Bacanya sedikit demi sedikit biar rasanya pas dan nyes di hati. Tapi kalau mau dibaca sekaligus juga oke.
TR dan WJ, keduanya saya ketahui sejak meluncurkan buku puisi pertama mereka yang bertajuk Tempat Paling Liar di Muka Bumi". Masih sama dalam ekspedisi keduanya dalam bercinta, di buku ini kaka' Theo dan Weslly saling melempar puisi dan curahan hati yang bebas dinikmati & dimaknai para pembaca.
Duo asal Ambon ini begitu berasyik masyuk menyuratkan isi hati masing-masing. Satu lagi yang bikin suka buku ini adalah keduanya begitu rileks dalam berpuisi-tanpa tendensi puitis-dan di manapun mereka berada, memori akan tempat itu akan masuk dalam karyanya.
Dan jujur aja setelah membaca buku ini, pasti kita semua yang udah membaca atau mengikuti pasangan ini di medsos pasti penasaran untuk bikin puisi sendiri. Seenggaknya terpancing buat bikin puisi untuk diri sendiri atau buat yang lain. Sesederhana itu sebuah karya bisa memancing dan menginspirasi orang lain.
Berikan buku ini untuk pacarmu dan bisa dibayangkan dia akan 1000% bahagia. Bukankah bahagia itu sesederhana memberikan kado yang manis dan isinya bisa dinikmati bersama dengan si dia. Selamat membaca.
nb: bahagia itu relatif bagi masing-masing orang. Olehnya setelah menghadiahkan buku ini, temani dia beli 1 buku lain yang jadi wishlistnya atau traktir makan apa yang lagi idamkannya.
Adalah baru menulis puisi secara berbalasan, dan betul, ia layaknya percakapan. Buku TR dan WJ adalah percakapan-percakapan yang dibagi untuk pembaca. Saya orang yang mencari percakapan dan buku ini menawarkan hal baru untuk saya: pertemuan (bukan lagi antara dua, tapi tiga) lewat kata-kata. Kita semua pun tahu, setiap percakapan yang baik adalah percakapan yang tidak itu-itu saja. Percakapan yang baik adalah yang berkembang dan hal itu membutuhkan keaktifan semua pihak untuk mendengarkan dan menanggapi. Lucunya, hal itu terjadi dengan interaksi saya dengan buku ini. Perjalanan, cinta, rindu, tujuan, Ibu, Bapak, Ambon, ciuman mengarahkan saya pada manifestasi-manifestasi cinta yang beragam. Bahwasanya, cinta itu harus ditemukan setiap harinya. Karena cinta adalah sebuah kebenaran, bukan pembenaran; tak layak rasanya kalau dibuat-buat tujuannya. Ia ada, begitu saja, dan itu cukup.
Buku puisinya berhasil membuat mesem2 manis sendirian.. Btw aneh perasaan aku udah memasukkan buku ini ke dalam buku yang aku baca di tahun ini.. kenapa gak nongol ya malah keliatan belum baca =___=a
atau aku yang dodol kelupaan review buku ini di goodreads >_<
Melalui kumpulan puisi ini, aku dapat merasakan bahwa mereka saling mencintai. Ketika aku membaca lebih dalam setiap puisinya, aku merasa seperti seorang kekasih yang sangat dicintai❤️
SUKA SUKA SUKA SUKAAAAA. So far gue masih suka dan akan selalu menanti-nantikan puisi mereka. Tolong kalian periksa kadar gula darah masing2, siapa tau pada naik setelah baca buku mereka hahaha
Buku puisi selalu menarik untuk dibaca dan diselesaikan. Buku ini ditulis orang sepasang kekasih. Isinya jujur sekali. Bisa jadi buku ini tidak cocok dibaca semua orang. Akan tetapi, cocok saja bagi yang sudah memiliki kekasih. Puisi-puisi yang sepertinya ditulis setiap kali terpikirkan sesuatu. Buku ini adalah kumpulan puisi yang ditulis perlahan dan diterbitkan.
Hasil duet antara kekasih tuk menciptakan puisi. Saat membacanya, aku merasa cinta yang menggebu di antara keduanya. Puisi-puisi dalam buku ini kadang ditulis oleh keduanya, kadang oleh TR sendiri atau kadang oleh WJ sendiri. Disertai tempat, tanggal, waktu dan kadang sepenggal kalimat penjelasan tentang aktivitas yang sedang mereka lakukan ketika puisi itu berhasil diselesaikan.
Favoritku adalah Satu Titik Dua Tuju.
"Beberapa orang dipertemukan oleh tujuan, beberapa oleh perjalanan. Sahabat dipisahkan oleh tujuan, yang lain lagi oleh perjalanan.
Kau dan aku dipertemukan oleh perjalanan dan kita menjadi perjalanan yang panjang. Kau dan aku dipertemukan oleh tujuan, dan kita menjadi hanya satu di situ.
Bila nanti kita dipisahkan oleh perjalanan, aku ke kiri, kau ke kanan, berjanjilah untuk takkan berhenti sampai tapak kakimu menjejaki jejak kakiku, atau sampai jalanmu memotong jalanku dan menjadi temu meski cuma di satu titik.
Bila nanti, kasih, bila nanti kita dipisahkan oleh tujuan : kau ke barat, aku ke timur, kau dan aku akan terus berlayar sampai nanti kita mengerti bahwa satu pertemuan sesungguhnya adalah dua tujuan yang berlawanan : kau menuju aku dan aku menujumu" - Page 110
Pada mulanya, sekitar tahun 2014, aku mengagumi Theoresia Rumthe lewat blognya: Perempuan Sore. Dan makin kagum karena ceritanya tentang kekasih bernama Weslly Johannes yang sesama penyair.
Lewat kisah pertemuan-pertemuan mereka yang manis, dan puisi-puisi duet yang sederhana, aku menarik kesimpulan, sepertinya aku belum pernah mengagumi sepasang kekasih penyair begini. Dan menyukai mereka sebetulnya tak terlalu disebabkan oleh puisi, tetapi oleh kebersamaan mereka itu sendiri. Kebersamaan yang hidup dalam karya tanpa dibuat-buat.
"Cinta adalah kopi, kurangi gula dan omong kosong."
Kalimat dalam buku puisi ini yang menurutku paling mewakili mereka berdua. Membaca puisi-puisi dalam buku ini, kadang manis, kadang menggelitik, terlihat jujur, dan sepenuhnya butuh bibir. Heee?
"Kau kuat karena kau dicintai, setidaknya oleh dirimu sendiri."
Terima kasih kalian, tetap menulis bersama, dan saling mencintai dengan sederhana. 💕
aku pikir kita harus olahraga, supaya sedikit lebih sehat dan hidup sedikit lebih lama untuk melihat sebuah bangsa diselamatkan oleh ciuman-ciuman, seperti semua yang dilakukan ciumanmu kepadaku.
Rumthe membahas cinta di buku puisi ini. Sebuah cinta yang berani. Dia menulis tentang rindu, ciuman, segala macam bibir dan malam yang "kudus". Saya suka puisinya yang eksploratif, intim dan seru dibaca sembunyi-sembunyi. Tangan yang nakal, rindu yang abadi, tenggorokan yang mengalirkan sungai, romansa sepanas siang sepanjang malam membara bak amarah dan ranum mata terbuat dari cinta yang menyala. Ah, susah sekali untuk tidak mencintai buku ini 🤣
Barisan puisi dalam buku ini mungkin bisa dinikmati sebagai romansa dua insan yang sedang dimabuk cinta atau sebagai kumpulan kutipan yang bisa diselipkan sebagai penambah semarak postingan media sosial.
Namun, saya sendiri akan memaknainya sebagai perjalanan dua insan menerjemahkan serta menelusuri manis getir cinta. Di sela waktu dan perjalanan mereka, ada diksi yang mewakili rasa syukur terciptanya cinta.
Awalnya gak tau kalo ini buku puisi. Kedua nama penulisnya pun baru saya dengar. Thanks to GD akhirnya mencoba baca buku ini gara-gara gak bisa tidur padahal udah tengah malem. Membacanya langsung jadi kebanyakan rindu.
Tentang rindu dan cinta, tapi ditulis dengan puisi yang semaunya oleh kedua penulis, gak semua puitis tapi terasa kedekatan keduanya.
Definitely must have. Baik buku pertama dan buku masih minjem di iPusnas. Dan tetap pengen beli. Abisnya keren banget. Beda sama buku pertama yang perasaan cintanya terasa menggebu, sekarang berasa banget rindu yang menderu. halah! dan lebih terasa kesehariannya. Dan baru tahu fakta bahwa mba theo nih ternyata mantan penyiar selama 10 tahun. Jadi gw masih 9 tahun lagi, dan semoga bisa punya buku bagus banget seperti ini. #ngimpiajadulu
Kedua penulis merupakan sepasang kekasih yang berjauhan. Namun, yang paling memukau adalah mereka mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata. Bukan hanya antara mereka lagi, melainkan juga melibatkan perasaan pembaca. Meskipun terlalu manis, aku lumayan menikmati dengan untaian kata yang ringan. "cita-citaku sederhana saja: aku ingin menulis puisi bersama migrain kekasihku, sampai tua renta!" ~Cita-Cita:42
Buku ini berisi puisi-puisi cinta dalam jumlah yang melimpah. Sekilas terasa sekadar membahas cinta-cintaan lelaki-wanita saja. Setelah dibaca terus, ada juga kok, bait-bait cinta-cintaan selain pasangan.
Bagi yang tidak paham apa-bagaimana puisi (seperti saya), nyatanya akan selesai membaca dengan hasil "bejibun" kutipan manis dan indah tertulis di buku catatan. Biarlah sebagian besar puisi di dalam buku ini tidak kita mengerti. Mungkin memang digubah untuk sekadar dinikmati?
Buku puisi yang terbilang tipis (tidak sampai 200 halaman) tapi lama untuk diselesaikan karena beberapa kali disalip buku lain. Sepertinya puisi-puisi TR & WJ mulai menjadi salah satu favoritku.
“Rindu memang seperti barisan mobil di kemacetan. Pelan, sangat pelan, tetapi tak pernah kehilangan tujuan.” “Aku percaya semua yang ada padaku bukan milikku sehingga, bagiku, memberi sebenar-benarnya adalah memulangkan"
Awalnya sepele dengan buku ini, tapi ketika mulai membacanya membuat nagih dengan puisi-puisinya. Buku puisi paket komplit, liar, syahdu, mengajarkan keikhlasan, mengajarkan indahnya melepaskan, mengajarkan hidup berpasangan yang tak berlebihan. Tidak ada hal yg lebih bahagia dibandingkan menulis puisi bersama & sama seperti puisi, seseorang tak perlu dimengerti agar bisa dicintai.
Sayang banget sama puisi-puisi karya TR dan WJ! Bener-bener senyum-senyum sendiri dibuatnya. Salah satu puisi yang bikin senyum-senyum saat membaca adalah puisi berjudul "Pelukan".
pelukan kekasih seperti demam, hangatnya merambati sekujur diriku bila lama-lama baru berjumpa, pelukannya seperti baju kekecilan: sesak-sesak, tapi enak.
-WJ.
luv banget! ❤️
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Aku percaya semua yang ada padaku bukan milikku sehingga, bagiku, memberi sebenar-benarnya adalah memulangkan." Saya suka kata-kata itu. Juga frasa semacam pendeta indie, atau kalimat "Pensil berlogo hotel amaris" & "sediakan lengan-lengan yang ringan untuk memeluk tanpa diminta". Selebihnya, kadar puisi cintanya kemanisan Bung-Nona.