Jump to ratings and reviews
Rate this book

Timor Timur: Sebuah Memoar

Rate this book
Akulah kaer fatuk, penutur riwayat bangsaku
Aku memikul cerita-cerita bagai batu-batu
berat, tak melupakan satu pun.
Pada malam-malam genting aku
menguburkan sejumlah batu, di bawah
pohon-pohon hama yang akarnya
tertanam jauh di dasar bumi.
Dalam bahaya, aku telah menjadi pohon ham itu sendiri, rambutku yang tebal
dan panjang terjalin, tanda memohon
perlindungan dari tanah sakral.
Sang Surya telah terbit, Timor Lorosa’e,
tanah leluhurku, lalu kugali batu-batu
itu, kutarik keluar. Inilah ceritamu
dan ceritaku. - Naldo Rei

***

Dini hari yang sepi di pelabuhan Farol, di pinggiran kota Dili. 7 Desember 1975.

Sekelompok malaikat bersayap putih terbang melayang di angkasa. Satu dua pejalan kaki yang hendak pergi bekerja menunjuk-nunjuk ke langit, seraya mengomentari apa yang tengah mereka lihat. Tak berapa lama sayap-sayap itu menguncup, menjadi parasut-parasut yang mendarat di tanah, sehingga terlihat jelas orang-orang berseragam khaki muncul dari bawahnya. Tangan-tangan mereka mengacungkan senjata, lalu mereka mulai menembak orang-orang yang ditemui seakan-akan binatang tak berguna. Sejumlah sasaran jatuh ke sungai. Tubhh-tubuh mengambang di permukaan air. Pesawat-pesawat jet yang entah dari mana asalnya terbang rendah dan memberondongkan peluru ke daerah pinggiran kota. Seperti virus, kelompok berseragam itu dengan cepat menyebar ke seluruh negeri.

Tentara Indonesia menyerbu Timor Timur.

332 pages, Paperback

Published January 1, 2017

7 people are currently reading
65 people want to read

About the author

Naldo Rei

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (50%)
4 stars
11 (34%)
3 stars
5 (15%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Marliyanti Yanti.
19 reviews2 followers
December 22, 2018
Loron foun sae ona
Ukun rasik ita rain

Matahari sudah terbit
Kemerdekaan di tanah kami.

Memoar yang menggugah!
Profile Image for Wiwien Chan.
20 reviews1 follower
August 15, 2020
Saya membaca buku versi terjemahan berbahasa Indonesia yaitu "Timor Timur: Sebuah Memoar" yang diterbitkan oleh Penerbit Circa.

Awalnya tertarik membeli buku ini di @postsanta karena foto covernya yg powerful, namun utamanya karena ingin belajar sejarah & konflik di Timor Timur yang tidak dibahas di buku pelajaran sekolah.

Kesan saya, buku ini jauh lebih powerful daripada beberapa film documentary yang dibuat oleh jurnalis. Naldo Rei menuliskan detail yang sangat mengerikan dan mencabik cabik nalar dan rasa kemanusiaan atas penyiksaan, pembunuhan dan kekejaman militer Indonesia selama penjajahan di Timor Timur.

Naldo Rei adalah pejuang clandestine (bawah tanah) dari Falintil, sayap gerilya bersenjata dari Fretilin, organisasi kemerdekaan Timor Timur. Berkali-kali ditangkap oleh pihak militer Indonesia dan disiksa dengan segala siksaan kejam seperti dicabut seluruh kuku, digantung terbalik berhari-hari, disetrum alat kelamin, dipatahkan tulang rusuknya, ditempatkan di sel yang dipenuhi kotoran manusia, dsb, namun tidak pernah meluncur dari mulutnya mengenai rahasia Falintil. Naldo memutuskan berjuang untuk Falintil setelah ayahnya beserta keluarga dan warga desanya dibunuh oleh militer.

Penuturannya yang begitu apik membuat saya tak habis pikir. Betapa kuatnya fisik Naldo dari segala penyiksaan serta mentalnya, dia bisa survive dari PTSD serta atas kenangan penyiksaan & kehilangan keluarga serta terbunuhnya para rekannya sesama pejuang Falintil. Naldo orang yang cerdas secara intelektual, mendapatkan beasiswa di bidang Jurnalistik dari University of Queensland, Australia. Tulisannya begitu mendetail dan tersusun rapi, karena Naldo menyimpan dokumen dari kegiatan clandestine nya sejak dia berusia 9 tahun.

Membaca buku ini di pertengahan bulan Agustus 2020 sungguh membuat saya memikirkan kembali arti patriotisme dan kemerdekaan. Betapa pemimpin bangsa dan bangsanya yang dijajah berabad-abad oleh negara lain bisa dengan keji menjajah dan mengulang penjajahan terhadap bangsa lain. Dan betapa tingginya rasa patriotisme Naldo Rei terhadap tanah airnya, Timor Lorosae, hingga dia rela jikapun harus berkorban nyawa demi kemerdekaan bangsa dan tanah airnya.
Profile Image for Aulia Darmawan.
41 reviews
December 26, 2024
Timot Timur karya Naldo Rei adalah sebuah novel yang mengajak kita untuk menjelajahi dunia Timor Leste melalui kisah yang penuh warna dan emosi. Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang pemuda yang bernama Timot yang berusaha menemukan jati dirinya di tengah konflik sosial dan sejarah yang melingkupi negaranya.

Dengan gaya penulisan yang santai dan mengalir, Naldo Rei mampu menggambarkan kehidupan masyarakat Timor Leste dengan cara yang sangat manusiawi. Buku ini tidak hanya berbicara tentang sejarah atau politik, tetapi juga tentang keluarga, cinta, dan perjuangan pribadi. Timot, tokoh utama dalam cerita ini, adalah sosok yang bisa kita semua hubungkan—seorang pemuda yang mencari arti hidupnya di tengah kesulitan dan perubahan.

Apa yang membuat Timot Timur menarik adalah kemampuannya untuk menggabungkan cerita yang sangat personal dengan latar belakang sejarah yang kaya. Naldo Rei memberikan pembaca pengalaman yang menyentuh hati dan sekaligus membuka wawasan tentang Timor Leste yang mungkin belum banyak dikenal.

Buku ini cocok buat kamu yang suka cerita yang menggugah, penuh makna, dan membawa perspektif baru tentang kehidupan di negara yang penuh sejarah dan budaya seperti Timor Leste. Timot Timur adalah cerita yang seru, inspiratif, dan bisa bikin kamu merenung tentang arti hidup dan perjuangan.
Profile Image for Pepe.
117 reviews25 followers
December 25, 2018
Naldo Rei was a clandestine for Fretilin’s Falintil (the armed guerrilla of left-wing Timorese party). His father, and other families, were killed by the Indonesian Army during Indonesia’s occupation in East Timor (1975-1999). I read this kind of book with skepticism at first, but it’s really nice that throughout his narration, Naldo Rei got more critical with the struggle, the people within, but still sticked true to his country. I love how he emphasizes his mother’s struggle to raise 10 children after his father’s death. And his autobiography is concluded with unfinished and unsure voice: where should we begin (to develop) for Timor from now on?
Profile Image for Adam.
13 reviews10 followers
December 21, 2022
A hugely personal and horrifying account of the Indonesian invasion of East Timor by Naldo Rei. Also cultural insights and historical narrative the serves to share the survivor perspective, which has failed to be silenced, despite many efforts.

I had the privilege to meet Naldo and he is bewildering to consider so much suffering existing in a single person. He is very kind and has a strongly calming presence.
Profile Image for galih.
64 reviews9 followers
April 24, 2021
Buku memoir tentang Timor Leste khususnya yang beredar di Indonesia termasuk sulit ditemukan wujudnya jadi ketika menemukan ini ketika sedang jalan ke Post Santa, saya tertarik dan langsung membelinya tapi sayangnya ketika dibaca, memoir ini monoton dan membosankan.
Profile Image for Serena.
257 reviews4 followers
December 31, 2022
*Might need trigger warnings*

I haven’t really timed my Christmas cheer with my reading this year, and have rather gone for a string of very violent, devastating war stories between this, Half of a Yellow Sun and The Shadow King. This one really tops the visceral levels of brutality though, especially all the torture and prison internment experiences by the author at such a young age. His strength of mind, tribute to his beliefs and to his blood family, war family and comrades is pretty astounding. An extremely powerful mantra to have about fighting hard enough for your cause as long as someone can survive to tell the others. And I learnt a lot as is always a plus.
Profile Image for Francesca Forrest.
Author 23 books98 followers
June 5, 2014
I read this out of personal interest in East Timor and as research into how resistance is actually lived. It's movingly told--very harrowing in places. Very harrowing. But I think what impressed itself on me even more than the horrors of torture (which, sadly, I hear about in almost any conflict story) was the fact that Naldo Rei survived it. I guess it was a combination of his being young and his being lucky in his constitution.

What I was most grateful for, though, in his story were his details of his outlook, Timorese beliefs, and for his insights into the workings of the resistance. I got a bit of the Rashômon experience, reading his descriptions of some of the same events covered by Kirsty Sword Gusmão in Woman of Independence--particularly his escape after the demonstration at the Dutch embassy in Jakarta.

Thanks to reading his book, I learned of two great resistance songs, "Eh Foho Ramelau" and "Kolele Mai," and I was able to listen to them on YouTube. The performance of Kolele Mai at East Timor's independence ceremony in particular moved me (link--commentary there is in Portuguese)

He begins the book with a poem-promise, which I think the book fulfills:

I am kaer fatuk, storyteller for my people. I
carry their stories like heavy stones, forgetting nothing.
During the long night of the garuda I buried many stones
at the base of hama trees where the buttress roots plunge into the earth.
In danger, I would become a hama tree myself,
my long thick hair twisting into queues,
seeking the sacred protection of my land.
Now the sun has risen, Timor Lorosa’e, land of my ancestors,
so I have dug up the stones.
This is your story and mine.

Profile Image for Geoffrey Robert.
Author 4 books3 followers
August 8, 2015
Resistance is a deeply personal account of Timor-Leste’s struggle for independence, and the resilience of a people who refused to give up.
It is well written, informative, at times chilling, tragic and heart-wrenching -- but ultimately uplifting.
Rei’s account is uncomfortable but necessary reading for those of us from countries that were either directly – or through their non-intervention indirectly -- complicit in the Indonesian occupation and genocide.
As well as capturing key moments of his remarkable life and his country’s horrendous oppression, Rei weaves an unforgettable story of family.
His determination to honour his father, who was murdered by the Indonesian invaders when Rei was only nine, and the unshakeable bonds between a son and his mother (or in the author’s case three mothers – his birth mother, war mother and angel mother in Australia), are powerful threads.
The book also gives a rare insight into the mind, motivations and emotions of a child soldier.
It is a must-read for anyone interested in what really happened during Indonesia’s ruthless 24-year occupation.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.