Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Empat perempuan bersahabat sejak kecil. Shakuntala si pemberontak. Cok si binal. Yasmin si “jaim”. Dan Laila, si lugu yang sedang bimbang untuk menyerahkan keperawanannya pada lelaki beristri.
Tapi diam-diam dua di antara sahabat itu menyimpan rasa kagum pada seorang pemuda dari masa silam: Saman, seorang aktivis yang menjadi buron dalam masa rezim militer Orde Baru. Kepada Yasmin, atau Lailakah, Saman akhirnya jatuh cinta?

205 pages, Paperback

First published January 1, 1998

302 people are currently reading
4450 people want to read

About the author

Ayu Utami

37 books777 followers
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1,675 (22%)
4 stars
2,830 (37%)
3 stars
2,310 (30%)
2 stars
634 (8%)
1 star
153 (2%)
Displaying 1 - 30 of 882 reviews
Profile Image for John.
282 reviews67 followers
May 21, 2010
The story of an Indonesian activist told by a young female Javanese expat living in NYC and working for a human rights NGO. The writing is evocative, even sensual at times, and despite some rough edges it manages to paint a very convincing and fairly tragic picture of poor rural Indonesian communities being exploited and killed under the nose of a numb, corrupt state.

Against this setting, Saman, a former priest, stands up for a small community being violently pressured to sign over their lands to a new palm oil plantation. He is then captured, imprisioned and tortured, and manages to escpae. Saman's moral, political and philosophical digressions make for engaging reading, as does his sexual "awakening" later on. Sex, actually, playes a larger role in this novel than I would have suspected, putting in pretty stark relief the intense sexual repression in Indonesian society, particularly the smaller and more rural ones.
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
October 13, 2010
inilah buku Ayu Utami yang pertama kali saya baca. Tahun 2006 saya sudah membeli bukunya Larung, namun saya sendiri sampai sekarang belum membacanya. Saya termasuk terlambat membacanya, karena sudah 12 tahun berlalu dari pertama kali dicetak, barulah saya berkesempatan.

Novel ini mendapat banyak pujian. sambutan tersebut dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia. Dari dunia akademis juga memberikan sumbangannya lewat karya ilmiah suatu penelitian mengenai novel Saman dan Larung. Beberapa judul karya akademis yang mengupas novel ini yaitu sebagai berikut.

1. Skripsi: Perilaku Seksual dalam Novel Saman Karya Ayu Utami. Oktivita, Universitas Muhamadiyah Surakarta (2009).

2. Skripsi: Pandangan Dunia Pengarang dalam Novel Saman karya Ayu Utami. Lina Puspita Yuniati, Universitas Negeri Semarang, 2005.

3. Jurnal: Novel Saman dan Larung dalam Perspektif Feminin Radikal. Baban Banita S.S. M.Hum, Universitas Padjajaran, Bandung (tanpa tahun).

4. Jurnal: Challenging Tradition: the Indonesian novel Saman. Rochayah Machali dan Ida Nurhayati, UNSW, Sydney (tanpa tahun).

5. Jurnal: Sexuality, Morality, and the Female Role: Observation on recent Indonesian Women’s Literature. Monika Arnez and Cahyaningrum Dewoyati, Universitat Hamburg and Universitas Gajah Mada (tanpa tahun).

6. Thesis: Narrating ideas of Religion, Power, and Sexuality, in Ayu Utami's novels: Saman, Larung, and Bilangan Fu. Widyasari Listyowulan, Ohio University, 2010.

7. Thesis: No Woman is an Island: Reconceptualizing Feminine Identity in the Literary Work of Ayu Utami. Micaela Campbell, University of Victoria, 2001.

8. Perlawanan perempuan terhadap hegemoni laki-laki dalam novel Saman dan Larung karya Ayu Utami (sebuah pendekatan feminisme). Agustina Fridomi, (tanpa tahun).

Keberadaan Saman, tentunya tidak dapat dipisahkan dari kedua novel Ayu Utami lainnya, yakni Larung dan Bilangan Fu. Dari ketiga novel itu persoalan power, gender, dan sexuality diangkat oleh Listyowulan (2010) dalam thesisnya. Ia menyimpulkan bahwa Novel Ayu Utami 'menyuarakan' ketiga point tersebut dalam kehidupan manusia di Indonesia. Berikut petikan konklusi thesisnya.

To recapitulate the discussion in this thesis: the three points offered in Utami’s novels Saman, Larung and Bilangan Fu are the contention between traditional and orthodox religions, the clash of power that occurs between state and individual, and the freedom of expressing women’s sexuality (Page 147).

Saman adalah cerita tentang suatu hubungan persahabatan dan suatu tindakan besar untuk mengatasi masalah. Persahabatan itu antara empat wanita muda, Yasmin Moningka, seorang pengacara sukses yang bekerja di Law Firm ayahnya. Laila, seorang penulis dan fotografer. Shakuntala, seorang penari yang sedang menempuh studi master di New York. Terakhir, Cok, seorang wanita pengusaha. Dengan tokoh utama: Saman atau Wisanggeni, seorang Pastor yang beralih menjadi aktivis hak asasi manusia.

Permulaan cerita ketika Laila bertemu dengan Sihar Situmorang, seorang sarjana pertambangan disuatu offshore di Prabumulih, Sumatera Selatan. Konflik dalam dunia kerja pertambangan yang didominasi oleh pria, menjadi tontonannya ketika ia ke lokasi tersebut. Ia ke sana untuk mengambil beberapa capture sebagai bahan iklan perusahaan minyak yang mengontrak agensinya. Ia kagum pada Sihar karena kekerasan hatinya untuk melawan atasannya (lebih tepat rekanan) yang memaksa Sihar agar pengeboran dilakukan. Ia menyaksikan bagaimana Sihar berargumentasi dan dengan risiko kehilangan pekerjaan. Alhasil, perhitungan yang tepat oleh insinyur tambang itu memang benar. Alat bor tidak bekerja semestinya, dan mengakibatkan gempa lokal dan salah seorang rekan Sihar terlempar ke laut dan tak berbekas raga.

Laila mengenalkan Sihar pada Saman. Siapa Saman? Nama aslinya adalah Wisanggeni. Dia tadinya adalah seorang Pastor yang bertugas di Prabumulih. Apa yang menyebabkan ia bertugas di Prabumulih, tergambar dalam novel ini. Ia terikat dengan kenangan masa kecil. Masa kecil yang cukup mistis. Ibunya mengalami kejadian mistis ketika sedang mengandung adiknya, mengalami kejadian aneh, dan bayi dalam kandungan tersebut hilang begitu saja. Misa Requeim dilakukan. demikian hal tersebut terjadi kembali. Perut ibunya yang tadinya hamil, mendadak lenyap bersama suara-suara yang didengar Wisanggeni tiap malam. Ibunya meninggal, dan ia memutuskan masuk ke Seminari. Pengalaman mistik di Prabumulih membuat Wisanggeni ingin menyusuri kembali masa kecilnya di rumahnya dulu. Ia bertugas di satu gereja katolik kecil di sana.

Dimanakah ada potret ketidakadilan? jangan lihat di lukisan atau di buku-buku filsafat, tapi lihatlah di sekeliling. Pemerintah masa lalu yang merajalela dengan mengatasnamakan demi keadilan, justru berlaku tidak adil di tanah Prabumulih. Dengan berdalih bahwa akan membangun suatu perkebunan sawit yang menyejahterakan masyarakat, aparat pemerintah daerah mendatangi tiap penduduk untuk menjual tanah miliknya. Siapa lagi yang berkepentingan kalau bukan pengusaha yang rakus dan menyuap para penguasa.

Wisanggeni bersama dengan masyarakat setempat berusaha membangun kembali lahan yang tidak mau dikompromikan dengan cara menanam kembali pohon-pohon karet muda, diharapkan berproduksi lama dan tentu meningkatkan ekonomi mereka. Namun apa yang membuat Wis bertahan adalah kesedihan hatinya melihat Upi ketika ia kembali ke rumah masa kecilnya. Upi digambarkan adalah seorang gadis remaja yang memiliki gangguan jiwa sampai pada taraf mengganggu dan meresahkan. Masyarakat disana tidak tahu bagaimana merawat atau mendampingi Upi. Yang mereka lakukan adalah memasung dan memasukkan Upi ke sebuah ruangan yang dilihat Wis seperti kandang burung.

Di bagian dunia yang lain, Shakun Tala meninggalkan Indonesia karena menerima beasiswa. Ia seorang penari. Dalam novel ini ia bercerita dari sudut pandangnya sebagai seorang anak dari ayah yang ia benci, seorang sahabat bagi tiga orang. Ia meninggalkan apa yang orang bilang itu norma. Baginya, hidup dengan pilihannya sekarang adalah hidup atas kebebasan, yang ia pertanggungjawabkan sendiri. Ia muak dengan segala kemapanan dan aturan yang mengatakan bahwa wanita harus menjaga diri sebelum menikah, dan sebagainya. Dan baginya adalah suatu hal aneh ketika menyaksikan temannya Laila begitu tergila-gilanya dengan Sihar yang telah beristri. Ia menyediakan tempat bagi ketiga sahabatnya untuk menemani Laila yang akan bertemu Sihar di New York, karena di Jakarta tidaklah bisa.

Siapa Saman? itulah nama baru Wisanggeni. Ia menggunakan nama Saman untuk menghilangkan jejak dari kejaran aparat. Apa yang dilakukan di Prabumulih membuat gerah pengusaha dan aparat. Ia dicari dan pernah disekap oleh intelijen. Hal itu tidak membuatnya trauma, malah ia meminta kepada paroki agar ia "dibela" namun sepertinya gereja juga tidak mau mengikutkan dirinya pada pilihan Wis, dan Wis menempuh jalannya sendiri. Ia keluar dari kepastoran, dan menjadi aktivis hak asasi manusia. Ia beralih nama menjadi Saman, dan ia pun berkenalan dengan Yasmin Moningka. Wis pernah menjadi pembimbing rohani mereka berempat ketika mereka masih SMP.

Apa yang terjadi diantara Saman dan Yasmin sesungguhnya adalah realita yang dibungkus dalam cerita novel. Ada banyak keraguan menenai konsep-konsep hidup. Misalnya, bagaimana persepsi Hawa ketika disalahkan karena menggoda Adam? Apa pandangan patriarki ketika melihat suatu "imajinasi" yang terlalu liar?

Agar pemahaman topik ini bisa utuh, memang lebih baik dilanjutkan dengan novel ayu utami selanjutnya. jadi, saya harus baca lagih nih kelanjutannya. :)



Sekilas tentang Penulis
Yustina Ayu Utami lahir di Bogor, Jawa Barat tahun 1968. Novel pertamanya ini merebut perhatian pembaca dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri yaitu pemenang pertama dalam sayembara oleh Dewan Kesenian Jakarta, 1998 serta penghargaan The Prince Claus Prize di tahun 2000 dari negeri Belanda.
Apa yang menjadi warna baru dalam dunia sastra Indonesia oleh karya Ayu Utami ini mendobrak ketabuan dalam norma penulisan, salah satunya adalah kata-kata seperti orgasme, masturbasi, organ kelamin, dan kondom disebutkan berkali-kali.

Utami menyelesaikan S1-nya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Anak bungsu dari 5 bersaudara ini memilih menjadi penulis. Ia juga sebelumnya berkarir di dunia jurnalistik (sampai sekarang?). Media tempat ia berkarir antara lain Majalah Forum Keadilan, MATRA, KALAM dan salah satu pendiri Aliansi Jurnalistik Independen (AJI). Mungkin karena terlibat dalam dunia jurnalistik, bobot fakta yang ia tampilkan dalam novelnya ini lebih terasa tidak fiksi, seolah mendekati keadaan sebenarnya. Dari latar belakang ini saya bisa menyimpulkan bahwa penulis yang juga sekaligus jurnalis, memasukkan fakta-fakta yang tidak tersembunyi yang mereka temukan kepada pembaca, sekaligus memberitahu ada sesuatu hal yang serius dengan fakta itu. Dan mereka punya pena untuk menuliskannya.

Akhirnya, dengan kemampuan saya yang sangat terbatas, saya mengapresiasi karya ini, karena satu hal. Ayu Utami berani. berani menuliskan, terlepas dari apakah itu suatu bentuk ketidaksopanan dalam beretika menulis, saya rasa itu relatif jika dikaitkan dengan suatu cita-cita yang tidak munafik.

@hws121010

Profile Image for Sheila.
478 reviews109 followers
October 30, 2020
To read the English version of this review, please scroll down.

Saman merupakan suatu bentuk manifestasi kemerdekaan ; dari represi, - jiwa, - seksual, - beriman, dan - sastra, terutama mengingat latar waktu era Orde Baru-Reformasi. Saya merasa buku ini membawa makna yang dalam dengan pembawaan gaya tulisan yang seperti bercerita-yang sebenarnya mungkin memudahkan pembaca untuk menelan kedalaman itu-namun sayangnya tidak sampai ke saya sepenuhnya.

Ini cerita tentang Saman.
Athanasius Wisanggeni, atau yang kemudian akan disebut Saman, adalah tokoh yang kompleks dan manusiawi : penuh kontradiksi dan cinta. Saya sangat mengagumi perkembangan karakter yang dialaminya, dan bagaimana Ia menuangkan cintanya pada sekelilingnya. Penulis berhasil menggambarkan pasang-surut keimanannya dengan baik melalui peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi di sekitarnya. Saya selalu percaya, untuk menjadi orang beriman adalah untuk jatuh dan bangkit lagi, dan dapat jatuh lagi untuk kemudian bangkit.

Ini cerita tentang seksualitas.
Penulis menggunakan para tokoh perempuan untuk mendobrak ketertutupan seksualitas, terutama pada wanita. Salah satu tokoh favorit saya, Shakuntala, merayakan seksualitasnya dengan bebas dan indah, bak menari.

Ini cerita tentang kebebasan berpendapat melalui sastra.
Saya dapat melihat buku ini sebagai bentuk konkrit realisasi buah pikir penulis, yang pada saat buku ini diterbitkan tidak dapat disampaikan dengan sembarangan. Indah, namun juga mencekam dan penuh kepahitan.

Namun, kembali. Latar waktu, perasaan gelisah, dan aura abu-abu yang dibawakan penulis menghimpit dan menyulitkan saya membaca. Buku ini sangat terkonsentrasi pada karakter-karakternya, dan di saat yang bersamaan tidak memiliki plot yang jelas. Buku ini tidak menghibur saya. Seringkali saya tidak merasa apa-apa. Saya mungkin tidak akan membaca buku ini untuk kedua kalinya.

Dan di saat yang bersamaan saya bisa bilang kalau buku ini memang pantas mendapat segala penghargaan di dunia ini.

"Waktu adalah hal yang aneh sekali. Bagaimana dia bisa memisahkan kita dari kita di masa lalu?"


Saman is a manifestation of freedom ; from repression, of the soul, of sexuality, of faith, and of literature, especially remembering the time setting of Orde Baru-Reformasi. I feel like this book presents deep meaning with storytelling-like narration-which supposedly makes it easier for the reader to swallow the deepness-but unfortunatelly doesn't meet me wholly.

This is a story of Saman.
Athanasius Wissangeni, which later will be called Saman, was a complex and humane character : full of contradiction and love. I adore the character development, and how he pour his love to his surroundings. The author managed to portray his faith's ebb and flow through bad events that happened around his life. I believe, to have faith is to fall and to rise up, and to fall again to finally rise up.

This is a story of sexuality.
The author used female characters to bust sexuality closure, especially in women. One of my favorite character, Shakuntala, celebrate her sexuality freelly and beautifully, just like dancing.

This is a story of freedom of speech through literature.
I can see that this book is the authors thoughts' concrete realization, which at the time this book was published cannot be said carelessly. Handsome, but also gripping and full with bitterness.

But then, again. The time setting, the restless feeling, and grey aura that the author managed to bring squeezed the life out of me and makes it harder for me to read. This book concentrated heavily on the characters, which at the same time means that this book has no real, clear, plot. This book did not amuse me. Oftenly, I don't feel anything. I might not going to read this twice.

And at the same time I can say that this book deserves all the appreciation in the world.

====================================================
Saya tidak merasa terhibur, bosan di sana-sini, tapi saya tidak bisa berhenti membaca buku yang plotnya berputar pada tokoh ini. Resensi lebih lengkap akan segera saya tulis.
Profile Image for bakanekonomama.
573 reviews84 followers
August 28, 2019
Udah nih begitu aja? Nanggung amat. Tapi kok nanggungnya nggak bikin saya tertarik buat baca dua sisanya, ya? Tapi kebetulan di rumah ada "Larung", jadi mungkin akan dibaca nanti...

Saya sebenarnya nggak ngerti, apa tema utama dari novel pertama trilogi "Saman" ini. Rasanya Ayu Utami ingin menampilkan semua tema yang dianggap penting bagi dirinya (ketidakadilan, seksualitas, agama, perempuan, patriarki, dll.) dan memaksakannya dengan benang merah berupa seorang bernama "Saman". Namun sayangnya, saya justru jadi nggak bisa menemukan apa benang merahnya. Kisah Laila dan Shakun (namanya Shakuntala, tapi dia memotongnya jadi dua supaya Tala menjadi nama keluarganya karena dia nggak mau pakai nama bapaknya, maka sebagai orang Indonesia yang sok akrab saya akan memanggilnya Shakun saja) buat saya nggak relevan dengan isinya dan justru mengganggu. Laila mengganggu karena dia naif tapi justru berhubungan dengan pria beristri dan kebencian Shakun yang nggak jelas kepada ayahnya buat saya sangat mengganggu juga. Apalagi cerita si Shakun ini tepat setelah kisah Saman yang sedang seru-serunya. Sungguh sangat mengganggu.

Saya juga merasa ada lompatan-lompatan logika yang membuat kening saya berkerut-kerut. Entah itu menunjukkan keahlian Ayu Utami dalam mengolah tokoh-tokohnya atau entahlah apa. Lompatan itu khususnya saya rasakan dalam kisah Laila dan Shakun.

Misalnya dalam kisah Laila, di halaman kedua, dia bicara tentang kebahagiaan yang dialami olehnya lalu diproyeksikan kepada unggas dan secara tidal langsung kepada seorang gembel yang sedang tidur. Mau tidak mau saya jadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin dia tahu apakah unggas-unggas itu berbahagia atau apakah si gembel memang benar-benar menikmati tidurnya?

Perubahan tokoh cerita dari Saman ke Shakun juga terasa tidak mulus dan membuat saya bertanya-tanya, apakah ini memang ditulis oleh orang yang sama? Tapi, ya itu. Mungkin Ayu Utami memang jago dalam menokohkan sehingga dia bisa membuat dirinya menjadi Laila yang naif, atau Shakun yang pemberontak dan berusaha keras untuk menunjukkan dirinya sendiri, atau Saman yang saya lihat begitu logis tapi ia ingin mendapat jawaban atas hal-hal mistis yang dialaminya.

Ayu Utami juga mengajukan pernyataan-pernyataan dan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik nalar saya. Misalnya ketika Sihar (si lelaki beristri yang selingkuh dengan Laila) ingin putus hubungan karena takut ketahuan istrinya, Laila berkata, "Nah, kini kamu merasa berdosa. Padahal kita belum berbuat apa-apa." Apakah gadis yang naif dan polos tidak tahu bahwa berdua dengan lelaki beristri, berpacaran dengannya, berciuman dengannya, bahkan sehotel berdua dengannya meski tidak melakukan hubungan sudah sangat "berbuat apa-apa"?

Selanjutnya di bagian Saman (yang belum menjadi Saman tapi masih menjadi Wis), saya sebenarnya merasa kecewa karena Saman kecewa kepada Tuhan "hanya karena" Tuhan tidak menyelamatkan Upi, gadis "gila" yang dicintainya. Apakah kepercayaannya kepada Tuhannya sebegitu dangkalnya? Tapi, keyakinan saya dan Saman memang berbeda maka pandangan saya dan dia terhadap Tuhan tentu juga berbeda. Jika Saman (atau Wis) menganggap Tuhan tidak ada karena tidak menolongnya di saat susah dan tidak menyelamatkan Upi, maka yang saya pahami adalah Tuhan saya tidak memiliki kewajiban kepada makhluknya untuk menolong mereka ketika mereka kesulitan. Ketidakhadiran apa yang dianggap sebagai pertolongan Tuhan tidak serta merta menunjukkan ketiadaan Tuhan. Tapi seperti yang saya bilang, itu yang saya pahami di agama saya, mungkin tidak di agamanya. Jadi tidak masalah jika ini dipahami sebagai dua keyakinan yang berbeda, yang bermasalah adalah jika ini dianggap sebagai keyakinan yang universal.

Saya juga agak heran ketika Saman bilang dia kecewa dengan gereja, padahal awalnya dia bilang dia kecewa dengan Tuhan. Padahal juga, dia masih bisa hidup setelah hal-hal sulit mendekati kematian yang dialaminya karena bantuan orang-orang gereja. Maka ketika dia kecewa kepada gereja, siapakah yang membuatnya kecewa? Orang-orangnya kah? Atau bangunan fisiknya kah? Karena dalam cerita Saman tidak menunjukkan perselisihan dengan gereja dan kekecewaannya kepada Tuhan sangatlah subjektif dan hanya dari pengalaman pribadinya saja.

Sebenarnya masih ada hal-hal lain yang ingin saya sampaikan mengenai cerita ini, tapi mengetik dengan menggunakan smartphone itu tidak terlalu enak. Selain itu, saya juga baca buku ini melalui iJak jadi malas menyusuri bookmark-bookmark yang saya berikan setiap beberapa halaman.

Saya pribadi merasa, cerita ini akan menjadi menarik jika hanya fokus kepada Saman dan pengalaman-pengalamannya, baik yang mistis maupun tidak, karena apa yang dialami Saman sesungguhnya sangat penting untuk memahami suasana zaman ketika itu. Oh iya, rentang waktu yang panjang juga sesungguhnya membuat saya bingung dan harus cek berulang-ulang. Mungkin ada yang bilang bahwa saya harus lanjut ke dua buku sisanya, tapi setelah baca review orang-orang (termasuk review seorang dosen Prodi Indonesia FIB UI), saya malah ragu saya akan mendapatkan kepuasan dari dua buku sisanya.

Karya ini kabarnya mungkin memang menjadi pendobrak di masanya karena belum ada perempuan Indonesia yang menuturkan soal keperempuanan seperti yang Ayu Utami lakukan. Namun, menyampaikan keperempuanan dengan cara seperti itu apakah memang betul-betul tanda kebebasan jika apa yang disampaikan ternyata tidak jauh berbeda dari cara lelaki menyampaikan kebebasannya? Sepertinya untuk hal ini perlu dilakukan kajian yang lebih serius mengenai apa itu kebebasan agar dapat mengenai hal-hal yang substantif dan tidak terjebak pada hal-hal yang materialistis belaka. Termasuk ketika melihat kebencian-kebencian yang digambarkan penulis di kisah ini, maka perlu dilihat apakah penyebab kebencian itu awalnya muncul bukan sekadar memperlihatkan fakta tapi tidak menggali ke hal-hal di sebaliknya.

Ngomong-ngomong, saya iseng buka-buka KBBI dan mencari arti Saman. Ternyata ada. Artinya adalah: dakwa; dakwaan; surat sita; dan panggilan untuk menghadap pengadilan.

Padahal waktu saya baca nama Saman, yang ada di kepala saya malahan shaman. Saya bahkan nggak kepikiran sama sekali ke Tari Saman. Tapi rupanya, nama Saman juga memiliki makna simbolik juga di baliknya.
Profile Image for Missy J.
629 reviews107 followers
April 24, 2022
Since I read an article about the author Ayu Utami a few years back, I have wanted to read one of her books for a long time already. She struck me as a very brave and forward-thinking female author in a country dominated by patriarchy. Earlier this year, I finally managed to buy a copy of Saman, even in its original language! Yay! Furthermore, it was the perfect length for me (just over 200 pages).

Well, what can I say now? I think I understand why this book mostly got average ratings. It started off really good. We meet Laila, a photographer who is assigned to take promotional marketing photos for an oil drilling company. On site, she falls in love with Sihar Situmorang, a Batak engineer with a strong personality and a penchant for justice. They witness a cruel accident and grow close to each other during the legal aftermath. However, he is married and Laila is much younger than him. During the legal case, we meet Saman and then suddenly the next 3/4 of the book focuses on him. We get a ghost story and we get another social justice issue - rubber farmers who are harassed by a palm oil company that wants to take their land away. Saman, who has taken his vows in a parish is completely obsessed by their troubles. Things get worse and Saman's path crosses again with the four women, whom the author supposedly focused on: Laila, Cok, Yasmin and Shakuntala. We never get a proper ending for Laila, which bothers me a lot. I wanted to know what happened to her and Sihar. Her story didn't fit at all with the second half of the book and Saman. I don't recall hearing Cok's voice. There are chapters narrated by Shakuntala, but I thought they were redundant. It was just her ranting about Laila's devotion to Sihar and how the friendship formed between the four women. Yasmin suddenly emerges towards the end of the book and took on an important role, but I didn't manage to warm up to her because the story was about something else before she even entered. So, all in all, the story is all over the place. Maybe I should read the next book, so I can get some answers to my questions? Or will I just get more confused? What also annoyed me a lot are the many typos and spelling errors. This book is like a mishmash of an Indonesian Sex in the City with a ghost story and several serious social justice issues (oil mining, palm oil company, freedom of press) thrown in.
Profile Image for Bronwyn Mauldin.
Author 4 books7 followers
July 15, 2010
Saman is the story of how a Catholic priest in the world’s most populous Muslim country, Indonesia, becomes a human rights activist called "Saman." Author, journalist Ayu Utami, turns the familiar tale of the crusader for justice on its head by folding Saman's story into that of a group of young women who knew him when they were school girls and he a newly-ordained priest.

Laila is the good girl who always falls for men she cannot have. Shakuntala the dancer who breaks her name in two for an American grant. Cok the bad girl exiled by her family. Yasmin the serious attorney trapped in a dull marriage. As these girls grow up and explore their sexual identities, the priest comes into his own, and with their help, is reborn.

The story unfolds in layers, spanning the globe from one former Dutch colony (Indonesia) to another (New York), in only 180 pages. We read the story through several points of view, and through narrative, letters and emails. Watch for small details casually dropped along the way, as they add up to a powerful tale that is as much about the diversity of modern Indonesia as it is about any one person’s search for justice and freedom.
Profile Image for oshizu.
340 reviews29 followers
August 6, 2020
2.5 stars rounded up. Episodes told from alternating and interconnected narratives--beginning with four girls who've remained friends from girlhood--to portray the politicization and radicalization of the eponymous Catholic priest.
I'd been convinced I would give Saman a 4-star rating until I reached the last section with Jasmin ans Samn. That's the point where my rating dropped to 2.5 stars. The first 80% of the novel, however, was fascinating.
Profile Image for Iman Danial Hakim.
Author 9 books384 followers
September 7, 2018
Saya menamatkan novel ini pada pagi tadi. Saman dinobatkan sebagai pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 sekaligus melonjakkan nama Ayu Utami ke ranah sastera Indonesia.

Novel ini bermula dengan kritikan sosial terhadap penguasa-kapitalis yang haloba. Insiden letupan di pelantar minyak milik syarikat Texcoil Indonesia membuka tirai cerita. Ayu menggarap perihal keangkuhan kapitalis yang mahu membungkam mulut keluarga mangsa letupan dengan pelbagai teknik kotor.

Sebagai karya yang lahir di tengah kemelut politik Reformasi Indonesia, pastinya Saman sarat dengan isu korupsi, kronisme dan nepotisme yang membarah di era Suharto.

Subplot pertarungan dua kelas antara pengusaha dan petani juga jelas menggambarkan pandangan kritikal Ayu Utami terhadap golongan pengusaha. Kita dapat merasai jerih perjuangan seorang paderi mempertahankan perkebunan getah masyarakat kampung menentang badai nafsu tamak konglomerat kelapa sawit.

Sedikit hal sensual dan seksual yang disentuh mungkin membuatkan sesetengah pembaca kurang senang. Ia sebuah naskhah dewasa
mencakupi dimensi politik, sosial, agama dan iman - Saman menangkap carut-marut zamannya, sehingga karya ini terlihat berbaur antara suci dan keji.

(Saya sudah terbiasa membaca perihal taboo ini di dalam karya-karya Jepun, justeru ia tidak menganggu penilaian secara jujur; jika mahu dibincangkan dari sudut moral. 3 bintang untuk kreativiti dan 4 bintang untuk keunikan teknik cerita yang digunakan. 3.5 bintang secara keseluruhannya)
Profile Image for Lasse.
2 reviews3 followers
October 22, 2007
The first book by an indonesian writer I have ever read.
I have to admit that I'm still a bit puzzled about the meaning and the symbols in it, but as I kept thinking about it and read more about the reactions this book provoced, I realized that it's a very brave book. Sexuality, religious conflicts, the effects the Transmigrasi policy in the 70s, friendship, love, everything is brought up here. It is both, the story of the main characters of the book and their moving fates and a reflection about Indonesia. I'll definately read it again later in my life because it still captivates me somehow, even though I can't exactly say why. One thing is for sure: It is an interesting story and the discussions this book unleashed make it worth reading.
Profile Image for Nazmi Yaakub.
Author 10 books279 followers
July 10, 2015
Saman melonjakkan nama Ayu Utami di mandala sastera Indonesia menjelang kejatuhan regim Suharto apabila novel itu dinobatkan sebagai pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1998.

Novel mantan wartawan Matra ini pernah menggegarkan dunia sastera Indonesia kerana kontroversi unsur seksual, selain menghantar mesej berunsur politik secara tajam dan isu agama lewat karya penulis muda itu.

Dua tahun selepas memenangi sayembara itu, Saman sekali lagi menarik perhatian dunia apabila dianugerah Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund yang beribu pejabat di Den Haag, Belanda.

Novel ini dimulai dengan babak romantis, Laila menanti kedatangan teman lelakinya, Sihar, dan Ayu sudah mendedahkan unsur seksual novel ini sejak awal lewat puisi di halaman 3 (Kuinginkan mulut yang haus/ dari lelaki yang kehilangan masa remajanya / di antara pasir-pasir tempat ia menyisir arus).

Novel ini bergerak dari insiden letupan tragik di pelantar minyak milik Texcoil Indonesia yang mengorbankan tiga jiwa, termasuk rakan Sihar, Hasyim Ali yang bekerja dengan Seismoclypse, akibat kedegilan dan keangkuhan Rosano.

Tidak sukar menangkap kritikan politik seawal babak kedua apabila Sihar menjawab usul Laila yang mencadangkan kes itu dibawa ke muka pengadilan pada halaman 21: "Kamu fikir Rosano itu siapa?" Saat itulah ia menceritakan bahawa Rosano punya ayah seorang pejabat. "Texcoil punya uang lebih dari yang diperlukan untuk membungkam keluarga Hasyim dan polisi."

Harus diingatkan novel ini muncul ketika isu KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) sedang asyik berlegar di sekitar pemerintahan Suharto.

Demi memastikan kematian Hasyim tidak ditelan Laut China Selatan selama- lamanya, Laila mempertemukan Sihar dengan Saman dan Yasmin; mengimbas kembali sejarah hidup Saman atau nama sebenarnya Athanasius Wisanggeni (Wis).

Babak imbas kembali Saman ini banyak mendedahkan unsur politik, seksual dan agama yang menjadi tabu di Indonesia, sekali gus menjentik simpati pembaca kepada kejahatan Anugrah Lahan Makmur, pihak yang merampas tanah Perabumulih.

Adegan keghairahan gadis kurang siuman, Upi terhadap lelaki dan `kesengsaraan' Wis sebagai paderi bertempur dengan nafsunya apabila digoda Upi, antara unsur seksual dalam novel ini yang menimbulkan kekecohan dalam dunia sastera Indonesia.

Bagaimanapun, Saman berjaya menimbulkan kebencian pembaca terhadap antagonis terutama apabila kejahatan itu tidak mampu ditentang Wis dan penduduk kampung Perabumulih seperti yang dinyatakan pada halaman 110: `Siapapun yang memulai, merekalah yang tetap dipersalahkan oleh hukum. Status mereka kini buron. Orang-orang yang membakar Upi, menggagahi istri Anson, merusak rumah kincir, mencabuti pohon-pohon karet muda, menjadi tidak relevan untuk dibicarakan hakim'.

Saman boleh dianggap antara karya penulis muda yang menjadi rujukan latar belakang sejarah dan sosial yang berlaku pada akhir alaf lalu, terutama di Indonesia, dan diakui unsur seksualnya keterlaluan pasti mengganggu sesetengah pembaca.
Profile Image for Ramadhatil.
17 reviews1 follower
September 4, 2022
Kita pun tidak tahu namanya. Kita cuma tahu, mereka bahagia. Adakah keindahan perlu dinamai?

Gambar dan sajak tak perlu definisi dan tak perlu diterangkan. Mereka cuma menyimpan perasaan. Barangkali juga keindahan.

Manusia berasal dari kosong dan kembali kepada kosong.

Setiap kali ada kesempatan, ia selalu mengubah rasa sakit menjadi humor di kepalanya sendiri.

Semuanya seperti tomat: menggemaskan hari ini lalu layu beberapa hari lagi.

Judul Saman adalah pengambilan dari nama samaran salah satu tokoh di dalam novel ini. Seorang Pastor yang kemudian mengundurkan diri setelah banyak peristiwa yang dia lalui di Prabumulih, tempat kelahirannya.
Novel ini tahun pertama terbitnya tahun 1998, bisa dipastikan Saman dilatarbelakangi masa rezim orde baru di tahun 80an sampai tahun 90an yang terkenal dengan pemerintahannya yang otoriter pada zaman itu.

Novel ini diawali dengan seorang Laila yang jatuh cinta kepada pria beristri. Awalnya kukira ini akan menjadi novel yang terlalu menyebalkan. Ternyata tebakanku melesat jauh karena yang banyak dibahas malah Saman.
Novel Saman adalah cerita dewasa, tentang persahabatan antara perempuan, dalam perspektif perempuan yang kemudian memunculkan tema seksualitas.

Pada bait-bait mendekati akhir, plot twist juga terjadi. Bagaimana rahasia Saman dengan salah satu dari empat perempuan yang bersahabat itu dimunculkan.

Mengamini perkataan Bapak Mangunwijaya, bahwa hanya orang dewasalah yang dapat memahami apa yang ingin disampaikan Ayu Utami, khususnya mengenai dimensi-dimensi politik, antropologi sosial, dan yang paling istimewa adalah agama dan iman.

Novel ini menggunakan alur campuran, serta POV dari orang yang berbeda-beda.
Jujur baca ini tuh awalnya kebingungan banget, kayak gapunya clue apa-apa.
Tetapi setelah itu mengalir saja, karena Ayu Utami mampu mengemas bahasa dan istilah yang berat menjadi sebuah novel yang selalu membuat penasaran pembacanya.

Bagi peminat novel-novel feminis, mungkin Saman adalah salah satu referensi yang layak untuk menjadi bahan bacaan.
Membaca Saman juga bisa membawa kita kepada kesimpulan bahwa tidak ada sekat antara perempuan dan laki-laki, tidak juga perbedaan kedudukan. Semuanya sama.

Saman merupakan dwilogi, buku satunya berjudul Larung.
Selamat mengarungi Saman, dengan segala kata-katanya yang gamblang juga tersirat sekaligus.





4/5 karena satunya saya simpan untuk beberapa kelemahannya.
Profile Image for Shelley Rose.
49 reviews5 followers
July 27, 2019
3 stars for the first 100 pages; 1 star for most everything after that!

There are basically two different stories going on in this book. The first story is centered around Saman, a Catholic priest turned plantation worker rights activist. I really enjoyed his storyline and wish Utami had developed it even further. In this portion of the book, Utami highlights conditions in “transmigration” communities and the heavy hand of oil, rubber, and palm oil industries in Indonesia. We also see Saman explore his sexuality and rethink his vow of celibacy. All good.

Then, there is a secondary (and in my opinion, unnecessary) plot about four women who’ve been friends since their youth. This portion of the book basically serves as a chance to have female characters talk openly about their sexuality and voice their opinions on other societal issues. I didn’t find anything particularly intriguing about these women and the exploration of sexuality here really came off as...tasteless (?). While their story *sort of* ties into Saman’s, it didn’t do so cleanly.

I was totally engaged in this book for the first 100 pages or so, and then it just lost me! It began to feel like Utami simply wanted to provide commentary on every taboo subject in Indonesia (to the detriment of meaningful plot development). Having said that, she certainly brings up important points about environmental and human exploitation, colonialism, orientalism, discrimination against Chinese in Indonesia, religion, and sexuality. I do recognize how important this book was when it was published in Indonesia in light of those taboos, but it really just didn’t work for me.
Profile Image for Glenn Ardi.
72 reviews480 followers
September 30, 2011
Bagi saya, gaya penulis Ayu Utami dalam buku ini belum ada tandingannya di kolong langit. Saya belum pernah membaca suatu novel, yang mana penulis begitu lepas dan bebas mengekspresikan dirinya. Dia menulis apa yang ada dalam pikirannya, serta menuangkannya pada buku ini dengan begitu jujur, berani, apa adanya, tapi juga cerdas ~

Banyak orang mengkritik gaya penulisan Ayu yang kasar dan terlalu berani (terutama perihal seks), tapi saya rasa justru itulah ciri khas serta kekuatan dari tulisan Ayu.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang keberanian Ayu untuk menggambarkan sisi seksualitas dalam buku ini dengan begitu berani, saya jadi berpikir mungkin orang-orang memakluminya dan menganggap itu sebagai suatu sisi kejujuran justru karena ditulis oleh seorang perempuan. Andai buku ini ditulis oleh laki-laki, mungkin buku ini akan dianggap melecehkan kaum perempuan.

Dari sini, saya pikir Ayu Utami telah memanfaatkan salah satu keunggulan yang dia miliki bahwa dia adalah seorang perempuan untuk dapat menuturkan ekspresinya yang berani dlm sisi seksualitas (agar terlihat lebih elegan - ketimbang jika seorang pria yang menuturkannya)
Profile Image for Pulung.
68 reviews12 followers
July 4, 2007
Temanya OK aja, gayanya masih gak papa, tapi tetap menyisakan pertanyaan buat saya:

Kenapa harus dengan cara seperti itu mengungkapkannya?

Beberapa kawan yang banyak bilang cerita ini jorok, sayan bilang nggak. Vulgar iya. Nah ini... Kenapa harus vulgar?

Kalau cuma untuk menunjukkan bahwa perempuan juga boleh bicara blak-blakan tentang kehidupan seksualnya, masih ada cara yang lebih santun dan manis, bukan?

Menjadi santun bukan berarti takut bicara dan tidak tau apa-apa. Jelas sekali perbedaannya.

Apapun, buku Saman untuk saya masih tetap lebih baik dari beberapa buku sejenisnya, yang juga di tulis perempuan, yang juga mencoba "berani" menuliskan seksualitas kaumnya.

Lucu, ya... Alur cerita yang lain, yang barnuansa kehidupan sosial (barangkali politik) jadi ketutup sama hal-hal genitnya.

Serta-merta kawan saya ada yang pernah bilang: Sama aja kayak baca stencilan.

Ha ha ha...

Menurutmu?

-Ria-
Profile Image for Qunny.
195 reviews9 followers
June 17, 2016
Banyak pertanyaan yang belum terjawab, dan dua bintang untuk buku ini bukan berarti buku ini jelek. Saya malah terkejut karena tahu-tahu buku ini sudah selesai.

Saya menyukai gaya bahasa yang dibawakan dan hal-hal yang dibahas dalam buku ini, tapi sayang sekali plot yang di dalam buku ini nggak terlalu berhubungan. Tidak mempunyai konflik utama yang menghubungkan keseluruhan karakter. Yang saya tangkap hanya A dan B, B dan E, E dan C, dst.

Akan melanjutkan ke novel Larung.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books98 followers
August 7, 2025
Saman disebut-sebut sebagai novel yang menandai kebangkitan sastra reformasi di Indonesia. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1998, novel ini menghadirkan perpaduan antara kisah cinta, seksualitas, kritik sosial-politik, dan juga spiritualitas, dengan gaya narasi eksperimental dan bebas dari moralitas mapan Orde Baru.

Pada awal perilisannya, mungkin tak banyak novelis lain yang terbiasa membuat fragmen-fragmen terpisah, kadang dengan alur mundur yang acak, serta dilengkapi akrobatik diksi yang menarik. Harus diakui, Ayu Utami memang piawai menggambarkan adegan erotis dengan narasi yang estetis.

Cerita novel ini bergerak melalui perspektif beberapa tokoh perempuan—Laila, Shakuntala, Yasmin, dan Cok—dengan tokoh sentral bernama Saman, seorang mantan pastor yang menjelma jadi aktivis setelah menyaksikan ketidakadilan di tanah Sumatra, tepatnya di daerah Prabumulih—yang entah kenapa di novel ini ditulis dengan Perabumulih.

Secara garis besar novel ini menyentuh isu-isu seperti represi politik, otoritas tubuh perempuan, dan juga perihal kebebasan berpikir. Semuanya dituturkan dalam narasi yang puitis, sensual, dan berani.
Profile Image for Penny.
24 reviews32 followers
October 9, 2013
Saman--> Salah satu novel yang membuat saya cukup tertegun karena isi novel ini begitu padat dan campur aduk seperti gado-gado. Setelah membaca novel ini, saya menyadari bahwa issue tentang gender dan seksualitas dalam masyarakat Indonesia masih sangat tebal batas-batasnya.

Kebudayaan patriarki mungkin adalah penyebab bagaimana gender menjadi masalah yang sepertinya "dibesar-besar"kan. Ini hanya pandangan pribadi, tapi saya melihat fungsi kelamin manusia sebenarnya sama saja, sebagai bentuk casing dan alat untuk melakukan penitrasi. Esensi seorang manusia bukan terletak pada kelaminnya, tapi jiwa dan pikiran. Kita, sebagai manusia, rasanya perlu menempatkan diri pada persoalan yang lebih universal, karena baik laki-laki atau perempuan juga mempunyai status dan kemampuan melakukan pekerjaan yang sama. Dan jika kita mulai mengkotak-kotakan segala sesuatunya, maka hal itu menjadi sangat terbatas. Tapi toh bagi masyarakat kapitalis, seksualitas adalah bentuk aset yang benar-benar menjual.

Dalam novel ini saya begitu menyukai karakter Shakuntala, pemikiran dan sikapnya yang androgini, ajaib serta eksperimental, tapi tetap concern terhadap teman-temannya, terutama Laila... ah Laila, satu-satunya karakter yang saya rasa menganggap cinta itu benar murni, sebuah devosi, pengorbanan tiada batas... andai Laila, kau korbankan cintamu untuk kemanusiaan, mungkin kau akan ejakulasi dalam kebahagiaan.
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
November 26, 2009
dulu bacanya minjem temen. itu pun cuma dibuka-buka doang.
lalu, jadi beli karena ada obralan di pameran buku di yogya.
lagi-lagi, dibaca cuma sambil lalu.
entah ya,aku ndak begitu suka... saya merasakan bahwa penulisnya seperti ingin berani bertindak saru.
akhirnya, buku-buku lainnya setelah ini [larung?:] pun ndak pengen baca...
Profile Image for Freddie.
432 reviews42 followers
May 1, 2023
The prose and the story are mesmerizing and sensual. This book explores character motivations really well. Different sections of the book take different forms and POVs, so reading this was very exciting.
Profile Image for Vivi.
95 reviews1 follower
November 5, 2025
Puh, ich bin schon etwas froh, dass das Buch vorbei ist.
Erstmal kam ich insgesamt gar nicht mit den ständigen Wechseln und Sprüngen der Erzählperspektive und Zeit klar. Mich hat einfach nur genervt, dass die Umsetzung der Sprünge so abrupt war. Ich war dann oft komplett raus und musste mich erstmal wieder einfinden.
Die Geschichten an sich fande ich teilweise ganz interessant, wenn man dann mal kurz drin war.

Nicht hinweg sehen kann ich über viele extrem problematische Aspekte, die sich für mich auch nicht einfach mit anderer Kultur oder unglückliche Übersetzung entschuldigen lassen. Ich verstehe nicht, was das soll, solche problematischen Inhalte abzubilden.

Nur ein Auszug der schlimmsten:


Kontext: Bezüglich einer behinderten jungen Frau:
"Natürlich hatten sich junge Männer immer wieder an ihr vergangen, einfach so zum Spaß. Wie es hieß, hätte sie auch noch Gefallen daran gehabt..."


Oder auch die 9-jährige, die irgendeinen Riesen im Wald aufsucht, mit dem sie Sex hat. "Er trat näher und sog lange an meiner Brust, sehr lange."
Äähm okay? Normale erste Begegnung mit eine 9-jährigen??? Oder was habe ich da nicht gecheckt? Habe die ganze Riesen-Geschichte sowieso nicht verstanden.


Toll waren doch auch die sexuellen Säuglings-Vergleiche (Ironie off).
"Allerdings - ich weiß selbst nicht, wie es kommt - bin ich es schließlich, der sich wie ein kleines Kind an ihre nackten Brüsten drängt, durstig wie ein Säugling."


Die Sextalks zwischen Saman und Yasmin... ich glaube da fehlen mir echt die Worte...

"Manchmal komme ich mir vor wie eine Jungfrau, die vergewaltigt wurde und dabei erfahren hat, wie herrlich ein Beischlaf ist."
Excuse me??? Ist das ein gängiges Erlebnis, zu dem man sich vergleichen kann? Was ist falsch bei ihm?!


Achja, und dann natürlich auch am Ende
"Ich werde dir zeigen, wie es geht. Ich vergewaltige dich."
"Zeig es mir. Vergewaltige mich."

?!?!?!?! Bitte, bitte sag mir, dass das einfach alles in einer schlimmen Übersetzung verloren gegangen ist bzw. irgendwie falsch gedeutet wurde. Das kann die Autorin doch nicht ernst meinen, jetzt hier Vergewaltigungen zu romantisieren?!



Okay Rant Ende.
Ich habe, nachdem ich die Rezension geschrieben habe, sogar nochmal auf einen Stern runter gestuft. Dieses Buch war einfach in zu vielen Teilen zu problematisch. Ich bin richtig sauer und würde das Buch gerne ungelesen machen.
Profile Image for ⭑.
187 reviews7 followers
May 13, 2025
Saman adalah buku karya Ayu Utami pertama yang aku baca. Tulisannya sangat indah, bisa merasakan ketegasan di setiap katanya. Namun begitu, masih ada sisipan hal lucu di dalamnya. Buku ini sangat detail, sangat fokus. Tidak bisa diselesaikan dalam sekali duduk karena butuh cukup waktu untuk mencerna setiap barisnya.

Buku ini membahas kehidupan di masa yang gelap saat itu. Penculikan serta seluruh kegilaan rezim yang rasanya kini kembali terulang kembali. Pemaksaan sana sini hingga menutupi kegagalan akibat ego manusia itu sendiri. Terlepas daripada itu, buku ini juga mengisahkan perjalanan cinta yang merepotkan. Yang tidak pernah sempurna (pun jika sempurna seperti milik Yasmin, ia merasa kurang bahkan mencari pelarian lain.) Manusia tidak pernah merasa cukup, bukan?

Tulisannya cukup vulgar tetapi indah, entah bagaimana. Sensual dan pencarian jadi diri mengenai seksualitas. Segala hal yang dianggap tabu sedikit banyak tergambar dalam cerita ini. Tentang dosa, tentang segala hal yang meragukan juga menggiurkan disaat yang bersamaan.

Oh ya, senang sekali karena ada yang membahas soal bekerja di rig offshore secara detail seperti di buku ini.
Profile Image for Jonas.
3 reviews1 follower
November 8, 2025
Meisterwerk, besonders auch der letzte Satz, literarisch herausragend (\s).

Empfehle das Buch raubzukopieren und nicht zu kaufen.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Sonja.
91 reviews
November 7, 2025
fand das Buch einfach nur eklig und zudem noch sprachlich unübersichtlich
Profile Image for Faiz • فائز.
359 reviews3 followers
February 10, 2025
Buku ini dibeli kerana sering disebut-sebut sebagai antara barisan karya sastera terbaik Indonesia. Secara peribadi, saya merasakan sebaliknya. Karya ini baik, namun bukanlah yang terbaik.

Saman —sebuah karya yang bersimpang-siur. Di awal pembacaan, saya mengira ia roman cinta biasa, namun kemudian saya menyangka ia horror, kemudian beralih pula kepada penulisan dengan identiti “anti-Orba”, kemudian roman cinta semula.

Penceritaan yang berpaksikan satu tokoh juga beralih-alih. Sebentar Laila, sebentar Saman, sebentar Wis, sebentar Yasmin. Caca marba. Penceritaan begini telah saya alami dahulu sewaktu bergelumang dengan puluhan novel FIXI yang lucah dan eksplisit. Bentuk yang sama. Berselirat dan caca-marba; mengundang gila pada pembaca. Seolah-olah saya meneroka ‘kegilaan’ dan ‘kerumitan’ minda penulis melalui karya beliau ini.

Ketuhanan, percintaan-perselingkuhan, seks, kuasa, kezaliman dan agama—disadur kesemuanya dengan melambakkan ia tanpa hala tuju yang jelas. Penulis seolah-olah membiarkan para pembaca menikmati ‘kegilaan’ yang beliau sedang ciptakan. Entahlah, naik muak sebenarnya membaca karya sebegini. Tanpa menafikan mungkin ramai yang menyukai ‘gila’, ‘bebas’ dan ‘rakaman realiti’ seperti yang dikandung dalam karya ini, saya melihatnya sebagai satu yang jelik. Jijik membaca perselingkuhan, pemikiran yang tidak berpaksikan kebenaran dan kebodohan yang bersembunyi di balik “realiti kehidupan”.

Agak kecewa dengan novel ini. Tidak lebih kedudukannya daripada novel-novel FIXI yang rendah.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,038 reviews1,963 followers
April 5, 2016
Sebelumnya aku hanya pernah membaca buku Ayu Utami dari rekomendasi ibu, Doa & Arwah dan kemudian buku duet Ayu Utami dengan suaminya, Erik Prasetya yang berjudul Estetika Banal & Spiritualisme Kritis. Kesan yang aku dapat setelah membaca kedua buku tersebut ialah bahwa tulisan Ayu tidak serumit yang aku bayangkan. Barangkali tulisan Ayu merupakan tulisan sastra yang ringan setelah karya Ahmad Tohari.

Resensi lengkapnya

Untuk sebuah buku sastra, buku ini cukup mudah dicerna. Ayu bukanlah realis, melainkan mencoba untuk menjadi kritis terhadap sesuatu yang berbau religius maupun spiritual.
Profile Image for Oktabri.
147 reviews4 followers
January 28, 2015
Sastra dari sudut pandang berbeda. Semula saya membaca buku ini untuk memenuhi tugas mata kuliah, tetapi buku ini membuat saya 'ketagihan' dan memohon-mohon pada kawan untuk meminjam kelanjutannya, Larung.

Buku ini tidak disarankan untuk dibaca oleh orang-orang yang malas berpikir dan munafik. ;)
Profile Image for Engkos Kosasih.
5 reviews
June 15, 2017
Saya tidak mengerti mengapa orang-orang memuji buku ini. Gagasan bahwa seorang perempuan memiliki pendapat sendiri terhadap "perilaku sex"nya adalah gagasan biasa. Bahkan tidak menarik. Tak ada sesuatu yang istimewa dalam buku ini.

Bagi yang tidak setuju, sorri ya.
Profile Image for Rara Rizal.
22 reviews28 followers
January 4, 2020
Read this as part of my book club assignment. Did not like the book enough to write a serious review.
Displaying 1 - 30 of 882 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.