Awan putih yang bergerombol itu seumpama kumpulan jutaan malaikat yang sedang berzikir dalam diam. Gadis berjilbab merah marun itu menyeka air matanya sambil memandang ke luar jendela pesawat yang dinaikinya. Ada kerinduan yang menggelegak dan membara dalam dadanya. Kerinduan kepada Baginda Nabi, menyatu dengan kerinduan kepada abah dan umminya, serta teman-temannya, anak-anak yatim di Darus Sakinah sana.
Diam-diam ia merasa iri dengan abahnya. Bagaimana abahnya bisa memiliki rasa rindu sedemikian dalam kepada Baginda Nabi Saw.. Ia berharap suatu saat juga memiliki rasa rindu seperti itu. Rasa rindu nan dahsyat yang hanya dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-hamba terpilih.
Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil, adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai kental nilai Islaminya dan mendorong semangat para pembacanya.
Selama di Kairo, kang Abik banyak menulis naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr.Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000).
Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.
Karya-karyanya: Ayat-Ayat Cinta (2004) Di Atas Sajadah Cinta (2004) Ketika Cinta Berbuah Surga (2005) Pudarnya Pesona Cleopatra (2005) Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007) Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007)
Kisah singkat (merujuk kepada bukunya yang agak tipis berbanding yang lain), tentang Rifa dan ujian-ujian dalam kehidupannya, sebagai anak buangan yang diambil dan dibesarkan awalnya oleh Embah Tentrem dan kemudiannya Pak Nur dan Bu Salamah di Pesantren Darus Sakinah.
Antara perkara yang diangkat, tentang dakwah kepada Muslim dan bukan Muslim; tentang adab seorang yang belajar, juga orang yang mengajar; tentang tatacara dalam menguruskan harta anak yatim dan yang berkait dengan amanah.
Pengajarannya banyak, dan disampaikan dengan santai tanpa banyak hujahan seperti yang dilakukan Kang Abik dalam bukunya Api Tauhid dan Ayat-ayat Cinta 1 dan 2. Namun ia tetap mengesankan dan menjentik keinsafan untuk memuhasabah diri dari pelbagai sudut yang ditegur Kang Abik dengan begitu halus.
To be honest, title agak misleading. Dari sinopsis, I thought the book would be abt the journey of the main character learning to love the Prophet. But 70% of this book is abt the life of an orphaned schoolgirl, and Prophet Muhammad SAW was rarely mentioned in this book except for the last few pages.
Untuk pertama kalinya aku mencicipi karyanya beliau. Aku suka narasinya yang Mengalir dan nyaman untuk diikuti.
Di dalam buku tipis ini, aku diajarkan tentang kaidah kehidupan menurut pandangan islam. Bahkan lewat karakter tokoh utama yaitu Rifa, Allah mendatangankan hidayah untukku.
Sebelumnya aku adalah hambaNya yang tergolong tidak taat bergama. Setelah mengenal sosok Rifa, kok rasanya saya seperti menjadi sosok muslimah awam yang hanya beragama sebagai formalitas. Sebelumnya saya sering meninggalkan shalat, sejak mengenal karakter dia saya jadi terdorong untuk mendekatkan diri kepadaNya.
Salut deh sana Habidurrahman El Shirazy, bisa menjadikan buku setipis ini sebagai bahan perenungan.
Awalnya tertarik beli karena tetiba kepengen baca buku Kang Abik lagi, dulu sempet suka banget sama karya-karya beliau.
Sayangnya, di novel ini gak ngerasain hal itu. Mungkin karena novelnya tipis, jadi ceritanya kayak loncat-loncat, terus ada beberapa bagian gak penting (menurutku pribadi) yang dijelaskan terlalu detail, tapi penyelesaian konfilknya malah ditulis dalam beberapa kata saja.
Padahal, jujur, nunggu banget bagian itu, tapi kok ya selesainya cuma begitu. Kecewa :(
Sebenernya rating 2,5⭐ tak buletin jadi 3⭐ karena isinya lumayan mengobati rasa kangen waktu baca karyanya beliau dulu.
Saya mengira isi dari buku ini cukup serius sehingga saya benar-benar menyediakan waktu luang untuk membacanya. Ternyata isinya cukup ringan tetapi sangatlah berisi dan menyentuh. Latar tempat yang dideskripsikan dengan cukup indah pun membuat membacanya lebih menyenangkan, terlebih lagi latar tempat yang dideskripsikan adalah sebuah perkampungan khas Indonesia, membuat saya rindu akan suasananya. Pesan yang ingin disampaikan penulis pun menurut saya cukup jelas.
Tahun ini, Habiburrahman El Shirazy yang terbiasa dipanggil Kang Abik menelurkan buku Merindu Baginda Nabi sebagai awal pamungkasnya di tahun 2018. Cendekiawan Indonesia ini kembali menghasilkan karya yang tidak hanya bagus untuk iman tetapi juga membangun jiwa. Lewat buku ini Kang Abik seperti mengajak kita untuk yang tak pernah berjumpa atau melihat secara langsung Rasullullah SAW untuk merindukan beliau dan terus menerus mengumandangkan shalawat untuknya.
Ya Nabi, Salam 'Alaika Ya Rasul, Salam 'Alaika Ya Habib, Salam 'Alaika Shalawatullah 'Alaika
Diceritakan tokoh utama seorang anak perempuan bernama Dipah yang dibuang di tempat sampah oleh orangnya ditemukan oleh seorang nenek-nenek, bernama Mbah Tentrem. Di akhir usianya Mbah Tentrem menitipkan rumahnya untuk diwakafkan kepada Pak Nur untuk dikelola gar bisa merawat anak-anak terlantar lainnya seperti Dipah. Di bawah asuhan Pak Nur dan bu Nur, rumah tersebut menjadi panti asuhan Darus Sakinah yang sekarang dapat menampung lebih dari 100 anak dan Dipah diasuh serta diganti namanya menjadi Syarifatul Bariyyah.
Karena rajin, tekun, dan selalu menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT, Dipah yang sekarang dipanggil Rifa berhasil mendapatkan pertukaran pelajar ke Amerika. Disana Rifa tinggal di rumah keluarga Bill yang terletak di kawasan Walnut Blossom, San Jose. Keluarga Bill mempunyai seorang anak bermama Fiona dan seusia dengannya. Bersama keluarga Bill, Rifa banyak belajar tentang kehidupan di Amerika dan keluarga Bill memperlakukan Rifa dengan Kasih sayang bukan sebaga orang asing, sampai Rifa diajak keliling Eropa selama 2 bulan dan bermaksud ingin membiayakan Rifa kuliah di Amerika. Namun, kecintaan dan kerinduan kepada keluarganya di Indonesia sudah tidak dapat dibendung, akhirnya Rifa memilih pulang dan menyelesaikan sekolah tahun terakhirnya disana.
Di sekolah, Rifa bergaul dengan ketiga temannya, Retno, Ika dan Daru yang masing-masing diberikan oleh-oleh baju kampus ternama agar menjadi motivasi sehingga dapat kuliah di luar negeri sesuai keinginan mereka, tak terkecuali Arum, walau Arum suka berbuat jahat kepada Rifa, Rifa tetap menganggap Arum adalah motivasi, motivasi untuk terus belajar lebih giat dan menjadi lebih baik lagi.
“Ya, jujur saya sangat berterima kasih kepada Arum Saradewi, teman sekaligus rival saya sejak hari pertama masuk SMA tercinta ini. Setiap kali saya mengingat Arum maka saya katakana pada diri saya bahwa Arum sedang belajar, dia ingin merebut rangking satu yang saya pegang. Maka saya harus belajar, tidak boleh malas, nanti saya kalah. Saya bayangkan dia belajar dua jam, maka saya harus belajar tiga jam. Maka saya merasa Arum adalah sparing partner saya dalam meraih prestasi.” (hal. 46)
Perjalanan Rifa di sekolah tidak pernah mudah karena adanya gangguan Arum, namun Rifa tetap menjadi anak yang sabar dan berserah diri seutuhnya kepada Allah SWT. Dari kecil diajari Abah dan Ummi untuk menjadi muslim yang baik, Rifa tumbuh besar menjadi seorang bidadari yang menjaga tingkah laku, sikap dan sifatnya seperti ajaran Nabi SAW. Di kala diinjak dan difitnah, Rifa justru membalas tindakan Arum dengan kebaikan dan itu menginspirasi teman-teman Arum dan para pembaca untuk berbuat sama.
Kisah Arum yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy sangat Indah, sampai-sampai tak terasa saya merasa terharu karena kebaikan hati dan kesabaran Rifa. Semoga banyak anak sekolah yang juga terinspirasi oleh Rifa agar dunia pendidikan di Indonesia semakin maju dengan iman dan agama yang baik. Dan para pembaca semakin rindu dan terus mempratekkan Sunnah nabi SAW. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca.
Alhamdulillah ... selesai juga baca novel terbaru karya Kang Abik ini dan sekarang baru sempat untuk menulis ulasan.
Kemampuan Kang Abik dalam mengemas cerita memang tidak perlu diragukan, walaupun pada beberapa bagian di awal cerita, saya merasa dibawa 'halu', kehidupan yang sebenarnya banyak dan lumrah terjadi, tetapi merasa terlalu "dipaksakan" (mungkin ini faktor dari pribadi ya)
Berbeda dengan tokoh-tokoh utama dalam buku-buku sebelumnya yang menjadikan tokoh laki-laki sebagai tokoh utama, dalam novel ini Kang Abik membahas mengenai tokoh perempuan yang tawadhu, seperti pada novel "Cinta Suci Zahrana" dan "Bidadari Bermata Bening".
Rifa, dijadikan sebagai tokoh yang (menurut saya) sangat sempurna dalam segala kondisi. Pada bagian awal saya dibawa untuk menikmati dan mencari tahu bagaimana sosok Rifa, tetapi pada bagian tengah sampai akhir, saya justru lebih tertarik pada Abah atau Pak Nur.
Seperti buku-buku sebelumnya dan sesuai dengan kategori novelnya--Pembangun Jiwa. Novel "Merindu Baginda Nabi" benar-benar membangun jiwa, melalui cerita tokohnya, penjelasan ilmu agama Islam melalui dialog-dialognya, dan terlebih lagi, menggetarkan jiwa dan dalam beberapa bagian akhir membuat mata saya berkaca-kaca.
Buku Kang Abik ini memang tidak hanya bacaan, tetapi juga tuntutan. Jazakallah, Kang Abik, terus berkarya, terus menebarkan damainya Islam, semoga barokah.
NB : Ada beberapa ejaan dan struktur kalimat yang masih berantakan, sehingga harus membaca ulang untuk memahaminya, semoga apabila dicetak ulang sudah dikoreksi lagi.
Salam Sada Roha. Semoga selalu bahagia. Segala puji hanya untuk Allah. Sholawat serta salam dipersembahkan kepada Baginda Nabi SAW. Allahuma sholi ‘ala Sayyidinaa Muhammad. Wa’ala ali Sayyidinaa Muhammad.
Bersyukur kepada Allah SWT atas segala karunia nikmat, nikmat hidup, nikmat iman dan islam, nikmat berada di lingkungan orang-orang baik, dan segala nikmat-nikmat yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah dan petunjuk. Terima kasih khusus kepada Abangda Irwansyah Putra, SE yang telah mewujudkan untuk membeli buku novel karya Habiburrahman El Shirazy, salah satu penulis favorit saya, yang berjudul “Merindu Baginda Nabi” ini. Semoga Allah SWT memberikan kemurahan rezeki, dipermudah segala urusan, dan semua yang baik-baik akan menyertai abangda.
Saya hanya akan sedikit mengulas terkait isi buku ini. Alhadulillah, saya sudah selesai membacanya. Bukunya tidak terlalu tebal, tidak seperti novel Kang Abik yang lainnya. Kamu hanya butuh waktu beberapa jam saja untuk menyelesaikannya. Asalkan fokus dan suasananya tenang, karena buku ini begitu haru, adem, sejuk, dan tenang dalam kisahnya. Seperti suasana pagi ini, mendung putih dan sedikit gemericik rahmat yang Allah turunkan dari langit. Mengambil latar tempat di timur pulau Jawa tepatnya di Kota Malang dengan nuansa pesantren, kemudian di penghujung kisah berada di Muenchen, Jerman membuat kisah dalam novel ini menarik.
Berawal dari perjalanan tokoh utama, Syarifatul Bariyyah, di dalam pesawat yang akan pulang ke Tanah Air setelah delapan bulan lamanya meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Amerika dalam rangka pertukaran pelajar SMA kisah ini dimulai. Syarifatul Bariyyah atau biasa dipanggil Rifa merupakan siswi SMA Nasional 33 Malang yang sangat cerdas, santun, dan baik. Dengan izin Allah, ia berkesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar selama satu semester di Amerika tepatnya di San Jose, sebelah selatan Kota San Francisco.
Namun, melihat sejarahnya sangat sedih dan mengharukan. Rifa kecil adalah bayi yang terbuang di tempat sampah oleh orangtua yang tidak bertanggungjawab. Hingga pada suatu subuh, seorang nenek penjual nasi pecel, Mbah Tentrem, menemukannya dalam keadaan menangis di dalam kardus. Nenek itu merawat seadanya, tidak diberi susu, melainkan tajin. Hingga akhirnya sepasang suami-istri yang, memohon kepada Mbah Tentrem agar mereka merawatnya. Pasangan suami-istri ini. Pak Nur dan Bu Salamah, kemudian merawat serta mendidik dengan penuh kasih sayang. Hingga menjadi Rifah yang pintar, cerdas, baik, dan sopan santun. Dia selalu berprestasi di sekolahnya bahkan ketika pertukaran pelajar di Amerika dia menjadi juara olimpiade Matematika di sana. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini. Tentang ketulusan, keikhlasan, kesabaran, kerja keras dan tentunya pelajaran agar kita selalu mencintai Baginda Nabi SAW. Belajar dari Mbah Tentrem. Beliau adalah seorang nenek penjual nasi pecel yang pada suatu subuh pagi menemukan Rifah. Hidupnya sederhana namun sangat dermawan. Sepeninggalnya, beliau mewakafkan tanah dan rumahnya untuk dijadikan panti asuhan untuk anak-anak yatim yang kemudian berganti menjadi Pesantren Darus Sakinah yang dikhususkan bagi anak yatim dan dhuafa. Walaupun ini kisah novel, tapi kita bisa mengambil pelajara yang baik dari kisah tersebut. Pak Nur, beliau adalah yang mengangkat Rifah sebagai anak. Beliau juga yang mengasuh Pesantren Darus Sakinah. Ini karena ketika Mbah Tentrem akan meninggal, menitipkan rumah dan tanahnya kepada Pak Nur untuk dijadikan panti asuhan untuk anak yatim. Pak Nur adalah orang yang jujur, patuh pada guru dan kyainya, rendah hati, dan dermawan. Beliau juga seorang penjual bakso. Salah satu yang perlu dicontoh adalah bagaimana ia mencintai Baginda Nabi SAW yang begitu tulus dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan yang diceritakan dalam novel ini.
Rifah atau Syarifatul Bariyyah yang menjadi tokoh utama. Ini sangat cocok sebagai panutan terutama bagi para pelajara, dan para pemuda. Bagaimana dalam novel ini dikisahkan tentang perjuangannya, kecerdasannya, kebaikan, dan sopan santunnya. Sampai kini ia tidak tahu siapa orangtua kandung yang tega membuangnya di tempat sampah. Dia orang yang baik, namun begitu tetap saja ada orang yang tidak senang dengannya. Itu adalah hal wajar. Semua ada pasangannya masing-masing. Ada yang baik dan ada juga yang belum baik.
Novel ini memberikan pelajaran bahwa banyak orang baik yang ada di bumi Allah ini. Selagi yang kita tanam itu baik, maka kita akan memanen kebaikan pula. Semua itu sudah ada balasannya masing-masing. Libatkan Allah SWT dalam setiap urusan kita dan lakukan setiap kebaikan semata-mata untuk mengharap ridho Allah SWT. Oh ya, salah satunya yang membuat saya pribadi senang dengan novel ini, selain pembawaan ceritanya yang adem, sejuk dan tenang, yaitu latar tempat yang disajikan dalam novel itu yaitu di Malang. Terkadang percakapan yang digunakan adalah bahasa jawa ke Jawa Timuran. Saya jadi rindu Malang, rindu teman-teman di Malang, rindu Alun-alun Malang, rindu kampung warna-warni. Semoga bisa kesana lagi. Sebenarnya masih banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari novel ini, namun aku sengaja tidak menuliskannya agar kamu penasaran. Saran saya, ya segera baca novel ini. Selamat menikmati. Semoga kita menjadi umat yang begitu merindukan Baginda Nabi SAW dan kita menjadi orang-orang yang bisa bersama-sama Rasulullah di surga kelak. Aamiin Yaa Robbal’alamiin.
"Nenek itu memberi nama dirinya "Dipah". Katanya singkatan dari "ditemu ning sampah". Pikiran nenek itu sederhana, biar mudah diingat." (Hal.2)
Bercerita tentang perjalanan hidup Dipah yg sewaktu bayi ditemukan oleh seorang nenek di tempat sampah di pinggir jalan belasan tahun lalu. Selama 2 bulan, Ia dirawat oleh si Nenek yg selalu membawanya ke pasar sambil jualan nasi pecel. Ia tidak diberi minum susu, melainkan air tajin. Dipah kemudian diasuh oleh Pak Nur dan Bu Sal dengan penuh kasih sayang dan cinta, namanya pun berganti menjadi Rifa atau Syarifatul Bariyyah. Rifa kemudian mendapatkan kesempatan untuk pertukaran pelajar ke Amerika. Selama 8 bulan di Amerika, kemudian Ia kembali lagi ke Indonesia. Adakah perubahan yg terjadi ketika Rifa kembali dari Amerika?
"Tanpa dimulai dengan bismillah segala amal baik jadi sia-sia. Abah dan ummi saya mengajari itu sejak kecil. Ini doa paling mudah dan paling ampuh yg bisa kita amalkan untuk semua aktivitas positif..." (Hal. 43)
Sepulangnya dr Amerika, Rifa disambut dngn meriah oleh pihak keluarga & sekolah. Ia pun memberikan motivasi kepada teman2nya di Sekolah. Ia juga tetap menjadi anak baik yg sholehah, cerdas, rendah hati dan selalu bersemangat. Novel ini menceritakan keseharian Rifa di sekolah bersama para sahabatnya, & keseharian Rifa brsama santri serta orangtuanya di Pesantren. Naah, ditengah cerita, Rifa kedatangn sahabatnya dr Amerika yaitu Fiona & Louise. Arah cerita pun bertambah dgn menampilkan cerita dr mereka. Sebenarnya sih ceritanya cukup sederhana tp tentu saja dikemas dgn gaya khas penulis yg selalu menonjolkan banyak sisi keislaman disetiap tulisan2nya yg akhirnya membuat ceritanya menjadi istimewa. Apalagi disini latar tempatnya Pesantren. Duh... Semakin terasa suasana Keislamannya.
Kalau menurut saya sih, kurang tebal jumlah halamannya 😅 habisnya terasa nanggung gituu. Penyelesaian bagian Arum dan Tiwik agak kurang nampol aja. Tp jangan kaget, di novel ini banyak plot twist yg bqn jalan ceritanya jadi sangat brkembang.
Novel ini cocok dibaca buat kita semua, dari mulai anak SMP jg cocok banget agar bisa terinspirasi dari sosok Rifa yg memiliki sifat penyabar dan ikhlas meskipun ada yg Zalim terhadap dirinya, serta juga agar terinspirasi kecerdasan dan sifat pantang menyerahnya yg selalu diseimbangkan antara iman, ilmu & agama yg baik.
"Diam-diam Rifa merasa iri dgn abahnya. Bagaimana abahnya bisa memiliki rasa rindu sedemikian dlm kpd Baginda Nabi SAW? Ia berharap suatu saat jg memiliki rasa rindu seperti itu. Rasa rindu nan dahsyat yg hanya dikaruniakan oleh Allah kpd hamba2 terpilih." (Hal. 156)
Kisah Rifa anak buangan yang dididik oleh nenek yang menemuinya, Pak Nur dan Buk Sal pencinta agama. Kisah berlatar belakangkan Pesantren Yatim dan Dhuafa Darul Sakinah, secara tidak langsung pembaca turut serta dalam jadual harian yang bermula seawal 3 pagi untuk Tahajjud, solat berjemaah, majlis ilmu, iktikaf dan mengaji kitab nipis.
Cabaran dan dugaan anak pintar ini bukan sedikit. Dibuang, pelajar pintar tapi dibenci rakan, 2 kali kemalangan sehingga lumpuh, ayah angkat yang dikasihi meninggal dan ujian-ujian kecil yang lain. Semua diharungi dengan sabar, husnuzon dan zikir. Jatuh air mata pembaca barang setitis dua. Pasti!
Pembacaan bersulamkan ilmu menjadi pilihan saya. Diselitkan juga kandungan seminar 'internasional' seolah-olah pembaca hadir sama. Ilmu percuma! ☺️
Di sini saya senaraikan juga beberapa nilai yang cuba disampaikan (semoga pahala berpanjangan untuk penulis) :
1. Adab dengan ilmu. Jangan sekali-kali mengajar sesuatu yang kita tidak memiliki ilmunya atau tidak cukup ilmunya. 2. Hakikat manusia penuh khilaf dan dosa 3. Maka belajarlah mengenal Allah 4. Ilmu yang sedikit tetapi selama kamu amalkan dengan ikhlad akan jadi barakah. 5. Jangan meremehkan ilmu hatta dengan perkataan 'hanya'. (pembaca boleh gali sendiri maksudnya 😢) 6. Penyakit orang alim biasanya merasa alim, takabur, sombong. (dari sinilah syaitan akan membisik lalu menyesatkan) 7. Ikhtiar maksimum untuk berbaik sesama manusia, agar hati tenang kemudian pasrahlah kepada Allah. 8. Berbahagialah. "kalau Allah bersamamu, apalagi yang kamu khawatirkan" 9. Teman terbaik dalam mengharungi dugaan hidup sebenarnya 'ILMU' dan 'IMAN'. 10. Ada 1 hadis diterangkan secara terperinci yang disampaikan oleh Pak Nur usai solat subuh. Rugi kalau tuan puan tak baca.
Buku ini terbitan Penerbit Indonesia, jadi bahasa Indonesia agak sukar difahami tapi disediakan terjemahan pada nota kaki. Jangan risau, nikmati sahaja bacaan anda.
Secara jujur, saya membeli berdasarkan JUDUL BESAR tanpa meneliti tulisan sampingan sehingga terlepas info rupa-rupanya ini adalah sebuah novel tulisan novelis no 1 Indonesia. (selalunya bukan fiksyen menjadi pilihan utama saya). Tapi sebenarnya pilihan saya kali ini tepat, syukur. Tahniah kepada penulis, berjaya menghasilkan novel ilmiah seperti ini. 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Berkisah tentang Rifa, pelajar SMU yg dulu ditelantarkan orang tuanya lalu kemudian dibesarkan oleh orang tua angkat yang baik hati.. Rifa pun tumbuh menjadi gadis yang pintar dan sholeha. Berhasil mengharumkan nama sekolahnya dengan menjadi wakil satu-satunya yang berangkat ke Amerika guna belajar di sana beberapa bulan. Di Amerika ia hidup bersama keluarga baru yang baik kepadanya, khususnya Fiona yg memang seumuran dengannya.. Sepulang dari Amerika, Rifa membagi ilmu yg ia dapat kepada teman2nya di kota Malang. Namun tidak semua menyukai keberhasilan Rifa. Ada Arum dan Tiwik yang dengki terhadap Rifa.. Di sisi lain Abah Nur yg merupakan ayah angkat Rifa memiliki kerinduan yg mendalam pada Rasulullah SAW. Rindu yg indah yg membuat iri dan semoga kita termasuk orang2 di antara nya...
*** *** *** *** ***
Merindu Baginda Nabi adalah salah satu novel karya kang Abik.. di Banjarmasin agak susah nyarinya hingga sy terpikir untuk membelinya secara online. Namun syukurnya, ternyata kemarin ada kesempatan ke kota Jogja yg memang memiliki banyak toko buku lengkap dan murah. Salah satu buku yg saya borong adalah buku ini. Dan enaknya belanja buku di Jogja adalah, bisa langsung disampul plastik biar bukunya awet, tanpa biaya tambahan alias gratissss 😍😍😍. Kapan ya di Banjarmasin ada toko yg begitu?? 😂.
Mengenai buku ini sendiri, saya sempat salah mengira dengan isinya. Saya pikir buku ini bakalan agak berat isinya karena judulnya itu. Tapi ternyata isi buku ini ringan,, sesuai dengan tebal bukunya yg gak seberapa. Kisahnya tentang remaja,, which is good karena jarang ada buku remaja yg isinya agamis.. jadi buku ini sangat sy rekomendasikan buat dibaca pelajar SMP atau SMA. Bacaan bagus yg mendidik 👍👍.
PS : di bagian yg merindu Baginda Nabi itu,, selalu berhasil bikin mata berkaca2. Padahal udah ketebak ceritanya, tapi tetap aja bikin tangan ambil tisu buat lap mata yg udah terlanjur basah 😭. Biar bagaimanapun rindu ini ada dan nyata,, semoga tetap terjaga dan terus membesar hingga saatnya nanti benar2 bertemu dgn beliau SAW. Shalawat atasmu ya Rasulullah 😊😊😊.
Cerita ini diawali oleh nenek yang menemukan seorang bayi, dan diberi nama Dipah “ditemu ning sampah”. Dipah dirawat oleh seorang nenek dengan diberi air tajin (air rebusan beras yang agak kental ketika menanak nasi). Hingga akhirnya Dipah memiliki orang tua angkat dan diberi nama Syarifah Bariyyah. Tentang bagaimana Abah dan ummi yang mendidik Rifa dengan baik, hingga dengan restu mereka Rifa bisa mengikuti program pertukaran pelajar. Programnya selama enam bulan di Amerika dan bisa jalan-jalan di Eropa selama dua bulan bersama keluarga angkatnya di Amerika. Perjuangan tentang Rifa yang selalu melibatkan Allah dan restu orang tuanya.
Namun ternyata ada sebuah masa lalu yang Allah balaskan kini. “Sebelumnya, maafkanlah abahmu ini, Nduk. Itu semua karena dosa abah di masa lalu. Abah tahu persis, karena dulu saat abah nakal, abah pernah melakukan hal yang sama kepada seorang gadis, putri seorang tokoh di Semarang. Abah melakukan persis yang dilakukan Mijan kepadamu. …… Kini Allah membalas dosa abah itu pada putri abah. Benarlah kata Mbah Kyai Ridwan, jangan menjahati anak gadis orang lain. Kalau ada orang menzinai anak orang, maka anaknya akan dibalas dizinai orang. Ada orang yang menjahili anak orang,, anaknya akan dijahili orang. Astagfirullah ‘azhim, ya Allah nyuwun pangapuro, ya Allah. ……. Zina itu seperti hutang. Pasti akan dibayar atau dibalas pada keluarga yang melakukannya. Maafkan abah, Nduk. Maafkan abagmu yang penuh dosa ini.”
Suatu saat ia melihat abah begitu termenung, gelisah hingga menangis. Ia takut itu karena dirinya dan memberanikan diri untuk bertanya. Jawabannya membuat Rifa merinding hingga menangis, ternyata abah sangat merindukan Baginda Nabi SAW. Dengan restu dari Rifa dan anak-anak di pesantren akhirnya abah dan ummi berangkat, hingga abah menghembuskan nafas terakhirnya saat umroh. Dan Rifa ingin merasakan hal tersebut, hingga akhirnya ia memiliki kesempatan untuk pergi umroh dan berzirah ke makam abah bersama orang-orang yang ia sayangi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Persepsi seorang pengkhayal memang harus diwaspadai. Ekspetasi saya terhadap buku Kang Abik ini terlalu tinggi rupanya. Saya menyangka akan menemui taburan kerinduan di buku ini. Ternyata buku ini lebih tepat disebut buku remaja. Kesederhanaan yang sempurna.
Kang Abik selalu berkata, kesempurnaan tokoh yang ditampilkannya memang benar-benar ada di dunia nyata. Ya, saya juga tidak memungkiri. Memang ada. Dan seharusnya bisa kalau benar-benar menerapkan Islam.
Hanya saja, bagi saya, yang sudah tercemar pikiran ketidaksempurnaan, kehidupan selalu tampak lebih pahit, dan idealismen Islam yang memaniskannya. Idealisme itu hampir tidak pernah nyata di kehidupan saya.
Saya baru saja menyelesaikan 1Q84 tiga jild secara beruntun. Alur dan gaya penceritaannya bagi saya begitu berkesan. Begitu dalam dan sulit dilupakan. Tapi setelah saya membacanya saya tidak mendapatkan apapun selain itu.
Berbeda dengan karya Kang Abik. Harus saya akui kekuatan tulisan tidak melulu tentang ide-ide out the box, namun juga kekuatan niat. Bagaimanapun tulisan Kang Abik selalu membuat saya menangis pada bebeberapa bagian. Karena itulah karya Kang Abik diciptakan. Untuk mengingatkan. Untuk dicontoh. Akhirnya apa yang penulis inginkan dari tulisannya, dapat tercermin pada perilaku pembaca.
Tulisan yang baik-baik akan membawa yang baik-baik. Tulisan yang jelek akan membawa yang jelek-jelek. Tulisan yang hanya indah saja akan dinikmati keindahannya saja.
Meski tulisan dan alur Kang Abik sederhana, bahkan menurut saya, minim imajinasi dan nyastra, namun pada akhirnya tulisan adalah tentang alat trasnsfer. Apa yang penulis inginkan dan niatkan. Nyatanya tulisan Kang Abik lebih banyak mempengaruhi kehidupan saya. Saya terhibur dari 1Q84, terstimulasi pula imajinasi saya, terasah otak dan bahasa saya. Namun cukup itu saja.
Merindu Sang Baginda Nabi dapat membuat saya menangis dan menekuri kesalahan saya selama ini. Memang kesederhanaan yang sempurna.
"Dunyo iki isine ora mung wong apik, yo ono wong olo. Dadi wong apik opo wong olo iku pilihan. Miliho dadi wong apik. Nek awakmu dinakali wong yo ben, ora usah kok wales. Sing penting awakmu ora nakal lan ora nakali wong liyo." (H. 85)
Dikisahkan seorang remaja SMA bernama Rifa tengah duduk di atas pesawat dalam penerbangannya kembali ke Tanah Air setelah beasiswa pertukaran pelajar di Amerika selama delapan bulan dan kunjungannya ke beberapa negara di Eropa. Sebuah nikmat yang sangat besar dari Allah SWT mengingat ia bukan berasal dari keluarga kaya. Aplikasi yang ia ajukan berkat dorongan karibnya itu qodarullah telah mengantarkannya pada perjalanan keliling dunia sekaligus di usianya yang masih sangat muda, melalui berkat prestasi dan kegigihannya dalam menimba ilmu.
Buku yang syarat nilai, tentang persahabatan fillah, kerinduan pada Baginda Nabi yang begitu membuncah, kekuatan doa, akhlak seorang muslim, tentang bersyukur, buruknya dendam, dan keindahan nilai keislaman lainnya yang menurut saya diramu indah oleh penulis menjadi kesatuan utuh.
Hal yang paling menarik menurut saya adalah pemilihan tokoh Rifa yang notabene masih berusia remaja dengan latar belakangnya hingga diangkat menjadi anak oleh Pak Nur dan Bu Sal. Anak Yatim dan Baginda Nabi, dua sosok yang digambarkan dalam hadist begitu dekat, lebih dekat dari dua jari. Juga karakter Pak Nur yang justru tidak digambarkan sebagai seorang ulama yang perfect. Justru ketidaksempurnaan lah yang mengantarkannya menjadi pribadi yang sangat santun dan penuh kebijaksanaan, baik hati, dan ringan tangan menolong sesama.
Keseluruhan novel ini saya suka. Rekomendasi khususnya untuk remaja muslim/muslimah kita, dan tetap related dengan pembaca dewasa karena nilai² positif dan kecintaan pada Nabi saw. yang bertebar menghiasi ceritanya.
Judul: Merindu Baginda Nabi Penulis: @kangabik Penerbit: @bukurepublika Dimensi: iv + 176 hlm, 13.5 x 20.5 cm, cetakan pertama April 2018 ISBN: 9786025734199
#novelislami ini berkisah tentang Rifa, anak yatim piatu yang bersyukur atas jalan hidupnya. Diangkat menjadi anak Pak Nur dan Bu Sal yang begitu amanah menjaga Darus Sakinah peninggalan Mbah Tentrem. Rifa dengan segudang prestasinya yang mengantarkan ia dalam pertukaran pelajar ke Amerika, hingga mencecap benua Eropa, memiliki rival bernama Arum.
Arum yang merupakan anak politisi dan juga seorang artis selalu dengki terhadap Rifa. Ditambah hasutan temannya yang bernama Tiwik, semakin mengobarkan api kebencian itu.
Menurut saya buku ini bagus untuk membangun jiwa, tapi kurang oke secara judul dan alur. Kalau menilik judul, harusnya yang disoroti adalah Abahnya Rifa. Bukan Rifa dan kehidupan remajanya. Pun alurnya, begitu tertebak. Tokohnya terlalu klise, meski penulis bilang benar-benar ada tokoh seperti dalam novel-novelnya. Sebab terlalu putih dan hitam di sini. Belum lagi ending yang terkesan semua azab disegerakan. Yang jahat pasti dapat balasannya tak lama di dunia ini.
Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.
"Ingin jadi yang terbaik itu bagus, tapi jiwa ksatria dan sportif itu jauh lebih bagus dan mulia." (H.39)
"Perlu kalian catat, tidak ada prestasi yang diraih dengan malas-malasan." (H.41)
"Jangan sekali-kali mengajarkan sesuatu yang kita tidak memiliki ilmunya, nanti yang terjadi malah ngawur. Bisa menyesatkan. Merusak agama." (H.54)
Awan putih yang bergerombol itu seumpama kumpulan jutaan malaikat yang sedang berzikir dalam diam. Gadis berjilbab merah marun itu menyeka air matanya sambil memandang ke luar jendela pesawat yang dinaikinya. Ada kerinduan yang menggelegak dan membara dalam dadanya. Kerinduan kepada Baginda Nabi, menyatu dengan kerinduan kepada abah dan umminya, serta teman-temannya, anak-anak yatim di Darus Sakinah sana. Diam-diam ia merasa iri dengan abahnya. Bagaimana abahnya bisa memiliki rasa rindu sedemikian dalam kepada Baginda Nabi Saw.. Ia berharap suatu saat juga memiliki rasa rindu seperti itu. Rasa rindu nan dahsyat yang hanya dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-hamba terpilih.
Di novel ini, lagi-lagi Kang Abik berhasil membuahkan karya yang benar-benar dapat membangun jiwa. Kali ini bukan melalui kisah cinta antara dua manusia yang bisa saling bertatap muka, namun kisah tentang kerinduan ummat terhadap sosok manusia paling mulia, Rasulullah saw.
Novel ini memang terlihat sederhana, bahkan alur, kisah, hingga tokonya. Tetapi, siapa sangka jika membacanya akan menimbulkan perasaan yang jauh dari kata sederhana?Siapapun yang membaca, ia seperti sedang diajak untuk bercermin kemudian mengukur sedalam apa cintanya pada Kekasih Allah, Muhammad saw. Bukan dengan mengungkapkan rasa cinta itu dengan perkataan, tetapi perilaku –akhlak seseorang, yang menjadi cerminan dari rasa cinta itu.
Rifa, seorang pemudi dari Malang yang banyak menginspirasi banyak teman dan orang tua. Anak merupakan titipan Tuhan yang harus dijaga dengan baik. Sebagaimana pak Nur dan Bu Sal yang menjaga dengan baik anak titipan itu walaupun bukan anak kandung beliau. Kepandaian dan kealiman Rifa bukan karena Rifa sendiri, namun terimakasih dan pujian harus disampaikan kepada pak Nur dan Bu Sal sebagai pengasuh nya sejak kecil hingga besar. Walaupun ini hanya novel belaka, namun kisah seperti ini banyak terjadi dikalangan masyarakat Indonesia. Semoga pembaca dapat mengambil secuil semangat Pak Nur dan Bu Sal yang berbuah akan Rindu Kepada Nabi Muhammad SAW secara mendalam. Walaupun kita sebagai umat akhir zaman, namun Nabi Muhammad sudah lama merindukan kita sebagai umat akhir zaman. Cinta dalam pertemuan itu biasa, namun dapat mencintai dalam nama adalah keluarbiasaan. Sholu 'alan Nabi....
Muhammad Aku rindu kepadamu, Namun Aku malu menatap cahayamu.
Kaji Semar
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pesan yang disampaikan amat mengena, bagaimana kerja keras dan doa yang diiringi keikhlasan hati akan membawa seseorang pada kesuksesan. Sebaliknya, sikap sombong dan kufur nikmat justru akan mendatangkan bencana.
Namun, alur yang begitu mudah ditebak membuat saya seolah-olah sedang menonton sinetron indos*ar. Saya membeli novel ini karena tertarik dengan judul dan ringkasan singkat di sampul belakang yang menekankan tentang kerinduan terhadap Baginda Rasulullah. Saya amat menyayangkan karena El Shirazy hanya membahas kerinduan tersebut di sepersekian persen dari cerita, yaitu hanya tatkala Abah berangkat ke tanah suci karena seumur hidupnya merindukan Sang Baginda.
Sejujurnya saya agak kecewa di buku Kang Abik kali ini. Rasanya tidak ada klik sama sekali seperti dua buku yang saya baca sebelumnya. Padahal saya tergiur dengan judulnya yang bagus, Merindu Baginda Nabi yang seperti biasa berlabel novel Pembangun Jiwa. Tapi entahlah buku ini lebih terasa seperti novel remaja. Beda dengan Ayat-ayat Cinta dan Pudarnya Pesona Cleopatra yang menonjolkan diksi yang agak tinggi dan ceritanya pun lebih berisi. Jadi ya, kalau mau bilang, buku ini sangat biasa sekali. Tidak ada yang “WAH”.
Membaca karya kang abik memang selalu membawa perasaan hangat dan sesuai kategorinya 'novel pembangun jiwa', selalu menjadi terpicu dan bersemangat untuk mencontoh tokoh2 nya.
Kekurangan mungkin terletak di kalimatnya yang error, salah tulis atau ejaan, serta tokohnya yang "too good to be true' walaupun kembali ke pandangan masing masing, tapi menurut saya pribadi, ini membuat keputusan dan action tokohnya jadi mudah tertebak.
Secara keseluruhan buku ini wajib untuk dibaca terutama yang rindu akan bagaimana rasanya hati yang basah dan ringan karena dekat dengan Sang Pencipta, kebahagian sederhana di atas jalan tuntunan Al Quran dan hadis.
Saya salah ekspektasi sebenarnya, hehe. Saya pikir, saya kira, saya tebak isinya berhubungan dengan Nabi Muhammad. Saya tiwas membayangkan akan seperti membaca novel "Muhammad" Tosari GK. Ternyata saya salah saudara-saudara, ini murni novel "remaja" yang dibalut kisah muslimah. Tentang anak pondok bernama Rifa yang pintar, sabar dan tidak pantang menyerah. Dia mengalami drama dengan teman SMA yang iri sampai dia pincang. Buah semangat, dia dapat kesempatan sekolah ke Muenchen dan bisa "ke Mekkah" lewat sana. As simple as that :)
Selain menginspirasi, novel karya tangan dingin @kangabik Selalu terkenal dengan ketebalannya. Anehnya novel ini hanya berjumlah 176 halaman.
Alih alih cuek, aku justru penasaran, mengapa novel setipis itu diminati banyak orang bahkan diangkat menjadi sinetron. Karena itulah dengan bangga novel ini kujadikan materi dalam debut pertamaku (jiahhh) membuat konten Review buku. Tonton selengkapnya di channel pecinta pena.
Novel tarbiah dari Indonesia pertama yang saya baca. Berkisahkan Rifa yang merupakan anak angkat. Ibu bapa angkat dia merupakan pengusaha pondok/pesantren. Walaupun tinggal di londok rifa ni seorang pelajar yang sangat bijak sampai boleh join exchange student di eropah. apa yang menarik walaupun rifa ni pelajar pintar tapi dia lebih gemar dengan kehidupan di pondok. dan rutin seharian dia disini sngat menginspirasikan
Tentang anak SMA (perempuan) dan rasa syukurnya kepada Allah terhadap hidup, juga rasa kagumnya pada Abahnya yg begitu mencintai Rasulullah SAW... Sesungguhnya agak susah merelate anak SMA macem ini ada, secara anak SMA jam skrg bikin merinding kelakuannya. Tapi, asli nangis mulu, dramatisasi alurnya selalu juara Kang Abik teh, juga, nilai yang dibawa konsisten sampai akhir.
Novel ini merupakan novel yang ringan kalo dibandingin sama novel-novel habiburahman yang lain, alur ceritanya lumayan cepat dan sangat lurus. Penokohan yang naif juga kadang bikin gregetan, but overall banyak nilai2 yang bisa kita contoh salah satunya terkait adab dan akhlak. Good job habiburahman👍🏻
Habibul Rahman one of the my fav author, his writing style, his word so incredible.. it just this book maybe short and the dialog in pure indonesia/jawa it might difficult a bit 😅.. but I still love it.
"Langit biru. Burung-burung bercengkerama hinggap di puncak ketedral. Cuaca terasa ramah dan indah.Udara tidak panas dan tidak dingin Itulah perpindaham akhir musim semi yang meyenangkan."🌻
Settle down in one seat! Endingnya agak kurang memuaskan bagi saya. Dan penyampian juga agak kurang. Nasihat banyak alhamdulillah. Tapi untuk tajuk itu saya mengharapkan lebih lagi. Tidak seperti tulisan kang abik yang lain dari sudut penceritaannya. Apapun, banyak quotes yang saya notekan, buat rujukan di masa depan 🫰🏻
Suasana di cerita ini terasa sekali kekeluargaannya mulai dari kerabat yang berada di luar negeri, luar kota, tetangga, guru dan teman-teman Rifa. Bisa kita bandingkan dengan tokoh yang sangat tidak bersahabat dengan Rifa di cerita ini yaitu Arum.
Satu lagi karya Kang Abik di tahun 2018. Meskipun bukunya tipis, tapi isinya selalu menarik Selengkapnya silahkan baca reviewnya: https://aisaidluv.wordpress.com/2018/...