Actual rating: 3,5
Buku kedua dari seri The Gemblongers yang kubaca bahas soal kakak tertua a.k.a Mara, seorang EO freelance yang sudah punya nama di Semarang. Sepak terjangnya menangani acara sudah diakui semua orang yang kenal dan mengenakan jasanya. Tapi, ada momok yang selalu mengganggu, ketertarikan klien laki-laki pada paras dan wibawanya, meski si lelaki masih berstatus suami orang lain.
Jadi, di sini Mara digambarkan sebagai karakter cewek mandiri, the independent woman, yang sering jadi pembicaraan di media sosial. Kalau dilihat sekilas, kehidupan Mara memang tanpa cela. Orang tuanya punya usaha sukses dan sedang liburan ke luar negeri, kariernya sebagai seorang freelancer juga lancar jaya. Hampir-hampir kayak nggak butuh lagi cowok.
Tapi, ternyata masih ada aja yang ngejar sampai kepikiran. Nah, di sini masalahnya. Okelah konflik soal kliennya yang menaruh perhatian lebih ke dia, tapi soal atasan yang ditaksir sahabatnya itu agak nggak masuk. Entah ada bagian yang terpotong atau memang dimaksudkan tersirat, tapi kesan yang aku tangkap malah penulis sengaja bikin konflik Mara dengan sahabatnya ini lewat Daniel, target yang jadi ketertarikan si sahabat ini. Bukan konflik seperti pada umumnya, tapi kayak nggak jelas gitu, lho, sukanya kapan, dari sisi mana, tiba-tiba aja Mara udah worry. Kan, ya, bingung saya.
Cowok ketiga(?) yang naksir dia ini teman dan pengejar Mara masa-masa putih biru. Sosoknya yang berubah jadi lebih "macho" bikin Mara mau nggak mau notis dia juga. Di sini nggak ada kesan Mara tertarik yang gimana-gimana ke Ardi. Itu yang aku tangkap, yak. Toh, usaha Ardi juga nggak terlalu kentara di sini. Terakhir ada Gandi yang jelas bakal jadi love-interest Mara karena jelas banget perhatiannya tertuju ke siapa.
Karakterisasi Mara tuh kuat dan solid sampai akhir, cuma bagian dia lari-lari di bandara itu dengan dandanan ... itu agak membubarkan imej wanita mandirinya. Tapi, seperti beberapa bantahan imej soal wanita independen itu, kayaknya ya wajar aja kali, ya, namanya juga kesandung cinta. Karena cinta itu buta~ (you sing, you lose).
Anyway, ceritanya lumayan menghibur. Apalagi insiden Gandi di mal itu, astaga, poor him. Sori, Gan, aku ketawa xD