Dalam buku ini, Ahmad Syafii Maarif, cendekiawan dan guru bangsa, merangkum serangkaian pemikiran kritis beliau terhadap apa yang disebut dengan penuh haru oleh sebagian komunitas Muslim tentang ^The Golden Ages of Islam^. Peradaban Islam memang berkembang hingga mencapai puncak-puncaknya yang tertinggi. Namun, kita perlu memahami bahwa semua itu juga dibangun di atas darah umat Islam yang berbeda pandangan politik. Pada kenyataannya, nafsu kekuasaan tanpa didampingi kekuatan moral yang tangguh, pasti merusak. Agama sering benar tidak berdaya. Rasa haus akan ^kejayaan^ mengalahkan sisi kerohanian manusia. Akibatnya, bahkan masih bisa kita rasakan sampai hari ini. Kita terpasung dalam kotak-kotak politik akibat ulah perseteruan elite Arab Muslim itu. Sekarang, mampukah kita sungguh-sungguh kembali pada pesan suci Al-Quran dan sunah Nabi, serta mengucap selamat tinggal pada kotak-kotak penuh darah dan dendam kesumat itu?
Endorsement
“Lewat buku ini, sosok Buya Syafi’i seolah tengah menggosok cermin dan meminta kita berkaca mengambil pelajaran dari krisis dunia Islam yang bikin miris. Penuh makna mengurai fakta!” —Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama di Australia-New Zealand
“Membaca buku ini dan mengetahui usia Buya Syafii Maarif, sudah sepatutnya beliau ini dicemburui banyak orang. Beliau tetap produktif dan menyumbangkan pikiran-pikirannya tanpa ragu sedikit pun dengan sudut pandangnya. Sudah menjadi karakteristik seorang Buya Syafii dalam gaya bicara dan tulisannya yang langsung pada pokok persoalan. Tulisan-tulisannya dalam buku ini sangat tajam menghunjam. —Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A., pendiri Pusat Studi Al Quran (PSQ)
"Dalam tiga dasawarsa terakhir—khususnya sejak 9/11/2001—Dunia Arab kian terjerumus ke dalam limbo krisis akut yang sudah seolah menjadi 'unbroken vicious circle', lingkaran setan yang tak bisa terselesaikan. Inilah salah satu titik nadir Dunia Arab. Adakah harapan untuk masa depan? Jawabannya ada dalam buku Buya Prof Syafii Maarif ini. Karya ini tak lain adalah buku wajib bagi setiap dan seluruh orang dan pihak yang ingin belajar dari sejarah untuk tidak mengulangi kedunguan jatuh ke dalam lubang krisis yang sama dari waktu ke waktu. Dengan begitu setiap dan seluruh pembaca dapat menjaga Indonesia agar tidak terjerumus ke dalam kenestapaan dan ironi Dunia Arab; bersyukur dengan Indonesia yang aman, stabil dengan ekonomi yang terus bertumbuh sehingga lebih menjanjikan masa depan peradaban Islam yang maju dan damai." —Prof. Azyumardi Azra, CBE, Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Buku karangan Buya ini merupakan sarana Umat Islam untuk bercermin, dari konflik-konflik yang terjadi di jazirah Arab. Tanpa disadari, Umat Islam telah terpecah belah berkeping-keping karena pergolakan yang terjadi di antara Umat Islam sendiri. Tidak sebatas itu, perbedaan faksi yang diakibatkan oleh mazhab yang beragam tidak disikapi dengan jalan moderat. Akhirnya, perang urat syaraf tida terhindarkan dan terjadi pertentangan.
Apa yang telah diajarkan dalam Quran, telah disebutkan oleh Profesor yang sempat menjadi Ketua Umum Muhammadiyah ini. Misalkan dalam sebuah halaman, ada kalanya Allah Swt. mengganti sebuah kaum dengan kaum lain yang berbeda akibat dari perbuatan kaum itu sendiri yang mendekati jahiliyah. Kondisi ini jika ditelaah lebih lanjut memiliki kemiripan yang terjadi di Indonesia, misalkan dengan fenomena Pilpres 2019 yang membuat segregasi yang tajam masyarakat menjadi dua kubu yang bertentangan. Sebut saja Cebong dan Kampret.
Elite bangsa ini tampaknya perlu membaca refleksi yang ditulis oleh Buya dalam buku ini. Karena penting untuk memikirkan nasib bangsa yang mayoritas Muslim ini ke depannya. Sejarah tentang kejayaan Islam seharusnya tidak hanya dipahami mengenai bagaimana mereka bisa mencapai kejayaan dan mengenang apa saja progres yang telah dibuat selama Islam mengalami zaman keemasan. Namun juga bagaimana kerajaan-kerajaan Islam ini runtuh dan terpecah belah akibat fitnah yang muncul dari dalam tubuh Islam itu sendiri.
Buku ini memiliki kekurangan, mengingat Buya yang semakin berumur maka gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini lebih mirip teks pidato. Namun kelebihannya, Buya masih berani melontarkan narasi yang positif untuk kebangkitan kembali Islam dengan cara yang kritis dan konstruktif. Tentunya dengan kekayaan bacaan yang luas sebagaimana karakteristik dari tulisan-tulisan Buya yang lainnya.
Rasa ingin tahu membuatku betah membaca buku ini dalam waktu sehari semalam. Iya, secepat itu. Antara emang lagi banyak waktu luang atau sengaja mengagendakan diri untuk membacanya.
Di buku ini, penulis berusaha untuk memaparkan fakta-fakta dunia Timur Tengah yang beberapa tahun terakhir dilanda krisis berkepanjangan. Terlihat jelas bahwa beliau berusaha "menampar" pembaca, khususnya umat Islam di Indonesia, yang mungkin selama ini tidak up-to-date dengan kondisi saudara-saudara seimannya itu.
Selain itu, melalui buku ini, beliau berusaha menyerukan persatuan kepada umat Islam di Indonesia seraya mengembalikan setiap perselisihan di tubuh umat kepada Al Quran & As Sunnah. Bukankah umat Islam senantiasa diseru agar menjadi umat terbaik yang menebar kasih sayang untuk semesta alam?
Potret krisis di daerah Arab saat ini tidak bisa menjadi potret ideal penerapan ajaran Islam yang sesungguhnya. Menurut beliau, umat Islam di Indonesia perlu berhati-hati agar tidak ikut-ikutan terpecah belah seperti di Arab sana.
---
Buku ini layak dikatakan sebagai salah satu buku yang berani menggambarkan potret Arab saat ini. Bumbu-bumbu sindiran kepada umat Islam cukup banyak dirasakan di beberapa bagian. Namun demikian, beberapa ayat Al Quran agaknya ditafsirkan secara "bebas" oleh penulis meskipun sebelumnya juga disampaikan bahwa beliau telah mengkaji beberapa tafsir ayat-ayat tersebut. Nampaknya penafsiran ini dipengaruhi oleh kegelisahan beliau terhadap kondisi internal umat Islam yang dianggap tidak solid.
Buya sedang marah, atau lebih tepatnya frustrasi. Sama seperti saya dan pembaca yang lain, kita bingung dengan dunia yang tampaknya penuh peperangan ini. Di buku ini disarikan secara spesial oleh Buya tentang pokok masalah yang menggiring umat manusia pada kisah dunia yang seperti ini.
Satu lagi, dengan singkat. Saya agak kaget ketika pertama kali melihat fisik buku ini. Kecil dan tipis, berbeda dengan buku Buya sebelumnya. Kemasannya sangat enak untuk kita bawa ke mana saja, dibaca di mana saja. Rasanya, isinya pun sangat tepat untuk di baca di tempat mana pun: di kereta, di pesawat, (jangan di motor juga), di kampus, di kafe, di masjid, di dapur, apalagi di depan tv. Rasanya bisa langsung diamalkan, gitu. *mungkin ini saya yang bias*
Lebih singkatnya lagi, buku ini mengisahkan tentang suatu "kebencian" yang diwariskan kepada generasi-generasi penerus. Apakah kita, yang digadang-gadang sebagai generasi disruptor, akan melanjutkan tradisi yang sama?
Dikupas dengan mendalam dan jernih dengan bahasa yang lugas menjadi salah satu kelebihan dari kumpulan tulisan Buya ini. Bagaimana asal muasal perpecahan yang terjadi dalam tubuh umat Islam selama ini juga dikupas dengan jernih, membuat pembaca menjadi paham betapa semua pertengkaran dalam Islam sendiri sejatinya adalah pertarungan perebutan kekuasaan yang sudah menahun dan bahkan melepaskan Al Quran sebagai pedoman hidup.