Tubuh-puisi dikonstruksi sebagai ranting-ranting sejarah dengan daun dan akarnya yang belum pasti. Dahannya: kepercayaan atas Bahasa yang akut. Ibe S. Palogai di antara sebagian penyair yang menjadikan puisi sebagai suara performatif sejarah lokal ke tubuh masakini. Mencari dan memetakan waktu sebagai "durasi kreatif" antara masalalu dan masakini, kadang ikut terjerembab ke dalam sejarah sebagai "berita hoax" yang asal-usulnya berlangsung dalam penebalan historisisme sebagai ideologi nasionalisme lokal.
Salah satu ungkapan dalam puisinya: bukankah liang kubur diletakkan di sampul buku agar kau tak keliru menebak ke mana rantau membawa kekasihmu � yang ditutup dengan tanda tanya (?), merupakan semiotika sejarah yang dipasang dalam tubuh puisi sebagai semacam "ranjau" untuk pembaca memposisikan diri pada batas teritori di luar dan di dalam makna." Afrizal Malna - penyair
Ini pengalaman membaca buku puisi yang paling mencerahkan buat saya. :-) Entah kenapa saat membaca buku ini saya begitu semangatnya sehingga setiap ada kata yang saya tidak tahu langsung saya googling. Ternyata ini berguna sekali. Anda baru bisa lebih memahami puisi-puisi di buku ini kalau anda tahu arti kata yang dijadikan judul. Hehehe. Pengetahuan anda tentang Kata dalam bahasa Bugis atau Makassar, seperti: Makkuluada, Padewakang, Ininnawa, Sombaya. Atau nama tokoh/tempatnya: Astana Galesong, Karunrung. Atau kata serapan dari bahasa asing, seperti: Solipsistis, Slagorde, Konkuisnador. Sangat membantu anda untuk memahami isi puisi saat anda tahu arti judul puisi tersebut. Lebih jauh lagi setelah membaca puisi-puisi ini saya malah jadi terus googling butir-butir Perjanjian Bungaya, Persekutuan Tellumpocoe, lalu ke wikipedia membaca riwayat Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin. Penghinaan Gowa kepada Bone dengan memaksa kaum bangsawan Bone, termasuk Arung Palakka ikut kerja paksa membangun kanal. Membaca di Historia, Pertarungan di Somba Opu, kekalahan terakhir Hasanuddin dan Karaeng Karunrung. Wow mencerahkan sekali. :-) Ini cuma karena saya membaca buku puisi ini.
Tentang puisi-puisinya. Saya suka buku puisi seperti ini yang satu tema (seperti: Di Ampenan, Apa Lagi Yang kau Cari?-nya Kiki Sulistyo, yang menceritakan Ampenan dan warganya setelah kemunduran kota tersebut dari kota pelabuhan yang ramai menjadi kota kecil biasa). Sedang Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi menceritakan nasib orang-orang yang kalah (dalam hal ini orang Gowa/Makassar yang harus pergi dari kampung halamannya atau merasakan dijajah/direndahkan oleh sang pemenang (Belanda/Bone) dan bagaimana mereka berdamai dengan rasa malu sebagai orang yang kalah. Yang jelas Sultan Hasanuddin, meninggal pada usia cukup muda, 39 tahun, tak lama setelah kekalahannya, sedang sang pemenang Arung Palakka bertahan hingga usia 61 tahun.
Bahkan hingga sekarang, pejabat-pejabat dan orang kaya di Sulawesi Selatan lebih banyak orang Bugis dibandingkan orang Makassar. Apakah ini efek kekalahan 300 tahun yang lalu? Belum jelas. Tapi buku puisi ini dengan segala kata-kata “asing”nya (buat saya) berhasil menggambarkan perasaan pihak yang kalah dalam perang, dan kehidupan mereka yang asing dan tak sama lagi, setelah kekalahan tersebut. Saya beri bintang 4 untuk buku ini.
Yang paling aku takutkan dari membaca puisi adalah tidak mengerti apa yang disampaikan oleh si penyair. Banyak metafora ataupun makna yang terkandung di dalamnya membuat saya malas untuk membaca buku-buku puisi. Salah satunya adalah ketika saya ingin membaca buku ini. Apalagi waktu tahu si penyair pernah residensi kepenulisan di Belanda. Ini membuat saya semakin 'takut membaca' Namun, pada akhirnya saya juga harus membaca. Kumpulan puisi ini tidak seberat ketika saya membaca salah satu penyair yang bulan maret lalu masuk sebagai penulis yang diundang London Bookfair. Tapi kumpulan puisi tidak boleh juga dikatakan ringan. Ada histori yang terkandung di dalam puisi. Adapula kata-kata baru yang membuatku harus membuka kamus KBBI. Seperti contohnya puisi berjudul : Solipsistis, Resiprokal, Epitaf dll.
Dan kupikir judul dari buku ini sangat mengena di hati para pengarang puisi sekalian. Sudah menjadi rahasia umum bahwa novel paling laku keras, ketimbang puisi. (Kecuali puisi-puisi milik seorang penulis/penyair besar). Semua puisinya tidak ada yang jelek. Sudah jelas penulis/pengarang buku ini bukan pengarang sembarang. Hanya satu kekurangannya, buku puisinya terlalu tipis. Hanya 91 halaman. Beginilah kalau ketemu sama orang yang doyan baca buku tebal :p
Tidak pernah mudah memahami tulisan-tulisan Kak Ibe, saya selalu ditemani kamus & chatgpt untuk menjelaskan beberapa hal tapi meskipun sulit, saya banyak terbantu dengan tulisan pembuka Kak Ibe yang menjadi kunci pemahaman utuh buku ini. Menjadi media yang mengantarkan saya untuk mempelajari sejarah perang makassar 1666-1667 tentang tokoh penting: Sultan Hasanuddin & Arung Palakka.
Dengan kepayahan, saya tetap bisa mendengarkan setiap hati yang patah dari puisi-puisi Kak Ibe yang juga ikut mematahkan hati saya.
“apa arti kemenangan yang kucapai dengan mengkhianati tanahku sendiri?”
Betapa memilukannya permasalahan “nasionalisme lokal” ini, kompleksitas konfliknya, adakah kemenangan didalamnya? atau perang ini hanya menghasilkan arang dan abu?
Sudut pandang yang menarik mengenai peperangan, kekalahan, penerimaan, kehilangan, dan kehidupan sosial lainnya. Memaksa saya membuka KBBI bahkan membaca kembali perihal sejarah Makassar dalam artian yang semakin menarik saya untuk memahami pikiran penulis melalui pilihan katanya.
Di atas semuanya, saya masih terkagum-kagum dengan pilihan kata untuk tiap-tiap judul puisi yang sangat unik🤟🏻
jarang aku membaca buku puisi yg menceritakan sejarah suatu kota atau peristiwa. ada bumbu lain selain peperangan yg membuat puisi-puisi ini tetap enak dibaca dan indah. aku masih terus belajar menyusun diksi dan memilih kata.
Unik dan menarik. Puisi-puisi karya Ibe S. Palogai berhasil memutar kembali memori pelajaran sejarah dikepalaku mengenai peperangan yang terjadi di wilayah Sulawesi.
Banyak kata dalam puisinya, yang cukup asing diperbendaharaan kataku, sehingga membuatku perlu untuk menguliknya.
“aku hidup dalam pikiranku dan pikiran lain tentangku dari orang yang percaya bahwa untuk bertahan, aku harus menemukan kebahagiaan yang tersesat di pita pikiran seseorang yang mati dalam pikiranku” — Menyudahi Kebahagiaan, hlm. 57