Dalam sajak-sajak Oka Rusmini, warna lokal mencapai perluasan karena dibangun dari akar-akar tradisi yang mencerminkan kedudukan manusia di tengah alam dan budaya tempatan. Dunia esoterik tidak hadir dalam keterasingan tetapi hadir secara meriah dan tajam karena ia tidak hanya menyajikan segi-segi eksotisme, tetapi justru mengasah kritik sosial yang mencerminkan kepedulian terhadap dunia nyata. Korrie Layun Rampan, Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, 2000.
Menulis bagi saya adalah semacam upacara penunda kematian. Dengan sajak, saya bisa berdialog dengan hidup. Berkompromi dan berpikir tentangnya: menyadari bahwa saya benar-benar manusia. Oka Rusmini, Prolog, 2006
Oka Rusmini was born in Jakarta, July 11, 1967. She lives in Denpasar, Bali. She writes poetry, novel, and short story. Her published works are Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014). Her novel Tarian Bumi has been translated into foreign languages: Erdentanz (Deutsch edition, 2007), Jordens Dans (Svenska edition, 2009), Earth Dance (English edition, 2011), and La danza della terra (Italian edition, 2015). In the year 2002, she received the Best Poetry Award from Poetry Journal. In 2003, The Language Centre, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, gave her the Literary Appreciation Award of Literary Works for her novel Tarian Bumi. In 2012, she received the Literary Appreciation Award from the Agency of Language Development and Cultivation, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, and the South East Asian Write Award, Bangkok, Thailand, for her novel Tempurung. Her book of poems Saiban (2014) won the national literary award, “Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014”. She was invited to national and international events, such as Literary Festival Winternachten in Den Haag, Amsterdam, Netherland (2003), Singapore Writer Festival (2011), and OZ Festival, Adelaide, Australia (2013). She was also invited as guest writer in Hamburg University Germany (2003).
Oka Rusmini can be contacted at Twitter: @okarus Email : tarianbumi@yahoo.com. Facebook Page: oka rusmini
Buku ini ajaib menurut saya. Menyimpan banyak cerita-cerita tersirat yang dikemas dalam balutan diksi yang apik. Sangat kental dengan budaya dan kehidupan Bali.
Ada lebih dari seratus puisi dalam buku ini. Terbagi menjadi tiga sub: potret, upacara, dan totem. Ketiganya, menurutku, sama-sama memperlihatkan kelindan antara perempuan dan segala kompleksitasnya dengan laki-laki, keluarga, upacara, adat, dan bumi. Ada banyak puisi yang terkesan repetitif, bahkan diksi yang dipakai pun itu-itu saja.
Namun, aku tetap menandai beberapa puisi favorit. Pada bait terakhir puisi "Perempuan" (hal. 116), aku seperti menemukan esensi dari buku kumpulan puisi ini:
perempuan memang tak memiliki banyak napas karena lelaki sering kali mencurinya dan anak-anak meminjam dengan senyumnya
Bagi saya, esensi dari sebuah karya puisi itu pesannya bisa sampai kepada para pembaca meski menggunakan majas sekalipun. Sayangnya dalam perihal ini, buku Patiwangi hampir ada pesan yang tersampaikan selama membacanya.
Sekilas saya mencoba diam dan memaknai puisinya, akan tetapi puisi ini nampak diciptakan untuk kalangan tertentu saja sehingga saya hampir tak bisa mengerti pesan dan narasi yang dibawakan dalam tiap pusinya. Sayang sekali, padahal padanan kata dalam karyanya sangat bagus tapi kalau untuk saya pribadi, kurang bisa dipahami dan dinikmati.
Entah mengapa buku ini malah terasa panjang dan membosankan. Ada seratus lebih puisi dalam buku ini yang dibagi jadi 3 sub: Potret, Upacara, dan Totem. Dari semua puisi, yang paling aku suka yakni Episode Ciliwung dan Tanjung Barat.
Buku ini sendiri berisi puisi-puisi yang menggambarkan kompleksitas perempuan terhadap laki-laki, terhadap masyarakat, budaya, dan juga kepada perempuan itu sendiri. Bagiku yang membuat buku ini terasa membosankan adalah banyak puisi yang rasanya repetitif dan menggunakan gaya bahasa yang itu-itu saja, sehingga jadi terasa panjang sekali dan melelahkan untuk dibaca. Tapi, aku tetap suka. Gaya Oka yang mengkritik lingkungan melalui sudut pandang perempuan punya magis tersendiri sehingga akhirnya dalam satu hari buku ini bisa tetap habis dibaca sekali duduk.