Parta Gamin Gesit menerbangkan jiwa-jiwa manusia dan binatang ke arah bintang-bintang setelah membakar semak liar pada rembang Kamis petang. Asapnya menyebar bersama angin muson timur dan membuat panik mereka yang menghirupnya. Tetangga dan binatang berusaha mencari pegangan agar jiwa-jiwa mereka tidak melesat ke arah bintang-bintang. Namun, meski telah membakar habis semak-semak itu, Parta Gamin hanyalah orang biasa yang tak pernah tahu masa depan; bahwa kelak, anaknya, yang sekarang baru berupa gumpalan darah, akan menanam kembali semak liar berasap itu dan menjadi terkenal karenanya. Nama anaknya bahkan dihafal oleh sebelas anjing lapar, sebelum akhirnya diberi gelar kehormatan “Penjahat Nasional” pada Hari Anti Jahat Nasional.
Cara tutur tokoh yang sederhana dihadirkan penulis guna memunculkan emosi melalui persoalan yang dinarasikannya. Pilihan diksi dalam gaya bertutur kental dengan nilai lokal. —Seno Gumira Ajidarma
Karakterisasi tokoh dibangun cukup kuat dengan mengangkat persoalan kritik sosial (kritik terhadap mentalitas keberagaman). —Prof. Agus Nuryatin
Nilai lokal kaum agraris ditonjolkan dalam membangun suasana cerita. Eksekusi ending unik dan tidak dipaksakan. —Prof. Suminto A. Sayuti
Novel ini menggelitik kita dengan semacam karnaval unik yang menampilkan beragam tokoh tak biasa. Kisah menarik yang memberi pembaca pengalaman literer berbeda. —Anton Kurnia
Beberapa waktu lalu,saya menghadiri acara bedah buku di Salihara. Nirwan Dewanto menyebutkan secara tidak langsung, bahwa dewasa ini novel tidak harus berbentuk wajar. Seaneh apa pun, asal ia nikmat dibaca maka patut diperhitungkan.
Dan saya rasa novel ini menyajikan rasa novel yang tidak biasa. Bahkan saya bisa simpulkan Mas Eko menyodorkan narasi yang masih liat, kaku, dan kurang indah dibaca. Informasi terlalu banyak. Bahkan kadang kita sudah diberi tahu apa yang terjadi.
Tetapi, saya suka humornya. Satirenya. Dan kesan lokalitas dan dialek jawa yang enggak main-main. Selebihnya, saya hanya penasaran dengan humor. Narasinya cukup melelahkan diikuti.
Kelihatan sekali Eko Triono ini gemar bermain kata. Kalau di dunia nyata atau novel lain mungkin agak berlebihan. Tapi novel ini cuku asyik kok. Membaca cerita mantan bangsat membangun kota transmigrasi di zaman Republik masih dikuasai rezim lama ini cukup lucu. Tapi sering juga membuat bosan dengan kalimat yang sama persis diulang-ulang di tengah-tengah cerita. Oiya, beliau juga hobi menyindir dan juga memberi detail-detail yang tidak begitu penting-penting anat dengan cerita tapi masih bisa membuat tersenyum sih.
satu bintang dah cukup buat Eko Triono yang novelnya acak-acakkan dan jiplakan kasar dari Eka Kurniawan dan Martin Suryajaya. Moga dengan uang hadiah 10 jutanya, dia bisa nulis lebih baik lagi. kalau bisa sih.
Agak membingungkan para paragraf-paragraf awal, namun menyenangkan setelah memahami cara kerja narasinya. Maju mundur cerita, cara perkenalan tokoh-tokohnya, dan tentu saja kritik sosial politiknya sangat menghibur. Namun, dan ini namun dengan huruf tebal, ceritanya terasa tidak lengkap, kurang tuntas, dan tidak membawa saya kepada klimaks yang saya harapkan. Saya pikir ini sebuah eksplorasi gaya.
Secara stilistika, novel ini mengingatkan pada Yusi Avianto Pareanom dan Eka Kurniawan. Barangkali karena karya ini tadinya memang diperuntukkan untuk lulus dari Akademi Penulisan Novel DKJ, yang kedua nama besar tersebut adalah mentornya.
Apakah buku ini layak dibaca? YA. Apakah buku ini menawarkan sesuatu yang baru? Mungkin. Apakah saya ingin membaca karya Eko Triono yang lain? Pasti.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Alasan yang membuat mengapa sangat ingin membaca buku ini adalah tulisan yang terpampang di cover "3rd Winner International Novel Writting Contest 2017". Membacanya, perlu sedikit ekstra karena sesekali tidak langsung paham maksud dari kalimat tersebut, musti membaca sekali lagi. Namun, kita juga dibikin bosan dengan suatu kalimat yang diulang-ulang di tengah cerita dan ada kalanya kita sudah dapat mengetahui apa yang akan terjadi.
Walau begitu, novel ini masih sangat dapat dinikmati. Nilai plus dalam novel ini pembaca mendapat informasi mengenai sesuatu , sindiran-sindiran halus dengan pemilihan kata yang tak biasa, dan dialek yang dipakai sangat kental.
Inti cerita dalam novel ini masih kurang jelas, saya rasa. Penokohan nya terlalu "ngalur-ngidul", terlalu sering mampir ke tokoh-tokoh lain tanpa ada sangkutpaut dengan si tokoh utama sehingga membuat saya bingung dan mudah bosan. Benar kata reviewer lain, obsesi akan style penulisan yang cukup mengiblatkan Eka terlihat sangat jelas.
Saya kasih bintang 3, karena jarang penulis yang menulis struktur seperti novel ini. Mengingatkan saya dengan karya 100 Tahun Kesunyian Gabo dan Cantik Itu Luka Eka K. Tetapi, yang membuatnya tak semenarik dua karya tersebut adalah banyak hal-hal tak nyambung dengan isi cerita yang ditempel begitu saja.
Menarik. Seperti membaca narasi2 Arswendo. Terasa sekali penulis nyaman dengan penceritaannya, sehingga alurnya mengalir meskipun alurnya terlihat melompat-lompat. Namun masih dapat dinikmati.