What do you think?
Rate this book


460 pages, Paperback
First published March 1, 2018
"Dulu kamu bertanya tentang definisi pulang dan kamu berhasil menemukannya, bahwa siapa pun pasti akan pulang ke hakikat kehidupan... Tapi lebih dari itu, ada pertanyaan penting berikutya yang menunggu dijawab. Pergi. Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut?... Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu sekarang, Bujang. Menemukan jawaban tersebut."Sewaktu membeli buku ini, aku tidak tahu kalau buku ini adalah kelanjutan dari novel yang berjudul Pulang, yang aku baca pada tahun 2015 (baca review Pulang ). Buku pertamanya cukup berkesan untukku karena seingatku ceritanya seru dan penuh dengan adegan aksi—walaupun alur cerita buku pertamanya hanya samar-samar dalam ingatanku. Untungnya, buku ini menyegarkan kembali ingatan pembaca tentang apa yang terjadi di buku sebelumnya, termasuk merekap ulang latar belakang karakter-karakter yang berperan besar dalam jalannya cerita.
"Apa sesungguhnya yang kucari dalam hidup ini? Aku akan pergi ke mana lagi?... Apakah memang langit adalah batasnya? Ternyata tidak juga. Karena segala sesuatu pasti akan ada akhirnya. Apakah aku benar-benar bahagia dengan pilihan hidupku? Apakah aku benar-benar bangga dengan seluruh yang pernah aku lakukan?"Karakter favoritku masih tetap sama seperti saat aku membaca buku pertamanya, yaitu Salonga—guru menembak Bujang. Beberapa bagian favoritku dari buku ini melibatkan Salonga dan pembahasannya tentang filosofi kehidupan. Ia membahas tentang kehidupan mereka sebagai salah satu penguasa shadow economy yang merupakan area abu-abu. Dan baik jahatnya seseorang bergantung pada perspektif karena sesungguhnya setiap orang memiliki alasan mereka masing-masing. Ia juga menceritakan tentang perumpamaan dua petani yang menggambarkan pentingnya rasa cukup dan kemampuan untuk bersyukur dengan keadaan yang ada. Bagi kalian yang penasaran dengan perumpamaannya secara lengkap, silahkan baca sendiri bukunya 😉.
"Tapi itu memang satu-satunya jalan keluar. Menyerang atau diserang. Membunuh atau dibunuh."Secara keseluruhan, buku ini merupakan sekuel yang kurang memuaskan untukku dari berbagai macam aspek. Walaupun memiliki jumlah halaman yang cukup banyak, sebenarnya tidak terlalu banyak hal signifikan yang terjadi dan juga tidak banyak perkembangan yang dialami oleh karakternya. Selain dari misteri masa lalu keluarga Bujang yang terungkap, aku merasa aspek peperangan antar penguasa shadow economy tidak begitu menarik untukku. Buku sebelumnya jauh lebih seru dan menegangkan, menurut pendapatku secara pribadi. Meski demikian, aku tetap menikmati dengan baik penulisan Tere Liye karena sudah membaca begitu banyak karya yang ia tulis sebelumnya. Semoga di kesempatan berikutnya aku bisa lebih menikmati kisah yang ditulis oleh beliau 😊.