Perkataan adalah doa. Kalimat itu dibuktikan sendiri oleh Inggit, seorang mahasiswi yang terkenal ceplas-ceplos atas ucapannya. Sebagai anak rantau Inggit tidak pernah kesepian karena memiliki banyak sahabat baik. Kehidupan kuliah selalu menyenangkan untuknya, kecuali saat harus mengikuti kuliah si dosen kanebo kering. Kanebo kering adalah julukan yang Ia berikan untuk dosen kaku dan galak bernama Pak Arya. Setiap kali Inggit mengalami hari yang buruk karena dosen ini, setiap kali itu juga umpatan dan doa kesialan untuk si dosen kanebo kering itu Inggit ucapkan.
Tidak pernah terpikir oleh Inggit bahwa diantara 4 milyar pria di dunia, harus Pak Arya yang dipilih orang tuanya untuk dijodohkan dengannya. Mimpi buruknya dimulai dari perjodohannya dengan dosen killer itu.
•
"Mungkin gue sering menyebut nama Kara di dalam doa gue untuk menjadi pendamping gue, tetapi mungkin Pak Arya jauh lebih sering menyebut nama gue dalam doanya untuk menjadi pendampingnya."
- Hal. 186
" Seindah apapun orang yang kita impikan untuk mendampingi kita, pada ujungnya kita akan berakhir dengan orang yang merupakan cerminan diri kita."
- Hal. 212
#letstalkaboutthisbook
📖 Ciiiee baca buku romance. Ini kalo bukan karena series "My Lecture, My Husband" dan kalo bukan karena pemerannya Reza Rahardian mungkin buku ini akan terlewat begitu saja. Saking nagihnya series ini, aku jadi penasaran sama asal muasal ide ceritanya, yang awalnya dari wattpad-nya gitlicious. Cari buku fisiknya entah kenapa sulit (kayanya karena aku ga sabar deh), akhirnya ya udah lah ebook aja.
📖 Bacanya beneran semalem doang, iya seniat itu aku tu dan ceritanya juga senagih itu, ga bisa berhenti baca. 🤣🤣
📖 Terlepas dari beberapa kalimat yang menurutku kagok (apa ya bahasa indonesia yang baik dan benarnya?) tapi baca buku ini sukses banget bikin aku cengar-cengir sendiri, saking sweet ceritanya 😍😍. Beberapa jokes yang dilontarkan juga berhasil bikin ketawa, bahkan jokes garing aja terasa lucu. Inggit yang hobi ceplas-ceplos itu, ternyata celotehan-celotehannya banyak benernya. Banyak quotes bagus yang dihasilkan dari celotehannya si Inggit ini. Aku suka!
📖 Menutup buku ini dengan puas, pesan yang kebayang-bayang terus sama aku setelah selesai dari buku ini adalah jodoh itu cerminan diri kita. Jadi fokus aja memperbaiki diri sebaik-baiknya, biar nanti dapet jodohnya juga yang baik, atau kalo sekarang sudah berjodoh, biar nanti jodohnya ketularan jadi baik juga. Relate ga sih? tapi itu cukup membuat aku ngeliatin pak yeobo mulu, sambil nanya dalem hati "Emang iya dia cerminanku?" 🤣🤣. Sampai akhirnya pada satu kesimpulan bahwa ga mungkin 2 manusia yang beda frekuensi bisa menjalin hubungan yang cukup lama. Jadi, oke fix-lah!
Ini review apa curhat sih sebenernya?? 🙄🙄