Hanya satu falsafah hidup yang dipegang teguh oleh Pauline Citra Atmosukarto, yaitu antiberondong. Karena itu, ketika sahabatnya, Lula, pacaran dengan Gino yang berusia delapan tahun lebih muda, Alin sulit menerimanya. Lula meradang dan memutuskan persahabatan mereka yang sudah terjalin lima tahun. Tak hanya murka, Lula juga mengutuk Alin bakal kualat.
Ternyata, sebelum kutukan kualat itu datang, Braga, mahasiswa baru di FISIP Universitas Diponegoro, kampus Alin sebagai mahasiswi senior sekaligus ketua BEM dua periode, sudah menunjukkan gejala naksir berat. Bahkan, Braga terang-terangan menyatakan perasaannya. Akankah Alin membiarkan berondong itu dekat dengannya? Apa kata dunia?
Awalnya lihat serial ini dari bukunya Retni S.B yang judulnya Ninuk. Kemudian lihat buku-buku lain dari serial Gemblongers ini, nemu kalo buku ini tokoh utamanya namanya Pauline. Kepincut dengan namanya yang sama denganku itu, jadinya ya baca buku ini duluan. Meski kayaknya buku ini yang paling terakhir dalam serial Gemblongers kalau disesuaikan dengan silsilah keluarga.
Jadi Alin ini adalah mahasiswi FISIP UNDIP angkatan 2013. Jadi ketua BEM dua periode berturut-turut, plus korban dosen pembimbing skripsi yang proyek luar kotanya bikin bimbingannya nggak lulus-lulus juga. Hobi lainnya Alin adalah jadi montir. Bahkan punya cita-cita mewarisi bengkel montir tetangganya. Anti sama berondong, karena berondong di mata Alin artinya cowok kekanak-kanakan dan tidak bertanggung jawab. Seperti Gino, pacar Lula sahabatnya yang tega menyuruh Lula memilih antara dirinya atau sahabatnya.
Tapi yang terjadi Alin justru dikejar-kejar sama berondong anak semseter I di kampusnya. Alin sendiri agak-agak gimana kalau melihat Braga. Apalagi Braga ga ada malu-malunya menyatakan sukanya. Tapi Alin jadinya kualat dong....katanya ga suka berondong.
Sepertinya serial YA Gemblongers ini bertemakan cewek tangguh tapi dibungkus dengan gaya komedi romantis. Lumayan menghibur meski ada beberapa bagian berasa absurd dan aneh. Misalnya ketika BEM FISIP Undip mau mengadakan Ospek yang manna dihadiri oleh Rektor dan ketua jurusan. Mungkin maksudnya Dekan kali ya? Soalnya jarang-jarang lho Rektor universitas gede kayak Undip hadir khusus di acara Ospeknya salah satu fakultas. Biasanya Ospek atau kalau sekarang kadang disebut Pengenalan Kampus itu diadakan serentak di semua fakultas alias se-universitas. Kalau di universitas sih wajar kalau yang buka acaranya Rektor. Tapi entah juga sih gimana kalau di Undip sendiri.
Yang kedua kemunculan Mbah Atmosukarto yang terkesan tiba-tiba kayak cenayang di tengah-tengah cerita. Hmm...mungkin simbahnya memang gitu karakternya. Ntar coba diricek dengan ketiga buku lainnya.
Typonya masih banyak. Bahkan ada judul bab yang typo.
Dan.... saya jadi penasaran sama roti kelapa yang terkenal dari Toko Roti Pauline di Ambarawa itu. Jadi pengen nyicipin.
Alin si bungsu dari empat sepupu. Alin si tomboy ketua BEM yang suka otak-atik mesin motor dan anti pacaran dengan brondong. Bedanya buku ini dengan yang lain : kisah Alin dan Braga disampaikan lebih mendalam. Ditambah sudut pandang dari Braga juga. Menarik karena bisa menjelaskan mengapa Alin yang tak suka brondong lalu berubah pikiran. Satu hal yang mengganjal : ortu Alin ngobrol soal paham komunisme yg sedang marak saat awal kenal. Padahal kalau dirunut dari usia mbah Atmo, Bapak Alin pasti masih bayi atau balita. Kalau bincang-bincang komunisme sekitar 20 th kemudian rasanya tak mungkin pada org baru kenal. Kecuali minta diciduk. 😅 Yang saya suka dari seri gemblongers ini : ceritanya saling bertautan. Tidak masalah buku mana yang dibaca duluan. Prolog dan Ending buku yang serupa dikerjakan oleh Wiwien Wintarto, juga alur yang saling berkelindan. Ide-ide cerita mereka berempat dalam menghadirkan sosok-sosok gemblongers cukup bisa diacungi jempol.
Goodness, the amount of "Mary Sue-ish", I can't even...
Setelah baca Diajeng (review bisa dibaca disini: https://www.goodreads.com/review/show...), gue putusin buat baca kisah Alin, sepupu gemblongers yang paling muda walau dari segi usia sebenarnya Alin ini lebih tua dari Diajeng. Bagi yang ga familier, di Jawa pada umumnya walau kamu lebih tua dari sepupu A, tapi karena bapaknya sepupu A ini masnya ibu/bapak kamu, kamu wajib manggil sepupu A "Kakak/Mas/Mbak". Bingung? Ga lah, gampang dimengerti ini hahaha. Yang jelas hierarki ga cuma di MLM aja, tapi di keluarga besar juga ada :))))
Gue merasa buku ini agak awkward penulisannya, ga serapi Diajeng. Pun ga terasa aroma jawa tengah yang sangat terasa kental di buku Diajeng. Pun gue bukan anak UNDIP, jadi ya ga terlalu dapat vibenya UNDIP. Tapi ini ga masalah ding. Seperti yang gue bilang di awal, Alin ini Mary Sue...bahkan jauh lebih Mary Sue daripada Diajeng X)). Ya mungkin gue julid, tapi bikin karakter cewe strong rasanya ga perlu dengan menekankan kalau tokoh ini "waduh kamu keren Mbak, kamu emang ketua BEM paling keren Mbak, dll". Jengah lama - lama bacanya. Gue paham kalau Alin ini cewek keren, ga cuma ketua BEM, tapi juga montir handal. Hanya berdasarkan feeling gue, gue ga bisa terlalu terkoneksi ke Alin ini.
Yang gue cukup sesalkan juga, dramanya khas anak sekolahan ketimbang kuliahan. Pas Alin marah2 tahu Lula dibutakan cintanya sama "berondong" pun dengan keogahan Alin ke "berondong" plus judging kalau cowo lebih muda pasti kekanakan bikin gue merasa ini kok kayak anak sekolahan banget padahal Alin udah 22 tahun. Konflik di Alin ini emang ga seberat Diajeng yang ketipu usahanya, walau begitu gue cukup ngerti kondisi Alin yang lama lulus karena gue dulu juga sama. Gue kan kuliah sampe 5,5 tahun wkwkw, walau bukan karena kesibukan jadi ketua BEM ya. Boro - boro gue jadi anak BEM, dulu lebih aktif di UKM Tae Kwon Do, jadi teman gue banyakan anak taekwondo :P.
Nilai plusnya mungkin romansanya cukup dapet. Gue emang suka sama tipe cowo yang ngejar cewe sampai lebay daripada yang sok cool. Makanya gue senengan baca Braga ketimbang Aslan yang di buku Diajeng yang menurut gue ga jelas hahaha. Gue senyum - senyum baca semua usaha Braga buat deketin Alin, meskipun Alin masih gengsi ngakuin perasaan sendiri. Cuma nih...minusnya lagi, hubungan Alin ma keluarganya ga terlalu dieksplor karena di kisahnya Alin ini emang lebih fokus ke pertemanan dia dengan Lula dan Karina. Yang mana gue juga cukup terhubung sama masalah pertemanan ini, karena gue juga pernah ada di posisi Alin yang pernah marah2in teman gue karena dia pacaran sama orang ga bener. Walau endingnya berbeda sama Alin yang akhirnya baikan sama Lula, gue malah jadi jauh2an sama yang bersangkutan XD.
Dari dua buku seri Gemblongers, so far kisah Alin memang yang terlemah, dengan konflik yang menurut cukup kekanakan, penulisan yang menurut gue agak awkward dan kurang mengalir dengan mulus kayak di buku Diajeng, suasana Semarang yang rasanya semacam "tempelan", dan kepribadian Alin yang gue rasa juga kurang baik dijabarkannya. Walau gitu ada sisi plusnya di segi romansa dan sisterhoodnya Alin. Jadi buku ini sih ga jelek - jelek amat benernya. Hanya beberapa hal kurang bikin sreg aja.
Bingung sama urutan bacanya, soalnya beberapa bagian emang bersinggungan di buku masing-masing, cuma jadinya ya ada yang harus baca spoiler di buku lain.
Alin, ketua BEM yang bahkan mendekati masa jabatan masih saja bededikasi. Montir andalan. Hobi yang antimainstream untuk seorang cewek, berperawakan mungil pula. Karena khawatir skripsinya tidak selesai, Alin dilarang menyentuh mesin lagi sampai lulus. Masalahnya, pelariannya dari stres cuma mengotak-atik mesin, kalau dilarang mau lari ke mana lagi?
Di sisi lain, Alin nggak suka banget sama berondong. Salah satu sahabatnya jadi bego setelah pacaran dengan anak SMA ingusan. Persahabatan mereka bertahan-tahun lantas mendingin karena keengganan Alin mengakui sosok pacar sahabatnya tersebut. Sampai kapan pun dia nggak akan pacaran dengan berondong. Koma. Soalnya dia mesti merevisi pernyataannya karena seorang maba terang-terangan menyatakan rasa suka padanya dan Alin merasa lama-kelamaan bakal kelepek-kelepek dengan semua usaha keras Braga.
Di sini karakter Alin menurutku konsisten, terutama di bagian dialog. Agak tomboi dan nggak terlalu memedulikan persoalan cinta. Oh, aura leader-nya juga kerasa. Banyak yang segan dengan kedudukannya sebagai ketua BEM. Tapiii, bagian jadi ketua BEM yang kelamaan bahkan sampai tumpang tindih dengan skripsi ini yang jadi pertanyaan. Biasanya pengurus maksimal semester 7 sudah harus keluar dari kepengurusan. Mungkin kebijakan kampus Alin beda kali, ya, entah, tapi agak keusik aja sama fakta ini.
Oh, interaksinya dengan Braga lumayan lucu, sih. Even di beberapa bagian kelakuan Braga cringe, tapi lucu juga, nekat sih kataku wakakak.
Intinya, buku ketiga seri ini yang kubaca cukup menghibur. Bacaan bagi yang lagi nyari ringan-ringan kocak.
wah, aku baru tau ada series gemblongers ini siang tadi dari temenku! pas dicari tau ternyata ini terbitan 2018 dan di online shop hampir ngga ada yg jual.. karena udah lama kali ya. akhirnya aku cari di ipusnas. dan ada. langsung bisa baca dan aku kelarin ngga sampe sehari. surprisingly i love this book. isinya banyak lucunya. matches my sense of humor. aku suka karakter alin yg pandai menyelesaikan masalahnya dengan tenang. walaupun untuk urusan temannya yang pacaran sama berondong ngga bisa bikin dia tenang. aku selalu penasaran sama kehidupan mahasiswa organisasi di kampus. dan ngelihat alin, kayanya aku bakal mutusin buat masuk organisasi kampus juga. aku suka ngeliat alin dan dunia dia di BEM. shes a cool leader. aku suka plot cerita tentang berondong yg menarik banget wkwkwkwkkw. karena awal yang bikin aku mutusin buat baca ini duluan dibanding 3 buku lainnya karena ini tentang berondong. agak relate, lebih tepatnya. aku juga suka berondong karena the feeling when he called me kak tuh bikin seneng aja. di buku ini, tiap baca sosok braga, aku keinget satu cowok yang selalu muncul di pikiran. iya, berondong juga. tapiiii, kenapa aku kasih bintang 4 di buku ini karena aku MASIH MERASA KURANG. sama interaksi braga dan alin yang kayak tiba tiba aja udah bilang i love you padahal sebelumnya alin masik nolak nolak dan ogah ogahan. terus tiba tiba pacaran. kemunculan braga juga lamaaa banget. padahal sinopsisnya jelas nyeritain dia kan aku pikir bakal ketemu dia lebih cepet tapi ternyata di halaman sekitar 80an baru ketemu. aku masih pingin liat interaksi mereka berdua sih terutama setelah pacaran!!
so yeah i give only ⭐⭐⭐⭐
This entire review has been hidden because of spoilers.
Konflik Alin buatku terasa lebih receh daripada Diajeng maupun Ninuk, sih. Tapi narasi dan dialog-dialognya terasa mengalir lancar, membuatnya tetap enak dan gayeng buat dinikmati. Belum lagi ditambah gombalan-gombalannya si brondong Braga pada Alin yang bikin nguakak dan nguikik puol-puolan. Nggak kalah gombal dari si Dilan, dah.
Konflik Alin lebih ke skripsinya yang tak kunjung selesai karena dosen pembimbingnya sangat perfeksionis dan suka ikut penelitian di mana-mana. Gara-gara itu dia diultimatum bapaknya, tak boleh lagi ngebengkel di Koh Herman, padahal kegiatan memperbaiki mesin adalah hiburan terkuat buatnya.
Sahabatnya, Lula, berpacaran dengan brondong, seorang penyiar radio yang masih SMA bernama Gino Rafael. Alin tak setuju karena perbedaan usia mereka yang sampai 8 tahun. Tapi Lula malah memutuskan persahabatan dan menyumpahi agar Alin kualat. Kutukan yang mewujud nyata setelah Braga, vokalis Band The Red, masuk ke FISIP sebagai mahasiswa baru dan terus menggoda Alin, sang ketua BEM dua periode.
Aku paling gak suka sama novel insta-love kayak gini wkwkw, tapi gaya penulisannya asik, enak aja buat dibaca sampai gak kerasa udah selesai dan lumayan kocak juga. Terutama kalau si Alin udah ikut gabung sama anggota BEM yang lain atau gak sengaja ketemu sama Braga. Berasa lihat cewek kasar malu-malu kucing sama cowok baik yang agak genit di komik-komik remaja.
Novel ini pas banget buat yang nyari bacaan ringan penuh hiburan dan konflik nan simpel.
Sesuai judulnya, Alin membawa-bawa teori kualat. Kucukup menikmati membacanya, ringan dan menghibur. Meskipun kalau dihitung-hitung, angkatan 2013 masih menjadi BEM di tahun 2018 agak aneh terdengar (mengingat di kampusku angkatan 2013 sudah mulai hengkang di tahun 2017). Namun, mungkin tiap kampus punya kebijakan sendiri-sendiri. Sukses untuk penulisnya ^^
Niatnya baca yang Diajeng duluan, entah kenapa malah ini yang terbuka.
Cerita tentang Alin, cewek tomboi yang malah ditaksir brondong, vokalis band terkenal pula. Dari tiga buku Geng Gemblongers, sejauh ini, porsi pewatakan dua tokoh utamanya kurang tergali. Saya malah lebih memerhatikan drama Lula sahabat Alin dengan pacarnya Gino yang anak SMA.
Seru sih ceritanya, ringan juga. Alin sedikit banyak menggambarkan aku yang juga nggak suka brondong, jadi berasa relate gitu sama karakternya, walau pas bagian mereka saling menyatakan perasaan agak geli, tapi lucu banget shshs.
Ringan dan menyenangkan...berlatar belakang Semarang dan sekitarnya...salah satu spot yang diceritakan adalah salah satu tempat favorit dan tempat janjian...