What do you think?
Rate this book


414 pages, Paperback
First published July 9, 2018
Manusia memang makhluk bumi paling penyangkal di muka bumi. Bersikap tak acuh, tapi dalam hati sebenarnya rindu. (hal. 51)
Aku bisa dianggap pemuja setan atau sedang kerasukan kalau nekat mengakui diriku dewi. Gembalaku akan mendoakanku secara intens sambil membacakan ayat-ayat Kitab Suci untuk mengusir setan dalam diriku.
"Nyawa siapa yang diincar? Apa di antara kalian ada yang membuat salah satu dari mereka patah hati? Aku sih belum pernah pacaran."
Ding dong. Kau benar sekali, Tuan. Mau kami nyanyikan lagu untuk merayakan tebakanmu yang benar? Kau bisa pilih lagu Top 40 seperti yang biasa diputar di Indomaret atau lagu-lagu K-Pop. Kami punya banyak koleksi. Mic Drop versi remix juga sudah ada.
"Maksudmu, Lokon tidak menyuruhku datang ke sini untuk menangkapmu melainkan hanya untuk mengambilkan drone ini untuknya?"
Dari belakangnya, bayangan berdiri setinggi manusia dewasa. Bayangan itu melahap si pemuda. Tubuhnya seketika berubah menjadi semerah lava gunung berapi; menggelegak dan berkobar seganas api yang siap membakar siapa saja yang berada di dekatnya.
"Akhirnya aku bisa bebas."
Suara yang keluar dari mulut manusia api terdengar sekering udara musim kemarau, membawa gerah. Aku terpaku saat dua lubang hitam kelam yang menjadi mata si manusia api menatapku nyalang.
"...Kau pikir aku bisa memanggil waranei hitam dan menundukkan para tonaas tanpa tongkat ini? Oh, cencyu tidak, cyiin..."
"Papa tidak akan membiarkan dia mengganggumu lagi. Maafkan Papa, Seira. Hanya ini satu-satunya cara. Dengan demikian dia akan berhenti menyakiti kita berdua."