Namaku Arimbi; wanita yang jauh dari kata beruntung. Begitulah aku mendeskripsikan seluruh diriku. Usia yang tak lagi muda, 28 tahun. Seorang guru seni serabutan di sekolah-sekolah elite di Jakarta. Selalu sulit mengatakan tidak atau bisa dibilang aku seorang 'yes-man'. Lebih memilih berdiam diri di pojokan sambil membaca buku daripada bersosialisasi dengan sekitar. Juga, ehmmm ... terlalu baik, lebih tepatnya gampang dibodohi oleh orang yanf berkamuflase sebagai sahabat.
Nama Arimbi yang Eyang Kakung sematkan padaku seolah menjadi kutukan ketidakberuntungan hidup yang kujalani. Tentu saja bukan tanpa alasan aku mengatakan hal itu sebagai kutukan. Setahuku Dewi Arimbi dalam tokoh pewayangan itu adalah seorang raksasa buruk rupa. Itu artinya, Eyang Kakung mendo'akanku menjadi itik buruk rupa, ya seperti Dewi Arimbi itu. Dan benar hal itu terjadi dalam hidupku; menjadi itik buruk rupa di antara gemilangnya teman-teman di sekelilingku.
Baca kisah Arimbi dan Bimasena ini, membuat aku tau detail kisah pewayangan, ya maafkan aku yang nggak tau cerita wayang. Jadi pas baca ini, penasaran aku tentang Arimbi dan Bimasena terbayarkan. Sebenernya Arimbi ini, bukan sosok buruk rupa. Itu hanya karena nggak percaya diri aja makanya dia bilang gitu. Trus juga Arimbi ini mempunyai trauma-trauma masa lalu yang cukup pelik sih ya. Makanya bersikap begitu, jadi ada apa dengan Arimbi dan masa lalu? Baca sendiri yak! . ❤ Aku baru pertama kali membaca karya penulis, gaya bercerita ka Anjar ini menarik, detail juga... Cerita yang bertema wanita umur 28 tahun, yang didesak dengan jodoh. Biasanya karena, malu kalau dicap perawan tua. Padahalkan nikah itu bukan permainan. . ❤ Karakter Arimbi disini, mempunyai sifat yang minderan. Gemes juga sih, padahal dia itu serbabisa. Tapi aku suka dia bersikap tegas, apalagi mengatasi bayang-bayang masa lalu. Kalau Sena, bripka yang pecicilan ini emang cocok banget ya buat nemenin Arimbi. Akhirnya dengan sifat Sena, Arimbi bisa menjadi orang yang keluar dari zona nyaman. Lumayan kuat karakter para tokohnya. . ❤ Gaya bahasa yang mengalir, membuat penasaran tiap babnya. Memakai sudut pandang orang pertama, POV Arimbi. Apa yang terjadi dengan Arimbi, tersampaikan dengan baik. . ❤ Konflik tentang persahabatan dan cinta, juga tentang nggak percaya diri ini membuat gemes dan sedih saat bersamaan. Kalau ada diposisi Arimbi, apalagi dengan masa lalu yang meyakitkan. Aku juga bakalan bersikap sama sih. Eksekusi ending cuman rada terburu-buru gitu. Tapi udah bagus :) . Bagi cari cerita romance yang ada bumbu persahabatan di dalamnya, boleh dibaca novel ini :)
"Arimbi, ketulusan hatimu selama mengabdi pada keluarga kami, akan membuatmu tampil lebih cantik! Wuuuzzzz...! " — Hal. 9 . Sebenarnya, cantik itu tidak hanya terpancar dari wajah tetapi juga dari hati. Buat apa wajah cantik tetapi hati tidak cantik. Ye kan? Jadi, kalo kita terlahir dengan wajah biasa-biasa aja, percantiklah hati, niscaya orang akan melihat kita "cantik". . "Berubahlah sang raksasa Dewi Arimbi menjadi cantik jelita, hingga Bimasena pun jatuh hati padanya." — Hal. 10 . Arimbi, seorang gadis berkacamata minus 2 berusia 29 tahun yang sangat cuek akan penampilan, memilih hengkang dari kota kelahirannya, Jogjakarta, menuju Jakarta demi "melarikan diri" kejaran keluarganya perihal jodoh. Arimbi beralasan ingin berkarier di kota Jakarta agar bisa "hengkang" dari rumahnya. . Cerita perjodohan mewarnai hidupnya. Mulai dari Eyang Kakungnya sampai Tante nya yang tinggal di Denpasar. Banyak cara yang akan dilakukan Arimbi agar pria-pria tersebut menjauh, salah satunya adalah berpura-pura sakau. Oh em ji.. . Darah seni mengalir di tubuh Arimbi. Darah seni Arimbi berasal dari Eyang Kakungnya yang merupakan seorang dalang. . Arimbi bekerja serabutan sebagai guru musik atau seni lukis panggilan bahkan ia juga bermain musik di kafe - kafe. Ahh.. Aku sukak aja ketika membayangkan Arimbi memanggul gitar akustik kesayangannya. . Apakah Arimbi akan tetap mempertahankan ke-cuek-annya akan penampilan ketika ia bertemu dengan Om Maling Mie Rebus yang bernama Bimasena yang kata Arimbi perpaduan antara artis Avengers dengan artis drakor DOTS? . Bimasena ini memiliki badan tegap seperti Chris Evan dan wajah serta bibir tipis mirip Song Jongki. . . "Aku jarang ada teman, Mbak," — Hal. 23 . Selama hidup di Jakarta, jarang sekali —bahkan tidak pernah— terlihat teman-temannya Arimbi datang berkunjung. Hal itu membuat salah satu penghuni kontrakan bertanya padanya. Ternyata, ada alasan dibalik kenapa Arimbi tidak mau menjalin persahabatan. . Balik lagi ke Bimasena, sejak pertama kali bertemu Arimbi ketika ia sedang memasak mie, pria tampan berprofesi polisi itu selalu memanggil Arimbi dengan sebutan "istri Bimasena". . Misalnya, "Istri Bimasena, mau pulang tidak?" atau "Istri Bimasena juga bekerja disini?". Adegan Bimasena dan Arimbi ini sungguh sangat manis readers. Aku suka dengan interaksi mereka. . Sebuah kejadian tidak terduga terjadi saat Sena dan Arimbi sedang melukis di dinding sebuah kelas Taman Kanak-Kanak. Arimbi bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. Kejadian itu memaksa Arimbi teringat masa lalu yang buruk, masa lalu yang ternyata menjadi alasan kenapa Arimbi tidak mau menjalin persahabatan. Yang ternyata, seseorang itu juga ada hubungannya dengan Bimasena. . "Ingat, dilarang jatuh cinta pada pandangan pertama. Di belakang Sena masih banyak para polwan cantik mengantri menyambut tangan Sena." — Hal. 45 . Begitulah Arimbi memantrai dirinya ketika jantungnya berdebar kencang atau nafasnya tidak beraturan saat mata gadis itu menangkap senyum manis yang terukir di bibir Sena atau mereka saat mereka berdua saling tatap. . Percayalah, aku ikutan nyanyi saat baca lirik lagu Eternal Flame di halaman 48 hheee... . Sumpah ngakak lho sama tingkah anehnya Bimasena ini. Bisa-bisanya ia menulis kan "Suami Arimbi" sebagai namanya di kontak ponsel Arimbi. . Dan aku geregetan lho dengan Arimbi. . Aku semakin penasaran nich dengan kisah Arimbi dan Bimasena yang kini ditambah dengan kemunculan "hantu" masa lalunya Arimbi. . . "Oh, Tuhan. Jangan biarkan aku jatuh cinta secepat ini. Aku takut." — Hal. 93 . Sejujurnya aku gemas sekali dengan Arimbi. Berulang kali gadis itu memantrai hatinya agar tidak jatuh cinta padahal hati dan jantungnya berkata lain. Arimbi sepertinya masih dicengkeram rasa takut akan masa lalunya. . Rasa trauma akan cinta mendominasi pada hatinya. Ia terlalu takut untuk membuka hatinya setelah apa yang ia alami di masa SMA. . Semakin ia melarikan diri, semakin ia terjatuh pada titik terendahnya. Ketika Arimbi memilih menjauh dari masa lalunya, semakin ia tersiksa dikarenakan masa lalu itu menggerogoti secara perlahan hati dan perasaannya. . Ketika cinta sudah berada dalam genggamannya, Arimbi malah memilih meninggalkan cinta itu hanya karena tidak kuat dengan masa lalu yang selalu mengekorinya. Sungguh, disini aku ingin mengetok kepala Arimbi. . Rindu tapi pilu, itu yang Arimbi rasakan. Ahh.. Ingin sekali aku berteriak pada Arimbi. . "Aku rindu Sena, Eyang. Aku ingin sekali bertemu dengan Sena." "Bimasena juga merindukan Dewi Arimbi." — Hal. 190 . Bimasena akhirnya menyusul Arimbi ke Jogja setelah merayu dengan lari keliling lapangan sepuluh kali pada Iptu Juna, Om-nya Arimbi. . . "Kamu suka cucu Eyang?" "Kalau suka, apa saya boleh menikahinya nanti, Eyang?" — (Eyang Kakung ke Sena, Hal. 196) . . Kalau readers ingin mengetahui tentang wayang, novel ini bisa dijadikan pilihan. Karena novel ini menyisipkan salah satu cerita wayang yaitu Bimasena dan Dewi Arimbi. . Novel Arimbi ini merupakan novel kedua yang aku baca dari Kak Anjar —novel pertamanya berjudul Selebgram in Love (SIL)— yang konfliknya lebih sederhana tapi buat geregetan lho. Alur yang digunakan adalah alur maju mundur. . Menggunakan sudut pandang pertama dari sisi Arimbi, kita diajak melihat seluruh kisah dari sisi Arimbi. Aku agak sedikit tidak puas karena tidak ada dari sisi Bimasena karena aku penasaran dengan isi hatinya Bimasena lho. . Seperti yang sudah aku tulis di review bahwa Bimasena ini merupakan perpaduan antara Chris Evans dan Song Jongki. Jadi bisa dibayangkan betapa "manis" dan "macho"nya Bimasena ini kan? Hahaha.. . Banyak lho nilai moral yang disampaikan Kak Anjar melalui novel ini, salah duanya adalah banggalah pada dirimu sendiri dan boleh kalian berbuat baik pada orang lain asal jangan sampai mengorbankan dirimu sendiri. . Aku menemukan beberapa salah ketik misal "menyeruput" tapi tertulis "meyeruput" di hal 24 dan "persahabatan" tapi tertulis "persahabat" di hal 142. . . sukses terus untuk kak anjar dan juga ScrittoBooks.. . . IG : @dumzcharming
Buku ini kubaca dalam sekali duduk. Entah kapan terakhir aku membaca dengan sekali duduk langsung selesai seperti ini.
Kisah antara Arimbi dengan Bimasena versi modern ini ditulis dengan sangat manis tetapi juga tidak berlebihan. Tingkah Sena yang random dan kocak ketika bersama Arimbi seringkali membuatnya merasa spesial serta melupakan keminderannya karena hal-hal kecil namun berkesan di hati yang selalu Sena lakukan.
Gaya bercerita dengan alur maju-mundur yang diterapkan juga disusun dengan baik sehingga tidak membuat bingung dan bahkan menimbulkan rasa penasaran pada pembaca.
*p.s. Desain covernya cantik banget!!! Two thumbs up untuk Sunu Studio👍👍💕
Ini nih novel yang sukses bikin senyum-senyum sendiri. Arimbi seorang guru seni berusia 28 tahun, yang selalu minder dan nggak pede-an, sulit mengatakan tidak atau bisa dibilang sebagai 'yes-man'. Lebih suka berdiam diri sambil membaca novel daripada bersosialisasi dengan lingkungan. suatu ketika, ia dipertemukan dengan lelaki tampan yang tinggi tegap, berdada bidang layaknya Chris Evans. Alisnya tebal menghiasi tatapan mata tajam dengan manik mata hitam pekat. Bibir tipis bersemu merah seperti artis Korea Song Jong Ki. Lelaki tersebut bernama Bimasena. Ia merupakan seorang polisi. Bimasena sering bercanda dengan memanggil Arimbi dengan sebutan "istri Bimasena". Candaan tersebut membuat Arimbi tidak nyaman. Sejak pertemuan tersebut menjadikan keduanya menjadi dekat, Sena sering perhatian dan juga menjahili Arimbi.
Baca novel ini tuh greget... greget... gemessss... Mulai dari perhatian-perhatian kecil Sena terhadap Arimbi sampai dengan gombalan-gombalan receh yang sering dilontarkannya pada Arimbi. Interaksi mereka berdua sering membuat iri dan melting secara bersamaan. Manisnya gak ketulungan... Baper maksimall :D
Buku ini sudah aku baca hingga selesai, dan menurutku buku ini bagus banget! Aku bisa memahami perasaan Arimbi yang insecure soal penampilan dan percintaan. Menurutku, setiap perempuan memiliki "cantik"nya sendiri, tetapi banyak orang yang menyimpulkan kalau cantik tuh harus wajahnya bersih, nggak pakai kacamata, rambutnya halus dan lurus dan lain sebagainya. Tokoh Bimasena juga menurutku menarik, ia suka Arimbi apa adanya dan keukeuh dengan pendiriannya (meskipun sempat dibilang dia mudah goyah kalau apa yang ia perjuangkan tidak bisa diraih). Poin tambahan, karena buku ini aku jadi tahu tentang kisah pewayangan Arimbi dan Bimasena.
Manis dan membuat berdebar. Arimbi mewakili permasalahan pelik perempuan lajang di Indonesia, soal pernikahan dan tentunya karena karakter Arimbi ini introvert, dia tidak ingin diganggu dengan masa lalu merepotkan. Mungkin karakter Bimasena dan Mita seharusnya bisa lebih dieksplorasi lagi, apalagi ada adegan jika Mita menyadari perasaannya pada Bimasena. Overall, nice story
Setiap kali membaca halaman perhalaman buku ini, selalu ada aja bagian yang bikin senyum senyum entah karena gombalan jitunya Bimasena ataupun momen lucu Arimbi-Bimasena hihi. Bagus banget bukunya💞
Hal yang membuat aku tertarik dengan buku ini karena ada “perwayangan”nya dan cover yang sangat menarik🤩
Kisah cinta manis yang diikat dengan sejarah perwayangan membuat cerita Arimbi dan Bimasena menjadi teramat unik. Sebuah sisi lain dari pencarian sepasang manusia yang sayang untuk dilewatkan.