oleh pembaca muda kita. Tak heran buku ini berulang kali cetak ulang dengan berbagai cover baru yang lebih segar dan mendekatkan isinya kepada pembaca baru yang terus tumbuh.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
July 5, 2015
Novel yang temanya cukup sensitif, hukum adat Batak yang harus mengawinkan anak lelaki sulung dengan orang serumpun agar namanya terus ada. Sedangkan Manen dari keluarga Minahasa yang terbuka dan mulai terlepas dari jerat adat. Namun ditulis dengan gaya sederhana, tidak jlemit, manis dan popis sekali. Ya, novel dengan komposisi tepat dan asyik.
Profile Image for Septyawan Akbar.
111 reviews13 followers
January 10, 2022
Katoppo mengisahkan arc-type laki-laki Sumatra bajingan sejak 1960an. JK Aside menyaksikan sekeping potret Indonesia di era itu, menyampaikan sudut pandang perempuan akan norma, adat, dan kepengecutan laki-laki menjadi sesuatu yang segar, dan menarik dari buku ini. Saya membayangkan pergaulan yang dituturkan di novel ini, merupakan pergaulan orang tua saya.
Profile Image for Shita Hapsari.
Author 3 books8 followers
October 17, 2011
Raumanen adalah novel roman klasik dengan background Jakarta tahun 60-an.
Diterbitkan kembali oleh Metafor.
Raumanen adalah nama seorang gadis dari bahasa Minahasa kuno, yang berarti gadis pembawa panen.

Di Jakarta, gadis Raumanen ini bertemu dengan seorang pria Batak. Dan mudah ditebak bila akhirnya mereka saling jatuh cinta.
Namun, tidak seperti sastra pop lainnya di jaman itu, tulisan Marianne Katoppo ini cukup menimbulkan kontroversi karena keberaniannya menuturkan masalah kesukuan dan seksualitas.

Kisah dalam novel ini sangat realistis dan reaktif. Tidak semata-mata menggubah roman percintaan manis yang berakhir bahagia. Sebaliknya, ia unjuk dada mengangkat problematika masyarakat saat itu; kesukuan, kebutaan cinta versus keimanan, pergaulan bebas, wanita yang tidak lagi manusia nomor dua, dan pria yang bukan melulu makhluk yang bisa dianut wanita.

Membaca novel ini seakan membaca kehidupan yang berkelebat di depan kita sehari-hari, saat ini. Bahwa ternyata kehidupan sosial-budaya dan intelegensi kita tidaklah jauh berkembang dibanding tahun 1970.
Ternyata masalah ras dan suku yang digambarkan Marianne mewarnai jaman itu, masih juga bercokol di negeri ini 30 tahun kemudian. Dan pergaulan bebas yang mulai ada di tahun 60-an itu, tetap saja merajalela dan bermutasi ke dalam lebih banyak lagi modus operandi di jaman kita ini. Dampak yang mungkin timbul pun masih saja telanjur ada tanpa dapat diantisipasi.
Seperti juga seorang Raumanen yang tegar akhirnya kalah oleh sebentuk cinta, sebentuk paham kesukuan dan seorang lelaki pengecut.

Yang membedakan Raumanen dengan novel-novel pop hari ini hanyalah kemasan bahasa Marianne yang lugas dan polos, tanpa banyak ornamen kata.
Profile Image for Ulfa Tania.
1 review
July 4, 2018
Sejak lama menanti, akhirnya buku ini dicetak ulang. Pertama kali membaca kritik mengenai novel ini dalam sebuah buku, saya langsung tertarik. Ternyata dugaan saya benar, buku ini kena di hati saya.

Raumanen, bukan hanya sekedar cerita cinta antara Manen dan Monang. Novel ini mengangkat permasalahan etnis, yang nyatanya masih terjadi hingga kini. Kecerdasan Marianne Katoppo menulis novel ini yang entah mengapa tetap relevan, meski sudah tiga dekade berlalu. Hal ini tentu menunjukkan gambaran kehidupan sosial Indonesia, yang sejak dahulu memang belum benar-benar bisa menjadi Bhineka Tunggal Ika.

Raumanen membawa saya pada sebuah hidup yang begitu rumit. Emosi saya ikut membaur dengan konflik yang dihadapi Manen. Kegundahan hati dan pergolakan batin sebagai seorang pemudi yang begitu mengagungkan "cinta" membuat saya tidak menduga akhir ceritanya. Pengarang membuat novel ini begitu menarik. Dengan jumlah halaman yang tidak banyak, namun alur serta sudut pandang yang dihadirkan narator begitu unik. Penggunaan dialek yang khas Batak ikut terngiang dalam pikiran saya saat membaca dialog-dialog tokoh dalam novel ini.

Terlepas dari segala cerminan buruk cerita yang dialami tokoh dalam Raumanen, saya mengagumi novel ini. Dari novel ini saya juga mendapat banyak makna bagaimana seharusnya menjaga martabat diri sebagai seorang wanita. Bahwa wanita juga tidak hanya perlu mementingkan perasaan, tetapi juga menyeimbangkannya dengan logika dan nalar.
Profile Image for Ardita .
337 reviews6 followers
April 27, 2008
Tentang Raumanen, perempuan Manado yang berani dan cantik, tapi takluk oleh Hamonangan (Monang), laki-laki Batak yang cerdas otak, lidah dan urat.

Ditulis dengan latar belakang 1960-1970-an, Marianne Katoppo (RIP Oktober 2007) tergolong berani mengungkap masalah suku dan agama. Sesuatu yang tidak dibicarakan terbuka saat itu. Juga tentang sikap dan pandangan Raumanen tentang hubungan laki-laki dan perempuan.

Hal lain yang menarik adalah cara berceritanya yang bolak-balik dari masa sekarang (sudut pandang masing-masing tokoh) ke masa lalu (deskripsi teks per bab). Cukup revolusioner untuk tulisan jaman 1970-an. Ternyata karya Marianne Katoppo yang ini membawanya memenangi South East Asian Writers (SEA) Award 1982 dari Indonesia.

Entah kenapa saya merasa ada yang kurang. Barangkali karena ini adalah cerita bersambung di majalah, eksplorasi masalah dan karakter serta latar belakang budaya kedua tokoh utamanya terasa kurang. Apa iya si Manen setolol itu? Kenapa Marianne tidak eksplorasi lebih jauh lagi ya? Barangkali Marianne sudah memikirkannya tapi mungkin alur "Raumanen" memang ditulis untuk jamannya.

An interesting reading indeed. To my surprise, having finished "Raumanen", I ended up reading a Thai novel who also won SEA Award in 1982. "The Judgement" by Chart Korbjitti.. A story of similar bleakness to "Raumanen".
Profile Image for Darma Saputra.
5 reviews1 follower
September 3, 2015
seperti meminum brotowali. getir dan meninggalkan pahit di pangkal lidah sesudahnya.
Profile Image for Bagus.
477 reviews93 followers
August 26, 2020
Raumanen membuatku mempertanyakan kembali arti ke-Bhinneka-an dalam kerangka berpikir masyarakat Indonesia, terutama pada gagasan nuansa kesukuan yang kian terasa hingga kini. Mengambil latar waktu di Jakarta 1960-an, isu tersebut masih sangat hangat dengan usia republik ini yang baru saja genap dua dekade. Kini setelah tiga perempat abad Indonesia merdeka, pertanyaan ini masih menghantui batin kita: “Siapa itu orang Indonesia?” Bukan suatu hal aneh kalau dua hal pertama yang umumnya ditanyakan usai nama setelah berkenalan adalah “Dari mana asalmu?” dan “Apa imanmu?”. Karena itu, Raumanen pun masih akan tetap relevan dibaca hingga kini.

Raumanen Rumokoi, wanita keturunan Minahasa yang cantik, rajin, dan independen yang besar di Jakarta. Hamonangan Pohan, seorang insinyur lelaki Batak yang gemar menebar jala di berbagai pesta. Manen dan Monang bertemu dalam sebuah pesta di rumah Bapak Profesor dalam perhelatan singkat yang dampaknya masih membekas sampai sepuluh tahun dan satu hari kemudian. Keduanya menjalin sebuah hubungan dengan latar belakang kesukuan yang berseberangan, dan pada akhirnya permasalahan kesukuan ini yang mengekang masa depan Manen.

Namun dirunut lagi, Raumanen jauh lebih dari sekadar membahas pola interaksi adat di Indonesia yang bermacam-macam kesukuannya. Marianne Katoppo membawa pembacanya pada banyak derajat pertanyaan lewat tiga sudut pandang, Manen, Monang, dan sudut pandang yang dipilihnya sendiri untuk menunjukkan definisi cinta, pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, hingga ketegaran wanita dalam menghadapi kerdilnya moral laki-laki. Sedikit banyak, aku pun tersentil oleh penggambaran laki-laki dalam sudut pandang rasionalnya lewat tokoh Monang yang kemudian membawaku bersimpati pada tragedi yang dialami Manen.
Profile Image for Yuu Sasih.
Author 6 books46 followers
December 22, 2020
Buku yang tidak saya kira akan sebegini bagus.

Kisah Raumanen sesungguhnya adalah kisah sederhana, tentang dua kekasih yang tidak bisa bersatu. Saya sudah mengira buku ini akan jadi buku seperti cerita-cerita balai pustaka, membahas pertentangan adat yang memisahkan dua insan berpandangan modern. Ternyata tidak demikian, selain adat, ternyata pandangan soal hubungan lelaki-perempuan juga menjadi alasan kenapa mereka tidak dapat bersatu.

Kedua karakter utama sangat kuat. Harus saya akui, Monang adalah lelaki brengsek. Tetapi tidak seperti lelaki brengsek yang umumnya diceritakan secara one-dimensional di kisah-kisah lain, Marianne Katoppo menulis Monang sebagai si brengsek yang manis. Pembaca bahkan dapat merasakan pesona playboy Monang, akan sempat ikut bersimpati padanya sebagaimana Manen terpesona olehnya meski di sudut kepala kita, sama seperti Manen, kita meragukan kesetiaan Monang. Marianne Katoppo mengolah dengan bagus dan realistis sekali karakter bad boy/playboy di dunia nyata, hingga titel itu bukan sematan semata.

Di sisi lain, kisah ini bukan semata kisah cinta. Hanya dalam 130 halaman, Marianne Katoppo berhasil juga mencampurkan konteks sosial-budaya pada masa tahun 60-an, di mana orang Indonesia terjebak antara romantisasi modernisme yang dibawa oleh kemerdekaan dan adat serta prasangka kesukuan meskipun seharusnya sudah bersatu menjadi Indonesia. Penulisannya lincah, efektif, dan kritis. Luar biasa sekali.
1 review
December 11, 2025
Raumanen is a profoundly moving novel that left me with mixed emotions long after I turned the final page. I finished it feeling both admiration for its emotional honesty and deep sadness over the fate of its characters. Marianne Katoppo writes with a quiet intensity, crafting a story that is intimate yet unflinchingly truthful about love, identity, and the invisible burdens carried by individuals within cultural and familial structures.

Raumanen herself is an unforgettable character—at once strong, intelligent, and heartbreakingly vulnerable. Her internal conflicts are drawn with remarkable subtlety, allowing the reader to feel the weight of expectations, past wounds, and the longing for self-determination that shapes her choices. The relationships in the novel are rendered with delicate nuance, showing how love can be tender yet devastated by forces beyond the lovers' control.

What makes this novel exceptional is its ability to maintain a lyrical tone while confronting painful realities. Every chapter feels purposeful, carrying emotional tension that builds toward a tragic inevitability without ever losing its human warmth. It is a story that invites reflection—not only on the characters’ lives, but on the broader questions of how culture, memory, and personal history shape the way we love.
Profile Image for Fachrina.
273 reviews6 followers
December 10, 2020
Jakarta, tahun 60-an. Ada dua jenis orang Indonesia: mereka yang menjunjung semangat persatuan dan sudah tidak menilai orang berdasarkan kesukuan, dan mereka yang masih mejunjung tinggi tradisi dan identitas kesukuan.

Manen adalah seorang gadis 19 tahun dari keluarga golongan pertama. Monang, seorang pemuda dari keluarga golongan kedua. Monang seorang playboy, dan lama kelamaan akhirnya berhasil merebut hati Manen.

Begitu membaca, kita langsung tahu bahwa kisah cinta mereka tidak berakhir bahagia. Manen tinggal di sebuah daerah sunyi di luar kota, terasing dari keluarga dan teman-temannya. Monang tinggal bersama istri yang tidak dicintainya, masih memimpikan Manen. Di bab berikutnya, kita kembali ke masa lalu saat mereka pertama kali bertemu. Begitu seterusnya struktur cerita maju mundur, membuat kita makin tegang menanti penjelasan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

Meskipun hubungan cinta Manen dan Monang memainkan peran besar, saya pribadi tidak akan mengklasifikasikan novel ini sebagai novel romansa, melainkan sebagai novel sastra yang mengangkat isu-isu feminisme tanpa bersikap menggurui.
Profile Image for Launa.
239 reviews51 followers
January 26, 2019
Rating: 3.5/5

"Bukankah sekarang kita semuanya orang Indonesia? Apakah manusia sendiri berwenang menentukan suku bangsa kelahirannya? Dan, apa gerangan yang menjadikan suku bangsa yang satu lebih bermutu, lebih "Indonesia", dari yang lain?" (Hlm. 23)

Raumanen menceritakan tentang kisah cinta antara Raumanen Rumokoi, perempuan Minahasa yang menjabat sebagai sekretaris pengurus pusat gerakan mahasiswa, dan Hamonangan Pohan, Senior Friend gerakan mahasiswa yang suka berlelucon kasar, tidak dewasa, dan flamboyan. Manen dan Monang bertemu di sebuah pesta ulang tahun Bapak Profesor yang merupakan pelindung gerakan mahasiswa.

Monang yang senang main dengan banyak perempuan mencoba mendekati Manen. Seiring berjalannya waktu hubungan keduanya pun menjadi dekat, namun kedekatan itu tidak lama bertahan. Perbedaan cara pandang keluarga Manen dan Monang terhadap suku dan adat membuat hubungan mereka menjadi sulit. Belum lagi adanya satu kejadian yang membuat Manen tertekan dan menderita sekaligus sangsi akan perasaan dan ucapan Monang padanya. Akankah nasib baik berpihak pada mereka?

Raumanen mengambil latar di Jakarta tahun 60-an dan menyoroti beberapa masalah yang saya pikir masih relevan sampai sekarang, yaitu kemauan atau kehendak orang tua yang membuat anak terpaksa melakukan suatu hal dan merasa terkungkung keadaan dan posisinya sebagai anak; suku dan ketentuan hukum adat; pemikiran dan sikap orang dulu yang masih kolot; orang tua yang menentukan dan turut campur dalam kehidupan anak; kepemilikan atas orang lain (dalam hal ini orang tua atas anak).

Novel tipis, tetapi dalam yang pernah memenangkan sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta pada 1975, Hadiah Yayasan Buku Utama 1978, dan SEA Write Award 1982 ini selain menyinggung masalah suku dan agama, juga membahas hal-hal penting yang terkadang luput dari perhatian. Dari Raumanen kita bisa melihat bagaimana penderitaan akibat jatuh hati pada orang yang salah yang dialami perempuan Minahasa seperti Manen yang cerdas, kuat, independen, dan tegar, namun akhirnya terluka dan kalah dalam pertahanan dirinya. Pun laki-laki Batak seperti Monang yang pengecut, playboy, kurang berpendirian, ucapannya tidak bisa dipegang, dan hanya bisa memberi janji palsu, yang hidupnya terus dihantui rasa bersalah dan penyesalan.

"Memang di dunia ini penuh manusia, masing-masing dengan nasib yang sudah dirasikan: terkadang baik, terkadang buruk. Tak ada seorang pun di dunia ini yang jalan hidupnya cuma suatu dendang ria belaka, suatu madah senantiasa bahagia." (Hlm. 106)

Resensi lengkap: https://wp.me/p15WBH-tN
Profile Image for Nadia Refaniadewi.
62 reviews8 followers
July 12, 2019
Alkisah pada dahulu kala, ada seorang anak yang selalu semangat saat menerima buku pelajaran Bahasa Indonesia setiap awal tahun ajaran baru dan akan ia langsung baca habis.
Dia memperhatikan beberapa petikan novel yang dijadikan contoh soal untuk mengetahui majas, mendalami karakter, maupun menjelaskan latar belakang. Tak terkecuali kutipan novel Raumanen yang membuatnya tertarik pada sastra Indonesia. Beberapa belas tahun kemudian, anak tersebut baru mendapatkan kesempatan untuk membaca secara penuh setelah beberapa usaha sebelumnya untuk mencari di beberapa toko buku.

Ending yang tragis untuk buku ini. Gemas sekali sama tarik ulur kedua karakter utama.
Konflik banyak dilatarbelakangi oleh perbedaan adat dan suku yang ternyata telah menjadi konflik sepanjang masa. Sejak zaman Siti Nurbaya, Orde Lama, maupun hingga kini. Nyatanya, kita masih belum banyak berubah..
Profile Image for Setra.
12 reviews
May 11, 2020
Br sj menyelesaikan salah satu karya Marianne Katoppo yang namanya kerap direkomendasikan oleh penulis perempuan lainnya. Saya sebenarnya kaget, karna menerka kepenulisanya akan sungguh membosankan. Tapi ternyata engga! Saya gatau si, tapi untuk karya di thn 1975 tulisan Katoppo sangat renyah. Pembahasan soal feminisme dipadukan dengan cerita cinta yang tak menuntut selera pasar! Selain isu feminisme, Katoppo juga menyinggung soal budaya adat pernikahan yg masih kental akan patriarki. Pantangan² yg hanya ditujukan kpd perempuan jg turut mewarnai jalan cerita. Penggambaran struktur sosial yang membentuk seorang perempuan sungguh melekat dengan realita yg ada. Perempuan kerap memenjadi "reviktimisasi". Istilah ini diartikan sebagai korban kekerasan seksual menjadi korban lagi. Mari eksistensikan kembali penulis perempuan lainnya. 🤗
Profile Image for Trian Lesmana.
77 reviews1 follower
May 8, 2018
Raumanen adalah novel tentang percintaan antarsuku, budaya. Raumanen gadis Manado dan Monang, kekasihnya, lelaki Batak. Novel dengan tema seperti ini tak lekang oleh waktu. Sekalipun ditulis tahun 1975, “Raumanen” masih sedap dibaca.

Raumanen mencerminkan betapa nikah beda suku tidaklah gampang. Ada dua budaya di dalamnya yang harus disatukan. Harus seiya-sekata. Dua sejoli beda suku yang hanya bermodalkan cinta abadi-sampai-mati, tidak cukup. Budaya yang masih kuat “meminta” ruang di dalamnya.
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
April 28, 2018
Raumanen dan Monang.
Yang satu Minahasa dan satu lagi Batak.
Bagi keluarganya, Monang harus menikah dengan yang satu suku, yaitu orang batak. Saat dihadapkan pada Raumanen, Monang tak berdaya. Ah, Monang memang tipe pengecut, brengsek lah ya.

Cerita ini jelas saat kesukuan masih sangat kental dan harus diikuti. Entah sekarang masih berlaku atau tidak untuk orang batak, tapi rasanya sudah banyak keluarga batak yang tak lagi sebegitunya akan keharusan menikah dengan sesama orag batak.
Ah, Raumanen yang menyedihkan...
84 reviews1 follower
July 26, 2018
Novel ini saya pilih karena saya sedang suka membaca novel-novel seputar tahun 60,70, 80an.
Buku ini bercerita tentang percintaan antara gadis Manado yang dibesarkan di Jakarta dengan pria Batak yang kebetulan anak sulung pula. Bukan hal yang aneh dan menjadi suatu masalah di zaman sekarang, tapi tidak demikian di tahun 70an.
Tidak hanya tema yang diangkat dalam ceritanya yang cenderung feminis, cara penceritaannya juga sepertinya melampaui zamannya, ada saat pencerita di buku ini bergantian sudut pandangnya, kemudian alurnya juga maju mundur.
Profile Image for Asmin Kurniati.
22 reviews5 followers
August 15, 2019
Saya selalu suka novel dengan setting tahun 70an. Membuat saya serasa hidup di tahun itu. Saat segalanya masih sederhana dan bahasa pun masih indah.

Raumanen ini adalah sebuah novel yang bercerita tentang hubungan cinta beda suku dan kebebasan pergaulan yang kebablasan. Kalau di tahun 70an masalah seperti ini terasa berat dan pelik. Dan kepelikan ini mengakibatkan hubungan dua manusia itu pun mulai diragukan lagi.

Plot twist dalam novel ini hampir tak terbaca sama sekali hingga di akhir-akhir novelnya. Cerita yang sangat kreatif dan informatif. Sangat layak jadi bacaan akhir minggu anda!
Profile Image for Dian Aulia.
14 reviews
February 19, 2020
Suka dengan cara bercerita Marianne Katoppo di buku ini. Beliau ga terlalu detail dalam pendeskripsian cerita, tapi bisa banget bikin pembaca mengerti dua situasi; perasaan tokoh dan keadaan di luar tokoh. Ibaratnya, ada penulis serba tahu yang menceritakan tokoh begini, kemudian ada pula poin dimana si tokoh mengungkapkan perasaannya sendiri; begini loh yang sebenarnya aku rasain, yang aku pikirkan. Banyak penulis yang gaya berceritanya begini, cuman tuh, rasanya pas aja mana yang perlu diceritakan pake pov 3, dan mana yang pov 1.
Profile Image for Zulfasari.
50 reviews6 followers
December 3, 2018
Masalah yang dialami Raumanen bisa dibilang bukan hal baru, bahkan hal yang sama bisa kita lihat di masa sekarang. Suku, adat, dan agama masih jadi hal sexy untuk diceritakan. Ironis sekaligus lucu, karena nyatanya 3 hal ini kadang belum bisa berdamai, bahkan setelah beberapa dekade dari saat Raumanen dikisahkan.

Tapi, jika ditelusuri lagi, sepertinya bukan 3 hal tadi yang menjadi penghalang cinta Raumanen. Ada atau tidak 3 hal tadi, sifat pengecut Monanglah yang jadi sumber masalah.
Profile Image for Diny Aprilisyanda.
12 reviews
April 30, 2021
Novel ini merupakan salah satu novel yang menceritakan tentang problematika adat di Indonesia, dengan menghadirkannya melalui tokoh Raumanen dan Monang yang memiliki adat yang saling bertentangan. Kisah yang disajikan pun cukup kompleks, konflik yang dihadapi Raumanen cukup pelik. Akhir cerita yang tak terduga dan bisa dibilang penulis tidak menjanjikan akhir cerita bahagia seperti yang diinginkan pembaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Aprianti.
11 reviews
April 18, 2022
Manen tidak pernah mau melakukan seks sebelum menikah, tidak mau hamil dalam situasi yang sulit, ia ingin menyelesaikan studi/berkarir. Bebas & mandiri.

Pada akhirnya, Manen bunuh diri. Menjadi potret bagaimana ia diposisikan sebagai yang paling patut disalahkan, sebagai yang paling berdosa. Tidak ada yang menolong; menjadi tempat aman/nyaman berbicara KTD dan ciuman-ciuman tanpa persetujuan yang dialaminya.
Profile Image for Afitasari Mulyafi.
8 reviews1 follower
March 16, 2020
Barangkali, cerita yang dimiliki Manen dan Monang akan terus berlipat ganda seandainya kita masih menjunjung satu apa-apa yang sebenarnya dibentuk oleh masyarakat. Keyakinan atas kebenaran tanpa cacat tentang adat. Cerita ini memiliki premis yang sederhana, tetapi dengan kejelian penulis melihat dengan dalam apa yang terjadi di sekitarnya membuat cerita ini bisa membekas.
Profile Image for Ares Reva.
63 reviews2 followers
October 7, 2020
What the hell?!!!
I am f#cking in love with this novel.
Si Manen dan Monang. Novel yang penuh dgan romansa, suku, agama, dan sedikit kisah fantasi. Bagaimana novel ini menyedot saya masuk ke dalam dan haaah, novel ini benar-benar menguras banyak emosi.
Ratingku tentu 5/5 untuk kisah romansa yang menyedihkan
Profile Image for Tann.
14 reviews
December 25, 2024
kapan kamu sadar kalau di awal raumanen gentayangan? saya gak terganggu dengan teksnya, namun saya lupa gimana gaya menulisnya. sederhanananya, seusai baca saya mikir: ada bagusnya memang Marianne Katopo mematikan Raumanen (tentunya dengan konteks yang logis). Kalau dibikin tetap hidup dan dan beranak dari lelaki batak tak betanggung jawab, bakal kacau kayanya masyarakat adat indonesia ini :)
Profile Image for Ajengp.
58 reviews7 followers
November 23, 2025
Pemeran utama pria terburuk jatuh kepada Monang.

Pria bejat, anak mami dan pengecut bukan kepalang. Sayangnya, memang ada sosok lelaki di luar sana yang punya karakter persis seperti itu.

Tapi terlepas dari karakter yang begitu menyebalkan, sastra zaman dulu memang indah.

Marianne Katoppo tau betul bagaimana caranya berpuitis dengan alur santai dan mudah dibaca.
Profile Image for Dinda Idriadhy.
55 reviews1 follower
November 9, 2018
cerita yang masih sangat relevan hingga sekarang. cinta yang terbudaki oleh adat dan selera keluarga, bahwasanya kita jarang (tidak diperbolehkan) menggunakan keinginan individu kita, bahkan untuk perkara cinta sekalipun. permasalahan yang masih saya resahkan hingga masa kini(2018)
Profile Image for Angelina Puspita.
51 reviews4 followers
July 2, 2019
Saya kira awalnya ini kumcer. Tapi ternyata, sebuah novel fiksi utuh berlatar sejarah yang bisa dibilang istimewa! Alur ceritanya yang unik dan flashback mengalir sendu diiringi guyonan pada jamannya, membuat Raumanen jadi karya tulis yang patut.
Displaying 1 - 30 of 71 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.