Disruption pada dasarnya adalah perubahan. Suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat hadirnya “masa depan” ke masa kini. Perubahan semacam itu membuat segala sesuatu yang semula berjalan dengan normal tiba-tiba harus berubah dan berhenti mendadak akibat hadirnya sesuatu yang baru. Di sini, yang dimaksud sebagai “sesuatu yang baru” bisa banyak hal: teknologi baru, proses bisnis yang baru, para pemain baru, aplikasi yang baru, model bisnis yang baru, atau kombinasi dari berbagai faktor tersebut.
Perubahan semacam inilah yang membuat para petahana dan pemain lama bak kebakaran jenggot. Mereka tak tahu cara menanggapinya. Itu karena mindset mereka, cara-cara berpikir mereka, masih memakai pola-pola atau dengan cara-cara lama, cara-cara yang konvensional. Padahal, perubahan yang tengah terjadi tidak konvensional.
Buku ini memperkenalkan bagaimana memimpin perusahaan di era disruption, lengkap dengan ciri-ciri disruptive leader, baik di lingkungan pemerintah maupun bisnis. Mereka berani mendobrak kemapanan yang terjadi dalam pengelolaan sumber daya alam, manajemen pemerintahan, dan tata kelola bisnis.
Nah, bagaimana caranya agar bisnis kita tidak terdisrupsi? Sayangnya, pilihannya hanya satu, yakni Anda harus berani mendisrupsi bisnis Anda sendiri terlebih dahulu. Jadi, Anda harus berani melakukan Self Disruption. Beranikah?
I am not sure but I think this book is a little bit subjective. Adaro as the main company is being promoted too much. Some of the contents are also repetitive.
Buku yang berisi tentang pengalaman sebuah perusahaan tambang untuk mendistrupsi diri menjadi perusahaan yang lebih settle di masa yang akan datang. penulis menceritakan pengalamannya dalam berdiskusi dengan jajaran komisaris dan direktur perusahaan tersebut yang kemudian disajikan dengan sudut pandang penulis itu sendiri.
Nilai yang bisa dipetik dari buku ini adalah bagaimana sebuah perusahaan maupun individu untuk tetap berusaha belajar dan tidak terlena dalam zona nyaman yang sudah dicapai saat ini.
Saat sampai pertengahan membaca, penulis ini seperti begitu gigihnya mempromosikan Adaro sebagai perusahaan yang mendisrupsi diri. Saya berpikir, apakah tidak memiliki cukup relasi ataukah sedang sibuk sehingga tidak sempat untuk menelusuri perusahaan lain secara lebih dalam. Sedari awal hingga halaman terakhir begitu kental subjektifitasnya. Menurutku sebaiknya ada tambahan di bagian judul berisi keterangan studi kasus Adaro atau semacamnya.
Buku ini lebih seperti mengangkat nama perusahaan yang dibahas di dalamnya. Buku ini bagus karena sumbernya dari jajaran direksi perusahaan terkait, namun di banyak bagian terkesan subjektif dan ingin mengangkat nama perusahaan tersebut lebih tinggi. . Di sisi lain, banyak sekali business insight yang bisa didapat dari buku ini, terutama tentang Operational Excellence dan integrasi vertikal. Berbisnis komoditas seperti batubara yang harganya fluktuatif, membuat perusahaan mengintegrasikan bisnisnya secara vertikal, yaitu melebarkan sayap bisnisnya dari hulu (tambang batubara) ke hilir (pembangkit listrik). Segala hal berkaitan dengan efisiensi aktivitas dari hulu ke hilir pun juga dipegang kendalinya. Hal ini merupakan bagian dari OpEx, yang merupakan inti visi dari perusahaan ini. . Buku ini akan lebih bagus kalo tidak banyak pengulangan sana sini. Pengulangan-pengulangan, tentang disrupsi, data Envirocoal dan banyak hal lainnya, sangat mengganggu.