Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tiba Sebelum Berangkat

Rate this book
“Bagaimana cara mengenali hidup ini?”
“Kau akan menemukan jawabannya pada napasmu. Di antara yang terembus dan terhela, ada jawaban untuk semua pertanyaan. Bahkan ia lebih nyata dari seseorang yang kau temukan di muka cermin,” katanya.

Setelah Negara Indonesia Timur bubar, seorang tentara gerilya keluar masuk hutan untuk memintanya segera menyelamatkan diri. Namun, ia bertahan dan tetap menjadi bissu hingga akhirnya ia menemukan tubuh-tubuh hangus dikoyak anjing—salah satunya, tubuh kekasihnya.

Kisah yang terbentang dari tahun 1950 sampai ketika Anda membacanya saat ini. Pengkhianatan, air mata, penyiksaan, dendam, kematian, amarah dan cerita cinta yang muram dikisahkan oleh seseorang yang sedang berada di ruang penyekapan. Seseorang yang menunggu satu per satu anggota tubuhnya ditanggalkan sebelum dijual.

212 pages, Paperback

First published April 23, 2018

56 people are currently reading
944 people want to read

About the author

Faisal Oddang

33 books112 followers


Faisal Oddang was born on 18th September 1994. He finished his study in Universitas Hasanuddin, focusing on Indonesian Literature. His books are: Poetry Collection Perkabungan untuk Cinta (Mourning for Love) and Manurung was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Novels: Tiba Sebelum Berangkat (Arriving Before Departing) was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Puya ke Puya (From One Heaven to Another) won 4th place in Jakarta Art Council Novel Competition 2014 and was chosen as the best novel in 2015 by Tempo Magazine.

He achieved: Robert Bosh Stiftung and Literary Colloquium Berlin Grants 2018, Iowa International Writing Program 2018, Asean Young Writers Award 2014, Best Short Stories Writers 2014 by Kompas Daily, Prose Writer of The Year 2015 by Tempo Magazine, Best Essayist in Asean Literary Festival 2017. He was invited as a speaker in Ubud Writers and Readers Festival 2014, Salihara International Literary Biennale 2015 and Makassar International Writers Festival 2015, and participated in writer’s residency 2016 in Netherland by Indonesian National Book Committee.

Email: faisaloddang@gmail.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
170 (32%)
4 stars
253 (47%)
3 stars
91 (17%)
2 stars
9 (1%)
1 star
6 (1%)
Displaying 1 - 30 of 146 reviews
Profile Image for Tri Tanto.
33 reviews
May 11, 2018
Setelah membacanya, sebenarnya saya tidak ingin memberi ulasan selain memberikan sedikit pandangan terhadap buku ini dalam posisi di luar teks naskah. Semua hanya pandangan dari sudut pandang pembaca, yang tidak melihatnya hanya sebatas teks.

Membaca novel "Tiba Sebelum Berangkat" ini saya merasa yakin bahwa semua novel akan menjadi berkilauan dengan jalan nasibnya sendiri-sendiri.

Begini. Naskah "Tiba Sebelum Berangkat" semula mendapatkan posisi 25 Naskah Yang Masuk Dalam Tahap Penjurian Sayembara Novel DKJ 2016 lalu. Ia tidak menang memang. Dan kita tahu, penulis buku ini pernah juga mendapat penghargaan untuk novel "Puya ke Puya" di 2014, sebagai pemenang Hadiah ke 4.

Membaca "Puya", dari buku yang saya baca (KPG, cetakan 1), penuh dengan kesialan tipo. Salah huruf bertebaran di mana-mana. Memang lazimnya, penerbit yang dipercayakan menerbitkan buku oleh pemenang sayembara itu akan bersikap "elastis". Katakanlah lebih melihat momen pasar yang sedang menunggu.

Penerbit akan meyakini bahwa naskah pemenang sayembara sudah dalam bentuk jadi, kalau pun ada kesalahan itu bentuk yang harus dipertanggungkawabkan juri, ya sekaligus penulisnya sebagai pemenang. Di sisi lain, penerbitnya akan mendapat nilai lebih dari momen. Kejar cetak, mirip seperti album rekaman dari ajang lomba cipta lagu atau kompetisi pencarian bakat menyanyi. Angka di pasaran sudah menunggu saat para pemenang lomba sudah tersiar di mana mana. Dan barangkali memang harus begitu, naskah yang menjadi pemenang tidak sepantasnya menambahkan cerita, atau ada proses membangun naskah sebab yang dilombakan adalah naskah asli. "Puya" bukan satu-satunya naskah pemenang sayembara lomba novel yang dirundung kesialan tipo.

Oddang dalam Puya ke Puya terlihat sangat terburu-buru. Subyektif saya. Ada bagian plot yang seakan terlompat. Penyelesaikan kisah yang seakan-akan tergunting entah dimana. Intinya, subyektif saya ada yang kurang. Saya tidak ambil pusing dengan cerita di balik pembuatan yang konon Puya ke Puya digarap Oddang selama semingguan. Cukup membuat merinding memang, secepat itu proses pembuatannya. Hebat, tapi bukan itu masalahnya.


Membaca Tiba Sebelum Berangkat (yang gagal jadi pemenang DKJ 2016) membuat Oddang punya waktu yang leluasa. Barangkali ada proses konstruksi dan rekontruksi cerita. Mungkin. Ini tentu sah dan wajar saja. Pun editor (penerbitnya) tidak terdesak kejar cetak untuk memanfaatkan momen.

Saya tidak mau menduga, tapi jelas terlihat novel Tiba terasa lebih matang. Darah berceceran jadi terasa sungguh anyir dalam pembacaan saya. Seperti lebih matang dari nuansa pembacaan Puya dalam subyektif saya. Kesialan tipo tidak sebanjir Puya ke Puya. Dan istimewanya adalah cerita yang dibangun cukup menyentuh ke sejumlah elemen. Oddang punya waktu mengeksplor kengerian sejadi-jadinya. Babak belur saya dibuatnya.


Anggap ini bukan resensi atau pandangan membaca. Saya mengganggap bahwa setiap naskah (apapun itu) punya nasib dan keberuntungqnnya masing-masing. Tentu saja subyektif karena komentar ini hanyalah dugaan semata.

Tidak perlu saya banding-bandingkan novel ini dengan semua pemenang DKJ 2016 lalu. (Meskipun secara subyektif saya hormat, acungkan jempol dan takjub dengan pemenang pertama, Semua Ikan di Langit).

Demikian pula harapannya bagi para pemenang lomba bisa / punya hak untuk self monitoring, dan juga editor penerbit bisa menjalankan fungsinya, untuk tetap mengedit naskah para pemenang tanpa melewati batas dari keaslian naskahnya yang jadi pemenang. Kan, kalau novelnya rapi, dan enak dibaca, semua kan jadi untung juga pada akhirnya.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
September 19, 2018
Kata "bissu" pada sinopsis novel ini membuat saya tergerak untuk segera memiliki karya Faisal Oddang. Sempat tersimpan cukup lama, karena saya mencari waktu yang tepat untuk membacanya. Karena sekali membaca halaman pertama, rasanya tidak bisa melepaskan novel ini sampai halaman terakhir.
Novel ini menceritakan tentang Mapata atau Laela dan perjalanannya menjadi bissu. Bissu merupakan gender kelima yang ada dalam kepercayaan Bugis. Bissu bukan laki-laki atau perempuan. Bissu dihadirkan sebagai penengah, pengisi kekosongan, dan penyambung lidah antara manusia dan Dewata. Mapata menjadi bissu setelah tinggal beberapa waktu menjadi toboto di arajeng (rumah) Puang Matua Rusmi.
Yang menarik adalah karena Mapata menceritakan tentang dirinya dalam keadaan pasca disiksa. Lidahnya terpotong, luka-luka di sekujur tubuhnya. Mapata menuliskan kisahnya itupun atas paksaan Ali Baba, seorang dari kumpulan pembela agama yang diakui Indonesia. Dalam kisahnya, Mapata menuturkan tentang kondisi politik yang terjadi di Sulawesi Selatan pasca Indonesia merdeka. Waktu itu bissu dipaksa untuk bertobat, dan mengucapkan kalimat syahadat. Perang antara kelompok gurilla, TII, KNIL dan sekutu lainnya berkecamuk membuat kumpulan bissu terpecah.
Suatu naskah fiksi yang berlatar historikal yang membuat pembaca bertanya-tanya benarkah ini yang sesungguhnya terjadi adalah nadkah yang bagus. Tidak heran jika novel ini masuk dalam 10 besar Kusala Sastra tahun 2018 bersanding dengan sejumlah karya sastra lainnya. Namun mungkin saya perlu memberikan peringatan sebelum membaca novel ini, lapangkan pikiran, buka hati. Isi novel yang vulgar dan brutal mungkin tidak cocok dibaca sambil memakan sesuatu. Percayalah.
Satu kekaguman saya pada penulis adalah konsistensinya mengangkat budaya Sulawesi Selatan dalam bentuk fiksi. Cara yang mudah menjangkau anak muda agar tidak melupakan sejarahnya, khususnya anak muda di Sulawesi Selatan.
Profile Image for Nadia Sagitta.
5 reviews4 followers
May 8, 2018
Syok. Iya, selama membaca buku ini saya syok dengan deskripsinya. Beberapa bagian membuat saya jijik, takut, dan tidak habis pikir mengapa imajinasi penulis bisa sampai ke sana. Ini bukan hal buruk, hanya saja tidak biasa dan alhasil membuat buku ini unik.

Adegan penyiksaan dalam buku ini mengingatkan saya pada Laut Bercerita. Tidak sama, tetapi sama-sama mengerikan. Rasanya salah membaca Tiba Sebelum Berangkat tidak lama setelah Laut Bercerita. Penuh penyiksaan dan kesedihan, euy. Jiwa saya tidak siap. :(

Saya mau mengucapkan terima kasih kepada Faisal Oddang yang membukakan jalan bagi saya untuk mencari tahu perihal DI/TII di Sulawesi Selatan. Barangkali dapat dimulai dengan menelusuri buku-buku yang judulnya bertebaran di halaman novel ini. Tiba Sebelum Berangkat juga mengangkat kehidupan para bissu di Wajo. Novel yang memasukkan unsur budaya sangat menarik perhatian saya. Terima kasih telah menuliskan ini. Aih, semakin ingin membaca Puya Ke Puya atau karya Oddang lainnya! :)

Cheers,
Nadia
Profile Image for Steven S.
705 reviews66 followers
May 10, 2018
Tiba Sebelum Berangkat milik Faisal Oddang mempunyai cara bercerita yang membuatmu sulit lepas sejak halaman pertama dan mempunyai aksentuasi polemik sosial di Sulawesi Selatan.

Sejujurnya ini karya kedua yang saya baca. Pertama adalah cerita pendek Faisal yang dinobatkan sebagai cerpen terbaik harian Kompas sekian tahun silam. Ini adalah novel pertama Oddang yang saya sambut dan dibaca selesai dalam waktu singkat. Puya ke Puya tak sempat saya tamatkan. Sebelumnya di tahun lalu saya mendapati judul yang unik ini diunggah di cerita instagram sang penulis. Kedengarannya gimana gitu, Tiba-sebelum-berangkat. Hmm. Sepertinya menarik. Dan jauh melangkah waktu sangat cepat, kemarin sudah berakhir festival penulis Makassar tempat Oddang merilis bukunya.

Gaya bercerita Tiba Sebelum Berangkat mengingatkan saya akan asyiknya "Dawuk". Tapi tentu ini cerita yang berbeda. Disini tokohnya berada di situasi yang kritis kalau boleh dibilang. Hal lain yang perlu dicatat di ulasan ini adalah Oddang kerap muncul dalam beberapa bagian sebagai suara Laela, mengundang pemikiran kritis pembaca. Di sisi yang lain Oddang begitu vulgar menampilkan adegan yang kurasa cukup brutal. Bukan itu. Tapi ketika itu.. (Saat dirinya ......) Ketika membaca TSB saya selingi dengan menikmati beberapa potong terang bulan dan bisa dibayangkan selepas membaca TSB dada saya rasanya penuh dan berharap tidak kejadian yang enggak-enggak.

Novel ini saya beri empat bahkan lima dari lima bintang seandainya rincian yang saya sebut diatas tidak ada. Saya bukan menyangsikan hal tersebut namun merasa hal itu cukup berlebihan untuk dinarasikan secara nyata. Tapi hal tersebut merupakan hak penulis untuk menuntaskan cerita dan biarlah karya ini diterima dengan sebaik-baiknya oleh khalayak pembaca.

Yang saya sukai dan salut dalam karya ini adalah kemampuan Oddang untuk meriset dan mereka kisah yang berjalin erat dalam sejarah Sulawesi Selatan. Oddang dalam karyanya membuat saya larut dalam kisahnya dan seakan bersentuhan dan simpatik terhadap orang-orang di dalamnya. Makassar dan daerah-daerah di sekitarnya tidak lagi sama di mata saya. Sungguh. Salam bung!
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
August 25, 2018
Novel yang intens sekali. Budaya, kepercayaan, politik, sejarah, minoritas, gender, kisah cinta, semua diborong dalam cerita yang apik. Cara bercerita dan pilihan katanya mengalir dengan asyik dan tidak membuat novel ini sesak padahal isinya penuh sekali. Padahal lagi, narasinya berlapis-lapis.

Mengangkat Sulawesi Selatan sebagai latar ceritanya menjadi sebuah sentilan bahwa ada banyak budaya berbeda dan rumit dan perlu dipelajari di bumi Nusantara ini. Sebuah pekerjaan rumah untuk membaca banyak buku yang berbeda-beda.

Buku ini juga membuat berpikir, Indonesia sebegitu kompleksnya. Tidak habis pikir, kalau ada orang Indonesia sendiri yang ingin memecah belah negeri sendiri. Apa untungnya, kan?
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
June 5, 2018
I took a moment of silence once I finished reading this book. In what word I should pick to describe this one, i guessed.

Membaca buku ini serupa mendengarkan ulang cerita nenek yang didongengkan sebelum tidur. Buku ini bercerita tentang kondisi sosial politik di tengah budaya Sulsel pada masa Orde Baru.

Ada tiga kelompok saat itu yang mendiami Sulsel. Pertama, tentunya rakyat (sipil maupun adat). Kedua, gurilla (pejuang DI/TII). Ketiga, tentara (mostly dari Jawa dan Manado).

Jadi, membaca buku ini jelas mengingatkan kisah nenek sekaligus menjadi wadah nostalgia untuk kedua orang terbaik dalam hidup saya itu. This book means a lot to me, it's personal effect.

Kalau soal cerita, saya tidak meragukan Faisal Oddang yang kerap mengambil latar kearifan lokal Sulsel. Setelah cerita sarat adat Toraja yang berhasil membawanya menjadi pemenang Cerpen Kompas, Tokoh Seni Tempo, dan Sayembara Dewan Kesenian Jakarta. Kini, Faisal hadir dengan penuturan khas dan kental dengan budaya Bugis.

Sejak mula, dari judul bukunya, Tiba Sebelum Berangkat ialah pepatah leluhur Bugis. Kurang lebih artinya, kita sudah harus benar-benar tahu apa yang hendak dituju sebelum memulai langkah. Beberapa pepatah lain pula sempat terdeteksi, seperti Tidak akan tenggelam matahari di siang hari. Tellabu essoe ri tengngana bitarae, maknanya ialah karakter orang Bugus yang pantang menyerah di tiap perjuangannya. Plus, yang beberapa kali muncul dalam buku ini, umpatan terbaik yang dimiliki orang Bugis, Tailaso!

Yang membuat saya tertarik juga ialah perihal bahasan Bissu. Kaum pemuka spiritual dari Bugis yang tidak memiliki orientasi seksual alias tanpa gender. Saya agak bergidik ketika membaca penuturan Faisal dalam buku ini yang telah membawa Bissu ke jalan melenceng. Namun, percayalah, saya terlalu cepat menilai sebelum tahu fakta cerita yang diungkapkan buku ini. Faisal berhasil mengoyak perasaan dan pikiran saya.

Juga, beberapa kalimat dalam buku ini begitu indah. Barangkali, karena sebelumnya Faisal juga telah merangkai puisi yang terinsipirasi dari epos Lagaligo, Manurung. Jadi, saya memutuskan banyak-banyak melipat sudut halaman buku yang memberikan kesan sangat baik saat dibaca.

Begini dulu ulasan singkat tentang Tiba Sebelum Berangkat. Bila nanti sempat, saya akan buat ulasan yang lebih detil. Terima kasih, bang Faisal, saya menantikan karya selanjutnya!
Profile Image for ucha (enthalpybooks) .
201 reviews3 followers
October 7, 2018
"I wonder how
I wonder why
I wonder where they are
The days we had
The songs we sang together
Oh yeah
And all my love
I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far”

Petikan di atas adalah lagu “My Love” Westlife yang tidak ada di dalam novel ini. Saya kutip karena beberapa waktu lalu ada berita CIA menggunakan teknik penyiksaan pada tahanan di penjara Afghanistan dengan dipaksa mendengarkan lagu cinta dan keras terus menerus selama lima bulan selain siksaan fisik seperti dipukuli, disiram air es dan digantung. Saya tidak bisa membayangkan muak tak terkira ketika harus dipaksa mendengarkan lagu cinta yang sama terus menerus. Kekejaman tiada tara. Sepertinya manusia tidak kehabisan metode untuk menyiksa dari zaman dahulu, mulai dari teknik Yudas cradle, Banteng Brazen, Peine forte et dure hingga Siksaan Tikus (saya lupa judul film yang ada adegan ini).

Adegan penyiksaan pada tahanan juga ada pada sepanjang novel “Tiba Sebelum Berangkat” ini. Walau bukan pertama kali membaca cerita serupa, tetap saja rasa tidak nyaman itu selalu ada ketika membacanya. Ini karya Faisal Oddang kedua yang saya baca setelah “Puya ke Puya”, dan begitu terasa lompatan hasilnya. Mengambil peristiwa sejarah di Sulawesi Selatan yang jarang diangkat, dan dibalut dengan tragedi budaya. Pengalaman membaca novel “Calabai” tahun lalu mempersingkat pemahaman saya akan latar belakang mengenai “bissu” ini. Hal lainnya adalah Oddang konsisten memasukkan isu sosial dan “keberpihakkan" dalam karyanya.

Bacalah novel ini, karya yang jadi sumbangsih penting dalam sastra Indonesia.

Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
May 1, 2018
dududududududu... nano-nano ketika novel ini sudah sampai di halaman akhir. Ada tonjokan keras di akhir yang bikin kita ber-wow!

Kalau kita ingat, ada salah satu adegan di Puya ke Puya yang tidak saya anggap penting, soal hubungan sesama laki-laki. Saya notice perhatian itu, setelah baca ulasan orang lain (saya lupa siapa dan di media mana) yang justru fokus pada adegan tersebut. Dan, entah mengapa ketika membaca novel ini saya merasa (mungkin ini saya saja yang terlalu terburu-buru menyimpulkan di awal) bahwa hal demikian 'lumrah' dalam tanda kutip, terjadi. Terlebih dalam novel ini, hal itu akan dikupas, dikuliti, dan diberi alasan kuat mengapa sampai ada dan Orang Bugis mengimani demikian. Bissu dalam bayangan saya semacam "orang penting" atau "dukun" yang bertugas menjembatani orang hidup dengan leluhur dan Dewata Semawe. Digambarkan Puang Rusming dan Mapata memiliki hubungan yang lebih dari intim.

Mapata digambarkan memiliki trauma besar semenjak kecil. Ayahnya mati karena perbedaan politik, kemudian mendapatkan ayah tiri yang suka menyodomi dengan dalih "mengusir setan perempuan di tubuh Mapata", kemudian besar harus berhadapan dengan posisi toboto yang membuatnya berhubungan badan dengan Paung Rusming.

Setelah membaca buku ini, saya kemudian googling bahwa ada lima gender di Suku Bugis. Laki-laki, perempuan, laki-laki dalam tubuh perempuan, perempuan dalam tubuh laki-laki, dan satu gender antara. (CMIIW).

Bukan hanya soal kepiluan di novel ini, saya juga belajar hal baru.
Menurutku tema novel ini "sangat seksi", membedah hal tersembunyi yang kemudian dikaitkan dengan isu sosial politik yang terjadi. Yaaa, wajarlah! Semoga nasib baik dan mujur terus membawa novel ini.
Profile Image for Colleen .
37 reviews3 followers
December 30, 2022
dang this book really traumatized me 🥹 i can't believe i finished this within one day onlee even tho it wasn't a light-theme, IT DEF WAS NOT [ && i honestly enjoyed Andi Upe and Rusming part a lot :> ]
27 reviews4 followers
Read
February 19, 2021
Karya penulis asal Sulawesi Selatan ini mengisahkan seorang mantan bissu dan toboto (pembantu bissu) bernama Mapata alias Laela yang diculik oleh anggota organisasi yang mengklaim diri sebagai 'pembela negara dan agama'. Dalam penyekapan ia dipaksa menuliskan catatan-catatan kisah yang membentang sejak masa 1950-an kala pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan hingga hari ini. Dari catatan-catatannya dapat kita lihat bagaimana gambaran kehidupan rakyat Sulawesi Selatan yang begitu terjepit di antara konflik gurilla/gerombolan (DI/TII) dengan 'tentara Jawa' (TNI). Juga bagaimana lika-liku kehidupan seorang bissu bernama Puang Matua Rusmi (bissu yang dilayani oleh Mapata saat menjadi toboto) yang tumbuh pada masa-masa konflik itu.

Sulit untuk berhenti membaca buku ini sejak lembaran-lembaran awal. Cerita yang mengalir kian membuat pembaca penasaran. Ada cukup banyak bagian-bagian yang secara eksplisit menjelaskan hal-hal sensual (dalam hal ini hubungan sesama jenis), sehingga sebagian pembaca mungkin akan sedikit terganggu atau merasa kurang nyaman. Namun itu sama sekali tidak mengurangi value buku ini, tetap sangat direkomendasikan bagi Anda, terlebih yang menyukai fiksi-sejarah atau sedang tertarik seputar tradisi bissu di Sulawesi Selatan.

Peringatan: Sebaiknya jangan dibaca sambil menyantap makanan.
Profile Image for Nike Andaru.
1,647 reviews112 followers
April 11, 2023
26 - 2023

Udah punya buku ini sejak lama, entah kenapa kayak disayang-sayang gitu, nanti-nanti mau baca, sampe waktunya tiba, dan memang luar biasa.

Mengikuti cerita Mapata dalam buku ini rasanya patah hati di akhir cerita, rasanya sedih dan kesal.
Sedihnya karena Mapata mendapatkan kekerasan seksual, ditinggal orang yang disayang hingga hal-hal menjijikkan soal tahi kering itu astaga.... kuingin skip bagian itu, mana bacanya pas puasa.

Memahami soal gender di Sulawesi Selatan ini memang bukan yang seperti umumnya, ada bissu, istilahnya dan menarik ini dibalut cerita soal TII dan perlawanan kelompok minoritas terhadap perlakuan pemerintah.
Profile Image for Alifa.
99 reviews3 followers
January 19, 2025
Memang banyak adegan2 yang tidak mudah membacanya, tapi toh genre fiksi sejarah secara umum memang tidak ditulis dengan indah dan berbunga2. Sejarah berisi hal2 kelam yang berdampak pada keadaan sekarang. Singkat, padat, namun berimpact. Otw baca buku Faisal Oddang yang lain ✈️
Profile Image for fara.
284 reviews43 followers
August 19, 2022
Setelah membaca novel ini, entah kenapa rasanya hampa sekali. Kebetulan saya cukup jarang membaca karya sastra yang menggunakan Indonesia Timur sebagai latarnya, makanya saya senang sekali punya kesempatan untuk membaca Tiba Sebelum Berangkat. Alurnya memang campuran, antara kejadian ketika penyiksaan Mapata (yang dituduh sebagai simpatisan 'orang-orang yang merugikan agama dan negara') serta isi suratnya yang lebih pada cerita mengapa ia bisa berada di tangan Ali Baba. Saya salut sekali dengan kemampuan Faisal untuk membuat tokohnya abu-abu, dalam artian; tidak baik dan tidak jahat. Kompleks sekali. Namun sepertinya begitulah contoh membuat tokoh dalam cerita menjadi manusiawi karena sifat manusia yang pada dasarnya memang labil.

Saya juga suka pada informasi tentang budaya Bugis dan bissu yang telah satu-dua kali pernah saya baca di media, yaitu dukun atau pendeta yang bukan laki-laki dan bukan perempuan. Pada masa itu, ada perburuan bissu yang dilakukan oleh Tentara Islam, dan fakta sejarah DI/TII dalam novel ini juga dipaparkan dengan luwes, nggak kaku, monoton, apalagi menggurui. Misalnya KNIL, Kahar Muzakkar, Andi Aziz, dan perang gerilya (membantu banget dalam mengilustrasikan bayangan saya soal cerita-cerita yang saya baca di buku pelajaran ketika sekolah). Di sisi lain, alih-alih terganggu dengan hubungan sesama jenis yang diceritakan agak eksplisit, saya justru lebih terganggu pada adegan di mana Mapata memakan tahinya sendiri ketika masih disekap. Faisal punya teknik menulis yang to the point dalam menggambarkan adegan. Dipukul, ya dipukul. Dihantam, ya dihantam. Disiksa, ya disiksa. Kejam, sadis, tapi tergambarkan dengan sangat apik.

Intrik politik juga bisa dilihat dari ayah Mapata awalnya diduga mati karena berseberangan dengan partai yang saat itu memiliki massa yang banyak (kita semua tahu, Golkar). Hubungan Mapata dan Batari juga kompleks bin rumit banget (aduh, saya sampe pusing). Apalagi endingnya justru dikacaukan oleh Sumiharjo, dan menggantung pembaca dengan model ending seperti itu sangaaat menyiksa. Makanya, seperti yang sudah saya bilang di awal kalimat, setelah membaca Tiba Sebelum Berangkat tiba-tiba jadi merasa hampa. Agak kecewa sih kenapa cuma masuk nominasi Kusala (meski masuk 5 besar), padahal ini master piece abis.
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
March 25, 2023
Ada yang hilang dari dirinya. Ada yang direbut paksa dari genggamannya.


Buku fiksi sejarah pertama Faisal Oddang yang aku baca dan aku suka.

Buku ini bercerita dan menaruh fokus terhadap salah satu adat kebudayaan Bugis, Sulawesi Selatan. Dimana mereka mengakui adanya Bissu, yakni orang-orang yang disucikan, tidak memiliki gender dan dipercaya adalah perpanjangan tangan dewata.

Dengan unsur budaya ini, penulis pun dengan apik memasukkan unsur sejarah terutama masa perang antara DI-TII dan pasukan Geriliya, yang kebanyakan korbannya adalah masyarakat.

Buku ini sangat triggering, karna dijelaskan secara eksplisit dan detail, berbagai unsur penyimpangan dan pelecehan seksual yang mengatasnamakan tradisi.

Setiap karakter dibuku ini punya kepribadian yang ‘menjijikkan’ dan kelam. Nggak ada karakter yang disuka setelah aku membaca buku ini. Inilah menurut ku kesuksesan Faisal dalam menulis karakter yang ‘gila’ tapi bukunya tetap menarik untuk dibaca.

Highly recommend!
Profile Image for Rizalt Akbar.
4 reviews
May 29, 2018
Saya senang ketika Faisal oddank -yang belakangan lebih mirip Seno Gumira daripada dirinya sendiri haha!- memberikan standar yang tinggi pada karya sastra asal Sulsel. Jika tak percaya sila baca karya sebelumnya seperti Puya ke Puya (terlepas dari banyaknya kesalahan tulis) Ia seolah memberi isyarat bahwa karya yang baik lahir dari riset yang mendalam.

Meski telah dikatakannya bahwa cerita ini fiktif belaka, akan kau temukan banyak sejarah Sulsel yang saling berkaitan seperti gerilya DI/TII dan Bissu bersama pustaka yang jelas asalnya dengan menjadikan Mapata -tokoh utama- sebagai pusat semesta dari cerita.

Sangat jarang penulis mau mengangkat kisah daerah di luar pulau Jawa ke dalam karyanya, alasannya jelas, jangkauannya tak seluas ketika mengangkat kebudayaan dari pulau Jawa. Untuk itu, karya yang mungkin baiknya diberi label “Dewasa” ini sungguh dapat memperkaya khazanah kita sebagai pembaca.
Profile Image for Asty Annisawati.
250 reviews100 followers
July 8, 2021
Settingnya cuma satu: ruang penyekapan.

Melalui buku ini, saya jadi banyak belajar mengenai budaya masyarakat Bugis (terutama mengenai gender dan bissu) bagaimana gambaran sejarah DI/TII yang terjadi di Indonesia Timur khususnya Makassar, dan bagaimana masyarakat menghadapi keadaan tersebut. Buku ini benar-benar membuat saya memahami filosofi "Tiba Sebelum Berangkat" dan bagaimana masyarakat Bugis menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Ah, seandainya buku ini terbit tiga tahun lalu ketika saya SMA😁

Melalui buku ini pula, saya jadi ingin membaca beberapa karya dengan tema serupa. Ada rekomendasi?

Good job, Faisal Oddang!
Asty.
Profile Image for Bagus.
482 reviews94 followers
June 3, 2021
“Saya belajar banyak hal dari kehilangan. Salah satunya, kini saya mengerti satu per satu dari diri kita akan hilang perlahan, dan satu-satunya yang bisa kita jadikan alasan untuk kuat menghadapinya hanya satu kenyataan bahwa kita memang tidak pernah memiliki apa-apa–bahkan ketika bercermin, seseorang di dalam cermin itu juga bukan milik kita.” (h. 77)


Saya merasa novel ini dipenuhi dengan unsur kehilangan, baik itu kehilangan jati diri maupun kehilangan suatu unsur kebudayaan yang telah dipegang begitu lama di masyarakat Bugis. Bercermin pada konsep Bissu, Faisal Oddang mencoba menceritakan ulang konsepsi gender pada masyarakat Bugis yang kini kian memudar lewat peran perubahan kepercayaan masyarakat yang mulai menanggalkan animisme lokal dan peraturan modern Pemerintah Indonesia yang hanya mengakui beberapa agama resmi.

Tokoh utama kita dalam kisah ini bernama Laela. Setidaknya itulah nama yang disangkutkan padanya usai dirinya resmi menjadi Bissu. Nama aslinya adalah Mapata, yang dikatakan “sangat kelaki-lakian untuk orang Bugis sepertinya” oleh Faisal Oddang dalam perkenalannya dengan sosok Mapata. Ibarat sebuah pertunjukan sadis, adegan pertama dalam kisah ini adalah penyiksaan Mapata yang dituduh sebagai bencong penista agama lewat lembaga swadaya masyarakat yang diinisiasinya: Tidak Ada Yang Suci di Bawah Matahari Ini. Mapata disiksa oleh penangkapnya, si Ali Baba dan kompolotannya, yang kemudian memaksa dirinya menuliskan semacam surat pengakuan. Surat pengakuan itu yang kemudian membawa alur cerita ke dalam beberapa babak dan lapisan demi menjelaskan apa itu Bissu dan posisinya dalam sejarah masyarakat Bugis.

Faisal Oddang mengangkat studi kasus yang menarik untuk menceritakan dilema yang dialami oleh Bissu, yakni pemberontakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi Selatan sejak 1951 yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Berdirinya republik baru yang kemudian disusul pemberontak separatis akhrinya menimbulkan suatu konflik dalam diri Bissu di masyarakat Bugis. Mapata yang disekap dipaksa menuliskan tentang kehidupan Puang Matua Rusmi, yang dulunya merupakan Bissu ketua yang membimbingnya saat ia masih menjadi toboto–lelaki pendamping ritual-ritual Bissu. Terkadang ada kalanya, Mapata dituntut untuk memuaskan kebutuhan biologis Puang Matua Rusmi dan menjalani hubungan sesama lelaki (dalam konteks gender masyarakat modern). Mapata selalu merasakan dirinya dirasuki oleh setan perempuan yang membuatnya selalu lebih tertarik pada sesama lelaki, walaupun ada sosok Batari, wanita yang menyayanginya dan berusaha menyembuhkannya.

Unsur kehilangan dalam novel ini lebih lagi saya rasakan lewat pergeseran posisi Bissu yang tadinya menempati posisi tetua adat dalam masyarakat Bugis. Para Bissu dulunya menjadi penasihat spiritual para raja. Rumah tinggal Bissu disebut sebagai rumah arajang dan ia menjaga arajang yang dipercaya sebagai benda-benda pusaka yang diturunkan dewata dari langit. Tak jarang juga Bissu memimpin upacara-upacara adat seperti upacara pernikahan, kehamilan, kelahiran, kematian, persembahan, tolak bala, nazar dan lain sebagainya. Namun, itu dulu. Mapata dalam kisah ini dihina-hina sebagai waria. Konsepsi Bissu sebagai salah satu dari lima gender dalam masyarakat Bugis mulai kehilangan ruang di masyarakat modern. Sharyn Graham berpendapat bahwa, dalam kepercayaan tradisional Bugis, tidak terdapat hanya dua jenis kelamin seperti yang kita kenal, tetapi empat (atau lima bila golongan Bissu juga dihitung), yaitu: "Oroane" (laki-laki); "Makunrai" (perempuan); "Calalai" (perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki); "Calabai" (laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan); dan golongan Bissu, di mana masyarakat kepercayaan tradisional menganggap seorang Bissu sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin tersebut.

Konflik dalam kisah ini tidak hanya menyasar pada masyarakat Bugis yang perlahan meninggalkan tradisi ini, namun juga sisi internal dari Bissu dan institusionalisasinya sendiri yang mulai salah kaprah. Ada kepentingan politis juga dari pemerintah republik ini yang melihat celah dari pergeseran tren ini. Saya suka dengan analisis Faisal Oddang yang melihat: lembaga adat yang melemah menjadi jalan masuk bagi pemerintah untuk mengambil alih aset-aset lembaga tersebut dengan istilah lain sebagai bentuk pelestarian.

Saya rasa, novel singkat ini perlu mendapat perhatian lebih dari para kritikus sastra dan pemangku kebijakan di negeri ini, terlebih di tengah arus modernisasi yang menggerus tradisi di Indonesia yang mengalami pertentangan dengan kepercayaan mayoritas dan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Masyarakat Bugis bukanlah minoritas, sebab populasinya pun cukup banyak tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti pesisir Kalimantan tempat umumnya mereka berprofesi sebagai nelayan. Namun demikian, apakah tradisi yang dipercaya selama bergenerasi-generasi lantas hanya mendapat tempat di museum saja atau dokumenter-dokumenter yang kelak mungkin tak akan ditonton lagi setelah kehabisan sensasinya?
Profile Image for nana.
71 reviews6 followers
May 17, 2023
Ini adalah buku kedua milik Faisal Oddang yang saya baca−setelah Puya ke Puya-dan masih mengangkat tema seputar adat istiadat di Sulawesi. Buku ini sendiri berkisah mengenai penculikan seorang Bissu yang dituduh sebagai pemberontak negara sekaligus bertentangan dengan ajaran agama.

Cerita diawali dengan penyiksaan terhadap Mapata (yang seorang mantan Bissu) di ruang penyekapan oleh Ali Baba dan anak buahnya−Sumiharjo−yang mana mereka ini adalah sindikat perdagangan organ tubuh yang mengatasnamakan agama dan negara. Mapata mengalami penyiksaan yang luar biasa sadis, sampai harus kehilangan lidahnya dan terpaksa memberikan pengakuan melalui tulisan. Melalui tulisan-tulisannya, kita akan diajak kembali ke masa silam; masa di mana Sulawesi mengalami pergolakan dengan adanya pemberentokan DI/TII, bagaimana perjalanan hidup Mapata sampai menjadi Toboto (pendamping Bissu) sekaligus Bissu dalam sekejap, hingga perjalanan hidupnya bertemu Batari dan mempunyai seorang anak.

Bagi saya pribadi, buku ini penuh dengan kegilaan dan kengerian−sangat kontras dengan cover buku yang cerah penuh warna, serta menimbulkan kesan traumatis. Pada pembuka saja, kita disuguhkan oleh adegan gila nan keji, sebuah penyiksaan tiada tara yang diberikan kepada Mapata. Hingga akhir, ada banyak kegilaan-kegilaan lain, konspirasi, intrik, dan juga kehilangan yang mendalam.

“Saya belajar banyak hal dari kehilangan. Salah satunya, kini saya mengerti satu per satu dari diri kita akan hilang perlahan, dan satu-satunya yang bisa kita jadikan alasan untuk kuat menghadapinya hanya satu kenyataan bahwa kita memang tidak pernah memiliki apa-apa–bahkan ketika bercermin, seseorang di dalam cermin itu juga bukan milik kita.”

Dari buku ini juga kita bisa mengetahui kehidupan masyarakat pada suku Bugis yang termarjinalkan, salah satunya yaitu Bissu. Bissu sendiri ialah sejenis pendeta atau rohaniawan dalam agama Tolotang yang merupakan agama asli suku Bugis, yang gendernya dipandang sebagai campuran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan. Golongan Bissu juga mengambil peran gender laki-laki dan perempuan dan dilihat sebagai separuh manusia dan separuh dewa, bertindak sebagai penghubung antara kedua alam manusia dan alam Dewata. Kehidupan Bissu yang rentan ini coba diangkat oleh Faisal melalui buku ini, di mana Bissu dianggap sebagai manusia nista, bencong, dan tercela. Padahal, Bissu telah ada sejak ratusan tahun silam−yang seharusnya keberadaannya dilindungi dan dijadikan sebagai warisan leluhur dan adat.

Buku dengan kurang lebih 215 halaman ini menurut saya cukup padat dan kompleks. Tidak hanya menyinggung dari sisi sejarah, seperti yang disebutkan dengan menyisipkan berbagai peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Sulawesi, seperti Peristiwa Andi Aziz dan juga Pemberontakan DI/TII. Lebih daripada itu persoalan sosilogogis-antroplogis yang berhubungan dengan budaya Bugis, serta sisi gender dan minoritas kaum Homoseksual juga ada di dalamnya. Kaum Homoseksual yang termajinalkan dianggap rentan terhadap pelecehan seksual dan juga pengalaman traumatis sepanjang hidupnya. Hegemoni pemerintah yang ikut campur dalam kehidupan tradisi masyarakat Bugis turut memperlihatkan bagaimana masyarakat kecil yang hidup di pedalaman termarginalkan dengan penderitaan yang tak berkesudahan.

Bagi saya, novel ini layak mendapat penghargaan dan juga apresiasi lebih. Saya sangat menyukai buku ini dan akan dengan senang hati merekomendasikan buku ini kepada siapa saja.

Goodjob, Faisal 👍
Profile Image for Reyhan Ismail.
Author 3 books10 followers
July 20, 2019
Tiba Sebelum Berangkat bisa dibilang adalah salah satu falsafah bugis yang mengilhami Faisal Oddang dalam menamai judul pada novelnya kali ini.

Dalam bahasa bugis berarti "Palettui alemu riolo tejjokamu" atau seperti yang biasa di pesankan nenek saya saat saya berpamitan menuju perantauan "Aja mu lao ko de'pa mulettu" yang jika ditelaah lebih lanjut, saat ingin berpergian jauh atau mencapai sesuatu, ada baiknya jika kita membayangkan diri kita saat sudah berada di tempat tujuan sebelum berangkat.

Tapi buku ini tidak hanya bercerita tentang itu saja. Tiba Sebelum Berangkat adalah sebuah novel fiksi yang berangkat dari peristiwa sejarah DI/ TII pada sekitaran tahun 1950-1960. Bercerita soal Mapata, seorang mantan Toboto dan Bissu yang disekap oleh Ali Baba, seorang mafia penjual organ tubuh manusia. Dari balik jeruji Mapata disiksa dan dipaksa bercerita soal keterlibatan dengan organisasinya yang disebut organisasi Tidak Ada Yang Suci Di Bawah Matahari Ini.

Buku ini bercerita memakai alur maju mundur. Alur mundur disampaikan lewat catatan yang ditulis oleh Mapata. Catatan tersebut memiliki dua jalur cerita. Pertama cerita karakter Mapata itu sendiri dengan konflik internal masa kecil dan keluarganya. Serta cerita Puang Matua Rusmi, seorang bissu pada masa DI/ TII yang menjadi tuan Mapata selama menjadi Toboto (pendamping bissu).

Mengamati karya Faisal Oddang dalam Puya ke Puya, saya kira kelihaian Faisal Oddang dalam merangkai ritme cerita dan detail kata-kata sudah tidak perlu diragukan lagi. Semua perasaan campur aduk saat membaca buku ini. Mulai dari rasa jijik, marah, sedih, dan kecewa. Baru kali ini saya membaca cerita sampai menahan rasa ingin muntah. Ini semua karena perasaan karakter dan kejadian di deskrpisikan dengan sangat baik sehingga emosinya sampai pada pembaca.

Dibandingkan dengan Puya ke Puya, saya lebih suka cara Faisal Oddang bertutur dalam Tiba Sebelum Berangkat. Lebih variatif dan tidak membosankan.

Saya berterima kasih kepada Faisal Oddang karena sudah mengangkat dan mengabadikan sejarah dan budaya dengan latar di Sulawesi Selatan dalam sebuah buku fiksi seperti ini. Sedikit membuka pikiran dan memancing rasa penasaran saya untuk mempelajari lebih lanjut sejarah di tanah kelahiran sendiri.
Profile Image for N.  Jay.
244 reviews10 followers
July 14, 2019
Rasa penasaran menuntun saya untuk membelinya, alasan pertama karena ada unsur budaya, alasan kedua karena penasaran karya penulis dari daerah lain di Indonesia itu seperti apa. Maka dari situlah saya mulai melihat sekilas-sekilas isinya.

Bissu mungkin bukanlah sesuatu yang asing di telinga saya, saya cuma tahu mereka penjaga pusaka di sebuah tempat di Sulawesi sana. Perkenalan itu dimulai ketika saya masih SD entah kelas dua atau berapa, sekitar tahun saya masih kelas dua itu ada sebuah acara di televisi swasta, namanya Horizon, membahas tentang budaya dan adat dari nusantara. Tak banyak yang saya ingat ketika episode yang membahas bissu ditayangkan, saya cuma ingat ada lima golongan gender dan bissu adalah yang tertinggi yang tak bisa disebut lagi laki-laki atau perempuan lalu saya ingat sedikit bagaimana suara mereka ketika berbicara dalam bahasa bugis, terkesan ada lembut suara perempuan dan ketegasan suara laki-laki yang tak terlalu kentara. Hanya saja saya tak tahu apa lagi setelahnya.

Saya menyukai bagaimana penulis merunut hubungan antar tokoh dan keterlibatannya dalam peristiwa kelam pasca kemerdekaan di Sulawesi. Cerita terasa mengalir dan padat sampai-sampai saya harus berhenti sebentar untuk bernapas karena begitu memikatnya.

Saya tak tahu lagi apa yang harus saya katakan tentang buku ini. Namun entah mengapa, pada bagian tertentu saya merasa jengkel, entahlah.
4,5
Profile Image for Al Ridwan.
58 reviews
April 26, 2025
hebat. hebat sekali. sangat senang membaca buku yang tidak hanya memuat plot yang kompleks, tapi juga memuat tokoh-tokoh yang lebih kompleks. apalagi dengan kedekatan saya dengan cerita ini secara ruang, waktu, dan keadaan.

membaca ini saya ingin percaya bahwa semua budaya, agama, politik, atau kepercayaan tidak bisa disalahkan sebab manusialah, kita, tempatnya salah.

semoga teman-temanku baca buku ini. mau itu Bugis, Makassar atau Jawa atau selain keduanya. diskusinya bakal seru.

/

astonishing. i always love reading a book that doesn't only have a complex plot, but also has complex characters. not to mention my proximity with the story in space, time, and conditions.

after reading this, i want to believe that every culture, religion, policy, or beliefs can never be blamed because every faults lies in us, humans.

i hope my friends get to read this. either Buginese, Makassarese, or Javanese or neither of these. the discussion would be exciting.
Profile Image for Kai.
81 reviews2 followers
June 8, 2023
Selesai membaca buku ini dalam beberapa jam saja. Sangat membekas, sangat. Saya suka sekali dengan beberapa isu di dalam buku yang serasa asyik apabila dapat didiskusikan dengan teman.

Dalam hal penulisan, dan lain-lainnya tidak perlu dirahukan lagi. Selesai bab pertama, ada sesutu hal yang membawa saya ke bab berikutnya hingga tiba di halaman terakhir. Plot sangat menarik. Siapa sangka emosi yang dituliskan penulis mampu melebur dengan emosi saya. Sedih, marah, bahagia, semua bisa ikut terasa.

Dari buku ini saya mulai penasaran dan berencana membaca karya penulis yang lain. Keren!
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
September 22, 2018
OH, WOW!!
Langsung jadi salah satu fav-ku buat KLA tahun ini.

(Maaf, ini bukan review. Lidahku masih terasa kering dan pahit membaca novel ini. Sekian banyak tipuan dan pengkhianatan saling membahu, menjalin dan berlapis, siksaan dan kekecewaan silih berganti merundungi Bissu Rusmi dan Bissu Laela bahkan sampai twist cerita terakhir. Sejarah memang biasanya hanya mencatat peristiwa-peristiwa, tanpa peduli kesedihan orang-orang di latar belakang yang kehilangan dan terasingkan. Nangis aku.)
Profile Image for firman.
24 reviews1 follower
February 7, 2022
Tidak biasa, kacau, tegang, sadis, dan ending yang cukup menohok. Dengan gaya cerita yang frontal dan tema yang tidak biasa ini membuat ga terasa buku ini cepat selesai, page turner. Baru kali ini baca buku berlatar Indonesia Timur, khususnya sulsel di buku ini. Memberi gambaran yang jelas tentang budaya bugis, dan sejarah pasca kemerdekaan yang waktu sekolah cuma diberi sekelumit tentang pemberontakan-pemberontakan. Disarankan tidak membaca buku ini waktu makan :D
Profile Image for Arfan Putra.
139 reviews4 followers
June 6, 2018
"Hidup ini, Nak, adalah perang melawan masa lalu, dan pertaruhan untuk mengalahkan masa depan. Kelak ketika sudah tidak memiliki apa-apa, ketika telah kehilangan segalanya-satu-satunya yang kamu miliki hanyalah masa lalu. karena itu kau harus mengalahkannya untuk memenangkan hidupmu" - Hlmn 20
Profile Image for Haifa Chairania.
158 reviews7 followers
January 31, 2025
Dari dulu selalu penasaran dengan karya Faisal Oddang. Menilik penggambaran sosial budaya Sulawesi Selatan di buku ini jadi santapan menarik. Risetnya sangat kaya, dan aku jadi memutar ulang pengalaman mempelajari peristiwa DI/TII, kali ini lewat kemelut konfliknya dengan masyarakat adat serta komunitas Bissu di suku Bugis.

Tahun lalu aku sempat membaca Paya Nie karya Ida Fitri yang mengambil kacamata masyarakat sipil Aceh sebagai korban militer. Tiba Sebelum Berangkat melengkapi refrensi bacaanku mengenai bagaimana pemegang otoritas menggunakan ‘kartu mayoritas’ mereka untuk mempersekusi kalangan minoritas yang tidak seiya-sekata.

Bacaan yang vulgar lagi menyakitkan; dipikir-pikir tidak ada karakter yang sepenuhnya baik di buku ini; tak terkecuali Mapata serta eksplorasi identitas serta seksualitasnya yang berakar pada trauma kekerasan dari masa ke masa.

Tambahan: aku mengiyakan review teman pembaca yang menyarankan jangan makan saat baca buku ini.
Profile Image for reta.
8 reviews1 follower
October 6, 2022
Kalau mau mutusin buat baca ini, pliss liat tw dulu yhh

Awalnya sempet mual dan dnf, setelah 5 bulan kayaknya mutusin buat baca lagi, dan overall itss gewddddd oh myyyy😣
Profile Image for Imam Rahmanto.
149 reviews8 followers
August 7, 2018
Buku yang sangat keren. Berbicara adat dan budaya hingga sejarab dengan cara berbeda. Sekali lahap, bisa langsung selesai.
Profile Image for Zulfasari.
50 reviews6 followers
December 24, 2018
Untuk kali ini... Saya sulit menuliskan apa yang saya rasa setelah membaca novel ini. Begitu kacau, tapi lucunya saya malah menikmati semua kekacauannya.
Displaying 1 - 30 of 146 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.