Impian Keisha akan rumah tangga yang bahagia, runtuh seketika saat Angga membatalkan pernikahan mereka di detik-detik terakhir. Rasa tidak percaya, malu, marah, dan bingung, membuat Keisha kolaps dan mengalami depresi. Menjalani fase-fase menyakitkan dan harus pergi konseling untuk memulihkan kestabilan psikis, Keisha mendapat tawaran ekstrem untuk beranjak dari masa lalu: menjadi seorang perencana pernikahan di The White.
Saat Keisha mulai membaik dan menjalani hari-hari tanpa perlu menengok ke belakang lagi, tiba-tiba mantan calon suaminya—Angga—muncul lagi dalam hidupnya sebagai klien. Dan calon istri lelaki itu menginginkan Keisha menjadi perencana pernikahan mereka.
Sanggupkah Keisha bekerja secara profesional dan menganggap kejadian di masa lalu tidak berarti? Akankah benih-benih cinta muncul kembali di hati Keisha? Dan, bisakah dia menahan diri untuk tidak mencari tahu alasan Angga memutuskan pernikahan mereka dahulu?
Lagi capek baca buku yang berat2 akhirnya pilihan jatuh ke buku ini wkwkk dan bisa diitung dengan jari karena saya termasuk yang gak begitu suka sama cerita Novel Romantis.. ya udah pas baca dan banyak dramanya dikasi bintang cukup segitu..
Alkisah ceritanya Keisha dan Angga mau menikah gitu lalu pas Hari H ternyata Angga ga nongol. Shock dong Keisha.. hatinya hancur berkeping-keping calon suaminya gagal menikahinya.. 2 tahun setelah berupaya melawan patah hatinya ternyata ia bertemu lagi dengan Angga yang sekarang mau menikah dengan wanita lain bernama Rachel yang makin menyakitkan hatinya mereka menyewa jasa Keisha sebagai wedding Planner mereka. Apakah yang akan terjadi selanjutnya??
Hehehe tanpa saya ceritakan akan gimana endingnya pasti kalian udah tahu akan kemana alurnya.. Selain itu saya merasa si Rachel sebagai antagonis kayak kurang maksimal jahatnya dan si Keisha terdapat sisi-sisi kejiwaan yang terganggu kenapa juga gak dibahas lebih dalam itu akan lebih membuat menarik cerita di buku ini..
Saya baca buku ini melalui tiga platform--Google Books, cabaca, dan waktuseru--semuanya demi bisa menyelesaikan sampai habis!
Waktu mulai baca, ceritanya tampak ringan dan sangat ketebak, tapi eh tapi ternyata... ceritanya lumayan kompleks, isu yang diangkat cukup gelap, dan twist-nya sangat tak terduga. Saya benar-benar nggak nyangka bahwa ternyata kisahnya seperti itu, dan langsung angkat topi buat Mbak Eka karena alternatif twist yang dipilihnya itu nggak terduga banget. Jadi plotnya berlapis: apa yang sudah diungkap di tengah ternyata bukan jawaban sebenarnya karena masih ada lapisan lain di belakangnya.
Terus saya juga salah kira soal Bayu. Dan terutama, saya salah kira soal Rachel. Pokoknya perkiraan saya nggak ada yang bener dah. Ini kayaknya novel "ringan" pertama yang plot twist-nya berhasil nipu saya habis-habisan dari semua aspek--benar-benar jungkir balik rasanya pas semua sudah terungkap.
Tapi saya justru suka dan kagum banget dengan cara Mbak Eka memainkan plot dan karakter-karakter tersebut. Apa yang tampak, pencitraan karakter di halaman awal, ternyata nggak kayak gitu. Protagonis, antagonis, semuanya abu-abu. Mbak Eka memberi proporsi yang adil untuk hal itu sehingga setelah menamatkan buku ini, kita nggak bisa nge-judge karakternya karena mereka semua punya sisi manusiawi. Dan saya melongo takjub karena permainan plot dan karakter seperti ini--yang biasanya cuma di novel misteri/detektif/thriller--bisa diramu Mbak Eka sedemikian rupa untuk novel romansa.
Bisa dibilang, ini salah satu novel romansa lokal terunik yang pernah saya baca, dari segi ramuan plot berlapis dan permainan karakternya. Buat yang nyari novel romansa yang "nggak biasa", bisa coba cicipi novel ini.
Tema cerita ini menarik sekali. Saya pun sudah bisa menebak bagaimana endingnya sejak membaca cerita inindi awal. (dan tebakan saya benar yuhuu).
Terkadang saat membaca novel ini saya ikut terhanyut oleh kesedihan si tokoh utama perempuan (samapai meneteskan air mata).
Pembaca dibuat yakin oleh cerita dari sudut utama si pemeran utama perempuan. Dan tiba-tiba menjelang akhir ada fakta lain terkuak ketika sudut utama dialihkan ke pemeran utama laki-laki. (Kok bisa sih?)
Sepanjang membaca novel ini ga tau kenapa perasaan kok bawaannya kesel, geram, pokoknya hati jd ikutan mendung kaya si keisha. Bener bener dark romance bgt. Walo alur ketebak apalagi endingnya, tp antagonisnya rachel rasanya kurang nampol aja. Dan untuk Angga! Pengen lemparin telor busuk tau ga saking keselnya wkwkwk. Untuk plot twistnya good jg, ga sangka ternyata begini begitu. Ini salah satu novel yg bacanya membuat perasaan terombang ambing (for me)
Endingnya benar sesuai dugaanku, alurnya manis dan bikin kebat-kebit, twist di tengah pun oke.Tapi twist soal kondisi psikologi Keisha bisa digali lebih dalam lagi dan soal Rachel itu kayanya kurang kena alasannya dia nge-prank pernikahan yang nggak pernah direncanakan ada. Overall, packaging cerita cukup menarik,bisa jadi alternatif untuk membaca di waktu senggang tanpa perlu banyak berpikir.
Semoga saja 1 kesempatan yg dimaksud Keisha dan Angga Duduk bareng saling menyadari perasaan masing-masing, satunya kasihan dam satunya obsesi, bukan karena cinta.
Rachel nggak sejahat itu bahkan dia jauh lebih baik dari Keisha, untuk menjadi pendamping Angga.
Berharap Rachel Angga akhirnya menikah bahagia sampai tua, biarlah Keisha menemukan kebahagiaan yang lain.
luamayan buat temen melek baca novel ini, ga terlalu berat ceritanya. tapi menurut aku, yang dibagian gangguan psikologisnya Keisha itu bisa lebih digali lagi biar ceritanya makin menarik..
Sebenarnya konsep ceritanya itu menarik, tentang dua calon mempelai yang gagal nikah akibat cowonya menghilang. BATAL SUDAH. Padahal semuanya sudah dipersiapkan secara matang. Meski saya cuma bisa geleng-geleng, kok bisa ya, ga stress mengenai keuangan. Hanya stress mengenai hati. Saya anggap kalau keluarga mempelai cewenya ini kaya raya. Tapi, di bagian lain justru keluarga sahabatnya yang lebih Kaya Raya. Jadi, saya positive thinking aja kalo keluarga sahabatnya yang biayain jadi enggak mikir masalah keuangan.
Saya akan bahas bagian yang saya suka dulu. Yaitu tentang pekerjaannya si Keisha, tokoh dalam novel ini. Beruntung deskripsi pekerjaan dan kehidupannya saat bekerja diceritakan secara lebih, meski tidak mendalam, di novel ini. Kalau enggak atau sekadar pasang tulisan kerjaannya anu macem biodata ala anak sekolah. Kayanya gak bakalan bisa kasih lebih banyak bintang. Jadi, bagian ini termasuk yang membuat seru ceritanya.
Kemudian gaya penulisannya juga enak diikuti. Alurnya mengalir dan terasa ringan. Karena itu enggak sulit menyelesaikan buku ini dalam beberapa jam. Sekali duduk lah istilahnya.
Ada lagi sebenarnya yang mengganjal, yaitu penyematan tentang kondisi psikologis si tokoh. Ini kaya semacam tempelan aja. Gak begitu dioptimasi dengan baik. Sayang banget. Cuma ditampilin sedikit dan dari pernyataan dialog tokoh lain seolah memberi alasan biar pembaca memberikan rasa kasihan. Padahal dengan kondisi seperti itu harusnya bisa digali lagi. Yang dikurangin itu cerita pengulangan yang sudah terjadi di bagian sebelumnya.
Tapi, ada hal lain juga kok yang bikin betah baca. Desainnya. Manis. Berterima kasihlah pada Penerbit Koru, karena punya desain yang unik dan ciamik. Jadi gak ada komplenan lain selain harapan semoga penulisnya bisa menulis cerita lain yang lebih bagus lagi.