Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, ke mana hendak pergi, melalui kenangan demi kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ke mana langkah kaki akan dibawa.

460 pages, Paperback

First published March 1, 2018

319 people are currently reading
4075 people want to read

About the author

Tere Liye

70 books13.5k followers
Author from Indonesia.

"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi TIDAK pernah menulis buku."

"1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan membuat kita naik pangkat menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan habiskan waktu jadi komentator, mulailah jadi pelaku."

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2,549 (55%)
4 stars
1,553 (33%)
3 stars
388 (8%)
2 stars
76 (1%)
1 star
36 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 507 reviews
Profile Image for Welldone Musthofa.
28 reviews21 followers
April 12, 2018
Pas banget masuk halaman terakhir kok gregetan ya!!! Serasa pengen nambah halaman lagi. wkwkwk Tolong tanggung jawab tere liye! Harus ada lanjutannya, gamau tau! hahaha

Cerita dibuka dengan penyerangan diam-diam Bujang ke Meksiko bersama Si Kembar, Salonga, dan White untuk mengambil penemuan riset Keluarga Tong. Disana, ternyata masalah muncul karena tiba-tiba ada karakter baru yang muncul, menyebut dirinya EL Espiritu, dan menghalangi langkah mereka. Yang membuat kaget, karakter ini memiliki penampilan khas seperti Zorro dan mengetahui nama asli Bujang. Sontak, pertanyaan demi pertanyaan berkelebat di dalam kepala Bujang. Siapakah dia? Kenapa dia mengetahui nama aslinya? Padahal hanya 7 orang saja yang mengetahuinya. Dan, yang membuat kaget lagi, dia menantangnya bertarung dengan tangan kosong. Kalian yang sudah membaca novel Pulang pasti tahu sendiri bagaimana tangguh dan kuatnya Bujang ini sampai-sampai mendapat gelar Tukang Pukul Nomor Satu dari Tauke Besar. Awalnya Bujang berhasil menyerang tapi lama kelamaan EL Espiritu ini berhasil menyerang balik dan hampir saja kalah kalau tidak ada polisi setempat yang datang.

Di tengah-tengah cerita nanti akan ada selingan-selingan yang akan berhasil mengaduk-ngaduk emosi pembaca. Saya aja pas baca sampe nyesek. Berasa bolong hati ini pas baca. Sedih lah pokonya. Tapi sesekali aja scene kesedihannya, nanti juga akan dihibur dengan lelucon segarnya Salonga, guru dari Bujang. Salah satunya tentang penyakit orang tua, Asam Urat yang dialami Salonga. Asli aja, pas bagian ini ngakak. Khas Indonesia banget soalnya.wkwkwk Apalagi nanti juga ada bully-an ke Bujang yang udah usia 30-an tapi belum nikah-nikah.haha Jarang-jarang kan ada novel action sekelas hollywood yang membawa khazanah khas indonesia.

Yang paling bikin terkejut adalah, adanya karakter Thomas dari Novel Negeri Para Bedebah yang berinteraksi dengan Bujang dan mendapat peran yang cukup signifikan saat di Jepang. Lagi-lagi pas bagian ini saya ngakak karena Thomas serasa protes gitu dengan penulis novelnya karena selalu dimasukkan ke penjara dengan bahasa pengandaian "kalau kisah saya dinovelkan.." Malah yang paling ngakaknya lagi pas Thomas ini seolah menyindir pencipta karakternya di novel (Kan jadi berasa ngomong sama diri sendiri ya penulisnya,wkwkwk). Pas bagian ini juga saya jadi berpikir apakah Tere Liye sengaja ingin menciptakan dunia yang sama di novel-novelnya ala-ala dunia marvel dengan avengernya itu lho.hehe Bakalan seru banget berarti ya..

Kesimpulannya, RECOMMENDED BANGET buat kamu yang suka novel action sekaligus yang menguras emosi apalagi yang suka perenungan hidup... TOP LAH pokonya! ^^
Profile Image for Rezza Dwi.
Author 1 book277 followers
June 21, 2018
Saking udah lamanya baca buku Pulang pertama kali, aku sempat lupa kalau buku Pulang itu berpotensi ada lanjutannya 😂

Begitu tau buku Pergi ini lanjutan Pulang, wah langsung penasaran. Pasalnya, Pulang itu salah satu buku action lokal yang aku suka.

Naaah... baca Pulang kan dulu ngerasa seru banget tuh, eh ternyata... pas aku baca Pergi, Pulang jadi kerasa cuma awalnya aja loh. Pembukaan gitu 😂

Petualangan Bujang di Pergi tuh lebih besar lagi konfliknya. Lebih seru, lebih menegangkan. Kalau Pulang skala nasional, Pergi skala internasional. Beuhhh 😂

Ada musuh yang lebih besar dan pertarungan yang melibatkan lebih banyak pihak 👊 Petinggi-petinggi shadow economy dunia ikut terlibat. Negara-negara lain ikutan.

Selain itu, ada rahasia-rahasia baru yang bikin penasaran. Oh, ada tokoh baru juga. Bujang punya saingan keren euy! 😂 Daaan... setelah sekian lama, akhirnya ada bumbu romance juga buat Bujang. Lucu pula 😆

Di Pergi ini lebih banyak bumbu humornya.

Walaupun ada embel-embel co-author di buku ini, menurutku isinya masih khas "Tere Liye". Entah sejauh apa co-author membantu. Aku nggak akan meributkan itu. Aku cukup menikmati bukunya aja.

Btw, endingnya bikin aku penasaran sama lanjutannya. Bakalan ada petualangan penutup kayaknya yang melibatkan arah "Pergi"-nya Bujang beserta shadow economy dunia.

Overall, 4,5⭐ buat buku ini! 😆
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
July 12, 2018
bisa pinjam di bookabuku.com yaa..
=)

baca novel ini tuch bikin nguras emosi..
menegangkan, senyum, tangis, semuanya campur aduk..
apalagi endingnya, bikin penasaran, INI ADA LANJUTANNYA NGGAK SICH..
😣
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
May 18, 2018
Sbnrnya sdh bbrpa hari menuntaskan novel ini, tp sedikit malas menulis ripiunya, sebagian karena kuciwa, sebagian lagi karena mmg hrs memaksakan diri membaca bbrp bab terakhir yg nyaris dnf. Ini novel yg (meminjam istilah George-Masterchef Aussie) idenya buaagusss, eksekusinya payah. Bite more than you can chew. Berbeda sekali dengan Pulang yg sampai sekarang masih jadi satu di antara novel favku.

*mild spoiler ahead, read on your risk*

Kisah dibuka dengan misi yang gagal, saat hendak mengambil kembali sesuatu alat apalah, bujang (yup, si tauke besar masih bertindak seperti tukang pukul biasa) n friends dipecundangi satria bergitar yg memanggilnya adik. Pulang ke markas, disambut seorang pengkhianat yg tertangkap. Nah di sini proses interogasinya kueeeereeen sekali, perlu dicontoh oleh interogator gtmo. Entah si pengkhianat yg terlalu bodoh, atau mungkin robot, sampai responnya bisa terprogram begitu. Mendengus-ya, meludah-tidak. Aku: apaaah?? But okaaayyy... move on people.

Oiya, sampai di sini, dan nanti, aku mulai terganggu dengan adanya pernyataan dalam tanda kurung yang dicetak tebal berulang-ulang kali bahwa bagian ini dan itu ada di novel Pulang. Ya ya... tapi ya mbok ditaruh di footnote atau gimana gitu, bukannya nyolok mata di tengah-tengah halaman.

Setelah ini cerita mengalir lumayan lancar. Kembali enak dinikmati. Kejadian tragis di mulut pesawat itu mengagetkan, tapi pembalasannya oke sekali (the sadist in me say yeah).

Tapi ada bbrp bagian yg menurutku aneh lagi. Pertama, adegan flashback ayah bujang dan istri pertamanya itu... diceritakan kembali, melalui surat, oleh si anak yang tak diketahui keberadaannya, kepada sang ayah. Sebentar kupikir dulu. Cerita cinta si ayah dan si ibu, diceritakan oleh si ibu kepada anaknya. Lalu ditulis oleh si anak dalam surat, lalu dikirim ke si ayah. Eh gimana?
Ngaaaapain gitu?? Si ayah mah pasti lebih tahu lha wong dia yg ngalamin toh. Buat ngingetin? Atau buat konfirmasi? Kl tujuannya buat nggambarin flashback latar belakang cerita, apa ya gak ada jalan yg lebih baik? Sudut pandang pencerita yg lebih baik, i.e. langsung dari si ibu sendiri?

Kedua, adegan Kaeda ngikut Bujang ke kel. Bratva di Rusia. Aku sadar kl ada tragedi di rumahnya, dan keadaan sedang kacau balau, dsb, tapi bukankah ini malah jd alasan yg lebih kuat untuk memberikan perlindungan secukupnya buat putri mahkota kel. Yamaguchi ini dan bukan melepaskannya sendirian, sekali lagi, SENDIRIAN alias SEORANG DIRI, bahkan tanpa satu saja bodyguard/asisten/butler terpercaya. Tapi, what ever lah. Kaeda hebat kok.

Lalu berbagai adengan laga, di Macao dan Hong Kong, dll. Cukup seru dengan twist yg oke. Tapi itulah, twist penutupnya itu... tiba2 diselesaikan ala-ala deus ex machina, tokoh villain dari buku sebelumnya, tampil lagi sebagai senjata pamungkas tak terduga. Aku: sekali lagi aaapaaaah?? Lalu Bujang dengan enak sekali pergi dan menyerahkan tampuk kekuasaan pada si eks-pengkhianat-berubah-jadi-penyelamat-hari. Eeenggg.... apaaahh??

Satu lagi, penulis mau repot-repot menjelaskan tentang kusarigama dan sai, tapi dengan santainya menuliskan pedang Jepun itu sebagai samurai. Haaaalaaah, samurai itu orangnya, pedangnya mo dibilang katana kek, wakizashi kek, daitou kek, apa aja deh, asal bukan kerancuan receh kayak gitu.

Hal lain, typo bertebaran, ya Tuhan, banyak amat typonyaaaaaa. *saingan sama obrolan grup wa joglosemar tyopo_max ini yak*

Sekali lagi, sayang, idenya sebenarnya hebat, tapi penulisannya kok menjengkelkan sih. Padahal biasanya pak pengarang ini jago banget menuliskan narasi dan mengaduk-aduk emosi pembaca secara pas. Satu lagi, di halaman id buku di depan disebut adanya Co-author?? Apa maksudnya ini??

Ah sudahlah. Selain covernya yg warna-warninya menarik bingit, aku lebih baik balik baca Pulang lagi aja.
Profile Image for Joan.
14 reviews
April 13, 2018
looking forward for Bujang vs Diego story!
Profile Image for Sharulnizam Yusof.
Author 1 book95 followers
January 11, 2019
Saya tak pernah tahu bahawa Pergi adalah sambungan pada buku Pulang sehinggalah melihat jualan kombo buku ini di PBAKL 2018.

Pergi tidak jauh berbeza dengan Pulang dari segi aksi. Kali ini, ia lebih mengantarabangsa melibatkan beberapa buah negara, dan juga perkara-perkara baru yang timbul berpunca dari kisah silam. Agam, atau Bujang, atau Si Babi Hutan punya saudara sedarah. Dan mereka pada penghujung cerita, berteka-teka sama ada bakal bergabung atau berseteru.

Tere Liye menghasilkan naskah ini dengan sangat baik. Beliau benar-benar tahu apa yang ditulisnya dan sangat menghormati tulisannya sendiri.

Cuma penutup cerita seperti terlalu mengejut. Perlantikan Basyir sebagai Tauke Besar yang baru seperti berlaku tiba-tiba. Munculnya hanya pada saat getir, dan terus mendapat kepercayaan untuk meneruskan legasi Keluarga Tong begitu saja.

Saya yakin, akan ada buku seterusnya lanjutan cerita ini.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
May 16, 2018
"Dulu kamu bertanya tentang definisi pulang dan kamu berhasil menemukannya, bahwa siapa pun pasti akan pulang ke hakikat kehidupan... Tapi lebih dari itu, ada pertanyaan penting berikutya yang menunggu dijawab. Pergi. Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut?... Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu sekarang, Bujang. Menemukan jawaban tersebut."
Sewaktu membeli buku ini, aku tidak tahu kalau buku ini adalah kelanjutan dari novel yang berjudul Pulang, yang aku baca pada tahun 2015 (baca review Pulang ). Buku pertamanya cukup berkesan untukku karena seingatku ceritanya seru dan penuh dengan adegan aksi—walaupun alur cerita buku pertamanya hanya samar-samar dalam ingatanku. Untungnya, buku ini menyegarkan kembali ingatan pembaca tentang apa yang terjadi di buku sebelumnya, termasuk merekap ulang latar belakang karakter-karakter yang berperan besar dalam jalannya cerita.

Dalam sekuel kisah Si Babi Hutan, Bujang sekarang memiliki posisi sebagai Tauke Besar Keluarga Tong setelah kematian Tauke Besar yang lama. Kemunculan sosok misterius yang menghalangi misi Bujang menjadi pembuka ceritanya. Hal tersebut membuatku tertarik dan ingin tahu lebih lanjut tentang identitas di balik sosok misterius yang mengetahui nama asli Bujang dan berhasil mengalahkannya dalam pertarungan jarak dekat. Sayang, ceritanya kemudian lebih banyak fokus tentang usaha Bujang untuk mengalahkan Master Dragon. Kedua alur cerita tersebut berjalan bersisian: di satu sisi Bujang berusaha menguak misteri di balik orang misterius yang menyebut dirinya sebagai El Espiritu, dan di saat yang sama ia berusaha membangun aliansi untuk menjatuhkan Master Dragon. Permasalahan yang pertama terasa lebih sendu dan emosional, sedangkan yang satu lagi penuh dengan adegan aksi yang menegangkan. Tapi entah mengapa, beberapa bagian dari buku ini terasa bertele-tele dan penuh dengan penjelasan yang tidak begitu relevan dengan jalannya cerita. Meski demikian, ending ceritanya membuatku kembali penasaran karena Bujang akhirnya memilih ke mana ia akan pergi. Tentu saja aku tidak bisa menceritakan terlalu detail untuk menghindari spoiler, yang jelas ia menemui El Espiritu dan mendapatkan sebuah tawaran. Akhir ceritanya seperti sengaja dibuat menggantung; entah untuk mempersiapkan buku kelanjutannya atau agar pembaca bisa mereka-reka sendiri apa yang akan dilakukan oleh Bujang selanjutnya. 🤔
"Apa sesungguhnya yang kucari dalam hidup ini? Aku akan pergi ke mana lagi?... Apakah memang langit adalah batasnya? Ternyata tidak juga. Karena segala sesuatu pasti akan ada akhirnya. Apakah aku benar-benar bahagia dengan pilihan hidupku? Apakah aku benar-benar bangga dengan seluruh yang pernah aku lakukan?"
Karakter favoritku masih tetap sama seperti saat aku membaca buku pertamanya, yaitu Salonga—guru menembak Bujang. Beberapa bagian favoritku dari buku ini melibatkan Salonga dan pembahasannya tentang filosofi kehidupan. Ia membahas tentang kehidupan mereka sebagai salah satu penguasa shadow economy yang merupakan area abu-abu. Dan baik jahatnya seseorang bergantung pada perspektif karena sesungguhnya setiap orang memiliki alasan mereka masing-masing. Ia juga menceritakan tentang perumpamaan dua petani yang menggambarkan pentingnya rasa cukup dan kemampuan untuk bersyukur dengan keadaan yang ada. Bagi kalian yang penasaran dengan perumpamaannya secara lengkap, silahkan baca sendiri bukunya 😉.

Selain itu ada kejutan yang menyenangkan yaitu kemunculan karakter Thomas (karakter utama Negeri Para Bedebahbaca review-nya disini) dalam buku ini. Negeri Para Bedebah adalah salah satu novel karya Tere Liye favoritku, yang tema ceritanya agak mirip dengan seri novel Si Babi Hutan karena Thomas juga tipe karakter anti-hero yang abu-abu. Bagi yang belum membaca buku tersebut, jangan khawatir karena kehadiran Thomas hanya muncul dalam satu adegan tertentu dan tidak berperan banyak.
"Tapi itu memang satu-satunya jalan keluar. Menyerang atau diserang. Membunuh atau dibunuh."
Secara keseluruhan, buku ini merupakan sekuel yang kurang memuaskan untukku dari berbagai macam aspek. Walaupun memiliki jumlah halaman yang cukup banyak, sebenarnya tidak terlalu banyak hal signifikan yang terjadi dan juga tidak banyak perkembangan yang dialami oleh karakternya. Selain dari misteri masa lalu keluarga Bujang yang terungkap, aku merasa aspek peperangan antar penguasa shadow economy tidak begitu menarik untukku. Buku sebelumnya jauh lebih seru dan menegangkan, menurut pendapatku secara pribadi. Meski demikian, aku tetap menikmati dengan baik penulisan Tere Liye karena sudah membaca begitu banyak karya yang ia tulis sebelumnya. Semoga di kesempatan berikutnya aku bisa lebih menikmati kisah yang ditulis oleh beliau 😊.

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2018/0...
Profile Image for rahyani.
191 reviews7 followers
January 12, 2022
Menanti kisah Bujang selanjutnya...kemana dia pergi
Profile Image for Pradita Yulianti.
33 reviews19 followers
July 13, 2018
Plotnya keren. Endingnya keren. Lebih seru daripada pendahulunya. Semoga lanjutannya cepet terbit.
Profile Image for Hisham.
9 reviews
April 15, 2018
Ke mana Bujang akan PERGI?
Adakah akan bertemu Tuan Imam?
Profile Image for Raisa Ainaa.
7 reviews
April 14, 2018
HOW ADDICTIVE THIS STORIES COULD BE!! CAN'T WAIT FOR THE NEXT SEQUEL, BUT I DON'T LIKE THE RUSSIAN GIRL WHO IS GOING TO BE HIS WIFE. I DO REALLY HOPE IT NEVER HAPPENS!
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
August 26, 2018
Dalam Pergi , walau sedikit kurang puas dengan endingnya, saya menemukan obat kekecewaan perihal novel Pulang yang beraroma Negeri Para Bedebah banget. Kedua seri novel ini ternyata memang berhubungan—meski tidak secara langsung. Lebih tepatnya, penulis melakukan cross-crossing karakter, yakni dua karakter utamanya (Thomas dan Bujang) saling dipertemukan dalam cerita yang sama. Walau kemunculan Thomas di Pergi bisa dibilang cukup sekilas, pertemuan keduanya lumayan menyegarkan. Saya jadi bisa sedikit memaklumi kenapa Pulang terasa agak mirip dengan Negeri Para Bedebah. Jika melihat ending-nya yang belum ending, kemungkinan Tereliye memang akan membuat satu seri khusus novel tentang mafia dan dunia ekonomi bayangan ini sebagaimana dia juga menulis seri fantasi Bumi.

Panas Sejak Awal
Lanjut ke cerita, Tereliye membuka novel ini dengan menggunakan konsep novel aksi popular kontemporer ala-ala Dan Brown dan Michael Chrichton, yakni dibuka langsung dengan konflik. Teknik ini digunakan kemungkinan untuk menarik minat agar pembaca langsung penasaran dari halaman awal sehingga akan lanjut di halaman berikutnya. Pembaca yang sudah terlebih dulu membaca novel Pulang langsung bisa masuk ke cerita karena mereka sudah mengenal siapa itu Bujang, White, Salonga, dan Si Kembar. Tetapi pembaca setia Tereliye yang asal-comot-buku-yang-penting-karya-Tereliye mungkin akan agak kesulitan. Pulang sebaiknya memang harus dibaca terlebih dahulu agar lebih bisa menikmati seri ini.

Dalam pertempuran pembuka ini, settingnya di Meksiko. Bujang dan kawan-kawan harus berhadapan dengan keluarga bayangan El Pacho di Meksiko dalam rangka memperebutkan sebuah mesin canggih hasil rekayasa para ilmuwan Keluarga Tong. Geng Bujang sudah hampir berhasil mengalahkan para tukang pukul El Pacho kalau saja tidak ada satu sosok bertopeng dan menyandang gitar yang tiba-tiba datang. Dalam sebuah pertandingan bela diri yang adil melawan si sosok bertopeng, Bujang terpaksa harus kehilangan kembali alat canggih tersebut. Hal lain yang tidak kalah mengagetkan, sosok bertopeng itu mengaku sebagai kakak tiri Bujang. Dia adalah anak pertama Samad.

Masa Lalu yang Mengganggu
Fokus Bujang pun terbelah. Sebagai Tauke Besar Keluarga Tong, dia kini harus menghadapi dua masalah besar. Pertama, ia bertanggung jawab menangani segala tetek benget urusan keluarga bayangan tersebut. Seperti disebutkan sebelumnya dalam novel Pulang, keseimbangan shadow economy di Asia Pasifik terancam goyah akibat tipu daya Master Dragon yang ternyata menjadi dalang di balik berbagai kejadian buruk yang menimpa Keluarga Tong. Bujang merasa harus membalaskan dendam atas kematian Tauke Besar sebelumnya, sekaligus mengembalikan lagi “kedamaian” di kawasan. Tugas berat ini masih harus ditambah dengan keinginannya untuk mencari tahu siapa sosok bertopeng yang mengaku sebagai kakaknya itu. Dua tugas besar yang sama-sama menyita perhatian.

Tidak hanya Bujang yang terganggu dengan masa lalu Samad. Saya juga merasa bagian flashback dalam Pergi ini terlampau menyita alur cerita besarnya. Saya lebih nyaman dengan flashback di novel Pulang yang dituliskan secukupnya namun bisa menambal pertanyaan-pertanyaan yang muncul di belakang tentang asal-usul ayah Bujang. Dalam Pergi , alur mundur ini muncul dalam bentuk tumpukan surat yang ditulis oleh kakak tiri Bujang. Dan, surat-surat ini muncul banyak sekali sampai-sampai menurut saya terlalu mengganggu cerita utamanya. Saya mengharapkan akan ada lebih banyak pengetahuan serta aksi dalam perusahaan ekonomi bayangan sebagaimana dalam Pulang, tetapi porsi itu hampir 40%-nya direbut oleh kakak tiri Bujang yang ternyata hanya sekilas sekali perannya.

Kemungkinan, surat-surat ini muncul untuk mengakomodasi kecenderungan romantis dari novel-novel Tereliye. Saat membaca bagian tentang surat-surat Diego kepada Samad inilah saya merasa menemukan kembali sentuhan Tereliye yang pandai banget membuat pembacanya memerah jambu dengan kisah-kisah romantisnya. Tetapi, tidak Dari awal seri Babi Hutan ini adalah tentang aksi laga dan dunia ekonomi bayangan. Ketika pembaca sudah diajak nyemplung dalam kisah-kisah aksi dan di tengah-tengah kemudian ada kisah-kisah romansa ala-ala (yang saya akui memang bagus), saya sebagai pembaca merasa agak kurang sreg. Dan kemunculan sosok Diego yang semacam jadi pembuka dan penutup pintu dalam Pergi membuat upaya membaca surat-surat panjang itu menjadi semacam “tanggung banget.”

Kurangnya Detail
Saya setuju dengan pendapat saya tentang Pergi yang sebenarnya memiliki ide cerita yang bagus tetapi sayangnya digarap dengan kurang sempurna. Bagian paling disayangkan adalah kurang detailnya adegan pertempuran yang dipaparkan—terutama saat pertarungan fisik. Dalam Pulang, saya merasakan betul bagaimana Tereliye melakukan risetnya untuk menghadirkan suatu pemandangan pertempuran yang nyata, baik pertempuran dengan tangan kosong, pertempuran pedang, hingga tembak-tembakan. Dalam Pergi , seluruh detail pertempuran yang sangat keren ini lebih sering dirangkum dengan telling ketimbang describing. Si Kembar dikisahkan bisa melempar shuriken tepat ke sasaran. White dan pasukannya dar der dor membasmi tukang pukul musuh. Tahu-tahu saja si A menang dan si B kalah.

Salah satu sisi asyik membaca novel laga adalah saat menyaksikan karakter-karakternya bertarung dalam jarak dekat. Dari sini pembaca bisa menyaksikan jurus-jurus diperagakan—lengkap dengan anggota bagian tubuh mana yang digunakan. Juga dalam pertarungan pedang, ketika si pemakai mampu memperlakukan bilah pedang itu sebagai perpanjangan dari tangannya sendiri. Dalam Pergi , banyak adegan pertarungan yang dikisahkan semata tetapi tidak digambarkan. Misalnya adegan ketika Samad berhasil menghabisi sekelompok preman di sebuah pelabuhan di Singapura. Hanya dikisahkan bagaimana Samad mampu membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut dalam waktu lima detik, sama sekali tidak ditunjukkan bagaimana dia mampu mengalahkan preman-preman itu dalam lima detik.

Lepas dari poin-poin di atas, Pergi adalah novel yang memang filmable sekali. Efek seperti menonton film laga dalam Negeri Para Bedebah dan novel Pulang berhasil disajikan dengan mulus. Seri ini juga memiliki jalinan plot yang rapi, kaya akan kalimat-kalimat quotable, serta—yang paling kece—tema besar yang sangat menarik tentang dunia shadow economy. Seri Babi Hutan bisa menjadi bacaan alternatif yang bagus untuk para pembaca muda di Indonesia selain seri-seri wattpad yang membanjir di pasaran saat ini. Selamat kepada Bujang dan kawan-kawan, cetak ulang selalu. Salam buat Salonga, tokoh favorit saya di novel Pergi .
Profile Image for Qayiem Razali.
886 reviews84 followers
December 24, 2019
59 - 2019

BUKU: Pergi
PENULIS: Tere Liye

Kesinambungan novel Pulang. Kisah Si Babi Hutan aka Bujang yang mengepalai Keluarga Tong. Kali ini misinya lebih ekstrem dan kisah hidupnya lebih tragis. Kisah lalu diselak kembali membawa dia mengenal susur galur dirinya yang sebenar. Pergaduhan demi pergaduhan, kematian demi kematian akhirnya membawa Bujang ke titik akhir. Yang menentukan hidup dan matinya.

Saya kira perjalanan kisah ini lebih tersusun dan menarik berbanding novel Pulang. Tere Liye tidak pernah gagal dalam menyampaikan ilmu melalui novelnya.
Profile Image for Agusman 17An.
80 reviews2 followers
April 30, 2018
#Pergi adalah kelanjutan dari novel #Pulang karya penulis paling produktif di Indonesia Tere Liye

Bila #Pulang bercerita tentang kemana akan pulang setelah melalui perjalanan panjang dan setelah melalui pertarungan hidup. Ya, siapapun pasti akan pulang ke hakikat kehiduapan dan Bukang akhirnya berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan.

Berbeda dengan #Pergi yang berkisah tentang menemukan tujuan, ke maka hendak pergi, melalui kenangan demi kenangan masa lalu, pertarungan hidup mati, untuk memutuskan ke mana langkah kaki akan dibawa pergi.

"Tapi Aku tahu ke mana aku akan pergi sekarang" adalah kalimat terakhir dalam novel #Pergi kalimat yang diucapkan Agam atau Bujang si Tauke Besar Keluarga Tong.

Awal novel ini menemukan Bujang dan Saudara Tirinya yang memiliki tujuan melumpuhkan seluruh keluarga Shadow Economi. Diego namanya yang telah memiliki bekal bela diri dan kemampuan yang di atas rata-rata bahkan dengan sangat mudah mengalahkan Bujang mantan tukang pukul Keluarga Tong.

Bujang dikalahkan oleh Diego yang saat itu menggunakan topeng untuk menutup wajahnya, perkelahian tangan kosong itu membuat Bujang dipermalukan di depan teman-teman terdekatnya. Bahkan prototype teknologi anti serangan siber milik Keluarga Tong berhasil di bawa pulang Diego. Dan itu harus karena sebelum mereka berduel itulah perjanjian awalnya siapa yang menang dia yang memiliki alat itu.

Novel ini memang nikmat dibaca dan sebelum membacanya memang harus membaca novel sebelumnya. Karena bila tidak maka kita akan kehilangan benang merahnya. #Pergi lebih seru dan banyak tebakan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Seperti si Basyir yang pada novel #Pulang pada akhir kisah ia berkhianat dengan Keluarga Tong, pada novel #Pergi ia kembali membantu Keluarga Tong saat Keluarga Tong di posisi sulit.

Tidak hanya pertarungan demi pertarungan yang ditampilkan di novel ini, tapi juga ada persahabatan yang mengagumkan, ikatan erat guru dan murid dan memang inti dari kisah ini adalah. Sebuah pertanyaan penting yang harus di jawab. Pertanyaan yang diajukan guru ngajinya Bujang, Tuan Imam dan guru Pistolnya Bujang, Salonga, "Ke mana kita akan pergi? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa? Apa kendaraannya? Dan kemana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Hingga terakhir pertanyaan paling penting, Kamu akan pergi ke mana?

Kutipan yang Kusuka terdapat pada halaman 86, "Begitulah rumus kehidupan. Dalam perkara Shalat ini, terlepas dari apakah orang itu pendusta, pembunuh, penjahat, dia tetap harus shalat, kewajiban itu tidak luntur. Maka semoga entah di Shalat yang ke-berapa, dia akhirnya benar-benar berubah. Shalat itu berhasil mengubahnya."


Profile Image for Fanandi Ratriansyah.
48 reviews3 followers
May 2, 2018
[SPOILER ALERT]

Sempat senang dan terkejut ketika tahu ada Thomas dari novel Negeri Para Bedebah, saya kecewa dengan cerita akhirnya. "Keajaiban datang ketika terdesak" sudah terlalu mainstream untuk menjadi akhir sebuah novel. Apalagi jika keajaiban tersebut datang bersamaan di tiga tempat berbeda. Diego datang dari atas dan langsung membunuh 40 orang plus Master Dragon tanpa kesulitan? Basyir yang kembali begitu saja?

Seharusnya Tere Liye, yang merupakan salah satu penulis favorit saya, bisa lebih dari ini. Selain itu, saya merasa endingnya seperti terburu-buru, seolah terbatas oleh halaman. Di antara semua novel Tere Liye yang pernah saya baca, baru kali ini saya merasa anti klimaks.
Profile Image for Ayu Lestari Gusman.
121 reviews
June 20, 2018
Kurang suka. Seperti makanan yang kebanyakan mecin *apaan sih*. :D
Terlalu banyak drama.
Profile Image for The Eod.
134 reviews6 followers
May 18, 2020
Aksinya lebih brutal, lebih intens. Bujang jadi Tauke Besar menambah nilai wibawanya. Bujang punya lawan selevel dia dan finally musuh besarnya terkalahkan hihihihi. Levelnya udah internasional wkwkwk

Ini endingnya termasuk gantung parah sih. Pokoknya harus keluarin lagi next booknya titik.
Profile Image for Yonea Bakla.
321 reviews36 followers
May 2, 2021
Lebih seru dari Pulang. Masa lalu Samad hadir dalam bentuk surat. Dan kerumitan hidup Bujang semakin ruwet karena bersinggungan dg keluarga shadow ekonomi lainnya.
1 review1 follower
August 20, 2018
RESENSI NOVEL PERGI: MENEMUKAN TUJUAN DARI LANGKAH SEDERHANA; PERGI.

Judul buku : Pergi
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Terbit : April 2018
Tebal buku : 455 halaman
Jenis buku : Novel

Kenangan itu melesat berkumpul di kepalaku. Mamak yang memelukku, melindungiku sambil berbisik, “Minta maaf, Bujang. Minta maaf kepada bapakmu. Berlutut…”. Hal paling membahagiakanku selama hidup di talang adalah: saat Tauke Besar menjemputku. Aku berlarian meninggalkan Bapak—bahkan saat Mamak menangis terisak tidak rela melepasku, aku tetap berlarian pergi. (hal. 54—PERGI)

Penulis berdarah kelahiran Sumatera ini berhasil menghipnotis para pembaca, menganggap kalau-kalau yang menulis adalah seorang wanita, padahal mereka keliru. Seorang alumni FE UI, yang hampir di seluruh novel-novel action-nya bertemakan ekonomi dunia, menguak apa yang tidak diugkap media publik, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tak dikenali masyarakat, itulah shadow economy, ekonomi yang bergerak di bawah bayangan—illegal.

Dia juga yang memiliki kontra dengan pemerintah, menghentikan menerbitkan seluruh bukunya, tidak akan dicetak ulang, dan buku-buku di toko dibiarkan habis secara alamiah hingga 31 Desember 2017 lalu. Keputusan yang ia ambil, mengingat tidak-adilnya perlakuan pajak kepada profesi penulis, dan tidak pedulinya pemerintah sekarang menanggapi kasus ini. Ya, penulis itu bernama Tere Liye. Menulis hal demikian di akun fanspage-nya—yang entah hari ini ke mana? Setelah berusaha mengirimkan surat-surat beralamatkan pemerintah yang tak kunjung dibalas. Saya yakin, penulis ingin buku-bukunya dijangkau pembaca—bahkan tanpa harus berurusan dengan pajak yang menggurita, lama-lama mencekik, lantas membunuh, Tere Liye melakukan ini karena peduli dengan literasi dan nasib seluruh penulis di Indonesia. Keluhan itu—setelah di-share ratusan orang—langsung ditanggapi Ditjen Pajak lewat akun twitter resminya @DitjenPajakRI, bahkan sampai membuat Menteri Keuangan, Sri Mulyani angkat bicara, memperhitungkan netto dan brutto, pajak penulis, profesi, Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)—apalah itu, saya kurang mengerti. Hingga terjadilah! Mulai bulan Desember, rak-rak buku di toko mulai sepi dari buku-buku Tere Liye.

Tepat di bulan April 2018, Tere Liye akan mencetak ulang buku-bukunya dan menerbitkan buku-buku baru, seperti KOMET, CEROS DAN BATOZAR, dan salah satunya novel PERGI ini. Kejutan yang mengagumkan, saya sampai bersyukur buku-buku penghibur saya muncul lagi di rak-rak toko. Tapi saya tidak sempat membeli novel ini di bulan itu, tentu saja karena banyaknya orang yang berburu; ingin membacanya. Saya ingat kata Tere Liye, “Saya kan menyuruh kalian untuk baca buku-buku Tere Liye, bukan membelinya.” Jadi niat saya ingin pinjam, tapi pikiran saya berubah haluan—setelah bulan demi bulan, tidak ada yang mau dipinjami—terlebih memang tidak ada kawan saya yang punya, juga tidak terlalu berminat dengan bacaan penghibur itu, betul yang dikatakan Tere, kalau zaman ini sangat sedikit manusia mencari hiburan dalam buku, mereka lebih memilih jalan-jalan—plesir—ke luar negeri, menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat—kadang tanpa tujuan. Novel ini saya rekomendasikan untuk kalian, terutama bagi para remaja yang notabene zaman ini, kehilangan arah tujuan hidupnya, lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak produktif. Sangat disayangkan bukan, kalau para remaja yang memiliki energi dan daya pikir cemerlang disibukkan dengan sesuatu atau banyak hal yang membuatnya “galau”, berambisi mendapatkan atau memenuhi keinginannya—tanpa melihat apa itu baik atau buruk untuk dirinya. Tere Liye berhasil menyinggungg ini melalui tokohnya Rambang (hal 115-PERGI).

Nah, novel ini bagi saya mendukung sekali untuk bahan pustaka tentang penggambaran manusia yang punya VISI besar, TUJUAN akhir dalam setiap langkah-langkah hidup. Novel ini tidak hanya cocok bagi kalangan remaja atau anak muda saja, tentunya orang dewasa—lebih-lebih akan membutuhkannya, karena ciri khas novel action Tere Liye adalah menunjukkan suatu hal yang seharusnya tidak dilakukan—haram atau tabu. Hanya orang yang mampu berfikir dewasalah yang akan mencernanya dengan baik. Logika selalu dibolak-balik olehnya. Ini akan membuat kerja otak kita lebih tajam. Bagus—terlebih dengan gaya bahasa yang renyah, sederhana, dan mudah dipahami.

Dalam novel ini, Bujang-lah tokoh utama yang mencari TUJUAN, yang membuat langkah kakinya PERGI menapaki jalan yang semestinya. Dikisahkan Bujang sangat bahagia PERGI dari talang—tanah Sumatera, meninggalkan bapaknya yang sering marah dan memukulinya setiap ia diajari mengaji oleh mamaknya. Saat itu, Bujang memutuskan PERGI karena rasa benci.
Tokoh Agam—sering kita sebut Bujang, berduet manis dengan saudara tirinya; Diego, anak bapaknya dari ibu yang lain bernama Catrina, orang Meksiko yang menikah dengan Samad sebelum menikah dengan Midah—ibunya Bujang. (Menarik; Samad PERGI setelah lamarannya ditolak oleh keluarga Midah, kali ini penulis ingin mengajarkan PERGI karena rasa cinta, manis)

Berhasil bergabung dengan keluarga penguasa shadow economy, Bujang akhirnya menjadi tukang pukul nomor satu—setelah Tauke Besar wafat, dia menggantikannya, menjadi kepala Keluarga Tong. Membangun tim intelligent yang berwarna bersama si kembar Yuki dan Kiko—ninja genit karena tampilannya yang sering menarik perhatian, White—seorang koki yang mahir menggunakan senjata mesin AK-47, juga Salonga—guru menembak, dan satu-satunya guru yang masih hidup.

Aku menghela napas. Perang ini tentu saja akan berakhir dengan serangan besar-besaran kepada Master Dragon, itulah ending-nya. Apalagi yang kuharapkan? Kami berdamai? Tidak mungkin, dan harganya mahal sekali. Kepala Keluarga Beijing, El Pacho, juga Tuan Muda Lin tewas. Termasuk ratusan tukang pukul lainnya, bergelimpangan terbunuh. Entah berapa lagi yang akan gugur saat perang besar meletus di Hong Kong. Tapi itu memang satu-satunya jalan keluar. Menyerang atau diserang. Membunuh atau dibunuh. Bagaimanapun transformasi Keluarga Tong, sekuat apa pun bandul Keluarga Tong dibawa pergi ke sisi yang lebih terang, kekerasan akan selalu menjadi keniscayaan. Karena itulah sejatinya keluarga penguasa shadow economy. (hal.379--PERGI)

Tak sedap rasanya kalau kisah ini kehilangan tokoh penghancur, pengusik, musuh—antagonis. Penokohan level tinggi, tokoh antagonis berpusat di Master Dragon, kepala seluruh keluarga penguasa shadow economy, yang lebih menarik adalah Yurri, tokoh antagonis—yang sengaja sepertinya—tidak terlihat batang hidungnya, hanya alat-alat bomnya saja yang dibayar Master Dragon untuk menghancurkan seluruh keluarga shadow economy—ingin menguasai dunia dengan cara licik, membuat aliansi bersama keluarga lain dan menusuknya dari belakang. Akhirnya Keluarga Tong memutuskan untuk beraliansi dengan keluarga yang netral atau benci pada Master Dragon—Keluarga Yamaguchi dan Bratva. Mereka membuat rencana untuk menyerang dan menghabisi Master Dragon di Macau dan para sekutunya; El Pacho, Keluarga Beijing dan Keluarga Lin.

Awalnya, saya enggan membaca novel bergenre action—anak perempuan mana yang suka dengan pukul-pukulan? Walau memang kebanyakan pembaca adalah perempuan, tapi tidak berarti laki-laki tak jua membaca ini. Tere Liye mampu mengemasnya dengan baik lewat cover dan judul yang menggoda; mengira kalau novel ini bukan novel action, tapi romance. Sudut pandang ‘aku’ membuat kita ikut merasakan menjadi Bujang.

Alur yang maju-mundur terkadang membuat suasana hati tertata, menerima kenyataan masa lalu untuk mengambilnya sebagai sebuah pelajaran, menyusun kembali lengkah-langkah yang akan dilakukan di masa depan. Tidak ada yang bisa menghentikkan waktu, tapi ada yang bisa mengingatkan kita pada waktu yang telah lalu—dengan menghentikan langkah sejenak, mengulas kembali, dan merenungkannya dalam-dalam. Dan tokoh Tuanku Imam bersama Salonga berhasil membuat tempo kisah Bujang ini menjadi syahdu dengan nasihat-nasihatnya yang membuat Bujang berhasil membuat keputusan, ke mana ia akan ‘pergi’?

Yang paling menarik dan saya sukai adalah saat Tere Liye menuliskan tempat-tempat besar luar negeri—didominasi suasana Meksiko, tapi sedikit sekali menyebutkan wilayah Indonesia dengan spesifik—terlepas dari para pembaca yang akan mengerti walau tak disebut secara detail. Seperti penyebutan Jakarta, Tere Liye lebih memilih menuliskannya sebagai Ibu Kota Negara. Manis sekali.
Tujuan yang jelas akan menentukkan gerak langkah kaki, tanpa adanya tujuan atau alasan yang kuat, sekuat dan sehebat apapun manusia, tentu tidak akan bergerak bukan? Bujang digambarkan memiliki VISI yang besar, menjadi Tauke Besar menggiringnya ke konsekuensi lebih rumit, dari hanya sekadar tukang pukul atau pembunuh bayaran, atau penyelesai masalah ekonomi paling rumit.

Ke mana aku akan membawa ‘pergi’ Keluarga Tong? Ke mana aku sendiri akan ‘pergi’? kalimat Tuanku Imam kembali mengiang di telingaku. (hal. 379—PERGI)

Bujang—tokoh utama—lah yang berhak memilih tujuan atau alasan PERGI-nya sebuah perkumpulan atau organisasi shadow economy tersebut. Tapi, saya lihat di-ending justru Bujang hanya menginginkan menjadi petani biasa yang bahagia—dalam bab Kisah Dua Petani hal 385, dia meninggalkan jabatan Tauke Besar—menyerahkannya pada Basyir, dan menolak tawaran saudara tirinya untuk menghancurkan shadow economy dan menjadi penguasa dunia—dengan alasan menjaga bandul keseimbangan dan PERGI ke haluan yang lebih baik.

Kejanggalan dalam sebuah cerita atau kisah bagi saya wajar-wajar saja—karena memang ini ciptaan manusia, tidak ada yang sempurna. Tapi saya tetap menikmati makna demi makna yang disampaikan, walau saya agak bingung menentukan ‘delapan penguasa shadow economy’, karena saya hanya menemukan tujuh; Master Dragon, El Pacho, Keluarga Lin, Keluarga Beijing, Bratva, Keluarga Yamaguchi, dan Keluarga Tong. Sisanya saya sulit menemukannya—mungkin dirahasiakan keberadaanya, lebih berisiko kalau massa tahu.

Tere Liye selalu menitipkan satu pesan berarti dalam setiap novel-novelnya, yang sering disebut-sebut, dan menjadi ide utama. Yang saya salut, pesan itu didapat setelah membaca beratus-ratus halaman bukunya. Dan itu yang membuat gerak membaca kita terlatih agar lebih cepat—mendapatkan ide pokoknya. Di novel PULANG, Tere Liye menitipkan pesan SETIA, kali ini Tere menitipkan pesan VISI, sebuah tujuan saat kita PERGI.

Pada kesimpulannya, “Orang yang mempunyai VISI besar harus siap disebut gila.” Mark Zuckerberg. Begitulah seharusnya manusia di muka bumi ini, mengemban satu VISI yang besar, bahkan musuh pun akan bersatu dan beraliansi untuk menghambat bahkan menghancurkan VISI besar itu. Dan VISI atau TUJUAN akan membuat langkah demi langkah kita terarah, ke mana kita harus PERGI, dan akan ke mana arah kaki kita menapak. Jadi tentukan TUJUAN atau VISI hidup kalian, kawan! (Jika kalian baca novel ini, sampaikan salamku pada Bujang, “Semoga misi-misinya berjalan lancar dengan TUJUAN-nya yang baru!”)
Poin lebihnya sebagai muslim, seharusnya hati kita tergerak dengan kalimat di awal kitab Al-quran yang memberi petunjuk untuk memilih TUJUAN PERGI; JALAN LURUS.
Profile Image for Haniva Zahra.
425 reviews43 followers
October 20, 2018
Mungkin karena saya tidak mengikuti akun media sosial Tere Liye (saya bersikeras mengakui diri saya bukan fans setianya, walau nyatanya sebagian besar buku-buku terakhir yang beliau tulis sudah saya baca), saya tidak tahu kabar buku terbaru ini. Saya akhirnya tahu karena iseng-iseng mampir ke Bukabuku.com dan menemukan buku ini. Selain buku ini juga ada buku Pulang dengan halaman muka yang lebih baik, Zahra yang galau dan sayang dengan halaman muka yang cantik akhirnya memutuskan membeli kembali buku Pulang (uh boros!).

Ceritanya masih tentang Agam, si Babi Hutan, yang sekarang menjadi Kepala Keluarga Tong. Ceritanya masih tentang shadow economy dan keluarga-keluarga yang menguasainya.
Buku ini bisa dibilang lanjutan dari buku sebelumnya, Pulang.

Buku ini mengingatkan saya dengan novel fiksi yang memang sebenarnya menarik untuk dibaca. Setelah membaca Aroma Karya milik Dee Lestari, ini adalah novel fiksi berikutnya yang saya baca. Saya menyadari, belakangan ini pilihan buku saya tidak jauh dari buku psikologi populer, puisi, atau buku anak. Sudah lama sekali tidak bersemangat membaca buku novel lagi.

Saya juga suka dengan pertanyaan besar dari buku ini, setelah ini kita akan pergi kemana?
Setiap hari kita bekerja dalam rutinitas dan ambisi, sebenarnya kita mau kemana? Pertanyaan yang membuat saya melihat relasinya dalam kehidupan saya pribadi.

Membaca buku ini, pada beberapa halamannya membuat saya teringat film Coco dan juga Black Panther loh, kamu juga kah?
Profile Image for Yunisa Nadya.
7 reviews
April 28, 2023
This review might contain "a little bit" spoiler.

Sedikit kecewa dengan novel Pergi ini, cerita dibuka dengan konflik yang apik namun menuju pertengahan terlalu banyak topik dengan eksekusi yang payah dan terlalu banyak repetisi dan kurangnya detail. Flashback mengenai masa lalu Bapak dengan istri pertamanya pun terlalu digaris-bawahi sampai alur utamanya seolah menjadi sampingan saja. Buku ini nyaris DNF, tapi aku paksa baca sampai pertemuan Maria dan Bujang jadi bikin penasaran lagi terhadap alur ceritanya (melebihi saat pertemuan Bujang dengan Diego). I give it a solid 3 stars karena overall buku ini oke, tapi jauh lebih oke buku pertamanya. Setidaknya buku Pergi masih dalam topik Bujang mencari tujuan baik hidup maupun tempat berlabuh, dan itu cukup memuaskan untuk aku menyelesaikan buku ini.
Profile Image for Khatijah.
119 reviews3 followers
January 12, 2020
Arghhhh Tere Liye buat hal lagiiiiii. Plot twist dan perkembangan watak dalam sekuel novel Pulang ini berkesan sungguh! Kita sering lupa tujuan asal kita hidup, dan ke mana harus kita pergi selepas hidup ini. Novel ini punya mesej yang ampuh sekali untuk manusia yang masih terbata bata mencari jalan hidup. 5 🌟!
Profile Image for Arfan Putra.
139 reviews3 followers
June 18, 2018
Masih menantikan petualangan Bujang dengan saudara lelakinya yang punya ambisi untuk meruntuhkan shadow economy. Semoga saja.
Profile Image for rainaya.
33 reviews1 follower
November 16, 2024
it’s good but it’s all soooooo rushed esp the ending??? like he can make more potential and buat narasi yg deeper pas chapter akhir and epilog. krn semuanya happened too fast jd nya it’s all kinda blurry and kurang make sense. and the thing i dont like also he gave so much unnecessary details just to make the character looks ‘cool’ padahal ya udh tau klo keren. kyk, iya keren iya🤷
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
895 reviews30 followers
June 1, 2018
give me the next book, bang Tere. ASAP!

ini rekor baca buku Tere Liye terlama. A(b)P aja ga sampe sehari kelar. bukan karena bosan atau ceritanya ga menarik, justru karena dari awal udah dikasih kejutan menyakitkan tentang masa lalu, dan kemudian action yg bertubitubi, serangan mendadak, terlalu banyak korban dan rasa sakit hati ((kok kayak lagi nonton infinity war?)), bikin ga berani lanjutin, takut terjadi halhal yg mengerikan selanjutnya.

mana udah degdegan duluan baca daftar isi, liat judul bab sebelum Epilogue. serius, butuh lanjutannya dan please bang next book biarin Thomas bantuin Bujang, ya ya ya? toh kalimat Diego udah membuka jalan untuk si konsultan keuangan kesayangan ini ikut perang.

nb. btw, bang Tere ambil referensi dari Ocean Eleven, ya? pas banget nih minggu depan Ocean Eight nya tayang, uwuwuwuwu Cate Blanchett.
Profile Image for Divi Jaya.
18 reviews
June 13, 2018
Pertemuan Agam (Bujang) dengan Thomas di Jepang, seperti menjadi pertanda kemana serial ini akan dibawa ke depannya. Tere Liye sepertinya tidak main-main dalam menggarap cerita ini. Dia seakan menegaskan bahwa cerita ini barulah awal dimana tokoh-tokoh utama dari berbagai novel nantinya akan dipertemukan dalam satu cerita dalam Jagad Tere Liye. Saya tidak sabar menantikan pertemuan tokoh tokoh penting seperti Bujang--dalam Novel Pulang dan Novel Pergi, Thomas--dalam Novel Negeri Para Bedebah dan Novel Negeri Di Ujung Tanduk, Zaman Zulkarnaen--dalam novel Tentang Kamu--. Bahkan boleh jadi akan ada Esok, Lail--dalam Novel Hujan, dan Raib dkk--dalam Novel Bumi, Bulan, Bintang, Matahari, Komet.
Profile Image for Mila Pavilia.
18 reviews63 followers
May 6, 2018
Okai.. welcome to Tere Liye Cinematic Universe. Wk
i'm waiting for the next avengers bang Tere! kkkkkk
Profile Image for J U N.
97 reviews
October 15, 2018
Bored its all that i can say, to much repetition, flashback, and Lack of detail. Plus its not the ends yet, oohh the first one is better.
Displaying 1 - 30 of 507 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.