KISAH PENGUSAHA ROTI DI TENGAH KEMELUT PERJUANGAN DAN POLITIK INDONESIA DARI MASA KE MASA. JUGA PERASAAN CINTA YANG TUMBUH SEJAK MAHASISWA , YANG BERUJUNG PADA MUKJIZAT, MENJADI TUA BERSAMA, BERDUA: MEREKA BERDUA.
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2019
3,2 dari 5 bintang!
Sebenarnya aku tertarik sama biografinya bagaimana Pak Sanjoto ini sukses membuat toko roti Orion di Solo yang berdiri sejak tahun 1932. Melihat buku ini dijual dekat kasir Toko Roti Orion langsung saja aku comot untuk dibayar dikasir karena entah kenapa baik di Gramedia Digital atau toko buku terdekat buku ini susah untuk didapatkan
Aku suka banget ketika Pak Sanjoto menceritakan bagaimana awal-awal bapaknya Njoo Hong yauw merintis usaha roti Orion ini dan betapa saya takjub dengan kegigihan dan keuletan beliau. Sadis banget bisa tahu itu temperaturnya berapa hanya dengan memasukkan jarinya ke roti udah pas atau bantet? Selain itu aku juga baru tahu kalau Solo memiliki Lapis Surabaya yang bernama Mandarijn
Banyak banget sih yang bisa kita tiru dari Pak Sanjoto ini mulai dari gak suka segan-segan membantu orang kesusahan udah begitu mudah bergaul dengan semua orang. Beliau dulu aktif berorganisasi dan berteman dengan semua kalangan (Mahasiswa GMKI, GMNI, PMKRI, HMI dan CGMI) dan ini menarik buatku hmm..
Selain itu kue lapis surabaya Mandarijn yang aku beli ternyata memiliki arti "Priyayi Cino" gimana coba aku tahunya kalau gak dari membaca buku ini? Kekurangan buku ini adalah disini POVnya suka gonta ganti lo tiap chapternya.. kadang aku menebak ini Pas Pak Sanjoto ya atau ini bagian istrinya? dan buat yang pecinta lukisan kayaknya akan suka banget sama buku ini karena beliau memiliki koleksi lukisan yang mengagumkan mulai karya maestro Affandi dan bahkan Renoir (ini aku tahu renoir juga gegara V BTS yang suka menyamar menggunakan nama itu ketika Bon Voyage)
Biografi yang terbilang singkat, mengulas perjalanan Purwohadi Sanjoto — yang saya sendiri baru mengenalnya di buku mungil ini.
Pembahasan kisah hidup tokoh dikemas ‘posmo’, renyah dan gurih dibaca. Hanya saja pada bagian-bagian yang justru penting semisal ; sulitnya mencari bahan baku roti sehingga menggunakan tepung garut dan lemak sapi tidak diceritakan detailnya, sebenarnya ini sangat berpotensi sebagai bahan cerita yang sangat kaya.
Dari roti sampai nasionalisme, buku ini punya tendensi yang berat-berat ringan. Menarik.