Singhasari hancur dalam semalam. Prabu Kertanegara tewas dan keempat putrinya terpaksa lari menyelamatkan diri dengan dikawal Raden Wijaya dan balasanggrama.
Di belakang mereka, pasukan Kediri beringas menyusuri desa demi desa mengejar para pelarian Singhasari. Siapa pun yang ketahuan membantu para pelarian tak mungkin luput dari tebasan pedang para prajurit yang dirasuki dendam itu. Kekalahan Kediri di masa silam telah membutakan mereka. Keturunan raja Singhasari harus mereka tumpas habis. Demi memusnahkan rasa malu yang mereka tanggung. Demi menyapu bersih sakit hati yang terus menggerogoti.
Meskipun kalah jumlah, Raden Wijaya didukung oleh pasukan elit Balasanggrama. Namun, apakah kesaktian dan kesetiaan Balasanggrama sudah cukup untuk menghentikan prajurit Kediri dan membawa para putri kerajaan mengungsi ke tempat yang aman? Sementara urusan dendam belum juga padam, jauh di utara sana, puluhan ribu prajurit Mongol haus darah sedang bersiap menyebarkan aroma kematian di tanah Jawa.
Langit Kresna Hariadi (lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 24 Februari 1959; umur 54 tahun) adalah seorang penulis roman Indonesia. Mantan penyiar radio ini dikenal masyarakat luas dengan cerita roman Gadjah Mada yang menceritakan kisah dari Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit.
Baru kali ini merasa capek banget demi baca tulisan LKH, yang makin ke sini, entah kenapa makin ribet. Terlalu banyak cerita fantasi dan banyak banget pengulangan penjelasan tentang apapun, yang sebenarnya nggak perlu-perlu amat dan itu bikin bosen. Contoh: penjelasan soal siapa Beliung dari Timur, yang setiap kali sosok ini muncul, pasti bakal dijabarin dia itu siapa, kenapa dia muncul, dst.
Every single time!
Di sisi lain, entah karena terlalu banyak tokoh pemeran pembantu dan cerita pengandaiannya atau kelalaian editor, akhirnya menemukan beberapa kesalahan penulisan nama tokoh.
Contoh: 1. Hal. 38, tiba-tiba muncul nama Wirota Wiragati, padahal sebelumnya nggak ada nama ini, dan tokoh ini nggak ada di rombongan pelarian.
2. Hal. 569, Raden Wijaya memperkenalkan diri ke pemilik kapal waktu berencana ke Sungeneb, ditulis kalau beliau adalah menantu Sang Prabu Jayakatwang, padahal harusnya Kertanegara. Ini beneran kesalahan fatal banget!
Jujur, baca judulnya 'Banjir Bandang dari Utara', sempat berharap kalau seenggaknya memang sudah ada proses penyerbuan dari Utara ke (bekas) Singosari. Kurang lebih sudah ada kegiatan berangkatnya. Sayangnya, yang ditulis cuma persiapan kasarnya aja. Pelatihan prajurit, persiapan kapal, dll. Sama sekali belum ada ketegangan soal penyerangan negara besar. Sedihnya lagi, persiapan 'sederhana' itu cuma ditulis di akhir, sebanyak satu bab! Iya, cuma satu bab aja dan itu bab penutup buku ini!
Akhirnya butuh pikir-pikir ulang buat baca lanjutan sekuelnya, kalau misal nanti bukunya terbit. Selain cukup tebal (dan lumayan berat juga kalau dimasukkan ke tas) dan harga yang lumayan, capek aja kalau inti cerita penting malah tertutup sama imajinasi fantasi dan keterangan berbelit yang ditulis berulang kali.
Buku ini lebih mengisahkan tentang kelanjutan pelarian Raden Wijaya, para sekar kedaton dan juga bala sanggrama dari kejaran pasukan Kediri. Raden Wijaya akhirnya menemukan Hutan Tarik di mana nantinya akan menjadi sebuah negara baru di masa depan dan di sini juga akhirnya tercetus nama negara baru yaitu Majapahit atau Wilwatikta. Raden Wijaya tidak lama menetap di hutan tarik. Pelarian Raden Wijaya akhirnya sampai ke pulau Madura. Di sisi lain juga menceritakan tentang Gayatri, salah satu istri Raden Wijaya yang menjadi tawanan Kediri.
Selain itu, disajikan juga pertualangan membawa keris mpu gandring ke Lulumbang hingga keris tersebut kembali lagi ke tangan Raden Wijaya. Aku juga tak yakin apakah pertualangan membawa keris ini hanya sekedar fiksi atau karangan penulis saja. Keris tersebut sebenarnya juga masih menjadi sebuah misteri. Ada yang mengatakan bahwa keris itu mitos. Ada yang mengatakan bahwa keris tersebut telah musnah karena dibuang ke kawah gunung kelud.
Ada juga kisah yang tak kalah menariknya nih, kisah romantik dimana terjadinya pertemuan Gayatri dan Wirota Wiragati yang akhirnya dari pertemuan itu membuat Gayatri kecewa terhadap kakang Wirota.
Salah satu perhatianku terhadap buku Majapahit: Banjir Bandang dari Utara adalah sering ditemukan kesalahan penulisan nama pada beberapa bab. Selain itu, juga terjadi pengulangan kisah keris empu gandring dan juga kisah sosok pria bercaping yang walaupun sebenarnya sosok pria ini adalah tokoh fiksi.
Perhatianku yang lain terhadap buku ini adalah dari sisi judul buku yang membuat diriku masih tak paham kenapa dinamakan seperti itu oleh penulis. Secara keseluruhan, menggambarkan kisah yang telah diriku sampaikan sebelumnya walaupun cuma bab terakhir saja ada membahas tentang situasi dan kondisi di utara.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tak banyak menceritakan kisah Wirota Wiragati dan Gayatri lagi. Kisah kerajaan Singasari berlanjut. Namun, kisah ini sudah ada di bagian ujung.
Singasari hancur karena serangan Kediri. Kisah balas-berbalas dari dua kerajaan ini seakan tak pernah selesai. Gaya bercerita Bapak Langit Kresna Hariadi juga sangat asyik untuk diikuti.
Pengalaman pribadi: Saya membaca ini saat masih duduk di bangku SMA. Membaca buku ini membuat saya melek dengan sejarah negeri ini, Sejarah kerajaan Singasari.
Pada bagian ketiga dari tetralogi Majapahit kita diperlihatkan kehancuran Singasari. Balas-berbalas serangan antara Singasari dan Kediri selesai di sini, dengan Singasari yang luluh lantah.
Andai saja setiap sejarah ada yang membuat versi novel seperti ini. Tentu akan sangat menarik bagi pembaca. Sebuah alternatif untuk mengenalkan sejarah melalui novel.
Penulis/editornya mungkin harus lebih teliti lagi karena ada beberapa kesalahan yang lumayan mengganggu. Misalnya tiba-tiba ada satu karakter yang muncul di satu tempat, padahal seharusnya dia ada di tempat lain, atau salah menulis nama Kertanegara jadi Jayakatwang.
Meneruskan kisah pelarian Raden Wijaya, para istrinya, dan Balasanggrama ke arah timur, tepatnya menuju Sumenep Madura.
Ceritanya simpel saja. Tak jauh berkisar dari kisah pelarian, pernak-pernik pengejaran oleh pihak Kediri, tingkah polah Balasanggrama, dan (sayangnya) diselingi oleh kisah campur tangan Parameswara si manusia abadi dlm Candi Murca. Nampaknya Pak LKH ndak bisa menahan diri untuk menampilkan tokoh ini (dan dgn perulangan narasi yg hampir sama!).
Judulnya sendiri sama sekali tidak mencerminkan isi bukunya. Banjir Bandang Dari Utara seharusnya menceritakan babagan penyerbuan Mongol pada Kediri / Singasari, namun di buku ini setting waktunya masih agak mundur ke belakang dari periode sejarah itu. Hanya di satu bab terakhir diceritakan mengenai persiapan Mongol melakukan penyerbuan. Masih jauh dari cerita banjir bandang. Ini mengingatkan pada seri Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Di bbrp judul bukunya (yg aku ingat: Maryamah Karpov), judul bukunya sama sekali bukan mewakili isi buku. But well, suka-suka si pengarang kan ya? Hehehe...
Kalau dibandingkan dgn buku yg lain, kok rasanya agak monoton membaca Majapahit - Banjir Bandang ini. Terlalu minim konflik, dan gemes aja mbaca narasi yg sama tentang Parameswara dgn ajian Cleret Taun-nya di banyak tempat. Tapi toh Pak LKH mampu juga menyusun lebih dari 400an halaman dgn cerita yg semi monoton ini.
Still recommended, terutama yg memang berniat mengkhatamkan seri Majapahit dgn pernak-pernik sejarah dan fantasinya.
Saya tetap suka, tapi memang tdk bisa dipungkiri bahwa sejauh 3 seri ini, memang Banjir Bandang dari Utara yang terasa paling melelahkan utk dibaca. Tapi, membaca pembuka, KLH sedang sakit sewaktu menulis buku ini. Jadi, tetap luar biasa untuk beliau masih mampu mengerahkan tenaganya dalam menulis fiksi sejarah yang panjang dan megah begini.