Tidak banyak buku yang mengetengahkan perihal kehidupan media massa ke hadapan khalayak. Dari beberapa buku yang pernah terbit gambaran mendalam mengenai dapur redaksi, ideologi, relasi dengan kekuasan tidak hadir secara detil. Tidak sedikit juga hadir tidak mengreget karena kehilangan konteksnya.
Tetapi tidak demikian dengan buku ini. Janet Steel, sang penulis benar-benar mengekspolorasi TEMPO sedalam mungkin. Maklum, buku ini diangkat dari hasil penelitiannya di kala TEMPO kembali diterbitkan pada tahun 1998 setelah sebelumnya 4 tahun dilarang terbit oleh pemerintah Orde Baru.
Buku yang diterbitkan Agustus 2007 ini memang benar-benar mendapatkan konteks dan momen yang benar-benar pas. Selain memang TEMPO adalah media yang sangat berpengaruh dan bertahan hampir tiga dekade lamanya, porsi sudut pandang topik TEMPO dalam relasinya dengan Orde Baru adalah pilihan yang tepat. Pasalnya, sepanjang beberapa tahun terakhir ini pencitraan dan penilaian terhadap Soeharto dan keluarga Cendana semakin sering terdengar. Ditambah buku-buku dan berbagai artikel melimpah di toko-toko buku dan surat kabar.
Tema-tema relasi media dan politik bagi sebagian orang memang selalu menyimpan sensasi kisah yang menarik: tegang, penuh intrik, pencitraan, serta nuansa perang memenangkan pengaruh. Dalam buku ini hal-hal tersebut muncul berkat metode riset Janet Steel yang dilakukan dengan berpartisipasi langsung dengan objek penelitiannya. Steel mengisahkan dirinya mengikuti pekerjaan redaksi dari A sampai Z, mulai dari proses inisasi wartawan baru, hingga seleksi berita oleh para redaktur. Penuturan kisah dalam buku ini juga diperkaya dengan wawancara langsung dengan para pendiri TEMPO, khususnya Goenawan Mohamad yang berpengaruh sangat besar dalam kebijakan redaksi.
Walaupun TEMPO dicetak tidak terlalu banyak untuk ukuran populasi masyarakat Indonesia, namun media ini sudah cukup memberikan nafas kritis, khususnya bagi kaum menengah dalam menilai pemerintah Orde Baru. Maka tak heran TEMPO pernah dilarang terbit pada tahun 1982 dan 1994.
Pada aspek ini membuat tidak banyak orang tahu bahwa relasi media ini dengan pemerintah Orde Baru sesungguhya cukup erat di awal terbitnya pada tahun 1971. Salah satunya adalah penerbit awal TEMPO adalah Eric Samola, berdaharawan Golkar pada masa itu. Dan TEMPO sendiri dalam buku ini dituliskan Steele sangat mendukung kebijakan teknokratik Orde Baru. Ketika didirikan pada tahun 1971 TEMPO juga secara ekonomi dibiayai oleh Yayasan Jaya Raya yang berafiliasi dengan kelompok Ciputra dan pemerintah pusat.
Para pendiri TEMPO sendiri keseluruhan datang dari angkatan ’66 yang berhasil menggulingkan pemerintah Orde Lama. Mahasiswa dan militer yang saat itu adalah duet yang akrab sama-sama merasa hutang budi, khususnya militer yang berkat mahasiswa bisa naik ke tampuk kekuasaan. Namun demikian dalam perjalanannya, seperti yang banyak tercermin dalam pemberitaan TEMPO adalah media yang diakui kental karakter independennya. Redaksi tetap mengikuti aturan-aturan Orde Baru, tetapi menawarkan perspektif yang berbeda tentang cara berbangsa Indonesia. Hal seperti ini yang menurut Steele adalah hubungan yang ambigu.
Dengan pengemasan gaya penulisan feature, isi detail buku ini semakin menarik dibaca. Dan bagi penngkaji media dan pengamat komunikasi massa buku ini menjadi referensi lengkap mengenai media sebagai industri budaya yang sulit sekali berperan netral (sebuah istilah yang juga utopis). Tetap saja sebagai institusi sosial media selalu memainkan peran yang taktis, tahu diri, adaptif dalam relasinya dengan kekuasaan. Hal ini tentu saja dalam rangka bertahan hidup dalam menciptakan profit bagi perusahaan . Dan yang paling utama, seperti yang diharapkan Goenawan Mohamad dan teman-teman: agar selalu bisa mengetengahkan sudut pandang yang mencerahkan masyarakat di sekitar lingkungan yang terkadang menyesatkan untuk berjalan.
Very interesting read for people who want to know more about journalism in New Order Indonesia, and Indonesian society at large. Especially the system of reporting (reporters get info, then an editor puts it into one big article) and the ethical guidelines (no envelopes!) are great details.
Early on there's a bit too much scene-setting ("office boys are busily running around" twice on one page), and I get the idea that Steele is sometimes a bit too sympathetic to her subject. I for one find Tempo occasionally unreadable, with pages full of "official A said this, then B said that. They met at restaurant Z for lunch. C was present as well." Etcetera.
I meet Janet Steele once by the time I worked at Tempo, not interact directly but I hear that she is very close with many important person inside Tempo Group. This books story about the struggle of Tempo Group in Soeharto's government. I am very appreciate media like Tempo, they have strong characteristic and idealism. Not easily influenced by capitalism or feared by authority.. Was once proud being Tempo Family..
Buku ini menjadi saksi sejarah komprehensif Majalah TEMPO, salah satu media yang paling berpengaruh di Indonesia. Penting dibaca oleh calon jurnalis dan para jurnalis.
I was brought up by Soeharto's regime and I am the one who used to admire Tempo Magazine. This book told about the struggle of Gunawan Mohammad to bring Tempo Magazine's position into new alternative media under military scrutiny. Still now I am admiring him as individual and a man who fought for journalism in Indonesia.
Janet Steele really dig deep into TEMPO, the biggest news magazine in Indonesia. She succeed to tell the readers about its history, its background, conflicts in an interesting way of writing.