Jump to ratings and reviews
Rate this book

Under The Same Roof

Rate this book

465 pages, Paperback

10 people are currently reading
71 people want to read

About the author

Montmello

1 book3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (58%)
4 stars
3 (12%)
3 stars
5 (20%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (8%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Ika.
103 reviews3 followers
May 19, 2018
Maghia diusir dari kost lamanya karena kedapatan membuka jasa penitipan hewan. Aduh Maghia padahal kan aturan kost mu itu sudah jelas "Dilarang menelihara hewan jenis apapun!".
.
Elah enggak banget deh pertemuan pertama antara Maghia dan Barry. Saat itu Barry memergoki Maghia sedang mengendap-endap mencurigakan di sebelah mobilnya. Tau apa yang dilakukan Maghia? Mau mengambil selembar uang seratus ribuan —yang ternyata uang palsu— yang menyelip di ban mobil Barry. Ckckck.
.
Pertemuan kedua Maghia dan Barry adalah pengejaran penculikan kucing peranakan harga mahal yang nyaris membuat mereka berdua terlibat kecelakaan beruntun.
.
Pertemuan ketiga dan yang menjadi puncaknya adalah ketika Barry berdiri di depan pintu rumah yang terbuka, rumah dimana Maghia ngontrak selama setahun, sambil membawa dua tas.
.
Sejak Barry —yang kalau kata Maghia pria tampan bermulut racun— tinggal disana, hidup Maghia berubah. Ihh kesal banget nich sama Barry, mintak ditoyor si Barry ini.
.
Barry mengijinkan Maghia hanya dua bulan lho tinggal di rumah itu padahal ia sudah tanda tangan kontrak untuk setahun. Gemas banget kan sama Barry?
.
Maghia pun harus cari pekerjaan untuk mengumpulkan uang sebelum ia hengkang dari rumah itu. Akhirnya ia melamar kerja di WHG, Wira Hospitality Group. Yang tidak ia ketahui, pemilik WHG adalah Barry Wirawan, pria bermulut racun yang tinggal serumah dengannya.
.
Diterima kah lamaran Maghia di WHG tersebut? Dan bagaimana reaksi gadis itu ketika tau kalau Barry merupakan bos dari WHG?
.
.
Maghia akhirnya diterima di WHG. Tentu saja Maghia bahagia, karena selain bisa bekerja di hotel terkenal, ia juga kembali bertemu dengan Salendra, seniornya sekaligus mantan gebetannya.
.
Tidak mudah bagi Maghia untuk bekerja di WHG. Namun semua itu dilakukan Maghia dengan senang. Sampai suatu ketika kegemparan terjadi karena "ulah" Maghia, kegemparan yang berujung diboikotnya WHG oleh barisan emak-emak anti pelakor.
.
Kegemparan itu juga membuat para petinggi WHG termasuk Barry membuat rapat dadakan untuk membersihkan nama WHG serta membuat Maghia di-skors oleh para petinggi WHG.
.
Namun yang buat aku penasaran, Om Harris yang merupakan tangan kanan Papanya yang kini menjadi asisten Barry, mengusulkan —sudah dua kali— agar Maghia dipecat namun Barry menolak mentah-mentah usulan tersebut. Apa yang terjadi pada Barry? Apakah pria itu mulai ada rasa pada Maghia?
.
Sungguh sesuatu banget ya Barry Wirawan ini. Sejak di Berau, ia mengalami "sakit" jantung. Dia ini polos atau gimana yak, cem anak kecil. Gengsinya gede, men. Elah ngaku aja susah bener.
.
"Jantungku yang enggak baik. Aku sudah cerita gejalanya, kan?"
"Baru gejala, kan? Bukan penyebab? Om yakin, jantung kamu begitu kalau dekat atau ingat sama perempuan."
— Hal. 177.
.
Barry ini minta ditoyor pake banget dah. Dia marah-marah ketika mendapati Maghia bersama Salendra, bahkan ia yang membalas chat Salendra ke Maghia. Tapi dia nggak mau mengakui perasaannya.
.
Lagi! Kegemparan terjadi akibat Maghia. Gadis itu dinyatakan hilang setelah mencari file di gudang. Bisa ditebak, Barry marah besar dan menghantamkan tinju ke atas meja dengan keras, lalu mendamprat Ramon abis-abisan. Duh, kenapa lagi si Barry?
.
"Dia orang yang penting buatku. Aku akan turun tangan." — Hal. 225
.
.
"Kalau Maghia yang ngejar kamu, nggak mungkin deh sekarang dia lagi makan sama Salendra. Sudah tahu kan rasanya ditikung?" — Hal. 245
.
Penyelamatan Maghia dari gudang file berakhir dengan pelukan erat yang diberikan Barry pada gadis itu. Sejak kejadian itu, gosip tentang Barry — Maghia merebak di seluruh WHG dan para "penghuni" —termasuk petinggi— WHG selalu mempertanyakan apakah mereka ini pacaran atau tidak.
.
Ternyata, novel ini tuh bukan hanya cerita tentang "keseruan" Maghia Barry yang tinggal serumah tetapi juga tentang Barry yang mencoba untuk "melepaskan" hati dan perasaannya dari jeratan masa lalu yang buruk. Akibat dari masa lalu itu, Barry berubah menjadi pria yang takut akan komitmen.
.
Ketakutan Barry akan komitmen diperparah ketika kegagalan menikahnya dikarenakan ia ditikung oleh temannya sendiri. Semakin parah ketakutan itu, ketika perasannya condong pada Maghia, tapi ada Salendra yang siap kapan saja mengambil teman serumahnya itu.
.
Barry kalang kabut ketika Maghia memutuskan untuk keluar dari rumah mereka namun tetap saja pemilik WHG itu bersikap arogan, seolah baik-bail saja tanpa Maghia.
.
"Berhenti bersikap arogan, Bar! Maghia sosok yang penting buatmu. Akui itu!" — Hal. 442
.
Yang bisa dilakukan Om Harris hanya bisa memaki ketika nasihat demi nasihatnya tidak dihiraukan Barry. Duhh Barry jangan sampai kamu menyesal yak.
.
"Lagi-lagi harga diri. Kamu tau harga diri bukan hal yang penting di dunia ini. Terserahlah! Kami udah nggak mau peduli lagi. Biar saja kamu mati pelan-pelan. Toh, nggak ada ruginya." — Hal. 443.
.
.
"Aku nggak mau kehilangan orang yang penting bagiku. Aku juga nggak tau harus ngapain kalau kamu nggak ada. Bisa mati pelan-pelan nanti!" — (Barry, Hal. 412)
.
.
📚 : Novel ini diperuntukkan para readers yang sudah berusia 20+ tahun ya karena dalam novel ini ada unsur dewasa yang sukses buat panas dingin hihihihi.
.
📚 : Novel yang menggunakan POV 3 ini cukup membuat emosiku naik turun lho. Aku gemas sekali dengan tingkah Barry dan Maghia. Belum lagi tingkah Merry Wiryawan, ibu tirinya Barry.. Beuuuhhhh nih ibu-ibu menolak tua. Ckckckck. Mulutnya Tante Merry ini kayanya perlu disekolahin biar bener ngomongnya. Aku juga sangat kesal dengan si halu Tsania Hadju. Sumpah deh ya kamu, Tsan, jangan keseringan gimmick dan pencitraan untuk tetap eksis, hasilkan sebuah karya yang berkualitas.
.
📚 : Novel ini tidak hanya membahas keseruan serta "kegilaan" kisah serumahnya Maghia dan Barry, tetapi juga bagaimana Barry menghadapi masa lalu pedihnya yang mulai terkuak dan perlahan menggerogoti hidup dan masa depannya Barry.
.
📚 : Ada beberapa nilai moral yang disampaikan lewat novel ini, salah duanya adalah janganlah kamu terlalu arogan dan utarakanlah apa yang kamu rasakan walaupun menyakitkan sebelum terlambat.
.
📚 : Awalnya aku pesimis lho melihat tebalnya novel ini tapi semuanya salah besar. Bahasa dan jalan cerita yang "enak" dan ringan membuatku ingin segera membalik halamannya, hanya saja ketika ending, aku merasa kurang gereget.
.
📚 : Novel ini paket komplit. Kamu bisa merasakan nyesek ngakak gemas dalam waktu bersamaan lho.
.
.
@dumzcharming
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.