Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Rate this book
Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.

Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.

512 pages, Paperback

First published January 17, 2012

640 people are currently reading
9462 people want to read

About the author

Tere Liye

70 books13.6k followers
Author from Indonesia.

"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi TIDAK pernah menulis buku."

"1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan membuat kita naik pangkat menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan habiskan waktu jadi komentator, mulailah jadi pelaku."

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3,919 (43%)
4 stars
3,239 (36%)
3 stars
1,406 (15%)
2 stars
274 (3%)
1 star
130 (1%)
Displaying 1 - 30 of 855 reviews
Profile Image for Ozzy Ross.
43 reviews1 follower
June 30, 2012
Judul : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Tebal : 517 Halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetak : Januari 2012
ISBN : 978-979-22-7913-9


Awalnya aku ragu-ragu untuk membaca novel ini. Itu bukan berarti aku tidak suka membaca novel tapi karena novel pilihanku biasanya novel-novel suspense, fantasi atau jenis historical romance yang lagi marak akhir-akhir ini. Keraguanku semakin kuat dengan kenyataan bahwa penulis novel ini, Tere-Liye adalah penulis anak negeri. Maaf, terus terang saja belum ada pengarang dari negeri sendiri yang menjadi favoritku sampai saat ini. Tapi karena Gramedia menawarkan hadiah yang cukup menarik untuk meresensi novel ini maka akhirnya kumulai juga membacanya.
Aku benar-benar sangat menyesal membaca novel ini…….menyesal mengapa baru sekarang menyempatkan membaca novel ini. Padahal tidak dapat dikatakan terlambat juga karena novel ini diterbitkan pada Januari 2012, Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah sebuah novel yang sangat memikat. Hanya bab pertama saja yang dengan agak berat dan ragu-ragu kubaca. Andaikata aku ini sebuah komputer maka seseorang pasti telah menekan tombol refresh di menuku. Seperti itulah perasaanku saat aku berhasil merampungkan bab kedua dalam novel ini. Setelahnya, benar – benar menyegarkan , seperti menghirup udara segar nan sejuk, sama sekali tidak diperlukan perjuangan untuk menuntaskan membaca novel ini hingga bab terakhir.
Hero-ku dalam novel ini sangat menggagumkan, itu bukan karena Borno, tokoh utama dalam novel ini dapat menjadi serigala seperti hero dalam novel – novel kesayanganku tapi karena ia mau meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang karcis kapal feri setelah ia menyadari ternyata teman-teman kerjanya memanipulasi pembelian karcis dari para penumpang. Bukan juga karena Borno mempunyai gelar Duke ataupun Viscount seperti dalam novel-novel historical. Borno tidak mempunyai garis keturunan bangsawan sama sekali, tapi ia berhasil mencuri hatiku karena kesederhanaannya. Tere Liye sudah berhasil menggambarkan tokoh utamanya dengan luar biasa dan tidak berlebihan. Pembaca dengan halus akan segera menangkap bahwa tokoh utama memiliki karakter jujur, pekerja keras dan sederhana. Kejujuran Borno terlihat dari saat ia memutuskan berhenti jadi tukang karcis dermaga karena teman – teman kerjanya berbuat curang dalam menjual karcis atau saat ia bertekad menggembalikan angpau merah yang ia temukan. Kesederhanaannya tergambar jelas dengan hal-hal kecil seperti kesediaannya mengantar makanan saat disuruh tetangganya. Pembaca akan dengan mudah juga menyimpulkan bahwa Borno adalah pekerja keras dengan kenyataan bahwa ia tidak pernah menolak pekerjaan apapun yang disodorkan mulai karyawan produksi di pabrik karet, penarik karcis, perawat sarang burung wallet, meskipun yang terakhir disebutkan ini akhirnya ia tolak, bukan karena gengsi tapi karena Borno memiliki phobia terhadap burung. Selain Borno, tokoh-tokoh lain dalam buku ini juga dengan mudahnya merebut hatiku sebagai pembacanya. Ada Mei, gadis keturunan tionghoa yang berprofesi sebagai guru magang SD yang juga merupakan tokoh utama wanita dalam novel ini dan digambarkan sebagai sosok sendu menawan. Ada Pak Tua tokoh bijak yang cukup dominan di dalam cerita sebagai penasehat Borno. Ada pula Bang Togar, Koh Acong atau Cik Tulani, tetangga Borno di tepian sungai Kapuas yang memiliki karakter – karakter unik. Tokoh-tokohnya yang beraneka ragam membuat novel ini tidak menjemukan saat membacanya. Pembaca dapat menemukan cuplikan cerita dari tokoh-tokoh tersebut dalam novel ini. Kendatipun dalam porsi yang kecil tapi cukup mengesankan. Dan hebatnya lagi penulis berhasil menggabungkan cerita – cerita minor tersebut dengan alur cerita utama dengan sangat rapi sehingga tidak merusak alur utama bahkan menambah warna cerita utamanya. Seperti cerita kisah cinta Bang Togar & istrinya Kak Unai, yang asli suku Dayak. Diceritakan bagaimana Bang Togar demi menyunting Kak Unai harus rela masuk ke pedalaman hutan Kalimantan selama dua tahun demi menyunting Kak Unai. Atau kisah teman Pak tua, si Fulan & Fulani yang patut diteladani ketulusan cinta mereka dalam menghadapi kekacauan zaman dan luar biasanya lagi mereka adalah pasangan tuna netra. Kisah -kisah diluar tokoh utama ini memberi nilai plus pada novel ini, membuat pembaca tidak bosan karena terfokuskan pada cerita Borno dan Mei.

Cerita dalam Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini diawali dengan peristiwa meninggalnya bapak Borno saat Borno berusia 12 tahun karena tersenggat ubur-ubur dan bapak Borno memutuskan mendonorkan jantungnya untuk orang lain. Dari sini cerita melompat saat Borno lulus sekolah lanjutan atas, ia mulai mencari kerja. Pekerjaan pertamanya adalah di pabrik karet, ia terpaksa mencari pekerjaan lain setelah pabrik ini tutup. Selanjutnya ia diterima sebagai pemeriksa karcis, nyaris sebagai peternak burung wallet dan berakhir sebagai penarik sepit (asal kata dari speed) adalah perahu kayu berukuran lima kali satu meter yang merupakan alat transportasi penduduk sekitar sungai Kapuas. Diatas sepit inilah kisah cinta Borno dimulai, semuanya karena sepucuk surat dengan amplop merah yang tertinggal di dasar sepit. Amplop merah itu ternyata sebuah angpau, mungkin dari sinilah judul novel ini berasal. Angpau tersebut ternyata milik Mei, sang tokoh utama wanita dan diakhir cerita baru diketahui kalau angpau tersebut tertinggal tidak dengan tak sengaja. Mei memang sengaja meninggalakan angpau tersebut agar ditemukan oleh Borno. Borno dengan gigih mencari si empunya angpau tersebut, saat ia mendapati kalau angpau tersebut milik Mei, Borno merasa seperti menang lotere saja karena dari awal Borno memang sudah tertarik melihat Mei. Perkenalan mereka menurutku adalah bagian terlucu dalam novel ini. Diceritakan bahwa gara-gara ingin mengangkut Mei sebagai penumpang dalam sepitnya maka Borno setiap harinya berusaha mengantrikan sepitnya di nomor antrian 13, menurut perhitungannya antrian no 13 merupakan antrian sepit yang berpeluang paling besar dinaiki Mei yang biasanya sampai dermaga pukul 7.15. Kendatipun sudah beberapa kali mengangkut Mei sebagai penumpang, Borno belum mengetahui juga nama Mei. Pada akhirnya tokoh utama kita ini mengetahui nama Mei dengan cara pahit. Suatu ketika Borno melontarkan lelucon yang pernah ia dengar dari Pak Tua tentang sebuah keluarga yang menamai anak-anak mereka dengan nama bulan dengan tujuan sebagai pembuka pembicaraan untuk menanyakan nama Mei. Diakhir perjalanan sepit hari itu, Borno memang berhasil mengetahui nama gadis pujaannya, tidak dengan jabatan tangan dengan menyebut nama masing-masing seperti layaknya orang berkenalan. Tapi dengan nada kecut saat Mei membalas kelakar Borno dengan kata-kata “Namaku Mei, Abang. Meskipun itu nama bulan, kuharap Bang Borno tidak mentertawakannya.” Borno hanya bisa terperangah……
Dari awal perkenalan inilah maka dimulailah hubungan asmara yang penuh lika –liku antara Borno dan Mei. Kencan pertama mereka gagal total karena Borno harus mengantar Pak Tua ke rumah sakit yang tragisnya lagi diikuti dengan kepulangan Mei ke Surabaya. Borno seperti habis jatuh tertimpa saja. Memang cerita roman mereka seperti cerita roman kebanyakan banyak putus – nyambung seperti kisah roman lain tapi tenang saja tarik ulur perjalanan cinta Borno-Mei tidak membosankan. Tidak ada peristiwa yang kesannya mengada-ada supaya alur berjalan sesuai dengan kehendak pengarang. Tidak ada cerita tidak bertemunya mereka karena salah si nasib, seperti sudah ada di terminal atau bandara tapi karena berselisih jalan dan akhirnya tetap tak bersua juga. Bahkan diceritakan Borno pernah mengejar Mei ke bandara, ia berusaha memaksa masuk ruang tunggu untuk mencari Mei. Borno akhirnya ditangkap petugas keamanan bandara karena dianggap membuat rusuh tapi usahanya itu tidak sia-sia karena Mei akhirnya mengetahui kehadiran Borno walaupun itu tidak menghentikan niatnya untuk meninggalkan Pontianak, Mei hanya menukarkan tiketnya untuk penerbangan selanjutnya. Bagiku adegan ini lebih masuk akal dibanding andaikata Borno tidak bertemu dengan Mei karena ketika Borno masuk ke bandara saat itu juga Mei sedang ke toilet. Biarpun hasil akhir yang diperoleh akan sama yaitu Mei tetap meninggalkan kota Pontianak. Tapi dalam prosesnya Tere Liye dengan bagus dan cermat menempatkan adegan demi adegan sehingga pembaca dibawa dalam alur yang mulus. Dalam kisah Borno Mei juga diceritakan adanya orang ketiga, Sarah. Sarah adalah anak dari laki-laki yang menerima donor jantung dari Bapak Borno. Pertemuan Sarah dengan Borno terjadi saat Borno harus mengantar Andi, sobat karibnya ke dokter gigi. Sarahlah sang dokter gigi itu. Sarah mempunyai kepribadian yang bertolak belakang dengan Mei. Jika Mei sendu dan cenderung misterius maka Sarah sosok yang ceria dan sangat blak-blakan, apa yang ia pikirkan nyaris semua ia katakan atau langsung tersirat di raut wajahnya. Sifat periang inilah yang menarik perhatian Borno tapi semakin Borno mengenal Sarah, semakin sadar ia bahwa tak mungkin ia menjadikan Sarah lebih dari sahabat. Hubungan persahabatan mempermanis kisah Borno-Mei sendiri.
Kisah dalam novel ini sebagian besar mengambil latar di Pontianak dan sedikit di Surabaya, Tere Liye cukup akurat juga menggambarkan kota Pontianak dan Surabaya. Aku yang belum pernah ke Pontianak bisa mendapatkan gambaran cukup jelas kota yang mempunyai tugu khatulistiwa ini yang dialiri sungai terpanjang di Indonesia, sungai Kapuas. Tempat – tempat bersejarah juga dijabarkan dengan bagus seperti istana Kadariah dan tugu khatulistiwa. Begitupun halnya dengan kota Pahlawan, Surabaya. Karena aku berdomisili di kota ini, aku mengetahui tempat-tempat yang di kunjungi Borno untuk mengantar Pak Tua berobat alternatif dengan dipandu Mei yang dalam cerita menghabiskan sepuluh tahun terakhir di kota Surabaya. Meskipun ada sebuah restoran rujak cingur diperempatan Bubutan yang disebutkan oleh Pak Tua yang tidak aku ketahui keberadaannya sehingga aku bertanya ke teman-temanku, apakah mereka mengetahui restoran yang dimaksud. Bahkan ada temanku yang menawarkan menyusuri jalan Bubutan untuk mencari restoran tersebut. Setelah berdebat panjang lebar seperti anggota DPRD, akhirnya aku memutuskan bahwa restoran yang dimaksud adalah sebuah warung rujak cingur di jalan Achmad Jais yang memang sangat terkenal di Surabaya. Walaupun banyak sanggahan dari teman-temanku seperti, tempat tersebut bukan restoran tapi hanya warung atau depot yang tidak terlalu besar, atau menurut mereka jalan Achmad Jais masih jauh dari perempatan Bubutan. Tapi aku cukup puas ternyata pengarang sudah melakukan risetnya dengan cukup mendalam. Bahkan Tere Liye juga membedakan sebutan untuk alat transportasi darat antara kedua kota ini. Pengarang menyebut opelet untuk transportasi darat di Pontianak dan angkot untuk sebutan di Surabaya, dan aku tahu pasti sebutan yang terakhir juga tidak salah. Hal ini juga membuktikan bahwa pengarang memberi gambaran tidak dengan sembarangan. Dalam novel karangan Tere Liye ini, kita akan menemukan banyak hal tentang sejarah Pontianak mulai dari asal usul nama kota ini sampai ke perkembangan alat transportasi di kota Pontianak. Informasi – informasi ini dengan manis oleh penulis diselipkan disana –sini hingga tidak menganggu alur cerita. Satu lagi nilai plus untuk novel ini.
Meskipun judul novel ini jelas-jelas mengatakan akan bercerita tentang Kau (Mei), Aku (Borno) dan Sepucuk Angpau Merah. Novel ini lebih kompleks dan jauh lebih menarik dengan tokoh – tokoh lain yang mengelilingi kehidupan Borno, yang sempat kusinggung sedikit diawal tulisan ini. Tokoh-tokoh ini sebagian besar adalah tetangga Borno yang hidup di gang sempit di sepanjang sungai Kapuas. Membaca tentang mereka seperti melihat kaleidoskop yang penuh warna, mengingatkanku bahwa masyarakat Indonesia amat beraneka ragam budaya, suku ataupun agama. Hanya orang-orang yang berpikiran sempit saja yang berusaha mengkotak-kotakan bangsa besar seperti Indonesia. Pengarang mengingatkan bahwa batasan tersebut sebenarnya tidak ada sama sekali. Tetangga-tetangga Borno berasal dari latar belakang yang berbeda, seperti Koh Acong yang peranakan Cina, Cik Tulani yang Melayu, Bang Togar yang tak jelas keturunannya tapi tak ada yang menyangkal mereka adalah orang Ponti asli, lahir dan besar di pinggir sungai Kapuas. Saling mendukung saat salah satu ditimpa musibah, bahkan sepit Borno pun adalah hadiah dari mereka berempat & sumbangan sukarela seluruh warga. Ikut bahagia saat yang lain mendapat nasib baik ataupun rejeki lebih. Sebuah gambaran masyarakat yang sederhana, hidup dengan penuh kejujuran serta kerja keras. Cerminan masyarakat kita yang mungkin akhir-akhir ini terlupakan dengan semakin maraknya kasus-kasus korupsi di televisi. Kehidupan yang patut diteladani. Belum lagi karakter teman Borno seperti Andi dan Sarah. Andi teman Borno mulai bayi dan Sarah teman yang Borno temukan saat ia sudah dewasa. Persahabatan mereka semakin mempertegas bahwa batas – batas duniawi benar – benar tidak diperlukan untuk membentuk ikatan pertemanan. Sarah yang seorang dokter gigi tidak merasa rendah berteman dengan Andi yang montir bengkel atau Borno yang berprofesi sebagai penarik sepit. Begitupun Mei, calon sarjana pendidikan yang tidak mempersoalkan pendidikan Borno yang hanya tamat sekolah menengah atas. Hal – hal yang tidak dianggap penting bagi tokoh – tokoh ini. Ini juga yang membedakan novel ini dengan novel roman lain, dimana novel lain sengaja mem-blow up masalah perbedaan – perbedaan seperti tersebut diatas. Di sini Liye dengan luar biasa mengikis habis masalah tersebut, menjadi sesuatu yang tidak penting, bukan mengurangi isi novel ini tapi malah menambah semarak nodan aku pribadi sangat setuju dengan pendapat pengarang. Satu poin lagi kenapa novel ini layak dibaca.
Banyak hal yang membuatku suka membaca novel ini tapi sebenarnya yang membuatku benar – benar jatuh cinta adalah karena perkembangan karakter Borno. Dalam buku setebal 517 halaman ini dapat kita ikuti dengan jelas perkembangan tokoh Borno, yang awalnya hanya pemuda ingusan lulusan SMA hingga menjadi pemilik dua bengkel besar. Hubungan Mei dan Borno memang putus nyambung seperti layaknya cerita roman lain tapi selama masa itu Borno belajar menjadi lebih dewasa, lebih kuat dan tidak pernah menyerahkan nasibnya seratus persen ke tangan sang takdir, kendatipun Pak Tua menasehati untuk agar Borno menyerahkan semua urusan jodohnya kepada takdir tapi Borno tidak pernah berhenti untuk berusaha. Suatu ketika saat ia harus mengantar Pak tua berobat ke Surabaya, Borno mati-matian berusaha menemukan alamat Mei mulai dengan cara mendatangi kepala sekolah tempat Mei magang hingga menelepon semua orang yang terdaftar dengan nama Sulaiman atau Soelaiman di buku telepon, ini karena nama keluarga Mei adalah Sulaiaman. Dan ternyata Pak Tua lah yang benar karena semua usaha Borno itu tidak membuahkan hasil. Borno pada akhirnya memang menemukan Mei di Surabaya bahkan Mei memandu Borno dan Pak Tua keliling kota Surabaya. Tapi bertemunya Borno dengan Mei bukan hasil usahanya yang pantang menyerah itu tapi benar – benar atas belas kasihan nasib, Mei bertemu Borno saat Mei mengantar neneknya berobat ke tempat yang sama dengan Pak Tua. Tuhan kadang memang bekerja dengan cara yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya. Terkadang Tuhan memberi kita sesuatu dengan mudah tanpa usaha yang berarti atau seringkali Tuhan mewajibkan kita berusaha jatuh bangun terlebih dahulu untuk sesuatu yang kita inginkan agar saat kita memperolehnya akan dapat kita syukuri dengan sepenuh hati. Inilah yang terjadi pada Borno saat Mei kembali ke kota Pontianak, Mei tiba-tiba saja meminta Borno untuk tidak menemuinya lagi tanpa alasan yang jelas. Mei bahkan tidak mau lagi berangkat ke tempat kerjanya dengan menumpang sepit Borno. Borno dengan keras kepala mendatangi rumah Mei hampir setiap hari untuk bertemu dengan gadis itu. Tentu saja Mei tetap menolak untuk bertemu. Tidak kehilangan akal Borno meninggalkan pesan ke bibi pengurus rumah Mei. Bagaimana aku tidak akan jatuh hati kepada tokoh utama novel ini, saat sang tokoh mencintai dengan begitu gigih memperjuangkan cintanya meskipun sepertinya tanpa harapan. Borno benar-benar telah memberi tanpa batas, bukan secara materi, karena jelas Mei lebih kaya dari dia. Waktu, perhatian serta pemahaman akan Mei itulah yang ia berikan tanpa batas. Seperti lagi – lagi nasehat Pak Tua pada Borno dan Andi, “Cinta adalah perbuatan, kau selalu bisa memberi tanpa sedikitpun rasa cinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi.”
Bagaimana akhir hubungan Borno dengan Mei, kenapa Mei yang awalnya menerima perhatian dan cinta Borno berubah 180 derajat, dan misteri apakah gerangan yang tersimpan dalam angpau merah temuan Borno, semuanya dapat kita temukan dalam novel ini. Sebuah kisah sederhana tapi penuh warna yang sangat sayang untuk dilewatkan……….
Profile Image for Uthie.
326 reviews76 followers
October 29, 2012
WARNING : Reviewnya panjang. Sepanjang Jalan Kenangan Sungai Kapuas.

Begitu banyak petuah tentang kehidupan yang dituturkan dari mulut ke mulut secara turun-temurun. Konon, ada empat hal yang sudah menjadi ketetapan manusia, yang mereka katakan sebagai takdir. Jodoh, pertemuan, kematian, dan rejeki. 

Takdirlah yang menyebabkan Borno bertemu gadis manis sendu menawan yang menumpang sepitnya pagi itu. Tak pernah sekalipun Borno pernah berpikir jika akhirnya mengemudikan sepitlah yang menjadi penopang hidup. Setelah pada usia dua belas tahun ditinggal Bapak yang tewas karena tersengat bisa ubur-ubur, Borno hidup hanya dengan Ibu. Wasiat terakhir Bapak yang melarangnya menjadi pengemudi sepit benar-benar dipegangnya teguh.

Selepas SMA untuk membantu meringankan beban Ibu, Borno bermaksud untuk bekerja walau hanya dengan bekal ijazah SMA dan tekad yang kuat. Berbagai pekerjaan dilakoninya hingga menjadi penjaga karcis di pelabuhan feri, yang membuat Bang Togar, tetangga sekaligus Ketua Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta berang dan mengeluarkan ultimatum yang melarang pengemudi sepit lain mengantar Borno ke seberang sungai. Idealisme akhirnya mengantarkan Borno pada keputusan untuk berhenti menjadi petugas penjaga karcis. Ia pun hanya kerja serabutan.
"Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bisa disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, dpikirnya tidak pantas dengan ijazah yang dia punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas." (Pak Tua - p. 49)
Tak betah melihat Borno kerja serabutan, Ibu, Pak Tua, Koh Acong, Cik Tulani, berusaha membujuk Borno agar menjadi pengemudi sepit. Dengan berat hati Borno melanggar wasiat Bapak seraya meneguhkan hati untuk menjadi orang yang baik dan senantiasa bekerja keras, meski hanya menjadi pengemudi sepit.


Setelah melewati "ospek" ala Bang Togar yang sangat tidak masuk akal, Borno pun resmi menjadi pengemudi sepit. Di penghujung hari, ia mendapati sepucuk surat bersampul merah, dilem rapi, tanpa nama yang tergeletak di bawah papan melintang di bangku paling depan. Borno hanya ingat, orang yang duduk di bangku paling depan adalah seorang gadis manis berwajah sendu menawan.

Mei, gadis manis berwajah sendu menawan itu pun menjadi penumpang tetap sepit Borno. Sepit yang selalu antri pada urutan ke tiga belas. Namun mendadak Mei menghilang tanpa kabar. Borno menemukannya secara tak sengaja berbulan-bulan kemudian di Surabaya bersama Pak Tua.

Lagi-lagi ini menjadi urusan takdir. Tak hanya Mei gadis muda yang Borno kenal. Saat mengantar Andi ke praktek dokter gigi, sahabat kental sejak dari buaian, Borno mengenalnya. Sarah, gadis yang ternyata memegang erat cerita masa lalu yang berkaitan dengan jalan hidup Borno sekarang. Namun ternyata, tak hanya Sarah yang berkaitan dengan masa lalu Borno. Mei, gadis manis sendu menawan yang tanpa permisi menempati hati Borno pun punya kisah di masa lalu Borno. Takdir memang punya cara merangkai cerita panjang kehidupan satu dengan yang lain dalam jalinan jodoh, rejeki, pertemuan dan kematian.

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, adalah sebuah cerita sederhana tentang takdir yang terus mengalir maju, tak ubahnya seperti aliran Sungai Kapuas. Sungai Kapuas yang menjadi lokasi penting dalam cerita ini, tentulah berada di Provinsi Kalimantan Barat dengan ibukotanya Pontianak. Siapa yang dapat menduga jika kota yang dilalui oleh garis imajiner yang membelah bumi menjadi dua bagian, mendapatkan namanya dari sebuah legenda tentang makhluk halus yang ditaklukkan oleh Sultan Abdurrahman Alqadrie (p. 195).

Dengan alur cerita yang maju mundur serta pemakaian sudut pandang orang pertama, dalam hal ini Borno membuat pembaca dapat lebih menyelami karakter Borno dan para tokoh lainnya. Borno yang digambarkan sebagai pemuda berhati paling lurus di sepanjang tepian Sungai Kapuas begitu konsisten menjaga kelurusan hatinya. Menghormati orang yang berumur jauh diatasnya seperti Ibu, Pak Tua, Koh Acong, Cik Tulani, Pak Daeng, Bang Togar, Bang Jauhari. Sayang pada teman sebaya dan menghormati wanita.
"Itu tidak disengaja, bodoh." Aku melotot. Enak saja, aku tidak akan merendahkan kehormatan wanita dengan memegang-megang tangannya. (p. 117)
"Aku malu sudah memegang tangannya. Itu dosa." (p. 118)
Pak Tua, meski bukan tokoh utama dalam kisah ini, namun kehadirannya begitu penting dan ditunggu-tunggu. Tak ubahnya seperti petuah-petuah beliau disetiap perjumpaannya dengan Borno.

"Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta. Tapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi." (p. 168)
"Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau sampai pulang ke Pontianak kau tidak bertemu dengan gadis itu, berarti bukan jodohmu. Sederhana bukan?" (p. 194)

Tokoh-tokoh baik tokoh utama ataupun tokoh pendamping yang memiliki karakter dan suku yang berbeda  seperti menjadi gambaran akan keanekaragaman yang dimiliki Indonesia. Bahkan suku pedalaman Kalimantan yaitu suku Dayak dengan segala mitos tentang kekejaman mereka pun mendapat porsi. Meski dari asal yang berbeda, namun mereka semua tetap menjadikan Pontianak sebagai rumah dan kampung halaman yang mereka kenal.

“Walau tiga suku bangsa ini punya kampung sendiri, kampung Cina, kampung Dayak, dan kampung Melayu, kehidupan di Pontianak berjalan damai. Cobalah datang ke salah satu rumah makan terkenal di Pontianak, kalian dengan mudah akan menemukan tiga suku ini sibuk berbual, berdebat, lantas tertawa bersama−bahkan saling traktir. ‘Siapa disini yang berani bilang Koh Acong bukan penduduk asli Pontianak?’ demikian Pak Tua bertanya takzim.” (p. 195)

Bagi saya, profesi pengemudi sepit yang dilakoni Borno seperti melihat sosok para pemuda pengemudi sepit di daerah saya. Bedanya, jika sepit yang dimiliki Borno adalah perahu kayu bermesin tempel yang setiap hari mengarungi sungai Kapuas, maka di daerah saya sepit adalah sebutan untuk fiberglass boat yang setiap hari melintasi lautan Halmahera. Pun saat melihat kapal feri penyebrangan menggeser kedudukan sepit-sepit sebagai penguasa angkutan di sepanjang sungai Kapuas. Hal yang sama pun terjadi di daerah saya. Hanya saja bedanya sepit lebih menjadi pilihan bagi orang-orang yang diburu waktu, karena kapal feri penyebrangan hanya beroperasi pada jam-jam tertentu. Feri penyebrangan menjadi pilihan ketika harus membawa kendaraan, barang dalam jumlah banyak, dan ketika kondisi angin dan laut tidak aman bagi sepit untuk beroperasi. Yang pasti, saya berharap ada pengemudi sepit di daerah saya yang juga memiliki hati selurus Borno.

Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, tak ada kesempurnaan yang benar-benar sempurna, termasuk di dalam di buku ini. Ide cerita yang sederhana namun sarat akan makna yang disampaikan dalam petuah-petuah bijak, lokasi cerita yang tak biasa yang cukup membuat penasaran para pembaca yang belum pernah datang ke kota Pontianak ataupun bagi mereka yang pernah mengunjungi atau bahkan berdomisili di Pontianak pasti juga akan penasaran akan kebenaran legenda ataupun menapak tilas tempat-tempat yang disebutkan dalam buku ini, karakter-karakter yang beraneka ragam dengan segala tingkah polah mereka, alur cerita maju mundur yang memikat, bahkan sampul depannya yang sesuai dengan deskripsi sosok Mei sendu menawan, sayang adegan meninggalnya Bapak Borno yang kemudian diikuti oleh tindakan operasi transplantasi jantung terasa ganjil setidaknya bagi pembaca yang mengerti atau berprofesi dalam dunia medis. 

Tindakan transplantasi jantung hanya dapat dilaksanakan di rumah sakit dengan fasilitas bedah lengkap yang mampu melakukan tindakan transplantasi jantung, memiliki ruang rawat intensif (ICU) yang terpadu serta didukung oleh tenaga medis yang berkompeten di bidangnya seperti spesialis bedah jantung dan pembuluh darah. Donor serta resipien (penerima) organ transplantasi pun sebelumnya harus menjadi serangkaian tes terutama tes kecocokan golongan darah ABO.  

Terlepas dari kekurangannya, Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah adalah sebuah cerita sederhana yang kaya akan nilai-nilai kehidupan.
Profile Image for Lady_rain.
14 reviews1 follower
April 23, 2012
teman ketika di tinggal liburan oleh temen2 tercinta dan gak disuruh pulang kampung...

karya bang tere yang bikin jantung kebat kebit gak karuan... ooh... banyak banget kata2 ajaib di buku ini yang bikin aku geleng2 kepala... apa lagi kata2 yg di ucapin ama pak tua... aaah... serasa lagi tutorial mengenai cinta...

tokoh utama buku ini adalah Borno "bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian kapuas" panjang banget ya gelarnya... wkwk... tapi kisah cinta abang borno patut di acung jempol... o my Allah... aku ngerasa kisah cinta Abang Borno dan Mei itu sweet banget... apa lagi dengan antrian sepit nomor 13... atau pelesir sepanjang kapuas... atau bagi2 jaket... atau pelesir ke rumah fulan dan fulani di surabaya... bahkan kesalahpahaman di antara merekapun di kemas dengan sangat sweet...

aku mau deeh ketemu cowok yang kayak abang borno... tapi versi kaliurang hehe... "mas berhati paling lurus sepanjang tepian kaliurang" wkwk... sumpah ya... ceritnya tuh gak basi... unik... gak picisan kayak cerita2 remaja gitu...

aku percaya bahwa cinta itu permainan takdir... ketika pertama kita bertemu orang yang menarik kita... takdir itu sedang memainkan perannya... demikian juga perpisahan menjadi bagian dari takdir... benar kata pak tua... "skenario dari langit itu adalah yang paling baik" jadi tak perlu lah kita gelisah, langit selalu punya skenario terbaik...

sungguh... dari pada "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" aku lebih suka buku bang Tere yang ini... lebih bunyi dan lebih logis...
aku anugerahi cerita ini dengan "cerita cinta paling sweet 2012"

last, aku menggu karya bang Tere selanjutnya... selalu...
aku menunggu kejutan-kejutan bang Tere selanjutnya... dan aku menunggu kisah-kisah yang menggetarkan hari selanjutnya....

see you in my next review...
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
February 1, 2012
"Sungguh, meski melanggar wasiat Bapak, aku berjanji akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras - meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit."

Itulah janji yang diucapkan oleh Borno, seorang pemuda berusia 22 tahun yang tinggal di Pontianak. Kisah ini adalah cerita tentang seorang pemuda biasa, yang sepertinya tidak istimewa, namun sesungguhnya ia adalah seorang bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas.

Buku ini dimulai ketika Borno masih berusia 12 tahun; saat Borno kehilangan Ayahnya, yang ketika bekerja mencari ikan tersengat ubur-ubur. Meskipun sudah diberi pertolongan sesegera mungkin, sayangnya nyawa Ayah Borno tak dapat diselamatkan. Dan betapa mulianya hati Ayah Borno. Beliau mendonorkan jantungnya bagi seseorang yang membutuhkan donor sebelum meninggal. Ia bahkan tidak meminta uang sepeser pun dari orang tersebut, hanya menitipkan sisa kehidupan yang ia miliki. Hebatnya, Borno mewarisi kebaikan dan ketulusan hati Ayahnya.

Usia Borno beranjak 22 tahun; ia sudah lulus SMA, namun tidak melanjutkan kuliah karena tidak memiliki biaya. Jadilah ia kesana-kemari mencari pekerjaan; menjadi pegawai di pabrik karet (akan tetapi tak lama kemudian pabrik tersebut tutup), bekerja di SPBU, bekerja sebagai penerima tiket di kapal feri, namun tidak ada satupun pekerjaan yang bertahan. Hal ini kemudian membawa Borno kepada takdirnya; takdir yang akan mengubah hidupnya: bekerja sebagai pengemudi sepit......

Resensi lengkapnya bisa dibaca di:
http://thebookielooker.blogspot.com/2...
Profile Image for bakanekonomama.
573 reviews84 followers
June 30, 2012
Ibu, usiaku dua puluh dua, selama ini tidak ada yang mengajariku tentang perasaan-perasaan, tentang salah paham, tentang kecemasan, tentang bercakap dengan seseorang yang diam-diam kukagumi. Tapi sore ini, meski dengan menyisakan banyak pertanyaan, aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau benar-benar merasa ada sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan. Sayangnya, sore itu juga menjadi sore perpisahanku, persis ketika perasaan itu mulai muncul kecambahnya.

Borno namanya. Usianya dua puluh dua ketika ia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Jatuh cinta kepada seorang gadis cantik berwajah sendu menawan, yang setiap pagi menaiki sepit untuk menyeberangi Sungai Kapuas. Hingga suatu hari, sepucuk amplop merah tertinggal di dasar sepit Borno. Mugkinkah gadis cantik peranakan Cina yang berwajah sendu itu memang sengaja meninggalkan amplop merah serupa angpau itu di dasar sepit Borno, ataukah itu hanya amplop merah biasa yang biasa dipakai sebagai pemberian angpau ketika perayaan Imlek dan Cap Gomeh?

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah adalah cerita cinta. Cerita cinta yang sederhana. Sesederhana matahari yang menyinari bumi setiap harinya tanpa mengeluh sedikit pun. Sesederhana hujan yang turun di pagi hari. Sesederhana angin yang lembut menyapa di sore hari. Sederhana.

Tak perlu berkerut ataupu kecewa ketika Anda tak menemukan konflik macam sinetron atau telenovela di dalamnya. Apalagi pertarungan antara jagoan ahli Kungfu dengan mafia Cina yang melibatkan senjata api, ataupun senjata tajam lainnya. Jangan harap. Jangan bersedih juga jika tidak ada adegan sang tokoh utama berlari-lari dan menari-nari di antara pepohonan sambil membentangkan selendang.

Karena semua hal yang dikisahkan dalam buku ini sangatlah sederhana. Sesederhana kehidupan.

Ya, pada hakikatnya hidup ini memang sederhana, hanya manusia sajalah yang gemar mempersulitnya. Mempersulit dengan berbagai asumsi dan dugaan yang belum tentu benar adanya. Mempersulit dengan ego sendiri sehingga menyakiti banyak orang. Padahal orang-orang bijak selalu berkata, “Permudahlah, jangan dipersulit.”

Setelah karya-karya Bang Tere sebelumnya banyak mengambil latar di Sumatra, kali ini Bang Tere melintas pulau menuju Kalimantan. Kota yang dipilihnya adalah sebuah kota yang memiliki asal usul unik, yang terletak tepat di garis khatulistiwa. Ya, ia adalah Pontianak.

Ratusan tahun yang lalu, kota yang belum bernama ini dikejutkan oleh teror yang dilakukan oleh sesosok hantu yang gemar menculik anak-anak, Ponti namanya. Untungnya, seorang bangsawan yang sakti mandraguna mampu mengalahkannya dan membawa kedamaian kembali ke kota ini. Akhirnya, alih-alih memberi nama dengan namanya sendiri, ia justru memberi kota ini nama Pontianak, agar orang-orang dapat mengenang selalu sejarah kelam yang dulu pernah menghantui kota ini.

Di kota inilah kisah Borno bermula dan juga berakhir. Pemuda yang aslinya bernama Borneo (tapi karena orang-orang sering kepeleset lidah, jadinya dipanggil Borno deh), ini adalah pemuda biasa.Ia kehilangan ayahnya di usia 12 tahun, lalu hidup bersama ibunya di gang sempit di tepian Sungai Kapuas. Lulus SMA tidak tahu ingin jadi apa, kerja serabutan kesana kemari hingga akhirnya memutuskan untuk mengemudi sepit, meskipun awalnya Borno sangat menentangnya karena tidak ingin melanggar wasiat bapaknya, untuk tak jadi pengemudi sepit.

Apalah istimewanya seorang Borno yang selalu mematuhi perintah ibunya, menghormati sahabat-sahabat ayahnya, paling ringan tangan dalam membantu sesama, dan akhirnya menemukan titik terang mengenai jalan yang ingin ditempuh untuk masa depannya? Apalah istimewanya pemuda macam itu?

Aih, ternyata saya memang keliru. Borno tentu saja adalah pemuda yang sangat istimewa. Jika tidak, ia tidak akan mendapatkan gelar itu: anak bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Sungai Kapuas.

Sejujurnya, meskipun menceritakan tentang cinta, menurut saya agak terlalu meremehkan jika Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah disebut sebagai novel cinta biasa. Karena menurut saya, yang lebih banyak saya pelajari justru mengenai kehidupan. Saya jauh lebih tertarik dengan cerita mengenai kehidupan sehari-hari Borno ketimbang kisah cintanya dengan gadis cantik nan sendu menawan bernama Mei itu.

Melalui kisah Borno yang komikal tapi sarat makna, saya dapat belajar banyak hal. Saya belajar mengenai persahabatan, kekeluargaan, sifat gotong royong dan tenggang rasa (yang bukan hanya ada di buku pelajaran saja, juga toleransi. Semua kisah itu dibungkus dengan apik dalam novel Bang Tere ini.

Nah, walau tiga suku bangsa ini punya kampung sendiri, kampung Cina, kampung Dayak, dan kampung Melayu, kehidupan di Pontianak berjalan damai. Cobalah datang ke salah satu rumah makan terkenal di kota Pontianak, kalian dengan mudah akan menemukan tiga suku ini sibuk berbual, berdebat, lantas tertawabersama—bahkan saling traktir. “Siapa di sini yang berani bilang Koh Acong bukan penduduk asli Pontianak?” demikian Pak Tua bertanya takzim. (Hal. 195)

Bang Tere membuat saya jatuh cinta dengan semua pemeran yang ada di novel ini (yah, kecuali si penipu yang merusak hidup Andi itu). Saya merasa jatuh cinta dengan Borno, dan mereka yang tinggal bersama Borno, dan mengisi kehidupannya. Saya suka dengan Koh Acong si pemilik toko kelontong dan Cik Taulani yang pelit lagi senang menyuruh-nyuruh Borno. Saya sempat sebal dengan Bang Togar, tapi kemudian perasaan itu berubah menjadi tawa tergelak-gelak dan perasaan haru melihat kelakuan abang si Borno yang satu ini.

Saya suka dengan penghuni gang sempit yang ibu-ibunya tukang ngegosipin Borno, atau Pak Sihol yang sabunnya jatuh ditelan Sungai Kapuas tiap kali Borno dan sepitnya melintas.

Saya juga terkagum-kagum dengan otak si Andi, sahabat Borno, yang meskipun sarannya tentang cinta sering kali murahan (contek dari sinetron dan film India), tapi terkadang bisa berubah menjadi Shakespeare sang pujangga cinta, yang bahkan Borno pun mengakui kehebatannya. Belum lagi bapaknya pun tak kalah ajaib dengan si anak, yang meskipun suka berbual tetapi memiliki dedikasi yang tinggi kepada keluarga dan cita-citanya.

Oh, dan jangan lupakan orang-orang di dermaga sepit yang membuat saya membayangkan naik sepit dengan pengemudi macam mereka. Jauhari yang tukang ngomel kalau antriannya diselak tapi doyan ngupil setiap ada waktu istirahat, Pak Tua yang bijaksana, petugas timer yang bikin saya penasaran nama aslinya siapa (untung Bang Tere akhirnya berbaik hati memberitahukan saya nama si petugas timer yang suka ceplas ceplos bicara ini), dan Bang Togar (lagi) yang bertampang preman tapi berhati perawan, dsb.

Aih, rasanya sempurna sekali jika kehidupan dikelilingi dengan orang-orang macam mereka, yang selalu memberi warna bagi kehidupan. Terutama Pak Tua, yang membuat saya ingin mencatat semua kata-kata penuh hikmah yang keluar dari mulutnya. Sungguhan deh, Indonesia perlu lebih banyak sosok lelaki seperti Pak Tua, agar populasi Ababil dan Alay berangsur-angsur hilang kemudian musnah dari bumi nusantara ini... ;p

Nah, berikut ini saya ingin mencantumkan beberapa petuah a la Pak Tua, yang tidak hanya membuat saya tertusuk duri, tetapi juga manggut-manggut sok mengerti macam burung perkutut di dalam sangkar emas.

“Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekadar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti, begitu pula cinta.”

“Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kaupamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.” (Hal. 428)

“Itu setidaknya membuktikan satu hal, Borno.” Pak Tua menghiburku. “Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bias disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, dipikirnya tidak pantas dengan ijazah yang dia punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas.” (Hal. 49)

Dan saya paling suka dari cerita Pak Tua adalah kisah mengenai Fulan dan Fulani, yang mampu membuat dada saya terasa sesak dan mata saya berkaca-kaca. Tetapi, saya tidak akan menceritakannya di sini, karena hanya akan merusak kesenangan Anda ketika membaca novelnya nanti. Bacalah sendiri, dan rasakan perasaan Anda turut larut dan mengalir bersama air di Sungai Kapuas.

Satu hal yang mungkin tidak terlalu sukai adalah akhir ceritanya yang sedikit klise. Tetapi, biarlah begitu adanya, karena menurut saya masih dalam taraf yang wajar dan tidak terlalu mengganggu keasyikan jalan cerita.

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah adalah novel ke-empat Bang Tere yang sudah saya baca. Menurut saya, novel ini mengangkat tema paling sederhana dari kisah-kisah lainnya, yang membuatnya sekilas tak terlalu istimewa. Tetapi, sekali lagi saya ingin mengatakan untuk tak terlalu banyak pikir ketika membacanya, karena Bang Tere dengan pandainya telah merajut hikmah yang tercecer di alam semesta, dan dengan baik merangkaikannya untuk kita. Hikmah-hikmah yang oleh sebagian orang terlihat terlalu biasa, hingga luput untuk menyadarinya, padahal sebenarnya hikmah itu dapat berguna bagi kehidupan kita.

Dan, setelah membaca buku ini mau tak mau saya pun turut jatuh cinta pada Pontianak dan Sungai Kapuas, hingga saya merasa perlu menjalin doa agar suatu saat nanti bisa berkunjung ke kota yang dulu pernah dikuasai hantu Ponti ini, menjelajahi Sungai Kapuas dengan sepit, lalu berharap dapat bertemu dengan bujang dengan hati paling lurus di tepian Sungai Kapuas itu.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
December 5, 2018
Astaga! 507 halaman ceritanya cuma tentang seorang cowok ketemu cewek di kapal, terus ceweknya tiba-tiba menghilang, terus si cowok galau, terus terkuaklah misteri alam semesta.

Bagi pemirsa sekalian yang mau menghemat waktu tetapi tetap mau tahu cerita novel ini, cukup baca bab 1, bab 28, dan bab 37. Beres!

Alkisah seorang pemuda bernama Borno yang setelah lulus SMA menjadi pengemudi sepit yang jatuh hati pada penumpangnya yang misterius bernama Mei. Kisah terus bergulir, tapi sang pemuda tak pernah tahu nama sang pujaan hati hingga halaman 120 an. Menjengkelkan, kan?

Baiklah, untuk menambah kejengkelan, berikut daftarnya:

1. "Woi, maju satu sepit!" Kalimat itu selalu ada di tiap paragraf. Ya, saya ulang, di tiap paragraf. Bayangkan ada berapa paragraf dalam satu novel tebal!

2. Borno, tokoh utama kita, adalah pemuda gagah nan tangguh tetapi pas patah hati menye-menyenya ampuuun.... cucok eimmm

3. Masih Borno, tokoh utama kita, di awal digambarkan tiap malam kerjaannya main gitar di pos ronda. Tetapi, pas Sarah masuk ke kamarnya, dia takjub akan banyaknya buku bertebaran. Nah itu kapan bacanya, bro? Nyelesaiin Reading Challenge 30 buku setahun aja terbirit-birit. Abang ini asyik aja masih sempat main gitar tiap malam.

4. Pak Tua. entahlah selalu aja tokoh lelaki tua bangkotan di tiap novelnya mamas ini. Dan tetap menggunakan modus yang sama, si bau tanah ini selalu menyebut dirinya "orang tua ini". hal tersebut juga berlaku di novelnya mamas yang lain loh...

5. Masih Pak Tua. Diceritakan Pak Tua ini adalah bujang seumur hidup, tapi petuah cintanya... Ambooiii... Elok nian! Ya kali mas, orang gagal paham tentang cinta tapi petuah cintanya ngalah-ngalahin playboy kelas kakap.

6. Setting waktu novel ini tidak dijelaskan dengan pasti. Tapi, ada dialog yang menyebutkan jembatan Suramadu sudah beroperasi. Berarti itu adalah tahun 2009 an. Nah, di tahun Blackberry mulai marak itu, dua tokoh ini tidak saling bertukar nomor telepon. Bahkan, si Borno, jagoan kita, menelpon Mei lewat telepon umum di Surabaya. FYI, saya mulai tinggal di Surabaya tahun 2009 an akhir, dan itu pun telepon umum sudah punah.

7. Angpau merah yang digadang-gadang dari awal cerita, bahkan judulnya, ternyata berisi surat panjang dan lebar yang memang sengaja diperuntukkan jagoan kita. Padahal si Mei sendiri belum kenal dengan Borno, terus menjatuhkan begitu saja angpao tersebut agar diambil oleh Borno. Andaikata nih, si Borno gak jatuh cinta pada pandangan pertama dengan si Mei, dan langsung membaca isi angpao tersebut, ya pasti gak ada cerita. Anehnya, meski jatuh di perahu, angpao yang berisi surat wasiat itu tetap kering kerontang.

Begitulah kiranya curhatan hati saya setelah membaca novel mamas yang kesekian kalinya. Sengaja dibaca karena telah menyelesaikan Reading Challenge tahun ini, jadi hanya pengisi akhir tahun saja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Yulli Jannaini.
6 reviews2 followers
October 13, 2021
Oke, buku yang baru saya selesei saya baca berjudul “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” karya Bang TereLiye. Dan seperti biasa, tulisan bang Tereliye selalu berhasil menguras emosi saya. Buku ini bercerita tentang anak Pontianak bernama Borneo yg kerap dipanggil Borno. Borno jatuh cinta pada salah seorang penumpang sepitnya yang meninggalkan sebuah amplop berwarna merah alias Angpau yang awalnya dikira hanya Angpau biasa. Borno selalu menjadi antrean sepit no 13 untuk bertemu dengan Gadis itu yang akhirnya diketahui namanya adalah Mei.

Intinya buku ini menceritakan tentang pencarian cinta sejati. Buku ini juga mengajarkan untuk tidak merusak “Cerita” yang sudah disusun oleh Allah untuk menemukan Cinta. Buku ini recomended banget buat kamu yang suka galau menunggu jodoh. Ada beberapa Quote yang saya suka dari novel ini. Mau tau? Cekidot…

“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borna. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagi perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan…”

-Pak Tua-

“Borno, cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kaucueki, kalulupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan…”

-Pak Tua_
Profile Image for Fizah.
30 reviews9 followers
December 17, 2012
Gak terlalu greget dibanding novel Tere Liye yang lainnya.. Padahal biasanya novel Tere Liye bisa abis dilahap 2 ato 3 hari.. Yang satu ini agaknya terlalu lama untuk standar novel Tere Liye.. :D
Tapi, yang pasti endingnya "PUGUH"..

“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borna. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagi perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan…”

“Borno, cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kaucueki, kalulupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan…”

“Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu. Apa sesuatu itu? Tentu saja bukan GPS, alat pelacak, dan sebagainya, sesuatu itu adalah pemahaman yang baik bagaimana mengendalikan perasaan.”

“…. aku tidak akan merendahkan kehormatan wanita dengan memegang tangannya …”

“Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak-balik sedikit hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Dengan kata lain, ikhlas, Nak.”
Profile Image for Fitri Hasanah Amhar.
7 reviews4 followers
December 25, 2013
Memahami Cinta dengan Lebih Baik Lewat Novel “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah"

Identitas Buku
Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2012
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal buku : 512 halaman
ISBN : 978 – 979 – 22 – 7913 – 9

“Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kaupamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.”


Pratinjau
Cinta, bagaimana pun ceritanya, selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Dan cinta, bagaimana pun ceritanya, selalu saja istimewa—dengan caranya masing-masing. Di dunia ini, tentu berjuta orang pernah—atau bahkan sedang merasakannya. Dan perasaan cinta itu sendiri adalah perasaan yang manusiawi, tak bisa dilawan namun bisa dilatih untuk menata hati. Karena istimewanya perasaan cinta, maka perlu pulalah pemahaman-pemahaman yang baik. Dengan dasar itulah Tere Liye menghadirkan novel ini.

Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah adalah novel yang bercerita tentang kisah cinta, masalah yang selalu menarik untuk dibahas dan banyak menjadi tema novel-novel remaja. Uniknya, novel ini menyajikan kisah cinta yang lain dari biasanya. Bukan kisah melow cinta, namun kisah cinta sederhana yang dalam maknanya—yang membuat pembaca akan memiliki pemahaman lebih baik tentang cinta. Khas Tere Liye yang selalu dapat menampilkan nilai lebih masalah pemahaman baik kepada seluruh pembaca novelnya. Di novel ini, penulis dapat membuat para pembaca memahami bagaimana menyikapi perasaan cinta dengan baik dan bijak. Penulis dengan baik mengajarkannya lewat kisah inti dan juga kata-kata bijak Pak Tua tentang cinta.

Sinopsis
Novel ini bercerita tentang kisah cinta, yang selalu saja istimewa. Adalah Borno, seorang anak bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Sungai Kapuas yang kini merasakan perasaan istimewa itu.
Kisah ini bermula pada masa di mana usia Borno masih kanak-kanak. Usia enam tahun, ketika ia seringkali mengantar hasil tangkapan ikan bapaknya ke Koh Acong, Cik Tulani, dan Pak Tua, para kawan baik bapaknya. Kemudian berlanjut ketika usia Borno dua belas, saat-saat terberat ketika Borno harus ditinggalkan bapaknya untuk selamanya. Kemudian kisah kembali berlanjut tentang lika-liku pekerjaan Borno selepas SMA, dan akhirnya ia menjadi seorang pengemudi sepit, sebuah perahu yang digunakan untuk membawa penumpang menyebrangi Sungai Kapuas. Dan dari pekerjaan inilah, semua cerita bermula.

Kisah cinta ini bermula ketika Borno berusaha mengembalikan sebuah amplop merah terlem rapi yang tertinggal di sepitnya. Borno mulanya mengira amplop merah itu adalah benda ketinggalan milik gadis Cina peranakan berwajah sendu menawan yang hari itu menumpang sepitnya. Keesokan harinya ketika ia mencari gadis itu untuk mengembalikan amplop merah tersebut, ia malah bertemu dengan gadis itu di dermaga kayu, yang saat itu sedang membagi-bagikan amplop merah (angpau) kepada pengemudi sepit. Rasa penasaran Borno terhadap isi angpau tersebut menguap. Ternyata hanya angpau biasa saja seperti yang lainnya, ia membatin. Pengemudi sepit lainnya pun menerima angpau amplop merah yang sama dengan yang tertinggal di sepitnya kemarin, yang berisi lima lembar uang lima ribuan.

Namun, sekalipun rasa penasaran Borno terhadap isi amplop telah menguap, ia tiba-tiba jadi terobsesi padanya. Dan, seperti umumnya orang yang sedang jatuh cinta, Borno segera hafal mati kebiasaan-kebiasaan si Sendu Menawan itu. Ia hafal bahwa gadis itu selalu tiba di dermaga kayu pukul 7.15, sehingga membuatnya selalu berada di antrian sepit nomor tiga belas, hasil perhitungannya agar gadis itu bisa selalu menumpang sepitnya. Walaupun begitu, tidak pernah sekalipun Borno mengetahui nama gadis tersebut, lebih tepatnya ia tak pernah berani untuk menanyakannya.

Borno selalu menceritakan perasaannya pada Pak Tua dan Andi, sahabat baiknya. Dan Pak Tua jugalah yang akhirnya berhasil membuat Borno berani menanyakan nama pada gadis itu. Nama gadis itu Mei. Dan kemudian, mengalirlah kisah perasaan Borno pada Mei. Borno sangat pemalu ketika bertemu dengan Mei, sebaliknya Mei meski berwajah sendu menawan, lebih bisa bersikap ramah pada Borno. Pendek kata, sering kali Mei yang memulai banyak hal terlebih dulu.

Borno menyukai Mei. Ia, meski tak pernah berani memulai duluan, selalu senang saat Mei memintanya mengajari mengemudi sepit, sangat merasa bersalah ketika ia malah terlambat datang sesuai waktu janjiannya, berusaha setengah mati untuk mendapatkan alamatnya untuk meminta maaf. Ini kisah cinta pertama Borno, dan jelas-jelas ia tak mengerti banyak tentang perasaan-perasaan, salah paham, dan kecemasan. Borno selalu menceritakan isi perasaannya pada Pak Tua, orang yang paling bijak, paling berpengalaman. Dan dalam masalah ini, kata-kata Pak Tua selalu benar. Melalui Pak Tua, Borno banyak tahu tentang bagaimana bersikap pada Mei, juga bagimana ia harus menyikapi perasaan itu sendiri. Perasaan yang belakangan ini selalu mengganggu dirinya. Rasa suka itu.
Suatu ketika, Mei harus ke Surabaya. Masa magangnya di Pontianak telah selesai. Mereka berpisah tepat saat perasaan suka itu telah memulai kecambahnya di hati Borno. Tapi kata-kata Pak Tua benar. Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Dan kejutan! Borno secara tak sengaja bertemu Mei ketika ia justru sedang bertindak bodoh mencari nomor telepon Mei dari buku telepon Surabaya. Namun, di Surabaya pulalah Borno bertemu papa Mei yang tampak tidak suka dengan hubungan mereka berdua.

Suatu ketika Mei pun kembali ke Pontianak. Kisah mereka pun dimulai kembali. Antrian sepit nomor tiga belas pun tetap berlangsung sama. Mei mengajar kembali di sekolah swasta tempat magangnya dulu. Borno bahkan sudah berkongsi dengan Bapak Andi memiliki bengkel besar di perempatan Jalan Atmo, meninggalkan profesi pengemudi sepitnya. Sesekali Mei mampir ke bengkel, mengobrol di kantor dan membawa makan siang untuk dimakan bersama. Pernah juga bahkan mereka berjalan-jalan keliling Pontianak usai membagikan jaket dan stiker bengkel ke tukang-tukang ojek—membuat mereka berdua disoraki banyak orang ketika melewati dermaga kayu saat makan siang di restoran terapung.

Hingga pada malam itu, ketika Borno mengantar Mei pulang selepas pesiar keliling Pontianak, Borno kembali bertemu dengan papa Mei, yang lagi-lagi mengingatkan bahwa ia sungguh tak suka dengan hubungan mereka berdua. Borno jelas bingung, ia tak paham mengapa papa Mei amat membencinya. Terlebih ketika keesokan harinya Mei datang ke bengkel, mengucapkan kalimat yang benar-benar Borno tak paham apa penjelasannya. “Abang.... Aku pikir, aku pikir kita tidak usah bertemu lagi.”
Borno sungguh bingung atas ucapan Mei. Tiga hari setelah Mei mengatakan kalimat itu, ia memutuskan untuk mencari Mei. Ia tahu bahwa ia berhak atas penjelasan. Namun, Mei benar-benar keras kepala. Ia sungguh-sungguh tak mau ditemui. Borno telah mencoba ke rumah, ke sekolah, menungguinya berjam-jam, tetap saja Mei tak mau ditemui.

Hingga suatu ketika, bibi pengurus rumah Mei tersengal mendatangi Borno, memberi tahu bahwa Mei sudah pergi ke Bandara, akan pergi ke Surabaya. Borno sontak mengejar Mei ke bandara, berteriak seperti orang gila, bahkan ditangkap petugas, diinterogasi. Selesai diinterogasi, Borno tertegun. Di luar, ada Mei yang duluan bertanya, menunjukkan kekhawatirannya. Mei memutuskan untuk membatalkan tiket yang telah dipesan dan memesan tiket penerbangat terakhir sebagai gantinya.
Mei bingung. Ia sendiri tak tahu apa yang sedang ia rasakan. Ia ingin pergi, tanpa menetapkan jangka waktu. Ia ingin pergi hingga semuanya menjadi jelas, menjadi lebih terang, hingga ada penjelasan yang datang dan semua menjadi lebih jernih. Mei sungguh tak tahu perasaannya pada Borno.

Setahun berselang setelah kepergian Mei ke Surabaya. Borno yang mulanya menjadi amat pendiam dan tak bersemangat setelah kepergian Mei sudah bisa kembali pada rutinitasnya, mengurus bengkel—seperti pesan Mei sebelum kepergiannya, agar Borno tetap mengurus bengkel itu, tetap melanjutkan hari-hari, tetap menjadi bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas. Dan setelah setahun berlalu itu, Borno akhirnya mendapat penjelasan.

Ia bertemu dengan Bibi pengurus rumah Mei. Dengan cemas ia mengatakan bahwa Mei sakit, sudah tiga bulan. Borno langsung mengatakan bahwa ia akan ke Surabaya, menemui Mei. Kemudian Bibi pun mengatakannya. Mengatakan bahwa amplop merah yang ditemukan Borno di dasar sepit itu bukan angpau biasa—seperti yang lainnya. Itu adalah surat dari Mei, yang bahkan dibuat sebelum mereka saling mengenal. Surat yang harus dibaca sebelum Borno menemui Mei di Surabaya. Surat yang membuat Borno bahkan tak mampu memicingkan mata walau sedetik. Surat yang menjelaskan semuanya.

Dan esok paginya, Borno pergi menemui Mei dengan penerbangan pertama.

Kelebihan dan Kekurangan
Novel ini disampaikan dengan bahasa yang santai, tidak kaku dan terlalu baku. Gaya bahasa yang digunakan tidak sama dengan kebanyakan novel lainnya, namun tentu saja gaya bahasa ini tidak membuat novel ini justru tidak enak dibaca, justru dengan bahasa yang “berbeda” itu, kita dapat lebih merasakan emosi-emosi para tokoh sehingga kita seolah ikut larut dalam cerita.

Kemudian novel ini juga berbeda dengan kebanyakan cerita cinta anak muda lainnya. Di saat trend novel cinta saat ini adalah cerita cinta melow, jadian, pacaran, cemburu, dan berbagai perangai cinta remaja pada umumnya, cerita ini mampu hadir dengan sederhana, namun tetap indah dan memperkaya pembaca dengan pemahaman baik tentang cinta. Bahwa cinta adalah perbuatan, kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong.

Novel ini pun dengan bahasa santainya sesekali diselipi guyonan atau sekedar kata-kata ceplosan yang dapat mengundang tawa. Juga diperkaya dengan pengetahuan tentang mesin dengan bahasa yang menyenangkan, sehingga tak membuat pembaca gusar karena merasa novel ini sekejap berubah menjadi buku nonfiksi.

Jalan cerita yang menyenangkan—dan kadang selalu bikin penasaran membuat novel ini tak punya kelemahan. Penulis mampu membawa pembaca larut dalam cerita. Dan sekali lagi, masalah cinta selalu menarik untuk diperbincangkan. Maka, siapa pula yang tak tahan ingin segera tahu kejadian seterusnya ketika membaca novel ini?

Rekomendasi
Membicarakan masalah cinta, maka tak jauh dengan usia remaja, dimana usia-usia ini adalah masa di mana rasa cinta mulai masuk ke ruang hati dan mulai berkembang. Ketika membaca novel ini, maka kita akan sesekali tersenyum mengingat perjuangan bodoh yang mungkin juga kita lakukan ketika kita jatuh cinta untuk bisa sekedar melihat pujaan hati. Lebih jauh membaca, kita bahkan akan lebih sering tersenyum lagi ketika ngeh bahwa kita sebenarnya tak jauh beda dengan Borno ketika mencintai seseorang. Membatin, Kok mirip gue, sih? ketika sadar bahwa kita sama pemalunya dengan Borno ketika berhadapan dengan orang yang kita cintai.

Buku ini cocok sekali untuk remaja, mengingat hal-hal itulah yang seringkali terjadi. Kalimat-kalimat bijak Pak Tua tentang cinta pun mampu memberikan nasihat yang cukup manjur untuk dipahami baik-baik, sehingga kita tidak rusuh dengan perasaan kita sendiri. Apalagi, masa-masa remaja biasanya merupakan masa labil ketika menghadapi urusan cinta. Dengan demikian, usai membacanya maka kita akan menjadi lebih paham akan banyak hal masalah perasaan, masalah cinta. Selamat membaca!
Profile Image for Suzan Oktaria.
345 reviews29 followers
June 30, 2012
Tere Liye sepertinya selalu punya cara baru untuk memberikan petualangan berbeda dalam setiap buku yang dihasilkannya. Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah adalah sebuah roman yang lengkap ada kisah percintaan, persahabatan, hingga makna kehidupan yang terkandung dari setiap untaian kata.

Saat membaca sinopsis novel ini, aku pun mengakui jika kita akan terus merasakan jatuh cinta, tidak hanya pada pasangan, keluarga, pekerjaan ataupun hohi yang kita lakukan. Novel ini mengisahkan perjalanan kehidupan Borno, anak muda yang mencari jati diri dan jawaban dari kehidupan yang dijalani. Senyumku tersungging saat Borno menanyakan berapa lama sampai ke hulu sungai Kapuas, hanya untuk menghitung berapa lama kotorannya tiba ke hulu sungai tersebut.

Meski hidup sederhana, namun kebahagiaan melingkupi kehidupan Borno kecil yang sangat dekat dengan Ayahnya. Namun saying kebahagiaan itu terenggut saat Ayahnya meregang nyawa tak kuasa melawan serangan ubur-ubur, hewan yang terlihat indah dengan cahayanya namun sangat mematikan. Borno kecil tidak mengerti alasan Ayahnya memilih untuk mendonorkan jantungnya daripada memilih untuk bertahan hidup.

Namun duka masa kecil tak menjadikan Borno sebagai pemuda lemah, bersama dengan dukungan kasih sayang ibunya, petuah Pak Tua yang bijaksana, sahabatnya Andi, Bang Togar, Cik Tulani dan Koh Acong membuat hari-hari Borno berwarna. Sebenarnya impian Borno tidak muluk-muluk, hanya ingin kuliah selepas dari SMA. Tapi karena tak ingin membebani ibunya, Borno pun menghapus mimpi masa kecil dan mulai mencari pekerjaan.

Beragam pekerjaan pun dilakukan “Bujang paling lurus sepanjang tepian Kapuas” julukan bagi Borno, mulai dari bekerja di pabrik karet dan terpaksa berakhir saat pabrik tersebut bangkrut. Bahkan rela dicap sebagai pengkhianat dan menerima diboikot serta dikucilkan oleh masyarakat kampung, saat Borno bekerja sebagai pemeriksa karcis di dermaga feri. Karena pelampung atau dermaga feri mematikan pasar pengemudi sepit. Hingga akhirnya Borno memutuskan memilih bekerja sebagai pengemudi sepit. Dan membuatnya melanggar wasiat Ayahnya, karena Ayahnya melarang Borno menjadi pengemudi sepit. Dukungan tak henti dari Pak Tua, Bang Togar, Cik Tulani, Andi dan masyarakat kampung yang mengumpulkan sumbangan demi sepit bagi Borno.

Perubahan kehidupan terjadi saat Borno menjadi pengemudi sepit, romansa perjalanan cintanya pun dimulai. Dari sepucuk angpau merah yang ditinggalkan seorang gadis cantik etnis Tionghoa bernama Mei. Negeri Khatulistiwa ini memang dikenal beragam etnis dan salah satunya etnis Tionghoa yang berbaur dengan pribumi. Perjuangan Borno pun terjadi setiap pagi, hanya demi melihat dan mengantar Mei. Dari yang telat menantikan Mei hingga Borno bisa tiba lebih awal dan mengantar Mei, setiap paginya. Borno selalu berusaha bisa berada di antrian ke tiga belas, saat Mei berangkat mengajar pukul 7.15 setiap harinya. Penantian 23 jam 45 menit setiap harinya menjadi terbalaskan dengan kebersamaan dengan Mei selama 15 menit.

“Cinta adalah kebiasaan. Kau tidak bisa membayangkan betapa indah proses transformasi perasaan dari sekadar sahabat menjadi seseorang yang special, macam melihat ulat berubah jadi kupu-kupu.”

Tere Liye selalu berhasil meramu cerita dengan bumbu intrik yang terkadang tak pernah terpikirkan sekalipun. Bahkan detil kehidupan Sungai Kapuas dan Pontianak yang mengajak pembaca seolah-olah melihat langsung drama di novel setebal 512 halaman ini.

Gejolak pun terjadi saat Mei memutuskan pulang ke Surabaya dan menghindari Borno. Rasa pedih ditinggalkan Mei, membuat Borno kehilangan gairah hidup. Pikirannya selalu melayang pada Mei. Borno tak menghiraukan petuah Pak Tua dan Andi yang selalu menghiburnya. Borno hanya diam mendengar pesan dari Pak Tua tentang filsafat kehidupan.

“Borno cinta hanya segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus mengumpal, membesar. Coba saja kaucueki, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat kayu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan.”

Harapan baru muncul saat Borno diajak menemani Pak Tua untuk berobat di Surabaya. Ternyata hal itu menjadi hal yang berharga karena Borno kembali bisa bertemu dengan Mei, memberikan semangat baru bagi Borno. Perjuangan cintanya dari koin demi koin, mencari nama keluarga Sulaiman atau Soelaiman dan berharap salah satu diantaranya adalah keluarga Mei. Ternyata jalan pertemuan dengan Mei malah ditempat terapi Pak Tua, Borno kembali bertemu dengan Mei yang sedang mengantar neneknya terapi. Semangat hidup Borno kembali bergelorah karena melihat Mei dan jalan-jalan mengelilingi Surabaya bersama gadis yang memenuhi ruang hatinya. Namun sayang ternyata rintangan jalan cinta keduanya kembali menghadang saat Borno berhadapan dengan Satpam Galak yang tak lain Ayah Mei dan berpesan untuk menjauhi Mei.

“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya.”

Tere Liye pun kembali mengaduk-aduk emosi pembaca karena menghadirkan tokoh baru, Sarah yang merupakan anak dari penerima donor jantung dari Ayah Borno. Seorang dokter gigi yang akhirnya ikut mengisi relung hati dan membuat pergolakan bagi Borno yang menghadapi dua pilihan berbeda. Sarah dan keluarganya sejak lama mencari Borno dan keluarganya untuk membalas budi baik dari Ayah Borno yang memberikan kehidupan bagi Ayah Sarah.

“Jangan pernah menilai sesuatu sebelum kau selesai dengannya, mengenal dengan baik.”

Dengan setting maju mundur, Tere Liye berhasil membuat pembaca terpukau dengan keindahan perpindahan jalan cerita. Pertemuan Sarah dan Mei serta Borno di sebuah pesta pernikahan keluarga Sarah yang memberikan tanda dan sinyal jika ada perang hati dan kecemburuan diantara Sarah dan Mei serta kegundahan Borno.

“Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri.”

Kehidupan memang tak bisa ditebak seperti itulah Tere Liye mengajak pembacanya untuk seperti berada pada kisah nyata, saat intrik kembali terjadi Ayah Andi yang mengajak kerjasama membangun bisnis bengkel. Mei yang kembali ke Pontianak memberikan dukungan penuh bagi Borno yang disaat yang sama ternyata bengkel tersebut hanyalah sebuah tameng untuk penipu mengambil uang dan meninggalkan hanya ruang kosong tanpa peralatan bengkel satupun. Hari demi hari pun dilalui Borno dengan berusaha keras membuktikan bengkel tersebut bisa hidup dan berjalan serta mengobati shock yang dialami Ayah Andi, yang hanya diam karena melihat uangnya lenyap.

Perjuangan itu pun membuahkan hasil, bengkel tersebut kembali hidup dan akhirnya ramai dengan permintaan perbaikan kendaraan dari pelanggannya. Seiring perjalanan waktu Borno pun bisa mengambil jalan suksesnya, tak hanya bisnis namun juga cinta. Meski akhirnya Borno mengetahui jika sebenarnya dokter yang bertanggung jawab saat kematian Ayah Borno adalah ibu Mei, namun Borno dengan ikhlas memilih Mei untuk tetap setiap mengisi relung hatinya.

“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya.”

Kata-kata di novel ini memang membiusku, membawaku hanyut bersama derasnya setiap huruf yang terbaca, memberiku hentakan di hati, dan memaksaku mataku tak henti meneteskan air mata. Tere Liye selalu berhasil membuat rangkaian jalan cerita yang ringan dan mengalir. Walau sederhana membaca novel ini seperti menonton sebuah film tentang Kapuas dan Pontianak lengkap dengan kehidupannya, percintaan, persahabatan dan arti kehidupan. Tere Liye mengajak kita untuk memaknai sebuah arti cinta yang sederhana, mengikhlaskan hati dan tetap tidak melupakan akar dari mana kita berasal. Meski masa lalu itu penting karena selalu mengingatkan kita, namun yang lebih terpenting adalah masa depan yang penuh kebahagiaan dengan ikhlas memaafkan dan menerima segalanya apa adanya.

“Langit selalu punya scenario terbaik. Saat itu belum terjadi, bersabarlah. Isi hari-hari dengan kesempatan baru. Lanjutkan hidup dengan segenap perasaan riang.”
41 reviews
January 24, 2019
Astaga, ternyata saya menghabiskan beberapa jam membaca lembar demi lembar buku setebal 500 halaman ini hanya untuk itu. Hanya untuk plot semacam itu.

Baru saja kemarin ini saya menyelesaikan satu buku yang compact, tidak dipenuhi fillers tidak berguna (An American Marriage, a great book, by the way), justru sekarang saya dipertemukan dengan buku yang sangat bertolak belakang dengan buku itu.

Ya, Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah adalah novel yang bertele-tele. Singkat cerita, begini plotnya:
1. Lakon kita, Borno, bertemu dengan seorang gadis di sepit.
2. Borno berusaha mencari tahu siapa gadis itu, berniat mengembalikan angpau merah yang terjatuh di sepit.
3. Borno dan gadis itu berkenalan.
4. Gadis itu, tanpa alasan, pergi.
5. Borno galau.
6. Mereka bertemu lagi.
7. Kembali ke poin 4 dan 5.
8. Borno mengetahui alasan gadis itu menghilang di beberapa lembar terakhir buku. Tamat.

Plot yang sederhana bukan? Oh, tentu tidak dimata penulis kita. Tidak percaya? Lihat saja total halaman buku ini. 500 halaman hanya untuk mengelaborasi kisah percintaan Borno lewat sudut pandang tokoh utama yang menghabiskan banyak waktunya tidak mencari tahu nama gadis itu di 100-an halaman pertama buku, dan bersedih, bermuram duja, menyangka dia tidak sepadan dengan Mei di hampir lebih dari setengah buku. Apa yang terjadi di sebagian lain buku? Borno dan elaborasinya tentang sejarah pekerjaannya (tidak, saya tidak perlu tahu, karena toh pada akhirnya tidak ada kaitannya dengan plot, kecuali fakta bahwa dia menjadi pengemudi sepit, yang kemudian menjadi awal pertemuannya dengan Mei); Borno menghadiri undangan pesta Sarah (karakter yang sepertinya dimunculkan semata-mata untuk menunjukkan bahwa Borno bukan satu-satunya orang aneh di Pontianak yang mempertanyakan panjang Sungai Kapuas); Borno ikut serta dalam kompetisi sepit (untuk apa?? tidak terjadi apa-apa sepanjang kompetisi ini).

Setelah elaborasi yang berbusa-busa itu, penyelesaian masalah dan jawaban dari tingkah laku aneh Mei disajikan di beberapa lembar terakhir buku. Mau tahu apa inti cerita buku ini? Dengarkan saran saya: Baca saja prolog, bab 37, dan epilog. Semua ada di sana. Jangan siksa diri Anda seperti saya yang membaca buku ini sampul ke sampul.
Profile Image for ...::putri::....
10 reviews
February 3, 2012
Sebelumnya terima kasih Bang Tere... dicover belakang ada endorsement atas nama saya... :). Senangnya terpilih diantara sekian ribu anggota fan page-nya. Saya sudah baca versi online-nya, Bang Tere bilang ending versi novelnya akan berbeda. Hmm,, penasaran tapi baru baca sampai bab 2.



Akhirnya selesai juga baca buku ini.
Novel ini membuat saya tergelak dan tersedu.
Teman sejati dan cinta sejati, saya menemukan definisi lain tentang kedua hal itu dalam 'Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah'.

' Cinta sejati akan tetap membuatmu menari bahkan ketika alunan musiknya sudah lama berhenti '.. (bener ga ya kutipannya?)

Hmm,, menurut saya ending versi online nya lebih 'dramatis', meski bukan happy ending tapi apa ya... lebih pas aja gitu dengan keseluruhan cerita dari awal. Borno dengan predikat 'Bujang berhati paling lurus di tepian Kapuas', rasanya akan 'mampu' menerima akhir cerita hubungannya dengan Mei.

Tapi bagaimanapun akhirnya, seperti novel-novel Tere Liye sebelumnya selalu ada pelajaran hidup yang penuh makna dan memberikan pemahaman,pandangan baru soal kehidupan (untuk saya pribadi, semoga begitu juga dengan pembaca yg lain).

Dan saya bertekad dan berdoa semoga saya mampu menjadikan anak lelaki saya bujang yang berhati paling lurus se-Duren Jaya (daerah tempat tinggal saya) :).

Terus menulis Bang Tere!!!

Profile Image for Zahwa az-Zahra.
131 reviews21 followers
June 30, 2012
Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah sejatinya bukanlah novel baru. Naskahnya pertama kali muncul pada bulan Juli 2010 melalui catatan di Facebook Tere Liye dan blog sang penulis. Naskah yang awalnya berjudul Kau, Aku & Kota Kita ini dibuat berseri dan diterbitkan hampir setiap hari. Kehadiran serialnya ditunggu ratusan pembaca setia penulis novel best-seller ini.

Tere Liye tak merasa takut jika ide novelnya dicuri atau justru dibajak. Iapun tak perlu khawatir novel “open source”-nya ini tak laku di pasaran. Ia memastikan bahwa novelnya nanti akan berbeda dengan versi aslinya, terutama di bagian ending. Dan benar saja, rasa penasaran justru membuat para pembacanya rela membeli KADSAM meski harganya relatif mahal.

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah (KADSAM). Pasti ada alasan mengapa judul novelnya kemudian berganti dari Kota Kita menjadi Angpau Merah. Tentu bukan hanya karena jadwal terbit novel KADSAM yang berbarengan dengan perayaan Imlek. Bisa dibilang, dari angpau merahlah semua bermula. Adalah Borno, pengemudi sepit (perahu kayu bermotor tempel) di Sungai Kapuas, yang terpesona pada pandangan pertama oleh sosok gadis berperanakan Cina yang menempati kursi penumpang di hari perdana Borno mengemudikan sepitnya.

Menjadi pengemudi sepit adalah pilihan terakhir. Setelah gonta-ganti pekerjaan, Borno akhirnya memutuskan untuk menggeluti pekerjaan yang “diharamkan” ayahnya itu. Dibesarkan dengan baik oleh sang ibunda, membuat Borno tumbuh menjadi pemuda berhati paling lurus sepanjang tepian Kapuas. Ayahnya meninggal akibat sengatan ubur-ubur saat Borno berusia dua belas tahun. Maka, persoalan barang yang tertinggal di sepitnya, meski hanya sebuah amplop, menuntut Borno untuk mengembalikan barang tersebut ke pemiliknya.

Amplop berwarna merah itu diduga milik gadis Cina berparas sendu menawan itu. Hal inilah yang semakin membuat Borno bersemangat untuk mengembalikan amplop tersebut. Meski kemudian Borno mengetahui bahwa amplop merah itu tidak sepenting yang ia kira, hanya sepucuk angpau yang dibagikan ke setiap pengemudi sepit, tapi ia terlanjur tertawan oleh senyum manis sang gadis dan berharap akan perjumpaan berikutnya.

Setelah tujuh hari mengatur strategi agar sang gadis bisa naik sepitnya untuk menyeberangi Sungai Kapuas -dan gagal- toh akhirnya Borno mendapatkan waktu yang tepat juga: pukul 07.15, antrian sepit nomor tiga belas. Dan setiap pagi, selama lima belas menit, menjadi waktu yang amat berharga bagi Borno. Bahwa gadis itu kemudian menumpang sepitnya. Bahwa gadis itu ternyata seorang guru magang. Bahwa gadis itu bernama Mei.

Sayang, saat Borno mulai menumbuhkan rasa cinta di hatinya, saat harapan mulai benderang, Mei harus kembali ke kota asalnya, Surabaya.

“Ibu, usiaku dua puluh tahun, selama ini tidak ada yang mengajariku tentang perasaan-perasaan, tentang salah paham, tentang kecemasan, tentang bercakap dengan seseorang yang diam-diam kau kagumi. Tapi sore ini, meski dengan menyisakan banyak pertanyaan, aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau merasa ada sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan. Sayangnya, sore ini juga menjadi sore perpisahanku, persis ketika perasaan itu mulai muncul kecambahnya.”
− Borno, hlm. 149

Betapapun Borno ingin melupakan Mei, sosok Si Sendu Menawan itu tetap tertambat di hatinya. Namun waktu seolah kembali memberi kesempatan pada Borno. Pertemuan kembali dengan Mei di Surabaya saat Borno mengantar Pak Tua terapi sekali lagi mendekatkan mereka berdua. Tak lama berselang, Mei pun kembali datang ke Pontianak. Dan hubungan yang maju mundur itupun akhirnya harus kembali diuji oleh kepergian Mei yang tiba-tiba.

Lantas, mengapa Mei memilih menjauh di saat hubungannya dengan Borno kian dekat? Siapa pula Sarah yang tiba-tiba menguak masa lalunya yang kelam? Akankah kisah cinta yang terjalin harus berakhir tanpa alasan yang jelas?

Sekali lagi Tere Liye menunjukkan kepiawaiannya dalam meramu kisah cinta yang sederhana menjadi luar biasa. Agaknya ia pun tak ingin mengangkat novel roman yang picisan. Mungkin akan terbersit tanya di hati pembaca, di zaman sekarang, masih adakah kisah cinta jadul a la Borno dan Mei? Dan seperti halnya dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, KADSAM tak melulu membahas kisah cinta antara dua insan. Ada pesan-pesan yang seperti biasa disampaikan Tere Liye dalam novel-novelnya.

KADSAM memang berbeda dengan novel roman kebanyakan. Dari KADSAM, pembaca belajar banyak hal tentang makna kehidupan. Terselip di antara obrolan yang santai dan terkadang jenaka, pembaca diajak untuk memahami tentang hidup sederhana namun tetap bersahaja, tentang rasa saling menolong di antara tetangga, tentang semangat untuk bangkit di tengah keterpurukan. Dan satu pelajaran yang utama, tentang bagaimana memaknai sebuah perasaan.

"Kau tahu, Borno. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang."
− Pak Tua, hlm. 132

"Kau tahu, Nak, perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan."
− Pak Tua, hlm. 355

Ya, tak lengkap rasanya jika hanya membahas kisah cinta Borno dan Mei. Bisa dibilang, tokoh Borno akan tampak biasa-biasa saja jika tak didukung oleh tokoh lain, seperti Pak Tua, Andi, Koh Acong, Cik Tulani, dan tentu saja Bang Togar. Kehidupan di tepian Sungai Kapuas bersama mereka semakin menghidupkan karakter Borno.

Deskripsi yang detilpun masih menjadi keunggulan dalam karya yang dibuat Tere Liye. Penulis seolah tak ingin membuat novel yang nanggung. Maka, lihatlah bagaimana pembaca seolah masuk ke dalam cerita yang mengalir, menjadi bagian dari novel ini: menumpang sepit Borneo, jalan-jalan ke Istana Kadariah, menyibak keramaian Kota Surabaya, ikut serta menjelajah tempat-tempat wisata mulai dari Tugu Pontianak hingga Kota Kuching di Malaysia.

Tak hanya detil dalam deskripsi tempat, karakter masing-masing tokohpun cukup konsisten dari awal hingga akhir cerita. Ada Borno yang lurus hatinya, Mei yang lemah lembut namun misterius, Pak Tua dengan segala petuah bijaknya, juga Andi yang ceria. Ah, bahkan ada sosok Pak Sihol yang sabunnya sering hanyut, yang meski hanya tampil beberapa kali namun kehadirannya tak dapat dilupakan begitu saja. Dan gambaran kehidupan di tepi Sungai Kapuas semakin kental oleh aksen Melayu yang digunakan dalam dialog di antara penghuninya.

Satu hal yang disayangkan dalam novel ini, yaitu penulis menghilangkan satu bab dalam serial Kau, Aku, & Kota Kita yang menceritakan masa lalu Pak Tua. Bab tersebut seharusnya tetap dimasukkan agar mampu menjadi benang merah yang menjawab tanya di hati pembaca tentang sosok bujang tua yang kesehariannya tampak sederhana tapi sesungguhnya memiliki pengalaman hidup hingga ke ujung dunia. Meskipun Pak Tua bukanlah tokoh utama dalam novel ini, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa peran Pak Tua dalam kisah cinta Borno-Mei amat kental sekali.

“Dalam ceritaku ini, jangan pernah membantah Pak Tua. Untuk orang yang pernah mengelilingi separuh dunia, dia selalu benar.”
− Borno, hlm. 479

Bagi pembaca setia yang menginginkan gebrakan dalam setiap novel baru yang dibuat Tere Liye, mungkin akan sedikit menyimpan rasa kecewa dengan novel KADSAM. Meski membawa unsur lokalitas yang kental, tak ada yang benar-benar baru dalam penggarapan novel ini. Pembaca akan dihinggapi rasa bosan dengan pesan, karakter, dan gaya bertutur yang hampir tak jauh beda dengan karya Tere Liye lainnya.

Nilai tambah untuk KADSAM justru terlihat pada hampir tak ditemukannya kesalahan kata atau tanda baca dalam novel ini. Konsep open source nyatanya membuat para pembaca serial Kau, Aku & Kota Kita tak sungkan untuk mengoreksi kesalahan ketik sebelum naskah ini diserahkan ke penerbit. Para pembaca bahkan dilibatkan untuk memberi ide dan informasi yang berkaitan dengan KADSAM. Maka, tak heran jika di balik cover buku bersampul peach ini akan ditemukan testimoni dari beberapa orang yang mewakili para pembaca.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah nyatanya mampu membuat siapapun yang sedang jatuh cinta ingin mendapatkan atau bahkan menjadi sang bujang berhati paling lurus se-kotanya masing-masing. Selamat membaca! ^_^

***
FYI, ini adalah resensi terpanjang yang pernah aku buat :))
Profile Image for Chi.
73 reviews3 followers
June 25, 2012
Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah adalah karya Tere Liye yang pertama kali saya baca. Berawal dari rasa penasaran karena Gramedia Pustaka Utama sebelumnya beberapa kali telah mengadakan kuis yang berhubungan dengan novel-novel Tere Liye. Bahkan kali ini Gramedia mengkhususkan untuk mengadakan lomba resensi novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah. Sempat muncul pertanyaan dalam diri saya, apa hebatnya karya-karya Tere Liye sampai Gramedia begitu sering mengangkat ke dalam kuis maupun lomba? Saya masih ingat waktu Gramedia membuat kuis dari tiga buku karya Tere Liye: Ayahku (Bukan) Pembohong, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ,dan Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah, meminta pembaca memberi komentar novel mana yang paling mereka sukai, begitu banyak respon positif dari pembaca. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan saya semakin ingin membaca tulisan Tere Liye.
Jika membaca siniopsis yang terdapat cover dibelakang novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ada kalimat yang sangat menggelitik “Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah setelah tiba dihalaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.” Kalimat-kalimat itu begitu provokatif, dan menantang saya untuk menjadi bagian yang menceritakan kepada anda, kepada orang-orang seberapa spesialnya novel ini.
Cerita ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Borneo yang biasa dipanggil Borno. Borno tinggal di rumah kayu di sebuah gang sempit di pinggiran sungai Kapuas berdua dengan ibunya. Sebuah kejadian disaat umurnya dua belas tahun mengubah hidup Borno, ia harus kehilangan ayahnya seorang pelaut tangguh yang meninggal karena sengatan ubur-ubur. Satu kebaikan terakhir sebelum sang ayah meninggal, ia mendonorkan jantungnya
Selepas SMA berkali-kali Borno berganti pekerjaan, mulai dari buruh di pabrik karet sampai penjaga palang pintu, memeriksa kartis penumpang kapal feri. Nasib membuat Borno akhirnya bekerja sebagai pengemudi sepit-perahu kayu yang membawa penumpang menyeberangi sungai kapuas. Melanggar wasiat sang ayah yang memintanya agar jangan menjadi pengemudi sepit. Nasihat Pak Tua, lelaki bijaksana yang hampir selalu bisa memberi jawaban atas pertanyaannya, dukungan Bang Togar-sahabat dekat almarhum ayahnya, juga Cik Tulani dan Koh Acong-pemilik toko kelontong membuat Borno bersedia menjadi pengemudi sepit. Bahkan para pengemudi sempit di dermaga, penghuni gang, dan penumpang rela mengumpulkan sumbangan demi memberikan kejutan sebuah sepit, Sepit Borneo.
Dari sepit inilah awal kisah cinta terjadi antara Borno dengan seorang gadis keturunan Cina, yang ia temui pada hari pertama ia resmi mengemudikan sepit. Gadis itu meninggalkan sepucuk surat bersampul merah, di lem rapi, dan tanpa nama. Gadis itu jugalah yang membuat Borno sengaja menyalip antrian sepit agar dapat berada di antrian ke tiga belas, pukul 7.15 sesuai jam keberangkatannya. Borno selalu menunggu selama 23 jam 45 menit setiap hari untuk bisa melewati 15 menit bersama Mei, si gadis Cina.
Cinta mereka bukanlah cinta sederhana yang dengan mudah bisa bersatu dan bahagia. Kisah ini menjadi rumit karena ternyata Mei menyimpan rahasia masa lalu, kepedihan yang membuat mei memilih meninggalkan Pontianak dan pulang ke Surabaya. Kepergian Mei membuat Borno kehilangan gairah. Malam-malam dihabiskan untuk memikirkan sang gadis. Pun begitu selalu ada Andi, sahabat baik borno dan Pak Tua untuk berbagi cerita dan keluh kesah. Satu pesan Mei sebelum ia pergi “Tetap semangat menarik sepit , Abang” itu yang selalu Borno ingat.
“Cinta sejati adalah perjalanan, Andi,” Pak Tua berkata takzim. “Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatru menjadi Kapuas. Itu siklus yang tak pernah berhenti, begitu pula Cinta.”
Perjalanan cinta juga yang membawa Borno menuju Surabaya, bersama Pak Tua yang melakukan terapi penyembuhan. Benar kata Pak Tua “Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang di rundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksa jalan cerita, khawatir, cemas serta berperangai norak lainnya.” Borno menghabiskan waktunya untuk memakai koin demi koin demi menemukan Mei, berbekal uang receh dan buku telepon ia menghubungi baris-baris nama Sulaiman dan Soelaiman, yang mungkin menjadi nama keluarga Mei. “Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya.” Tak dinyana, di tempat terapi Pak Tua, Borno kembali bertemu Mei yang sedang mengantar Neneknya. Pertemuan yang membuat harapan baru bergemuruh di dadanya. Di Surabaya Mei mengajak Borno dan Pak Tua mengelilingi kota. Kemudian Mei juga mengubah keputusannya, untuk kembali ke Pontianak.
Kembalinya Mei, tidak pelak membuat semuanya selesai. Tere Liye kembali mengaduk-aduk pembaca dengan menghadirkan konflik melalui karakter Mei. Si Gadis berwajah sendu dengan sikap keras kepalanya, dan Borno dengan gengsinya yang tinggi. Pembaca dituntun dalam alur cerita campuran, dimana sesekali kita akan flashback kembali ke masa lalu. Rangkaian alur yang ditata sedemikian elok, membuat kita terhanyut dan ikut larut merasakan emosi perasaan Borno.
Tere Liye memilih penokohan orang pertama, Aku sebagai sudut pandang Borno sang tokoh utama membuat jalan cerita menjadi luwes. Novel ini mengajarkan kita tentang arti sebuah cinta, bagaimana perjuangan demi meraih sebuah kebahagian dan memaafkan. Karena cinta sejati selayaknya selalu memiliki lautan maaf buat orang yang kita cintai.
Tidak seperti kebanyakan novel roman lainnya yang mengedepankan adegan romantis antara dua tokoh yang sedang dilanda cinta. Biarpun di novel ini tak ada adegan mesra antara Mei dan Borno, namun plot-plot cerita yang dirangkai membuat kisah ini sangatlah romantis dan manis. Cinta dalam seebentuk ketegaran, perjuangan, tidak cengeng. Borno, Bujang berhati paling lurus, dengan cinta sejatinya.

Buat yang ingin tau dan penasaran bagaimana akhir perjalanan cinta Borno, bacalah Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah secara lengkap. Anda tidak akan menyesal melewatkan hari dengan mempelajari cinta lewat lembar-lembar kisah Borno. Cinta tidak hanya berisi “galau” kata paling populer bagi sebagian besar pecinta saat ini.
Buat saya, setelah membaca novel ini jika boleh memberi rating di goodreads.com, saya akan memberi rating 4.8 dari 5, karena hampir tidak menemukan bagian mana yang menjadi cela. Sedikit yang membuat rasa penasaran saya belum terobati adalah tentang pengarang. Jika biasanya pengarang akan banyak memberikan latar belakang kehidupannya lain halnya dengan Tere Liye, tak ada biodata singkat yang bisa menjelaskan siapakah ia yang telah menggoreskan kisah Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah dengan begitu indahnya. Bahkan setelah mencari di google, sangat minim informasi yang ada. Yang saya tau beliau adalah seorang ayah juga seorang suami dari Riski Amelia (istri bang tere) begitu yang saya dapat dari situs pribadinya.
Siapapun Darwis Tere Liye, beliau telah berhasil membakar semangat saya untuk membagikan kisah Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah untuk anda semua, dan ingin segera membaca kisah lainnya yang ditulis beliau. Tidak hanya membaca, tersimpan pula sepenggal mimpi besar agar kelak saya bisa menjadi seorang penulis seperti Tere Liye yang tiap ceritanya memberikan inspirasi dan makna tanpa kehilangan esensi utama yakni menghibur.
Profile Image for Liliyana Halim.
310 reviews241 followers
December 9, 2024
“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usalah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau sampai pulang ke Pontianak kau tidak bertemu gadis itu, berarti bukan jodoh. Sederhana, bukan?”
.
Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Baca ini mengingkatkan aku kenapa suka sama Hujan, Tentang Kamu dan Rindu. Suka cara berceritanya, lucu pasti, hangat, manis, bikin gregetan juga. Novel ini bercerita tentang Borno yang kehilangan ayahnya di usia dua belas tahun, tentang riwayat pekerjaan Borno, pertemuan pertama, cinta, persahabatan, kenangan lama, bangkit kembali, dan perpisahan. Selesai baca ini jadi pengen jalan-jalan ke kota Pontianak, juga merasakan makan di rumah Pak Tua. Aku suka Pak Tua, suka nasehat-nasehatnya untuk Borno, buatku nasehatnya itu seperti pengingat lagi kalau-kalau ada yang aku lupa tentang kehidupan ini. Aku suka persahabatan Borno dan Andi, apalagi waktu Andi tanya kenapa mau-maunya Borno belajar jadi montir 🥺. Aku cukup suka Borno dan kurang suka sama Mei 😖. Pokoknya kalau suka Hujan dan Tentang Kamu, baca ini juga yaa 😊. Jadi penasaran sama Sunset Bersama Rosie dan Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.
.
“Sepanjang kita punya mimpi, punya rencana, walau kecil tapi masuk akal, tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datang mengganggu pikiran. Ingat ini, seandainya kau tidak punya rencana itu. Kau tenang saja, rencanaku cukup besar untuk kita berdua. Masa depan yang lebih baik. Masa depan kita yang lebih cerah.” (Hal 282).
.
“Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta, Andi. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi.” (Hal 168).
.
“Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbah, ditulis, apalagi kaupamerkan-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.” (Hal 428).
.
“Kau lupa, Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kauabaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan.” (Hal 258).
.
“Borno, cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kaucueki, kaulupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan— “Dia terus menolak. Bahkan aku cemas, dia malah memutuskan pergi dari sini. Itu berarti sudah saatnya kau memulai kesempatan baru. Percayalah, jika Mei memang cinta sejati kau, mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus kalian lalui, dia tetap akan bersama kau kelak, suatu saat nanti. Langit selalu punya skenario terbaik. Saat itu belum terjadi, bersabarlah. Isi hari-hari dengan kesempatan baru. Lanjutkan hidup dengan segenap perasaan riang.” (Hal 430).
Profile Image for Eresia N. Winata.
25 reviews3 followers
March 3, 2013
Gramedia adalah tempat yang saya tuju selama dua hari berturut-turut demi menamatkan novel ini. Well novel ini masih seputar cinta. Uniknya, Tere Liye (lagi-lagi) berhasil mengemas detail kehidupan sehari-hari dengan jalinan kata yang eksotis. Bagi kebanyakan orang, kejadian sehari-hari yang memiliki ritme biasa terlalu sulit dituangkan dalam kata demi menghasilkan sesuatu yang menarik untuk dibaca. Tapi tidak bagi seorang penulis, seremeh apapun detail itu, mereka selalu mampu menyulapnya menjadi cerita yang layak dibaca, bahkan menyimpan banyak surprise yang tidak terduga.

Salutnya lagi, meski ini kisah cinta, tapi Tere Liye berhasil menampilkannya dengan megah tanpa ada sedikitpun adegan mesra yang jamak dilakukan pasangan anak muda. Ya memang ada adegan berdua, tapi tetap saja samasekali tidak menghilangkan gambaran perasaan cenut-cenut, berdebar, penasaran, H2C dan perasaan lain khas orang jatuh cinta. Seolah kita yang jadi tokoh utama dan terlingkupi dengan perasaan-perasaan tadi.

Salut untuk penulisnya, selalu renyah dan luarbiasa! :)
Profile Image for Hairi.
Author 3 books19 followers
November 6, 2012
Kali ini Tere Liye mengambil setting pulau tercinta saya, Kalimantan. Tapi bukan Kalimantan Selatan kampung halaman yang takkan pernah terganti untuk saya cintai sepenuh hati walau kini banyak berpijak di Kalimantan Bagian Timur. Tapi Kalimantan Barat, satu daratan tapi jika menempuhnya lewat udara harus singgah dulu di Pulau Jawa. Tidak ada penerbangan langsung ke Pontianak dari Banjarmasin (dulu sih, entah sekarang.) Dari Balikpapan saya tak tahu dan enggan mencari tahu sekarang :p

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Burno, yang dari paragraph awal buku ini sudah bercerita tentangnya, tentang Burno yang berusia enam tahun tapi sudah memikirkan hal-hal aneh. Salah satunya sibuk berpikir : Jika kita buang air besar di hulu Kapuas, kira-kira butuh berapa hari kotoran itu akan tiba di muara sungai, melintas di depan rumah papan kami?

Lewat pertanyaan itulah kemudian awal cerita bergulir, kita diperkenalkan dengan tokoh Bapak, Ibu, Koh Acong, Cik Tulani dan Pak Tua, tokoh-tokoh pendamping yang akan mewarnai jalan cerita. Hanya Bang Togar dan tentu saja Mei yang diceritakan bukan di bab prolog.

Cerita bergulir, usia 12 ayah Burno wafat. Tragis. Tapi kehidupan harus terus berjalan, Burno yang sudah menginjak dewasa kemudian mencoba mencari pekerjaan. Beragam pekerjaan kemudian dialaminya hingga kemudian berlabuh pada satu pekerjaan yang membuat dia menjumpai seorang gadis Cina yang meninggalkan sepucuk angpau merah di sepitnya. Yah, pekerjaan Burno adalah pengemudi sepit. Hal yang kemudian membuat saya penasaran bagaimana rasanya naik sepit? Wkwkwkwk… Apa sama dengan yang saya naiki waktu menyebrang ke Pulau Pinus? Atau sama dengan speed2 di Pelabuhan yang bisa menyebrang dari Panajam ke Balikpapan (yg ini belum coba, tapi kata suami ga sama)?

Kembali ke cerita, seperti judulnya Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah, maka cerita ini ya bergulir tentang Burno dan gadis yang meninggalkan Angpau merah di sepitnya. Gadis yang membuat hidup Burno jadi tak sama lagi, yang membuat dia berusaha datang tepat waktu ke dermaga sepit dan mengincar antrian sepit nomor 13. Untuk apa? Apalagi kalau bukan untuk mengincar gadis itu duduk manis di sepitnya, berkenalan dan berharap bisa menjalin hubungan ke arah jenjang lebih serius? Berhasilkan Burno? Ahaha… Rumit sekali cerita yang bergulir kemudian tapi sukses bikin penasaran…

**

Sebenarnya cerita ini pernah tayang di FB, saya menyimak episode2 awal dan kemudian mengabaikannya lagi. Tapi panik juga waktu penulisnya bilang mau menghentikan tayangannya di FB. Walau saya tak menyimaknya lagi tapi siapa tahu suatu saat saya berniat untuk membacanya sampai tuntas. Tentu saja tak menarik membaca cerita jika tak sampai ending.

Tapi justru saya menuntaskan cerita ini lewat bukunya, buku yang maju mundur saya bawa ke kasir karena menilai saya tak terlalu suka settingnya. Setting pengemudi sepit di Kalimantan apa menariknya? Lebih baik saya membeli cerita tentang seorang direktris muda atau bankir yang kerja di belantara ibu kota, yang punya hobby nongkrong di café dan menghabiskan waktu di mall. Lebih glamour dan lebih enak lah buat dilahap ceritanya.

Tapi saya salah, kesederhanaan dari cerita ini sungguh memukau di tangan seorang penulis sekaliber Tere Liye. Seorang Burno, pengemudi Sepit yang tinggal di Gang Sempit ini benar-benar menarik perhatian saya. Cerita dia yang jatuh cinta dengan seseorang yang kemudian diketahui berprofesi sebagai Guru membuat saya penasaran bagaimana ujungnya. Terlebih lagi cerita ini beberapa kali membuat saya terkekeh dan terpingkal, sampai memukul-mukul kasur (maaf ya kasur) oleh tingkah laku para pelaku di dalamnya yang kocak. Tak lebay dalam memberikan humor tapi sungguh menyegarkan.

Belum lagi nilai-nilai kehidupan yang diberikan di dalamnya. Tere Liye tentu saja tak hanya menyajikan sebuah cerita kosong tanpa makna. Akan ada sesuatu yang kita ambil di sepanjang cerita. Apa saja? Bacalah… wkwkwk…

Saya juga suka sekali ketika Burno dan beberapa tokoh di dalamnya bertandang ke Kuching.

“Selamat datang di Kuching, Nak. Inilah kota terbesar di seluruh Kalimantan. Kota kalian, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan apalagi Palangkaraya, tidak ada apa-apanya, jauh tertinggal. Kota kalian itu kecil saja disbanding kotaku ini. Macam kampung, hah.”

Sebuah kalimat yang bisa membuat tanduk berdiri buat yang sensitif dengan hubungan Negara kita dengan negeri jiran itu termasuk Andi, teman akrabnya Burno. Tapi saya tidak. Hehehe…

Sesaat setelah selesai membaca buku ini, saya membongkar MP penulisnya demi mendapatkan ending yang tersaji di dunia maya, kata suami endingnya beda dengan yang di buku. Dan saya pun membaca episode akhir yang ada di MP. Hasilnya? Saya lebih suka ending yang ada di buku. Selera pasar lah. Wkwkwkwk… atau selera saya yang pasaran? Entah :p

“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan bakso, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan bakso.”

“Biarkan semua mengalir bagai Sungai Kapuas. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan.”



Dan saya suka sekali dengan pernyataan Burno tentang perasaannya : “Kau satu-satunya kesempatan yang pernah kumiliki, dan aku tidak akan pernah menggantinya dengan siapa pun”.. cieeee… hati wanita mana yang ga luluh, tapi sayang kalimat itu hanya tercetus di hati Burno :p
Profile Image for Hidayah.
61 reviews2 followers
December 9, 2013
Pandangan pertama selalu terhalang oleh kemasan, layaknya ketika kita bertemu buku, hei ada apa dengan Kemasan, baik itu kemasan judul maupun cover sehingga mudahnya kita mengambil kata “penting” dan “tak penting” tak mau tahukah apa yang ada didalamnya, buku ini mengemas kesederhanaan, perasaan sederhana, kehidupan yang sederhana pula, BORNEO “Borno” anak bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Sungai Kapuas, buku ini mengemas perasaan-perasaan sederhana, bahkan mungkin kita juga memiliki perasaan sederhana itu.

Mengambil latar di pulau Pontianak menyeberang melintas di tepian Sungai Kapuas, siapa Borno?? Nama yang sempat membuat aku hanya memaklumi siapapun namanya tak apa, masih ada pembentukan karakter, lanjut..., tak disangka kehidupan bantaran Sungai Kapuas, keseharian tukang sepit motor tempel, Gang Sempit, Warung pisang goreng, membawa perasaan siapapun terbawa mendalami semua itu, dan pertemuan pertama tentang perasaan Borno membuat perasaanku teraduk-aduk pula.
Hal bodoh yang dilakukan Borno Alamak membuat peraasaanku tak karuan pula..., soal antrian sepit nomor tiga belas, mencari alamat Mei di Surabaya....yang lebih mengena adalah petuang Pak Tua , benar-benar mengajarkan pada kehidupan dari pengalaman,...Pak Tua akan tetap mebuat Borno menjadi Bujang berhati mulia disepanjang tepian Sungai Kapuas, kisah si Fulan dan Fulani...,

Perasaan adalah perasaan meski secuil, waaktu setitik hitam ditengah Lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat, hebat sekali benda bernama perasaan dalam sekejap ceraah padahal dunia sedang mendung, dan kejap berikutnya menjadi buram padahal duni seedang terang benderang.

Dari buku selalu akan ada kejutan dan pemahaman baik tentang kehidupan.
Profile Image for Sonia Loviarny.
19 reviews21 followers
September 4, 2013
selalu suka sama gaya penulisan bang Tere Liye >.<

buku ini tentang cinta pertama yang sederhana, tetapi dipaparkan secara apik dan menarik
jalan ceritanya mengalir begitu aja
jadi nggak bosen bacanya meski sebenernya agak lumayan tebal untuk sebuah novel percintaan
tetapi pelajaran yang bisa diambil disini bukan cuma ttg itu saja, terutama dari perkataan dan cerita Pak Tua, banyaaak yang bisa jadi inspirasi =)

my favorite part is
"Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau sampai pulang ke Pontianak kau tidak bertemu gadis itu, berarti bukan jodoh. Sederhana, bukan?"

Yaa, benar sekali abang Tere, cinta memang sesederhana itu, manusianyalah yang bikin rumit, ahaha >.<
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
January 28, 2013
Whoa akhirnya selesai juga bacanya :D

this book is great, i told you.
pertama karena setting tempatnya yang di daerah kalimantan, bukan kota besar, melainkan gang sempit di pinggiran sungai kapuas.
kedua karena penamaan tokoh yang nggak maksa, ala kadarnya dan membumi banget :)
ketiga karena profesi tokoh yang jarang diangkat sebagai sebuah cerita, bikin aku mikir bahwa "oh, ternyata profesi ini keren juga dijadikan cerita"
terakhir, karena jalan ceritanya yang bagus banget. banyak makna hidup juga yang diangkat dalam novel ini, bukan sekedar roman picisan yang seringkali dilebai-lebaikan itu.. yang biasanya juga suka aku baca :D
awalnya aku ragu dengan ketebelan buku ini, tapi dengan kisah yang menarik dan alur yang apik, aku berhasil menghabiskannya dalam waktu dua hari dua malam, yay!
mungkin, aku akan mencari bujang yang berhati paling lurus di sepanjang pinggiran sungai kahayan untuk dijadikan suami, hha
1 review
November 17, 2012
This novel tells about the life of a young man named Borno in Pontianak, West Kalimantan. not just love life, but also the lives of others. there are many lessons we can take from this novel. lessons are delivered by characters old man who gave a lot of advice about life to Borno. in addition to the old figures, there are also many other characters that make this novel so evocative emotion. as of May, the girl who made ​​the chinese descent Borno love. Andi, a close friend who tells the struggles of life Borno. and other characters.
Profile Image for Yazlina Saduri.
1,550 reviews41 followers
October 23, 2025
Kisah kehidupan anak muda yang jantung ayahnya dibagi ke orang kaya. Kisah perjalanan membelah nasib di Sungai Kapuas Pontianak, nan asasnya redha, asasnya kerja keras, asasnya sabar, asasnya kasih sesama sesiapa yang dikenali. Sepakat komuniti kampung atas air dan pengemudi sepit di dekat Jaringan air Kapuas. Kisah cinta Borno - Mei yang banyak rintangan, misterius, keren mengesankan.
Profile Image for Ayu.
343 reviews22 followers
June 24, 2012
Borno—bocah yang namanya didapuk dari nama pulau tempatnya tinggal, Borneo—berasal dari keluarga yang turun-temurun bermata pencaharian di sekitar Sungai Kapuas, sungai terbesar di Indonesia yang juga digunakan oleh sebagian besar penduduk Kota Pontianak sebagai lahan untuk mencari nafkah, terutama bagi pengemudi-pengemudi sepit—kendaraan air untuk melintasi antar dermaga di Kota Pontianak. Borno kecil merupakan anak yang ceria dan selalu ingin tahu, ia tinggal di gang sempit di tepian Sungai Kapuas. Di usianya yang baru menginjak dua belas tahun, ia harus kehilangan bapaknya yang cakap dan pekerja keras itu. Adalah ubur-ubur yang merenggut nyawa bapaknya ketika beliau hendak melaksanakan tugasnya sebagai nelayan. Borno kecil hanya bisa menjerit-jerit melihat tubuh bapaknya terbujur kaku, terlebih lagi saat dokter hendak membedah dada bapaknya dan mengambil jantungnya untuk didonorkan.

Bertahun-tahun setelah ditinggal bapaknya, Borno pun tumbuh sebagai bujang lapuk yang bekerja sebagai pengemudi setelah mencoba bekerja ke sana kemari. Di hari pertamanya menarik sepit, Borno langsung bertemu dengan perempuan yang menarik hatinya. Gadis itu mengenakan baju kurung kuning dan membuka payungnya. Ia meninggalkan sepucuk amplop di tempatnya duduk.
Setelah berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, Borno bertanya-tanya tentang amplop itu, isi amplop itu, untuk siapa, Borno pun akhirnya dekat dengan Mei, gadis yang menjatuhkan amplop itu. Borno bahkan sampai menghafal kebiasaan Mei naik sepit supaya ia bisa bertemu dan mengantar Mei setiap hari. Tapi kebahagiaan Borno tak berlangsung lama, Mei harus kembali ke Surabaya, tanpa bisa ditunda-tunda lagi.

Setahun lamanya, Borno hidup dalam kemurungan akibat ditinggal Mei, Mei akhirnya kembali ke Pontianak. Tapi, sekembalinya Mei ke Pontianak, hidup Borno seakan-akan bertambah runyam. Bapaknya Andi—sahabat karibnya—mengajak Borno untuk berkongsi dalam membeli sebuah bengkel yang lebih besar, ini membuat Borno harus mempertaruhkan pekerjaannya sebagai pengemudi sepit. Lalu Mei, lambat laun Mei mulai menjauhi Borno tanpa ada penjelasan apapun, hanya sebuah pesan untuk tidak saling bertemu lagi, setelahnya tak ada penjelasan apapun. Dan Sarah, dokter gigi yang cantik rupawan dan selalu ceria, yang ternyata teman Mei sejak kecil.

Berbulan-bulan setelah Mei memutuskan untuk menjauhi Borno, Mei yang pulang ke Surabaya itu mulai jatuh sakit. Borno yang masih bertanya-tanya mengenai alasan Mei menjauhinya akhirnya menemukan jawabannya. Dalam amplop merah yang dijatuhkan Mei.

Sempat terkejut juga dengan adegan terakhir dalam buku. Saya kira, amplop merah itu hanya sekedar angpau biasa yang dibagikan Mei saat hari raya imlek. Dan saat bagian selanjutnya sudah tidak menceritakan amplop merah tersebut, saya kira ya sudah, kisah si amplop merah itu sendiri ya sudah tidak ada lanjutannya. Imbasnya, saya bertanya-tanya, kenapa judulnya melibatkan si amplop merah kalau ternyata keterlibatan si amplop merah ini sebentar sekali. Ternyata di akhir cerita, si amplop merah menceritakan semuanya. Penjelasan yang bikin pembacanya benar-benar speechless, dan harus saya akui, mengejutkan sekali.

Hal kedua yang mengecoh saya adalah, sampul buku ini. Pada sampul buku, digambarkan bahwa seorang wanita berdiri sambil membuka payungnya dengan ekspresi menunggu sesuatu di suatu dermaga. Oke, jadi perkiraan saya adalah bahwa novel ini akan diceritakan dari sudut pandang seorang wanita yang akan/sedang/sudah jatuh cinta. Dan novel ini pasti akan mellow sekali. Dan wow, ternyata novel ini diambil dari sudut pandang seorang laki-laki tanpa menghilangkan kesan roman yang mellow dan manis tersebut.

Buku yang bersetting di Pontianak ini menghadirkan kisah cinta Borno—pemuda baik hati, pantang menyerah, gigih, yang bekerja sebagai pengemudi sepit dan akhirnya menjadi pemilik bengkel—dengan Mei—keturunan Tionghoa yang berada di Pontianak untuk keperluan mengajar. Buku yang sarat akan nuansa roman dan komedi, dan nuansa Pontianak, ini akan membuat pembacanya terhanyut dengan cerita-cerita tentang Borno dan Mei. Bagaimana Borno yang tak kunjung mengungkapkan isi hatinya pada Mei, mengapa Mei yang tak kunjung memberi penjelasan pada Borno, dan segudang cerita-cerita menarik yang akan membuat Anda terlarut membacanya. Disampaikan dengan bahasa yang ringan, sangat mudah dimengerti dengan bumbu-bumbu humor yang tak menghilangkan nuansa mellow pada buku. Saking terhanyutnya saya, saya bahkan meniru beberapa percakapan para tokoh, saya bahkan sudah membayangkan bagaimana bila buku ini diangkat menjadi sebuah film. Pontianak, sepit, Borno, dan cinta, benar-benar perpaduan yang unik untuk dijadikan sebuah film. Ditambah lagi dengan nuansa Pontianak yang begitu kental terasa yang tertuang dalam buku ini, penulis sepertinya benar-benar mengenal setiap sudut yang ada di Kota Pontianak, sehingga penulis mudah saja menggambarkan setting utama cerita.

Secara pribadi, saya menyukai buku ini, ide yang digunakan untuk menghadirkan kisah cinta ini, benar-benar manis, ringan, hanya saja tidak membuat iri. Nah, menurut saya unsur terakhir inilah yang menjadi kekurangan buku ini, karena menurut saya novel roman bisa dikatakan bagus apabila bisa membuat iri pembacanya. Sosok Borno sendiri bisa dibilang pantas untuk dikagumi, ia adorable, saya bahkan sudah mempunyai bayangan siapa artis yang pantas mendapatkan peran sebagai Borno dalam film ini, dan Borno yang digambarkan oleh penulis—bisa dibilang—tidak se-mainstream tokoh-tokoh laki-laki pada umumnya. Hanya saja, Borno tidak membuat saya jatuh cinta, saya bahkan nggak tahu mengapa saya tidak jatuh cinta pada Borno, semudah jatuh cinta dengan tokoh-tokoh laki-laki dalam novel lainnya.

Mei bisa dibilang gadis yang lugu, dalam artian ia adalah gadis yang jujur. Walaupun seringnya saya dibikin gemas oleh tingkah Mei, saya menyukai sifatnya yang rendah hati dan pintar bergaul dengan setiap orang. Penggambaran Mei dalam buku ini bisa dibilang sempurna. Ia kaya, pintar, baik, dan cantik. Tapi, saya pun juga nggak bisa dibilang menginginkan jadi seperti Mei. Saya pun tidak mempunyai rasa iri terhadap Mei. Walaupun begitu, saya senang sekali bahwa Borno memutuskan untuk tetap bersama Mei, dan bukan Sarah. Kebanyakan orang, apabila ia sakit hati dan sudah terlanjur ditinggal oleh seseorang, ia akan mencari orang lain untuk menjadi pasangannya. Apalagi jika ia berada di situasi seperti Borno. Borno mungkin sakit hati dengan perlakuan Mei, apalagi Mei langsung bertolak ke Surabaya agar tak bertemu Borno lagi, dan Sarah yang cantik juga hadir dan mengenal Borno, kebanyakan orang yang terjepit seperti Borno pasti akan langsung memilih Sarah, bukan? Dan thanks God, ternyata Borno cukup teguh untuk tetap memilih Mei sebagai pasangannya.

Selain roman, buku ini juga sarat dengan kata-kata bijak dan humor. Kata-kata bijak yang ada dalam buku juga tidak bisa dikatakan asal. Bisa dibilang, kata-kata bijak yang—kebanyakan—diucapkan oleh tokoh Pak Tua bersifat menyentak pembaca. Saya bahkan sempat berpikir, dari sumber apakah penulis mengutip kata-kata sebijak ini. Sejauh ini saya belum melihat profil penulis, sehingga belum mengetahui setua apakah penulis. Apakah beliau setua tokoh Pak Tua sehingga dapat menghadirkan kata-kata yang bermakna sangat dalam. Unsur humor yang terdapat dalam buku juga tak kalah menghibur, sedikit pereda untuk bagian-bagian roman yang mungkin terlalu ‘mengharu-biru’. Dalam bagian-bagian komedi, tokoh-tokoh di luar Borno dan Mei-lah yang aktif, terutama Andi. Andi, seorang bujang lapuk yang tak laku-laku, yang bekerja di bengkel bapaknya sendiri selepas SMA. Pembawaannya yang selalu santai, tak ambil pusing, dan memang sifat dasarnya yang jahil, tentu akan sanggup membawa pembaca menikmati cerita lengkap dari buku ini. Sebenarnya saya juga nggak tahu apakah karena unsur komedi yang begitu sarat yang membuat alur cerita ini mudah ditebak.

Okay, jadi buku ini bisa dibilang memiliki cerita yang manis dan ringan untuk diikuti, mungkin kedua unsur ini bisa jadi titik balik dari buku ini, menurut pendapat saya. Mungkin gara-gara bobot cerita yang terlalu ringan dan mudah diikuti inilah, jalan cerita jadi terkesan mudah ditebak. Sebenarnya nggak masalah sih, apakah penulis menggunakan alur yang predictable atau tidak, bahkan sebenarnya nggak ada masalah juga dengan alur yang digunakan dalam cerita ini, alurnya predictable sekali tetapi bisa dialihkan dengan humor-humor yang seabrek. Tapi, akan lebih menarik lagi kalo penulis sedikit memancing-mancing rasa penasaran pembacanya.

Hal pertama yang bisa ambil sebagai pelajaran moral dari buku ini adalah, bahwa kita senantiasa diajarkan untuk selalu tidak putus asa dan gigih dalam bekerja. Nggak peduli dari mana kita akan memulai karir kita untuk bertahan hidup, bahkan dari titik terendah sekalipun, kalau kita tetap giat dan tekun, pasti akan ada penghargaan yang nantinya akan kita terima dari hasil kegigihan dan keuletan kita. Borno tidak memulai karirnya dengan mulus, ia mulai dengan menjadi buruh di pabrik karet. Ia kerap diolok-olok tetangganya akibat ia membawa bau karet yang menyengat. Lalu ia bekerja di kapal feri, mengakibatkan ia dikucilkan oleh anggota paguyuban pengemudi sepit, dilarang naik sepit, bahkan hampir dikucilkan oleh semua warga gang sempit kalau tak segera berhenti bekerja di kapal feri. Hingga akhirnya ia menjadi pengemudi sepit dan pemilik bengkel yang ramai dikunjungi orang-orang, dan bisa dibilang sukses.

Pelajaran moral yang cukup menampar adalah bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya entah bagaimana caranya. Yang saya dapat, buku ini nggak mengajarkan saya untuk tetap berjuang keras mendapatkan cinta sejati. Nggak juga mengajarkan saya untuk terus menunggu datangnya cinta sejati. Mei dan Borno awalnya hanya berkenalan, mereka akhirnya dekat, hanya masalah waktu sampai akhirnya mereka sadar bahwa mereka saling membutuhkan. Jadi, buku ini mengajarkan saya untuk percaya, bahwa cinta sejati itu pasti datang. Bahkan usaha sekecil apapun dalam pencarian kita nantinya akan berujung, hanya masalah waktu saja.

Selamat membaca, selamat terhanyut oleh kisah Borno dan Mei, dan selamat tertampar oleh beberapa kata-kata bijak Pak Tua.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
July 11, 2012
Kota Pontianak adalah salah satu kota yang Istimewa di Indonesia, selain karena terdapat tugu katulistiwa, nama kota ini pun bisa dibilang unik. Kata Pontianak sejatinya adalah nama sejenis hantu yang terkenal di daerah tersebut. Alkisah karena kemenangan Sultan Alkadrie melawan hantu Ponti ini, maka peristiwa itu dikenang dengan cara memberikan nama Pontianak sebagai nama kota ini. Sayangnya tak banyak buku-buku yang menuliskan cerita berlatar kota Pontianak. Maka ketika saya tahu bahwa kisah di buku Tere Liye kali ini diceritakan dengan mengambil latar kota tersebut, maka semakin besar niat saya membaca buku ini.

Tersebutlah seorang Anak laki-laki bernama Borno. Ketika ia berumur dua belas tahun, Bapaknya yang seorang nelayan terjatuh ke laut dan tersengat ubur-ubur. Divonis meninggal secara klinis, Akhirnya jantung milik Sang Bapak didonorkan ke seorang pasien gagal jantung yang berminggu-minggu menantikan donor. Borno kecil meraung marah, meratap dan kecewa, Bapak belum benar-benar meninggal. Mengapa dadanya harus dibelah?

Sepuluh tahun kemudian, berceritalah Sang Penulis tentang kehidupan Borno muda. Semenjak lulus dari SMA, telah banyak pekerjaan yang ia lamar, namun tak satu juga yang benar-benar mantap ia jalani. Enam bulan bekerja di Pabrik karet, ia dan banyak karyawan lainnya dipecat karena perusahaan saat itu merugi. Berikutnya ia menjadi pemeriksa karcis di dermaga feri, sayangnya pekerjaan ini membuat Borno dimusuhi oleh Bang Togar dan sebagian besar pengemudi sepit (semacam perahu sebagai transportasi air di Kalimantan) karena Feri merupakan saingan terbesar dari sepit. Kemudian ia menjadi petugas SPBU apung sementara, membantu menjaga warung, mencari sotong, memperbaiki genteng, toilet mampet, dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya.

Orang-orang terdekatnya mulai prihatin, Cik Tulani pemilik warung makan, Koh Acong pedagang Kelontong, sampai Ibunya sendiri semua menyarankan Borno untuk menjadi pengemudi sepit. Meski Bapaknya pernah melarang Borno menjadi pengemudi sepit, tetapi dalam hati Borno berjanji

“Aku akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras-meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit” –Hal. 54

Pertama-tama tentunya Borno harus belajar mengemudikan sepit, beruntunglah ia karena ada Pak Tua, seorang pengemudi sepit yang berbaik hati mau mengajarkan Borno. Sayangnya tidak semudah itu, untuk menjadi anggota pengemudi sepit di Sungai Kapuas, Borno harus melalui masa perploncoan dari Bang Togar, ketua PPSKT (Persatuan Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta), terlebih dulu. Membersihkan jamban umum, mengecat sepit Bang Togar bahkan ketika Borno diberi kepercayaan Pak Tua untuk membawa penumpang pertama kali, Bang Togar malah melarang Pak Tua ikut dalam perjalanan tersebut. Meski ketar-ketir, toh akhirnya Borno sampai dengan selamat membawa seluruh penumpang di sepit yang ia kendarai.

Tanpa ia sadari, saat itu semesta sedang setuju serempak bersama memperkenalkan Borno pada gadis yang kelak membuatnya jatuh cinta. Kenangan pertama yang Borno ingat dari gadis itu adalah gadis itu memiliki wajah yang sendu menawan. Mengapa Borno tertarik dengan gadis ini? Tak lain dan tak bukan karena Si Gadis telah menjatuhkan sebuah amplop kecil berwarna merah di sepit yang tadi dikemudikan Borno. Maka dari sinilah awal perkenalan Borno dengan perasaan yang konon bernama ‘cinta’ itu dimulai.

Borno terus menyimpan amplop merah itu sambil mencari gadis berwajah sendu yang memilikinya setiap pagi di pangkalan sepit. Sampai suatu hari ia menemukan gadis itu sedang membagi-bagikan angpau persis seperti amplop merah yang ia temukan kemarin. Rupanya Si sendu menawan sudah mengetahui nama Borno, bahkan kemudian Borno menjadi akrab dengan gadis itu.

Setiap pagi Borno berangkat tepat waktu agar bisa mengantarkan si sendu menawan menyeberang. Apapun caranya, ia akan memilih urutan sepit nomor tiga belas karena berdasarkan pengalamannya, sepit di urutan itulah yang akan membawa Si sendu menawan menyeberang.

Seperti yang seterusnya bisa diperkirakan pembaca, Borno dan Si Sendu Menawan akhirnya berkenalan. Gadis itu bernama Mei, ia sedang kuliah lapangan mengajar di sebuah SD di Pontianak. Sayangnya Mei harus segera kembali ke Surabaya, kembali ke rutinitas kuliahnya dan Borno menghabiskan enam bulan dalam kerinduan bertemu lagi dengan Mei.

Suatu hari setelah enam bulan menanti, kabar baik mengunjungi Borno. Pak Tua memutuskan untuk melakukan terapi pengobatan penyakitnya di Surabaya, diajaknyalah Si Borno ikut serta. Bahagia bukan main meraja, tapi apalah daya, Borno tak tahu di mana alamat Mei di kota besar itu. Namun kali ini semesta bekerja sama lagi untuk membuat Borno sedikit lebih dekat dengan Mei. Mereka bertemu di klinik tempat Pak Tua melakukan terapi. Berkali-kali bertemu dan menyimpan rasa suka, ternyata tak membuat hubungan keduanya berjalan mulus seperti kisah cinta biasa. Borno harus menyimpan beribu tanya ketika Bapak Mei berulangkali menyuruh Borno menjauhi anaknya. Belum lagi dengan hadirnya seorang gadis cantik lain di kehidupan Borno, dengan cara yang tidak diduga.

Bagaimana kisah cinta Borno diakhiri di cerita ini? Akankah ‘hidup bahagia selama-lamanya’ menjadi takdir Si Bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas itu kelak?

Sebuah buku yang sarat akan cinta. Itu kesan saya ketika menutup lembar terakhirnya. Bagaimana tidak, selain kisah cinta Borno dengan Mei yang diam-diam menggelitik, pembaca juga disuguhkan sedikit kisah cinta Bang Togar dengan istrinya, ditambah kalimat-kalimat cinta Pak Tua yang ‘jleebb’ ketika dibaca. Berikut salah satu contohnya.

“Boleh jadi ketika orang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memilik separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga.” –Pak Tua. Hal. 479

Sebenarnya saya sudah sering membaca karya-karya Tere-Liye, tetapi selama ini saya lebih sering menemukan ia berkisah tentang cinta dalam keluarga. Bukan hal macam percintaan Borno dan Mei kali ini, dan yang membahagiakan saya ternyata ciri khas cara penyampaian cerita Tere Liye juga tak hilang. Ia masih menyelipkan beberapa kalimat-kalimat yang memotivasi dan mencerahkan, meski lebih sering keluar dari kisah Pak Tua.

Sosok Pak Tua inilah yang membuat saya sedikit kurang puas dengan buku ini. Pak Tua adalah lelaki misterius yang seakan-akan ditokohkan ‘super’. Ia punya banyak sekali kata-kata menarik tentang cinta yang membuat Borno dan Andi, sahabatnya, terkagum-kagum dengan petuah Pak Tua. Terlebih bahwa ternyata Pak Tua ini memiliki uang yang banyak tersimpan, cukup untuk membuatnya bebas menikmati hari tua. Pak Tua juga sosok yang pintar memecah kebekuan suasana, membuat yang tadinya kaku menjadi berbaur dengan gembira. Mungkin banyak pembaca yang menyukai sosok Pak Tua, namun tidak demikian dengan saya karena saya merasa Bang Togar adalah sosok yang lebih ‘manusia’.

Bang Togar ini sifatnya keras dan galaknya minta ampun. Tapi meski demikian, dia selalu menghormati dan menghargai para anggota perkumpulan PPSKT-nya. Bahkan ia juga menanamkan (meski kadang dengan ancaman) agar anak buahnya yang sedang bertengkar mau berdamai lagi. Bang Togar juga tipe lelaki yang menghargai dan benar-benar menghormati sejarah. Masa lalu baginya suatu pelajaran yang harus diambil hikmahnya, meski terkadang ia mencoba membalasnya dengan kejam. Bang Togar sebenarnya memiliki hati yang baik dan murah hati, terbukti dari kisahnya setelah ’tragedi dengan Kak Unai, istrinya’ yang diceritakan di buku ini. Buat saya Bang Togar memang hanya manusia biasa yang kadang salah dan alpa, tapi ia juga punya kebaikan yang tersimpan di hatinya.

Untuk ukuran novel dewasa, saya suka dengan penceritaan penulis tentang filosofi cinta yang rumit di buku ini. Seperti lagu yang konon katanya kalau jatuh cinta bisa membuat tidur tak tenang, makan tak lahap, semuanya habis untuk memikirkan si dia. Tapi seperti diingatkan, kita dituntun dan dijelaskan bahwa bukan cinta seperti itu yang sehat. Cinta yang sehat itu adalah cinta yang pantang menyerah, cinta yang selalu berdoa, bahkan selalu optimis berharap kebaikan selalu terjadi atas dirinya. Seperti cerita Borno dengan Mei, si Gadis sendu menawan.

Ketidakpuasan saya pada 37 bab cerita di dalamnya terletak dari endingnya yang terlalu biasa, bahkan saya merasa dipaksakan untuk diakhiri dengan cara seperti itu. Bukan berarti saya mengharapkan ceritanya berkelanjutan, tetapi konflik yang terbangun dan tereksekusi dengan baik dari awal sampai klimaks cerita rasanya terlalu berbobot untuk ending buku ini. Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah memang penulis sengaja mengakhiri cerita ini dengan begitu sederhana dengan maksud bahwa kehidupan memang terkadang berakhir dengan kejadian biasa-biasa saja. Atau memang penulis kehabisan ide untuk mengakhiri cerita ini dengan kejutan?

Tapi toh saya suka sekali dengan kisah buku ini, cara penulis mengungkapkan detail tempat, detail suasana, detail perasaan tidak membuat pembaca terganggu menikmatinya. Peralihan scene yang smooth meski kembali ke puluhan atau bertahun-tahun lalu mampu diceritakan dengan apik. Cover dan layoutnya juga memuaskan pembaca, ah.. saya rasa memang buku ini memang layak dibaca bagi mereka yang pernah atau sedang atau sedang bersiap menghadapi datangnya cinta.

Seperti kata Pak Tua :

”Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.”


Selamat merasakan cinta dengan buku ini. :)










Profile Image for Mr Fandi.
20 reviews2 followers
September 9, 2021
Novel ini merupakan cerita romance yang dibuat menarik oleh bg tere dalam kisah seorang pemuda bernama Borneo yang lebih akrab dipanggil "Borno". Kisah yang berlatar di pontianak tepi sungai kapuas yang terkenal eksotis keindahan alam yang menawan, sungguh kisah cinta yang diluar ekspetasi untuk pembaca karena banyak titik titik benang merah yang harus disatukan menjadi sebuah cerita yang utuh dan menarik untuk dibaca sampai akhir.

Bang tere kembali mengeluarkan kepiawaiannya dalam membolak balik imajinasi pembaca agar cerita didalam novel membuat penasaran dg kisahnya, banyak tokoh cerita yang menarik seperti Mei anak gadis keturunan cina yang cantik diberi sebutan gadis sendu menawan merupakan seorang guru. Pak Tua sebagai orang tua pengganti dari ayah Borno yang telah meninggal dunia semenjak ia kecil, Pak Tua selalu ada dalam setiap kegundahan hati Borno akan kisah cinta bersama gadis pujaan hati. Andi merupakan sahabat terbaik Borno dalam keadaan apa pun, dia selalu bisa diandalkan dalam menghibur sahabatnya.

Ada bagian isi cerita yang membuat ku merasa bingung apa yg terjadi akan kisah cinta Borno dan Mei, ini menurutku agak membingungakan dengan tokoh Mei dalam sikap dan karakternya dan pada akhir cerita baru terbongkar jawaban benang merahnya kenapa ! cuma kurang greget dan hanya berupa sepucuk surat dan bagian epilog lumayan membingungkan tidak ada bagaimana kelanjutan kisahnya berakhir.

Novel ini tetap manarik untuk dibaca bagi anak-anak remaja yang lebih melankolis dan baperan ya hehehe. Banyak kata-kata atau kalimat yang dibuat bang tere terasa cocok untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta, membuat pembaca merasa ikut merasakan apa yang disampaikan dalam cerita itu sangat baik alurnya jika telah dibaca secara keseluruhan.

Bagi para pecinta novel remaja yang bertemakan romance, ini sangat recommend untuk menunjang kepustakaan sebagai bahan koleksi karya bang tere liye. Konflik yang menarik dan jalan cerita yang susah ditebak, bikin penasaran dan segera miliki novel nya agar tau kisah Borno dan Mei sampai selesai.

STOP PEMBAJAKAN ⛔🚫 Hargailah karya anak bangsa dengan cara membeli buku nya secara resmi dan original, bukan bajakan yang merugikan penulis dan penerbit. Jangan pernah mengaku nge-fans tapi masih menikmati karya sang idola dengan bajakan, tidak ada kualitas dan respectnya.

Resensi Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah | Penulis : Tere Liye | 512 Hal | Penerbit : Gramedia Pustaka |
ISBN : 978-602-033-1-614 | Cetakan ke-25 : Januari 2021|
Profile Image for KHAIR: .
65 reviews5 followers
August 21, 2024
Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah: Sebuah ulasan berdasarkan pandangan pribadi (4/5)

“Dunia ini terus berputar. Perasaan bertunas, tumbuh mengakar, bahkan berkembang biak di tempat yang paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun. Perasaan-perasaan kadang dipaksa tumbuh di waktu dan orang yang salah.” (halaman 146)

Satu lagi novel romansa yang dikemas dengan ciri khas-nya Tere Liye. Adalah uniknya karakter baik dari nama maupun pekerjaan yang jarang orang pikir atau gunakan: Borno sebagai Pengemudi Sepit.

Untuk novelnya sendiri, bisa diingat—Tere Liye bukan tipe penulis yang dapat dengan mudah menyajikan pembaca dengan sebuah kisah romantis tanpa ada banyak gejala—alurnya bisa dibilang cukup lama, tipikal novel slow burn, kalau tidak cukup sabar jangan harap bisa menamatkan novel ini, jangankan menyentuh epilog, di babak pertama mungkin sudah akan bosan. Karena memang mau bagaimana lagi, namanya novel romansa pasti tidak jauh-jauh dari konflik klise yang sering dialami anak muda. Dan, ya, layaknya novel lainnya juga, pembaca akan dibuat bimbang di pertengahan cerita karena adanya tokoh baru yang menarik perasaan karakter utama. Membuat bingung saja ingin menaiki kapal yang mana. Oh, ngomong-ngomong adakah tim Borno & Sarah disini? Karena jujur, sejak munculnya karakter Sarah di novel, saya malah lebih mantap dan mendukung Borno akan berakhir dengan Sarah saja dibanding dengan Mei yang terlalu bingung dan suka menarik ulur perasaannya sendiri. Andai saja dari awal karakter Borno dibangun dengan sifatnya Andi dan memilih untuk membuka isi surat, mungkin akan lain cerita ha-ha-ha.

Akhir kata, banyak terima kasih saya ucapkan kepada karakter Andi di novel ini karena sudah banyak menghidupkan suasana. Serta Pak Sihol dan sabunnya. Juga Pak Tua dengan banyak nasihat terbaiknya.

“Kau tahu apa yang bisa dengan segera membuat tampang kusutmu mencair seperti mentega lumer di penggorengan, sebal di hati pergi seperti kotoran disapu air? Sederhana, Borno. Kau bolak-balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh jadi penerimaan. Seketika wajah kau tak kusut lagi.” (halaman 59)

“Terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana baik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan.” (halaman 210)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Leila Rumeila.
999 reviews28 followers
March 25, 2023
Buku ke-5 dari TL yg gue baca.
Buku ini sebagus Tentang Kamu dan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, tapi tetap Hujan masih jadi favorit gue dari TL sejauh ini.

Gue pribadi lebih ke tim Sarah daripada Mei sebenarnya. Lumayan gregetan dalam arti kesal sama karakter Mei ini, kesannya kaya plinplan dan agak drama. Dalam hal ini yg kasian a/ Borno, anak laki2 naif yg baru mengalami pengalaman jatuh cinta pertama kalinya.

Borno oh Borno kagum nian sama sosok seorang Borno di sini. Sosok yg punya integritas tinggi, bahkan ketika dirinya engga menyadari dia punya hal2 luar biasa dalam dirinya, meskipun yg dia paham dia cuma menjalani kehidupan sebagaimana adanya. Sederhana, jujur, pekerja keras, meskipun engga luput juga sering misuh2 gondok dalam hati ketika "didzalimi" Bang Tagor, Koh Acong, dan Cik Tulani :D

Dari 5 buku TL yg udah gue baca, aura kekeluargaannya paling terasa di buku ini.
Bakal rindu sama kelakuan2 ajaib Andi, petuah2 Pak Tua yg bijak, kejailan Koh Acong, Cik Tulani, pengemudi2 sepit lain, bahkan Bang Tagor yg nyebelinnya engga ketulungan sekalipun.
Karakter2 di sini betul2 cerminan dari hakekat manusia pada umumnya. Di balik sifat dan tabiat negatif pasti terselip juga sifat baik dalam diri masing2 orang even cuma sedikit.
Profile Image for Vio Reads.
146 reviews
September 5, 2020
Sederhana tapi rumit. Manis tapi pedih. Aku menemukan kesederhanaan dari kehidupan Borno dan para penghuni gang sempit, kekeluargannya, kerjasamanya, tolong menolongnya, top banget, namun aku menemukan juga kerumitan dari kisah cinta Borno dengan si menawan sendu #cie

Suka banget dengan panggilan menawan sendu, terdengar indah. Suka dengan penggambaran kota Pontianak, dari penggunaan kalimat setiap tokoh, sampe-sampe aku bacanya ikutan logat mereka haha, penggambaran kehidupan mereka sebagai pengemudi sepit, semuanya penuh kesederhanaan tapi menyentuh.

Gak lupa juga kisah cinta si Borno dengan Menawan sendu, selalu bikin penasaran, deg-degan, marah, bingung, kecewa, senyum-senyum, haduh bercampur aduk semua, perasaanku di bawa kemana-mana.

This book made me cry at 2AM
Profile Image for Lelita P..
632 reviews59 followers
June 7, 2013
Manis. Sederhana. Kocak. Menyentuh.

Novel romansa yang sangat mengesankan, betul-betul salah satu yang terbaik yang pernah saya baca. Saya gregetan sepanjang membaca, saking unyunya kisah cinta antara Borno dan Mei. Asli, saya belum pernah secengar-cengir ini baca kisah asmara. Sampe gemes-gemes sendiri--ngikik-ngikik, nahan ketawa, pengin cubit-cubit mereka berdua.


Borno, tokoh utama di sini sekaligus si narator, adalah anak muda pengemudi sepit (perahu bermotor) yang tinggal di tepi Sungai Kapuas, Pontianak. Dia dijuluki "bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas". Dari julukan tersebut udah kebayang kan, betapa menggemaskannya dia? Borno ini jatuh cinta sama seorang gadis yang meninggalkan amplop merah di perahu sepitnya. Hubungan mereka bergulir sejak Borno berusaha menemukan lagi gadis itu untuk mengembalikan amplop merahnya.


Novel ini dimulai dari awal mula sekali--prolognya betul-betul prolog, menjelaskan kejadian bertahun silam sebelum event inti cerita. Plotnya mengalir lambat dan tenang, mungkin seperti aliran Sungai Kapuas ya. XD Pembukaannya tidak sebombastis Sunset Bersama Rosie, tapi alurnya sama menghanyutkan. Sekali mulai membaca, kita akan dibuai oleh gaya bahasa tere-liye yang aduhai menawan khas tiada duanya. Lalu perlahan-lahan, langsung terseret ke dalam cerita.

Berbeda dengan novel-novel tere-liye lain yang banyak drama melankolisnya, di sini malah banyak (banget) ketawanya. Bukan berarti nggak ada dramanya ... jelas ada, tapi karakter Borno yang jujur dan polos itu menguntai narasi penuh humor, terutama kalau dia lagi dizalimi. Bukan narasinya aja yang bikin kocak, melainkan juga tokoh-tokoh di sekeliling Borno yang memang punya karakter komikal. Bikin ketawa! Nggak Andi, Pak Tua, Bang Togar ... ada-ada aja tingkah mereka yang membuat ngakak.

Tapi karakter Borno sendiri isn't perfect, by the way. Dia memang manis, berbakti, baik, berhati lurus, dsb dsb ... panjang sekali daftar sifat terpujinya, tapi dia tetap tidak sempurna. Dia membalas atau marah kala diledek/dikerjai, dia punya prasangka-prasangka buruk ketika janji Mei kepadanya tidak ditepati. Terkadang dia terlalu naif dan sangat tenggelam dalam kesedihan. Tidak, dia bukan malaikat--dia manusiawi. Itu hal lain yang bikin saya makin cinta sama novel ini.

Dan tentu saja, hubungan Borno dengan Mei. Alamak (ngikutin gaya bahasa di sini), ya Allah sumpah saya kesenengan sendiri mengikuti perkembangan hubungan mereka. Kocak abis ngeliat Borno, dengan segala tingkah malu-malunya, berusaha mengejar Mei dengan effort luar biasa yang terkadang konyol gila. Tapi sekalinya Borno patah hati, kita para pembaca juga akan diseret untuk bersimpati. Kuat sekali penokohan Borno lewat sudut pandang orang pertama di sini. Apalagi novel ini lima ratus halaman lebih; setelah membaca ini pun kita bakal masih merasa "menjelma" sebagai Borno saking kuatnya emosi yang dia salurkan.


Cerita novel ini bergulir lambat-lambat, tapi sama sekali tidak membosankan. Kita akan ikut dibawa menjalani kehidupan Borno yang penuh hal-hal baru--khususnya bagi saya, yang buta tentang Pontianak, sungai, sepit, mesin dan bengkel. Kelebihan tere-liye: mengambil latar tempat yang tidak biasa--masih daerah di Indonesia, tapi bukan daerah mainstream.

Kelanjutan hubungan Borno dan Mei bakal bikin kita penasaran setengah mati, nggak tahan untuk nggak melanjutkan membaca sampai selesai. Namun, meskipun genre besarnya romance, seperti biasa tere-liye memasukkan banyak unsur kehidupan lain dalam novel ini sehingga kita merasa betul-betul hidup sebagai Borno. Tentu saja event-event lain itu juga terjalin dengan kisah cinta yang menjadi fokus utama. Bisa dibilang, novel ini bukan cerita tentang "kisah cinta Borno" semata, melainkan "kisah cinta Borno dalam kehidupannya". Literally demikian. :)

Tere-liye dengan pintarnya meramu adegan di sini dengan pola skip-skip; dia nggak langsung melanjutkan adegan di babak/bab sebelumnya, tetapi loncat dulu beberapa saat dan nanti dibahas dalam flashback singkat. Saya suka itu, jadi terkesan dramatis dan memancing rasa penasaran. Tapi jelas, yang bikin saya paling puas adalah akhir kisah ini. Sangat sangat sangat memuaskan, mengesankan, manis, tak terduga, bikin tersenyum lebar dan ikut bahagia. Kekecewaan mendalam saya gara-gara ending Sunset Bersama Rosie (seperti yang saya tulis di review sebelumnya) menguap total, sirna seluruhnya. Saya mabuk kepayang berkat akhir manis Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

Kekurangan di novel ini ... yah, mungkin seperti biasa, karena tebal novelnya satu rim, ada beberapa pengulangan adegan. Saya agak bosan melihat aktivitas "tertawa", "menepuk dahi", "menyengir", kerap diulang. Interaksi Borno dengan Pak Tua serta karakter-karakter lain juga terjadi lagi dan lagi, meski hal yang dibicarakan berbeda-beda. Tapi secara keseluruhan nggak terlalu mengganggu sih, toh ceritanya memang harus dibangun dengan adegan-adegan itu. Saya paham, di setiap babak/adegan ada inti yang mau disampaikan agar alurnya bergerak maju. :)


Novel ini jelas favorit saya dari semua novel tere-liye yang sudah pernah saya baca. Almost perfect; I'm sure this is one of his best. Kapan lagi saya bisa sejatuh cinta ini baca novel romansa? Dan kapan lagi ada kisah asmara yang begitu manis, begitu murni, begitu lurus ... tanpa memberi kesempatan pembacanya untuk memikirkan hal-hal kotor sedikit pun akan pasangan itu?

Ah, ya ampun, saya sungguh jatuh cinta. Kalau mau impulsif, saya akan teriak kencang-kencang: SAYA SUKA BANGET NOVEL INIII!!! BENERAN SUKA BANGET!!!


Displaying 1 - 30 of 855 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.