Broadening an overly narrow definition of Islamic journalism, Janet Steele examines day-to-day reporting practices of Muslim professionals, from conservative scripturalists to pluralist cosmopolitans, at five exemplary news organizations in Malaysia and Indonesia. At Sabili, established as an underground publication, journalists are hired for their ability at dakwah, or Islamic propagation. At Tempo, a news magazine banned during the Soeharto regime and considered progressive, many see their work as a manifestation of worship, but the publication itself is not considered Islamic. At Harakah, reporters support an Islamic political party, while at Republika they practice a “journalism of the Prophet” and see Islam as a market niche. Other news organizations, too, such as Malaysiakini, employ Muslim journalists. Steele, a longtime scholar of the region, explores how these publications observe universal principles of journalism through an Islamic idiom.
Buku ini saya rasa menjadi buku yang perlu dibaca oleh mahasiswa jurnalistik, komunikasi, atau wartawan. Karena saya yang bukan bagian dari ketiganya saja merasa tercerahkan oleh bagaimana islam dan komunikasi media massa.
Pertama yang diluruskan Janet Steele adalah homogenitas dalam penelitian jurnalistik islam. Kebanyakan hanya fokus pada isu timur tengah dan lebih khusus aljazeera. Janet steele menawarkan fokus lain yang memang harus diperhatikan. Misalkan, mengapa tidak fokus ke Indonesia yang adalah negara dengan jumlah umat islam terbesar. Juga Malaysia rumpun Indonesia yang 11-12 dengan kondisi Islam di Indonesia. Namun, di beberapa halaman belakang, Steele menegaskan perbedaan dua negara tersebut dalam menerapkan islam dalam kehidupan bernegara.
Lima media massa yang diteliti: Sabili, Republika, Harakah, Malaysiakini, dan Tempo. Kelimanya punya cara pandang berbeda dalam menempatkan Islam dalam urusan jurnalistik. Meskipun, dari ketiga media massa Indoensia wartawan yang diwawancarai rata-rata mengaitkan pekerjaan dengan Islam; bermanfaat, menebarkan kabar baik dan mencegah keburukan. Misalkan Sabili mewartakan soal ideologi islam dengan sangat kokoh dan setia pada pakem. Sabili bukan milik partai oposisi ataupun partai pemerintah, jadi kebanyakan yang diusung adalah soal ideologi Islam, negara syariah, dan isu-isu timur tengah. Berbeda dengan Harakah Malaysia yang memang dimiliki oleh partai pemerintah dan dengan lantang dijadikan alat politik. Republika punya cara sendiri. Menjadikan Islam sebagai konsumen dan lahan laba.
Tempo dan MalaysiaKini saya rasa punya kesamaan. Meski kalau dari penjelasan Steele saya rasa, Malaysiakini lebih sekuler dan plural. Heeheee.....