Banyak rahasia yang berkaitan dengan raos di dalam tokoh-tokoh wayang. Wayang merupakan representasi psikologi raos. Raos, dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu raos njaba dan raos jero. Raos njaba bersifat fisik, jasmaniah, yang memiliki tuntutan badaniah. Dalam lakon wayang seringkali terjadi perebutan negara, senjata, wahyu, dan peperangan. Seolah-olah mengatakan bahwa lakon wayang membangun konflik. Sedangkan raos njero lebih bersifat mistis, memiliki tuntutan spiritualistik. Raos semacam ini diwujudkan oleh perwujudan tokoh-tokoh wayang yang ingin ngudi kasampurnaan, artinya berupaya menemukan hakikat hidup. Contohnya tokoh Abimanyu yang berguru kebatinan kepada Begawan Abiyasa. Wejangan-wejangan dalam wayang, seperti Sastra Jendra Hayuningrat milik Begawan Wisrawa, anugerah para dewa, juga mewujudkan arah raos njero.
Belajar sastra dan budaya Jawa di IKIP Yogyakarta, tahun 1989. Sejak itu dipercaya menjadi staf pengajar di almamaternya, yang sekarang menjadi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, FBS UNY. Menempuh Program S2 di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Pernah bekerja sebagai guru SPG 17 III Bantul selama tiga tahun, redaksi majalah Mekar Sari selama dua tahun, juga pernah menjadi ketua penyunting majalah sastra Jawa Pagagan.
sebenarnya ini buku sangat menarik, apabila kamu mencari penggalan cerita wayang yang populer semisal tentang ramayana, baratayudha, pandawa, kurawa buku ini cocok untuk mu. namun intinya buku ini adalah membahas tentang raos yang ada di dalam setiap cerita wayang.
yang paling aku sayangkan dari buku ini adalah: - adanya beberapa paragraf yang berulang dan itu sama plek - ada paragraf yang sama plek seperti yang ada di wikipedia, mungkin wikipedia yang ngambil dari buku ini ya