Zee bukanlah Cinderella atau Putri Tidur yang ingin didatangi seorang pangeran, dan bimsalabim, hidup bahagia selamanya. Dia hanya seorang karyawan biasa, yang tiba-tiba harus menjadi ghostwriter untuk seorang pengusaha muda dan—mari kita sederhanakan—salah satu pangeran dari pria terkaya di Indonesia. Lelaki itu Kevlar Pramoedia. Oh, ya, ya, benar, poin Kevlar sudah pasti 10 di mata Zee. Berapa lagi angka yang bisa diberikan untuk lelaki supertampan, jangkung, dan karismatik yang selalu mengenakan setelan mahal itu?
Tapi tunggu sampai Kevlar berbicara. Poinnya berkurang jadi 9. Ugh, otaknya tidak sematang penampilannya. Dan, hei, apa-apaan dia? Sifat Kevlar yang pemaksa membuat poinnya turun ke angka 8,5—dan mari kita genapkan menjadi 8—tapi … bagaimana kalau naik lagi setengah poin karena Kevlar memaksa menciumnya. Uhm, ya, berat untuk mengakui, tapi poin untuk ciumannya—yang tidak boleh diganggu gugat itu—Zee dengan yakin memberinya poin sempurna.
Setelah cukup sekian lama menanti karya Kak Adel terbaru, akhirnya kerinduanku cukup terbayarkan. Sebenarnya, ini baru kali kedua aku membaca karya Kak Adel. Hehe. Tapi, serius, aku kangen layaknya udah baca semua karya dia WKWKWK.
Sayangnya, buku ini kurang memuaskan tapi tidak juga mengecewakan—banget.
'Too Good for You' menceritakan Zee yang terpaksa harus menjadi ghostwriter-nya seorang pria dari keluarga konglomerat bernama Kevlar Pramoedia. Itu pun bukan semata-mata 'langsung' jadi ghostwriter. Lebih tepatnya, itu adalah permintaan Kev pada bos-nya Zee agar Zee menjadi ghostwriter-nya.
Nah loh? Kenapa Kev kayak ngebet banget? Baca aja bukunya😂
Yang ingin aku fokuskan adalah intrinsik dari buku ini.
Jujur, aku kurang dapet sifat khas dari setiap karakter. Semua terkesan ngambang dan mudah berubah setiap kali momen baru dideskripsikan.
Yang paling lumayan kerasa sifat khas dari karakternya adalah Zee. Itu pun aku masih setengah hati untuk menyayangi tokoh ini. Dan Kev yang—seharusnya/biasanya—menjadi tokoh utama perebut hati, justru tidak merebut hatiku sama sekali. 😂
Andai saja pendeskripsian watak perkarakter lebih kuat, begitu juga dengan deskripsian fisik, mungkin pasangan Kev dan Zee bisa bergabung bersama keluarga OTP fav-ku bersama Em dan Ty dari Sweet Home.
Bacaan ini tergolong ringan. Masalah pokoknya pun tidak sampai ngejelimet bikin kepala pusing.
Saking ringan dan simpelnya masalah yang ada di dalam buku ini, nilaiku terhadap buku ini menjadi sedikit berkurang layaknya penilaian Zee terhadap Kev.
Kenapa?
Pertama, konflik masalah terlalu tiba-tiba. Benar-benar tiba-tiba gitu. Udah tiba-tiba nongol, selesainya juga begitu saja. Tidak ada konflik yang bikin hatiku gundah sampai takut ada apa-apa sama tokoh yang ada.
Kedua, tokoh pemicu konflik utama itu dadakan nongolnya. Sebenarnya, tokoh pemicu konflik ini sempat disinggung di awal-awal sama si Rino—editornya Zee—tapi kemunculan tokoh pencetus klimaks aku rasa terlalu tiba-tiba.
Aku lebih suka kalau masalahnya muncul karena kecerewetan Tante Sonya pas pesta si Opa.
Memangnya Tante Sonya ngapain, Rei?
Baca aja.
Eits, tapi itu semua menurutku yaa.
Oh ya, selain itu, gaya tulisan dan bahasa Kak Adel yang sederhana dan lugas membuatku betah membaca buku ini dalam sehari. Tidak begitu bertele-tele.
Overall, aku masih cukup suka kok sama buku ini. Bacaan yang cocok untuk sekali duduk. Kadang sentuhan humornya cukup menggelitik diri ini 😂
Ceritanya cukup menarik, cuma cowoknya terlalu baik dan ala ala oh so perfect prince that unreachable terus ceweknya plin-plan. Saya malah penasaran sama cerita Jun dan ceweknya si Kenisha hehe.
• Judul : Too Good for You • Penulis : Adeliany Azfar • Penyunting : Dion Rahman • Penerbit : Elex Media Komputindo • Terbit : 7 Desember 2018 • Harga : Rp 66.800,- • Tebal : 340 halaman • Ukuran : 12.5 × 19.5 cm • Cover : Soft cover • ISBN : 9786020460796
Sebagai pecinta buku, bekerja di perusahaan penerbitan menjadi sebuah pekerjaan yang diidamkan. Itulah yang Zeeta rasakan saat ini sebagai redaktur pelaksana di Media Kata. Zeeta alias Zee berada di divisi yang khusus menerbitkan buku-buku nonfiksi. Suatu ketika bosnya tiba-tiba saja memanggil Zee ke ruangannya. Sang bos ingin jika Zee menemui putra salah satu orang terkaya di Indonesia, Kevlar Pramoedia. Menurut penuturan bosnya, Kev ingin membuat buku biografi tentang dirinya sendiri. Di awal pertemuan mereka Zee sempat memberikan penilaian yang cukup tinggi untuk Kev, jika dilihat dari penampilan dan tampangnya. Namun, saat mereka berbincang-bincang tentang buku biografi yang akan ditulis oleh Zee sebagai 𝘨𝘩𝘰𝘴𝘵𝘸𝘳𝘪𝘵𝘦𝘳-nya, Kev terlihat tidak kompeten dalam menjawab pertanyaan Zee. Bisa dibilang selain pekerjaannya di bidang properti dan nama Pramoedia yang disandang, Kev tidak memiliki sesuatu yang menarik untuk ditulis menjadi sebuah buku biografi. Penilaian Zee terhadap Kev langsung turun drastis saat itu juga. Akan tetapi, mengingat status dan materi yang dimiliki Kev, mau tidak mau Zee tetap harus menggarap proyek buku biografi tersebut.
Intensitas pertemuan antara Zee dan Kev semakin meningkat untuk mempercepat terbitnya buku biografi yang akan ditulis. Secara perlahan, kini Zee dapat melihat kesederhanaan dan ketulusan yang ada di dalam diri Kev. Selain pekerja keras, Kev juga ternyata tidak memanfaatkan statusnya untuk menghindari tanggung jawabnya. Zee kembali memberikan nilai lebih bagi sosok Kev. Kev sendiri sebetulnya memiliki agenda terselubung dalam proyek buku biografinya. Secara tidak langsung hubungan kerja sama antara Zee dengan Kev menumbuhkan benih-benih asmara di antara keduanya. Kev tidak ingin mengungkapkan rasa sukanya, karena takut Zee belum siap untuk menerimanya. Sementara Zee sendiri menyangkal perasaannya, mengingat status dirinya dan Kev yang terpaut jauh. Rasa rendah diri dan penyangkalan yang Zee lakukan nyatanya malah menimbulkan derita dan kegelisahan. Zee seakan membohongi diri sendiri dengan cara menghidar dan malah mencari pelarian. Hingga akhirnya tidak ada titik temu yang dapat menenangkan perasaannya. Apa sebenarnya yang dirasakan Zee selama ini terhadap Kev? Mampukah Zee terus menyangkal dan membohongi perasaannya secara terus menerus?
Romansa yang mengangkat isu tentang status sosial memang sudah banyak sekali ditulis. Salah satunya hadir dalam novel Too Good for You. Novel ini jadi jembatan bagi saya untuk berkenalan dengan tulisan Adeliany Azfar. Meskipun tidak ada sesuatu yang baru di dalam jalan ceritanya, tapi penulis bisa menghadirkan gaya tulisan yang membuat pembaca ketagihan. Selain itu nuansa 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya yang terlihat sederhana, tapi tepat sasaran menjadi daya tarik yang bisa bikin penasaran. Latar warna putih yang mendominasi serta tulisan judul buku dan penulis yang langsung menjadi sorotan utama seakan dapat memicu minat netra untuk melihatnya. Ornamen yang dihadirkan melalui beberapa ilustrasi, seperti laptop, notes, notes tempel, polaroid, dan secangkir kopi seakan mewakili pekerjaan Zee sebagai seorang redaktur pelaksana di sebuah perusahaan penerbitan buku. Komposisi yang dihadirkan dalam 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya mungkin terkesan biasa saja dan tidak menonjol, tapi dapat memunculkan atmosfer romansa yang dibalut dengan kehidupan masyarakat urban sesuai dengan lini 𝘊𝘪𝘵𝘺 𝘓𝘪𝘵𝘦 yang disematkan.
Bertemakan percintaan yang melibatkan dua insan dengan status sosial yang berbeda, Too Good for You menyajikannya dengan cara yang menyenangkan. Zee yang bekerja sebagai redaktur pelaksana di Media Kata diberi tugas oleh bosnya untuk menjadi 𝘨𝘩𝘴𝘰𝘵𝘸𝘳𝘪𝘵𝘦𝘳 buku biografi Kevlar Pramoedia. Kevlar Pramoedia sendiri merupakan putra dari salah satu orang terkaya di Indonesia. Kevlar yang kerap disapa Kev, pada awalnya memiliki penilaian yang tinggi di mata Zee saat pertama kali mereka bertemu. Kev mempunyai penampilan dan rupa yang elok, tapi sayangnya selama perbincangan mereka, sikap Kev yang kerap memaksa dan terlihat "bodoh" sempat membuat Zee menurunkan penilaiannya terhadap pria itu. Pertemuan mereka yang cukup intens nyatanya malah membawa rasa suka di antara keduanya. Sayangnya, perasaan tersebut tidak pernah diutarakan dan malah disangkal habis-habisan. Cerita asmara yang coba ditampilkan di sini sebenarnya tergolong klise. Namun, penulis membawakan kisah ini dengan cara yang asyik, sehingga dapat menarik pembaca untuk betah mengikuti akhir kisah Zee dan Kev. Walaupun terkesan usang dan tidak menyuguhkan sesuatu yang baru, tapi Too Good for You masih bisa menghibur.
Ada dua lakon yang akan membawa pembaca dalam drama romansa yang akan bikin geregetan, yaitu Zee dan Kev. Tokoh Zee dideskripsikan sebagai seorang redaktur pelaksana di sebuah perusahaan penerbitan buku bernama Media Kata. Zee adalah sosok seorang wanita dewasa yang mandiri dan tangguh. Akan tetapi, Zee juga kerap kali plinplan saat mengambil keputusan, khususnya soal perasaannya terhadap Kev. Hal lain yang saya rasakan pada tokoh Zee adalah dia sosok yang egois dan sedikit kekanak-kanakan. Ini bisa dilihat dari caranya yang kerap kali mengotak-ngotakan status Kev dengan dirinya. Zee seakan menyamaratakan bahwa setiap orang kaya itu brengsek. Sedangkan tokoh Kev sendiri merupakan seorang putra dari salah satu orang terkaya di Indonesia, Kardi Pramoedia. Menyandang nama Pramoedia nyatanya malah menjadi batu sandungan bagi Kev untuk bisa dekat dengan Zee. Kev memiliki karakter yang bersahaja serta bertanggung jawab. Namun, terkadang Kev juga kerap lamban saat mengambil keputusan. Meskipun intensitas pertemuan antara Zee dan Kev terbilang sedikit, tapi 𝘤𝘩𝘦𝘮𝘪𝘴𝘵𝘳𝘺 di antara keduanya masih cukup terasa. Bisa dibilang hubungan yang dijalani oleh Zee dan Kev ini terasa seperti tarik ulur, sehingga tidak ada kejelasan di dalamnya.
Salah satu keunggulan yang dapat membuat Too Good for You terasa berbeda dari novel-novel romansa lainnya adalah kemampuan penulis dalam membangun cerita dan meracik kata. Gaya bercerita dan bahasa penulis sangat enak untuk dibaca dan diikuti. Selain ringan dan sederhana, ada faktor lain---yang entah apa---yang dapat membuat saya betah untuk terus membalik setiap halaman bukunya. Sudut pandang orang ketiga dipilih untuk narasi ceritanya lewat dua tokoh intinya, Zee dan Kev. Pemakaian sudut pandang ini dirasa sudah cukup untuk menyampaikan keresahan dan emosi kedua tokohnya dengan baik. Saya bisa dibuat gregetan dengan melihat pemikiran Zee dan Kev dari sudut pandang ini. Alur ceritanya berjalan cepat dan dinamis. Tanpa sadar saya sudah dibawa terhanyut dalam arus ceritanya yang mengalir dengan konstan. Nuansa 𝘊𝘪𝘵𝘺 𝘓𝘪𝘵𝘦-nya sendiri terasa dengan atmosfer yang kuat. Pekerjaan Zee sebagai redaktur pelaksana juga ditampilkan dengan cukup baik. Meskipun masih terasa lemah, tapi tidak terkesan seperti tempelan belaka. 𝘚𝘦𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 kota Jakarta yang dipergunakan pun lumayan terasa dengan kehadiran beberapa kafe yang sempat didatangi oleh dua tokoh utamanya.
Seperti kebanyakan novel roman, Too Good for You memiliki konflik tentang memendam perasaan akibat status sosial yang berbeda. Kedua tokoh utamanya memilih memendam dan menyangkal perasaan cinta mereka terhadap satu sama lain. Zee yang hanya pegawai kantoran biasa merasa jika dirinya tidak layak jika harus jatuh cinta pada seorang Kevlar Pramoedia, putra orang terkaya di Indonesia. Sedangkan Kev sendiri masih menunda dan menyimpan rasa sukanya terhadap Zee, karena takut jika dia mengutarakan perasaannya, Zee akan menjauhi dirinya. Hubungan yang saling tarik ulur dan tanpa status ini cukup menguras emosi saya saat membacanya. Keduanya sadar jika mereka memiliki perasaan lebih terhadap satu sama lain daripada hanya sekadar hubungan pekerjaan. Namun, entah mengapa status Kev sebagai keluarga Pramoedia berhasil membuat Zee merasa rendah diri. Konfliknya masih terasa kurang kuat. Faktor-faktor yang menyertai kerumitan hubungan Zee dan Kev terkesan muncul secara tiba-tiba. Padahal di awal saya kira pemicu konfliknya akan jauh lebih kompleka daripada hanya sekadar masalah status sosial.
Too Good for You sukses membawa kisah asmara yang sederhana, tapi tetap menarik untuk dibaca. Meskipun tidak ada sesuatu yang unik atau berbeda dalam jalan ceritanya, namun novel ini bisa mengikat saya ke dalam kisah romansa yang bikin geregetan. Saya suka dengan 𝘤𝘩𝘦𝘮𝘪𝘴𝘵𝘳𝘺 yang terjalin antara Zee dan Kev yang memang tidak berlebihan. Semua elemen yang ada dibuat ringan, sehingga tidak perlu waktu yang lama untuk bisa membacanya. Dunia kerja yang disorot sebetulnya tidak terlalu dalam diekspos, tapi masih cukup terasa. Zee dengan pekerjaannya di perusahaan penerbitan dan Kev sebagai pengembang properti. Sayangnya hubungan antara Zee dan Kev ini terasa tarik ulur, sehingga sering kali bikin garuk-garuk kepala jika melihat sikap yang mereka ambil. Selain itu proses penulisan buku biografi yang dilakukan Zee masih terasa kurang banyak. Ini terlihat dari intensitas pertemuan antara Zee dan Kev yang terlihat cukup sedikit. Terakhir kehadiran pemicu konflik yang tiba-tiba muncul pun terasa sedikit maksa. Padahal di awal sudah banyak pemicu konflik lainnya yang jauh terasa lebih realistis. Secara keseluruhan Too Good for You merupakan kisah asmara klasik yang dikemas secara sederhana dengan sentuhan kehidupan masyarakat urban.
KAGET BANGET aku bacanya dari siang sampe jam segini doang. ceritanya bagus sih. karakter kev di awal gemesin banget kayak anak kecil. tapi makin ke akhir sikapnya jadi ya biasa aja sih. aku lebih suka sikap dia di awal. buku ini bagus kok. gaya penulisnya juga enak dibaca. tapi aku ngerasa ada yang kurang aja. sesuatu yang ngga bisa bikin aku wow gitu. cukup bikin geregetan karena konfliknya ngga bikin aku puas. overall ini ringan kok
Suka dengan gaya menulisnya. Karakter tiap tokohnya juga kuat walau rada nyebelin. Suka sama Kevlar, tapi penasaran sama sosok Jun dan Keni. Konfliknya sederhana tapi di eksekusi dengan cukup baik
Too Good For You: Adeliany Azfar - 329 Hal Penerbit : Elex Media Komputinda
Zeeta, seorang editor senior di penerbitan media kata. Belum memiliki pasangan hidup selama 5 tahun terakhir tetapi memiliki pasangan yang selalu menemani dan dicintai yaitu buku.
Kevlar Pramoedia, cucu dari klan Pramoedia dengan IQ terendah di keluarga. Lulusan arsitek yang menjalankan bisnis yang sesuai dengan studinya. Menarik, polos, namun kadang terlalu pemaksa.
Jatuh cinta pada Zeeta pada pemandangan pertama, setelah ditolak berkenalan pada kesempatan pertama Kevlar melakukan pendekatan yang tidak biasa, mendekati pemilik penerbitan Media Kata untuk menerbitkan buku biografinya dengan Zeeta sebagai penulisnya.
Tidak perlu dibahas mengenai fisik dari dua tokoh utama karena pasti digambarkan luar biasa tapi cerita yang mengalir pas tidak gregetan tapi tidak membosankan.
Beda dengan tokoh utama pria yang selalu buat adem panas dan selalu menarik perhatian pembaca wanita, Kevlar terlalu anteng dicerita ini bahkan boleh dikata bukan pejuang seperti yang biasa digambarkan untuk novel bertema romance ini.
Point menarik buat saya pada saat gambarin perang batin (*eaa bahasanya) si Zeeta yang menjadi daya tarik, simpel tapi mengena. Line dimana "saya nyaman dengan alvan, tapi dia bukan Kevlar" itu mengena buat saya. Pada saat kita selalu berdalih kenyamanan, novel ini seakan bercerita "terkadang efek kupu kupu di dalam perut itu bisa mengalahkan rasa nyaman yang dicari".
Tokoh Kevlar gagal menarik perhatian saya dibandingkan Juan sepupunya, meledak dan sangat menggambarkan semangat juang. Potongan ceritanya dengan Keni malah menarik perhatian saya. Semoga penulis bisa menerbitkan cerita tentang Jun dan Keni.
Background pekerjaan untuk dua tokoh utama pun tidak terlalu rinci digambarkan, padahal mungkin itu akan menjadi daya tarik tambahan untuk novel ini.
Karena itu buat saya, ratingnya 3 of 5.
Tapi, ini review versi saya ya sapa tahu kalau yang lain membaca malah ratingnya lebih bagus.
Aku senang bisa menyelesaikan buku yang manis2 asem ini, kenapa? Karena saat aku baca buku ini, aku blushing2 gak jelas gitu, tapi juga gemes sama tokoh Zee dan Kev. Ada sifat Zee yang gak aku suka, yaitu Zee keras kepala dan agak egois. Tapi bener deh sikap itu yang bikin karakter Zee itu berkembang, dan aku ngerasain bgt perkembangannya.
Walaupun sebenernya premisnya udah mainstream tapi aku merada penulis berhasil membangun kisah ini. Dan ya, aku juga pernah membaca buku penulis yang lain berjudul Out Of Love, tapi, aku lebih menyukai ini, menurutku buku ini terlihat lebih matang , dan arah ceritanya jelas mau dibawa kemana.
Sejauh ini aku belum menemukan hal yang membuatku kurang nyaman ketika membaca buku ini. Baik blurb dan isi cerita tidak jumping dan berat sebelah.
Aku suka konflik dan eksekusinya, walaupun sudah pasti tau ya bakal gimana tapi gak bikin bosen buat bacanya. Buat yang suka baca romance kayaknya hatus deh cobain baca buku ini. Kalian pasti suka.
Baca ini setelah patah hati dari novel lain. Yaa cukuplah buat obat. Gemesin dan konfliknya ringan. Tapi kesel, karena pengen liat lovey doveynya zee dan kev lebih banyakk. Gaada extrapartnya nih kak?🥲🙏🏻
Novel romance yang bisa dibaca habis dalam sekali duduk. Dibeberapa bagian, saya merasa disentil, kayak ada remindernya aja gitu. Thanks to Jun yang mulutnya bocor!
Aku suka sama gaya bercerita kak Adel ini, gaya ceritanya menarik. Meskipun temanya tergolong umum, tapi ka Adel meramunya dengan baik. Apalagi kisah seorang editor sama ghostwriternya ini dijelaskan dengan baik jadinya sebagai pembaca aku mengetahui suasana kerja mereka.
Karakter tokohnya kuat, Kev yang berkharisma dan mempunyai sifat hangat ini sangat mempesona bikin melting ya, meskipun dia orang berada tapi sikapnya humble banget. Apalagi cara dia memperlakukan Zee. Huaaaaa, envy wkwkwk. Dan Zee ini agak nyebelin sih ya, tapi ya kalau aku di posisi kayak dia. Aku juga bakalan bersikap sama sih ya. Mundur dan balik kanan, serem kalau udah harus berhubungan sama orang terkaya itu. Tokoh lainnya, pas porsinya bikin cerita makin hidup.
Gaya bahasa yang ringan dan mengalir ini bikin bacanya lumayan cepat, tahu-tahu udah bab akhir dan aku mesti pisah sama Kev. Memakai sudut pandang orang ketiga ini, mereka terceritakan dengan baik.
Interaksi antar tokohnya ini seru banget dan asyik banget, suka sama suasana mereka itu. Seolah aku ikutan hanyut di sana, dan aku suka sama chemistry Kev dan Zee, kerasa banget. Unyuuu banget mereka tu.
Konfliknya ringan, tentang romansa cinta anak muda. Aseeek... Zee yang terlalu takut menghadapi perasaannya, dan Kev yang mencoba bersabar. Tapi sayangnya kalau kurang komunikasi ya bakalan salah paham deh. Pokoknya dua orang ini cukup gemesin karena pikirannya sendiri! Ah aku deg-degan dengan endingnya, plot twist sih. Tapi akhirnya bikin aku senyum-senyum nggak jelas setelah nutup bukunya.
Overall aku suka sama ceritanya! Bagi yang suka cerita romance manis, coba dibaca mana tau seselera :)
Kesekian kalinya membaca karya kak Adel. Dan selalu amazing sama karya beliau. Boleh jujur nggak? Waktu baca novel ini, berharapnya yang muncul jadi tokoh cowoknya itu Nicholas Saputra. Tapi, kenapa malah si kakak editor yaa. Whyyy? Secocok itukah kakak editor memerankan tokoh Kevlar? Hmmm . . Nggak pernah menyangka jika kisah mereka disampaikan begitu indah. Karakter Kevlar dan Zeeta pun dijelaskan dengan cukup detail, apa pekerjaannya, bagaimana pemikiran keduanya. Selain itu, aku suka dengan penjabaran pekerjaan yang diampu oleh kedua tokohnya. Jadi, paham bagaimana kerja seorang arsitektur, seorang editor, seorang redaktur pelaksana . . Zee disini mewakili karakter princess disney yang bertemu dengan pangeran. Jika di setiap cerita princess disney ada karakter jahat, disini, karakter jahat itu adalah pemikiran negatif . . Pesan yang disampaikan disini, janganlah sekali-kali rendah diri pada apa yang dimiliki oleh orang lain. Belum tentu mereka bahagia seperti kita. Jangan iri, jangan kemudian pesimis dan menanamkan pikiran negatif pada diri kita jika kita bla bla bla. Jangan, biasa aja, let it flow aja. Biarkan mengalir. Semua ada jalannya sendiri-sendiri kok. Kemudian, jika memiliki sebuah kesukaan, jangan kemudian menjadikan hobi kita sebagai profesi, diskusikan dulu dengan orang tua, siapa tau orang tua memiliki pandangan tersendiri . . So, buat kamu pecinta romance yang sweet, penuh dengan canda tawa, serta konflik yang nggak bikin kepala pusing tujuh keliling, jangan lupa baca novel ini yaa
Akhirnya bisa baca ini juga setelah cuma bisa megang2 bukunya di gramed :') Terima kasih iPusnas, akhirnya bisa baca gratis dan legal 😍 Agak aneh memang karena gue ngeliat covernya dulu sblm memutuskan naksir sama Novel ini Blm lagi penulisnya udah pernah gue baca hasil tulisannya dan yaah not bad lah Cukup dibikin betah dgn novel ini, yaa ngalir lah ceritanya Konfliknya simpel dan sayangnya ga ada rahasia2an gtu Dari cerita ini gue masa lbh suka interaksi Kevlar sama sepupu2nya dong Sukaaak, berasa kompak banget mereka tuuh 😍 Moral value yg didapet sih, jgn nganggep rendah diri sendiri Walaupun gue misalnya ada di posisi Zeeta juga pasti awalnya meragukan kesungguhan Kevlar sih Yaaa simpel sih, termasuk bacaan ringan Untuk tulisannya, gue seneng karena bisa dapet kata baru yaitu 'selibat' 😂 Tapi sayang nih, mau komplain akan penggunaan frasa 'menjilat bibir' utk menggambarkan suasana cemasnya Zeeta, walaupun konsisten ditulis di setiap keadaan Zeeta yg lagi cemas, tapi ga nyampe aja gt di imajinasi gue, gimana coba jilat bibir pas lagi gugup cemas gtu? Ga kebayang maafiiin 😂😂 Dan lagi, gue kok ngerasa aneh ya pas Pak Bos lo-gue sama si Zeeta. Please umur dia katanya udah dia angka 50-an. Ga kerasa aja kesan santainya, jatohnya aneh gtu menurut gue. Apa guenya aja yg kurang jauh mainnya? 😂 Intinya, baca ini ya buat bacaan ringan, ga disuruh mikir keras
Novel ini memiliki sifat yang sama seperti novel genre romans, metropop, citylite yang sudah ada. Buku ini tidak mengecewakan ekspektasi terhadap judul. Too Good for You- Yaps! Sesuai judulnya, Tokoh utama novel ini, Zee-editor salah satu penerbit buku, merasa tidak satu level dengan Kevlar-seorang arsitek keturunan keluarga kaya. Zee berfikir bahwa dirinya yang termasuk kalangan manusia biasa-biasa saja, yang tidak memiliki kekayaan yang 'wow' atau bukan pewaris tahta kekayaan leluhur, yang nyaman dengan kesederhanaannya tidak akan bisa disandingkan dengan hidup Kevlar yang kaya.
Karakter Zee dan Kevlar serta karakter pendukung seperti Rino, Alvan, dan Jun dideskripsikan secara baik, secukupnya, tidak berlebihaan. Karakter Zee dan Kevlar berhasil ditonjolkan penulis dengan keberadaan karakter pendukung yang ada. Plot cerita makes sense, tidak terasa dibuat-buat oleh menulis. Tidak ada keagresifan yang mencolok, atau sifat menye-menye yang berlebihan dari tokoh. Untuk typo, sepertinya ada satu, kata "tolak" yang dituliskan "tolok" di halaman 318. Selebihnya semuanya baik-baik saja.
Fortunately, novel ini cukup mengobati kekecewaan saya atas novel sebelumnya saya baca. Terima kasih Mba Adeliany atas karyanya. Lain waktu, saya ingin membaca karya mba yang lain.
Selesai membaca Too Good for You. Di awal, saya sudah berpikir kisah ini akan jadi semacam kisah pewaris tunggal dan gadis biasa-biasa yang akan tertindas calon ibu mertua. Ternyata saya salah. Kisah Zee dan Kev memang lebih realistis, mengingat ternyata karakter Kev yang sebenarnya bisa kita temukan di mana pun. Kev, sebagai lakon utama di novel ini bersifat sangat manusiawi, dan tidak terlihat too good to be true.
Sementara itu Zee, menurut saya karakter Zee lebih banyak diterangkan lewat perdebatan dalam pikirannya sendiri. Dari ketakutan dan kecemasannya, juga bagaimana ia merespon pendapat orang lain.
Kisah Zee dan Kev diceritakan dengan gaya penceritaan yang santai, tetapi juga menyenangkan untuk diikuti. Peran-peran kecil seperti Jun dan Keni, Devlan, atau Rino, cukup membuat warna novel ini semakin beragam. Terima kasih atas ceritanya. Saya menantikan novel selanjutnya. :)
Bintang 4 🌟🌟🌟🌟 Aku dibuat jatuh cinta kepada Kev. Semakin baca, makin cinta bersama Zee. Ikutan galau dan rendah diri bersama Zee. Tapi merasa sakit dan patah hati bersama Kev. Pilih siapa antara Zee dan Kev, tentu saja aku pilih KEV. Dia pria baaaaaik, suamiable perfect buanget. Kev seolah kapas. Lembut dan mudah tersakiti. Mudah terbang saat terpesona pada Zee dan melayang apabila melihat Zee. Konfliknya ringan. Lebih banyak konflik batin emang, sehingga emosi pembaca diaduk-aduk. Recommended deh novel ini dibaca kaum hawa. Kalau cowok yang baca, saya takut mereka merasa 'kebanting' heheh.
This entire review has been hidden because of spoilers.
kurang suka sama sifat karakter dan perkataan karakter beberapa ada yang sexist. terus kevlar sukanya juga terlalu cepat dan dia implusif hahaha jadi gak kerasa gitu kapan dia bener bener sukanya. ya intinya ini tentang insecure girl dan cowok kaya raya yang sangat baik dan mengaggap zee beda dengan perempuan lain karena dia gak pake parfum mahal cuma wangi sabun bayi dan pake baju apa adanya hahaha ya overall gemeslah kalo mau bacaan ringan.
Ceritanya klise sih, kyk office romance ibukota pada umumnya. Cukup menarik tp ya bisa ditebak. Rada dibuat kesel juga sama sikap plin plan nya Zee tapi ya emang begitulah kebanyakan cewe😅 Lebih bagus lagi kalo bisa kuat ngebahas tentang dunia editornya. But its okay. Bacaan ringan yg cocok dibaca buat selingan👌
This entire review has been hidden because of spoilers.
secara keseluruhan ini bagus, aku ikut ngerasain apa yang zeeta rasain bagian yang dia ngelak sama perasaannya ke kevlar dan jadiin orang lain buat pelariannya—secara gak sadar. alvan emang sempurna buat zeeta, tapi alvan bukan kevlar.
kevlar nih keliatannya ugal-ugalan tapi ada batasnya dan batas itu kayak terlihat dia tarik ulur sksksk greget bangettt
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kisah sederhana yang manis. Sayangnya ada banyak plothole dan detail yang ketukar-tukar. Trus proses penulisan biografinya juga ga dipaparkan mendetail. Antara Zeeta dan Kevlar jarang komunikasi, tapi Zeeta bisa menuliskan biografinya Kevlar.
Ceritanya cukup menghibur tentang percintaan beda kelas sosial. Cerita ini lebih berputar pada konflik batin Zee yang insecure terhadap dirinya yang bukan berasal dari keluarga kaya. Di satu sisi, Kev tak masalah jika menjalin hubungan dengan orang biasa.
Zeeta can be understood. Sikap plin-plannya tuh ada banget lagi di kehidupan nyata. Kevlar aga too good to be true sih, dan sikapnya di awal-awal sempet bikin jengah sampe kek “heh?” Sempet mau DNF, tapi akhirnya part pesta mulai menyenangkan, konfliknya ringan banget dan Mamah Kevlar kusuka!
Untuk karakter zeeta yang plin-plan, tindakannya sering impulsif, seringkali negative thinking juga dengan kev buat sy pribadi sangat melelahkan menyelesaikan novel ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.