Jump to ratings and reviews
Rate this book

Puisi-puisi Cinta

Rate this book
Rendra dijuluki “Si Burung Merak” bukan hanya karena pesonanya di atas panggung saja. Tapi, memang begitulah ia. Sesosok pribadi yang penuh vitalitas dan gairah. Seorang pecinta, bak merak yang merentangkan ekor cantiknya untuk menarik perhatian sang kekasih. Untuk merekalah, para kekasih, ia tuangkan cintanya lewat puisi. Di dalam buku ini, terangkum puisi-puisi cinta Rendra dari tiga masa. Puisi-puisi masa mudanya begitu sederhana, tapi manis dan jenaka. Puisi-puisi masa dewasanya terasa kompleks dan mendalam, serius dalam mengarungi bahtera cinta. Sementara, puisi-puisi masa tuanya adalah sebentuk rasa syukur dari nikmat cinta sejati yang telah teruji. Ini adalah puisi-puisi cinta yang juga menjadi refleksi perjalanan dan pencarian makna cinta seorang Rendra.

100 pages, Paperback

First published September 21, 2015

42 people are currently reading
525 people want to read

About the author

W.S. Rendra

46 books174 followers
Willibrordus Surendra Broto Rendra (b. November 7 1935) is a famous Indonesian poet who often called by his friends and fans as "The Peacock".

He established the Teater Workshop in Yogyakarta during 1967 but also the Teater Rendra Workshop in Depok.

His photo here shown Rendra in his room at 1969.


Theatres:
* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
* SEKDA (1977)
* Mastodon dan Burung Kondor (1972)
* Hamlet (Translated from Hamlet by William Shakespeare)
* Macbeth (Translated from Macbeth from William Shakespeare)
* Oedipus Sang Raja (Translated from Oedipus Rex by Sophokles)
* Kasidah Barzanji
* Perang Troya Tidak Akan Meletus (Translated from La Guerre de Troie n'aura pas lieu by Jean Giraudoux)

Poems:
* Jangan Takut Ibu
* Balada Orang-Orang Tercinta
* Empat Kumpulan Sajak
* Rick dari Corona
* Potret Pembangunan Dalam Puisi
* Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!
* Nyanyian Angsa
* Pesan Pencopet kepada Pacarnya
* Rendra: Ballads and Blues Poem
* Perjuangan Suku Naga
* Blues untuk Bonnie
* Pamphleten van een Dichter
* State of Emergency
* Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
* Mencari Bapak
* Rumpun Alang-alang
* Surat Cinta
* Sajak Rajawali
* Sajak Seonggok Jagung

Short Stories:
* Pacar Seorang Seniman

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
98 (23%)
4 stars
162 (38%)
3 stars
138 (32%)
2 stars
21 (4%)
1 star
6 (1%)
Displaying 1 - 30 of 83 reviews
Profile Image for Nanny SA.
343 reviews41 followers
February 10, 2016

W.S. Rendra lahir di Solo, November 1935. Meninggal di Desa Cipayung Jaya, Depok, 6 Agustus 2009.Rendra dijuluki “Si Burung Merak” karena penampilannya di atas panggung, selain berwajah menarik dia selalu tampil atraktif dan penuh semangat, menarik penonton seperti seekor burung merak yang penuh pesona.

Buku ini berisi rangkuman puisi karya Rendra yang terbagi dalam tiga masa :
Puber Pertama ( 1954 - 1958 ); Puisi masa mudanya yang sederhana, tapi manis dan jenaka.
Puber Kedua ( 1968 - 1977 ); Puisi masa dewasanya yang terasa kompleks , mendalam, serius dalam mengarungi bahtera cinta;
Puber Ketiga (( 1992 - 2003 ); Puisi masa tuanya adalah sebentuk rasa syukur dari nikmat cinta sejati yang telah teruji.

Puber Pertama

Karena sekolah kami belum selesai
Kami berdua belum dikawinkan
Tetapi di dalam jiwa
Anak cucu kami sudah banyak
(Kami Berdua – hal. 10 )

Puber Kedua

“Hari itu di Madrid
di bulan Mei tanggal 2
di Paso del Prado
di Hotel Nasional
Kau kunantikan
Dengan pakaian adat orang Jawa
Meski kini kita tak saling memiliki
Kita pengntin di dalam jiwa
(Bukannya di Madrid – hal. 54 )

Puber Ketiga

Cintaku kepadamu, Juwitaku.
Kemudian me-ruang dan me-waktu
Dalam hidupku yang sekadar insan.
Ruang cinta aku budayakan.
Tetapi waktu-nya
Lepas dari jangkauan.
Sekarang aku menyadari :
Usia cinta jauh lebih panjang
Dari usia percintaan
(Sajak Cinta – hal. 58 )


-----------------------------------------

Jujur saya tidak piawai untuk menilai sebuah puisi, jadi penilaian saya adalah penilaian orang awam yang mencoba untuk menikmati alur sebuah puisi.



Profile Image for Piqa.
26 reviews
July 15, 2020
Seperti judulnya, buku ini berisi puisi-puisi tentang cinta yang terbagi dalam tiga babak. Yaitu puber pertama hingga ketiga. Puisi puber pertama terasa sangat fresh dan manis. Berbeda dengan puisi puber kedua dan ketiga yang terasa dewasa. Di puisi puber ketiga kita akan merasakan tulisan seorang Rendra yang dewasa dan bijak.
Profile Image for Nini.
212 reviews8 followers
June 18, 2018
Buku ini merupakan kumpulan puisi-puisi cinta Rendra dari tiga masa. Manis dan romantis, terutama puisi-puisi edisi puber pertama, Rendra yang masih belia. Segar dan mengingatkan soal jatuh cinta saat muda ;)
Profile Image for Hadi Muss.
147 reviews20 followers
October 5, 2021
3.5

Salah satu kriteria puisi yang baik bagi saya adalah perlambangan yang sesuai dengan emosi/ peristiwa dan kebanyakan puisi-puisi yang dimuatkan dalam buku ini banyak yg sesuai dengan perlambangan cinta.

Ada puisi yang bila baca akan senyum keseorangan dan pelbagai lagi yang menggamit perasaan. Suka, itu sahaja yang boleh saya kata.
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews112 followers
March 27, 2019
75 - 2019

Dalam rangka baca-baca puisi Rendra, mari lanjut dengan buku puisi ini.
Buku ini berisi kumpulan puisi cinta yang ditulis Rendra saat SMA (bagian Puber Pertama), saat dewasa (bagian Puber Kedua) dan saat tua (berumur 57 tahun, bagian Puber Ketiga).

Membaca puisi di tiap bagian ternyata punya daya tarik sendiri. Ketika SMA gaya puisinya ya begitu seadanya, udah gedean gaya puisinya lebih terasa dewasa dan udah menua gaya puisinya lebih kuat, lebih bijak. Saya suka semua bagian terlebih bagian Puber Kedua.

Favorit saya :
Membisiki Telinga Sendiri
Surat Seorang Istri
Hai, Ma!
Profile Image for Fachmi Fachmi.
144 reviews6 followers
June 13, 2018
"Tobat" salasatu puisi yang menurut saya manis. Puisi ini ditulis di bagian bab Puber Pertama yang berarti ketika masih SMP-SMA.

Tuhan,
aku telah bertobat
aku telah merasakan apakah neraka itu.

Sebab kemarin,
pacarku menangis
di hadapanku.
Profile Image for Andika Pratama.
43 reviews5 followers
July 8, 2021
Kemampuan menulis Rendra, kupikir tidak hadir begitu saja dari langit. Terdapat pengaruh di sana. Itulah yang kemudian (dalam pikiranku) mengilhami ditulisnya Mukadimah dalam buku puisi ini.

Rendra di bangku sekolah, sudah mampu memperlihatkan kemampuan menulisnya yang mumpuni. Eksplorasinya terhadap peran bahasa kemudian mengantarkannya pada penciptaan puisi-puisi yang di buku ini berada pada bagian Puber Pertama. Bagaimana bahasa yang begitu sederhana (tidak puitik, bahasa sehari-hari) bisa mengantarkan pesan yang mendalam kepada lawan bicara? Itulah yang hendak dijawab Rendra melalui puisi-puisi di bagian Puber Pertama.

Eksplorasi peran bahasa mengingatkanku pada Chairil Anwar dan bagaimana ia mencoba "menghancurkan" bahasa Melayu tinggi sebagai standar bahasa sastra. Dalam sajak-sajak bagian Puber Pertama, tentu saja kita temukan Rendra di usia yang masih remaja menuliskan puisi-puisi cinta yang membuat kita senyum-senyum manis, karena... Alamak! Ini kalau dipakai di masanya, pasti, lah, sudah banyak perempuan klepek-klepek.

Kenaifan cinta anak remaja yang kemudian dirumuskan Rendra dalam sebuah bahasa yang sederhana membentuk puisi dengan metafor-metafor penuh harap; menyenangkan melihat Rendra sudah memperlihatkan sisi puitiknya sejak remaja dan kepekaannya dalam memandang dunia sekitar, juga bahasa.

Pembagian buku puisi ini dalam tiga babak menurutku adalah untuk memperlihatkan perubahan paradigma dan tentu saja perkembangan Rendra dalam menulis.

Bagian kedua, atau disebutnya Puber Kedua memperlihatkan bentuk lain. Kupikir ini adalah masa-masa ketika Rendra sudah mulai mengerti cinta yang ditabrakan dengan realita. Diksi-diksinya memperlihatkan itu, manis tapi juga memberikan kesan pahit berkepanjangan. Barangkali, pada tahap ini Rendra berhadapan dengan apa yang kemudian kita katakan sebagai patah hati—yang ternyata benar adanya, karena Rendra sendiri ditinggal mati kekasihnya saat itu. Puber Kedua bagiku adalah upaya Rendra menyadari apa itu cinta dan sisi lain yang lengket bersamanya.

Puber bagian ketiga, adalah puber "hati" yang menurutku memperkenalkan Rendra pada apa itu keikhlasan dan penerimaan; lagi-lagi sisi lain dari cinta. Tidak banyak tema atau apa pun yang bisa kukomentari dari bagian ketiga, kecuali kenyataan bahwa puisi Hei, Ma! yang menjadi penutup buku puisi ini menyentakku dengan diksi-diksinya yang garang, manis, tapi tidak memperkeras makna cinta, melainkan memperlembutnya.

Oh, pada puber kedua dan ketiga, puisi lebih sering berbentuk sajak panjang, atau bisa dikatakan Balada. Rendra dengan apik pada bagian pertama mempertahankan pola dan aturan puisi pre-Chairil Anwar.

Aku senang membaca hasil wawancara dengan Willy (panggilan kecil Rendra) di bagian akhir. Mengantarkanku untuk sejenak lebih kenal dengan sosok yang kemudian menjadi patron dari banyak karir kepenyairan modern.
Profile Image for aimi.
103 reviews5 followers
March 27, 2019
Himpunan puisi tulisan W. S. Renda terbahagi kepada tiga Puber. Saat kanak-kanak, remaja & dewasa.

Kerana saya adalah seorang wanita dewasa, puisi puber ketiga dekat di hati saya. Surat Cinta ditulis pada Usia 57, sebuah puisi indah seorang laki-laki kepada Juwita.

"Syair bermula dari kata.
Dan kata-kata dalam syair.
Juga me-ruang dan me-waktu.
Lepas dari kamus.
Lepas dari sejarah.
Lepas dari daya korupsi manusia.
Demikianlah.
Maka syairku ini
Berani mewakili cintaku kepadamu."

Puisi yang sederhana seperti ini, sudah cukup menakluk ruang hati yang sederhana, kan?

Bonus di dalam buku ini adalah apabila ditulis biodata W. S. Renda. Tentang kisah cinta kali pertama beliau sehingga cinta yang membuat beliau lebih bertanggungjawab. Turut diceritakan bagaimana W. S. Renda memeluk agama Islam kerana melihat akhlak seorang lelaki Amerika. Sebuah kisah yang sungguh mengharukan;)

*buku dibaca dari apps iPusnas
Profile Image for bakanekonomama.
573 reviews84 followers
March 13, 2017
Sebenarnya ini dibaca bulan lalu, tapi saya lupa tanggalnya. Ketika pertama pinjam, masih banyak stoknya di iPusnas. Lalu saya pinjam lagi, tambah sedikit stoknya. Hingga sekarang, ketika ingin pinjam untuk kesekian kalinya, ternyata sudah habis dan harus antre. Padahal saya ingin menghayati lagi puisi-puisi Rendra, sambil mencoba menghubungkannya dengan perjalanan hidupnya yang luar biasa.

Membaca puisi-puisi karya pujangga Indonesia memang benar-benar menambah diksi. Saya ingat, ada beberapa kosakata baru yang saya pelajari setelah membaca buku ini. Sayangnya, waktu itu hanya saya bookmark saja, tidak saya catat.... Heuheuu... Itulah sebabnya saya ingin membacanya lagi, karena saya ingin mencatat kembali kata-kata yang baru saya pelajari sembari merenungi puisi-puisi Rendra ini. Mungkin itulah kekurangannya buku digital. Apalagi perpus digital. Saya jadi tidak bisa menyalin bagian-bagian yang saya anggap penting. Apalagi aplikasi iPusnas juga masih sangat sederhana tampilannya.

Sebenarnya saya tidak terlalu suka puisi, karena banyak puisi yang saya baca, tidak saya mengerti maknanya. Tapi puisi-puisi Rendra begitu lugas, sekaligus manis. Saya dapat merasakan keindahan bahasanya, juga maknanya. Rasanya tidak ada kata-kata yang sengaja ditambahkan untuk menunjukkan kemampuan di depan pembaca. Semuanya terasa alami dan mengalir.

Ah, saya jadi ingin memiliki buku ini. Mungkin lain kali, jika kita berjodoh, kan kudekap kau ke pelukanku, kubawa ke kasir, dan kujadikan kau milikku. Selamanya...
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
January 23, 2016
Kumpulan puisi cinta yang Rendra tulis dalam tiga masa: Puber Pertama (1954-1958), Puber Kedua (1968-1977), dan Puber Ketiga (1992-2003). Terlihat sekali perkembangan gaya dan diksi Rendra dalam rentang waktu yang begitu besar. Bahasa dan gaya yang begitu sederhana dalam Puber Pertama berkembang menjadi lebih kompleks pada kedua masa lainnya.

Saya bagikan dua puisi pendek yang jadi kesukaan saya di buku ini:

Janganlah Jauh

Janganlah jauh
bagai bulan
hanya bisa dipandang.

Jadilah angin
membelai rambutku.

Dan kita nanti
akan selalu berjamahan.

Kekasih

Kekasihku seperti burung murai
suaranya merdu.
Matanya kaca
hatinya biru.

Kekasihku seperti burung murai
bersarang indah di dalam hati.
Profile Image for Yunita Taman.
291 reviews13 followers
May 25, 2020
Puisi itu seperti makanan bagi jiwa. Ada kekuatan dalam kata-kata seperti air yang meresap ke dalam pori-pori tanah. Menutrisi dan memberi kehidupan bagi tumbuhan di atasnya.

Puisi di buku ini adalah sisi lain dari seorang penyair legendaris W.S. Rendra. Saya bukan seorang ahli puisi tapi saya menikmati puisi yang ditulis dengan penuh energi.

Salah satu baris yang sangat saya sukai di sini adalah:
"Sekarang aku menyadari:
usia cinta lebih panjang
dari usia percintaan."

Selain itu, di dalam buku ini juga dimuat biografi singkat sang penyair untuk membantu kita lebih mengenal latar belakang beliau sehari-hari.
Profile Image for Devi N..
49 reviews2 followers
January 24, 2020
Setiap orang pasti merasakan masa puber. Tetapi, apakah semua orang akan membuat puisi ketika mengalaminya? Belum tentu. WS Rendra melakukannya. Puisinya tidak panjang; kebanyakan hanya empat baris tapi membekas di hati. —Janganlah Jauh— dan —Sajak Cinta Ditulis pada Usia 57— yang menjadi favoritku.
Profile Image for Taufiq Candra.
49 reviews4 followers
August 30, 2021
Membaca puisi karya W.S. Rendra memang tidak ada habisnya. Kali ini aku membaca buku puisi yang berjudul Puisi-Puisi Cinta. Sejujurnya, ini kali kedua aku membaca buku ini setelah kali terakhir membacanya pada tahun 2020.

Puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini adalah puisi-puisi cinta yang sempat dibuat oleh W.S. Rendra. Tapi satu hal yang menarik dari buku ini ialah puisi-puisi cinta tersebut disusun sedemikian rupa dalan tiga jenis yakni puber pertama, puber kedua, dan puber ketiga. Tentunya baik puber pertama, kedua, dan ketiga membawa nuansa sendiri.

Pada puber pertama, aku merasakan puisi yang mendeskripsikan perasaan cinta yang dirasakan oleh anak remaja. Puisi pada bagian ini berisi pemujaan terhadap kekasih dengan menggunakan kata-kata sederhana yang kerap kali digunakan di kehidupan sehari-hari. Lalu pada puber kedua, aku merasa ada pendewasaan dalam cinta yang dituturkan dalam puisi-puisi pada bagian ini. Puisi-puisi tersebut terasa lugas dan terkadang cukup blak-blakan. Di sisi lain, aku juga merasakan keinginan yang besar untuk bersama dengan kekasih/pasangan. Terakhir, pada bagian ketiga aku merasakan sosok tua yang mendambakan sosok kekasihnya yang entah di mana. Pada bagian ini, puisi-puisi tersebut lebih terasa murni dan sangat suci serta terasa kerinduan yang amat sangat. Tentunya hal-hal yang aku sebutkan di atas semuanya berasal dari interpretasiku semata dalam memaknai puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini.
Profile Image for ~ Dra.
122 reviews3 followers
October 13, 2023
Membaca puisi karya W.S. Rendra memang tidak ada habisnya. Kali ini aku membaca buku puisi yang berjudul Puisi-Puisi Cinta. Sejujurnya, ini kali kedua aku membaca buku ini setelah kali terakhir membacanya pada tahun 2020.

Puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini adalah puisi-puisi cinta yang sempat dibuat oleh W.S. Rendra. Tapi satu hal yang menarik dari buku ini ialah puisi-puisi cinta tersebut disusun sedemikian rupa dalan tiga jenis yakni puber pertama, puber kedua, dan puber ketiga. Tentunya baik puber pertama, kedua, dan ketiga membawa nuansa sendiri.

Pada puber pertama, aku merasakan puisi yang mendeskripsikan perasaan cinta yang dirasakan oleh anak remaja. Puisi pada bagian ini berisi pemujaan terhadap kekasih dengan menggunakan kata-kata sederhana yang kerap kali digunakan di kehidupan sehari-hari. Lalu pada puber kedua, aku merasa ada pendewasaan dalam cinta yang dituturkan dalam puisi-puisi pada bagian ini. Puisi-puisi tersebut terasa lugas dan terkadang cukup blak-blakan. Di sisi lain, aku juga merasakan keinginan yang besar untuk bersama dengan kekasih/pasangan. Terakhir, pada bagian ketiga aku merasakan sosok tua yang mendambakan sosok kekasihnya yang entah di mana. Pada bagian ini, puisi-puisi tersebut lebih terasa murni dan sangat suci serta terasa kerinduan yang amat sangat. Tentunya hal-hal yang aku sebutkan di atas semuanya berasal dari interpretasiku semata dalam memaknai puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini.
Profile Image for Rose Diana.
Author 3 books1 follower
December 27, 2019
Puisi ini dibagi menjadi tiga bagian.
Bagian pertama, Pubertas Pertama, di mana puisi tentang jiwa muda yang tengah kasmaran. Puisinya pendek dan menggelitik. Beberapa kali saya tertawa membaca untaian puitisnya yang menggelitik ala remaja berusia belasan. Berawal dari kepenasaran Rendra tentang cinta.

Bagian kedua, Pubertas Kedua, di mana saat dua insan di mabuk asmara saat usianya mulai matang. Bahkan menceritakan pula kisah cinta suami istri. Paling menarik adalah puisi yang dikemas dalam bentuk dialog sepasang penyair yang berjarak antara Madrid dan Jakarta pada puisi 'Bukannya di Madrid'. Puisi yang berkisah tentang Yuliana dan Rusman patut dinikmati. Pada bagian ini, pemilihan katanya lebih dewasa sehingga romansa terkesan indah, bukan lagi menggelitik. Bahkan, puisi tersebut sempat ditampilkan dalam sebuah teater selepas Rendra kembali ke Indonesia.

Bagian ketiga, Pubertas Ketiga, yang menceritakan kisah cinta usia lima puluhan di mana orang menyebutnya pubertas ketiga. Rangkaian kata yang lebih dewasa. Puisi ini juga hasil dari wawancara Rendra dengan wartawan di kediamannya di Depok, yang ingin mengetahui kedalamannya dalam berpuisi.

Puisi W.S. Rendra mudah dipahami karena tidak menggunakan pilihan diksi yang rumit. Siapapun bisa menikmatinya.

Saya baca buku ini di apps IPusnas
Profile Image for Eva Novia Fitri.
163 reviews1 follower
February 21, 2023
Sulit untuk tidak senyum senyum sendiri bahkan sampai tertawa beberapa saat membaca 24 puisi pendek di bab 1 buku ini: "Puber Pertama" .
Semangat jatuh cinta di masa muda yang so lugas, langsung, lebay, tersaji dengan berkelas. Rendra juga bucin....
Coba saja tidak mendecak saat baca salah satu puisi favorit saya di bagian ini

"Kami Berdua"
Karena sekolah kami belum selesai
Kami berdua belum dikawinkan
Tetapi di dalam jiwa
Anak cucu kami sudah banyak..

Di bab "Puber Kedua", ada 3 puisi naratif panjang yang membuat kita akan terdiam2 membacanya. Cinta yang makin banyak wajahnya, tidak hanya soal rindu dan bertemu.

"Sekali Toto bertanya tentang kau.
Kubelai rambutnya dan kukatakan padanya: Bapa sedang terbang, tapi bakal pulang..

"Puber Ketiga" menutup buku ini dengan 3 puisi yang benar2 indah dan dalam. Bacalah puisi "Hai, Ma!"
Memang benar di usia tua, biasanya sisi kanak2 kita malah makin mendesak keluar. Begitu juga cinta. Setelah matang dan rasional di usia pertengahan, seringkali di usia senja geliatnya kembali menuntut dan romantis seperti masa muda. Mungkin karena menyadari, waktu bersama audaj tersisa tidak banyak lagi.
Jangan lewatkan bagian biografi Rendra di akhir buku. Biografi dan jawaban2 seorang penyair saat diwanwancara itu selalu lebih indah dari puisi2nya.
Profile Image for Andria Septy.
249 reviews14 followers
November 25, 2018
Kalau ditanya, aku salah satu makhluk Tuhan yang tidak terlalu menyukai membaca buku puisi (maafkeun). Aku mulai serius membaca puisi-puisi (meskipun tertatih-tatih) dua tahun belakangan ini. Kenapa sih sekiranya aku tidak terlalu suka membaca puisi?! Alasan klisenya malas mikir. Alasan sesungguhnya lebih suka membaca novel, bung! (sekali lagi, maafkeun). Memang terlambat banyak untuk membaca karya sastra khususnya puisi. Sedikit menyesal, tapi buat menyesal tiada arti. Yang penting, terus belajar terus menerus tanpa henti (ngomong apa sih?;p)

kembali ke buku puisi ini, aku mengenal beliau tentu di bangku sekolah, itupun tidak membaca karya sepenuhnya. (maksud saya dalam bentuk kumpulan puisi). Aku merasa membaca puisi-puisinya, aku seorang pulang 'kampung' yang letaknya jauh di dasar jiwaku yang lama berdebu dan tak pernah tersentuh bacaan penuh makna. Meskipun ini hanya kumpulan puisi-puisi cinta. Saya membaca versi tipisnya yang tidak kutemukan cover hitam bergambar buruk merak itu.
Profile Image for Agusman 17An.
80 reviews2 followers
December 1, 2018
#Puisi-PuisiCinta adalah buku puisi pertama yang kubaca. Karya Si Burung Merak ini memang romantis, liris lagi manis

Di dalam buku ini memiliki tiga bagian. Yang tiap bagiannya diberi nama Puber. Puber Pertama, Puber Kedua hingga Puber Ketiga.

Pada Puber Pertama puisinya singkat-singkat tapi padat. Pada Puber Kedua puisnya panjang-panjang mengajak kita berfikir bebas dan ada yang sampai memakan 16 halaman. Pada Puber ketiga ada tiga puisi yang puisi itu menutup buku puisi ini dengan begitu indah yang ia berijudul, “Barang Kali Karena Bulan”

Puisi yang kusuka pada buku ini terdapat pada halaman 52, “Ya. – Dan aku berhak mempertahankan kamu. Aku hanya sekedar mempertahankan apa yang berhak aku pertahankan”
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Akilah.
13 reviews
November 22, 2024
Aku pikir Rendra hanya punya sajak yang berapi-api dan provokatif. Ternyata ada juga puisi cinta yang amat romantis. Dengan bahasa sehari-hari, ia menanaknya menjadi sajak yang menggelitik hati.

Ada tiga bagian dalam buku ini: Puber Pertama, Puber Kedua, dan Puber Ketiga. Sajak Puber pertamanya sederhana tapi manis dan jenaka. Puber kedua, kompleks dan mendalam. Puber ketiganya berbentuk rasa syukur dan nikmat cinta sejati.

Ia menarik perhatian sang kekasih lewat puisi, yang juga menjadi rentetan perjalanan dan pencarian makna cinta seorang Rendra.

Ya, mungkin itu adalah salah satu alasan untukmu memilih meluluhkan hati seorang sastrawan. Sebab benar kata orang, namamu abadi dalam karyanya. Ia tak akan membiarkanmu berlalu begitu saja.

~ Akilah Sekar
Profile Image for luthfia..
142 reviews2 followers
February 18, 2025
⭐️3.5/5
Menurutku, puisi-puisi yang ada di buku ini ditulis dengan gaya bahaya yang cukup “modern”. Bukan tipe bahasa indah yang kepalang tinggi, melainkan bahasa yang membumi sesuai masa kini, yang tetap mampu menggetarkan hati.

Khususnya di bab awal fase “Puber Pertama”, aku suka betul di mana puisi yang dituliskan seolah keluar dari hati. Bacanya bikin ikut malu-malu sendiri.

W.S. Rendra juga seolah memperlihatkan bahwa berpuisi itu ga perlu mengikuti kaidah baku, cukup hanya menuliskan kata-kata penuh makna. Ga mesti berima, ga mesti berakhiran sama, ga mesti berpatok pada struktur baku yang kaku.

Tapi sayangnya, mungkin puisi-puisi di buku ini bukan tipe puisi yang aku cinta, tapi hanya cukup aku suka.
Profile Image for gulalistroberi.
41 reviews
August 29, 2019
Puisi-Puisi Cinta yang W.S Rendra tulis dalam tiga fase. Puber Pertama, Puber Kedua, dan Puber Ketiga. Dari bagaimana cara penyampaiaan, sudah barang tentu berbeda, mengingat bagaimana pola pemikiran dan pergulatan batin yang Rendra alami tiap fasenya. Namun, Rendra telah sukses bereksperimen, mencari tahu sampai mana kemampuan bahasa sehari-hari yang sederhana dapat mengungkapkan hal yang paling romantis dan puitis.
Di Puber Pertama, begitu manis. Tidak mungkin pembaca tidak dibuat tersenyum membaca syair di dalamnya. Membuat mengenang kisah masa muda. Sederhana yang manis.
Lalu di Puber Kedua, gelora muda yang puitis. Dan di Puber Ketiga, terlihat kebijaksanaan yang romantis.

Profile Image for Amalia .
47 reviews6 followers
August 25, 2021
Ini adalah buku kumpulan puisi-puisi cinta. Aku tidak sabar sekali membaca buku ini, karena banyak merekomendasikan. Kumpulan puisi-puisi dalam buku ini dibagi menjadi 3 masa. Aku masih belum banyak membaca buku kumpulan puisi seperti ini, jadi aku beri penilaian sesuai dengan apa yang aku rasa. Seringkali aku dibuat berdebar kalau baca puisi cinta tapi aku tidak banyak mendapatkan hal itu di dalam buku ini, mungkin aku memang belum bisa terbiasa membaca kumpulan-kumpulan puisi seperti ini saja.

Tapi, bagian puisi favoritku dalam buku ini adalah yang berjudul "Hai, Ma!" wah aku kagum membaca bagian itu!
Profile Image for Siraa.
260 reviews3 followers
May 27, 2022
Sekarang aku menyadari:
usia cinta lebih panjang
dari usia percintaan.

Puisi Cinta Rendra adalah cerita tentang kehidupan dan masalahnya. Hidup bukan ilmu hitung. Hidup Penuh rahasia dan hal tidak terduga. Dan cara untuk menikmatinya adalah dengan "Cinta". Cinta Rendra dalam buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Puber pertama adalah cinta Masa muda yang manis. "Wahai, rembulan yang bundar jenguklah jendela kekasihku!". Puber kedua yang lebih dewasa "Kecuali waktu tak ada yang abadi. Tapi kamu tak akan aku lupakan." Dan Puber ketiga ketika telah tua "Kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca."
Profile Image for Umara' Nur Rahmi.
62 reviews5 followers
February 3, 2018
Setiap ruang yang tertutup
akan retak,
karena mengandung waktu
yang selalu mengembang
Dan akhirnya akan meledak
Bila tenaga waktu
terus meradang

Cintaku kepadamu, Juwitaku,
ikhlas dan sebenarnya.
Ia terjadi sendiri.
Aku tak tahu kenapa
Aku sekedar menyadari
Bahwa ternyata ia ada.

---------------@@@----------------

Dalam kumpulan Puisi-Puisi Cinta, yang paling saya sukai adalah saat memasuki bagian "Puber Ketiga". Semua puisi yang disampaikan benar-benar menyentuh, dirangkai dengan susunan kata yg begitu ikhlas, apa adanya, sehingga tidak memberatkan pembaca merenungi maknanya.
Profile Image for endang cippy.
275 reviews26 followers
December 4, 2020
Baca buku ini di #ipusnas

Buku ini dibagi dalam 3 babak.
Puisi-puisinya menggambarkan alur kehidupan cinta pengarangnya. Awalnya tuh isi puisinya tuh gombal dan semakin usia bertambah. Makna puisinya semakin bertambah dan kaya makna.

Baca buku ini secara gk langsung kayak baca biografinya W.S. Rendra.

Jadi lebih tahu siapa Rendra. Dan ada foto-fotonya juga.

Ternyata keturunan anak keturunan bangsawan.

*Baru tahu*

Bintang berbicara. Sebagus itulah bukunya.

Tq ipusnas.
Bisa menghemat beli buku.
Profile Image for Yefta.
32 reviews
February 14, 2024
Buku ini merupakan kumpulan puisi cinta gubahan seorang penyair yang mengaku melewati masa puber tidak hanya sekali atau dua kali, tapi sampai tiga kali! Puisi-puisinya ditulis dengan gairah eksperimen untuk mengukur “seberapa jauh bahasa sehari-hari dapat mendukung pengucapan jiwa dan pikiran yang puitis”. Hasilnya, setiap larik puisi terasa mudah dimengerti bahkan bagi pembaca yang baru pertama kali menjelakahi dunia sajak, namun tetap menggugah rasa romantis yang ada manis-manisnya selayaknya orang sedang jatuh cinta.
Profile Image for Risma.
218 reviews
January 4, 2022
Mengawali tahun dengan buku puisi ringan. Semakin diingatkan eksistensi iPusnas yang makin superior di hidup ini sehingga saya dapat menyongsong buku yang lebih berat dan bikin puyeng ke depan. Permainan kata di buku ini cantik-realis ("asmara cuma lahir di bumi", "ada karang, ada lautan"). Diakhiri dengan "hanyut di langit, mengarungi angkasa raya." Semesta kembali mendorong saya untuk kembali melihat bintang-bintang, dan bermimpi.
Profile Image for Lia.
5 reviews
July 13, 2023
Buku ini isinya puisi-puisi yang di tulis oleh W.S Rendra untuk kekasihnya. Yang ada dipikiranku ketika baca ini adalah, beruntung banget kekasihnya, sampai dituangkan kedalam puisi.

Ngga bisa untuk ngga senyum senyum oas baca buku ini🥹

sebenernya aku jarang sekali baca buku yang isinya puisi, but ini bagus. Image someone that's love you so bad, sampai dijadikan karya tulis. Kaya wah dipikirannya isinya kamu doang, karena terlalu penuh jadi dituangkan kedalam tulisan💕
Displaying 1 - 30 of 83 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.