"Jika Pramoedya berkata bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, barangkali saya harus berhenti menulis. Sebab saya takut dengan keabadian. Saya takut dengan sesuatu yang tidak pernqh berakhir."
Apeirophobia adalah rasa takut yang sulit dijelaskan. Sekalipun telah ada definisinya, menerangkannya secara detail adalah perkara yang rumit, terutama kepada mereka yang tidak mengalaminya. Coba bayangkan, apa jadinya bila Anda justru takut menjadi abadi, takut hidup selama-lamanya tapi juga takut mati? Rasa takut yang muncul tiba-tiba, mampu membuat badan gemetar, hingga seperti angin berteriak. Padahal banyak orang justru menginginkan keabadian, mereka ingin cinta mereka abadi, ingin kekayaan mereka abadi, ingin kekuasaan mereka abadi, ingin hidup mereka abadi. Namun bagi pengidap phobia ini, ketika keabadian tampak jelas terutama setelah kematian, hal itu justru amat menakutkan.
Apeirophobia berisikan kumpulan cerpen yang temanya unik2, imajinatif, dan berbau surealis. Ada beberapa judul yang w enjoy dan beberapa yang w ga paham sama sekali maksudnya. But still a fun read!
Mudah sekali utk saya tahu bagaimana perasaan Sungging Raga dalam menuliskan setiap kalimatnya.. Mungkin juga karena begitu kontekstual dengan perasaan saya, pembacanya.. Ketakutan Sungging Raga, kesedihannya, kegelisahannya, kesepiannya... Sejak saya membaca pengantarnya, saya sudah dapat menebak nuansa tulisannya., hal itulah yang membuat saya kemudian memutuskan utk membacanya hingga akhir.. . . Pada bagian cerpen-cerpen yang awal, Sungging Raga begitu mulus menguraikan perasaan dan imajinasinya.. Tapi entah mengapa cerpen2 terakhir rasanya agak dipaksakan meskipun tetap dikemas dengan redaksi yang menarik., . I give it 4 of 5 👍🏻
Kumpulan cerpen yang unik, ringan, mengalir, segar, dan lucu. Pada setiap cerita, tokoh utamanya adalah Salem, dan Nalea. Namun keduanya memainkan peran yang berbeda-beda di tiap cerita. Terdapat Salem menjadi ayah Nalea, ada juga Salem menjadi kekasih Nalea, dll. Nalea berperan sebagai Medusa, sebagai Noni Belanda, sebagai anak pemulung, dll.
Keunikan lainnya, penulis (Sungging Raga) yg sebagai penutur juga kadang masuk dan berinteraksi ke dalam kisah fiktif buatannya sendiri, dan pada lain cerita tokoh fiktifnya (Nalea) seolah-olah menjadi nyata dan malah membuat si penulis (Sungging Raga) menjadi lakon pada cerita buatannya Nalea. Haha..
Oh iya, apa kamu juga takut keabadian setelah meninggal? Sehingga bikin pusing kepala?
Kembali ke selera, sepertinya saya kurang cocok sama buku kumcer ini. Setelah beberapa bulan belakangan membaca kumcer Zen Hae, Leila S. Chudori, hingga kumcer para sastrawan Jepang (di buku Tahun Spageti), saya berharap hal yg sama saat membaca buku ini. Bagi saya cerita yg "menarik" adalah yang meninggalkan kesan mendalam setelah membacanya. Dan saya tdk menemukannya dalam kumcer ini. Nilai plusnya, cerpen Mas Sungging Raga ini unik2 dan di buku ini sebagian besar terinspirasi dari lagu2 metal.
Kumpulan cerpen yg berisi ketakutan akan apapun, terutama yg tak bisa dijelaskan. Tokoh utama di semua cerpen di sini adalah seorang lalaki bernama Salem. Ia jadi apa saja, mulai dari penjaga kuburan, pembuat stasiun kereta, tukang becak, sampe tokoh surreal lainnya. Meski mayoritas cerpennya bertema sosial, tapi tak membuat dialognya jadi kaku. Beberapa malah kocak, seperti: “Kau pandai menipu, fotomu di Facebook seperti aktor Korea, ternyata aslinya seperti reruntuhan bangunan kuno abad 18.”
Membaca kumpulan cerpen ini, kadang saya tergelak, kadang mengernyit, tak jarang juga larut dalam kemuraman. Rata-rata bertema surealis. Rata-rata tokoh utamanya Nalea dan Salem. Di penutup cerpen, kembali saya tergelak, kemudian merenung. Tentang tokoh-tokoh cerpen yang mendatangi dan mengomeli pengarangnya. Overall, rata-rata cerpennya saya suka.
Cerita-cerita di buku ini unik dan kaya akan imajinasi, menurutku kebanyakan dari idenya tak pernah terpikirkan oleh penulis biasa (atau aku saja yang belum menemukannya?). Terus ditulis dengan ringan dan santai, tidak sulit dipahami. Kumcer ini asyik dibaca di waktu luang, sambil sedikit merenung mengenai hidup.
Cukup menawan dan sedih. Pas baca bagian "Konsultasi Kematian", benar-benar kerasa hit different (ngangguk-ngangguk sambil oalah ini to kenapa bukunya diberi judul Apeirophobia).
Total ada 27 judul cerita pendek dari dalam buku tersebut. Selain judul di atas, beberapa judul favoritku adalah: "Tidak, Saya Sudah Dijemput." dan "Festival Kenangan."
Unik banget , judul dari beberapa subbab nya terinspirasi dari lagu lagu 🕊️✨ ceritanya juga asik ,walaupun saya tidak terlalu tenggelam dalam cerita ,overall saya suka dengan penyajian ceritanya .