Jump to ratings and reviews
Rate this book

Wesel Pos

Rate this book
Ada dua jenis orang yang hidup di Jakarta. Pertama adalah orang sakti, mereka adalah orang yang akan bertahan hidup sebab ‘ilmu’ mereka sudah tinggi. Kedua adalah orang sakit, yang akan mati ditelan kekalahan di kota ini. Elisa datang ke Jakarta membawaku, sebab di atas tubuhku tertulis alamat kakaknya yang selama ini mengiriminya uang melalui aku, si Wesel Pos. Apakah dia akan menjadi orang sakti atau orang sakit? Sungguh tipis perbedaan menjadi sakti dan sakit.

100 pages, Paperback

First published June 27, 2018

26 people are currently reading
570 people want to read

About the author

Ratih Kumala

18 books218 followers
Ratih Kumala, lahir di Jakarta, tahun 1980. Buku pertamanya, novel berjudul Tabula Rasa (Grasindo 2004, GPU 2014), memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Novel keduanya, Genesis (Insist Press, 2005). Kumpulan cerita pendeknya, Larutan Senja (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Buku keempat berjudul Kronik Betawi (novel/GPU, 2009) yang sebelum terbit sebagai buku juga terbit sebagi cerita bersambung di harian Republika 2008. Buku kelimanya berjudul Gadis Kretek (GPU, 2012) dan buku keenamnya adalah Bastian dan Jamur Ajaib (GPU, 2015). Novelnya Gadis Kretek (GPU, 2012) masuk dalam Top 5 kategori prosa Khatulistiwa Literary Award 2012, dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris –Cigarette Girl (GPU, 2015), bahasa Jerman – Das Zigarettenmadchen (culturbooks publishing, 2015), dan tengah diterjemahkan ke Bahasa Arab untuk diterbitkan di Mesir.

Selain menulis fiksi, Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan film layar lebar. Saat ini ia tinggal di Jakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
208 (17%)
4 stars
518 (42%)
3 stars
421 (34%)
2 stars
57 (4%)
1 star
5 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 343 reviews
Profile Image for Perpustakaan Dhila.
200 reviews12 followers
July 28, 2018
Berkisah dari sudut pandang Wesel Pos, benda yang mungkin terasa asing bagi sebagian orang saat ini. Wesel Pos membawa satu kisah dari sudut Kota Jakarta, kota yang hanya bisa dihuni oleh orang sakti--alih-alih sakit. Membacanya hanya perlu sekali duduk, tetapi bisa menggambarkan satu sisi gelap warga kota besar.

Sayangnya, penggunaan sudut pandang yang digunakan Mbak Ratih terkadang terkesan bias.
Profile Image for Uci .
621 reviews123 followers
June 16, 2018
Pendek banget...


Setelah Gadis Kretek yang bikin saya jatuh hati, membaca Wesel Pos rasanya seperti, "Yah udahan nih, gini aja?"

Walaupun tetap suka gaya berceritanya, saya menunggu karya berikutnya yang akan membuat saya jatuh hati lagi.
Profile Image for Ayesa.
69 reviews3 followers
January 25, 2022
Menceritakan kehidupan ibukota dari kacamata wesel pos (meski tidak seutuhnya).

**
Di tengah kemajuan teknologi yang melesat seperti saat ini. Wesel pos menceritakan perjalanan hidupnya yang menyajikan pergantian pesat alat komunikasi. Sindiran yang disajikan pun tersampaikan dengan baik.

Bagaimana manusia yang menginginkan agar setiap pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat?

Novelet ini mengajak kita untuk memaknai tokoh "Aku" untuk mengikuti perjalanan wesel pos di tengah kota metropolitan.

**

Suka cuma kadang tiba2 bingung sama sudut pandang ceritanya yang kadang orang pertama dan orang ketiga serba tau. Karena saya pikir judulnya wesel pos akan dari sudut pandang wesel pos saja.
Cerita nya bagus. Pesan yang disampaikan juga dapet. Kurang panjang lagi aja. Hehehehe
Profile Image for Ari Teguh Nugraha.
213 reviews52 followers
January 12, 2024
Ceritanya dark juga. Tidak disangka-sangka.
Tapi menarik dan seru.
Menggambarkan sedikit keras dan kejamnya kehidupan di Jakarta.
Baru tahu ternyata ada yang namanya wesel online.
Novela ini semestinya dapat apresiasi tinggi.
Keren.
Profile Image for nadinosaurus.
274 reviews5 followers
December 2, 2021
Bukunya tipis, kisahnya mengiris, endingnya bikin nangis.

Seratus halaman yang berhasil menggambarkan gelapnya Jakarta dan susahnya bertahan hidup disana.

POV diambil dari amplop wesel pos, yang menurut saya kurang kuat, berasa hiasan saja :( sampai kadang saya lupa kalau cerita diambil dari sudut pandang tersebut.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Cyn.
292 reviews11 followers
August 18, 2021
Ada dua jenis orang yang hidup di Jakarta. Pertama adalah orang sakti, mereka adalah orang yang akan bertahan hidup sebab ilmu mereka sudah tinggi, dan orang sakit, yang akan mati ditelan kekalahan di kota ini. Elisa datang ke Jakarta membawa aku si Wesel Pos, sebab hanya di badanku tertulis alamat kakaknya yang selama ini mengirim uang melalui aku.

Ceritanya sndiri setengah buku berfokus sama Elisa, stengahnya lagi sama Fahri. Dng fokus yg sudah bergeser, rasanya inti utama yg mau disampaikan dari buku ini gak bisa diterima aku sbg pembaca dng baik. Tapi di pertengahan itu sndri ada twist yg cukup bkin kaget.

Narasinya malah jd salah satu yg bikin ak tertarik baca. Gimana engga, dibawakan sama benda 😆 menarik bgt kan. Sayangnya (lagi) karakter yg dibangun berantakan. Istilah”nya lebih berantakan lagi. Utk contohnya, sekedar ‘gue, aku, saya’ aja gabisa konsisten. Juga adanya jalan cerita yg malah bikin mikir jelek ke karakternya.

Memang saking tipisnya baca buku ini slse cuma 2-3 jam, itupun sambil lakuin hal lain. Buku ini masih layak baca, karna tetep ada nilai” yg dipetik. Sbg orang luar Jkt rasanya makin menegaskan bayanganku sama kota satu ini. Sisi gelap Jkt dikupas, meski ga sampe habis.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
July 1, 2018
Novella ini sudah saya tunggu-tunggu sejak melihat infonya di media sosial. Wesel Pos. Diambil dari sudut pandang sebuah wesel pos usang, pembaca diajak melihat satu sisi kekejaman ibukota.

Elisa datang ke Jakarta mencari kakaknya yang sudah lama meninggalkan kampung. Dia hanya berbekal alamat di selembar kartu pos. Baru saja tiba di terminal, Elisa harus pasrah karena barang-barangnya dibawa oleh orang tidak dikenal. Syukurlah masih ada polisi yang berbaik hati mengantarnya ke alamat yang tercantum di wesel pos.

Di alamat itu dia bertemu Fahri, rekan kerja Ikbal, kakaknya. Fahri mengajaknya pulang ke rusunnya, diaku sebagai adik sepupu pada tetangganya. Elisa pun harus beradaptasi termasuk dengan segala permasalahan yang dihadapi Fahri.

Bisa dibilang ceritanya sederhana, tapi cukup page turner. Sayangnya saat habis dilahap, ada rasa tidak puas. Saya ingin kisah ini lebih panjang. Saya penasaran dengan nasib Elisa dan Fahri. Tapi kembali lagi, kisah ini milik selembar wesel pos di tengah belantara Jakarta yang terlalu maju.
Profile Image for isaiah.
159 reviews
July 28, 2022
⭐ 4.5/5

an interesting short book written by Kak Ratih Kumala!!

dari Gadis Kretek, langsung ngacir baca ini. naksir sama gaya penulisan Kak Ratih karena enteng bangettt. bikin nggak kerasa kalo novelnya udah mau kelar aja.

i'm in a hate and love relationship with the ending. realistis sih, tapi ngeselin juga, ahaha. yah, tapi memang harusnya kayak gitu nggak sih? 🙁

all reviews aside, this is prolly the shortest and will be one of my favourite book. 💝
Profile Image for Tri Tanto.
33 reviews
September 2, 2018
Bukan soal panjang atau pendek novel sih yang bisa membuat sebuah cerita jadi menarik. Jumlah halaman yang sedikit tidak akan pernah bisa membuat sebuah novel jadi buruk. Dalam Wesel Pos ini, saya belum bisa diyakinkan dengan bentuk semi fabel selembar wesel pos. Ada jarak, entah apa ya? Tapi kurang mantap begitu.

Btw kok sampulnya perangko ya? Ini kan wesel pos
Profile Image for Dennisa Hasanah.
87 reviews22 followers
August 7, 2021
"Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta"

Novel yang diceritakan dengan singkat, sederhana, dan seru. Tiba-tiba udah abis aja sekali duduk. Meskipun belum selesai membaca Gadis Kretek karya penulis, menurutku di kedua karya Penulis membawa latar belakang tokoh yang berasal dari daerah di Jawa Tengah di karya nya Gadis Kretek dan Wesel Pos. Sebagai pembaca aku kagum sama gaya kepenulisannya Penulis, ngalir aja gitu bacanya.

Novel ini diceritakan melalui sudut pandang dari Wesel Pos. Meskipun di pertengahan cerita aku lebih fokus ke Elisa dan Fahri beserta polemiknya sehingga lupa kalau novel ini diceritakan dari sudut pandang wesel pos, di akhir cerita aku mulai sadar lagi "Oh, iya si wesel pos!"
Profile Image for Launa.
247 reviews51 followers
August 7, 2020
“Malam di Jakarta takkan pernah sepi, selalu ada kejadian yang akan menjadi bahan perbincangan.” (Hlm. 46)

Sama dengan dua buku Ratih yang sudah saya baca, penokohan dalam novelet ini pun kuat. Para tokoh yang dihadirkan, baik tokoh utama maupun tokoh yang hanya hadir sekejap, semuanya memiliki peran yang pas dan menggerakkan cerita. Tidak ada tokoh yang sekadar tampil dan mubazir. Salah satunya bisa kita lihat dari sikap empat tokoh yang paling menarik perhatian sejak awal; Elisa, Fahri, Bu Hilda, dan Mas Memet. Keempat tokoh yang, menurut saya, paling menghidupkan cerita. Elisa dengan keluguannya, Fahri dan kehidupan kerasnya, Bu Hilda dengan kekepoan dan penilaian negatifnya, serta Mas Memet dengan kelucuannya.

Kehidupan kaum kecil yang disajikan dalam Wesel Pos cukup menarik dan memperlihatkan Jakarta yang sulit ditaklukkan, serta orang sakti dan orang sakit yang hidup di Jakarta—meskipun dari segi cerita kurang memuaskan dan kurang gereget karena konflik yang sederhana dan plot yang mudah tertebak. Novelet ini tidak berhasil membuat saya takjub seperti ketika membaca Gadis Kretek—novel sarat pesan yang memuat sejarah kretek di Indonesia—maupun kumpulan cerpen menyenangkan berisi cerita-cerita tidak membahagiakan dalam Bastian dan Jamur Ajaib. Akan tetapi, Wesel Pos berhasil menghibur lewat penokohan yang kuat dan penceritaan yang apik.

Resensi lengkap: https://bit.ly/2DsGYA8
Profile Image for RaLav.
91 reviews21 followers
March 21, 2022
Buku ini merupakan novelet atau novella alias novel tapi halamannya lebih dikit dibanidngkan novel biasanya yakni hanya memiliki 100 halaman saja. Bercerita tentang Elisa yang pergi ke Jakarta untuk menemui kakaknya dengan hanya berbekal sebuah wesel pos. Singkatnya setelah ia berada di Jakarta, ia kemudian dipertemukan oleh takdir dengan seorang lelaki bernama Fahri.

Suka sekali dengan ide cerita buku ini. Melalu perjalanan Elisa yang diceritakan dari sudut pandang sebuah wesel pos (walau povnya berubah-ubah, jadinya kadang membingungkan) aku dibawa melihat sisi lain dari glamornya kota Jakarta. Buku ini memperlihatkan kehidupan orang-orang berjenis ‘sakit’ di kota Jakarta.

Jujur saja gak nyangka endingnya bakal begitu. Rasanya buku ini harusnya lebih panjang lagi. Tapi itu juga pilihan penulisnya sih. Intinya aku pengen buku ini lebih panjang, hehehe.
Alurnya pas, gaya kepenulisannya juga enak dibaca bagiku. Jadi recommended buat yang mau jadiin buku ini selingan mungkin setelah baca buku-buku tebel. Rate untuk buku ini dariku 4/5⭐
Profile Image for fuhtreh.
99 reviews3 followers
March 5, 2023
ini apasih 😭😭😭😭😭😭😭 sumpah nyesek banget kenapasih aku jd kayak ke sugesti masalah jakartanya soalnya yg aku salahin jakartanya 😭😭😭😭😭 plot twist dikit terus kenapa endingnya harus kayak gitusihhhhhhh udah bukunya tipisssss kisahnya juga tipissssss dan mengirisssssss aku sakit hati baca endingnya
Profile Image for Fahri Hasymi.
18 reviews6 followers
June 9, 2018
Novela yang membingkai realita kehidupan di Jakarta yang (katanya) hanya ada dua jenis orang yang hidup di Jakarta. Pertama adalah orang sakti, kedua adalah orang sakit.

Yang menarik, novela ini dinarasikan oleh "Wesel Pos" yang (ajaibnya) di era yang semakin maju, ternyata masih digunakan seorang pekerja untuk mengirimkan uang untuk menghidupi keluarganya di kampung.

Novela ini berkisah mengenai gadis desa bernama Elisa yang menyusul kakaknya ke kota, pengorbanan Fahri si supir yang juga memiliki sampingan sebagai kurir, hingga kesaktian Mas Memet yang bekerja sebagai... (coba cari tahu sendiri gih, hihi).

Bagi saya novela yang satu ini tak hanya sekadar menarik, namun juga getir dan aktual!
Profile Image for Siska.
84 reviews2 followers
June 25, 2021
Direkomendasikan oleh salah seorang teman karena bukunya menggunakan sudut pandang selembar wesel pos. Iya, unik. Makanya, aku tertarik. Ngecek gramedia digital dan ternyata ada! Tertulis di deskripsinya novel ini hanya 112 halaman, oke lah gas baca.

Wesel Pos bercerita tentang seorang gadis asal Purwodadi bernama Elisa. Elisa tinggal berdua dengan ibunya di kampung, sedangkan kakaknya, Ikbal, pergi merantau ke Jakarta. Saat ibunya telah tiada, Elisa hendak pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan kakaknya sekaligus memberi tahu kepadanya tentang kepergian ibu mereka. Selama ini, Ikbal selalu rutin mengirimi uang bulanan kepada Elisa dan ibunya melalui wesel pos. Di wesel pos, tertera nama lengkap dan alamat kantor Ikbal. Berbekal wesel pos tersebut, Elisa berangkat ke Jakarta. Berhasilkah Elisa bertemu dengan kakaknya?

"Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta"

Jakarta dalam novel ini, digambarkan bukan hanya sebagai kota elit metropolitan, melainkan Jakarta yang punya sisi lain di luar kemewahan, Jakarta dengan segala keanekaragaman penduduknya, Jakarta yang punya segudang cerita di setiap sudutnya.

Aku sangat menikmati membaca novel ini. Page turner. Narasinya mengalir, alurnya cepat, storyline menarik, dan penokohannya baik. Ending dari novel ini pun menurutku sudah pas, walau sempat berkata "loh udah segini aja?" Hahaha, saking serunya baca. Karena begitu menarik perhatianku, maka novel ini bisa kuselesaikan dengan cepat. Beberapa kali sempat merasa lucu mengingat naratornya adalah selembar wesel pos. Wesel pos yang menjadi saksi seluruh peristiwa "keras" kehidupan Elisa di Jakarta.
Profile Image for Shafira Indika.
303 reviews237 followers
February 24, 2021
Seperti pada Gadis Kretek, aku juga suka gaya penulisan Ratih Kumala. Bahasanya mengalir enak & ga belibet gt sehingga mudah dipahami. Selain itu, mnrtku ceritanya page turner juga. Buku ini tipis bgt sehingga bisa dihabiskan sekali duduk (kalo lg ga sibuk hehe).

Ceritanya sederhana & menarik, mengangkat kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah yg mengadu nasib di Jakarta. Fahri, seorang sopir kantor, bertemu dengan Elisa, seorang gadis desa yg hendak mencari kakaknya di Jakarta berbekal alamat yg tertera pd wesel pos yg biasa dikirim kakaknya utk dia dan ibunya di kampung.

Selain itu, buku ini bercerita dari sudut pandang yang unik yaitu dari selembar wesel pos—hal inilah yg bikin aku penasaran buat baca buku ini. Namun, selama membaca bukunya, mnrtku buku ini cenderung bercerita dari sudut pandang orang ketiga instead of si wesel pos tadi. Sudut pandang wesel pos mnrtku hanya muncul secara dominan di bagian awal dah akhir cerita, namun hilang di tengah-tengah cerita. Pdhl, aku penasaran banget gmn cara menceritakan keseluruhan buku dari awal sampe akhir cerita.

"Cuma orang sakti yang bisa hidup di Jakarta"

Begitulah kalimat yg tertera di halaman depan buku ini & mnrtku buku ini sudah membuktikan kebenaran kalimat tsb.

Overal, aku suka buku ini krn ceritanya yg sedehana & gaya penulisannya yg enak dibaca. Kyknya aku pengen baca karya2nya Ratih Kumala lagi, sih, stlh jatuh cinta sama 'Gadis Kretek' dan merasa suka sama 'Wesel Pos'.

Rate: 4,25/5⭐️
Profile Image for Maudi.
29 reviews24 followers
February 28, 2022
”Pulanglah kamu ke kampung. Buat apa di sini. Kota ini brengsek.”

Judulnya Wesel Pos, diambil dari sudut pandang benda yaitu wesel pos juga. Sayangnya pengambilan sudut pandang ini gak konsisten dan lebih dominan pov orang ketiga serba tahu. Harusnya dari awal mending dibuat pov orang ketiga serba tahu sih, menurutku.

Semua tokoh punya porsi yang pas dalam penggambaran karakternya. Ada Elisa yang lugu, ada Fahri yang melengkapi roman tipis-tipis di sini, ada Bu Hilda yang julid, dan tokoh-tokoh lain yang mengadu nasib dengan kerja apa adanya di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Satu quote pembuka ketika pertama kali membuka buku ini, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.”

Buku ini cukup unik sih menghubungkan wesel pos dengan Jakarta. Bahasanya pun ringan namun kisahnya miris dan mengiris hati. Ada 100 halaman jadi cocok untuk dibaca sekali duduk. Membaca novelet ini mengingatkan aku sama bukunya Okky Madasari yang 86. Punya vibes yang sama-sama menceritakan kehidupan jakarta yang riuh, panas, buru-buru, dan marah-marah.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
June 27, 2018
** Books 95 - 2018 **

3,8 dari 5 bintang!

Astagaa saya baru tahu kalau Ratih Kumala mengeluarkan buku terbarunya.. Saya terkejut ketika melihat bukunya udah nongol di Gramedia Digital haha buru-buru langsung dibaca dan lupakan dulu buku BBW yang sedang saya baca wkwkwk

Seperti biasa karya ratih Kumala berhasil menghipnotis saya dengan ceritanya yang sederhana tetapi menyesakkan hati tentang kehidupan keras di Ibukota Jakarta

Makin suka lagi buku ini menceritakan dari sudut pandang yang tak biasa yaitu dari Wesel Pos yang terbawa hingga ke Jakarta dan melihat rangkaian kejadian orang-orang yang menimpa di sekelilingnya.. wahh keren sih ini idenya saja saja jujur tidak pernah menggunakan jasa wesel pos.. kalau jaman sekarang mungkin seperti western union kali ya.. tidak ada bayangan karena sekarang mudah transaksi apa-apa via perbankan ataupun kartu kredit??

Buku yang sederhana dan memikat namun ceritanya cukup kompleks? Buku ini saya rekomendasikan untuk orang-orang yang ingin merantau ke Ibukota Jakarta dan ingin menyaksikan salah satu dibalik gemerlapnya Kota Jakarta terdapat hal-hal yang tidak seindah penampakannya..

Terimakasih Gramedia Digital Premium!
Profile Image for hvmaniora.
45 reviews5 followers
July 28, 2021
Ekspektasi oh ekspektasi. Dari judul dan mula cerita yang disajikan, saya pikir novelet ini akan benar-benar membawa saya melihat kejadian dari sudut pandang benda: wesel pos. Nyatanya sama sekali tidak. Sayangnya, “tidak” yang saya maksud di sini tampak begitu blur. Sebentar kita akan dibawa melihat dan mendengar apa yang mungkin dilihat dan didengar wesel pos, tapi kemudian kita akan disuguhkan sudut pandang serba tau yang lebih luas daripada sebelumnya. Terus begitu, dari awal sampai akhir. Tanpa jeda yang jelas “mata siapa” yang sedang kita gunakan saat membaca alur ceritanya.

Untuk teman baca sekali duduk, novelet ini akan sangat cocok. Ditambah dengan cara bercerita Ratih Kumala yang cukup lugas sehingga alirannya nyaman terbaca. Sayangnya, novelet yang berkisah tentang “kehidupan Jakarta” ini terlalu menempel pada stereotip yang miring. Lagi-lagi permasalahan saya di sini—mungkin—adalah ekspektasi. Saya mengharap ibukota disuguhkan dari sudut pandang lain; yang memecahkan kacamata media, yang benar-benar ada tapi seringkali diabaikan.
Profile Image for grace.
164 reviews6 followers
March 26, 2022
⭐: 4/5

kuakui cerita ini keren, mengingatkan seluk-beluk jakarta yang sering luput dari orang awam. gaya penulisannya juga asyik banget, ngalirnya enggak kerasa. tapi kenapa ending-nya harus nyebelin gini sih!?!?!
Profile Image for Nia potterr.
180 reviews4 followers
March 2, 2025
Menggambarkan sisi gelap jakarta, sedih banget sih gua jd elisa kayak seakan akan dunia gaada yang berpihak sm dia. Poor elisa
Profile Image for athiathi.
367 reviews
September 3, 2022
Aku baru pertama kali membaca novelet. Menurutku, buku ini cukup unik karena menggunakan sudut pandang sebuah benda yakni wesel pos. Meski, hanya disorot beberapa kali..

Isinya ringan dan berat. Entah kenapa di awal aku merasa ini ringan untuk dibaca, tetapi saat konflik sudah naik ke permukaan, aku perlu membaca dengan perlahan.

Buku ini tipis—hanya 100 halaman. Cocok untuk mengisi waktu luang.

Pelajaran yang bisa diambil dari buku ini:
1. Jangan percaya kepada orang lain, mau sebaik apapun orang itu.
2. Jangan dengarkan kata orang lain, karena orang lain tidak tahu apa yang sudah kamu lalui.
3. Setia itu penting.
4. Kita perlu memberitahu kebenaran meski pahit adanya.

Mungkin cukup. Sampai jumpa! 💛
Profile Image for cunong.
17 reviews2 followers
March 5, 2022
Wesel Pos karya Ratih Kumala punya semua resep untuk jadi buku yang pengen cepet-cepet aku selesaikan: halamannya tipis, pace ceritanya cepat, POV-nya unik dari benda mati (selembar wesel pos), karakter yang realistis, gaya bercerita yang mengalir dan temanya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Meskipun pace ceritanya cepat, tapi cukup untuk membuat kita bersimpati dengan tokoh utamanya, Elisa.

Elisa ini asalnya dari Purwodadi. Memutuskan pergi ke Jakarta untuk ketemu kakaknya, Ikbal, yang udah lama banget ga ketemu. Ibu mereka baru aja meninggal dan Elisa cuma punya kakaknya sebagai surviving family member. Keputusan Elisa untuk pergi ke Jakarta bisa dibilang nekat, selain karena uangnya ngepas, Elisa cuma punya alamat kakaknya di wesel sebagai petunjuk satu-satunya. Kakaknya emang rutin ngirimin uang setiap bulan via wesel, tapi susah buat dihubungin.

Tapi perjalanan Elisa untuk nemuin Ikbal ga berjalan mulus karena Jakarta itu..... keras, bos. Orang-orang ngelakuin apa aja yang mereka bisa untuk bertahan. Kadang dengan cara ngerugiin orang lain. Elisa juga ketemu orang-orang yang bikin dia gedeg setengah mati, tapi dia juga ketemu orang-orang baik yang bersedia untuk bantuin Elisa. Bagi Elisa, orang-orang yang bisa hidup di Jakarta itu hebat. Soalnya bagi Elisa, Jakarta itu besar, sesak, dan tanpa ampun. Kita nanti dikasih liat konflik yang terjadi ke penghuni rusun Elisa dan gimana orang-orang ini berusaha bertahan dari sulitnya hidup di Jakarta sebagai orang miskin.

Kalau suka A Copy of My Mind-nya Joko Anwar, aku rasa kamu akan suka juga dengan Wesel Pos! Sayang sih karena penceritaan dengan sudut pandang si wesel ini agak ga konsisten. Hilang di tengah-tengah, terus muncul lagi menjelang akhir. 4/5 ⭐
Profile Image for nana.
71 reviews6 followers
August 2, 2023
⭐4.3/5

Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta

Sepenggal kalimat itu sudah mampu menggambarkan keseluruhan isi buku, yang bagi saya pribadi terasa cukup miris dan kasihan. Iya miris─terhadap kebaikan karakter Fahri dan juga kasihan terhadap keluguan karakter Elisa.

Novel ini berkisah mengenai Elisa─seorang gadis lugu dan polos asal Purwodadi─yang datang ke Jakarta untuk mencari keberadaan sang kakak, Ikbal. Mirisnya, Elisa datang ke Jakarta hanya berbekal sepucuk alamat dari wesel pos lecek yang dikirim sang kakak. Sialnya, alih-alih menemui keberadaan sang kakak, Elisa malah terluntang lantung tak tahu arah di Ibukota, yang akhirnya mengantarkan gadis itu bertemu dengan Fahri─teman kerja sang kakak. Dari pertemuan itu, Elisa jadi tahu bahwa hidup di Jakarta sangatlah keras.

Bagi saya buku ini sangatlah tipis; hanya 100-an halaman dan saya menyelesaikan buku ini kurang dari 2 jam. Meskipun begitu, buku ini sanggup mendeskripsikan kehidupan marjinal di ibu kota. Selain itu, buku ini juga bercerita melalui sudut pandang si wesel pos─iya, wesel pos! Hanya saja sudut pandang melalui wesel pos rasanya agak seperti tempelan, karena sepanjang cerita saya hampir-hampir lupa kalau novel ini diceritakan melalui sudut pandang "benda mati".

Meskipun tipis dan sederhana, ceritanya tidak seringan itu, kok. Secara keseluruhan saya suka, walaupun agak kurang berkesan baik dari segi cerita maupun karakter.
Profile Image for Truly.
2,768 reviews13 followers
July 16, 2018
http://trulyrudiono.blogspot.com/2018...

Membuat ulasan lebih lama dari pada membaca buku ini.
Sejak bertemu dengan Gradis Kretek, saya sudah berharapkan bakalan muncul karya baru. Meski setelah membaca buku in harus berkomentar agak nyeleh, kok sudah tamat?

Oh ya, saya menuliskannya sebagai "weselpos" bukan "wesel pos" seperti yang ada di buku. Hal ini dikarenakan saya mengacu pada penulisan yang ada di situs resmi PT Pos Indonesia. Mungkin saja saya salah, tapi karena weselpos merupakan salah satu layanan yang ada di PT Pos Indonesia, maka saya memilih mengikuti penulisan yang ada pada situs tersebut.

Saat akan mulai membaca buku ini, mendadak saya teringat pada selembar weselpos yang sering saya jumpai di kantor pos dulu. Dengan warna abu-abu tua, ukuran yang lumayan besar dan tebal, tentunya membuat weselpos menjadi barang yang mudah dikenali diantara produk pos lainnya.

Seiring perkembangan zaman, wesel juga mengalami perubahan. Tidak saja secara fisik namun juga mekanisme pelayanan. Ukuran kertas lebih ringan dengan warna putih sederhana. Pelayanan juga beragam, penerima weselpos bisa langsung mencairkan uang yang ia terima dalam cepat.

Jadi weselpos versi mana yang ada dalam kisah ini? Saya menemukan jawabannya pada ilustrasi di halaman akhir kisah.
Profile Image for Desti Astiani.
123 reviews13 followers
September 2, 2020
Pernahkah kamu membaca cerita dari sudut pandang selain manusia dan hewan?⁣

Kisah perjuangan Elisa dari Purwodadi yang datang ke Jakarta untuk mencari keberadaan kakaknya yang bernama Ikbal Hanafi diceritakan dari sudut pandang Wesel Pos. #WeselPos adalah alat yang digunakan semua orang untuk mengirimkan uang. Seperti Ikbal yang selalu menggunkannya setiap bulan untuk mengirimkan uang kepada Elisa dan ibunya.⁣

Si Wesel Pos lecek bercerita dengan sangat menarik, berkarakter layaknya manusia yang bisa marah jika dihina, di mana Wesel Pos tersebut selalu tersimpan dalam kantong jaket jeans Elisa, kemudian tiba di rumah susun Fahri, hingga bisa sampai ke tangan Pak Polisi, lalu terbang dan menjauh.⁣

Tokoh Elisa ini bikin gemas, dia perempuan polos, lugu dan tidak menuruh sikap curiga sedikit pun pada orang yang baru dia kenal. Datang ke Jakarta hanya mengandalkan selembar kertas Wesel Pos yang tertera alamat kakaknya dan telepon genggam butut pemberian dari kakaknya.⁣

"Hari gini masih ngirim uang pake Wesel Pos? Lo tinggal di gua?"— Fahri (Hlm. 33)⁣

Elisa selalu membela Si Wesel Pos, memperlakukannya dengan terhormat, menganggapnya berharga.⁣

Cerita yang sangat singkat, dengan latar cerita Kota Jakarta, rumah susun dan perkantoran. Dengan peliknya masalah pekerjaan yang dijalankan demi mendapatkan uang. Menyajikan alur cerita yang menimbulkan rasa cemas dan penasaran sampai halaman terakhir ketika membacanya.⁣
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
July 18, 2018
Banyak review yang bilang buku ini terlalu tipis. Menurut saya tidak terlalu masalah karena Ratih mengemas cerita dengan tetap apik. Berkisah tentang selembar wesel pos yang dibawa seorang gadis bernama Elisa dari Purwakarta yang hendak menyusul kakaknya di Jakarta. Tanpa disangka kehidupan ibu kota yang begitu kejam membuat Elisa harus mempertaruhkan nasibnya sendiri. Banyak konflik-konflik yang dengan cepat dikemukakan semenjak Elisa sampai di Jakarta. Serunya, semua terjawab dalam seratus halaman.

Satu hal yang agak mengganjal bagi saya, di awal cerita seluruh kisah ini akan dituturkan oleh selembar wesel pos. Namun, ditengah cerita, sepertinya penutur kisah bukanlah lagi selembar wesel pos, tetapi si penulis itu sendiri. Baru di akhir novel, konsep cerita kembali ke awal; penutur kisah adalah si wesel pos.

Meskipun sedikit membingungkan antara point of view penulis dan wesel pos, saya tetap menikmati novel tipis ini.
Profile Image for Shabrina Nova.
76 reviews
January 30, 2024
Elisa hidup bareng ibunya di kampung, tapi beberapa waktu lalu ibunya meninggal. Dia punya kakak, ngerantau ke Jakarta, tapi dia ga punya kontaknya sama sekali; gatau nomor HP bahkan kantor kakaknya. Tapi, si kakaknya ini selalu kirimin uang lewat wesel. Karena ga punya kontak sama sekali, dia nekat ke Jakarta buat ikut ngerantau. Nah, dari situlah petualangan Elisa dimulai. Yang bikin menarik adalah ini diambil sudut pandangnya dari si wesel wkwkwkkw

❤️Unik karena ceritanya diambil dari sudut pandang benda, yaitu wesel
❤️Ini penulisnya yang nulis Gadis Kretek, jadi enak dibaca sih menurutku.

🙏🏻Sayangnya, karena dia ngambil sudut pandang wesel, menurutku beberapa scene agak aneh jadinya. Misalnya, harusnya si Wesel ga ada di lokasi, tapi kok ceritain kondisi Elisa yg beda lokasi sama dia. Jadi kayak maksa banget gitu
Displaying 1 - 30 of 343 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.