What do you think?


Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
September 17, 2023
Memahami pemikiran Soren Kierkegaard (filsuf sadboy) tidaklah mudah, penuh dengan metafora dan paradoks serta sarat akan pergulatan terutama dengan dirinya sendiri. Buku ini mengupas setidaknya dan menjadi pengantar ke alam pemikiran Kierkegaard si filsuf eksentrik dan unik, serta berkat sumbangsih pemikirannya terhadap eksistensi manusia maka lahirlah aliran atau ajaran eksistensialisme yang mengilhami beberapa pemikir pada generasi setelahnya.
Di buku ini kita diajak melihat bagaimana latar belakang timbulnya pemikiran eksistensi dari Kierkegaard, mulai dari masa mudanya yang getir dan dekat sekali dengan malaikat kematian (karena banyak saudaranya yang meninggal dalam rentang waktu berdekatan) serta gagalnya pertunangan dengan wanita idamannya. Regina, hingga ia menjadi pribadi yang berbeda, entah apa yang dipikirkan oleh Kierkegaard untuk membatalkan pertunangan ini dan yang jelas ia adalah seorang melankolis dan ia berpikir tidaklah pantas untuk bertunangan dengannya karena ia merasa ada sedikit "Duri" di hidupnya.
Momen gagalnya pertunangan ini mengilhami Kierkegaard untuk fokus dan terus menulis serta menyelesaikan beberapa studi yang menjadi cikal bakal dari "Magnum Opus" nya yang terkait "Eksistensi Manusia", ia mulai penasaran dan selalu mempertanyakan walau ini bertolak belakang dengan sifatnya yang melankolis.
Memahami Kierkegaard tidaklah mudah dan Kierkegaard mengindahkan yang namanya pergulatan. Terutama pergulatan dengan diri sendiri dalam artian filosofis yang bertujuan untuk menjadikan diri sendiri sebagai sesuatu yang otentik dan unik berkat eksistensi diri yang harus selalu diupayakan dan dilakukan secara terus menerus dalam dunia subyektivitas yang terbatas oleh waktu, dan berada di dalam diri sang subyek bukan sesuatu hal yang di luar sang subyek.
Dinamika wilayah eksistensi menurut Kierkegaard dibagi menjadi tiga hal, eksistensi estetis, eksistensi etis, dan eksistensi religius, hal ini dikemukakan oleh Kierkegaard dalam bentuk penggolongan yang bermaksud sebagai cara² bagi manusia berada di dunia (modes of being in the world) yang dimana di setiap wilayah eksistensi ini memiliki pengandaian ataupun pandangan tertentu yang dapat memberikan kepuasan dan kepenuhan hidup bagi orang yang ada di dalamnya, dan Kierkegaard juga menyebutkan hal ini sebagai "Tahap² jalan hidup" karena di tiap tahap atau wilayah eksistensi ini manusia tidak akan tinggal selamanya di tahap tersebut akan tetapi bisa melangkah ke tahap selanjutnya yang lebih utama dan akhir dari tahap eksistensi yakni "Eksistensi Religius".
Eksistensi Religius sebagaimana yang dikemukakan oleh Kierkegaard merupakan wilayah Eksistensi akhir manusia yang di dalamnya hal² logis dan rasional tidak dapat dipuaskan, melainkan hal² seperti ini ditepikan menuju yang absurd lagi maha transenden. Sekalipun hal logis tidak diindahkan akan tetapi hal² yang bersifat objektif masih bisa dipertimbangkan di wilayah ini karena pada dasarnya hakikat pengetahuan manusia hanya sebatas "mendekati" realitas objektif, dan pengetahuan manusia tidak sepenuhnya dan tidak akan pernah menuju tahap Akhir/Final. Pandangan Kierkegaard seperti ini bertentangan dengan pandangan Hegel yang dimana optimis rasional dan objektif akan suatu realitas, tapi sebaliknya bagi Kierkegaard merupakan "Realitas Eksistensial" yang didalamnya penuh dengan pergulatan dan keputusan yang harus ditempuh oleh manusia.
Bagi Kierkegaard yang transenden sendiri hanya bisa dijangkau melalui "Lompatan Iman" karena bagi Kierkegaard kita sebagai manusia adalah makhluk yang "Terbatas" baik dari segi pengetahuan maupun segi apapun dalam memahami realitas akan kebenaran, namun yang "Transenden" merupakan zat "Tak Terbatas" yang dimana terdapat hal² yang tidak dapat dipahami dan diketahui secara begitu saja oleh manusia karena berbeda dimensi dan berbeda secara realitas nya. Pendapat Kierkegaard mengenai manusia disini hanya sebagai yang "Mendekati Objektif" bukan "Mengetahui Objektif" maka disini terdapat kontradiksi dan ketidakpastian yang dapat mengintensifkan manusia akan hasrat batinnya yang tak terbatas, jadi dengan ketidakpastian objektif dan hasrat tak terbatas maka manusia dapat memeluk hal yang demikian dengan "Berani", bagi Kierkegaard inilah "Iman".
Iman sebagaimana yang dikemukakan Kierkegaard merupakan syarat utama bagi manusia yang "Terbatas" untuk sebagai cara bertindak bagi akal budi agar tidak "Mengilahikan Dirinya" (Self Deification), karena pada dasarnya manusia memang penuh dengan "Keterbatasan". Karena dengan Iman manusia dapat memahami "Batas² Diri" untuk lebih bisa menghidupkan "Agamanya" dengan sungguh². Artinya adalah manusia sebagai makhluk dengan status yang "Bergantung" kepada Yang Transenden Yang Ilahi dan Yang Mutlak, dengan ini manusia sungguh² menghidupkan agamanya sebagai "Pengakuan" terhadap "Realitas Yang Tak Terbatas/Yang Ilahi" dan yang berada di luar jangkauan manusia itu sendiri.
Jadi secara keseluruhan mengenai pemikiran Kierkegaard akan suatu eksistensi adalah dengan menekankan "Penghayatan Batin" yang harus diupayakan oleh manusia ketika ia berhadapan dengan kebenaran. Penghayatan seperti ini harus diungkapkan oleh manusia untuk kehidupan sehari² nya, khususnya dalam apa yang diperjuangkan oleh manusia tersebut. Menghayati kebenaran sebagai "Subyektivitas" berarti menunjukkan kehidupan kita sebagai manusia yang asli dan siapa diri kita yang sebenarnya. Jika kita sebagai manusia mengabaikan "Penghayatan Subyektivitas" ini maka kita sebagai manusia akan mengalami "Keterasingan" dan "Kehidupan yang tidak Otentik".
Ini saja review buku dari gw. Jika ada salah kata atau kata yang membingungkan, gw pribadi mohon maaf. Kritik dan saran dipersilahkan.
Di buku ini kita diajak melihat bagaimana latar belakang timbulnya pemikiran eksistensi dari Kierkegaard, mulai dari masa mudanya yang getir dan dekat sekali dengan malaikat kematian (karena banyak saudaranya yang meninggal dalam rentang waktu berdekatan) serta gagalnya pertunangan dengan wanita idamannya. Regina, hingga ia menjadi pribadi yang berbeda, entah apa yang dipikirkan oleh Kierkegaard untuk membatalkan pertunangan ini dan yang jelas ia adalah seorang melankolis dan ia berpikir tidaklah pantas untuk bertunangan dengannya karena ia merasa ada sedikit "Duri" di hidupnya.
Momen gagalnya pertunangan ini mengilhami Kierkegaard untuk fokus dan terus menulis serta menyelesaikan beberapa studi yang menjadi cikal bakal dari "Magnum Opus" nya yang terkait "Eksistensi Manusia", ia mulai penasaran dan selalu mempertanyakan walau ini bertolak belakang dengan sifatnya yang melankolis.
Memahami Kierkegaard tidaklah mudah dan Kierkegaard mengindahkan yang namanya pergulatan. Terutama pergulatan dengan diri sendiri dalam artian filosofis yang bertujuan untuk menjadikan diri sendiri sebagai sesuatu yang otentik dan unik berkat eksistensi diri yang harus selalu diupayakan dan dilakukan secara terus menerus dalam dunia subyektivitas yang terbatas oleh waktu, dan berada di dalam diri sang subyek bukan sesuatu hal yang di luar sang subyek.
Dinamika wilayah eksistensi menurut Kierkegaard dibagi menjadi tiga hal, eksistensi estetis, eksistensi etis, dan eksistensi religius, hal ini dikemukakan oleh Kierkegaard dalam bentuk penggolongan yang bermaksud sebagai cara² bagi manusia berada di dunia (modes of being in the world) yang dimana di setiap wilayah eksistensi ini memiliki pengandaian ataupun pandangan tertentu yang dapat memberikan kepuasan dan kepenuhan hidup bagi orang yang ada di dalamnya, dan Kierkegaard juga menyebutkan hal ini sebagai "Tahap² jalan hidup" karena di tiap tahap atau wilayah eksistensi ini manusia tidak akan tinggal selamanya di tahap tersebut akan tetapi bisa melangkah ke tahap selanjutnya yang lebih utama dan akhir dari tahap eksistensi yakni "Eksistensi Religius".
Eksistensi Religius sebagaimana yang dikemukakan oleh Kierkegaard merupakan wilayah Eksistensi akhir manusia yang di dalamnya hal² logis dan rasional tidak dapat dipuaskan, melainkan hal² seperti ini ditepikan menuju yang absurd lagi maha transenden. Sekalipun hal logis tidak diindahkan akan tetapi hal² yang bersifat objektif masih bisa dipertimbangkan di wilayah ini karena pada dasarnya hakikat pengetahuan manusia hanya sebatas "mendekati" realitas objektif, dan pengetahuan manusia tidak sepenuhnya dan tidak akan pernah menuju tahap Akhir/Final. Pandangan Kierkegaard seperti ini bertentangan dengan pandangan Hegel yang dimana optimis rasional dan objektif akan suatu realitas, tapi sebaliknya bagi Kierkegaard merupakan "Realitas Eksistensial" yang didalamnya penuh dengan pergulatan dan keputusan yang harus ditempuh oleh manusia.
Bagi Kierkegaard yang transenden sendiri hanya bisa dijangkau melalui "Lompatan Iman" karena bagi Kierkegaard kita sebagai manusia adalah makhluk yang "Terbatas" baik dari segi pengetahuan maupun segi apapun dalam memahami realitas akan kebenaran, namun yang "Transenden" merupakan zat "Tak Terbatas" yang dimana terdapat hal² yang tidak dapat dipahami dan diketahui secara begitu saja oleh manusia karena berbeda dimensi dan berbeda secara realitas nya. Pendapat Kierkegaard mengenai manusia disini hanya sebagai yang "Mendekati Objektif" bukan "Mengetahui Objektif" maka disini terdapat kontradiksi dan ketidakpastian yang dapat mengintensifkan manusia akan hasrat batinnya yang tak terbatas, jadi dengan ketidakpastian objektif dan hasrat tak terbatas maka manusia dapat memeluk hal yang demikian dengan "Berani", bagi Kierkegaard inilah "Iman".
Iman sebagaimana yang dikemukakan Kierkegaard merupakan syarat utama bagi manusia yang "Terbatas" untuk sebagai cara bertindak bagi akal budi agar tidak "Mengilahikan Dirinya" (Self Deification), karena pada dasarnya manusia memang penuh dengan "Keterbatasan". Karena dengan Iman manusia dapat memahami "Batas² Diri" untuk lebih bisa menghidupkan "Agamanya" dengan sungguh². Artinya adalah manusia sebagai makhluk dengan status yang "Bergantung" kepada Yang Transenden Yang Ilahi dan Yang Mutlak, dengan ini manusia sungguh² menghidupkan agamanya sebagai "Pengakuan" terhadap "Realitas Yang Tak Terbatas/Yang Ilahi" dan yang berada di luar jangkauan manusia itu sendiri.
Jadi secara keseluruhan mengenai pemikiran Kierkegaard akan suatu eksistensi adalah dengan menekankan "Penghayatan Batin" yang harus diupayakan oleh manusia ketika ia berhadapan dengan kebenaran. Penghayatan seperti ini harus diungkapkan oleh manusia untuk kehidupan sehari² nya, khususnya dalam apa yang diperjuangkan oleh manusia tersebut. Menghayati kebenaran sebagai "Subyektivitas" berarti menunjukkan kehidupan kita sebagai manusia yang asli dan siapa diri kita yang sebenarnya. Jika kita sebagai manusia mengabaikan "Penghayatan Subyektivitas" ini maka kita sebagai manusia akan mengalami "Keterasingan" dan "Kehidupan yang tidak Otentik".
Ini saja review buku dari gw. Jika ada salah kata atau kata yang membingungkan, gw pribadi mohon maaf. Kritik dan saran dipersilahkan.
April 29, 2020
Buku ini seakan menjawab keresahanku tentang apa yang kita yakini sebagai kebenaran objektif, pertanyaan seperti 'apakah kita akan menemukan yang namanya cinta sejati?' yang tidak kita sadari selalu hinggap di pikiran kita. Mendengar kisah hidup dan cinta Kierkegaard yang pilu, aku bisa bersimpati bagaimana ia mempertahankan idealnya dan apa yang ia yakini demi menjauhi kehidupan yang tidak autentik. Menutup buku ini, aku bertanya-tanya apakah masih mungkin bagi kita untuk menghidupi kehidupan yang autentik (serta hidup tanpa perasaan takut yang diajarkan Krishnamurti) di masa-masa sekarang di mana semua hal menuntut keinstanan dan kedangkalan.
Bagi yang belum familiar dengan eksistensialisme dan filsafat Hegel, mungkin buku ini akan sedikit susah untuk dicerna. Olehnya, aku merekomendasikan membaca At the Existentialist Café: Freedom, Being, and Apricot Cocktails untuk memfamiliarkan diri dengan cabang pemikiran filsafat ini.
Bagi yang belum familiar dengan eksistensialisme dan filsafat Hegel, mungkin buku ini akan sedikit susah untuk dicerna. Olehnya, aku merekomendasikan membaca At the Existentialist Café: Freedom, Being, and Apricot Cocktails untuk memfamiliarkan diri dengan cabang pemikiran filsafat ini.
May 17, 2020
Kodrat manusia adalah memilih. Pilihan yang dibuatnya bukan tanpa risiko. Ia harus menyingkirkan opsi-opsi lainnya yang mungkin lebih 'benar'. Tetapi, kebenaran, menurut Kierkegaard, bersifat subyektif. Kebenaran obyektif tidak dapat dijangkau oleh manusia. Maka, apapun jalan yang seseorang pilih, itulah kebenaran baginya.
Pilihan juga menuntut komitmen untuk menjalankannya dengan gairah dan hasrat. Kierkegaard berpendapat daripada kita mencari kebenaran obyektif, berfokuslah pada komitmen untuk menjalankannya dengan penuh gairah. Di situlah letak hidup yang penuh dan bermakna.
Kira-kira seperti itulah inti pemikiran Soren Kierkegaard dalam buku ini. Hal-hal lain yang juga dibahas di dalamnya adalah mengenai wilayah eksistensi dan keputusasaan, menjadi manusia otentik, dan juga kritiknya akan pemikiran Hegel.
Menarik sekali bagi saya yang awam filsafat dan baru kali ini membaca aliran eksistensialisme. Bahasanya mudah dipahami dan sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Boleh dikatakan buku ini adalah titik awal mempelajari filsafat lebih dalam khusunya eksistensialisme.
Pilihan juga menuntut komitmen untuk menjalankannya dengan gairah dan hasrat. Kierkegaard berpendapat daripada kita mencari kebenaran obyektif, berfokuslah pada komitmen untuk menjalankannya dengan penuh gairah. Di situlah letak hidup yang penuh dan bermakna.
Kira-kira seperti itulah inti pemikiran Soren Kierkegaard dalam buku ini. Hal-hal lain yang juga dibahas di dalamnya adalah mengenai wilayah eksistensi dan keputusasaan, menjadi manusia otentik, dan juga kritiknya akan pemikiran Hegel.
Menarik sekali bagi saya yang awam filsafat dan baru kali ini membaca aliran eksistensialisme. Bahasanya mudah dipahami dan sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Boleh dikatakan buku ini adalah titik awal mempelajari filsafat lebih dalam khusunya eksistensialisme.
January 31, 2021
Pengantar yang sistematis sebelum membaca karya asli Kierkegaard dan dijelaskan dengan cukup rinci. Salah satu hal yang penting adalah bagaimana pemikiran Hegel mempengaruhi Kierkegaard dan kritik yang diluncurkan Kierkegaard terhadap Hegel, ditulis dengan singkat tapi cukup padat.
Seperti yang sudah diungkapkan oleh Rm. Thomas di awal buku ini, membaca Kierkegaard tidaklah serumit membaca Heidegger. Memang pada saat membaca buku ini, pemikiran Kierkegaard mengingatkan saya pada Heidegger; misalnya konsep Rede-Gedere dan angst yang tentu saja didapat dari pemikiran Kierkegaard.
Seperti yang sudah diungkapkan oleh Rm. Thomas di awal buku ini, membaca Kierkegaard tidaklah serumit membaca Heidegger. Memang pada saat membaca buku ini, pemikiran Kierkegaard mengingatkan saya pada Heidegger; misalnya konsep Rede-Gedere dan angst yang tentu saja didapat dari pemikiran Kierkegaard.
April 23, 2019
Salah satu buku yg membantu saya dalam menoropong zaman dimana hidup immediasi sangat banyak di lingkungan sekitar saya.Menyerdehanakan kebebasan memilih yg diberikan lewat pilihan2 yg dangkal oleh sistem.Mengaku berTuhan tapi larut dalam kerumunan.
September 19, 2022
Speechless! 5 stars.
February 15, 2021
Kadang saya bingung dengan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Apa sih tujuan hidup saya, dengan tahapan yang telah dijalani, kemudian apa lagi kedepannya yang dapat membuat saya merasa bahwa hidup pantas untuk dijalani. Hidup bukan sekadar hidup saja. Makan, minum, kerja, ke mall, pacaran, nikah, bereproduksi. Harusnya ada yang lebih dari sekadar itu (menurut saya sebelum baca buku ini). Saya terus mencari makna hidup yang saya jalani ini.
Kemudian saya baca buku ini. Menurut Kierkegaard, hidup harus berhasrat dan mempunyai komitmen. Salah satu kepastian dalam hidup adalah bahwa saya hidup, saya ada, di sini dan sekarang ini, saya adalah diri saya sendiri. Tentang pilihan atas tahapan hidup yang telah terjadi harus dikomitmenkan secara penuh dan diyakini atas pilihan tersebut. Memilih adalah bagian dari penderitaan manusia, dalam hidup kita harus memilih dan bertanggung jawab atas pilihan tsb.
Tak seorang manusia pun yang memiliki kendali atas masa depan, berbagai kemungkinan dapat terjadi. Dengan membuat komitmen, manusia melompat membuat masa depan yang bersifat tidak pasti menjadi sesuatu yang pasti.
Akhirnya saya mengetahui saya tidak lagi harus mencari, melainkan harus bersyukur dengan hidup, dan berkomitmen atas apa yang telah terjadi. Segala sesuatu cukup dan atas apa yang akan terjadi di hidup harus dijalani dengan hasrat hidup yang tinggi.
Kemudian saya baca buku ini. Menurut Kierkegaard, hidup harus berhasrat dan mempunyai komitmen. Salah satu kepastian dalam hidup adalah bahwa saya hidup, saya ada, di sini dan sekarang ini, saya adalah diri saya sendiri. Tentang pilihan atas tahapan hidup yang telah terjadi harus dikomitmenkan secara penuh dan diyakini atas pilihan tersebut. Memilih adalah bagian dari penderitaan manusia, dalam hidup kita harus memilih dan bertanggung jawab atas pilihan tsb.
Tak seorang manusia pun yang memiliki kendali atas masa depan, berbagai kemungkinan dapat terjadi. Dengan membuat komitmen, manusia melompat membuat masa depan yang bersifat tidak pasti menjadi sesuatu yang pasti.
Akhirnya saya mengetahui saya tidak lagi harus mencari, melainkan harus bersyukur dengan hidup, dan berkomitmen atas apa yang telah terjadi. Segala sesuatu cukup dan atas apa yang akan terjadi di hidup harus dijalani dengan hasrat hidup yang tinggi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
August 27, 2026
Buku ini adalah salah satu dari banyaknya buku eksistensialisme yang sangat ringan dibaca. Bacaan ini ditujukan untuk khalayak umum/awam atau pelajar yang ingin mulai menyelami topik eksistensialisme, khususnya eksistensialisme religius miliki Soren Kierkegaard. Isi buku ini menguraikan secara padat dan gamblang bagaimana aliran eksistensialisme lahir, yaitu karena ketidakpuasan filsuf akan sistem filsafat Dialektika-Historis milik Hegel. Selain itu, buku ini juga menyajikan kritik aliran eksistensialisme secara mendetail terhadap sifat metafisika Hegel yang acuh terhadap nasib individu, salah satunya adalah mengenai nasib individu yang direduksi habis-habisan dinamika dan gejolaknya menjadi sekadar keharusan (necessity) yang harus dialami individu tersebut agar dialektika roh bergerak menuju roh absolut.
Buku ini terdiri atas Prolog, Enam Bab utama, dan Epilog, dimana masing-masing bagian saling melengkapi dan menjadi dasar bagi bagian-bagian berikutnya. Adapun tinjauan saya terkait buku ini akan saya uraikan di bawah:
Prolog:
*Adakah rasionalitas bagi pengalaman eksistensial
Buku ini dibuka dengan pertanyaan fundamental bagi eksistensi manusia yang sangat filosofis; Adakah rasionalitas bagi pengalaman eksistensial?
Pertanyaan ini bermaksud untuk mencari tahu apakah, di pengalaman kita yang subjektif, terdapat ukuran-ukuran tertentu yang membawa kita pada keputusan yang baik? Apakah ada pilihan yang lebih baik daripada pilihan yang lain? Apakah terdapat keharusan dalam takdir kita?
Semua pertanyaan ini menjadi akan menjadi batu pijakan pembaca untuk mulai memasuki aliran eksistensialisme. Namun sebelum itu, buku ini memberikan konteks mengenai tren pandangan filsafat yang menjadi fondasi aliran eksistensialisme itu sendiri; Idealisme jerman dan Dialektika-Historis.
*Idealisme dan Proyek Filsafat Hegel
Idealisme bukanlah aliran baru dalam filsafat barat, aliran ini telah ada sejak Yunani Kuno yang dipelopori oleh Plato. Beliau menggagas bahwasanya setiap benda memiliki sifat "kebendaan" yang dapat ditemui dibenda-benda sejenis, sifat kebendaan ini dinamai Plato sebagai Forma. Darisini, Plato kemudian mengembangkan gagasan realisme (bahwa diluar sana terdapat dunia forma, kenyataan material taklebih dari sekadar bayangan dari dunia forma, dst). Ide tentang forma kemudian berkembang di eropa hingga ke abad 18.
Pada abad ke 18 hingga 19, Idealisme Jerman sedang memasuki masa keemasan. Teori forma milik Plato telah mengalami perubahan sampai pada akhirnya diubah 180 derajat oleh Immanuel Kant. Pada awalnya filsuf beranggapan bahwa manusia harus menyesuaikan diri untuk dapat memahami objek, namun sejak era Kant anggapan ini berubah. Seharusnya objek-lah yang harus menyesuaikan diri di hadapan manusia.
Menurut Kant, objek tidak akan pernah lengkap di hadapan manusia sebab manusia hanya mampu mengenali 4 kategori/atribut yang dimiliki objek. Jika atribut ini tidak cocok maka objek selamanya tidak akan dapat diterima oleh akal manusia. Selain itu, Kant juga menjelaskan bahwa kita mengalami bias bahkan sebelum kita mengamati objek, bias ini disebabkan oleh pikiran kita yang menerjemahkan realitas menjadi space-time (ruang-waktu). Pada akhirnya, kita tidak akan pernah mengetahui hakikat benda di hadapan kita sendiri karena difilter oleh 4 kategori dan proyeksi akal kita akan dunia (space-time). Dari sini, forma mengalami transformasi menjadi noumena.
Idealisme Plato mengenai dunia forma yang lepas dari dunia material berubah sepenuhnya menjadi dunia yang sama sekali berbeda, yaitu dunia yang sepenuhnya dibentuk oleh akal manusia (space-time). Metafisika mengenai dunia di luar sana dibawa turun ke dunia material dan ditanamkan ke kepala kita. Kant mempelopori cara berpikir ini, kemudian Fichte, dan Schelling membentuk kerangka metafisis akan dunia ini dan pada akhirnya disempurnakan oleh Hegel. Idealisme kemudian bergeser ke Kesadaran Universal (suatu realitas dimana manusia telah mencapai puncak peradaban yang setara dunia forma milik plato).
Hegel berusaha merancang sistem filsafat yang secara komprehensif memuat seluruh pengetahuan akan kenyataan, mulai dari bagaimana sejarah memiliki pola, bagaimana proses hidup individu didunia, dan bagaimana merasionalkan tindakan kecil individu menjadi kenyataan yang menentukan nasib peradaban manusia. Tiga term penting dalam sistem Hegel; Roh, Absolut, dan Roh Absolut. Roh adalah kesadaran individu ditingkat terkecil, merujuk pada kesadaran subjektif individu. Absolut adalah kenyataan dimana roh ini berproses. Roh nantinya akan berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi dialektika, hingga pada akhirnya Roh akan memiliki pandangan yang sejalan dan bertemu dengan Kumpulan Roh sejalan lainnya dan berseteru. Yang mana menghasilkan Roh yang jauh lebih matang, titik akhir perjalanan roh disebut sebagai Roh Absolut. Roh Absolut adalah kesadaran, atau lebih tepatnya Peradaban manusia yang matang; dimana tidak ada lagi dikotomi (perseteruan, konflik, pertarungan kepentingan) dan telah ditemukannya kebenaran absolut akan dunia.
Akan tetapi, lanskap yang cukup luas ini melahirkan cacat yang luar biasa dilanskap mikro. Implikasi dari sistem filsafat Hegel adalah imoralitas yang dilahirkan sistemnya terhadap nasib individu. Sistem ini menggampangkan penderitaan, keresahan, kecemasan, yang dialami manusia, dengan satu penjelasan dangkal: Semua itu harus terjadi agar Roh bisa tetap bergerak. Hegel acuh terhadap nasib manusia dan bahkan tidak empati pada penderitaan yang dialami individu. Alasan ini merupakan satu dari sekian banyak alasan yang dipaparkan filsuf aliran eksistensialis dalam melancarkan kritiknya kepada Hegel. Eksistensialisme hadir sebagai bentuk ketidakpuasan individu pada sistem filsafat megah dan besar, terlalu besar sampai tidak peduli terhadap nasib itu sendiri. Salah satu filsuf yang berperan paling besar dalam aliran eksistensialisme dan dijuluki sebagai Bapak Eksistensialisme, yaitu Soren Aabye Kierkegaard.
*Eksistensialisme dan Kebenaran sebagai Subyektifitas
Dua filsuf yang melatarbelakangi lahirnya aliran eksistensialisme ada dua: G.W.F Hegel dan Soren Kierkegaard. Jika dianalogikan sebagai Kritikus film:
Hegel hanya mencari rasionalitas atau bagaimana plot seharusnya berjalan, ia meninjau banyak film, mencari tahu plot yang seharusnya dan memformulasikannya menjadi formula universal, dan berharap pembuat film mengikuti plotnya yang megah tersebut.
Di sisi lain, Kierkegaard berfokus pada bagaimana karakter mengalami perkembangan, bagaimana gejolak kehidupan karakter sehingga ia mengubah keseluruhan cerita, dan merancang peringatan-peringatan mengenai "cara agar tidak menjadi karakter gagal dalam film".
Terdapat banyak sekali pandangan-pandangan Kierkegaard yang menjadi fondasi utama aliran eksistensialisme, salah satunya adalah: Kebenaran sebagai Subyektifitas:
- Pada dasarnya, manusia selalu memiliki hasrat agar dapat memahami dunia (Supaya bisa menilai dengan bijaksana, memiliki tolak ukur, dan menguasai keadaan akan ketidakpastian)
- Namun, pengetahuan yang complete mustahil didapatkan manusia. Sesuai dengan pandangan Kant sebelumnya, manusia tidak dapat memahami kenyataan 100%, ia hanya memahami yang sesuai dengan 4 sifat pengenalan dan space-time. Poinnya adalah, manusia mustahil memahami dunia.
- Ketidakmampuan inilah yang membuat manusia merasa cemas (Anxiety). Pada akhirnya, Kebenaran hanyalah bersifat subyektifitas (masalah pribadi individu) terhadap kenyataan itu sendiri.
[Yang terpenting bukanlah manusia mengetahui hal objektif, melainkan bagaimana manusia membangun hubungan dengan kebenaran yang ia yakini]
Hal yang pasti diketahui manusia: Ia sebagai Pelaku eksistensial (Agent) dan adanya Kebenaran (Tuhan atau Hal objektif lainnya). Daripada berusaha membentuk kerangka untuk memahami Kebenaran, menurut Kierkegaard lebih baik untuk membangun hubungan atau komitmen pada kebenaran yang ia percaya atau miliki.
Kebenaran sebagai subjektifitas hanya berlaku pada hal-hal yang menentukan jalan hidup manusia (Agama, Moralitas, dan Pilihan hidup). Ini tidak berlaku pada kebenaran saintifik, sebab itu sudah diketahui/dapat dijelaskan dan tidak mengubah pilihan hidup atau cara hidup individu.
*Drama eksistensi manusia
Hidup manusia seringkali diwarnai oleh nasib-nasib buruk atau kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. Semua hal ini menyebabkan manusia mengalami penderitaan (Agony) yang dapat mengganggu eksistensi manusia. Menurut Kierkegaard, Penderitaan (Agony) muncul saat manusia dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang kabur dan penuh ketidakpastian. Proses memilih inilah yang disebut Kierkegaard sebagai Drama eksistensi.
Pelaku eksistensial yang terpaksa harus memilih dua pilihan sulit demi kebaikan disebut sebagai Pahlawan Tragis (Tragic Hero), Pilihannya yakni:
- Mempertahankan kehidupan diri dan mengorbankan orang lain
- Berkorban demi orang lain
Pilihan yang dihadapkan kepada Pahlawan Tragis seringkali menghasilkan output yang menyakitkan bagi pelaku eksistensial.
Secara antropologis, Definisi manusia dibuat ulang oleh Kierkegaard sebagai "Mahluk yang terus menerus dihadapkan pada pilihan sulit sepanjang hidupnya".
----------------------
BAB 1
Soren Aabye Kierkegaard merupakan seorang lelaki melankolis yang sangat peka, tempramen, dan mudah mendebat. Lahir tanggal 5 Mei 1813 di Kopenhagen, Denmark
- Tumbuh dikeluarga berada, memiliki ayah yang super religius dan tegas sehingga mendominasi keluarga. Ibunya awalnya adalah pembantu ayah Kierkegaard, pada akhirnya dilamar oleh beliau setelah istri pertamanya meninggal
- Pada umur 21 Tahun, Ibu dan 5 saudara Kierkegaard meninggal satu persatu. Meninggalkan luka dalam bagi diri Kierkegaard di masa remajanya
- Kuliah di Universitas Kopenhagen bidang Teologi. Tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan Kierkegaard dengan Hegel
- Sempat hidup bebas dari kekangan ayahnya. Namun, ia merasa tidak puas dengan kehidupannya yang tak bermakna dan merasa sangat putus asa.
- Bertunangan dengan Regina Olsen setelah kuliah (1840). Namun, memutuskan secara sepihak pertunangannya karena alasan pribadi setelah setahun bertunangan
- Di tahun 1846, Kierkegaard sempat berseteru dengan penerbit tabloit The Corsair. Penerbit ini sering menerbitkan tabloit bertema satir. Suatu hari, penerbit ini menerbitkan tinjauan salah satu buku Kierkegaard. Salah mengira itu sindirian, Kierkegaard kemudian menyerang penulis tinjauan itu. Kierkegaard kemudian diserang habis-habisan oleh The Corsair, memaksannya untuk keluar kota karena image yang terlanjur rusak karenanya.
-Diakhir hidupnya, Kierkegaard memiliki satu permintaan terakhir. Ia ingin dikenang oleh orang lain
- Pemikiran Kierkegaard baru mendapat perhatian pada abad 20.
--------------------
Bab 2
*Idealisme Jerman
Proyek filsafat ini berfokus pada pencarian kerangka kesadaran Universal (Peradaban ideal dimana tidak ada lagi dikotomi dan dimilikinya kebenaran objektif, setingkat dengan dunia forma). Filsuf yang paling vokal di proyek ini adalah Georg Wilheim Friedrich Hegel atau G.W.F Hegel. Beliau merancang kerangka kesadaran universal melalui karyanya Fenomenologi Roh (Phenomenology of Spirits). Karya ini berusaha merasionalkan seluruh kejadian dlaam sejarah dan memberikan konklusi roh absolut.
Alasan utama Hegel menciptakan kerangka ini adalah untuk membuat filsafat sebagai ilmu yang komprehensif dan mencakup seluruh pengetahuan yang ada dalam sejarah. Dengan kata lain, Hegel ini membuat filsafat sebagai Ilmu pasti yang mampu menjelaskan segala sesuatu yang telah terjadi dalam peradaban manusia beserta penemuannya (mulai dari sejarah, antropologi, ekonomi, fisika, kimia, matematika, dst).
(Review: 04/09/26 - 2.49 AM)
Buku ini terdiri atas Prolog, Enam Bab utama, dan Epilog, dimana masing-masing bagian saling melengkapi dan menjadi dasar bagi bagian-bagian berikutnya. Adapun tinjauan saya terkait buku ini akan saya uraikan di bawah:
Prolog:
*Adakah rasionalitas bagi pengalaman eksistensial
Buku ini dibuka dengan pertanyaan fundamental bagi eksistensi manusia yang sangat filosofis; Adakah rasionalitas bagi pengalaman eksistensial?
Pertanyaan ini bermaksud untuk mencari tahu apakah, di pengalaman kita yang subjektif, terdapat ukuran-ukuran tertentu yang membawa kita pada keputusan yang baik? Apakah ada pilihan yang lebih baik daripada pilihan yang lain? Apakah terdapat keharusan dalam takdir kita?
Semua pertanyaan ini menjadi akan menjadi batu pijakan pembaca untuk mulai memasuki aliran eksistensialisme. Namun sebelum itu, buku ini memberikan konteks mengenai tren pandangan filsafat yang menjadi fondasi aliran eksistensialisme itu sendiri; Idealisme jerman dan Dialektika-Historis.
*Idealisme dan Proyek Filsafat Hegel
Idealisme bukanlah aliran baru dalam filsafat barat, aliran ini telah ada sejak Yunani Kuno yang dipelopori oleh Plato. Beliau menggagas bahwasanya setiap benda memiliki sifat "kebendaan" yang dapat ditemui dibenda-benda sejenis, sifat kebendaan ini dinamai Plato sebagai Forma. Darisini, Plato kemudian mengembangkan gagasan realisme (bahwa diluar sana terdapat dunia forma, kenyataan material taklebih dari sekadar bayangan dari dunia forma, dst). Ide tentang forma kemudian berkembang di eropa hingga ke abad 18.
Pada abad ke 18 hingga 19, Idealisme Jerman sedang memasuki masa keemasan. Teori forma milik Plato telah mengalami perubahan sampai pada akhirnya diubah 180 derajat oleh Immanuel Kant. Pada awalnya filsuf beranggapan bahwa manusia harus menyesuaikan diri untuk dapat memahami objek, namun sejak era Kant anggapan ini berubah. Seharusnya objek-lah yang harus menyesuaikan diri di hadapan manusia.
Menurut Kant, objek tidak akan pernah lengkap di hadapan manusia sebab manusia hanya mampu mengenali 4 kategori/atribut yang dimiliki objek. Jika atribut ini tidak cocok maka objek selamanya tidak akan dapat diterima oleh akal manusia. Selain itu, Kant juga menjelaskan bahwa kita mengalami bias bahkan sebelum kita mengamati objek, bias ini disebabkan oleh pikiran kita yang menerjemahkan realitas menjadi space-time (ruang-waktu). Pada akhirnya, kita tidak akan pernah mengetahui hakikat benda di hadapan kita sendiri karena difilter oleh 4 kategori dan proyeksi akal kita akan dunia (space-time). Dari sini, forma mengalami transformasi menjadi noumena.
Idealisme Plato mengenai dunia forma yang lepas dari dunia material berubah sepenuhnya menjadi dunia yang sama sekali berbeda, yaitu dunia yang sepenuhnya dibentuk oleh akal manusia (space-time). Metafisika mengenai dunia di luar sana dibawa turun ke dunia material dan ditanamkan ke kepala kita. Kant mempelopori cara berpikir ini, kemudian Fichte, dan Schelling membentuk kerangka metafisis akan dunia ini dan pada akhirnya disempurnakan oleh Hegel. Idealisme kemudian bergeser ke Kesadaran Universal (suatu realitas dimana manusia telah mencapai puncak peradaban yang setara dunia forma milik plato).
Hegel berusaha merancang sistem filsafat yang secara komprehensif memuat seluruh pengetahuan akan kenyataan, mulai dari bagaimana sejarah memiliki pola, bagaimana proses hidup individu didunia, dan bagaimana merasionalkan tindakan kecil individu menjadi kenyataan yang menentukan nasib peradaban manusia. Tiga term penting dalam sistem Hegel; Roh, Absolut, dan Roh Absolut. Roh adalah kesadaran individu ditingkat terkecil, merujuk pada kesadaran subjektif individu. Absolut adalah kenyataan dimana roh ini berproses. Roh nantinya akan berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi dialektika, hingga pada akhirnya Roh akan memiliki pandangan yang sejalan dan bertemu dengan Kumpulan Roh sejalan lainnya dan berseteru. Yang mana menghasilkan Roh yang jauh lebih matang, titik akhir perjalanan roh disebut sebagai Roh Absolut. Roh Absolut adalah kesadaran, atau lebih tepatnya Peradaban manusia yang matang; dimana tidak ada lagi dikotomi (perseteruan, konflik, pertarungan kepentingan) dan telah ditemukannya kebenaran absolut akan dunia.
Akan tetapi, lanskap yang cukup luas ini melahirkan cacat yang luar biasa dilanskap mikro. Implikasi dari sistem filsafat Hegel adalah imoralitas yang dilahirkan sistemnya terhadap nasib individu. Sistem ini menggampangkan penderitaan, keresahan, kecemasan, yang dialami manusia, dengan satu penjelasan dangkal: Semua itu harus terjadi agar Roh bisa tetap bergerak. Hegel acuh terhadap nasib manusia dan bahkan tidak empati pada penderitaan yang dialami individu. Alasan ini merupakan satu dari sekian banyak alasan yang dipaparkan filsuf aliran eksistensialis dalam melancarkan kritiknya kepada Hegel. Eksistensialisme hadir sebagai bentuk ketidakpuasan individu pada sistem filsafat megah dan besar, terlalu besar sampai tidak peduli terhadap nasib itu sendiri. Salah satu filsuf yang berperan paling besar dalam aliran eksistensialisme dan dijuluki sebagai Bapak Eksistensialisme, yaitu Soren Aabye Kierkegaard.
*Eksistensialisme dan Kebenaran sebagai Subyektifitas
Dua filsuf yang melatarbelakangi lahirnya aliran eksistensialisme ada dua: G.W.F Hegel dan Soren Kierkegaard. Jika dianalogikan sebagai Kritikus film:
Hegel hanya mencari rasionalitas atau bagaimana plot seharusnya berjalan, ia meninjau banyak film, mencari tahu plot yang seharusnya dan memformulasikannya menjadi formula universal, dan berharap pembuat film mengikuti plotnya yang megah tersebut.
Di sisi lain, Kierkegaard berfokus pada bagaimana karakter mengalami perkembangan, bagaimana gejolak kehidupan karakter sehingga ia mengubah keseluruhan cerita, dan merancang peringatan-peringatan mengenai "cara agar tidak menjadi karakter gagal dalam film".
Terdapat banyak sekali pandangan-pandangan Kierkegaard yang menjadi fondasi utama aliran eksistensialisme, salah satunya adalah: Kebenaran sebagai Subyektifitas:
- Pada dasarnya, manusia selalu memiliki hasrat agar dapat memahami dunia (Supaya bisa menilai dengan bijaksana, memiliki tolak ukur, dan menguasai keadaan akan ketidakpastian)
- Namun, pengetahuan yang complete mustahil didapatkan manusia. Sesuai dengan pandangan Kant sebelumnya, manusia tidak dapat memahami kenyataan 100%, ia hanya memahami yang sesuai dengan 4 sifat pengenalan dan space-time. Poinnya adalah, manusia mustahil memahami dunia.
- Ketidakmampuan inilah yang membuat manusia merasa cemas (Anxiety). Pada akhirnya, Kebenaran hanyalah bersifat subyektifitas (masalah pribadi individu) terhadap kenyataan itu sendiri.
[Yang terpenting bukanlah manusia mengetahui hal objektif, melainkan bagaimana manusia membangun hubungan dengan kebenaran yang ia yakini]
Hal yang pasti diketahui manusia: Ia sebagai Pelaku eksistensial (Agent) dan adanya Kebenaran (Tuhan atau Hal objektif lainnya). Daripada berusaha membentuk kerangka untuk memahami Kebenaran, menurut Kierkegaard lebih baik untuk membangun hubungan atau komitmen pada kebenaran yang ia percaya atau miliki.
Kebenaran sebagai subjektifitas hanya berlaku pada hal-hal yang menentukan jalan hidup manusia (Agama, Moralitas, dan Pilihan hidup). Ini tidak berlaku pada kebenaran saintifik, sebab itu sudah diketahui/dapat dijelaskan dan tidak mengubah pilihan hidup atau cara hidup individu.
*Drama eksistensi manusia
Hidup manusia seringkali diwarnai oleh nasib-nasib buruk atau kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. Semua hal ini menyebabkan manusia mengalami penderitaan (Agony) yang dapat mengganggu eksistensi manusia. Menurut Kierkegaard, Penderitaan (Agony) muncul saat manusia dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang kabur dan penuh ketidakpastian. Proses memilih inilah yang disebut Kierkegaard sebagai Drama eksistensi.
Pelaku eksistensial yang terpaksa harus memilih dua pilihan sulit demi kebaikan disebut sebagai Pahlawan Tragis (Tragic Hero), Pilihannya yakni:
- Mempertahankan kehidupan diri dan mengorbankan orang lain
- Berkorban demi orang lain
Pilihan yang dihadapkan kepada Pahlawan Tragis seringkali menghasilkan output yang menyakitkan bagi pelaku eksistensial.
Secara antropologis, Definisi manusia dibuat ulang oleh Kierkegaard sebagai "Mahluk yang terus menerus dihadapkan pada pilihan sulit sepanjang hidupnya".
----------------------
BAB 1
Soren Aabye Kierkegaard merupakan seorang lelaki melankolis yang sangat peka, tempramen, dan mudah mendebat. Lahir tanggal 5 Mei 1813 di Kopenhagen, Denmark
- Tumbuh dikeluarga berada, memiliki ayah yang super religius dan tegas sehingga mendominasi keluarga. Ibunya awalnya adalah pembantu ayah Kierkegaard, pada akhirnya dilamar oleh beliau setelah istri pertamanya meninggal
- Pada umur 21 Tahun, Ibu dan 5 saudara Kierkegaard meninggal satu persatu. Meninggalkan luka dalam bagi diri Kierkegaard di masa remajanya
- Kuliah di Universitas Kopenhagen bidang Teologi. Tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan Kierkegaard dengan Hegel
- Sempat hidup bebas dari kekangan ayahnya. Namun, ia merasa tidak puas dengan kehidupannya yang tak bermakna dan merasa sangat putus asa.
- Bertunangan dengan Regina Olsen setelah kuliah (1840). Namun, memutuskan secara sepihak pertunangannya karena alasan pribadi setelah setahun bertunangan
- Di tahun 1846, Kierkegaard sempat berseteru dengan penerbit tabloit The Corsair. Penerbit ini sering menerbitkan tabloit bertema satir. Suatu hari, penerbit ini menerbitkan tinjauan salah satu buku Kierkegaard. Salah mengira itu sindirian, Kierkegaard kemudian menyerang penulis tinjauan itu. Kierkegaard kemudian diserang habis-habisan oleh The Corsair, memaksannya untuk keluar kota karena image yang terlanjur rusak karenanya.
-Diakhir hidupnya, Kierkegaard memiliki satu permintaan terakhir. Ia ingin dikenang oleh orang lain
- Pemikiran Kierkegaard baru mendapat perhatian pada abad 20.
--------------------
Bab 2
*Idealisme Jerman
Proyek filsafat ini berfokus pada pencarian kerangka kesadaran Universal (Peradaban ideal dimana tidak ada lagi dikotomi dan dimilikinya kebenaran objektif, setingkat dengan dunia forma). Filsuf yang paling vokal di proyek ini adalah Georg Wilheim Friedrich Hegel atau G.W.F Hegel. Beliau merancang kerangka kesadaran universal melalui karyanya Fenomenologi Roh (Phenomenology of Spirits). Karya ini berusaha merasionalkan seluruh kejadian dlaam sejarah dan memberikan konklusi roh absolut.
Alasan utama Hegel menciptakan kerangka ini adalah untuk membuat filsafat sebagai ilmu yang komprehensif dan mencakup seluruh pengetahuan yang ada dalam sejarah. Dengan kata lain, Hegel ini membuat filsafat sebagai Ilmu pasti yang mampu menjelaskan segala sesuatu yang telah terjadi dalam peradaban manusia beserta penemuannya (mulai dari sejarah, antropologi, ekonomi, fisika, kimia, matematika, dst).
(Review: 04/09/26 - 2.49 AM)
This entire review has been hidden because of spoilers.
April 10, 2020
Filsafat eksistensialisme memang tidak sepopuler aliran filsafat yang lain seperti idealisme atau post-modernisme, tugas buku ini ialah mempopulerkan aliran tersebut dengan mengacu kepada salah satu pionir nya.
Kierkegaard diyakini sebagai filsuf eksistensialis pertama yang membangun landasan filosofis nya melalui sifat-sifat manusia, karena inilah banyak yang merasa berhubungan dengan persoalan-persoalan eksistensial manusia namun masih banyak dikaitkan dengan psikologi ketimbang filsafat.
Meskipun tidak membahas secara menyeluruh, buku ini mampu menangkap inti-inti filsafat Kierkegaard yang dapat ditemukan jejaknya pada filsafat Sartre dan Heidegger.
Kierkegaard diyakini sebagai filsuf eksistensialis pertama yang membangun landasan filosofis nya melalui sifat-sifat manusia, karena inilah banyak yang merasa berhubungan dengan persoalan-persoalan eksistensial manusia namun masih banyak dikaitkan dengan psikologi ketimbang filsafat.
Meskipun tidak membahas secara menyeluruh, buku ini mampu menangkap inti-inti filsafat Kierkegaard yang dapat ditemukan jejaknya pada filsafat Sartre dan Heidegger.
September 29, 2020
Kierkegaard, salah satu filsuf favoritku!
Pemikirannya masih sangat relevan hingga saat ini. Dia mengajak kita untuk lebih aware terhadap diri kita sendiri. Kierkegaard mengatakan supaya kita jangan terlalu larut dalam publik karena itu membuat kita kehilangan diri kita yang sebenarnya. Menurutnya seseorang yang tidak berani 'sendirian' merupakan orang takut menghadapi eksistensinya sendiri.
Saya rasa buku ini cocok bagi mereka yang sedang berada dalam Quarter Life Crisis maupun bagi mereka yang sedang mengkhawatirkan kehidupan dan mempertanyakan eksistensinya.
Pemikirannya masih sangat relevan hingga saat ini. Dia mengajak kita untuk lebih aware terhadap diri kita sendiri. Kierkegaard mengatakan supaya kita jangan terlalu larut dalam publik karena itu membuat kita kehilangan diri kita yang sebenarnya. Menurutnya seseorang yang tidak berani 'sendirian' merupakan orang takut menghadapi eksistensinya sendiri.
Saya rasa buku ini cocok bagi mereka yang sedang berada dalam Quarter Life Crisis maupun bagi mereka yang sedang mengkhawatirkan kehidupan dan mempertanyakan eksistensinya.
April 29, 2023
A simple book to those who are new into Existentialism. The way of the author explains anything philosophical is really great here, yet simple. This book is the gate for me to know deeper in regards to existentialism.
March 21, 2020
Walaupun sebelumnya saya sudah tertarik dengan filsafat Kierkegaard, buku ini adalah buku yang mengantar saya ke dalam pemikirannya secara teratur. Walaupun menurut saya tidak terlalu komprehensif (kadang penjelasan-penjelasannya terlalu disederhanakan dan singkat), karya ini dengan baik mengundang para pembaca untuk merenungkan kehidupannya dalam konteks yang (pasca)modern ini. Karena keringkasannya pula, menurut saya buku ini dapat menjadi pengantar yang baik bagi filsafat Kierkegaard, Eksistensialisme, dan juga Filsafat Kontintental.
September 18, 2021
Rangkuman yang bagus mengenai pemikiran Kierkegaard, diceritakan dalam 6 bab. Bukunya tipis, ngga sampe 200 halaman.
July 17, 2022
hhhhm okay, cukup membantu untuk yang mencari sekilas gambaran filsafat eksistensialisme Kierkegaard. bahasanya runut dan mudah dimengerti, seperti mendengarkan kuliah dari dosen favorit
July 29, 2024
Cocok dibaca oleh orang-orang yg sedang mengalami krisis eksistensial!
October 27, 2024
Pretty easy-to-digest beginner read to Kierkegaard's writing, retold in practical manner.
June 30, 2026
kenapa tergenang menung ?
kenapa tenang dirundung mendung ?
ah, kenapa, apa direnung……..
kenapa tenang dirundung mendung ?
ah, kenapa, apa direnung……..
November 8, 2016
well, gambar ini mengingatkanku dengan kelas 'filsafat' kemarin.
filsafat menurutku adalah suatu ilmu yang menjembatani pengetahuan dan kebijaksanaan.
dalam ilmu ini pemeran utamanya adalah kata tanya: apa, mengapa, siapa, dimana, yang mana, dan bagaimana.
ilmu ini memiliki banyak persepsi, sudut pandang, dan pemikiran bercabang yang disusun berdasarkan pendekatan yang berbeda.
mungkin banyak yang menganggap ilmu ini tidak terlalu penting, menghabiskan waktu, dan membuat kita jauh dari agama.
wah, saya tidak mau menyalahkan, dan itu hal yang lumrah. tapi, menurut pandangan saya berbeda.
dulu, saya iseng-iseng membaca buku tentang filsafat di perpustakaan, hanya untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu.
yang waktu itu saya rasakan adalah seperti merasuki tubuh seseorang dan melihat dari sudut pandangnya. ya, proses dalam menyelami ilmu ini adalah mempertanyakan hal yang kita tahu dan alami, menjadikannya sebagai refleksi diri. awalnya memang membingungkan, karena banyak hal yang bertentangan, banyak hal yang sudah terlihat jelas namun ternyata belum. namun, perlahan ada sesuatu yang saya rasa menarik untuk digali.
_______
kemudian beberapa waktu yang lalu saya membaca salah satu buku karya thomas hidya tjaya, buku itu berjudul kierkegaard. buku ini mengisahkan salah satu tokoh filsafat eksistensialis (filsafat tentang eksistensi manusia). di buku ini, saya melihat gambaran diri sang filsuf yang tersiksa, yang larut dalam penyesalan dan kesendirian yang pekat, namun memunculkan gagasan atas sikap diri untuk lebih tegar, hingga akhirnya mempengaruhi sang filsuf dalam menerjemahkan kejadian dalam hidupnya. di buku ini juga banyak sesi yang menggambarkan betapa sulitnya menentukan pilihan dalam hidup, mengapa harus seperti ini atau seperti itu. menariknya, di sini sang filsuf menentang gagasan dari filsuf lain, ia menentang gagasan bahwa filsafat merupakan jawaban dari segala permasalahan di dunia. ia menganggap hal tersebut terlalu ambisius untuk diwujudkan, seolah olah manusia harus mengetahui kebenaran objektif absolut (kebenaran yang sebenarnya, bukan terkaan), dan filsafat merupakan sumber dari seluruh ilmu pengetahuan.
dari buku ini, saya belajar untuk memperkuat apa yang saya yakini, dan bersikap fair dalam perbedaan, tidak memaksa dan menghakimi, karena ada alasan yang muncul dari suatu sikap yang dimiliki.
filsafat membuat diri terus melaju, dalam ranah ruang dan waktu, spasial dan temporal. menerima, lapang dada, dan menekan ego, membuat diri terus merasa bodoh, dan mau belajar untuk *setidaknya lebih baik dari sebelumnya.
memang, dalam hal keyakinan, ada sesuatu yang harus dibiarkan menjadi misteri, dan diyakini dengan hati. hal ini memang tidak didapat dari ilmu filsafat, karena dalam ilmu filsafat, semua selalu dipertanyakan.
tapi yang saya garis bawahi adalah, keyakinan tersebut dapat diperkuat dengan ujian dan pergolakan. yang berakhir pada kesimpulan bahwa, dengan filsafat saya menguji diri saya tentang seberapa besar keyakinan yang saya miliki, seberapa banyak input ilmu dibandingkan output aksi dalam hidup, dan mengelola hati dan akal agar selaras dalam menjalani kesenangan dan kesukaran dalam hidup. sehingga rasa ingin tahu, kritis, dan skeptis yang seharusnya dimiliki untuk mengahadapi kemajuan zaman dapat terasah, dan terwujud suatu kebijaksanaan dalam hidup.
______
satu kalimat yang mungkin mewakilkan tulisan ini:
wisdom is the next level of learning process.
______
catatan: ini hanya opini, kebenaran tulisan ini bersifat relatif berdasarkan pengetahuan penulis.
filsafat menurutku adalah suatu ilmu yang menjembatani pengetahuan dan kebijaksanaan.
dalam ilmu ini pemeran utamanya adalah kata tanya: apa, mengapa, siapa, dimana, yang mana, dan bagaimana.
ilmu ini memiliki banyak persepsi, sudut pandang, dan pemikiran bercabang yang disusun berdasarkan pendekatan yang berbeda.
mungkin banyak yang menganggap ilmu ini tidak terlalu penting, menghabiskan waktu, dan membuat kita jauh dari agama.
wah, saya tidak mau menyalahkan, dan itu hal yang lumrah. tapi, menurut pandangan saya berbeda.
dulu, saya iseng-iseng membaca buku tentang filsafat di perpustakaan, hanya untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu.
yang waktu itu saya rasakan adalah seperti merasuki tubuh seseorang dan melihat dari sudut pandangnya. ya, proses dalam menyelami ilmu ini adalah mempertanyakan hal yang kita tahu dan alami, menjadikannya sebagai refleksi diri. awalnya memang membingungkan, karena banyak hal yang bertentangan, banyak hal yang sudah terlihat jelas namun ternyata belum. namun, perlahan ada sesuatu yang saya rasa menarik untuk digali.
_______
kemudian beberapa waktu yang lalu saya membaca salah satu buku karya thomas hidya tjaya, buku itu berjudul kierkegaard. buku ini mengisahkan salah satu tokoh filsafat eksistensialis (filsafat tentang eksistensi manusia). di buku ini, saya melihat gambaran diri sang filsuf yang tersiksa, yang larut dalam penyesalan dan kesendirian yang pekat, namun memunculkan gagasan atas sikap diri untuk lebih tegar, hingga akhirnya mempengaruhi sang filsuf dalam menerjemahkan kejadian dalam hidupnya. di buku ini juga banyak sesi yang menggambarkan betapa sulitnya menentukan pilihan dalam hidup, mengapa harus seperti ini atau seperti itu. menariknya, di sini sang filsuf menentang gagasan dari filsuf lain, ia menentang gagasan bahwa filsafat merupakan jawaban dari segala permasalahan di dunia. ia menganggap hal tersebut terlalu ambisius untuk diwujudkan, seolah olah manusia harus mengetahui kebenaran objektif absolut (kebenaran yang sebenarnya, bukan terkaan), dan filsafat merupakan sumber dari seluruh ilmu pengetahuan.
dari buku ini, saya belajar untuk memperkuat apa yang saya yakini, dan bersikap fair dalam perbedaan, tidak memaksa dan menghakimi, karena ada alasan yang muncul dari suatu sikap yang dimiliki.
filsafat membuat diri terus melaju, dalam ranah ruang dan waktu, spasial dan temporal. menerima, lapang dada, dan menekan ego, membuat diri terus merasa bodoh, dan mau belajar untuk *setidaknya lebih baik dari sebelumnya.
memang, dalam hal keyakinan, ada sesuatu yang harus dibiarkan menjadi misteri, dan diyakini dengan hati. hal ini memang tidak didapat dari ilmu filsafat, karena dalam ilmu filsafat, semua selalu dipertanyakan.
tapi yang saya garis bawahi adalah, keyakinan tersebut dapat diperkuat dengan ujian dan pergolakan. yang berakhir pada kesimpulan bahwa, dengan filsafat saya menguji diri saya tentang seberapa besar keyakinan yang saya miliki, seberapa banyak input ilmu dibandingkan output aksi dalam hidup, dan mengelola hati dan akal agar selaras dalam menjalani kesenangan dan kesukaran dalam hidup. sehingga rasa ingin tahu, kritis, dan skeptis yang seharusnya dimiliki untuk mengahadapi kemajuan zaman dapat terasah, dan terwujud suatu kebijaksanaan dalam hidup.
______
satu kalimat yang mungkin mewakilkan tulisan ini:
wisdom is the next level of learning process.
______
catatan: ini hanya opini, kebenaran tulisan ini bersifat relatif berdasarkan pengetahuan penulis.
April 25, 2020
Sangat memudahkan pembaca awam (khususnya yang masih asing dengan gaya bahasa para filsuf) untuk memahami dinamika singkat aliran eksistensialisme dari akarnya.
Banyak orang yang beranggapan bahwa filsafat menggiring pembaca ke ketidakyakinan akan Yang Transenden, tapi sebenarnya kembali kepada konteks dan sebab dari akibat munculnya sebuah aliran itu sendiri.
Bacaan yang cukup relevan bagi usia dewasa muda terlebih yang mengalami kegundahan atas esensinya sebagai manusia.
Tetapi bacaan ini akan terasa terlalu singkat untuk pembaca yang menginginkan penjelasan yang komprehensif.
Banyak orang yang beranggapan bahwa filsafat menggiring pembaca ke ketidakyakinan akan Yang Transenden, tapi sebenarnya kembali kepada konteks dan sebab dari akibat munculnya sebuah aliran itu sendiri.
Bacaan yang cukup relevan bagi usia dewasa muda terlebih yang mengalami kegundahan atas esensinya sebagai manusia.
Tetapi bacaan ini akan terasa terlalu singkat untuk pembaca yang menginginkan penjelasan yang komprehensif.
March 31, 2021
Buku ini memberi rumusan pada orang-orang di bawah atap rumah yang sedang menghadapi dorongan dari dalam diri. Memenuhi dorongan dengan segera atau memikirkan dahulu dorongan tersebut. Pada hal-hal naluriah, sebuah konsekuensi rasio dapat dipertimbangkan.
June 18, 2020
Ketika melihat buku ini di salah satu aplikasi belanja online, saya langsung tertarik dengan judulnya. Alasannya, di umur saya yang sudah mencapai 20+ ini, saya suka merasa khawatir tentang masa depan saya, bahkan sampai mempertanyakan tentang keadaan diri saya sekarang. Setelah saya yakin buku tersebut memang cocok, saya pun membelinya.
Lebih lanjut, bisa dibaca ulasan singkat saya di sini:
https://www.agungwicaks.com/2020/06/k...
Lebih lanjut, bisa dibaca ulasan singkat saya di sini:
https://www.agungwicaks.com/2020/06/k...
December 13, 2011
Dari pertama beli, kesulitan bacanya. Mungkin bahasa penulisannya kurang "ramah" untuk pembaca awam. Atau, mungkin aku yang "nggak nyampe", hehe...
Displaying 1 - 23 of 23 reviews























