Jump to ratings and reviews
Rate this book

BreadCrumb

Rate this book
Avissa, si bintang populer sejak SMA, merupakan gadis pujaan Ian sampai sekarang. Suatu hari, Ei—panggilan khusus untuk Avissa yang dibuat Ian—meminta untuk menemaninya pergi ke sebuah resepsi pernikahan Alpha, mantan pacar Avissa. Sebuah kesempatan emas bagi Ian…atau Ei hanya memanfaatkannya?

512 pages, Paperback

Published April 30, 2018

2 people are currently reading
23 people want to read

About the author

Jenny Annissa

2 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (14%)
4 stars
8 (28%)
3 stars
14 (50%)
2 stars
1 (3%)
1 star
1 (3%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Autmn Reader.
883 reviews93 followers
February 25, 2022
Actual rating 3,5 🌟

Yuuup, buku ini lebih enak dibaca ketimbang buku pendahulunya, sih, ya. Chemistry di antara dua tokoh juga aku lebih suka. Waaupun jujurly aku emang nggak bgtu suka sama tulisan mendayu-dayu dan flowery cem ini. Ini jelas preferensi masing2, yak. Beberapa rada cringe aja buatku. Kayak yg scene hati patah dan ternyta itu hatiku. Gtulah kira2 kalimatnya. Tapi jelas nggak banyak yg bkin aku cringe. Selebihnya aku suka-suka aja sama ceritanya. Easy to read.

Ceritanya dua POV, dan walaupun vibe-nya sama, tapi seenggaknya bisa dibedain dari kata ganti, wkwk. Tapi emang lbih gampang dibedain juga, sih. Karena bagian Ei bneran mendayu2nya lebih parah dari punyanya Ian.

Seperempat bku ini pengenalan klan2 kluarga di sini yang bikin pusing, jujurly, wkwk. Kalau misalnya blom baca bku sblum2nya di oren bisa aja susah masuk juga. Tapi tergantung juga sih, wkwk.

Selebihnya aku suka buku ini. Interaksi2nya walaupun chessy aku suka aja, wkwkwk. Nunggu buku2 selanjutnya juga dari Mbak Jenny.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
September 3, 2018
Ada yang bilang, jika kita jatuh cinta maka kita juga harus siap untuk patah hati. Sayangnya, kadang-kadang kita tidak siap untuk patah hati, dan kebanyakan malah gagal move on dari hati yang patah.

Seperti itulah yang terjadi pada sosok Avissa. Avissa jatuh cinta setengah mati pada Mas Alpha. Walaupun sudah putus, dia masih berharap hubungan mereka bisa terajut kembali. Sayangnya, Mas Alpha sudah menemukan cinta yang baru.

Avissa pun menjadi terluka. Avissa terlalu fokus pada sosok Mas Alpha, padahal ada seseorang yang memendam perasaan untuknya sekian lama.

Dia adalah Ian. Ian teman SMA Avissa, yang sejak dulu jatuh cinta pada sosok Avissa. Semua orang tahu akan perasaannya, termasuk keluarga dan pegawainya di BreadCrumb.

Hingga kemudian, sebuah undangan pernikahan dari Mas Alpha mempertemukan Ian dan Avissa. Sejak saat itu, mereka menjadi semakin dekat dan timbul kenyamanan satu sama lain.

Masalahnya, maukah Avissa membuka hati dan memberikan hatinya kesempatan kedua untuk menemukan cinta yang baru? Mampukah Ian meyakinkan Avissa? .

Novel kedua Kak Jenny Annissa yang kubaca setelah Best Mistake. Ide cerita yang sederhana, namun membuatku begitu ketagihan saat membacanya.

Karakter Avissa dan Ian, serta tokoh-tokoh pendukung lainnya begitu kuat, sehingga membuatku begitu mudah jatuh cinta dengan kisah ini. Terutama sosok Ian yang sabar banget menghadapi Avissa.

Secara keseluruhan, novel ini akan mengajarkanmu bahwa selalu ada kesempatan kedua untuk kita bahagia, asal kita mau membuka hati. Patah hati bukan akhir dari segalanya. Siapa tahu ada seseorang di luar sana yang tanpa kita sadari adalah orang yang sesungguhnya kita cari.
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
August 6, 2020
Baca Avissa sama Ian ini gregetan banget! Ya wajar sih ya sikap Avissa, setelah dipatahkan hatinya membuat dia harus bisa melindungi diri. Cuman kan klo terus nyakitin diri, lama2 rusak badan dan hati. Apalagi pihak sana yg udah ngehancurin malah, bahagia. Hihh bikin kekih.

Ketemu Ian membuat Avissa merasa nyaman. Tapi ternyata rasa itu tetap membayangi. Ya ketakutan2 Avissa ini susah banget buat dihilangkan.

Gaya berceritanya menarik.

Karakternya, aku suka Ian! Dia bisa membuat orang nyaman, selow, bisa pura2 kalem padahal hati deg2an 😂😂 lucuk sih jadinya. Avissa ini emang orangnya agak keras kepala, dan selalu berkutat dg pikirannya. Jadinya ya gitu deh, banyak asumsi padahal belum tentu hal yg dia pikirkan ini benar. Tapi sedih sih saat dia berusaha untuk kuat, meski hatinya rapuh bgt 😭😭.

Gaya bahasanya ringan dan mengalir. Memakai sudut pandang orang pertama, dengan POV Ian dan Avissa, perasaan dan pikiran mereka digambarkan dg baik. Ngena, baper dan nyesek pulaa. Huhuhu

Interaksinya seru, chemistrynya dapet. Sukaa liat mereka itu, apalagi rasa persaudaraannya hangat.

Konfliknya romansa cinta kental banget, dan juga konflik batinnya. Ya mencoba untuk move on itu emang sulit, tapi ya klo ada niat dan orang yang membantu kan setidaknya bisa lebih mudah. Meski kadang, rasa sakit itu masih ada seiring berjalannya waktu pasti berkurang. Eksekusi konfliknya apik dan rapi, endingnya sukaaa.

Overall, aku menikmati ceritanya. Yg suka cerita roman, bolehlah dibaca 😊
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
November 6, 2019
Saya pribadi lebih menikmati Best Mistake, debut penulis. Lebih padat ceritanya, lebih mengalir, lebih kentara suara tokoh-tokohnya. BreadCrumb memiliki 512 halaman yang sepertiga awalnya diisi dengan b a n y a k pengenalan tokoh dalam semesta cerita keluarga Ledwin (atau Soedirja? Dua marga itu yang sering muncul, plus The Ledwins adalah tokoh-tokoh dalam Best Mistake. Jadi BC ini latarnya di masa depan (?)). Yang sejujurnya saya kurang pahami karena saking berlimpahnya tokoh-tokoh baru ini yang kemunculannya pun hanya sedikit.

Juga, b a n y a k banget klu dan hint untuk cerita yang lain itu, yang tidak bersinggungan dengan konflik utama. Akhirnya saya lewatkan saja. Sayangnya, tampaknya inilah yang membuat halaman novel ini begitu tebal karena kalau tidak ada pun tak akan mengganggu ceritanya.

Saya malah penasaran dengan kisah Renata-Kelana, tapi digantungin! Tanda-tanda ikut masuk satu semesta cerita pula, sepertinya.

Suara Ian lebih non-formal tapi terkadang saya membaca khasnya Avissa bocor di sini. Tak banyak yang menggunakan kata 'netra' sebagai mata, misalnya "menancapkan netra", "netra menyelia", dsb. Jadi saya pikir hanya Avissa yang begitu, ternyata Ian juga. Yang membedakan mana Ian dan Avissa adalah penggunaan kata ganti pertama (Ian: gue, Avissa: aku). Memang sudut pandang Avissa dituturkan lebih baku, tapi karena ada yang mirip dengan suara Ian, tone-nya jadi serupa. Saya sendiri lebih suka membaca tanpa melihat siapa yang bicara, dan salahnya saya jadi bingung di tengah-tengah ketika tidak ada kata ganti pertamanya.

Soal gaya bertutur, BC juga lebih berbunga-bunga. Di BM, porsi puitisnya pas dan beriringan dengan pace cerita. Ada satu adegan ketika Avissa sedang sangat patah hatinya, lalu betul-betul digambarkan dengan narasi, 'Kau dengar itu? Itu hatiku yang patah, berserakan di kakiku' (kalimat lebih tepatnya ada di reading progress), yang lantas membuat saya membayangkan ada kepingan hati retak-retak secara harfiah. Lalu saya enggak jadi sedih 😕

Mengenai tokohnya, hm, Ian cukup oke. Dia setidaknya konsisten. Kekurangpekaannya mengingatkan saya akan Attar di BM. Tapi bucinnya dapet kok, hehe. Saya percaya ada orang yang memendam diam-diam sepertinya. Avissa? Dia cantik, cerdas, kariernya tinggi, jadi pusat perhatian. Tapi sikapnya kadang menunjukkan dia enggak sadar kalau dia dikagumi, sekaligus dia tahu kalau dia menarik? Ketika dia sama Audra, dia seolah-olah bertingkah lebih tinggi derajatnya (sampai bilang 'I'm not like most girls when it comes to Audra') dan mudah menilai Audra sebagai sosok yang tak mengimbanginya, hanya modal tampang dan mapan. Tapi giliran soal keyakinannya pada cintanya Ian, dia malah ragu. Padahal Ian ini udah lebih berusaha demi dirinya.

Seandainya semua bagian trivial dipangkas dan sentralnya jadi lebih terlihat bahwa ini cerita Ian dan Avissa, kisahnya akan terbaca lebih solid. Bagian-bagian backstory seperti kisah di balik nama perusahaan-perusahannya (ini satu sirkel pengusaha beken semua, turunan lagi 😮) sampai nama grup LINE juga tampaknya tidak perlu dituangkan semua karena memperlambat alur. Among The Pink Poppies juga berjumlah 500 sekian halaman, tapi saya enggak merasa capek atau tertatih-tatih membacanya, lancar jaya saja. Karena baru bisa saya nikmati betul-betul setelah lewat perkenalan tokoh sampingannya, bagi yang tidak mengikuti semesta Ledwin seperti saya, coba ikuti dulu pelan-pelan dan bersabarlah karena konflik ke sananya akan semakin seru. Menunggu kisah Kelana dan Renata... asli saya masih penasaran 😕
Profile Image for Yonea Bakla.
322 reviews36 followers
May 10, 2018
Ini novel kedua Kak Jenny setelah Best Mistake. Alpha di sini adalah anak Attar Ledwin dan Liv di Best Mistake. Tapi tokoh utama di Bread Crumb adalah mantannya Alpha sekaligus teman adiknya, Aura, bernama Avissa.

Tema yang diambil sepintas mirip dengan Best Mistake; gagal move on ➡ re-bound person. Tapi dengan pov yang berbeda. Karakter dan sikap jelas beda dengan Attar dan Liv.

Pov 1 Ian dan Avissa (Ei) secara bergantian. Tokoh lebih banyak dan terlihat agak ramai, dibandingkan Best Mistake. Punya peran masing-masing, walau porsinya gak banyak.

Background pekerjaan tokoh Avissa General Manajer suatu hotel dan Ian Owner toko roti Bread Crumb.

Dari segi cerita, Bread Crumb lebih rumit. Tokohnya bikin gemas. Ngapain sih maen rahasia2 gitu? Ish. Kan, jadi salah paham. Plot twist tertebak. Dan ya, pola mirip Best Mistake. Deskripsi dan dialog berimbang.

Setting tempat di Jakarta dan Bandung. Di Bread Crumb, rumah Avissa, rumah Ian, dan beberapa restoran. Karena covernya red velvet, aku berharap banyak membahas Bread Crumb, tapi ternyata tidak. Novel ini berkutat di masalah gagal move-on nya Ian dan Avissa. Jadi, ya ini full romance.

Alur Maju-flash back masa SMA. Ada perbedaan font yang memudahkan pembaca masuk ke cerita. Overall rekomended buat yang suka romance.

Rating usia: 21+
Rating: 3,5/5⭐
Profile Image for Siska.
92 reviews
September 22, 2018
Menggunakan sudut pandang orang pertama dari kedua tokoh utama, yakni Ian dan Avissa. Penggunaan sudut pandang dari kedua tokoh tersebut membuat aku sebagai pembaca merasa larut dalam kisahnya, karena diajak menyelami sudut pandang Ian dan Avissa.
Alur bergerak maju, hanya di bagian awal beberapa kali di ajak mundur sedikit, jalan cerita bergerak lambat (atau bisa dibilang sangat mendetail dalam menjabarkan adegan per adegan) dan lebih berpusat pada kisah Ian dan Avissa. Tapi cara penulis menyampaikannya membuat tidak terasa saat membacanya meskipun novel ini terhitung tebal. 👍
Setting tempat dan waktu dijelaskan dengan cukup baik. Tidak ada kesulitan atau kebingungan saat membacanya.
Konflik di dalamnya terhitung tidak terlalu berat, tapi cukup bikin naik darah dengan kedua tokoh di dalamnya. Yang wanita, karena masa lalunya justru menutup pintu hati dan membentengi diri, yang pria akhirnya sedikit berani berusaha namun mudah menyerah, setelah bertahun-tahun memendamnya. Artinya penulis berhasil membuat pembaca larut dalam kisahnya. Dan menurutku karakter di dalamnya jadi terkesan nyata.
Novel ini ingin menunjukkan komunikasi diperlukan dalam menjalin hubungan dan jangan terjebak dalam asumsi-asumsi yang diciptakan diri sendiri.

"Apa benar-benar nggak ada kesempatan untuk kita?" (hlm 303)
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews125 followers
October 9, 2018
Ini adalah kali pertama bagi saya membaca novel karya Jenny Annissa. Saya ingat dulu pernah ada vote untuk sampul buku ini dan saya sukses dibuat penasaran akan ceritanya. Awalnya saya kira akan ada hal berbau kuliner terutama yang berhubungan dengan pastry di dalam ceritanya. Namun, ternyata saya salah novel ini hanya berfokus pada kisah cinta antara Ian dan Avissa. Sampul bukunya sendiri terlihat cukup sederhana, tapi memikat mata. Tulisa judul buku yang tanpak seperti remahan roti sukses membuat saya lapar. Apalagi latar sampul yang tampak seperti layer cake menambah kesan manis sekaligus menggiurkan. Sayangnya nama penulis menurut saya ukurannya hurufnya terlalu kecil, pun penempatannya terlalu bawah. Akan tetapi secara keseluruhan saya suka dengan sampul bukunya yang sukses bikin lapar.

Cerita cinta anak muda yang ada dalam BreadCrumb terbilang cukup pelik dan rumit. Tema cinta dan berdamai dengan masa lalu masih menjadi formula ceritanya. Di mana di satu sisi ada sosok Ian yang berharap akan cinta Ei, tapi di sisi lain juga ada Avissa yang masih trauma dan belum bisa move on dengan masa lalunya. Tema cerita yang diangkat sebenarnya terbilang umum dan sederhana. Namun penulis sepertinya ingin meracik tema tersebut dengan formula yang lumayan serius dan rumit. Meskipun terbilang rumit, tapi saya sendiri masih bisa menikmatinya. Ada beberapa bagian yang menurut saya terlalu panjang dan dipaksakan, seperti kenangan Ei yang belum bisa melupakan sosok mantan kekasihnya, Alpha.

Tokoh Avissa digambarkan sebagai sosok wanita yang cantik dan berkarisma. Tidak heran jika Avissa selalu menjadi pusat perhatian. Avissa juga seorang wanita karir yang sukses dan mandiri. Avissa memiliki sifat yang impulsif, rapuh, dan egois. Maka wajar saja saat Alpha, mantan kekasihnya, memutuskan hubungan mereka, Avissa langsung hancur dan tidak bisa move on. Tokoh Ian digambarkan sebagai pria dengan mata berwarna biru, ini karena campuran darah Asia dan Kaukasia yang ada dalam tubuhnya. Ian juga merupakan seorang pengusaha muda di bidang kuliner. Ian memiliki sifat yang sopan, tenang, dan mandiri. Ketenangan Ian terlihat saat menghadapi para kakak sepupu Ei yang menyebalkan. Terdapat juga beberapa tokoh lainnya seperti Aura, Raeza, Alpha, Audra, Valdis, dan masih banyak lagi. Menurut saya penulis terlalu banyak memasukkan tokoh yang kurang penting, seperti Audra dan para kakak sepupu Avissa. Kehadiran mereka terkesan tanggung sekaligus bikin geregetan. Apalagi tokoh Valdis yang super menjengkelkan. Namun di balik semua itu saya suka dengan cara penulis dalam mengembangkan karakter para tokohnya. Bisa dibilang setiap tokoh memiliki karakter yang kuat dengan latar belakang mereka masing-masing. Jadi wajar saja jika buku ini cukup tebal untuk ukuran novel romance, karena memang penulis sangat detail dalam menggambarkan setiap tokohnya.

Alur cerita dalam BreadCrumb berjalan cepat dan mengalir. Tidak sulit bagi saya untuk mengikuti alur ceritanya karena gaya bercerita penulis mengalir. Gaya bahasanya sederhana dan ada beberapa kata unik yang dipakai oleh penulis, seperti netra, gegas, gawai, dan lainnya. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama melalui tokoh Avissa dan Ian. Saya suka dengan monolog yang dilakukan oleh kedua tokohnya seakan-akan mengajak pembaca untuk ikut serta dalam pemikiran mereka. Perpindahan sudut pandangnya pun tidak membingungkan karena penulis menyertakan nama setiap tokohnya.

BreadCrumb memiliki konflik yang pelik dan rumit. Konflik tersebut terjadi saat Ian yang memberikan cintanya terhadap Ei atau Avissa mulai merasa jika Avissa belum bisa terlepas dari masa lalunya Alpha. Akibat spekulasi itu pula hubungan mereka mulai retak dan saling salah paham. Konfliknya menurut saya terlalu bertele-tele dan berbelit-belit. Padahal sebenarnya konfliknya sendiri bisa selesai dengan mudah. Hanya saja penulis sepertinya ingin menunjukkan jika Avissa memang sangat terluka dan trauma dengan masa lalunya bersama Alpha. Bagus sebenarnya jika penulis ingin menunjukkan hal tersebut, tapi saya merasa jika hubungan Ian dan Ei ini terlalu berlarut-larut dan bikin gemas.

Rasanya pahit sekaligus manis jalan cerita yang diberikan oleh BreadCrumb. Banyak sekali lika-liku yang harus dihadapi oleh Ian dan Avissa dalam hubungan mereka. Meskipun konfliknya terbilang rumit, tapi kisah ceritanya sendiri sangat enak untuk dinikmati. Jujur saja saya lumayan kesal dengan keegoisan dan betapa impulsif-nya tokoh Avissa ini. Sedangkan untuk tokoh Ian saya merasa kasihan karena penantiannya yang begitu lama. Pokoknya penulis berhasil membangun tokoh yang kuat dalam ceritanya. Secara keseluruhan BreadCrumb merupakan kisah cinta dan masa lalu yang memberikan berbagai macam emosi kepada para pembacanya. Sebuah kisah yang miris sekaligus manis untuk dibaca.

Selengkapnya : https://www.facebook.com/notes/fahri-...
Profile Image for pidaalandrian.
364 reviews5 followers
September 6, 2020
Tentang menerima dan mengikhlaskan. dan pentingnya komunikasi di antara sebuah hubungan.

Seperti Avissa atau Ei yang 'trauma' dan ketakutannya karena takut akan terulang kembali episode patah hati yang membuatnya hancur dan drop sehingga membuatnya memilih mundur dari pada berjuang bersama dengan Ian.

Ian yang mencintai Ei dalam diam dr masa SMA mereka bersama, dan takut mengungkapkan apa yang ada dibenaknya jika sudah menyangkut dengan Ei.

Overall aku suka sama alur ceritanya, wlpn di beberapa bagian ada bagian2 tertentu yang menurutku nggak perlu dijabarkan kali karena akan membuat hal yang gk penting itu menjadi gangguan kecil saat membaca.
142 reviews4 followers
March 14, 2020
Inti ceritanya mirip dengan judul novelnya yaitu BreadCrumb, sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia seperti HTS atau PHP. Jadi tokoh Avissa disini seperti membuat perasaan Ian merasa di php in atas hubungan mereka. Ditambah, Avissa hanya menemui Ian jika dia berada dalam kesulitan saja.
Buku ini cukup fresh temanya, karena kedua tokoh utama yang terperangkap dalam pemikiran masing-masing yang membuat salah paham. Konflik terbangun dengan baik sehingga tak bosan untuk mengikuti kelanjutan ceritanya sampai habis.
Displaying 1 - 11 of 11 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.