Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ayahku (Bukan) Pembohong

Rate this book
Bilakah kali terakhir kita memeluk ayah kita? Menatap wajah tuanya, lalu menyatakan rasa kasih kita padanya? Bilakah kali terakhir kita berbual kosong, gelak ketawa, berkasih sayang, lalu meraih tangan ayah kita dan berbisik, betapa kita bangga padanya?

Ini kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan cerita-cerita hikayat dan erti kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang akhirnya membuat anak itu malah jadi benci pada ayahnya. Ini kisah tentang mengenal kebahagiaan sejati. Bacalah kisah ini agar kita juga dapat menemukan kebahagiaan kita.

Mulakan membaca muka surat pertama dengan hati yang terbuka. Dan apabila tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin untuk mendapatkan ayah kita, sebelum semuanya terlambat, lalu kita takkan pernah menemukan kesempatan itu lagi.

311 pages, Paperback

First published April 1, 2011

550 people are currently reading
6656 people want to read

About the author

Tere Liye

72 books13.5k followers
Author from Indonesia.

"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi TIDAK pernah menulis buku."

"1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan membuat kita naik pangkat menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan habiskan waktu jadi komentator, mulailah jadi pelaku."

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4,324 (48%)
4 stars
2,982 (33%)
3 stars
1,308 (14%)
2 stars
240 (2%)
1 star
109 (1%)
Displaying 1 - 30 of 970 reviews
Profile Image for Rahmi Ayu Umami.
48 reviews16 followers
June 6, 2011
Saya cuma pengen baca bukunya sampai akhir.
Saya cuma pengen memformulasikan ulang sosok 'ayah' di mata saya.
Ayah, yang selama ini saya menaruh berjuta harapan, namun juga harus menerima kekecewaan dengan jumlah yang sama.
Bagaimana bisa seorang anak bisa mencintai ayahnya, respek padanya, bila di hatinya masih ada sejuta kata yang belum tersampaikan, betapa anaknya menaruh begitu banyak harapan, tentang kasih sayang, cinta, rasa hormat, ketulusan. Dan saya di tengah keterbatasan pengendalian emosi, begitu ingin belajar pada Tere Liye tentang itu semua.
Seharusnya saya yang membangun cinta, bukan menunggu cinta, bahkan pada sosok yang seharusnya memberi itu semua pada saya. Ayah.

"i don't need your money, Dad..I just want your love"

(lalu saya membaca bukunya)

Setelah membaca bukunya, saya cuma pengen bilang BUKU INI KERENNNNNNN BANGGETTTTTT. parah banget kalo ada anak Indonesia yang ngakunya pengen membangun negeri ini tapi ga pernah baca novel ini.
Hikmah yang didapet ampe segudang.

Ada beberapa teman saya yang sedikit kcewa pada ending kisahnya. Saya sendiri sangat puas dengan keseluruhan isi novel, walaupun ada satu penulisan kata yang salah: 20 tahun lalu harusnya 30 tahun lalu. Alur novelnya, klimaksnya, dan semua-muanya perfect. Berhasil membuat saya nangis berurai air mata di angkot caringin-sadang serang.

Sesudah baca novel ini saya jadi pengen bikin sekolah kaya Akademi Gajah.

Perfect job bang Tere :) kalo kata saya ini buku terbaik Tere yang saya baca.

Tapi terkait memformulasikan sosok ayah belum berhasil kayanya. Novel ini lebih ke menunjukkan sosok ayah ideal seperti apa (karena ayahnya Dam memang sangat-sangat keren). Sedangkan begitu banyak ayah di muka bumi ini dengan begitu macam karakter. Jadi mungkin bang tere harus bikin novel lain lagi.hehe
Profile Image for Riany Moessa.
136 reviews2 followers
November 26, 2011
tiap-tiap orang mungkin punya pandangan yang berbeda-beda....tapi bagiku, dari kesekian buku yg pernah saya baca....baru buku AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG by TERE-LIYE yang sukses membuat saya menitikkan air mata....dari lembar per lembar tanganku tdk pernah mau lepas untuk membaliknya menuntut untuk dibacakan...dan semakin akhir saya membaca...semakin membuat dada saya sesak...seakan-akan ada sesuatu yg mengganjal dan ingin di keluarkan...air mataku tidak dapat terbendung lagi....membuatku mengingat kembali hubunganku dengan ayah yg selama ini kulihat masing2 hidup di dunianya masing2....membuatku selalu merindukan sosok ayah.
Profile Image for Wendy Achmmad.
10 reviews
July 12, 2011
Ayah ... aku menangis!"

Dan inilah buku yang kembali membuat aku menangis. Buku yang kembali mengantarkan memori aku pada ayah yang begitu besar jasanya bagi diriku.

Ayah, ceritakan seluruh hidupmu. Aku berjanji untuk mendengarkan! Aku tahu engkaulah pahlawan dalam hidupku. Selamanya!

"Seorang ayah akan selalu memberikan yang terbaik pada anaknya"

Ya, itulah kesimpulan yang bisa diambil dari sebuah buku yang bercerita tentang hal sederhana tapi mendalam.

Aku jadi teringat diri sendiri yang mirip dengan Dam, meski aku yakin aku lebih kecil dari dia. Kulitku hitam, seperti itulah teman-temanku mengatakan. Dulu aku sempat menuduh Tuhan kejam padaku, tapi dari sinilah semua itu berubah menjadi sebuah kebanggan.

Dan yang pasti tidak ada secuil pun balas jasa yang sudah aku lakukan pada ayah. Apa yang tampak selama ini kuberikan bukan apa-apa. Semua hanyalah sebiji zarah, bahkan lebih kecil lagi, lebih kecil dari partikel virus dibandingkan dengan alam semesta.

Saat ini juga aku selalu ingin mendengar kisah-kisah muda bapak yang selalu memenuhi setiap jalanku. Aku juga selalu senang ketika ayah menceritakan pemain bola idolanya, Diego Maradona, si kidal pencipta gol kontroversial sedunia.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,355 reviews43 followers
September 14, 2011
Anggap saja sudah selesai ya.

Memang niatnya sudah stop baca buku pengarang ini, karena saya tidak cocok dengan gaya bercerita yang ditulisnya. Tapi buku ini tergeletak nganggur tidak jelas di tangga masjid, maka saya bawa ke perpustakaan. Tentu saya masih percaya nilai2 kebaikan dan kasih sayang keluarga selalu hadir dalam karya2 pengarang ini.

Namun lagi2, buku Tere-Liye yang ini tidak berhasil membuat saya tekun membacanya dari halaman ke halaman secara berurutan. Saya loncat2 karena sudah lelah mencari benang merah logika antara dunia di mana terdapat anak2 "zaman sekarang" yang bersaing menjadi anggota tim inti klub renang, dunia di mana Liga Champions Eropa untuk sepakbola ramai ditonton hingga luar Eropa, juga dunia dengan internet yang bisa menghadirkan segala yang terpisah jarak dengan sentuhan jari saja. Mengapa dunia semacam ini bisa paralel dengan dunia di mana Suku Penakluk Angin naik layang2 besar sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang, juga dengan dunia di mana si Raja Tidur bisa sangat kuat dan berkuasa di tengah kelaliman bangsanya?

Baiklah, jika ini buku dongeng belaka, saya setuju dan tidak akan peduli logika cerita. Tapi jujur saja, saya pusing membacanya. Mungkin saya yang kurang imajinasi, atau kurang intelek, atau bisa jadi kurang nyastra juga. Maklum, saya punya predikat baru, "ibu2 gosip bener ni". Dan mohon maaf juga kalau anda pusing juga baca curhat ini. Nggak logis pun. Jadi, walaupun masih ada bagian buku yang belum sempat terbaca, tapi kan saya sudah tahu ujung cerita. Dan hei, bisa jadi karena dalam kehidupan keluarga saya yang biasa2 ini belum pernah ada momen semengharukan antara saya dan ayah saya seperti Dam dan ayahnya, saya tidak bisa memberi bintang lebih dari dua buat buku ini.

Sekian. Selamat menyambut puasa Ramadhan. Mohon maaf lahir batin.
Profile Image for Rizki Kurnia.
3 reviews3 followers
April 11, 2012
Satu lagi karya Tere-Liye yang berlatar kehidupan kanak-kanak. Entah kenapa saya memang lebih suka kisah dari Tere-Liye yang bertema anak-anak, dibandingkan kisah-kisah cinta yang terangkum dalam Senja Bersama Rosie atau Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Novel ini mengisahkan seorang anak lelaki bernama Dam yang dibesarkan oleh ayahnya yang senang bercerita. Cerita-cerita yang disuguhkan ayahnya memang bukan cerita biasa, melainkan dapat memotivasi Dam untuk menjadi anak yang berprestasi dan berhasil meraih cita-citanya, di antaranya: juara lomba renang, bersekolah di sekolah top untuk calon arsitek, dan sebagainya.

Namun demikian, seiring berjalannya waktu dan kedewasaan, Dam merasa kisah-kisah ayahnya tak lebih dari sekedar bualan. Memang cerita-cerita ayah Dam sering tidak masuk akal, seperti pernah bersahabat dengan anak yang ketika besar menjadi bintang Liga Champions, menikahi wanita yang ketika mudanya adalah aktris terkenal, dan sebagainya. Karena "bualan" ayahnya itulah, Dam malah membenci sosok yang berjasa mengantarkannya menjadi orang hebat. Bahkan dia melarang dua buah hatinya untuk berakrab-akrab ria dengan sang kakek. Alasannya, "tidak semua yang diceritakan kakek itu benar."

Namun di akhir cerita, Dam sangat menyesal. Karena apa? Silakan baca sendiri novel ringan yang membuat kita seolah tidak bisa berhenti sebelum menyelesaikannya ini.
Profile Image for Suzan Oktaria.
345 reviews29 followers
April 14, 2011
Dalam sinopsisnya

Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

Dua kali aku menitikkan air mata saat membaca buku ini, terkadang kita baru merasakan kehilangan setelah kita benar-benar kehilangan. Pertama saat Dam kehilangan Ibunya dan kedua saat Dam harus merasakan kehilangan Ayahnya dan Dam tahu Ayahnya bukan Pembohong.

Banyak sekali kearifan yang diberikan oleh Tere Liye dalam buku ini, tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan kesederhanaan, arti perjuangan dan kemenangan hingga tentang arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan hakiki tak bisa diukur dengan berapa banyak yang dimiliki karena kebahagiaan itu lahir dari hati kita sendiri.

Buku ini tak hanya menggugah dan membuat haru, namun buku ini mengajarkan kita tentang menata ulang pribadi menjadi pribadi yang lebih baik dan berbudi luhur, memberikan penghormatan kepada orang tua kita, karena seburuk apapun ataupun bagaimana pun sikap orang kita kepada kita, sebagai seorang anak, kita layak memberikan penghormatan bagi mereka.
Profile Image for Icha Ayu.
Author 5 books22 followers
October 5, 2011
Buku ini adalah buku pertama Tere-Liye yang saya baca dan membuat saya mencari buku-bukunya yang lain. Tere-Liye langsung masuk daftar penulis Indonesia favorit saya :)
membaca buku ini memang membawa saya bertanya-tanya dan membandingkannya dengan dunia nyata. mulai dari sang Kapten sampai beberapa peristiwa yang dieceritakan dalam dongeng saya coba logiskan namun ternyata kita memang hanya perlu berserah pada imajinasi dan mengikuti cerita indah ini dengan penuh penasaran dari lembar ke lembar.
saya sendiri sudah bisa menebak endingnya setelah kemarahan Dam kepada Ayahnya yang terus berbohong. Cerita ini pasti berakhir dengan kematian sang Ayah dan kehadiran sang kapten di pemakamannya ucap saya..
cerita tentang kesederhanaan, cinta kasih orang tua, dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil setelah selesai membacanya.
Hanya ada satu hal yang membuat saya sulit memberi bintang 5 pada buku ini, yaitu keberadaan epilog yang merangkum semua cerita dan membuat saya yang sedang merenung tentang pesan moralnya sendirian tiba-tiba disuguhi secara gamblang pesan moral tersebut (iseng liat buku yg lagi saya baca skrg ternyata juga ada epilognya, mungkin memang ciri khas penulis seperti itu).However, you really are a great writer Bang Tere :)
Icha

6 reviews
May 26, 2011
Terkadang tanpa kita sadari melupakan kebijakan dan kebaikan bapak.
Padahal beliau telah mengajarkan kebijaksanaan hidup pada anak2nya dnegan caranya masing2.
Seperti tokoh ayah dalam novel ini yang mengajarkan kebijaksanaan hidup pada anaknya Dam melalui cerita2 ayah. Dam lalu tumbuh menjadi anak yang baik dan dikenal oleh seluruh kota karena kebaikannya. Namun ketika dia beranjak remaja, dia mulai ragu akan cerita2 ayahnya, bahkan dia menyangka ayah adalah seorang pembohong. Apalagi sejak ibunya meninggal, keraguan akan ayahnya semakin memuncak. padahal ayah tak pernah berbohong, bukankah ayah dikenal sebagai orang yang paling lurus, jujur dan sederhana di kota ?
Dam akhirnya mengetahui kebenaran bahwa ayahnya bukan pembohong saat ayah sudah meninggal. Kebijaksanaan ayah akan bisa disadari justru saat ayah meninggalkan Dam.
Sungguh novel yg benar2 menggugah perasaan seberapa besar rasa sayang kita ke ayah / bapak masing2.
I love u Bapak... =)
Profile Image for Dinan Fatimah.
34 reviews5 followers
September 19, 2011
Aaaahhh buku ini bener-bener buku bagus.

Ayahku (Bukan) Pembohong sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai yang seorang ayah coba tanamkan kepada anaknya melalui kisah petualangan sang ayah dan dongeng-dongeng. Buku ini menyampaikan tentang kebahagiaan sejati, pengorbanan, keluarga, yang menurut saya penting untuk diketahui calon-calon pembina keluarga. Membacanya membuat pikiran tercerahkan dan membawa perasaan bahagia.

Satu yang membuat saya penasaran, apakah tere-liye mendidik anak-anaknya dengan cerita dan dongeng dongeng? apakah cara ini lebih berhasil dari metode pendidikan modern?

Selama membaca, saya sukses dibuatnya tertawa dan menangis. Saya banyak menangis selama membaca buku ini, merefleksikan tokoh Dam pada diri saya. Betapa jarangnya kita menyampaikan rasa sayang pada ayah kita, betapa sebenarnya mereka sangat ingin memeluk anaknya sendiri.
Rate Five.

Profile Image for Ummu Auni.
664 reviews
January 17, 2016
Sebuah kisah sederhana, seorang anak yang dibesarkan dengan kisah-kisah yang diceritakan ayahnya tetapi bila dia menginjak dewasa, dia memilih untuk tidak mempercayai cerita-cerita dongeng ayahnya. Saya kira tema sebenar lebih kepada begitu banyak petualang di dalam kehidupan kita, tetapi kekallah menjadi orang yang sederhana, jujur. Biarkan anak sentiasa memandang ibu bapa dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.
Profile Image for Nanav J..
1 review
May 12, 2018
jalan ceritanya MIRIP banget sama film "BIG FISH" tentang seorang ayah yang suka cerita ke anaknya kisah petualangan ayahnya waktu masih muda, dimana setelah anak itu besar dia mulai ragu bahkan menganggap cerita itu hanya imajinasi ayahnya, tapi diakhir cerita akhirnya anak itu tau kalo cerita itu gak bohong.

jadi selama saya baca buku ini, saya udah tau anaknya bakal nganggep ayahnya bohong setelah besar dan pada akhirnya nyesel setelah tau ayahnya gak bohong🤣.
Profile Image for Agustin Wilujeng.
15 reviews
September 15, 2017
Identitas Buku
Judul : Ayahku (Bukan) Pembohong
Pengarang : Tere - Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Perancang Sampul : Lambok Hutabarat
Tahun Terbit : April 2011
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan : Kedua belas Desember 2014
Tebal Novel : 308 halaman, 20 cm
ISBN : 978 – 979 – 22 – 6905 – 5

Gambar Kover : Berwarna biru dengan latar belakang langit berawan putih dengan apel berwarna emas yang berjendela dua. Pada jendela pertama memperlihatkan pesepakbola bernama El Capitano dan teman-temannya serta pada jendela kedua menggambarkan sebuah lembah Bukhara dengan pohon hijau yang besar berada di tengah-tengahnya. Selain itu, ada gambar lain yaitu sebuah layang-layang besar berwarna coklat yang ditumpangi oleh dua orang suku penguasa angin.

Tokoh utama dalam cerita ini bernama Dam, seorang anak tunggal dari ayah dan ibu yang hidup berkecukupan. Tidak miskin tidak juga kaya. Ia tumbuh dengan rambut keriting eksotik. Membuatnya diberi nama panggilan baru di sekolah, “ si keriting ”. Selain itu ia juga dipanggil “ pengecut”. Adalah Jarjit, anak orang paling kaya seantero kota yang punya gara-gara.

Suatu ketika Jarjit berkelahi dengan anak-anak kampung dekat sekolah mereka. Ia babak belur. Memar di sekujur tubuh. Tapi ia tidak kapok sama sekali. Malah berniat menuntut balas pada anak-anak begundal itu. Ia pun mengajak seluruh teman lelakinya untuk bergabung memberi anak-anak kampung kumal itu pelajaran dan agar mereka tahu mereka tengah berhadapan dengan siapa. Ya, Jarjit memang agak sombong, maklumlah masih anak-anak. Semua teman-temannya sepakat ikut kecuali Dam. Ia keukeuh tidak mau berkelahi apalagi hanya untuk membalaskan dendam seorang anak bernama Jarjit yang kenakalannya sudah terkenal dari ujung ke ujung.

Apakah Dam penakut ? tidak ! sama sekali tidak. Hanya saja ia selalu ingat kisah demi kisah yang sering diceritakan ayahnya, tentang lembah bukhara, suku pengendali angin, juga cerita sejarah hidup idolanya, Sang Kapten. Ia ingin meniru teladan-teladan yang baik dari mereka. Sejak itulah ia dipanggil pengecut. Pengecut yang tidak mau berkelahi.

Dam selalu senang dan antusias mendengar cerita dari Ayahnya. Begitupun ayah, tak pernah bosan bercerita. Ya, namanya juga anak-anak. Selalu tertarik dengan cerita. Yang penting seru, mereka tidak berfikir apakah cerita itu nyata atau karangan si pencerita saja. Lambat laun Dam akan tahu ayahnya membual dengan cerita-cerita itu atau tidak. Dari cerita ayahnya lah ia tahu bahwa Sang Kapten, pesepak bola idolanya itu ternyata dulu hanya pengantar sup jamur. Ia hidup miskin dan tak memiliki siapa-siapa yang menyemangati. Suatu ketika si kapten kecil mengantar pesanan sup untuk ayah Dam ( menurut cerita dari ayah, kala itu beliau tengah kuliah di luar negeri ).

Sejak itulah mereka mulai bersahabat. Ayah mengatakan bahwa Sang Kapten adalah sosok yang tak pernah menyerah dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Itu salah satu yang menginspirasi Dam untuk terus berprestasi. Entahlah ayahnya berbohong atau tidak. Dam tidak kepikiran ke sana.
Selain cerita tentang Sang Kapten, ayah Dam juga bercerita tentang suku pengendali angin yang pernah ia temui. Bahkan sang ayah mengatakan ia pernah terbang dengan layang-layang raksasa bersama kepala suku, Dam percaya. Takjub dengan cerita ayahnya. Juga tentang apel emas dan lembah bukhara. Sejak kecil Dam kenyang dengan cerita demi cerita dari sang ayah.

Beranjak dewasa ia dikirim ke Akademi Gajah. Sekolah lanjutan yang berjarak 8 jam naik kereta dari kampung halaman. Di sana lah Dam tumbuh dewasa dan mulai menemukan bakat serta jati dirinya. Ia mengagumi arsitektur bangunan Akademi Gajah. Saat waktu senggang ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggambar sketsa spot-spot menarik di Akademi Gajah.

Suatu ketika ia mendapat hukuman bersama Retro – sahabatnya – membersihkan perpustakaan selama sebulan penuh. Sebenarnya itu bukan hukuman bagi Dam tapi keinginan yang tercapai. Ia ingin menggambar sketsa ruang perpustakaan. Dengan dihukum berjam-jam di perpustakaan otomatis ia memiliki waktu lebih banyak untuk menyelesaikan sketsanya. Retro yang awalnya menggerutu mendapat hukuman seperti itupun lambat laun menikmati juga. Ia menemukan satu sudut tumpukan buku-buku cerita yang sudah berdebu tebal. Jika sudah membaca ia akan lupa waktu.

Beberapa hari sebelum hukuman mereka genap sebulan Dam menggangu Retro yang tengah khusuk membaca. Iseng, Dam pun membaca beberapa cerita yang Retro baca. Matanya terbelalak. Mulutnya menganga. Cerita yang ia baca mirip sekali dengan apa yang ayahnya dulu sering ceritakan. Sejak saat itu ia mulai menyangsikan kebenaran cerita tersebut. Menurut Retro sangat tidak mungkin ayah Dam berpetualang ke lembah bukhara apalagi sampai menemui suku pengendali angin. Bersahabat dengan Sang Kapten, bintang sepak bola dunia itu apalagi ? tidak mungkin.

Dam sempat menanyakan perihal kebenaran cerita tersebut. Bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan tatapan tersinggung dari sang ayah. Ia merasa bersalah. Mulai saat itu ia tidak ingin memikirkan apakah cerita itu bohong atau tidak. Mungkin begitulah cara ayah mendidiknya tumbuh menjadi anak yang baik. Dengan cerita-cerita ( yang kemungkinan besar bohong ).
Di tahun akhir, 3 minggu sebelum ujian kelulusan Akademi Gajah Dam mendapat telegram. Ia harus pulang. Ibunya yang sejak dulu rapuh kerap jatuh sakit kini dirawat di rumah sakit. Di saat itulah ia tahu ayahnya adalah pembohong. Bukan pembohong lantaran cerita-cerita tak masuk akal itu namun berbohong tentang kondisi fisik ibunya.

Saat ibunya jatuh sakit ayah selalu bilang ibu hanya kecapekan. Padahal dokter yang merawat ibu dengan jelas mengatakan beliau mengidap kangker sejak 20 tahun lalu. Kenapa ia tak pernah dikabari ? ia juga berhak tahu kondisi ibu. Pertengkaran hebat terjadi di depan ruang operasi malam itu. Ayah berkata mereka menyembunyikannya karena tidak ingin menganggu konsentrasi dan kebahagiaan Dam. Dam tak terima, ia terlanjur benci pada ayah. Tanpa rasa bersalah ia mengatakan ayahnya adalah pembohong. Termasuk cerita-cerita masa kecilnya.

Ibunya tak bisa terselamatkan. Ribuan orang datang melayat. Tak pernah ia melihat pemakaman seramai ini. Hingga pejabat dan orang penting pun datang. Saat pemakaman mulai beranjak sepi menyisakan ayah dan Dam. Sang ayah menepuk bahu Dam, membesarkan hatinya, meyakinkan Dam bahwa inilah takdir terbaik. Hati Dam memaki benci. Andai ayahnya mengobati ibu dari dulu, ini semua pasti tak terjadi.

Saat itu ayah tahu bahwa Dam sudah benci pada cerita-ceritanya. Namun ia ingin menceritakan satu kisah yang ia janjikan sebagai kisah terakhir. Tak kan ada lagi cerita-cerita lain. Namun Dam malah berlalu meninggalkan sang ayah.

Dam meninggalkan rumah. Ia merantau berkuliah di jurusan arsitektur. Jurusan yang kelak menjadikannya arsitektur kesohor seluruh negeri. Sangat jarang ia mengunjungi sang ayah yang hidup sendiri pasca ditinggal ibu. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Taani, sahabat masa kecil yang kemudian menjadi istrinya. Mereka menikah dan dikarunia dua anak Zas dan Qon, putra putri yang teramat menggemaskan. Taani meminta Dam menyetujui ayah tinggal bersama mereka. Agar ayah tak kesepian. Agar ia dekat dengan cucunya. Dam terpaksa mengizinkan.

Zas dan Qon sangat senang dengan kehadiran sang kakek. Mereka suka dengan cerita-cerita kakek. Masih cerita yang sama dengan yang dulu Dam dengar. Setiap kali ayah bercerita pada anak-anaknya, Dam selalu menggeram tak suka. Taani yang tahu benar psikis suaminya sebisa mungkin meredam gejolak emosi. Ia adalah menantu yang baik. Taani malah lebih dekat dengan ayahnya ketimbang Dam sendiri.

Sampai pada akhirnya Zas dan Qon ketahuan membolos. Dam marah bukan kepalang. Apalagi setelah mengetahui penyebab mereka bolos. Mereka menelusuri perpustakaan kota 8 tingkat hanya untuk mencari tahu apakah cerita kakek mereka nyata atau tidak. Bertambah benci Dam pada ayahnya. Bukan pada ayah sebenarnya tapi pada kebohongan yang ayahnya lakukan. Ia tak ingin Zas dan Qon tumbuh besar dengan cerita-cerita bohong. Seperti yang dulu dilakukan ayah padanya. Zaman sudah berbeda.

Pertengkaran hebat terjadi. Emosi yang sudah diubun-ubun membuat Dam lupa diri. Ia membentak dan mengatakan ayahnya pembohong. Hancur berkeping-keping hati sang ayah. Tanpa ragu Dam mengusir ayahnya, memintanya kembali ke rumah yang lama. Taani dan cucu-cucunya setiap saat bisa mengunjungi jika mereka mau. Tapi tidak di rumah ini, di bawah atap ini dia yang memiliki hak dan ayahnya wajib mengikuti aturan Dam.

Taani berlinang air mata mengingatkan Dam bahwa yang ia usir itu adalah ayahnya sendiri, yang membesarkannya, yang merawatnya sejak kecil. Namun Dam sudah lupa diri. Kata-kata tak bisa ditarik lagi. Ayah melangkah gontai ditemani deras hujan dan dinginnya malam meninggalkan rumah anak semata wayangnya. Taani, Zas, dan Qon ikut menangis layaknya langit malam. Bahkan Zas dan Qon memeluk erat kakeknya tak ingin ditinggal. Dam tak bergeming. Ia ingin ayahnya segera pergi.

Esoknya sang ayah ditemukan terbujur kaki di samping pusara ibunya. Oleh penjaga makam ayah segera dilarikan ke rumah sakit. Kondisi beliau labil. Saat itulah Dam merasakan ketakutan. Ketakutan yang sama saat ia ditinggal ibu untuk selama-lamanya. Muncul rasa penyesalan telah mengusir sang ayah. Andai ia tak mengusirnya semalam hal ini tak mungkin terjadi.

Sang ayah siuman dan ingin bertemu dengan Dam. Dengan berlinang air mata ayah meminta maaf pada Dam. Suaranya parau. Membuat sesak ulu hati. Harusnya ia yang minta maaf, bukan ayah. Saat tubuh sang ayah terkulai lemah di ranjang rumah sakit, sang ayah meminta Dam mendengar satu cerita, ia tahu Dam sudah membenci cerita-ceritanya sejak ibunya meninggal berpuluh tahun lalu. Namun ia janji ini akan menjadi cerita terakhir. Kisah yang dulu hendak ia ceritakan di pusara sang ibu. Saat Dam berlalu mengabaikannya. Kisah tentang Danau Para Sufi. Dam mengangguk bersedia mendengarkan dan ayahpun mulai bercerita dengan suara berat.

Takdir tak bisa ditolak. Ayahnya telah kembali kepada Tuhan tepat kala cerita itu sempurna disampaikan. Ribuan orang melayat. Lebih ramai daripada pemakaman ibunya. Padahal sang ayah hanyalah PNS bergaji rendah biasa. Di petala langit entah darimana asalnya puluhan layang-layang seolah ikut menghadiri pemakaman. Di tengah acara tiba-tiba terjadi keributan. Ada satu rombongan yang datang. Menarik perhatian seluruh pelayat. Orang-orang memberi jalan. Mereka nampak antusias. Lalu kemudian gemuruh tepuk tangan penuh apresiasi pecah di udara. Dan ternyata, rombongan tersebut adalah rombongan Sang Kapten. Dam kaget tak terkira. Bagaimana bisa ? bagaimana bisa Sang Kapten datang ke pemakaman ayahnya ? disaat itulah.

“ Ayah kau adalah sahabatku, Dam. Kalau bukan karena dia yang datang dan memarahi petinggi klub dulu untuk menerimaku sebagai pemain meski tubuhku pendek, mungkin aku akan tetap menjadi pengantar sup jamur ”
Dam termangu. Membisu. Rasa bersalah membuncah. Ia keliru. Ia salah. “ Ayahku ( bukan ) pembohong ” lirih Dam.

Keunggulan Buku
Dalam Novel ini Tere Liye menggunakan alur maju mundur. Saya pribadi lebih suka dengan alur seperti ini. Terasa lebih bervariasi dan pembaca jadi gak bosan untuk terus melanjutkan cerita hingga ending. Diksi dan ritme bahasa yang digunakan Tere Liye pun apik. Saat sedang serius-seriusnya membaca jalan cerita tak jarang anda akan tertawa tiba-tiba. Tidak sedih melulu tidak juga tertawa terus. Novel yang penuh warna dan kejutan.

Dan tentunya kejutan demi kejutan dalam setiap episode yang Tere Liye tuliskan jadi jaminan kualitas buku yang sudah 14 kali cetak ulang ini.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari novel ini, salah satunya bagaimana seharusnya kita bersikap kepada orang lain. Sangat inspiratif dan kaya akan nilai-nilai moral. Novel ini menyadarkan kita bahwa kita tetap harus menghormati dan menjaga perasaan orang tua, bagaimanapun sifat mereka dan menyadarkan kita akan hakikat kebahagiaan sejati yang selama ini disalahartikan orang. Selain itu, novel ini sangat cocok untuk dibaca semua orang, tidak mengenal usia. Gaya bahasanya mudah dipahami dan banyak menyuguhkan kata-kata motivasi yang sangat menarik.

Kekurangan
Rasanya kurang pantas saya mencantumkan kekurangan. Apalagi buat novelis handal seperti Tere Liye . Saya hanyalah penikmat sastra. Namun, tidak ada karya yang sempurna. Tere Liye tetap punya kekurangan. Novel ini menceritakan terlalu banyak hal-hal yang ada di luar logika manusia, misalnya pada layang-layang besar yang dikendarai oleh suku penguasa angin seperti yang diceritakan oleh ayah Dam. Atau, kesalahan kecil lain, misalnya ada satu bagian dalam cerita yang saya rasa tidak masuk akal. Yakni ketika Zas dan Qon yang masih SD bolos lalu pergi ke perpustakaan kota. Kok bisa-bisanya petugas perpustakaan mengizinkan bocah yang masih berseragam SD masuk perpustakaan saat jam belajar? apalagi mereka Cuma berdua. Tidak sedang belajar kelompok. Tapi, ah sudahlah. Yang terpenting banyak hikmah dan filosofi hidup yang saya tuai dari buku-buku beliau termasuk novel yang satu ini.
Profile Image for Muhammad Zulhilmi.
41 reviews5 followers
April 14, 2019
Membesarkan anak- anak dengan kisah-kisah yang banyak nilai murni mampu membentuk karakter sebenarnya.
Profile Image for NAbE.
44 reviews7 followers
February 6, 2023
3,5 ⭐️
i love endingnya, sedih hnggg ( nangis becek ). jujur whole story agk ngebosenin soalnya ini slow paced abisszz, gue yg bosenan dan tidak sabaran 😄😃😀😄.

tidak reccomend buat klian yang ga sabaran dan tim fast paced🙆🏻‍♀️🙏🏻
Profile Image for pijaa.
74 reviews4 followers
November 25, 2022
so yeah... here it is, finally i finished this book in bahasa ofc

the unexpected in this story is,, so... dam father's is never lie.. all the story is true??!. I think I really fun to have a father who liked by everyone in their city. the father who always tell story abt motivation and has a good manner, also get respected for everyone.

story between dam and taani make me known that the world is really small for them🤔, yaa yang namanya jodoh mau diapain lagi wkwk. btw, idk but I'm so confused abt jarjit. like, how many money his family has?? he continued his study abroad and the school he'd get it with the royal family of England, like WHAAAT??. bro ok bro is just a fictional character, that's ok. he's cool at all (no comment ty). and then the story will be fun if dam father's let dam see the captain —> dam will know that his father no lying —> dam happy —> everyone happy without make his child confused that his father lying or not, especially dam father already pay to much for the ball ticket 💀💀. still I don't get it why the father doing it (ok bc her mom sick, but just for a secs hello??? u can make ur son happy and make come true his dream and ur promise bro!)

btw, buku ini tu nyampain "daging" dalam setiap cerita atau tindakan tokohnya. Tere Liye makes us know that happiness is from ourselves not from outside. that's why we shouldn't to get really happy or sad bc everything in out of control. it's really coool that his father and mother as example of the story itself.

as always (before I forgot, here's my anonitation) :D

1) "Ah, yang menghina belum tentu lebih mulia dibandingkan yang dihina. Bukankah Ayah sudah berkali-kali bilang, bahkan kebanyakan orang justru menghina diri mereka sendiri dengan menghina orang lain."

2) Kapten berkibar-kibar, peluh menetes dan wajahnya. Sesekali kamera televisi menangkap eskpresi wajahnya yang meringis, tidak terhitung berapa kali ia seperti tertatih. Dua kali tim mereka tertinggal, dua kali pula sang Kapten tidak pernah berhenti mengejar bola, meneriaki teman-temannya untuk terus semangat, menyamakan kedudukan. Lima menit terakhir menjadi milik sang Kapten. Dia mencetak dua gol, mengakhiri perlawanan tuan rumah.

3) "Cerita ini bukan tentang betapa dinginnya si Raja Tidur memimpin sidang, Dam. Cerita ini sesungguhnya tentang asih memiliki hat, pengorbanan, keteguhan hati. Kisah ketika kau tetap mendayung h peduli, si Raja Ti sampan sendirian di tengah sungai yang dipenuhi beban datangkan pembukesedihan, tangis, dan darah tercecer di mana-mana, ketika kau meja pesakitan Dan terus maju mendayung bukan karena tidak bisa kembali, tapi meyakini itu akan membawa janji masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya apa pun harganya.

4) Bangsa yang korup bukan karena pendidikan data anaknya rendah, tetapi karena pendidikan moralnya tertinggal Dan tetap tidak ada yang lebih merusak dibandingkan anak pintar yang tumbuh jahat. orang dewasa jahat sulit diperbaki meski dihukum seratus tahun, jadi berharaplah dari gal dan tidak ada yang lebih merusak dibandingkan anak pizar yang tumbuh jahat.

Orang-orang dewasa yang jahat sulit pasi berikutnya perbaikan akan datang. Istri, anak-anak, dan aga keluarga lainnya bisa menjadi penyebab sebuah kejahat dan sebaliknya juga bisa menjadi motivasi besar kebaikan. Ada banyak sekali kata-kata bijak si Raja Tidur, Dam."

5) "Kekuasaan itu cenderung jahat dan kekuasaan yang terlalu lama cenderung lebih jahat lagi.

6) Kesibukan yang sama dan rasa takut yang sama tiba-tiba memenuhi hati. Aku dulu takut sekali Ibu tidak sempat membuka mata sebelum aku me- meluknya, bilang betapa aku menyayanginya, bilang aku akan membuat Ibu sembuh.

7) "Itu pertanyaan terpenting Ayah. Apa hakikat sejati kebahagia- an hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita me rasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntung- an? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekadar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati? Tidak ada di antara sekelompok sufi itu yang bisa memberikan penjelasan memuaskan.

8) Dam. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia.

"Walau tidak punya ide apa pun soal danau itu, Ayah meng- angguk mantap. Ayah sudah menduga, definisi kebahagiaan sejati seharga pengorbanan besar. Itu pencapaian paling tinggi seorang sufi, dan sepertinya tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku atau bertanya. Ayah berangkat, memulai pekerjaan besar itu, membuat danau yang cukup untuk satu kampung.

"Kau tahu, Dam, tidak berbilang tanah yang harus Ayah pindahkan. Berkubang licak setiap hari, mulai bekerja saat mata- hari terbit, baru berhenti ketika matahari tenggelam.

9) Ketika kau berhasil membuat sebuah danau indah yang jernih bagai air mata, kau akan mendapatkan waban hakikat sejati kebahagiaan.

10) "Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari ke- bahagiaan yang datang dari luar hati kita. —bc karena bahagia itu sederhana 💗

11) "Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapat- kan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang.

"Itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa mem- buat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih.

12) Kebahagiaan itu datang dari hati sendiri, bukan dari orang lain, harta benda, ketenaran, apalagi kekuasaan. Tidak peduli seberapa jahat dan merusak sekitar, tidak peduli seberapa banyak parit-parit itu menggelontorkan air keruh, ketika kau memiliki mata air sendiri dalam hati, dengan cepat danau itu akan bening kembali.

13) "Ayah tidak menjadi hakim agung. Ayah memilih jalan hidup sederhana. Berprasangka baik ke semua orang, berbuat baik bahkan pada orang yang baru dikenal, menghargai orang lain, kehidupan, dan alam sekitar. Itu jalan hidup Ayah. Dan itu juga yang dipilih ibu kau. Apakah Ayah dan ibu kau bahagia? Kalau kau punya hati yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan itu akan mengucur deras. Tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya, termasuk kesedihan karena cemburu, iri, atau dengki dengan kebahagiaan orang lain. Sebaliknya, kebahagiaan atas gelar hebat, pangkat tinggi, kekuasaan, harta benda, itu semua tidak akan menambah sediki pun beningnya kebahagiaan yang kaumiliki.

14) lasttt, my love epilog :

Untuk membuat hati kita lapang dan dalam, tidak cukup dengan membaca novel, membaca buku-buku, mendengar petuah, nasihat, atau ceramah. Para sufi dan orang-orang berbahagia di dunia harus bekerja keras, membangun benteng, menjauh dari dunia, melatih hati siang dan malam. Hidup sederhana, apa adanya, adalah jalan tercepat untuk melatih hati di tengah riuh rendah kehidupan hari ini. Percayalah, memiliki hati yang lapang dan dalam adalah konkret dan menyenangkan, ketika kita bisa berdiri dengan seluruh kebahagiaan hidup, menatap kesibukan di sekitar, dan melewati hari-hari berjalan, bersama keluarga tercinta.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Annisa Nur Widya.
378 reviews
April 12, 2011
jadi ayahnya gak bohong? huuuaaaa... saya kok jadi ikut ngerasa bersalah, ya?

membaca buku ini dari halaman ke halaman membuat saya mengikik mendapati kebandelan si dam, atau terenyuh saat ibunya pergi dan bapaknya merasa tersinggung. alurnya maju mundur. yang mundur menceritakan tentang kehidupan dam dan cerita-cerita ayahnya di masa lalu. semua di ulas satu persatu sambil kadang kita tersadar dan di kembalikan ke waktu yang sekarang. melihat kemarahan dam karena anak-anaknya di ceritakan semua cerita yang menurut dia hanya kebohongan.

dam kecil yang sangat percaya dan menjadikan semua cerita ayahnya motivasi membuat pribadinya menjadi baik. sementara semakin bertambahnya umur, kepercayaan akan cerita itu semakin luruh dan di pertanyakan. sampai dia sekolah di akademi gajah dan menemukan salah satu buku usang yang bercerita tentang cerita ayahnya. saat itu, saya sudah percaya ayahnya berbohong. apalagi mengenai kapten kebanggaan dam. terus pas di tanya kebenarannya, ayahnya itu selalu mengelak. dari debatan-debatan ibu dan ayahnya juga saya jadi menyimpulkan bahwa si ayah ini berbohong. tapi toh demi menyemangati dan mengajarkan anaknya.

terus sampai saya di bagian akhir, kenyataannya terungkap setelah dam mengusir ayahnya keluar rumah. saya kaget banget. setega itu? orang tuanya sendiri. sampai istrinya aja nangis-nangis meluk lutut si dam. terus dam menemukan semua kebenaran di balik cerita ayahnya. dan dia sangat menyesal. saat penyesalan itu datang, ayahnya kecelakaan. bukunya di tutup dengan sebuah cerita dari si ayah. satu cerita mengenai kebahagiaan ibunya. semua benar. lalu, bukti seperti si kapten yang datang ke pemakaman pun bermunculan. membuat saya ingin berlari ke arah bapak saya. walaupun saya tahu itu membutuhkan satu tiket pesawat dan satu tiket damri juga tumpangan ke rumah untuk melakukannya.
Profile Image for Stevenziv.
5 reviews1 follower
August 10, 2012
Akhirnya selesai sudah membaca Ayahku (Bukan) Pembohong.. Menarik, mengharukan dan memiliki filosofi yang mendalam tenang hidup.. Banyak petuah yang disampaikan melalui dongeng-dongeng yang dipaparkan oleh tokoh ayah dalam novel ini.. Dongeng-dongeng yang diceritakan menjadi inspirasi bagi sang anak untuk terus berjuang, bersikap jujur, bersabar, bersahaja bahkan tetap menjadi inspirasi sang anak (hingga dewasa) meski ia meragukan keaslian cerita tersebut dan menganggap ayahnya berbohong..

Dua bab terakhir menjadi klimaks dari novel ini.. Pertanyaan sang anak akan keraguan cerita sang ayah terjawab.. Dan saya juga terkejut dan agak tidak menyangka dengan surprise di akhir cerita.. :)

Bintang 5 untuk Tere-Liye yang telah menghasilkan sebuah novel yang 'sederhana', namun sarat dengan makna hidup..

" Hidup dangan kebahagiaan sejati yang berasal dari hati kita sendiri. Hati yang lapang, hati yang dalam, dan hati yang selalu bening, seperti danau yang bermata air, yang akan tetap bening meski ada yang menusuk dasarnya atau ada air keruh yang tercampur didalamnya.."

" Kebahagiaan sejati bukan berasal dari luar, bukan dari harta benda, ketenaran apalagi kekuasaan. Tidak peduli seberapa jahat dan merusak sekitar kita, tidak peduli seberapa banyak parit menggelontorkan air keruh, ketika kau memeiliki mata air sendiri dalam hati, dengan cepat danau itu akan bening kembali..."


Profile Image for Sweet♡ساكورا.
189 reviews14 followers
February 24, 2019
Peh!!!! Sedih sekali di akhir cerita weiii 😭😭😭😭

Sepanjang pembacaan aku pun mempunyai pemikiran spt Qon dan Zas benarkah kata2 atoknya ini?
Benarkah ayah Dam mengembara begitu jauh sedangkan hidupnya sederhana sahaja?
Benarkah ibu Dam seorang bintang terkenal suatu masa dahulu?

Walaupun sedih sekali tapi kali ini ada watak2 yg diketengahkan membuatkan aku ketawa spt Retro membuatkan aku tak kering gusi membaca wataknya. Kisah Dam pon apa kurangnya sewaktu kecil dahulu sungguh melucukan.

Watak yg aku geram pada awal cerita Jarjit tapi belum sampai pertengahan aku suka wataknya.

Oh!!! ya Taani watak yg membuatkan Dam tidak mahu berckp dengannya tapi aku dah jangka di akhir cerita aku tahu Taani pasti akan menjadi seorang Istimewa di hati Dam.

Berapa bintang harus aku beri buku ini?
Entahlah, aku tidak pasti berapa banyak 🌟🌟🌟🌟🌟🌟 harus aku berikan kerana buku ini amat terbaik selepas aku membaca penulisannya sebelum ini Rindu dan Tentang Kamu.
Profile Image for Azril Noor.
313 reviews5 followers
July 15, 2021
Buku kali ini sangat meruntun jiwa ya. Awalnya aku seperti Dam juga, tertanya adakah semua yang diceritakan oleh Ayah betul atau bohong semata. Dari sinopsis belakang buku lagi kita kena bersedia.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
October 13, 2011
kisah ini adalah tentang Dam; seorang lelaki yang dibesarkan dalam keluarga sederhana; terlebih lagi, ia dibesarkan menjadi seorang lelaki yang baik, berdisiplin, dan bertingkah laku sopan oleh kisah-kisah yang diceritakan oleh ayahnya sejak kecil. umur Dam sudah 40 tahun, dan sudah 20 tahun lamanya ia tidak lagi mempercayai cerita-cerita ayahnya. ketika ayahnya mulai mengisahkan cerita yang sama kepada dua anaknya (Zas dan Qon), Dam kembali teringat pada masa kecilnya.

Dam yang masih kecil tumbuh besar dengan mempercayai seluruh cerita Ayahnya. Dam pun percaya ketika ayahnya berkata ia bersahabat baik dengan Sang Kapten - idola sepakbola Dam, dan juga idola murid-murid lain di sekolah. ayahnya juga berkisah tentang petualangannya pergi ke Lembah Bukhara; dimana ia memakan buah apel emas yang pohonnya hanya berbuah sepuluh tahun sekali. Ada pula petualangan ayahnya ketika pertemu dengan Suku Penguasa Angin; yang menggembala dengan mengendarai layang-layang raksasa. saat Dam menceritakan pada teman-temannya, tidak ada satupun yang percaya dan berkata itu semua adalah fantasi dan dongen belaka. ketika itu, Dam selalu berkata "Ayahku bukan pembohong."

namun ketika Dam beranjak dewasa dan bersekolah di Akademi Gajah, ia menemukan buku tua di perpustakaan yang berisi tentang dongeng Lembah Bukhara dan Suku Penguasa Angin. semenjak saat itu, ia mulai meragukan kebenaran semua cerita-cerita ayahnya. klimaks cerita ini adalah sewaktu ibu Dam sakit parah; dan pada saat krisis seperti itu, ayah Dam bercerita tentang si Raja Tidur yang berkata bahwa ibunya tidak bisa disembuhkan selain dengan kebahagiaan. Dam yang tidak lagi mempercayai kisah-kisah ayahnya pun menjadi marah, dan semenjak itu membenci cerita-cerita Ayahnya. saat itu, ia meyakinkan dirinya bahwa Ayahnya adalah seorang pembohong.

bahkan sampai berusia 40 tahun pun, Dam masih tetap membenci kisah-kisah ayahnya, dan bahkan menentang anak-anaknya mendengar kisah-kisah itu. namun, seiring dengan berjalannya waktu dan banyak hal yang terungkap. apakah benar ayah Dam adalah pembohong? padahal semua orang berkata ayah Dam adalah orang yang paling jujur.

ending nya harus dibaca sendiri, karena terlalu sayang kalau dibongkar semua :)

benar-benar tidak menyesal sudah memilih buku ini dari rak buku, karena membaca buku ini sudah memberikan banyak pelajaran bermakna, terutama dari kisah-kisahnya. kisah favoritku adalah Suku Penguasa Angin dan kisah terakhir ayah. menurutku banyak sekali moral yang bisa dipetik dari cerita tersebut :) quote yang aku suka dari cerita Suku Penguasa Angin:

"Mereka siap dengan kekalahan, sama siapnya menyambut hari kemenangan besok." (p.159) Suku Penguasa Angin

"Suku Penguasa Angin sungguh tidak memenangkan pertempuran melawan penjajah. Mereka memenangkan pertempuran melawan mereka sendiri, melawan rasa tidak sabar, menundukkan marah dan kekerasan di hati." (p.161) Suku Penguasa Angin

dan ini adalah quote favoritku dalam buku ini. agak panjang, tapi esensinya dalam sekali :)

"Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.

...Itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah,... kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih." (p.291-292) Perkampungan Sufi

secara keseluruhan, aku sangat menyukai buku ini! :) cara penulisannya, pengembangan plotnya, karakternya, penyelesaian masalahnya semuanya sangat bagus! :) thumbs up for Tere-Liye! ;) mungkin akan cari buku-buku lain yang ditulis Tere-Liye ;)

quote terakhir sebagai penutup :P, oleh kepala sekolah Akademi Gajah untuk Dam.

dan untuk kita semua :)

"Nah, Dam, selamat melanjutkan hidup. Apa kata pepatah, hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obat. Kau akan menemukan petualangan hebat berikutnya di luar sana." (p.242)

Profile Image for Nau.
195 reviews
February 10, 2018
hm, dilema rasanya ketika ingin memberi buku ini 2 bintang. inginnya sih aku memberi rating yang berbeda, cuma karena ada suatu "masalah" dan pertimbangan lainnya, aku jadi ragu untuk memberi rating.

jadi begini, awal mulanya aku nggak terlalu tertarik membaca buku ini. tapi setelah buku ini diungkit di soal prediksi un, aku jadi tertarik baca. mengapa aku tiba-tiba tertarik? karena ketika aku baca premis ceritanya, aku sadar kalau premis novel ini sangat mirip dengan Big Fish karangan Daniel Wallace, yang kemudian diadaptasi oleh Tim Burton. waktu aku sadar, aku langsung mikir, "hm? jangan-jangan Tere Liye plagiat? kok berani ya?" dan aku jadi sedikit panas (maaf, soalnya Big Fish emang salah satu film favoritku, mohon maklum ;-;). tapi karena aku ga mau ngejudge tanpa bukti, akhirnya aku coba membaca novel ini.

hasilnya? yah, seperti yang saya duga. Ayahku (Bukan) Pembohong dan Big Fish memiliki banyak sekali kemiripan. meskipun begitu, dua karya fiksi ini sebenarnya punya beberapa perbedaan. Sama seperti Big Fish, novel ini mempunyai beberapa poin yang sama:

1.) ada seorang anak laki-laki yang telah dewasa, namun berusaha keras untuk tak memercayai kisah dongeng ayahnya, dan berpikir bahwa ayahnya adalah "pembohong".

2.) sang ayah adalah seorang pendongeng ulung, yang tak pernah lelah untuk mengisahkan kisah petualangan luar biasanya di masa muda. selain penuh imajinasi, cerita sang ayah memiliki pesan moral yang pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan sang anak di kemudian hari.

3.) alur cerita maju-mundur, yang bercerita tentang kehidupan sang anak saat dewasa dan kisah dongeng tentang sang ayah dan petualangannya pada saat sang anak masih kecil

4.) sang anak benar-benar tak ingin apabila dia telah memiliki anak nanti, dia tak akan memperdengarkan kisah dongeng ayahnya karena tidak ingin masa kecil sang anak diisi oleh kebohongan.

5.) saat dewasa, sang anak memiliki istri yang pengasih dan sangat peduli pada sangat bapaknya. ia menganggap bahwa kisah sang bapak memang hanya khayalan, namun sebenarnya memiliki pesan yang sangat mendalam bagi siapapun yang mendengarnya.

6.) sang anak malu dan benci dengan cerita bapaknya (dan secara tak langsung, membenci sang bapak sendiri), dan tak mau mendengar cerita-ceritanya lagi.

7.) sang bapak dikenal sebagai seorang yang selalu memberikan kebaikan bagi semua orang yang ia pernah kenali, dan akan selalu dikenang secara istimewa. sang bapak juga dikenal sebagain orang yang sederhana tanpa jabatan apapun (Ayah di ABP: seorang pegawai biasa, Edward/Ayah di BF: salesman)

8.) kisah sang bapak sangatlah imajinatif dan di luar nalar, namun entah kenapa, pembawaan cerita sang bapak sangatlah luar biasa, hingga siapapun yang mendengar ceritanya akan langsung merasa percaya.

9.)

10.) pada akhirnya, sang ayah adalah bukan pembohong. dia hanyalah seorang storyteller yang luar biasa dan ayah yang hebat, titik.

mungkin ada beberapa poin kesamaan yang belum kusampaikan, namun sebagian besar poin tersebut telah menyampaikan betapa miripnya novel ini dengan Big Fish. di sisi lain, buku ini juga beberapa perbedaan, seperti sisi nalar buku ini yang kurang wajar (seperti, bagaimana bisa orang dewasa terlalu dendam dengan orang tuanya hanya karena cerita dongeng masa kecil?), beberapa titik cerita yang terlihat "miss" dan tidak nyambung, dan juga poin minor lainnya seperti keluarga sang anak saat dewasa dan lainnya.

pada akhirnya, jelas ada kemiripan di Ayahku (Bukan) Pembohong dan Big Fish. meskipun kita telah menemui kemiripan tersebut, di akhir buku Tere Liye sudah mengatakan bahwa buku ini dapat dipengaruhi oleh film, buku, atau artikel yang pernah ia baca. ia juga berkata bahwa ia tak pernah membaca Big Fish, sehingga para pencinta buku yang telah membaca/menonton karya tersebut bisa berpendapat apakah Ayahku (Bukan) Pembohong adalah hasil plagiasi/tiruan atau bukan. karena aku sudah baca/nonton dua hasil karya fiksi ini, sudah cukup jelas apa yang bakal kukatakan soal buku ini. tapi lagi-lagi, semua pendapat ini kukembalikan pada semua orang, dan tergantung yang lain bagaimana caranya untuk menyikapi buku ini adalah hasil plagiasi/kemiripan atau tidak.

rated 2 stars, sorry everyone. I still love Big Fish more than anything.

(review ini belum revisi dan hasil pemikiran mentah, jadi kemungkinan akan diolah ulang)

((and holy wow, my longest review here! never thought that i would make this long since i'm so pissed off.))
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
April 7, 2015
Membaca buku ini membuat saya sedikit merasa bersalah dengan novel Finding Jake. Ada beberapa kesamaan, seperti tema hubungan ayah-anak (bedanya, di sini diceritakan dari sudut pandang anak, sementara Finding Jake dari sang ayah), gaya penceritaan, juga amanat yang disampaikan.

Masalahnya, saya menilai empat bintang untuk Finding Jake karena wah, feels-nya kerasa banget meski cara bertuturnya biasa banget di awal-awal. Sama kayak waktu saya nonton film About Time, yang sebetulnya tidak bagus-bagus amat, tapi saya sukses nangis pas Seharusnya saya juga tersentuh, kan?

Tapi ya, saya memang tersentuh, kok. Alih-alih manis, 'lembut' sepertinya lebih cocok menggambarkan ceritanya. Saya lancar membacanya sampai akhir, tidak ada kebingungan. Narasinya tepat sasaran, nggak ada majas berbunga atau apa. Makanya banyak yang betah bacanya kali ya, dan pesannya sampai.

Mungkin beberapa hal ini yang mengganjal saya: samarnya latar yang dibangun di cerita, atau kurangnya dimensi realita pada deskripsi sehingga saya merasa cerita ini nggak mungkin terjadi. Murni fiktif. Apa ini sengaja dibuat sebagai eksperimen? Atau agar beberapa logika tidak patah?

Contoh: Ayah Dam terkenal di kotanya, kota yang punya stadion cukup besar untuk menjadi tuan rumah klub Eropa juara UCL. Dan adakah kota seperti itu di Indonesia? Kecuali ayah Dam sekondang Olga Syahputra, mungkin saja, tapi dari pilihan hidupnya yang zuhud saya rasa itu sedikit mustahil.

Lalu masalah Akademi Gajah, surat kelulusannya yang ajaib, serta jurusan Arsitektur yang terlalu mudah dimasuki, justru membikin saya memutar bola mata. Meskipun oke, alasan kepala sekolahnya meluluskan Dam kalau ibarat gas berarti 'dalam kondisi ideal'. Tapiii saya kurang setuju sama metode Pak Kepsek ngajar tentang petir. Hands-on activity memang penting di IPA, tapi nggak harus reka ulang percobaannya Faraday juga kali, Pak. Itu murid kalau celaka, mau bilang apa ke ortunya?

Padahal saya ingin dibuai dan dibual kalau kisah yang saya baca bisa benar-benar terjadi di suatu tempat. Saya mau diyakini. Pesan moralnya juga begitu dekat dengan keseharian kita, kan? Kalau lebih believable, pasti keharuannya lebih ngena.

Dan itu, saya baru ngeh kalau Qon wanita di tiga per empat cerita. Kurangnya penjelasan fisik para tokoh rasanya jadi biang ketidaknyambungan ini. Juga, kalau kata saya, desain sampulnya menipu. Jelas-jelas Sang Kapten seragamnya merah, tapi ini gambarnya malah Zidane megang piala World Cup. Lalu ada dua anak mengendarai sepucuk surat, saya kira Zas dan Qon (makanya saya kaget pas tahu Qon cewek).

Tapi saya suka banget sama pemilihan namanya! Dan cara penulis menyebut pemain bola sebagai El Capitano atau Nomor Sepuluh. Epilognya juga bagus, menguatkan amanat cerita. Teknik flashback-nya pun mulus.

Banyaknya repitisi ('Gerimis membungkus kota', 'aku mengatupkan rahang', dan keterangan tempat dan waktu yang hanya sepatah-dua patah kata--'Ruang tamu, malam ini', dsb) mengingatkan saya dengan 100 Sideways Miles-nya Andrew Smith. Karena sama-sama dari sudut pandang cowok, jadi termaafkan deh, hehe.

Wah, panjang juga ternyata ulasan kali ini. Secara keseluruhan, saya menikmatinya seperti mengendarai mobil di jalan tol lengang--cepat dan lancar. Dan saya pikir Mas Tere-Liye pantas menyandang spesialisasi buku-buku inspiratif, karena jujur saja saya sempat kecewa dengan Bumi-nya. Setelah ini, saya jadi tambah penasaran sama buku sejenisnya yang lain.
Profile Image for Rizza.
33 reviews2 followers
April 11, 2015
Ini novel Tere-Liye yang ke sekian kali, yang saya baca. Saya mulai baca 'Ayahku (Bukan) Pembohong' ini hari Rabu kemarin, selesai Sabtu pagi tadi. Tebal 304 halaman, cetakan ke 8 (Mei 2013) dan masih ada beberapa kalimat yang keliru penulisannya, semoga bisa jadi masukan buat editor di cetakan berikutnya.

Sebenarnya ini novel lama, dicetak pertama kali bulan Mei 2011. Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang anak lelaki keriting bernama Dam dan Ayahnya. Tere Liye menceritakan kisah itu dengan dua setting waktu yang berbeda, waktu sekarang dan flash back ke masa lalu. Menurut saya, novel ini sengaja ditulis Tere Liye dengan tujuan utama, untuk mengajarkan nilai-nilai moral pada pembacanya.

Sewaktu kecil, Dam seperti anak-anak seumurannya, dengan kenakalan yang sama. Bedanya, Dam tumbuh bersama nilai kehidupan yang diajarkan Ayahnya melalui cerita-cerita petualangan mulia yang terdengar seperti dongeng, tentang Sang Kapten, Lembah Bukhara, Negeri Penguasa Angin, Si Raja Tidur, dan lainnya. Semenjak kecil Dam percaya bahwa ayahnya benar-benar mengalami semua kejadian itu, meski untuk orang dewasa cerita-cerita itu rasanya seperti dongeng rekaan yang mengada-ada. Ditambah nama-nama tokoh dan tempat yang tidak pernah didengar orang lain, selain ayahnya. Namun Dam tidak pernah menceritakan itu pada orang lain. Ia menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri, dan selalu percaya pada apa yang dikatakan Ayahnya.

Lalu, kembali ke waktu sekarang. Dam sudah memliki dua anak bernama Zas dan Qon, yang berusia 8 dan 6. Ayahnya tinggal untuk pertama kali bersama keluarganya setelah sekian lama menyendiri di rumah lama mereka. Istrinya yang mengijinkan ayah Dam untuk tinggal, meski Dam terus menolak. Ayahnya datang untuk menyampaikan cerita-cerita yang dulu didengarnya pada anak-anaknya, Zas dan Qon. Dam tidak suka cerita itu lagi. Saat Dam berusia 18, ia menyadari bahwa cerita ayahnya bohong, dan ia tidak ingin anak-anaknya dididik dan dibesarkan dengan cerita bohong. Dam bersikukuh bahwa ayahnya tidak pernah mengalami semua perjalanan itu, serta semua petualangan bak dongeng itu! Dam meminta ayahnya untuk tidak bercerita lagi pada anak-anaknya serta mereka-reka cerita heboh yang lain.

Novel ini berkisah tentang cara mendidik anak melalui cerita yang mengandung budi pekerti. Tentang bagaimana peran seorang ayah dalam keluarga. Tentang peran seorang anak. Dan tentunya peran seorang istri. Tere Liye merancang sebuah keluarga yang berjuang meneguhkan keyakinan terhadap sesama. Konflik yang muncul, yang sangat kuat menurut saya adalah kepercayaan terhadap ayah, sesuai dengan judul novel ini.

Ketika membaca novel ini, saya merasa sedang membaca serial anak-anak mamak, seperti Burlian atau Eliana yang sudah saya baca. Model penyampaiannya, serta bumbu-bumbu penyisipan nilai kehidupannya nyaris sama. Misalnya, tentang bersahabat dengan alam, bersabar ketika disakiti, tidak membalas perbuatan buruk dengan yang buruk, dll. Dengan begitu saya amat yakin, seperti itulah isi kepala Tere Liye setiap kali menulis buku. Hampir semua novel-novelnya mengajarkan nilai moral yang 'nyaris sama'. Itu saya sebut karakter penulis. Setiap penulis fiksi memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang menyisipkan setting cafe di semua novelnya, ada pula yang menyisipkan potongan lirik lagu di semua novelnya, dan bahkan ada pula yang memenuhi novelnya dengan quotes tokoh dunia.
Profile Image for Isnaini Nuri.
94 reviews23 followers
October 23, 2011
Satu hal terpenting yang saya dapat dari buku ini adalah tentang "Kesederhanaan"

"Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan."
"Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Maka air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenanga, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang."
"Itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, bersungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih."
Profile Image for fragaria.
47 reviews27 followers
July 18, 2011
Sudah sewajarnya kamu merasa hidupmu tidak berarti jika kamu hanya mau melihat hal-hal yang kasat mata. Apalagi jika kamu membanding-bandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Mungkin kamu merasa semua orang di sekelilingmu lebih sukses daripada kamu. Mungkin juga kamu tidak menyadari, bahwa kebanyakan dari mereka yakin, hal yang dinamakan ‘kebahagiaan’ itu sumbernya ada di luar diri mereka dan mereka berebut mendapatkannya.

Padahal, apalah artinya jadi orang kaya, apalah artinya jadi penguasa, apalah artinya mendapat nilai ujian 100, apalah artinya ‘sukses’ itu……
jika hati kita sempit dan kotor?

Saya percaya, kebahagiaan itu hak semua orang. Kaya atau miskin, sehat atau sakit, tua atau muda, siapa pun bisa memperoleh kebahagiaan. Caranya adalah dengan menjaga kesederhanaan hidup. Hidup yang sederhana dan bersahaja selalu bisa mendatangkan rasa bahagia. Maka tak perlu lah kamu merasa ciut karena terlalu sering membandingkan dirimu dengan orang lain. Memiliki banyak ‘sumber kebahagiaan semu’ memang terlihat hebat, tetapi senantiasa menjalani hidup dengan sederhana, itu yang benar-benar hebat! Karena justru dengan hidup sederhana dan bersahaja, kamu bisa benar-benar berbagi kebahagiaan yang senantiasa kamu ciptakan dari hatimu itu dengan sesama manusia.


Kepada orang-orang yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah mengajarkan kepada saya nilai-nilai kesederhanaan hidup dan indahnya berbagi kebahagiaan, dan kepada Tere Liye yang lewat bukunya ini berhasil menanamkan pemahaman baru kepada saya tentang kebahagiaan, terima kasih banyak! :)
Profile Image for Heidy Dania.
9 reviews
May 16, 2013
Suka banget sama buku ini.... :')

Buku ini menceritakan seorang anak laki-laki yang mulai membenci ayahnya karna ia berfikir ayahnya adalah seorang pembohong, padahal bagi orang lain ayahnya adalah seorang yg jujur, adil, bijaksana dan baik hatinya. Hanya karna anaknya yang selalu mendengarkan kisah perjalanan hidup ayahnya yang terdengar mustahil untuk dipercaya menggunakan akal sehat.
Cerita pada buku ini sangat insipratif dan banyak pelajaran yang dapat diaplikasikan untuk kehidupan seperti cara sang ayah yang unik dalam mendidik anaknya dengan kisah-kisah hidupnya hingga sang anak tumbuh dengan kebaikan-kebaikan yang diperoleh dari cerita-cerita sang ayah tersebut.
quote yang saya suka dari buku ini:

"Kau tahu 99% anak laki-laki tidak pernah lagi mau memeluk ayah mereka sendiri setelah tumbuh dewasa. padahal sebaliknya, 99% dari ungkapan hati terdalamnya, seorang ayah selalu ingin memeluk anaknya."

"itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih."
Profile Image for Miyuke.
192 reviews2 followers
April 17, 2022
Sebuah naskah yang amat menuntun hati melibatkan hubungan antara seorang bapa dengan anak tunggalnya serta penerimaan si anak terhadap gagasan - pemikiran si bapa.

Novel ini membawa pembaca untuk berfikir dengan lebih mendalam (kesahihan atau dongengan) berkenaan kisah-kisah yang diselitkan seperti Sang Kapten, Si Nombor Sepuluh, Toki Si Arnab, Sang Penguasa Angin serta Si Raja Tidur.

Berlapang dadalah. Usah dipandang sesuatu dengan mata hati yang tertutup. Yang baik dijadikan tauladan; yang buruk jadikanlah sempadan.

Nota :

“Berbeza halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu kekal, Dam. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuhmu bergembira, mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau boleh turut gembira mendengar khabar baiknya, boleh turut berbahagia, kerana hatimu lapang dan dalam…”
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
February 6, 2017
Tere Liye bercerita tentang seorang anak yang dibesarkan oleh sang ayah dengan dongeng, cerita-cerita yang banyak mengandung nilai-nilai kehidupan. Cerita-cerita yang justru menimbulkan kebencian dan tuduhan kebohongan pada si ayah. Pada akhirnya penulis mengambil kesimpulan bahwa kebahagiaan tidak sama untuk semua orang, bahwa kesederhanaan bisa jadi adalah kebahagiaan buat sebagian orang.

Walaupun kadang-kadang terasa ada yang kurang pas dengan logika saya,agak membingungkan gimana gitu. Cerita ini seperti mirip dengan beberapa film luar yang pernah saya tonton,campuran dengan kisah dongeng, tapi lupa judulnya. Mungkin, ketulusan, kasih sayang keluarga seperti yang diceritakan di buku ini bisa jadi membuat sesuatu yang musykil menjadi kenyataan.


Profile Image for Annisa Reswara.
4 reviews
January 23, 2012
Seperti biasa, Tere-Liye selalu bisa membuat saya sesenggukan.
Novel Ayahku (Bukan) Pembohong ini mengisahkan tentang cinta ayah pada anak yang ingin anaknya menjadi orang baik, memiliki pemahaman hidup yang berbeda dengan orang kebanyakan. Ayah Dam menceritakan semua pengalaman hidupnya ketika masih muda, dengan tujuan Dam bisa mengambil pelajaran dari itu semua.
Dengan cara sederhana, Tere-Liye mencoba mengatakan bahwa hidup ini sederhana. Tidak melulu tentang harta, kekuasaan, dan ketenaran. Tapi hidup ini tentang apa adanya...
Displaying 1 - 30 of 970 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.