Jump to ratings and reviews
Rate this book

Barista Tanpa Nama

Rate this book
Puisi-puisi Agus Noor bukanlah puisi yang membuat kening kita berkerut, tetapi membawa kita dalam kehangatan. Kata-kata itu seperti menyentuh perasaan kita dengan lembut dan kadang tak terduga, kemudian terasa lega. (Sha Ine Febriyanti)

Seperti menikmati kopi hangat, merasakan ‘kesedihan yang tak membutuhkan pelukan’. Nikmatilah, dalam puisi-puisi ini, kalian bukan hanya bertamu, tapi berada di dalamnya, menikmati kopi sekali seduh. (Syaharani)

Buku puisi yang ingin saya baca ulang, agar bisa berkali-kali membiarkan diri terhanyut. Saya tak akan heran, bila banyak perempuan akan menyimpan buku ini dalam tasnya, dan selalu dibaca saat merasa sendirian. (Happy Salma)

171 pages, Paperback

First published July 1, 2018

15 people are currently reading
201 people want to read

About the author

Agus Noor

49 books119 followers
Agus Noor, menulis banyak prosa, cerpen, naskah lakon (monolog dan teater) juga skenario sinetron. Beberapa buku yang telah ditulisnya antara lain, Memorabilia, Bapak Presiden yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Rendezvous (Kisah Cinta yang Tak Setia), Matinya Toekang Kritik, Potongan Cerita di Kartu Pos.

Karya-karya Agus Noor yang berupa cerpen juga banyak terhimpun dalam beberapa buku, antara lain: Jl. Asmaradana (Cerpen Pilihan Kompas, 2005), Ripin (Cerpen Kompas Pilihan, 2007), Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia, (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002), Pembisik (Cerpen-cerpen terbaik Republika), 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (Pena Kencana), dll.

Menerima penghargaan sebagai cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta 1992. Mendapatkan sertifikat Anugerah Cerpen Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1992 untuk tiga cerpennya: “Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru” dan “Tak Ada Mawar di Jalan Raya”. Sedang cerpen “Pemburu” oleh majalah sastra Horison, dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah itu selama kurun waktu 1990-2000. Dan cerpen “Piknik” masuk dalam Anugerah Kebudayaan 2006 Departemen Seni dan Budaya untuk kategori cerpen.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (21%)
4 stars
29 (34%)
3 stars
14 (16%)
2 stars
9 (10%)
1 star
15 (17%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Tri Tanto.
33 reviews
November 12, 2018
Buku ini sepertinya buat seleb-seleb. Endorsement dan arahah syairnya sangat nyeleb. Dan saya bukan seleb. Saya pembaca buku biasa. Kurang banyak selebnya, tanggung nih


Harus, ya dengan seleb?
Profile Image for Ramdani Tonga.
43 reviews4 followers
June 3, 2018
Saya selalu menanti Agus Noor yang beda. Tapi selalu gagal
Profile Image for Agwi .
31 reviews7 followers
July 19, 2018
Mana yang penting; imajinasi atau inspirasi? Buku ini belum bergerak ke dua hal yang penting itu
Profile Image for Lila Cyclist.
853 reviews71 followers
December 29, 2018
Terbiasa membaca puisi-puisinya Jokpin, saya agak merasa agak berat dengan puisi ini. Puisi-puisi Jokpin dari Buku Latihan Tidur bisa membuat saya ngakak-ngakak, tapi buku puisi ini di sebagian puisinya membuat saya berkerut kening, sebagian lainnya terharu, sebagian lainnya baper. Saya sempatkan membaca satu puisinya berjudul Mengingat Jalan-Jalan yang Dilupakan Ingatan, ditengahnya saya menahan sedan yang tak mampu saya cegah, namun nekad saya selesaikan sekali tarik rekaman. Oh ya, saya berencana mengunggah video puisi ini nanti jika internet lancar. Oh ya, saya punya satu channel di YouTube khusus o\puisi yang saya baca. Bukan puisi saya sendiri sih, saya ngga poede kalopun saya menulis puisi kemudian mengunggahnya hahaha... Kalo ada waktu, dan kuota lebih, bisa mampir ke my YouTube channel

Saya juga berencana membuat satu GA dengan hadiah buku ini. Pantengin aja channelnya ya. Ehm, mungkin GA di blog aja ding atau twitter.. Halah, belum jelas gini kenapa dibocorin ya? wkwkwk...

Ah ya, buku ini menandai selesainya challenge membaca saya di goodreads tahun 2018. Alhamdulillah. Kelar juga 100 buku setelah beberapa kali terseok ketinggalan dan diberi peringatan ketinggalan berapa buku. Berkat manga pinjaman, saya bisa ngebut mengejar ketinggalan saya.

Tahun depan, saya ingin fokus ngeblog dan vlog puisi. Baca bukunya kurangi setengah aja dulu. Yah, let's see lah :D
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
May 16, 2018
"maka secangkir kopi mengajari
menikmati pahit tanpa rasa benci."

(Percakapan Kopi)
Profile Image for Aksa.
41 reviews2 followers
October 6, 2018
Barista Tanpa Nama karangan @agusnoor_ terbitan @penerbitdivapress .
Saya suka buku ini. Mungkin itu kalimat pertama yang mesti saya sampaikan. Bagaimana tidak, beberapa isinya mewakili isi kepala saya. Membaca puisi-puisi di buku ini seperti mengajak kita pada sebuah cerita.
.
Jatuh cinta, memang tak selalu seindah yang kita kira. Begitu pula yang pernah saya tulis dalam buku saya. Tapi, di buku ini semua itu kembali ada. Setidaknya, saya percaya sekarang bahwa tidak hanya saya yang menilai bahwa kekecewaan bisa juga berarti perasaan cinta.
.
Pernahkah terpikir bahwa jika memang tidak cinta, maka tak mungkin ada perasaan kecewa itu? Mungkin kita mesti lebih pandai lagi mengolah rasa. Menghadirkan dalam bentuk kata-kata, nantinya akan menjadi sesuatu yang akan begitu dinikmati.
.
Bagi sesiapa yang sedang bertanya-tanya tentang perasaannya. Buku ini bagus untuk menyadarkan isi kepala ditemani beberapa cangkir kopi hingga membukakan mata.
.
Terima kasih mas @agusnoor_
#pengenceritaaja #masihpengenceritaaja #baristatanpanama #divapress #agusnoor #bacaituseru #goodreads #bookstagram
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
October 20, 2018
"Kangen ini, Laut tak bertepi...."

Baru kali ini ada buku puisi yang bikin aku baper nggak karuan. Nggak tahu kenapa. Pertama kali baca (numpang baca waktu itu) sudah berasa pas di hati. Akhirnya beli juga walau nyari edisi diskonan kesana-sini. Lalu dibaca pelan-pelan. Disesap nikmat seperti secangkir kopi pahit.

"aku lahir dari sebiji kopi
kepahitan telah menyulingku
hingga bening", kata airmata
lalu menetes ke dalam kopimu.


Puisi-puisi di sini temanya hampir seragam. Kerinduan, ketakmampuan untuk memiliki, kehilangan, dan lalu merindu lagi. Beberapa diksi juga berulang. Namun demikian, aku sukaa nuansanya. Rasa sepi-sepi yang menggelayut dalam baris-baris. Kesengsaraan pahit di tiap bait.

Kau abu rindu
Sunyi kapas randu


Seleraku memang rada aneh. Sempat kapok baca karya penulis ini setelah ketanggor sebuah cerpen yg bikin merinding gilo di salah satu kumcernya (lupakan), lah malah sekarang terpikat buku puisinya. Dibaca pelaaaan-pelan, biar lama, tapi akhirnya habis juga. Masih pengin baca beberapa puisi lagi nih....

kusebut namamu dalam sepi:
Alice, Alice, lama sabakhtani
Profile Image for Siraa.
259 reviews3 followers
June 26, 2022
Sungguh hanya kuingin sebuah ciuman
Yang menyelamatkanku dari kesedihan

Puisi Agus Noor penuh dengan kejujuran seakan dia mengerti perasaan para pembacanya. Walaupun tertulis dengan pilihan kata yang sederhana, maknanya selalu dalam dan merembes dalam kepala. Temanya sendiri bukan hal yang jarang. Cerita tentang kerinduan, pertemuan, luka, kepedihan, dan kepergian. Namun aspek melankolis buku ini mmg bukan main. Sangat bahaya dibaca oleh orang yang sedang sedih dan kesepian. Karena mereka akan menertawakan diri sendiri. Hujan tak lebih basah dari air mata oranh yang ditinggalkan dan tidak ada yang tahu pasti mana yang lebih merah, senja atau hatimu yang terluka.
Profile Image for Rin.
Author 1 book17 followers
March 7, 2022
Diksi yang digunakan begitu santai dan mudah dipahami, seperti sedang bercerita. Cocok dibaca sambil ngopi, lalu habis tanpa meninggalkan jejak. Tidak terlalu memberikan kesan khusus, sebenarnya. Beberapa bab bahkan agak memberi kesan mengulang/monoton.
Profile Image for Karina.
48 reviews3 followers
September 1, 2018
"Kesepian dan kesakitan, tak lebih anak-anak kecil yang rewel dan manja. Sementara kita bertambah tabah oleh usia. Padamu, kerinduan ialah perjalanan panjang, yang tak pernah membosankan"

Page 127
Profile Image for Louisa Olivia Hadiwirawan.
36 reviews13 followers
January 4, 2019
Sebagai pencinta kopi, puisi Agus Noor ttg kopi ini sangat ngena banget buat gw.

Percakapan Kopi

tiktok jam menggerutu
pada cangkir itu

"menunggu memang tak pernah bisa
dipahami waktu, tapi oleh rindu."

"mana lebih hitam,
secangkir kopi yang dibiarkan dingin
atau hati perempuan kesepian?"

"antara cinta dan rindu
menunggu, interval yang bikin kesal."

"maka secangkir kopi mengajari
menikmati pahit tanpa rasa benci."

pada sesap kesekian
di lidahnya, segala yang manis
tak pernah sama lagi
kecuali kehilangan abadi
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.