Aku lahir dari seorang ibu berkebangsaan Prancis dan ayah dari Indonesia. Meskipun lebih banyak menghabiskan waktu di Indonesia, aku besar dengan asupan selaras dari dua budaya yang berbeda. Buku ini merupakan intisari dari Kamus Rasa versiku, Sarah Diorita Candra.
Melalui Lokaloka (Bistro) Kitchen Lab, aku menemukan lagi dan lagi kenikmatan dan manfaat dari masakan rumahan yang sehat dan bernutrisi. Aku mengkaji bahan-bahan lokal, ragam resep, dan memasukkannya dengan kamus rasaku.
Melalui masakan, aku menciptakan kenangan. Seperti sebuah lagu, kalau rasa sudah “ngena” di hati maka akan membawa kita menelusuri memori.
Melalui keluarga, aku menutrisi jiwa. Maka aku tak hanya banyak bercerita tentang masakan dari a sampai z, tetapi aku juga akan berbagi banyak hal tentang peranku sebagai seorang anak, ibu, istri, dan “Cheffe”, beserta sudut pandangku terhadap tantangan sehari-hari di era global dan digital ini.
Ketemu buku mba Sarah ini karena mampir ke IG salah satu personil grup band favorit jaman SMP. Langsung tertarik dengan Kamus Rasa yang waktu itu baru launching karena baca tulisan-tulisan mba Sarah di IGnya tentang clean eating.
Dalam buku ini, ternyata ga cuma tentang makanan sehat, tapi juga seputar keseharian, pemikiran mba sarah tentang sampah, pendidikan, juga budaya perancis tanah kelahiran beliau. Topik-topik ini disusun alphabetis A-Z selayaknya kamus.
Ada bab yang bercerita tentang Flan, semacam puding karamel resep dari sang nenek. Di bab ini mba Sarah cerita tentang nenek dan kehangatan keluarganya. Saya bisa merasakan kerinduan mba Sarah akan neneknya. Sampai ikut terisak-isak membaca bab ini.
Yang kusuka pada mba sarah ini adalah beliau berupaya menjunjung nilai-nilai jawa tempat ia tinggal saat ini bersama keluarga kecilnya, dengan tetap membawa "rasa" perancis. Seperti membuat menu-menu masakan a la perancis, dengan bahan dan citarasa lokal. Saya suka gayanya yang peduli dengan sustainability lingkungan, tapi juga ga ekstrim hingga membuat orang lain merasa asing. Tengah-tengah aja :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
[v] Konten inspiratif ala Living Loving [v] Ilustrasi ciamik dan full color (salut buat Mbak Chacha Faiza! Ini yang bikin webtoon Happy Tummy bukan sik? XD -malah OOT-) [v] Resep-resep yang bisa diterapkan di rumah (walau eksekusinya mbuh kapan-kapan)
Dari semua bab, salah satu konten favoritku adalah Akar.
"Akar juga merupakan "pantry" atau stok makanan bagi tumbuhan. Akar bisa diibaratkan seperti inti diri kita. In order to let our tree grow healthy and strong, we have to feed it with good things, stock up some good stuff in the pantry. Memiliki akar yang kuat juga sangat membantu untuk menemukan diri kita yang sebenarnya, membantu kita dalam membuat keputusan dan memiliki pribadi yang kuat. Akar penting bagi semua orang. Saat kita merasa kehilangan arah, akarlah yang akan membantu kita menemukan kembali jalan yang terbaik."
Seperti judulnya, buku ini betul-betul kaya akan rasa. Berbagai cerita mulai dari soal masak, kesehatan, gaya hidup dan parenting disajikan oleh Sarah dengan apik dan menggugah, baik selera, perasaan maupun pemikiran kita.
Karena setiap babnya disusun secara alfabetis, mungkin beberapa pembaca akan merasa buku ini kurang sistematis, namun saya menikmatinya. Bagi saya ini seperti membaca blog seseorang dan mengakrabi pengalaman hidup serta belajar banyak darinya.
Oh iya, tidak lupa, di sini ada beberapa resep seperti crepe, tarte tartin sampai quiche. Nyam nyam :9 Pokoknya buku ini membuat saya nggak sabar ingin mampir ke Jogja lagi lalu mencicipi masakan-masakan Mbak Sarah :')
Buku yang kalau diibaratkan makanan, dia ringan, namun mengenyangkan. Ditelisik dari judulnya, sangat representatif, "Kamus Rasa". Sepanjang membaca kalimat demi kalimat, saya merasakan ketulusan dan kejujuran seorang Sarah Diorita yang ingin membagikan perasaan-perasaan unik yang bergejolak selama ia menjalani hari-hari.
Memasak, menyiapkan hidangan untuk keluarga, berbisnis catering, mengikuti komunitas, yoga, belajar, juga meluangkan waktu sepenuhnya untuk keluarga. Hal-hal yang nampak simpel, tapi tidak semudah kelihatannya untuk dijalani. Keuletan dan ketulusan Mbak Sarah tidak much or less dipengaruhi oleh didikan ibunya. Di mana eksternal dan internal faktor dalam membentuk karakter seorang anak sangat beliau pilah dengan seksama.
Saya senang dengan pembawaan alur ceritanya, benar-benar membuka mata juga cakrawala, bahwa hal yang sederhana tak jarang justru sarat akan makna. Semua kembali lagi dari bagaimana kita memaknai setiapnya. Sharing is caring. Melalui buku ini, Sarah Diorita berhasil menyampaikannya dengan menarik.
Menanti buku (dan resep-resep masakan) Mbak Sarah selanjutnya... Tabik!