Jump to ratings and reviews
Rate this book

Chimera

Rate this book
Seorang pemuda dihilangkan ingatannya. Identitasnya diganti jadi orang lain dengan tuduhan pembunuhan dan penggelapan uang perusahaan. Polisi mengubernya dan di sela-sela pengejaran itu sang pemuda berusaha menyelidiki siapa yang menjebaknya dalam konspirasi ini.

Meski hilang ingatan, pemuda ini sering direcoki mimpi soal chimera. Ia tidak tau apa maksud dari chimera ini. Sampai keputusasaanya membuatnya bertemu dengan eks aktivis prodemokrasi. Petualangan lalu muncul di sini.

Chimera menawarkan sains fiksi dalam dunia rekaan dari Indonesia. Set-nya tidak begitu jauh, tahun 2020.

171 pages

First published January 1, 2008

3 people want to read

About the author

Donny Anggoro

4 books21 followers
Born in Jakarta, November 1976. Known in Indonesia as a poet, story writer, editor, novelist, book reviewer, and journalist. He was one of the founders of Cybersastra.net, the first literary web site in Indonesia with his colleagues, Nanang Suryadi and Yono Wardito since 1999. His works published in various journals, magazines, and newspapers: Hai, Pantau, Aufklarung, Aksara, Genta Budaya, Tradisi, Koran Tempo, Kompas, Lamin Sastra Balikpapan, and Sinar Harapan. Besides literature, a lot number of his comic review also could be found in important newspapers and magazines like The Jakarta Post, Matabaca, and Kompas. His movie critic also could be found in Rumahfilm,org,Movieland, F magazine and Layarperak.com.

In August 2002 he was invited to The International Society of Poet’s Convention and Symposium, Washington DC after his English poet “In My Time” selected in collection of poems “Letters from The Soul”. “Letters from The Soul” were published by The International Library of Poetry. In September 2002 he was invited as a juror in Khatulistiwa Literary Award from The Khatulistiwa Foundation. He was also invited as an guest editor for Tabloid SENIOR, one of the healthy lifestyle magazine were published by sub division of Kompas-Gramedia Group in November 2003 until March 2004.

Now he lives in Jakarta as a journalist, book reviewer, and freelance book editor at several publishers in Indonesia.


Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
1 (14%)
3 stars
3 (42%)
2 stars
2 (28%)
1 star
1 (14%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Monsterikan.
3 reviews4 followers
July 31, 2008
Ada batas tipis antara sebuah sains fiksi dengan sebuah fiksi yang kebetulan memakai alur waktu di masa depan. Kalau sebagai genre, sah saja memasukkan Chimera ini sebagai sains fiksi. Novel ini memang ada bagian yang menerangkan pseudo-sains sebagai penguat drama. Sebenarnya cukup potensial, penulis mampu memberi gambaran yang tidak lazim di khazanah perbukuan lokal. Tema sains fiksi sendiri termasuk jarang, walau bukan berarti tidak ada, di Indonesia. Namun, kemasannya saja kurang menarik.

Plot novel ini semudah ini:
kemunculan karakter-karakter --> konflik --> karakter-karakter bertemu --> kotak pandora dari inti cerita diceritakan (yah, diceritakan dengan terlalu gamblang) --> resolusi

Donny Anggoro dalam peluncuran buku ini di Wapres cukup memberi gambaran yang meyakinkan di selebaran yang ia buat. Tetapi, entah kenapa, promosinya lebih baik ketimbang produk yang ia promosikan. Chimera memang tidak berhasil tampil sebagai sains fiksi yang membuai pembacanya.

Terdapat banyak problem. Set cerita adalah 2020, tetapi aura bahwa dunia itu berada di 12 tahun ke depan. Mungkin maksud penulis adalah bahwa Indonesia (?) di 12 tahun ke depan tidak banyak berubah. Namun, ia juga tidak menerangkan ketidakbanyakberubahan itu sendiri. Hampir tidak ada perbedaannya antara 2008 dengan 2020 dilihat dari semesta novel yang diciptakan.

Satu artikel juga tidak terlalu tepat. Penulis memang membuat sisipan berupa artikel untuk memperkuat suasana. Tapi, ada satu artikel yang mungkin kurang riset atau gimana. Soal Golden Raspberry. Penulis mengatakan bahwa tidak ada aktor/penerima penghargaan itu yang datang. Kenyataannya ada. Tom Green pernah datang untuk menerima piala-pialanya langsung. Itu terjadi tahun 2002. Atau juga menyebut John Waters sebagai pembuat film buruk terasa kurang tepat.

Suatu sumbangsih untuk genre sains fiksi, tapi tentu ditunggu karya yang lebih kuat dan lebih serius lagi.
Profile Image for Yonathan.
Author 16 books21 followers
Read
October 11, 2008
FIKSI ‘FILM LAGA’ AKTIVIS PASCA REFORMASI


Chimera adalah karya novel moderen yang terilhami dari film-film laga moderen yang banyak ditayangkan di bioskop 21 dan diulang di televisi. Membaca Chimera terasa bahwa penulisnya adalah maniak penonton film. Adegan-adegan yang ada dalam Chimera mengingatkan pembaca pada semua yang ada di film-film laga itu. Sebutlah tentang kebingungan tokoh yang merasa dirinya adalah orang lain; sebagai penonton film Bourne Identity, penulis merasakan hal tersebut. Demikian juga sebagai penonton film James Bond, dan begitu banyak film laga yang mempunyai stereotipe pergulatan kejar-kejaran dengan mobil, pistol ditembakkan ke mobil di belakangnya, dan bom asap diledakkan. DUAR!!!! Juga pada peledakan Citraksi Laboratories di akhir cerita, sangat terilhami oleh film seperti James Bond yang perlawanan terhadap hal canggih melibatkan laboratorium raksasa.


Donny Anggoro adalah anak jaman ini, maka ilham dari film yang mempengaruhi kesusastraannya sangat sah dan merdeka. Tinggal kepiawaiannya merangkai kata yang menjadi andalan dan pertaruhan pembacaan oleh masyarakat pembaca dan ahli sastra. Juga bagaimana ia sebagai penulis merangkai dengan sejarah bangsanya. Donny mengangkat masalah sesudah kejatuhan rezim pemerintahan yang otoriter masuk masa pemerintahan baru yang harusnya bebas KKN. Jelas ini terilhami oleh rezim Suharto yang jatuh dan masuk masa pemerintahan yang semestinya bersih. Namun tidak rupanya, ada permainan pemerintah Presiden Suryo Laksono yang ingin melanggengkan kekuasaan dengan membuat ketenangan semu. Begitu banyak bekas aktivis yang vokal dikebiri hak demokrasinya. Mereka disuntik dengan serum pengacau ingatan, Chimera sehingga mereka merasa menjadi orang lain, bahkan penjahat, yang dengan mudah jadi kambing hiam perburuan oleh pemerintah

Tujuannya pembungkaman daya kritis yang bersangkutan agar pemerintah itu kelihatannya tenang, tenang dan tenang. Rupanya semua itu palsu, tak beda dengan pemerintah sebelumnya yang otoriter. Dan peran ilmuwan pencipta Chimera pun dipertaruhkan ada yang idealis dan yang materialis. Maka yang idealis merasa sudah ada pelacuran dunia iptek dengan mengabdi pada pemerintah dengan badan intelijen-nya yang memberi dana besar kepada Citraksi Laboratories. Prof Hasan, berbalik kepada idealisme. Ia yang tahu penyelewengan ilmu untuk kepentingan politik membongkar kebusukan dan kebejatan proyek raksasa ini. Dia yang turut proyek Chimera, hengkang dan bermaksud menggagalkan proyek yang makan korban para aktivis yang diubah memorinya dengan serum Chimera. Gunawan Budi Raharjo, Aldo, adalah nama-nama aktivis yang jadi sasaran dan kelinci percobaan Chimera. Dengan serum Chimera mereka 'disulap' jadi penjahat agar mudah dilenyapkan secara halus. Dan kini Profesor Hasan yang berperan mengembalikan jati diri mereka. Berhadapanlah orang Chimera yang masih setia pada proyek keji pemerintah melawan orang Chimera yang sadar dan membangkang.

Setting pada jaman Indonesia tahun 2020 memungkinkan semua teknologi itu dikembangkan dan terjadi. Namun ada suatu kelemahan terjadi, pada saat Aldo atau Gunawan atau siapa namanya yang dikacaukan ingatannya, ia bingung tentang lambang-lambang huruf Yunani yang aneh, dan tentang nama Chimera sendiri. Untuk mengatasi kebingungan ini mestinya ia dengan mudah mencari jawab. Pada masa Indonesia 2020 yang teknologi sudah begitu maju, ia malah cari-cari jawab dari kamus. Kan mestinya tinggal klik google dan tanya, semua sudah tersedia. Tapi ia malah bingung dan cari di buku kamus atau ensiklopedia, padahal jelas yang ditulis pengarang Chimera adalah kondisi yang ada internet di kantor majalah Inspirasi itu. Jadi kurang tergambarkan suasana dan jaman modern. Tapi gak bisa disalahkan, jaman memang tumpuk-tumpuk kondisi antara yang maju, berkembang dan terbelakang.

Kondisi yang diangkat Donny sebagai latar memang jelas-jelas kondisi Indonesia pada jaman pasca reformasi dan berlanjut masa sesudahnya. Nama-nama yang dipakai orang dalam tokoh di Chimera dengan mudah pembaca tahu siapa yang dimaksud sesungguhnya di Indonesia yang bukan fiksi ini. Sebutlah misalnya di Chimera ada nama pelukis Agung Kliwon, jelas itu adalah diambil dari tokoh pelukis Agus Wage, dan banyak nama lain. Sekali lagi itu adalah sah dan merdeka untuk tulisan kreatif.

Dan Donny sudah merangkai kehidupan nyata di Indonesia dalam dunia Indonesia di fiksinya. Kalau boleh beristilah tinggal mengubah nama, memindahkan kenyataan, menggabung dan merangkai dengan apa yang ada, menjadi suatu dunia fiksi sendiri. Itu memang salah satu metode menulis fiksi, juga fiksi yang ada muatan iptek di mana Chimera sendiri merupakan serum bioteknologi rekayasa genetika. Namun untuk memasukkannya dalam dunia fiksi ilmiah, ia perlu diperkuat lagi, guna mendudukan posisi genre Chimera sebetulnya di mana. Kalau menurut penulis, jelas genre yang paling kuat untuk Chimera adalah genre seperti yang dimaui oleh film-film yang dimaksud awal tulisan ini.

Selamat membaca, dan nikmati pembacaan Chimera. Temukan sendiri kenikmatan membacanya...
Profile Image for Sari Widiarti.
68 reviews3 followers
August 20, 2020
Sejak membaca bab pertama Chimera ini, langsung dibuat penasaran. Langsung masuk konflik yaitu seorang laki - laki yang terbangun dari tidur , dan di sampingnya ada mayat seorang perempuan. Dan si laki - laki itu merasa hilang ingatan! Nah, dari situlah sudah menjadi poin plus dari aku. Jadi, aku selalu merasa penasaran dan baca terus dan terus sampai menemukan jawaban.

Di dalam novel ini menggunakan POV campuran, karena menceritakan dua kehidupan, si Goen dan laki - laki yang hilang ingatan (sengaja enggak kasih namanya biar yang baca resensiku penasaran). Novel ini pada awalnya menceritakan dua kisah yang berbeda, namun memiliki satu benang merah yaitu chimera.

Untuk selengkapnya ada di http://resensibukublog.blogspot.com/2...
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.