Jump to ratings and reviews
Rate this book

Semua Untuk Hindia

Rate this book
Tiga belas cerita pendek merentang dari masa prakedatangan Cornelis de Houtman hingga awal Indonesia merdeka. Masing-masing menggoda kita untuk berimajinasi tentang sejarah Indonesia dari sudut pandang yang khas: mantan tentara yang dibujuk membunuh suami kekasih gelapnya; perwira yang dipaksa menembak Von Imhoff; wartawan yang menyaksikan Perang Puputan; inspektur Indo yang berusaha menangkap hantu pencuri beras; administratur perkebunan tembakau Deli yang harus mengusir gundik menjelang kedatangan istri Eropanya; nyai yang begitu disayang sang suami tetapi berselingkuh.


Sejak terbitnya karya Buru oleh Pramoedya A. Toer di tahun 1980-an, inilah karya sastra Indonesia yang pertama dan mungkin satu-satunya yang secara radikal menjungkir-balik sejarah nasional.

Ariel Heryanto,
Profesor di Universitas Monash, Melbourne


Iksaka Banu “peniup ruh" yang jitu dalam menghidupkan masa lalu. Di tangannya, kisah berlatar sejarah tersingkap apik, rinci, dan dramatik.

Kurnia Effendi, Sastrawan


Cerita-cerita dalam kumpulan ini membawa kita kepada era kolonialisme yang jarang digali oleh penulis Indonesia modern. Dengan riset yang serius dan teliti, Iksaka Banu mengisahkan tentang cinta, keintiman, kemesraan sekaligus pengkhianatan dan kekejian di antara tokoh-tokoh bumiputra dan Belanda.

Leila S. Chudori, Sastrawan

154 pages, Paperback

First published May 1, 2014

96 people are currently reading
1046 people want to read

About the author

Iksaka Banu

9 books85 followers
Iksaka Banu lahir di Yogyakarta, 7 Oktober 1964. Menamatkan kuliah di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Bekerja di bidang periklanan di Jakarta hingga tahun 2006, kemudian memutuskan menjadi praktisi iklan yang bekerja lepas.

Semasa kanak-kanak (1974–1976), ia beberapa kali mengirim tulisan ke rubrik Anak Harian Angkatan Bersenjata. Karyanya pernah pula dimuat di rubrik Anak Kompas dan majalah Kawanku. Namun, kegiatan menulis terhenti karena tertarik untuk mencoba melukis komik. Lewat kegiatan melukis komik ini, ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia memperoleh kesempatan membuat cerita bergambar berjudul “Samba si Kelinci Perkasa” di majalah Ananda selama 1978.

Setelah dewasa, kesibukan sebagai seorang pengarah seni di beberapa biro iklan benar-benar membuatnya seolah lupa dunia tulis-menulis. Pada tahun 2000, dalam jeda cuti panjang, ia mencoba menulis cerita pendek dan ternyata dimuat di majalah Matra. Sejak itu ia kembali giat menulis. Sejumlah karyanya dimuat di majalah Femina, Horison, dan Koran Tempo. Dua buah cerpennya, “Mawar di Kanal Macan” dan “Semua untuk Hindia” berturut-turut terpilih menjadi salah satu dari 20 cerpen terbaik Indonesia versi Pena Kencana tahun 2008 dan 2009.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
326 (32%)
4 stars
519 (51%)
3 stars
156 (15%)
2 stars
8 (<1%)
1 star
3 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 248 reviews
Profile Image for Silvia Iskandar.
Author 7 books29 followers
January 24, 2015
4/5

Sebenarnya saya kurang suka antologi cerpen begini, tapi baguslah untuk riset karena saya sedang menulis historical novel. Dan saya terkagum2 akan fakta2 yg diselipkan di dalamnya. Bukannya kenapa, saya sendiri menjalani proses riset untuk menulis cerita historis dan itu tidak gampang! Mulai dari google, pergi ke perpus, membaca buku2 berbau ajaib dan juga makalah2 dengan kalimat yg boring, serta berusaha mengambil satu dua fakta yg kira2 bisa dipakai di naskah. Rasanya seperti menggunakan pinset, mencari mutiara yang kecampur sama beras.

Yng membuat saya bertambah kagum ialah, masa setting cerpen ini benar2 luas, mulai dari jaman kompeni, perjuangan kemerdekaan, time span nya benar2 luas, bayangkan bagaimana risetnya coba!

Tentu saja harus diacungi jempol atas idenya yg fresh, jarang2 ada cerpen mengambil latar begini.

Yang membuat saya tidak memberi 5/5 hanyalah karena semua sudut pandang kok homogen ya..org Belanda-nya, bukan org pribumi. Plus, karena yah, itu tadi, baru mulai engage sama karakter, eh, cerita sudah habis.

Mudah2an, Iksaka Banu menulis novel utuh, bukan cerpen. Saya pasti beli!
Profile Image for Missy J.
629 reviews107 followers
November 12, 2023
Goodreads has recommended this book to me for quite some time now. The book cover is definitely eye-catching, but I've never heard of this author before. Iksaka Banu is actually a graphic designer and worked in the advertising industry in Jakarta. But his family always encouraged him to continue writing and hoped that he would publish a book one day. This is a collection of short stories that the author wrote between 2006 and 2014. He likes to study history, so all of his stories are set in colonial Dutch East Indies and most were written from the perspective of a Dutch protagonist. The author wanted to highlight different events and figures in history and compel his readers to look at history from different perspectives. I find this idea brilliant. I enjoyed reading these stories, but some of them I didn't quite understand. A wide variety of topics are covered. What I noticed is that I enjoy the stories involving minor ordinary characters more than the stories based on historical figures.

1.) Selamat Tinggal Hindia: set during the revolutionary era (1945-1949), a Dutch journalist is caught up with a Dutch woman who doesn't want to leave the Indies (she was born and raised in the Indies and doesn't know her so-called motherland, the Netherlands). 4*
2.) Stambul Dua Pedang: a nyai (native concubine for Dutch man) is having an affair with a stambul theater actor. Allusion to Roro Mendut. 3.5*
3.) Keringant dan Susu: again set during the revolutionary era, a group of Western-affiliated soldiers are out on night patrol and banter about native women. The Dutch chief (born and raised in the Indies) remembers his childhood and especially his nursemaid. 3.5*
4.) Racun untuk Tuan: a Dutch man has to get rid of his nyai because his official Dutch wife is about to arrive in the Indies. 4*
5.) Gudang Nomor 012B: native coolies are reluctant to work near a haunted warehouse. The Indo (mixed-race) manager hires an exorcist to appease the workers' worries, while the Dutch administrator finds the whole thing ridiculous. 3.5*
6.) Semua untuk Hindia: correspondence between a Balinese princess and a Dutch man, who witnesses the Puputan of 1906 (mass suicide of Balinese noble families who refused to surrender to the Dutch). This story explains how the Dutch crafted an excuse to provoke the Balinese kings, and engineer war. The writing was unfortunately weird here. 3*
7.) Tangan Ratu Adil: a Dutch inspector visits a prison cell where a Muslim leader of the Banten rebellion is held captive. The police chief argues with the inspector who has a more liberal attitude towards the situation. 4*
8.) Pollux: two Belgian men who have had bad experiences with the Dutch are imprisoned in the Indies. Diponegoro makes a brief appearance. 3*
9.) Di Ujung Belati: Dutch soldiers are defending a fort and waiting for the British to attack. Comparison of British and Dutch colonization and their leaders. The ending was confusing. 3.5*
10.) Bintang Jatuh: two Dutch officials are discussing the Chinese riots in Batavia. A conspiracy is introduced, but a massacre happens instead. 4*
11.) Penunjuk Jalan: a newly arrived Dutch doctor has an accident in the middle of nowhere. He is helped by a native prince who turns out to be a notorious person in Batavia. 4*
12.) Mawar di Kanal Macan: story of a former Dutch soldier who is trying to establish himself as a merchant and a Dutch woman whose husband is cheating on her with native women. The romance goes horribly wrong. 4.5*
13.) Penabur Benih: Catholic priests onboard a Dutch expedition ship. The older priest complains about the rise of reformed churches and that the horrible things happening to them on the ship are all a consequence of their lack of faith. 4.5*
Profile Image for Monique Clariza.
31 reviews7 followers
Read
March 13, 2021
“Kukira engkau benar. Tak ada hal baik dari perang. Perang merusak segalanya. Termasuk kesetiaan dan kasih sayang.” (hlm. 64)

Membaca kumpulan cerita pendek kiranya menjadi solusi tepat setelah penat bergelut dengan novel-novel tebal, terlebih genre fiksi sejarah. Bagi awam, ini merupakan buku yang pas ketika bingung menentukan buku sejarah lokal mana yang hendaknya dibaca terlebih dahulu. Perkenalan awal haruslah menyenangkan, bukan?

Iksaka Banu lagi-lagi berhasil membuat pikiran saya lebur dalam rangkaian tiap alur cerita yang ditorehkan. Lembar demi lembar membuat saya penasaran, di mana kebanyakan endingnya memang sengaja dibikin menggantung. Sama seperti Teh dan Pengkhianat, pendahulunya ini juga memuat 13 cerpen keren dengan topik-topik khas seperti kehidupan para Nyai, julukan anjing NICA terhadap orang-orang Belanda pasca kemerdekaan, pemberontakan Tionghoa, Perang Puputan, epitaf Tragedi Mei 1998, dsb.

Seluruh sudut pandang menggunakan 'aku' sebagai orang pertama, entah itu orang Belanda totok maupun Indo (anak yang lahir dari seorang berdarah pribumi dab Belanda). Untung saja Banu piawai merampai segenap cerita dengan sudut pandang yang ia pilih, kalau tidak, keinginan membaca saya bisa jadi 'turn off'. Dari 'PoV' tersebut, pembaca mungkin akan disadarkan bahwa tidak semua orang-orang Belanda berlaku kejam. Hadir pula sentuhan lelucon yang semakin menambah kerenyahan buku ini.

Bila ditanya cerpen mana saja yang menjadi favorit, berikut 3 judul pilihan saya.
1. Semua Untuk Hindia, mengisahkan Perang Puputan.
2. Di Ujung Belati, klimaksnya sangat saya suka.
3. Racun untuk Tuan, melahirkan ending yang ditentukan oleh pembacanya sendiri.

Menurut saya, kumcer “Semua untuk Hindia” dirasa lebih konsisten dibanding sang adik “Teh dan Pengkhianat” yang suguhan ceritanya naik turun. Dari sisi keistimewaan pembangunan cerita dari awal hingga akhir, sang kakak berada di belakangnya, sebab beberapa cerpen Teh dan Pengkhianat memuaskan dahaga pembaca dengan unsur sejarah yang lebih kental. Yang ini? Sosial dan budaya yang menjadi sorotan utama, meski fakta sejarah masih terlampir, misalnya pada cerpen “Stambul Dua Pedang”, “Keringat dan Susu”, “Racun untuk Tuan, serta “Mawar di Kanal Macan”. Untuk ilustrasi yang ditampilkan, saya lebih menyukai goresan yang ditorehkan Adi Suta.

“Cinta, agama, dan norma sosial seharusnya bukan urusan pemerintah, begitukah? Semakin diatur semakin banyak pelanggaran, fitnah, persekongkolan, pengkhianatan. Akhirnya semua tenggelam dalam kemunafikan.” (hlm. 135)
Profile Image for ucha (enthalpybooks) .
201 reviews3 followers
October 23, 2018
buku ini paket lengkap untuk yang suka dengan cerpen, suka fiksi sejarah, suka dengan sisi pencerita yang tak biasa.

Profile Image for Johanes Jonaz.
12 reviews5 followers
August 7, 2020
Pacar saya merekomendasikan buku-buku Iksaka Banu untuk saya baca lantaran saya senang menulis historical romance. Lalu saya pilih satu buku: Semua Untuk Hindia. Saya pikir buku ini berupa novel, tetapi ketika saya mendapatinya ternyata adalah kumpulan cerpen dengan latar kolonial.

Iksaka Banu, menurutnya adalah penulis dengan ladang historical fiction. Dari buku ini, saya bisa melihat jika penulis memang mempunyai pengetahuan yang luas tentang zaman cerita yang ia tulis. Ia pandai mengangkat sebuah objek pada zamannya dan menmbuatnya menjadi sebuah cerita yang menakjubkan. Misalnya saja, dalam cerita Racun Untuk Tuan, saya senyum-senyum sendiri saat ia menyebut kebaya putih sebagai status sosial seorang nyai pada zaman itu, ia diusir dari rumah tuannya karena istri sah si tuan akan datang. Si nyai meninggalkan semua kebaya berwarna putih yang ia punya sebelum pulang ke kampung.

Kumcer ini juga penuh dengan kebetulan-kebetulan yang manis, persis seperti yang ditulis pada kata pengantar buku. Siapa sangka jika cerita tentang seorang tahanan non pribumi di penjara bawah tanah akan berujung pada pertemuannya dengan Pangeran Diponegoro? Atau cerita seorang dokter yang bertemu rombongan misterius saat kereta kuda yang dikendarai masuk jurang adalah cerita tentang Untung Surapati?

Saya paling suka dengan cerita Stambul Dua Pedang. Sebuah roman panas hubungan seorang nyai dengan pementas yang sekali lagi cukup mengejutkan. Tokoh nyai dalam cerita ini tidak digambar lemah seperti pada umumnya, tetapi juga tidak seperkasa Nyai Ontosoroh. Nyai dalam kisah ini begitu manusiawi, masih ada kegetiran dan ketakutan pada suami belandanya, tetapi berhasrat sama besar seperti layaknya manusia. Saya suka dengan cara bercerita penulis. Dalam batasan kata sebuah cerpen, penulis menyuguhkan begitu banyak detail. Dialognya kuat, alur maju mundur yang digunakan membuat cerita ini cantik bentuknya. Sekali lagi, saya menemukan fakta bahwa si penulis memahami betul latar yang ia pakai; Riboet Orion, sebuah grup tonil yang beken pada zamannya.
.
Profile Image for Cintya Faliana.
42 reviews10 followers
September 14, 2024
Ini kali kedua aku membaca Semua Untuk Hindia. Pertama kali Maret 2019, setelah kudapatkan buku ini sebagai hadiah ulang tahun. Kedua kali, Maret 2021, setelah semalam orang yang sama memintaku membacakan Stambul Dua Pedang untuk menemaninya menahan sakit dan mual akibat asam lambung.

Aku beri rating 4.5 tentu karena cerita-cerita Iksaka Banu adalah warna baru dalam historiografi Indonesia. Favoritku adalah Racun Untuk Tuan dan Mawar di Kanal Macan. Iksaka Banu kerap memberikan pembacanya kesempatan untuk memutuskan akhir yang diinginkan dengan pola-pola open ending, seperti di Racun Untuk Tuan. Gaya menulisnya pun khas sekali, biasa dibuka dengan gambaran suasana atau kalimat pendek, bahkan kerap satu-dua kata saja. Termasuk, mengandalkan twist kecil di setiap plotnya.

Tetapi selain itu, Semua Untuk Hindia turut hidup dalam memoriku sebagai buku yang mengantarkanku pada cara lain membaca kolonialisme, dampaknya, dan cinta kasih yang tidak terpisahkan. Lucu sekali saat membacakan Stambul Dua Pedang dan ia menyela untuk berbagi trivia-trivia kecil seperti, "Kamu tahu Gadok di mana? Gadok adalah jalan menuju puncak, Bogor." "Kamu ingat Miss Ribut yang kita kunjungi makamnya kapan hari? Dia juga main Stambul dan idaman orang Belanda dulu." Atau dia akan menyebut tokoh-tokoh yang tidak aku kenal tapi gemari ceritanya. Aku senang, memori baikku atasnya banyak terbangun di atas buku-buku bagus yang patut dibaca khalayak.

Ternyata ini belum di-post di Maret 2021, tapi sekarang udah putus. Haha, tetap akan aku unggah karena saat itu, perasaannya, benar adanya.
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
March 22, 2023
"Semua untuk Hindia" menghidupkan kesan dan emosi saya saat mengikuti "walking tour" bertema sejarah di Jakarta. Nama-nama tempat seperti Noordwijk, Passer Baroe, Weltevreden membawa saya kepada tur-tur yang pernah saya ikuti, dan menggabungkan imajinasi saya saat mengikuti tur dengan saat membaca buku ini, paket komplit imersif. Bak kembali ke masa kolonial, Iksaka Banu dengan terampil menyajikan narator yang obyektif, kritis, dan mungkin melampaui zamannya, narator yang boleh jadi sikapnya seperti orang modern dalam menyikapi ketidakadilan di masa kolonial. Dengan riset yang mendalam dan sejarah yang tidak dibelokkan, penulis berhasil menransfer rasa simpati di benak saya. Semua cerpennya bagi saya unik dan teruntai apik dengan segala kebetulan rapi yang diciptakan penulis taat kepada rangkaian sejarah, namun terutama cerpen pertamanya, "Selamat Tinggal Hindia" yang paling membekas bagi saya. Cerpen yang terkesan lebih sederhana dibanding yang lainnya, namun menyisakan bengong kagum seusai saya membacanya.

Boleh jadi, saya lebih menghayati sejarah kolonial dari antologi cerpen ini, dibanding dengan kurikulum di sekolah menengah dulu. Serta, buku ini membuat saya justru semakin haus dan kepo tentang sejarah kolonial. Atas riset, gaya bahasa, dan narasi yang hampir tak bercacat, bagi saya buku ini layak untuk mendapat bintang 5.
Profile Image for Kahfi.
140 reviews15 followers
May 14, 2021
Tiga belas cerita pendek akan menghantarkan kamu menuju sejarah orang-orang kecil yang tak bisa didapatkan pada panggung utama historiografi sejarah Indonesia.

Sejarah orang-orang kecil tersebut disajikan dengan ringan namun penuh polemik. Cerita-cerita urban yang hanya bisa didapatkan dari mulut ke mulut itulah yang berusaha dirangkai penulis.

Benang merah yang saya tangkap dalam buku ini yaitu penuh ekses. Tentang ekses seorang asing bersimpati terhadap kemerdekaan sampai pergundikan kepala administratur perkebenun dengan gadis bumiputra.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
August 22, 2015
Suka sama ending beberapa cerita di buku ini. Ceritanya sederhana, tapi eksekusinya bagus. Terlepas dari lama banget baca buku ini, karena mood baca lagi tiarap, buku ini cukup bikin puas.
Profile Image for Nura.
1,056 reviews30 followers
January 31, 2018
Read Harder Challenge 2018 #8: a book of colonial or postcolonial literature.

Dutch East Indies or Hindia as we called it, considered as a Dutch colony. Although in the school we were thaught that they occupied our land for more than 3,5 centuries, in reality, the Dutch only reign since the Vereenigde Oost-Indische Compagnie were dissolved in 1800s. Imagine how a little country could rule such a vast archipelago. The trading mission turn into dominating a land they thought were uncivilized.

Through the thirteen tales, Iksaka Banu would bring you through the lives in Hindia from the foreigners (or in some stories, mixed bloods) point of view. He used many historical event as the background story, such as the journey of Cornellis de Houtman to Bantam, Untung Surapati rebellion, Chinese massacre in 1740, Badung bellows in 1906, and the vacuum period when Japan surrender to the allied forces.

He also highlighted the social changes. Women often being affected. The lives of Nyai’s became tales that associated with Dutch colonialism.

#courtesy of iJakarta
Profile Image for Ayu Ratna Angela.
215 reviews8 followers
November 11, 2020
Buku ini berbeda dengan Teh dan Pengkhianat yang lebih dulu saya baca. Ada banyak muatan dewasa dalam cerpen-cerpennya, sehingga tidak cocok untuk semua umur.

Cerita-ceritanya khas Iksaka Banu. Cerpen-cerpen yang berhasil menghidupkan kembali Hindia Belanda dari sudut pandang para penjajah.

Kalau dibandingkan dengan Teh dan Pengkhianat menurut saya buku ini lebih menarik, lebih mudah dihabiskan dalam sekali duduk. Ceritanya lebih ringan tapi juga lebih menarik.

Pada awal buku banyak cerpen yang sengaja diakhiri menggantung sehingga membuat pembaca seperti saya sedikit meradang. Tapi sisi ini pula yang membuat Semua Untuk Hindia sangat direkomendasikan untuk dibaca
Profile Image for Ainay.
418 reviews78 followers
May 8, 2020
Woaaahh gila, cerpen-cerpennya tidak ada yang tidak bagus. Sumpah, nyesal banget kenapa aku begitu lama nganggurin kumcer ini. Sudah jelas, aku bakal coba membaca karya Iksaka Banu yang lain.
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews9 followers
April 10, 2020
Baru kali ini membaca fiksi sejarah buatan dalam negeri yg tentunya dibarengi riset mendalam untuk kesinambungan dengan peristiwa yg sedang berlangsung. Yup, sungguh menarik dan setidaknya mengobati rasa kecewa saya sebagai pecinta sejarah yg dikecewakan oleh buku pelajarannya yg luar biasa memuakkan karena tidak banyak hal yg dibahas dari peristiwa bersejarah yg dimasukkan ke dalamnya.

Sebetulnya dari awal membeli, beberapa cerpen di dalamnya sudah saya baca hingga beberapa kali. Favorit saya adalah Semua Untuk Hindia, tentang bagaimana rupanya Bali mengalami peperangan karena kapal yg terdampar dan baru saya tahu ada upaya politik nan licik dari gubernur jenderal dan sekarang jadi masuk akal (lalu soal gila perang, saya rasa militer sekarang pun masih ada yg seperti itu meski ini hanya dugaan, tapi mengingat beberapa berita terakhir di mana militer terlibat bisa memperlihatkan kegilaan tersebut)

Beberapa cerpen lain juga menarik, apalagi yg membahas soal gundik atau nyai yg ditakutkan akan menghabisi si meneer jika menyakiti hatinya karena membawa wanita lain meski mereka bukan istri sahnya dengan cara menaruh racun.

Tapi sungguh, cerpen terakhir memberi kesan meledak dalam benak saya menyaksikan perdebatan soal agama dari mata seorang misionaris dan kapten kapal yg dituduhinya tidak beragama, soal berdoa dalam bahasa ibu atau bahasa latin dan soal rasa bencinya (si kapten kapal) pada Houtman (yg menurutnya cuma banyak lagak dan tak tahu apa-apa soal navigasi)yg membuat semua orang menderita kekurangan vitamin c karena tidak mengangkut banyak buah (meski jika dilihat-lihat lagi, sistem penyimpanan kala itu tidak menjamin buah bisa bertahan lama kecuali segera dihabiskan dalam hitungan hari) dan mati satu per satu.

Dan ada satu kutipannya yg relevan dengan kondisi beragama saat ini, apalagi ketika terjadi debat pembahasan tentang agama atau juga hal lain selain agama.

Ah, sangat melelahkan bicara agama. Satu topik belum selesai, berputar ke topik lain.

-Elias Goeswijn


Ya, untung saja ada kumcer semacam ini dimana kita bisa memandang sejarah dalam sudut pandang lain, apalagi juga tentang masa-masa setelah mengumumkan proklamasi, sama buruknya dengan tahun 98, banyak kerusuhan, perampokan, pembunuhan, dan juga aksi sok-sokan orang-orang yg mengatakan mereka adalah semacam tentara, pejuang yg terdiri dari preman-preman dan orang biasa yg mau minta rokok dan main pukul, berlagak patriot

Begitulah sebagian dari mereka. Mengaku pejuang, tapi masuk-keluar rumah penduduk, minta makanan atau uang. Sering juga mengganggu perempuan

-Dullah


Dan akan lebih baik, jika para remaja juga membacanya dan ikut mendiskusikan pandangannya dalam memandang dan meneliti sejarah dari pendapat masing-masing, agar tidak ada lagi pembelokkan sejarah ataupun penambahan kebohongan yg menutupi fakta sebenarnya dari sejarah.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews38 followers
December 26, 2018
Sempurna! Saya biasanya malas membaca kumpulan cerpen karena selalu saja ada cerita-cerita yang tidak saya pahami karena terlalu "nyastra". Tapi, buku ini beda. Ke tigabelas judulnya begitu serasi dengan tema yang serupa tapi tak sama. Banyak pengetahuan baru yang saya dapat dari tiap cerita. Cara baca saya pun sedikit berimprovisasi. Sepanjang membaca saya beri tanda nama-nama/peristiwa/tanggal yang nampaknya menjadi kunci penting sejarah. Setelah selesai membaca satu judul, saya berhenti sebentar untuk meriset lebih dalam tanda-tanda tadi dengan Google. Sampai-sampai, saya terkadang tidak bisa membedakan mana nama yang fiksi dan yang nyata.

Andaikata saya membaca buku ini pada waktu SMP, mungkin saya akan menjadi penggila pelajaran sejarah -mata pelajaran yang sangat saya benci waktu itu. Atau bisa juga saya presentasi di depan kelas dengan judul "Peran Pribumi, Nyai dan Anak Haram Kompeni di Zaman Kolonial" yang akan membuat pak guru tercengang. Karena memang, buku ini menjungkirbalikkan buku-buku teks sejarah sekolah yang hanya berkutat pada pahlawan dan penjajah. Buku ini seakan berteriak, "Hei, lihatlah lebih luas! Sejarah tidak hanya hitam dan putih. Ada yang menyaru di antara keduanya". Dalam prolognya, Iksaka Banu menyebutkan bahwa ada seorang temannya yang beranggapan Semua untuk Hindia merupakan jembatan sebelum pembaca menyentuh kitab sejarah yang sesungguhnya. Dan, itulah efek yang terjadi pada saya setelah membacanya. Membaca buku-buku sejarah yang lebih serius. Meskipun saya bukan siswa SMP lagi.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
February 14, 2017
Semua cerita berlatar belakang masa Hindia Belanda, Indonesia di zaman kolonial. Dimulai saat saudagar dari Belanda datang ke Indonesia hingga menjelang kemerdekaan. Setiap cerita terkait dengan pendudukan Belanda di Indonesia. Kehidupan yang terpengaruh sejak kedatangan Belanda, seperti kisah para Nyai, kehidupan anak-anak hasil pernikahan Belanda totok dengan perempuan lokal, pertempuran yang terjadi bahkan hantu pencuri beras yang tentu saja berawal dari kesusahan. Pada buku ini kita juga bisa membaca cerita-cerita yang mungkin jarang diungkap dalam buku sejarah.

Profile Image for Utami Pratiwi.
79 reviews7 followers
September 5, 2016
reni mengirim sebuah link yang isinya buku-buku rekomendasi dari idola. saya merasa hina ketika melihat karena dari beberapa buku yang terpampang, baru segelintir yang saya baca. lalu di twitter, dengan tiba-tiba muncul notif kalau mas dion sudah selesai membaca buku ini. maka, tanpa ada keraguan sedikit pun sekaligus mengurangi rasa kehinaan, buku ini langsung tiba di tangan saya. tidak salah jika idola merekomendasikan (yaiyalah). saya rasa, kamu juga harus baca. serius.
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
February 8, 2016
Mas Iksaka Banu, jika aku ditanya tentang 3 cerpen yang paling kusuka di buku ini, maka tanpa berpikir lama jawabanku ialah: Mawar di Kanal Macan, Penabur Benih dan Semua Untuk Hindia. Superb, Mas! Aku suka.
Profile Image for Evan Kanigara.
66 reviews20 followers
April 21, 2020
‘Semua untuk Hindia’ merupakan karya Iksaka Banu yang pertama kali saya baca. Sesuatu yang saya sukai dari kumpulan cerita ini adalah cara Banu untuk mencari celah kisah di balik peristiwa sejarah dan merajutnya dengan sangat baik, sangat mengalir. Banu bisa sedemikian rupa menarasikan kisahnya dalam sebuah sudut pandang yang tak pernah saya pikirkan dalam kelas-kelas sejarah yang begitu membosankan di sekolah. Kisah-kisah ini hadir untuk membuat lapisan sebuah peristiwa sejarah begitu kaya, tak hanya kumpulan kejadian-kejadian yang dinarasikan dengan tanggal dan tempat, tetapi juga kumpulan kisah manusia-manusia yang hidup. Sebuah pengingat bahwa peristiwa sejarah tak pernah sesederhana itu, “melainkan senantiasa sarat warna, sekaligus paradoksal” (hal xi).

Saya sulit menentukan cerita mana yang paling saya sukai. Namun beberapa cerita yang paling berkesan ialah ‘Penabur Benih’, ‘Keringat dan Susu’, dan ‘Tangan Ratu Adil’. Ketiganya memberikan gambaran yang sangat kuat, membekas dan entah kenapa terasa dekat. Gambaran-gambaran itu diperkuat oleh pengetahuan saya akan peristiwa sejarah tertentu. Namun, pengetahuan akan peristiwa sejarah Indonesia modern bukanlah syarat mutlak untuk menikmati karya Banu. Justru sebaliknya. Semua cerita Banu merupakan pemantik yang baik untuk mempelajari banyak hal. Jika dihitung, waktu membaca saya tidak habis hanya untuk membaca karya Banu semata, tetapi juga dihabiskan untuk berselancar di internet mencari banyak peristiwa sejarah terkait cerita pendek yang saya baca. Di situlah letak keseruan yang saya rasakan dalam membaca ‘Semua untuk Hindia’. Maka, tidak berlebihan jika dalam kata pengantar karya ini dianggap sebagai ‘jembatan sebelum mereka menyentuh ‘kitab sejarah’ yang sesungguhnya.”
Profile Image for Gia Widhi Astrini.
128 reviews43 followers
January 17, 2019
Sebuah pengalaman baca baru buatku, karena aku hampir ngga pernah baca kumcer. Plus ini kumcer yang temanya juga unik : kejadian - kejadian yang terjadi selama era kolonial di Indonesia.

Terakhir kali aku baca seputar Indonesia era kolonial itu klo ngga salah waktu pelajaran sejarah pas SD, dan rasanya ngebosenin & serious banget.

Baca kumcer ini seolah diajak untuk "zoom-in" para orang Belanda yang dulu berkuasa di Indonesia, sebab sebagian besar tokoh - tokoh utama di kisah - kisah dalam kumcer ini adalah orang Belanda. Kenapa aku bilang seolah diajak "zoom-in" ? Karena dulu waktu belajar sejarah era kolonial kan kita mengenal Belanda sebagai orang yang haus kekuasaan, dll. Nah di buku ini, dengan menyoroti setiap individu yang jadi tokoh disini, akhirnya jadi ada sudut pandang lain, bahwa orang - orang Belanda itu juga manusia, dan nggak semuanya menikmati penjajahan.

Kumcer ini mengajak pembacanya untuk menyoroti hal - hal lebih personal selain politik dan peperangan, karena ceritanya yang beragam. Ada yang tentang orang Belanda yang ikut membela pemberontakan pribumi, kisah seorang pejabat Belanda yang teramat sedih saat harus berpisah dengan gundiknya, dll dll.

Disini juga ada tentang Pangeran Diponegoro sama Untung Suropati, tokoh perjuangan Indonesia. Tapi mereka disini dijadiin tokoh sampingan dan diceritakan lewat kacamata para Belanda.

Walaupun kadang aku perlu mikir banget bacanya karena kadang dialognya suka berat & panjang.. belum lagi nama - nama ala Belanda yang bikin ku suka ketukar - tukar antar karaker satu dengan yang lainnya, overall ini buku yang menarik & unik.
Profile Image for Aris Setyawan.
Author 4 books15 followers
August 11, 2024
Kumcer yang mengajak kita membayangkan bagaimana rasanya menjadi manusia terjajah. Ya, fokus dari Kumcer ini adalah tentang Hindia Belanda di masa pendudukan Belanda. Tentang bagaimana adanya strata kelas antara orang Kompeni, dengan orang Nusantara. Ketidakadilan yang kerap harus diterima orang Nusantara seperti bagaimana para laki-laki Kompeni bisa suka-suka memilih perempuan-perempuan Nusantara untuk dijadikan selir, gundik, atau Nyai. Tentang posisi strategis pemerintahan, perusahaan perkebunan yang dikuasai Kompeni, sementara orang lokal hanya bisa menjadi kuli atau melakukan pekerjaan kasar lainnya.

Iksaka Banu cukup piawai merangkai kejadian-kejadian dengan setting Hindia Belanda zaman pendudukan itu dalam 14 cerpen yang lugas, bernas. Menariknya, seluruh cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai narator. Jadi rasanya kita diposisikan sebagai orang yang sedang mengalami kejadian tertentu di era Hindia Belanda tersebut.

Apabila ada yang cukup mengganggu, menurut hemat saya barangkali adalah penggunaan kata "pribumi" untuk menyebut masyarakat lokal. Entahlah, rasanya "orientalis" aja gitu. Atau saya saja yang terlalu sensitif karena toh penggunaan kata itu barangkali dimaksudkan untuk menunjukkan adanya strata kelas di era Hindia Belanda. Kumcer ini bisa menjadi perangkat postkolonial. Untuk mengenyahkan jauh-jauh "mental inlander" sebagai bangsa yang pernah terjajah, lalu mengembalikan marwah dan harkat kita sebagai manusia merdeka. Ini lagi-lagi menurut saya loh, ya.
Profile Image for Shafira Indika.
303 reviews234 followers
March 14, 2022
Kelarr!! Cukup lama bacanya karena diselingi baca buku yg lain + karena ini kumcer jd kyk gaada dorongan berupa rasa penasaran mengenai kelanjutan ceritanya.

Aku sangat merekomendasikan buku ini buat temen2 yang suka baca historical fiction, atau mau coba baca historical fiction terutama yang berlatar di Indonesia. Seluruh cerpennya diceritakan dengan menarik dan penggambaran latarnya jelas. Ada beberapa yg ending-nya butuh interpretasi sendiri, tapi ada juga yg nggak.

Cerpennya mostly bercerita dari sudut pandang orang Eropa—kebanyakan Belanda, tentunya. Mnrtku ini sih bagian menariknya. Cerpen disini membahas banyak hal. Dari hal yg lebih ke sosial-budaya seperti pergundikan, hal yg masih banyak ditemui hingga sekarang seperti perselingkuhan, hingga peristiwa-peristiwa yang dimuat di buku pelajaran sejarah seperti kedatangan Cornelis de Houtman, Perang Puputan, dan masih banyak lagi.

Oiya di buku ini juga ada ilustrasi di setiap cerpennya.

Bukunya tipis, 153 halaman, mungkin bisa dihabiskan sekali duduk tapi dinikmati pelan-pelan (sambil mencari tahu lebih lanjut tentang peristiwa terkait) juga oke bgt👍🏻

Setelah baca ini, aku jd kepengen baca "Teh dan Pengkhianat" hehe☺️

Personal favs (in a particular order): Di Ujung Belati, Bintang Jatuh, Semua untuk Hindia
Profile Image for KHAIR: .
65 reviews5 followers
September 12, 2024
Semua Untuk Hindia: Sebuah ulasan berdasarkan pandangan pribadi (3.9/5)

Tanpa sinopsis akan seperti apa novel ini. Dan tanpa bayangan akan dibawa berlayar kemana oleh Sang Penulis. Saya berikan empat bintang dari lima keseluruhan untuk salah satu karya dari Iksaka Banu kali ini.

Tidak ada yang saya harapkan di awal saat saya memilih novel ini untuk memakan habis waktu saya selama kurang lebih seminggu. Saya pikir, karena novel ini mengambil latar serta konflik sejarah, maka narasi atau gaya bahasa yang disajikan akan begitu berat dan cukup melelahkan kepala mungil ini. Namun ternyata semuanya hanya seputar angan-angan. Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu adalah salah satu novel fiksi sejarah yang dihidangkan dengan sangat apik. Disajikan dengan menu utama ketika Indonesia sedang mengalami penjajahan serta peralihan menuju negara kemerdekaan. Romansa, kisah cinta, bahkan pengkianatan kepada tuannya, semuanya disajikan dengan bermacam-macam bumbu. Sangat serasi karena keharmonisan antara kejadian nyata di masa lalu yang dikemas menjadi sebuah karya fiksi sanggup dieksekusi dengan sangat baik.

Dan akhir kata, sebagai kenang-kenangan untuk mengenang 13 cerita pendek yang disajikan di novel ini, saya nobatkan tiga karya terbaik, meliputi: Keringat dan Susu, Racun untuk Tuan, dan Gudang Nomor 012B.
Profile Image for Achmad.
Author 26 books10 followers
June 20, 2018
Oh, mijn God! Awalnya saya mengira penilaian Ariel Heryanto bahwa prosa ini "sekelas" karya-karya Pram terlalu berlebihan. Setelah membacanya, saya merasa penilaian itu layak. Selain detail fakta seputar fragmen sejarah berlatar kolonial begitu kuat, tiap cerita berusaha "adil" tidak menghakimi hitam putih tokoh-tokohnya, dengan tetap membaktikan keberpihakan pada bumiputera yang dijajah kolonial.
Profile Image for Gianty Rusita.
5 reviews1 follower
May 21, 2020
Jujur awalnya sempet bingung sama jalan ceritanya tp makin lama makin bisa dimengerti dan ceritanya unik karena mengambil point of view dari orang Belanda when pada umumnya novel2 begini point of viewnya dari Pribumi. Buku ini ngasih gambaran realistis dan lebih “nyata” sih menurut gue tentang kehidupan di jaman kolonial (dari sisi orang Belanda, ya.) Why I didnt give 5/5? karena ada beberapa ceritanya yang menurut gue cukup membosankan, but other than this is book is supeeerrr 👌🏻👌🏻
Profile Image for Gie.
149 reviews20 followers
July 23, 2017
thanks ijak jadi bisa baca buku ini. walau banyak selingannya yaa (derita baca dari hape) sampe minjem buku ini dua kali haha.

dan penantiannya berujung manis nan memuaskan. tiga belas ceritanya kuat, ditulis dengan sangat rapi. semua ceritanya berkesan. yang mau belajar buat cerpen bagus, bisa baca buku ini.

btw, masih berharap nemuin buku fisiknya :))
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews45 followers
March 23, 2019
Sebetulnya masih bingung kenapa kumpulan cerita pendek dapat disaingkan dengan novel dalam Kusala Sastra Khatulistiwa. Meski pun ya memang ada cerpen yang kekuatannya bisa mengalahkan satu novel tebal membosankan. Tapi tetap saja, saya kira tiga belas cerita susah untuk dibandingkan dengan satu novel. Ah sudahlah. Memang buku ini idenya bagus sekali.

Cerita-cerita dari sudut pandang “penjajah” ini sepertinya baru pertama kali saya baca. Dan tidak sembarangan juga. Semua nama lama daerah-daerah di Jakarta—atau Batavia, sampai kisah pinggiran Cirebon dan Cilacap (ya!!), hingga Bali. Semuanya bagus. Hampir saja saya percaya semua cerita itu betul-betul terjadi pada zamannya.
Displaying 1 - 30 of 248 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.