Museum Masa Kecil menyimpan dan menghadirkan "benda-benda" yang pernah tinggal atau sekadar lewat di masa kanak-kanak saya; seperti cerita-cerita sebelum tidur, kelas menggambar, perbincangan tentang jarak ke bulan, kartu pos, kaktus di lantai lima, buku alamat, bermain hujan, ketakutan menjadi tua, juga kematian.
Sebuah museum, buat saya, menyerupai peta bintang : artikel-artikel di dalamnya adalah konstelasi yang dipakai para pejalan jauh untuk mencapai satu tempat di muka bumi, di satu waktu. Tapi jika peta yang baik membawamu ke tujuan, museum yang baik akan membuatmu "tersesat".
Avianti Armand adalah seorang penulis, dosen, dan arsitek. Kumpulan puisinya, Perempuan yang Dihapus Namanya (2011), memenangkan Khatulistiwa Literary Award untuk kategori puisi. Buku tersebut merupakan reinterpretasi atas tokoh-tokoh perempuan dalam kitab suci. Avianti telah menulis dua kumpulan cerpen: Negeri Para Peri (2009) dan Kereta Tidur (2011). Cerpennya, "Pada Suatu hari, Ada Ibu dan Radian," terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2009.
01.8. Ranting-ranting kayu yang kamu gambar di kaca jendela sekarang gemar menggambari kamarku.
buku dari Roos, untuk pertama kali baca karya Avianti Armand. suka dengan larik puisi pendeknya, dan foto hitam putih, juga ilustrasi oleh Kristin Monica ini tampilannya istimewa dan sederhana : dijilid dengan benang secara manual, dan tanpa sampul. berhati-hati saat membukanya. dan saatnya menantikan bagian kedua : Catatan-Catatan Kecil Menjadi Dewasa.
Fisik bukunya sangat unik. Dijilid menggunakan benang. Sisi kanan kertasnya sengaja dibuat terpotong tidak rapi dan bergerigi. Sisi jilidnya dicat semprot warna merah. Ilustrasi puisinya sangat artistik dan favoritku adalah paus bertanduk yang dijadikan pendulum ayunan dengan latar belakang bulan besar.
Banyak puisi di dalamnya mengandung rahasia yang hanya dipahami oleh Avianti. Agak sukar kita sebagai pembaca memecahkan enkripsinya. Tapi yang sangat menyenangkan adalah pemilihan katanya sangat ringan. Jadi kita tetap bisa menikmati puisinya sebagai dansa literatur.
Puisi kontemporer yang ringan untuk dinikmati cuma kalau saya lebih suka puisi yang konservatif dimana larik-lariknya panjang dan lebih mengambil tema sejarah/perjuangan.. >__<
Senin malam, saya tanpa sengaja menyaksikan Avianti Armand berkicau di akun twitternya soal buku ini. Dan tidak disangka-sangka, bukan lagi coming soon atau sedang proses, buku ini sudah edar di gramedia. Kaget super kaget saya. Biasanya kan bakalan ada info-info kalau akan ada buku coming soon di website, kok ini tidak ada dan ujug-ujug sudah edar. Kaget banget dah. Malam itu aku tidak tidur dengan tenang. Pengen segera pagi dan petang untuk membawa buku itu ke kasir.
Dan sesuai kebiasaannya, Avianti Armand menyuguhkan dua tamasya sekaligus. Tamasya mata karena konsep buku ini indah sekali. Dan Tamasya Ruhani dengan larik-larik kata yang indah. Pusinya pendek-pendek, tapi entah mengapa saya suka. Saya menyukai nuansa nostalgia yang dibawa oleh buku puisi ini.
Dan sepanjang pembacaan, saya tersenyum, merenung, dan sesekali terkikik saat membaca. Saya kasih bintang sempurna, karena konsep dan lirik puisinya yang membahana.
*buku ini saya simpan hati-hati sekali. Setelah saya perkuat dengan sampul bening, saya simpang baik-baik agar tidak rusak kemasan yang super indah itu.
Buktikanlah! Mungkin kalian akan mengalami kesan sebagaimana saya.
Bagi Avianti Armand, masa kecil adalah gambaran tentang putri duyung, anak laki-laki yang tinggal dalam kotak, juga tiranosaurus. Ia menceritakannya singkat, cenderung terpatah-patah. Sama seperti aku, kamu, dan kita semua kala mengingat-ingat masa kecil. Hanya detail-detail paling berkesanmu saja. Tidak utuh.
agak ragu mau baca karena pernah tidak terlalu suka dengan salah satu karyanya
tapi setiap buku selalu punya kesempatan dan tidak menyukai sebuah buku bukanlah kesalahan penulis melainkan lebih ke perjodohan antara buku dengan pembaca; kadang tidak selalu cocok dan itu tidak masalah.
maka di sinilah saya sekarang; selesai membaca dan cukup menikmati buku ini
5 bintang buat konsep fisik buku yang dirajut compang-camping, ringkih, mudah lepas lalu hilang, seperti ingatan-ingatan masa kecil tersesat di layar tik tok
maafkan, saya memang bukan audiens buku ini. bahkan, saya nggak punya shelf khusus buku puisi. jadi, kenapa saya milih baca buku ini kalau akhirnya ketahuan bakal nggak bisa menikmati? dunno. mungkin ini kehendak alam semesta.
blah! ((((orang sebelah yang ikut nyolong baca nyeletuk: ini teh puisi one liner?)))
Bingung, tapi aku sependapat dengan salah satu review yang sudah ada: pretentious.
Bait favoritku: "Di dalam teater selalu ada tragedi (hal paling aneh yang pernah diciptakan manusia), meski di sudut selalu ada tanda “KELUAR", entah ke mana.
kalau mau jadi penulis jadilah penulis seperti Armand. kalau sudah cukup tenar, buat buku tidak usah pakai sampul agar biaya cetak murah. satu dari 2 lembar dikosongkan saja (selangi gambar sekali-sekali agar pembaca tak terlalu merasa merugi) agar sedikit puisi bisa tebal jadinya. sebelum melakukan ini, pastikan lagi bahwa anda punya cukup penggemar yang akan tetap beli (kek aku smh) walaupun daripada sebundel kertas yang mengandangi pikiran, buku anda lebih mirip proyeksi estetika perancang grafis yang dibumbui puisi sebagai dekorasi.
jujur aku ga masalah dengan desain, tapi aku ga akan beli kalo ini bukan buku puisi. sayangnya puisinya sendiri underwhelming dibandingkan dengan buku tentang ruang (yang membuat saya percaya pada puisi avianti armand, sigh). semuanya biasa, ga ada yang menyentuh jangankan menohok. kurang oke juga sebagai koleksi. tidak senilai harga yang aku bayar. yasudalah, kapan-kapan baca di toko dulu baru beli.
Helai rambut, langkah-langkah panjang, dan "Aku mencintaimu" yang ringan - - tanpa terluka. (Artikel 38, hlm.135)
Saya jatuh cinta pada buku berkali-kali. Apalagi kalau isinya bisa membuatmu tak bisa berkata-kata. Seperti buku ini. Puisi-puisi Avianti Armand ini mengajakmu ke masa kanakmu sendiri, mengingatkanmu pada suara petir yang membuatmu gentar lalu bersembunyi di balik pintu sambil menutup telinga dan memejamkan mata, mengingatkanmu pada hal-hal yang layak dikenang, pada sosok ibu, pada ayah, pada seekor kelinci yang ingin kau pelihara tapi tak diizinkan, pada awan yang kau kira selembut gulali, pada sebuah ucapan "aku mencintaimu" yang tertahan... pada hal-hal yang hanya bisa diucapkan dalam kepala. Mengingatkan betapa ajaibnya pikiran dan imajinasi manusia. Persis seperti judulnya.
Kemasannya unik, asli soft cover. Foto-foto dalam postingan ini adalah puisi-puisi yang saya suka. Bagaimana Museum Masa Kecil-mu?
Baca ini di ipusnas, dalam bentuk e-book, yang paling terasa adalah bahwa dengan selingan halaman kosong, puisi2nya jadi terasa kurang banyak, padahal bagus2. Kayak baru baca sebentar, eh terus kok tau2 sudah habis? Mungkin ada konsep yang dikejar dengan adanya halaman2 kosong itu tiap 1 puisi di buku fisiknya, mungkin biar bisa digambar2 atau ditempeli memori2 personal kita sendiri. Saya bisa ngelamunin kalimat2 di beberapa puisi, tapi secara keseluruhan, agak gantung sama rasa singkatnya 😭
Puisi-puisi di buku ini ringkas, singkat, tapi sangat mengena. Penulisnya piawai banget mengabungkan banyak hal berbeda yang ternyata menyusun ulang banyak memori kita sekaligus memunculkan perasaan semacam terjleb saat membacanya. Seperti kisah ttg jatuh cinta yg semakin menua semakin berat diucapkan, serra tentang chatting telepon genggam yang dulu mengobrol dan kini hanya mengetik. Orang tua kita lebih senang bisa mendengarkan suara kita, jadi plis ditelpon jangan di whastapp melulu. Hiks.
Aku kelinci biru, Bu Guru. Sangkar burung itu bukan rumahku. (Pg.31) Batja di ipusnas. Kusuka. Meskipun kumerasa sedih karena ada lembaran-lembaran yang hanya berisi 1-2 kalimat. Mungkin sengaja disediakan ruang untuk pembaca jika ingin menggambar. Sukses untuk kaka penulisnya.
Buku puisi bukanlah sebuah buku yang bisa dipahami secara sederhana. Ketika membacanya, saya (mungkin juga dipengaruhi profesi psikolog) justru bertanya-tanya, mengapa ya dia menulis begini? Pengalaman apa ya yang mendorong pelajaran dan kenangan begitu?
Hal yang unik dari buku ini adalah gaya cetaknya yang menunjukkan juga bawa buku ini adalah karya sastra + seni. Tidak hanya terkait gaya cetak, tapi juga visualisasi dengan gambar dan pilihan font. Sebuah buku yang proses pengerjaannya hingga sampai di tangan saya diselesaikan dan dipikirkan sebaik-baiknya.
Jika saya belum mengenal sosok dan karya avianti armand, mungkin saya akan membaca buku puisi ini sambil lalu. Ditengah maraknya gaya penulisan edgy dengan isi buku yang sangat minim, 1 lembar tulisan dengan hanya satu dua paragraf bahkan satu dua kalimat saja, sulit rasanya merasa dan mengingat buku-buku semacam itu. Namun avianti justru menggunakan konsep itu dalam museum masa kecil. Memori memang rapuh dan mudah dilupa, hanya serpihan-serpihan yang dapat kita ingat dengan sedikit rasa yang tersisa. Ditambah dengan penyajian cover dan buku yang rapuh dan mentah, bukan hanya karya saja namun keseluruhan fisik karya ini sangat representatif dan konseptual sekali.
Ini buku pertama dari Avianti Armand yang saya baca. Pas awal baca dan melihat gambar-gambar dalam buku ini, kok ya rada serem gitu ditambah lagi gambarnya hanya hitam putih, bagus tapi berasa serem aja gitu.
Puisi-puisi pendek di dalam buku ini juga terasa dalam maknanya. Yang saya suka berjudul Keranjang. Eh tapi yang ini juga berkesan sih : Tak banyak yang diambil usia dari kita
Helai rambut, langkah-langkah panjang, dan "Aku Mencintaimu" yang ringan -- tanpa terluka
Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' menerbitkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin.
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini.
Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku.
Rasanya seperti melihat kembali apa-apa yang dulu hanya bisa kulihat dalam imajinasi sewaktu masih jadi anak kecil. Selain puisi, juga ada foto-foto atau ilustrasi yang melengkapi puisinya. Jenis kertasnya juga agak berbeda dengan jenis kertas buku pada umumnya. Seperti yang aku bilang di atas, GPU cukup 'berani' mencoba jenis buku yang baru kayak gini, dan mematok harga yang memang lumayan juga (biasanya 80.000 kan udah dapat buku novel setidaknya 200an halaman atau kalau pun puisi/prosa, biasanya sudah hardcover kayak bukunya Lala Bohang. Tapi buku ini malah nggak punya cover tebal sama sekali. Covernya hanya kertas tipis yang tiada bedanya sama isi buku. Ajaib banget, kan).
Overall, Museum Masa Kecil adalah segerombolan imajinasi kanak-kanak yang seolah belum selesai dan muncul kembali ketika dewasa. Kamu diundang untuk datang berkunjung dan melihat semua kenangannya. Kalau penasaran silakan baca sendiri.
Sebuah bouquette di tangannya. Tiara di kepalanya.
"Alice!"
Dengan gaun putih ia berjalan menuju altar. Seperti mimpi semua anak perempuan, ia akan menjadi pengantin.
*
Ini buku apa, sih? Meskipun membacanya bisa selesai dalam satu kali duduk, tapi kesan yang didapatkan dari ceritanya begitu mendalam. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengabadikan masa kecil mereka. Masa di mana tanggung jawab belum mengambil alih hidup mereka, di mana kebahagiaan bisa didapat hanya sekadar mendengarkan cerita dongeng. Putri duyung, tiranosaurus, Hansel dan Gretel, Alice in Wonderland, hujan meteor, dan sekumpulan kisah menyenangkan lainnya.
Buku ini adalah cara penulis untuk mengenang masa kecil, membawa pembaca turut larut dalam kenangan itu. Menemaniku menertawakan betapa naifnya impian kanak-kanak dulu, jika dikaitkan dengan kehidupan orang dewasa yang katakanlah, "menjadi dewasa" adalah momen yang selalu menjadi fase "sedang dalam persiapan" yang tak ada juntrungannya. Semua orang pernah mengalami masa bahagia saat mereka kecil. Namun, ketika dewasa, kebahagiaan itu harus terus diperjuangkan. Mungkin, salah satunya adalah dengan menertawakan impian impulsif saat kecil dulu. Atau, dengan mengabadikan momen tersebut, dengan cara mereka masing-masing.
Buku yang tertimbun cukup lama di Gramedia Digital. Awalnya, aku ingin memiliki buku fisiknya. Pas melihat buku fisiknya di Gramed yang di kemas dengan kemasan yang sangat mengecewakan, aku mengurungkan niat untuk membeli buku fisiknya. Buku fisiknya mudah lepas dari covernya yang hanya di jahit per bagian buku. Konsep bukunya sih ok tapi kalau d baca seorang diri mgkn ckp memuaskan. Karena langsung di pajang di rak. Lahhh gimana kalau ada teman yang mau pinjam dan mau baca?! Dan pas bukunya dikembalikan yang ada tuh bukunya jadi gembel udah bukan berupa buku lagi.
Lebih baik baca di Ipusnas (kalau sudah tersedia) atau baca di Gramedia Digital.
Buku ini bisa di baca dalam satu dudukan. Ringan banget. Ada beberapa yang tidak aku mengerti (beberapa bagian sudah aku tulis di proses bacanya di Goodreads). Silakan di lihat-lihat ya..
Cerdas dalam membeli buku fisik akan menghemat anggaran pembelian buku. Gunanya buku digital itu untuk menyortir koleksian buku fisik milik kita sendiri.
Aku kecewa sama buku ini gara-gara tampilan buku fisiknya.
Pendapat egois yang bikin review: Masih lebih bagus Buku Tentang Ruang.
3.8 - Penilaian saya akan sedikit subyektif mengingat ini adalah karya pertama dari sekian karya Avianti Armand yang saya baca. Setelah ini mungkin saya akan membaca "Perempuan Yang Dihapus Namanya" untuk lebih mendapatkan ide gaya menulis puisinya. Dengan background arsitek, saya mendapati banyak bangun ruang yang disajikan dalam me-recall kembali ingatan masa kecil Avianti Armand yang saya rasa dimulai dari usia 6 tahun. Dengan khas puisi berkalimat pendek, beberapa dari judul yang ada membuat saya harus membaca lebih dari dua kali untuk mampu berimajinasi akan pesannya. Meski secara keseluruhan puisi ini menyenangkan untuk dijadikan referensi untuk menulis puisi pendek. Beberapa judul yang menjadi favorit saya pada "Museum Masa Kecil" ini adalah sebagai berikut: Artikel 07 - Lubang di Sol Sepatu Artikel 08 - Gravitasi Artikel 18 - Terbang Artikel 19 - Telepon Artikel 24 - Keranjang Oh iya, desain bukunya cukup menarik serta ilustrasi Artikel 18 Terbang jadi favoritku pada buku ini, salut untuk Kristin Monica. Menunggu kolaborasi yang apik untuk "Catatan-Catatan Kecil Menjadi Dewasa".
kepolosan—hal yang paling menonjol dari buku ini. Avianti menunjukkan sikap anak-anak & orang dewasa sekaligus. pertanyaan & pernyataan yang menggambarkan itu. menurut saya, puisi-puisi pendeknya kuat, gagasannya unik & menarik. keterpukauan saya adalah ide dalam puisi-puisi ini. kok bisa? pertanyaan saya, berkali-kali. & sepertinya kalimat konotatif sangat bertebaran dalam puisi-puisi ini. Avianti menyampaikan satu hal dengan hal lain: ia tak seperti "anak-anak" kebanyakan, ada nyawa lain di buku ini. objek-objek yang digunakan membawa kita ke masa kecil—hal-hal lampau yang kadang telah kita lupakan—di ruang lain: Avianti seperti berbicara (baca: pembaca) dengan subjek -mu & semacam "tutorial" tentang sesuatu. kita seperti diajari cara ini-itu yang, menurut saya sangat di luar nalar—mungkin inilah sosok anak kecil yang lain dalam puisi-puisinya—buku yang membuat saya merindukan murid-murid sewaktu mengajar kemarin: imaji yang liar & kepolosan jiwa; bersamaan.
sesuai judulnya, Museum Masa Kecil nyeritain soal ingatan masa kecil yang absurd, banyak imajinasi, berantakan, dan yang jelas: sederhana.
rasanya kayak kamu buka album lama terus nemuin foto-foto yang bahkan kamu lupa kamu pernah ada disana. atau kayak kamu pindah ke rumah baru dan perlu ngumpulin barang dari rumah lama yang kalau disimpen buat apa, tapi dibuang sayang.
aku suka puisinya bicara soal putri duyung, monster di lemari, tiranosaurus, luar angkasa, mandi hujan (banyak hal yg pasti ada waktu kita kecil); lain halaman bicara soal cinta atau hidup atau orangtua dari sudut pandang anak kecil. bikin kita mikir wah ternyata dulu hidup gak serumit sekarang.
instead of sedih krn gak bisa balik ke momen2 sederhana itu, tapi kita jadi lebih bersyukur pernah punya momen-momen kayak gitu.
Buku puisi Avianti Armand banyak bercerita tentang perjalanan, pulang-pergi, Ayah-Ibu, kenangan-kenangan di masa kecil, kematian, sampai konsep ruang dan kebendaan. Ia juga mendedikasikan puisinya untuk Frida Kahlo, Pita, menangkap dan mengelaborasikan karya foto-foto Sonya Hurtado, video Ragnar Kjartansson, Alice in Wonderland-nya Lewis Carol, artikel Grapefruit – A Book of Instructions and Drawings-nya Yoko Ono, The Adress Book-nya Shopie Calle, sampai saduran puisinya Sapardi Djoko Damono.
Mungkin saya agak sok tahu, tapi saya pikir, ada hal yang khas dari puisi Avianti Armand, terutama tentang konsep ruang dan kebendaan.
Museum Masa Kecil adalah buku kedua karya Avianti Armand yang aku baca setelah Buku Tentang Ruang. Buku ini berisi puisi-puisi yang singkat dan sederhana, tentang masa kecil penulis. Lewat puisi-puisi ini, penulis mengenang masa kecilnya dan barangkali pembaca juga akan merasakan nostalgia jika kebetulan memiliki kenangan yang mirip.
Diajak flashback ke masa kecil, membuatku menertawakan betapa naifnya masa kecilku dulu. Masa kecil yang penuh dengan imajinasi liar, kepolosan, dan haha hihi lainnya. Hmmm… jadi rindu masa kecil