Saya pribadi lebih menikmati Best Mistake, debut penulis. Lebih padat ceritanya, lebih mengalir, lebih kentara suara tokoh-tokohnya. BreadCrumb memiliki 512 halaman yang sepertiga awalnya diisi dengan b a n y a k pengenalan tokoh dalam semesta cerita keluarga Ledwin (atau Soedirja? Dua marga itu yang sering muncul, plus The Ledwins adalah tokoh-tokoh dalam Best Mistake. Jadi BC ini latarnya di masa depan (?)). Yang sejujurnya saya kurang pahami karena saking berlimpahnya tokoh-tokoh baru ini yang kemunculannya pun hanya sedikit.
Juga, b a n y a k banget klu dan hint untuk cerita yang lain itu, yang tidak bersinggungan dengan konflik utama. Akhirnya saya lewatkan saja. Sayangnya, tampaknya inilah yang membuat halaman novel ini begitu tebal karena kalau tidak ada pun tak akan mengganggu ceritanya.
Saya malah penasaran dengan kisah Renata-Kelana, tapi digantungin! Tanda-tanda ikut masuk satu semesta cerita pula, sepertinya.
Suara Ian lebih non-formal tapi terkadang saya membaca khasnya Avissa bocor di sini. Tak banyak yang menggunakan kata 'netra' sebagai mata, misalnya "menancapkan netra", "netra menyelia", dsb. Jadi saya pikir hanya Avissa yang begitu, ternyata Ian juga. Yang membedakan mana Ian dan Avissa adalah penggunaan kata ganti pertama (Ian: gue, Avissa: aku). Memang sudut pandang Avissa dituturkan lebih baku, tapi karena ada yang mirip dengan suara Ian, tone-nya jadi serupa. Saya sendiri lebih suka membaca tanpa melihat siapa yang bicara, dan salahnya saya jadi bingung di tengah-tengah ketika tidak ada kata ganti pertamanya.
Soal gaya bertutur, BC juga lebih berbunga-bunga. Di BM, porsi puitisnya pas dan beriringan dengan pace cerita. Ada satu adegan ketika Avissa sedang sangat patah hatinya, lalu betul-betul digambarkan dengan narasi, 'Kau dengar itu? Itu hatiku yang patah, berserakan di kakiku' (kalimat lebih tepatnya ada di reading progress), yang lantas membuat saya membayangkan ada kepingan hati retak-retak secara harfiah. Lalu saya enggak jadi sedih 😕
Mengenai tokohnya, hm, Ian cukup oke. Dia setidaknya konsisten. Kekurangpekaannya mengingatkan saya akan Attar di BM. Tapi bucinnya dapet kok, hehe. Saya percaya ada orang yang memendam diam-diam sepertinya. Avissa? Dia cantik, cerdas, kariernya tinggi, jadi pusat perhatian. Tapi sikapnya kadang menunjukkan dia enggak sadar kalau dia dikagumi, sekaligus dia tahu kalau dia menarik? Ketika dia sama Audra, dia seolah-olah bertingkah lebih tinggi derajatnya (sampai bilang 'I'm not like most girls when it comes to Audra') dan mudah menilai Audra sebagai sosok yang tak mengimbanginya, hanya modal tampang dan mapan. Tapi giliran soal keyakinannya pada cintanya Ian, dia malah ragu. Padahal Ian ini udah lebih berusaha demi dirinya.
Seandainya semua bagian trivial dipangkas dan sentralnya jadi lebih terlihat bahwa ini cerita Ian dan Avissa, kisahnya akan terbaca lebih solid. Bagian-bagian backstory seperti kisah di balik nama perusahaan-perusahannya (ini satu sirkel pengusaha beken semua, turunan lagi 😮) sampai nama grup LINE juga tampaknya tidak perlu dituangkan semua karena memperlambat alur. Among The Pink Poppies juga berjumlah 500 sekian halaman, tapi saya enggak merasa capek atau tertatih-tatih membacanya, lancar jaya saja. Karena baru bisa saya nikmati betul-betul setelah lewat perkenalan tokoh sampingannya, bagi yang tidak mengikuti semesta Ledwin seperti saya, coba ikuti dulu pelan-pelan dan bersabarlah karena konflik ke sananya akan semakin seru. Menunggu kisah Kelana dan Renata... asli saya masih penasaran 😕