Kesibukan yang luar biasa padat sebagai freelancer di dunia event organiser membuat Asmara Dhianty Atmosukarto sangat memerlukan libur. Sayang, rencana tinggal rencana. Ia didapuk menjadi ketua panitia acara reuni SMP-nya. Acara itu mempertemukan Mara dengan para pengejarnya dulu: Adrian yang culun tapi kini tegap samapta sebagai petugas intel kepolisian, Gandhi yang punya kehidupan lumayan sebagai wirausaha namun tetap tampil ala gembel.
Hidup Mara makin ruwet saat Daniel Wahidin, pria ganteng kaya raya yang tak lain adalah atasan ibunda Mara di kantor, telah terkesima sejak pertemuan pertama dan kini menunjukkan gejala-gejala jatuh cinta. Seakan masih belum cukup, sesuatu yang sangat tidak keren menyerangnya, yaitu penyakit gatal-gatal yang didiagnosis dokter sebagai eksim. Di tengah himpitan semua beban, selalu hanya ada satu tempat mengadu, yaitu Mbah Atmo yang jenius dan gagah perkasa. Juga para sepupu tersayangnya dari geng Gemblongers.
I was born on May 4, 1971, on a small village called Gedongan in Magelang County, the province of Central Java, Indonesia. Following the footsteps of my father who is a comicbook artist and cartoonist, I want to be a comicbook artist and a cartoonist too. Then, something happened that change my life completely. In 1985, I became a member of Perpustakaan Keliling or Mobile Library, a service provided by the Local Government Public Library Office of Semarang to urge young people to read. The Mobile Library comes in a small truck fully loaded by books, especially teenage romance novels, children storybook, and detective novels. It arrives in my neighborhood once a week every Wednesday at 3 PM. Through the Mobile Library I read books by Agatha Christie, Enid Blyton, and Indonesian legends such as Arswendo Atmowiloto and deeply impressed by them. Soon after, I switch my future dreams from comicbook and cartoon into literature and fiction. Then I swore myself to dedicate my life as a novelist like those big names. I started my writing career as a freelance writer at Cempaka Minggu Ini family tabloid in 1992. Five years later I became an editor at Dharma news tabloid and in Tren teens tabloid in 2001. My first big break on publishing world came exactly 20 years after I enrolled to become the member of the Mobile Library. In 2005, I published my first novel, Kok Jadi Gini?Kok Jadi Gini, literally means How Come It Could be Like This in English. To this day, I’ve written five novels which are all published by PT Elex Media Komputindo and 2 more which are published by Gramedia Pustaka Utama, both in Jakarta. Now I write novels and work as an editor at Gradasi teens magazine since August 2007.
Tadinya saya berpikir kalau kisah Alin yang saya baca sebelumnya ada buku ke-3. Jadi kalau saya baca kisahnya Mara, timeline-nya bakal mundur. Ternyata nggak. Sepertinya keempat buku dari serial Gemblongers ini timelinenya sejalan.
Mara ternyata asyik. Judes, sangat teratur dan disiplin jadi ciri khasnya dia. Dia jadi seperti itu tidak lepas dari kehidupan sulitnya di masa lalu. Karakter Mara sama uniknya dengan Alin. Masih dengan bungkusan romantic comedy, novel ini bikin saya ngakak dan ga bisa berhenti baca. Saya suka sekali dengan filsafat Jalan Sunyi dan Ngulang ala Mbah Atmo. Sangat bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jujur saja, ini buku pertama karya mas Wiwien yang saya baca. Trus saya penasaran banget sama The Science of Ndhagel itu. Ternyata karya beliau juga, dan nemu linknya di wattpad. Kudu dibaca itu mah. Dan ada beberapa tokoh dalam buku ini yang diambil dari novel beliau sebelumnya. Misalnya Farah si pemilik Magelang FC atau Seto sang seniman penulis skenario.
Novel ini bukan hanya berkisah tentang Mara saja. Novel ini mengajar kita untuk memasukkan humor dalam hidup. Terutama saya nih yang hidupnya harus serba teratur kayak Mara. Saya pernah iseng ikut kuis2 di FB, ternyata otak kiri saya dominan 86% dengan poin tertinggi adalah keteraturan. Nggak heran ya banyak yang bilang saya itu (kelihatan) galak. Hehe...
Btw, saya sempat bingung dengan istilah NayalNayal. Nyari di google ga nemu. Untungnya ada BBI Joglosemar yang ngasih info kalau artinya terburu-buru. Tapi maksudnya cinta Mara NayalNayal apa sih?
UPDATE : Pas baca buku Diajeng, bagian epilog (yang sama persis dengan 3 buku lainnya), baru nemu maksudnya NayalNayal di novel ini. Tapi kalo diceritain di sini, ntar jadi spoiler. Yang penting kuncinya ada di epilog. Wes ngono wae.
Buku kedua dari seri The Gemblongers yang kubaca bahas soal kakak tertua a.k.a Mara, seorang EO freelance yang sudah punya nama di Semarang. Sepak terjangnya menangani acara sudah diakui semua orang yang kenal dan mengenakan jasanya. Tapi, ada momok yang selalu mengganggu, ketertarikan klien laki-laki pada paras dan wibawanya, meski si lelaki masih berstatus suami orang lain.
Jadi, di sini Mara digambarkan sebagai karakter cewek mandiri, the independent woman, yang sering jadi pembicaraan di media sosial. Kalau dilihat sekilas, kehidupan Mara memang tanpa cela. Orang tuanya punya usaha sukses dan sedang liburan ke luar negeri, kariernya sebagai seorang freelancer juga lancar jaya. Hampir-hampir kayak nggak butuh lagi cowok.
Tapi, ternyata masih ada aja yang ngejar sampai kepikiran. Nah, di sini masalahnya. Okelah konflik soal kliennya yang menaruh perhatian lebih ke dia, tapi soal atasan yang ditaksir sahabatnya itu agak nggak masuk. Entah ada bagian yang terpotong atau memang dimaksudkan tersirat, tapi kesan yang aku tangkap malah penulis sengaja bikin konflik Mara dengan sahabatnya ini lewat Daniel, target yang jadi ketertarikan si sahabat ini. Bukan konflik seperti pada umumnya, tapi kayak nggak jelas gitu, lho, sukanya kapan, dari sisi mana, tiba-tiba aja Mara udah worry. Kan, ya, bingung saya.
Cowok ketiga(?) yang naksir dia ini teman dan pengejar Mara masa-masa putih biru. Sosoknya yang berubah jadi lebih "macho" bikin Mara mau nggak mau notis dia juga. Di sini nggak ada kesan Mara tertarik yang gimana-gimana ke Ardi. Itu yang aku tangkap, yak. Toh, usaha Ardi juga nggak terlalu kentara di sini. Terakhir ada Gandi yang jelas bakal jadi love-interest Mara karena jelas banget perhatiannya tertuju ke siapa.
Karakterisasi Mara tuh kuat dan solid sampai akhir, cuma bagian dia lari-lari di bandara itu dengan dandanan ... itu agak membubarkan imej wanita mandirinya. Tapi, seperti beberapa bantahan imej soal wanita independen itu, kayaknya ya wajar aja kali, ya, namanya juga kesandung cinta. Karena cinta itu buta~ (you sing, you lose).
Anyway, ceritanya lumayan menghibur. Apalagi insiden Gandi di mal itu, astaga, poor him. Sori, Gan, aku ketawa xD
Sumpah, setengah buku ini ngakak banget. Page turning juga dan aku ketawa sampe ngeluarin air mata saking lucunya. Wkkwwk. Trus karakterisasi Mara juga di sini lebih kuat. Cuman itu bertahan setengah awal aja, sih. Walaupun dinamika karakter Mara nggak begtu out of nowhere juga karena jelas juga.
Cuman aku kan suka interaksi Gandhi sama Mara, trus pas setengah awal nggak ada, jdi ya rada bosenjn, trus Eksim nya juga nggak bgtu menonjol dan selewat aja dan tiba2 ilang. Trus berasa kemana-mana dengan adanya intel dkk.
Ya gimana ya, di satu sisi aku suka dengan penggambaran kesibukan Mara sebagai EO, buku ini juga cenderung lebih 'berat' dibanding Ninuk dan Alin (Alin paling ringan sih), tapi aku beneran kurang sreg sama bagaimana Mara disukai oleh 4 cowok sekaligus dan 'gangguan' yang dialami Mara (ya walaupun jujur aku mengalaminya tapi apa iya itu kelainan?). Ekspektasiku terhadap eksim yang dialami Mara juga ketinggian, kirain itu bikin lucu, ternyata engga.
BTW soal kelucuan, di buku ini kek, apa ya, terlalu berat di bab tertentu (terutama soal teori humor - ya itu lucu tapi beuh daging banget soal humor jadi bikin pusing sekaligus nambah ilmu). Mana gaya tulis buku ini cenderung lebih padet dari yang lain (makanya kusebut berat)
menghibur banget. sudah pasti menghilangkan stres dan sekedar kisah cinta2an dari kebanyakan novel YA kebanyakan. di sini kita belajar juga bahwa menyetil kesehatan mental dan menjaganya pula itu penting. kenapa novel se-koplak ini baru kubaca sekarang yaaa? dijamin anti nyesel malah bikin hari2mu yg tadinya suntuk menjadi berbagi ceria di mana aja.
Mungkin karena moodnya lagi ga bagus pas baca buku ini dan juga karena banyak kerjaan, akhirnya butuh 5 bulan cuma buat nyelesein novel yang bahkan tebalnya ga sampe 300 :))). Akhirnya pun gue juga ga terlalu suka sama ceritanya Mara, padahal gue sebenarnya berharap bakal suka sama Mara setelah baca cerita Alin yang bagi gue Mary Sue. Sayangnya, Mara ini juga sama - sama Mary Suenya sama Alin. Sebenarnya Mara ini punya flaws wicis jutek, judes, marah - marah mulu. Seharusnya sih gue suka baca tipe kayak begini karena gue juga sebenarnya seperti ini. Sayangnya cara penulisan Wiwien Wintarto yang kebanyakan tell instead showing bikin aura Mary Sue-nya Mara semakin kentara.
Konfliknya sendiri sebenarnya oke, cuma ya maap, karena kesannya Mara ini cantik banget sampe banyak cowo suka (sampai ada empat love interest!!), gue bawaannya jadi julid mulu wkwkwwk. Pun beberapa bagian yang gue anggap rada preachy, makin agak enggan buat namatin. Tapi ya gue kan penasaran sama kisah gemblongers. Plus, apa yang harus gue mulai, harus gue tamatin (tenang, tinggal satu judul lagi). Gue juga kurang merasakan aura Jawanya, padahal di Diajeng sangat kental dan bikin gue pengen ke Semarang. Di buku Mara ini gue berasa kayak baca kisah orang - orang metropolitan.
Yang agak aneh juga cara Mara mengungkapkan rasa sukanya sama cowo yang dia suka. Like, semakin dia marah dan judes, berarti itu tandanya dia suka. Gue tahu kalau yang begini ini model- model tsundere. Sayang gue ga dapat tsunderenya Mara, adanya malah kesel sendiri hahaha. Mungkin yang gue inget cuma adegan di bandara ala - ala drama masa kini, selebihnya gue lupa =)))).
Sisa satu judul lagi, yaitu Ninuk. Gue harap sih semoga jadi penutup yang manis, walaupun sebenarnya setting timeline di semua seri gemblongers ini kejadiannya di waktu yang sama.
Dibanding seri Gemblongers (Ninuk) sebelumnya, Mara terasa lebih metropolis. Tokohnya pun tampil well polished ala cewek ibukota. Mara digambarkan juga sebagai femme fatale. Yang kayanya cewek Semarang gak kaya gini-gini amat. Mara yang kerja sebagai freelancer di beberapa EO lebih makmur dibandingkan 3 sepupunya. Penampilan kinclong yang membuat pria-pria usia dua puluhan sampai lima puluhan terkesima. Satu sisi saya suka buku ini karena jatah kemunculan mbah Atmo lebih banyak. Saya suka cerita mbah Atmo soal bersedekah. Lalu juga bagaimana orang tua mengarahkan anak. Harus ada visi dari awal, bukan cuma sekedar disuruh ini itu secara verbal tapi tanpa disiapkan dari awal. Dan masih sama seperti Ninuk, cucu-cucu perempuan mbah Atmo ini semuanya pekerja keras; berupaya menggapai impian baik dari balik angkringan maupun kerja sebagai EO. Satu sisi nampaknya ada detil-detil yang krg pas. Misal seperti ortu Mara piknik dua minggu ke Singapura, HongKong, Paris, Belgia lanjut ke New York. Itu cuma dua minggu? Kayanya lbh lama di bandara dan naik pesawat dibanding menikmati liburan. Plus tiket Jakarta-Paris 5 juta? Wah.. Asyik banget kalau bisa. Satu lagi soal cerita mbah Atmo soal awal mula Pak Taufik, bapak Mara memperoleh kekayaannya. Hasil puasa mutih trus pergi ke rumah adiknya dan ketemu orang asing yg pesan tepung ikan. Agak garuk-garuk kepala saya. Terlalu ajaib. Bisa juga sih ada peristiwa seperti itu. Terlalu banyak loncatan yg ajaib dalam dunia wirausaha. Selain itu semunya oke, dan chicklit lokal ini cukup bisa dinikmati. Separo jalan baca chicklit, saya mudik. Sampai rumah buka tudung saji dan tadaaaaa ... ada gemblong di sana. 😂
ini buku kedua dari series gemblongers yang aku baca, setelah sebelumnya baca alin. ini lucu banget aslian. isinya lebih ngakak dari yg alin. aku suka semuanya yg ada di buku ini. semuanya. kekeluargaannya, aku suka mara akrab sama mbah atmo karena aku juga dulu deket sama kakekku walaupun ngga seakrab mara karena sebelum aku seusia mara kakekku udah ngga ada. aku juga suka mara, alin, diajeng, ninuk yg persaudaraan antar sepupunya yg deket. soalnya biarpun keluargaku banyak aku ngga bisa sedekat itu sama sepupu sepupuku yg lain. aku juga suka karakter mara yg bisa dibilang mirip aku. orang sering ngira jutek dan galak. tapi mara itu adalah penggambaran karakter yg aku harap jadi karakterku dimasa depan nanti. mara ini role model banget. dia punya relasi yg banyak, karena perkerjaannya. orang di sekeliling dia juga mudah untuk dekat dengan dia. aku pingin kayak mara. terus walaupun isi bukunya ngga mengarah terlalu ke romance, tapi tetep masuk. karena jadi gemes sendiri. karakternya ngga ada yg maksa. apalagi adrian. aku tertarik banget bacanya waktu dia jelasin profesi dia sebagai intel. dan waktu operasi lift macet apalagi. itu paling seru, mind blowing. aku langsung mikir pasti banyak kejadian seperti itu yang memang sengaja direkayasa. aku suka semuanya pokoknya. walaupun ya sama kayak alin, interaksi antara mara dan gandi memang kurang. aku masih butuh juga. tapi tetep suka. ini bisa jadi comfort book series yg bisa aku reread sewaktu waktu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membaca buku ini menyenangkan sekali, yaaa. Romansa para tokoh dewasa muda beneran ~anggap aja~ kayak saya. Dialognya nggak sok imut, atau malah sok tua, pas. Pernyataan perasaan dan emosinya juga sesuai kondisi, enak diikuti. Kapan kita bisa tertawa lepas juga nggak pakai intro atau semacam rekayasa.
Yang berat sih cuma percakapan antara Seto, Mara dan Budi Cakil di Warung Mbak Maret. Berat, padahal yang diomongin itu ttg humor dan syarat jadi lucu. Untungnya ada detail tentang makanan yang tersedia, jadi bobot berat percakapan ini berkurang.
Baiklah, siap-siap untuk mencari buku Mas Wintarto lagi, juga mungkin buku lain tentang Geng Gemblongers.
Dibandingkan cerita Gemblongers yang lain, kayaknya aku lebih suka yang ini deh. Suka aja sama keluarganya Mara, adek-adeknya yang sebel sama kakaknya, tapi tetep nurut. Terus orangtuanya, sumpah keren banget. Cuma masih bingung aja si eksim ini kenapa tiba-tiba muncul di Mara gitu(?) Dan menurutku eksimnya juga nggak membawa dampak ke si Mara, kirain eksimnya bakal muncul parah sampe akhirnya hal yang dibenci Mara (disukain sama cowo-cowo) udah menghilang, ternyata engga ya.
Menurutku buku ini menghibur banget dan kebetulan komedinya cocok denganku sehingga aku bisa nyelesain buku ini dalam sekali duduk.
Namun, setelah baca sampai akhir pun aku bingung buku ini alurnya mau dibawa ke mana? Tokoh Mara terlalu flat. Aku juga kurang suka gimana perkembangan hubungan Mara dan Ghidan yang terkesan tiba-tiba, kayak ga ada "feel" di hubungan mereka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
aku ketawa di bagian yang justru bukan bikin Mara ketawa, karena untuk teori tentang humornya agak mekso dan buat aku jadi terkesan ga lucu, don't know why
hampir DNF, tapi karena udah kadung beli dan pengen tau kelanjutan tentang sodara-sodaranya yang lain juga, jadi memaksakan diri finish baca ini...
Mara adalah novel ketiga yang kubaca dari seri Gemblong dan yang paling lama kubaca. Entah mengapa, kisah Mara tak seseru dan semengalir Alin dan Nunik meskipun cukup lucu. Sukses untuk penulisnya ^^