Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & Pencapaian

Rate this book
Edisi Bahasa Indonesia dari "The Indonesian Women: Struggles And Achievements"

Siapa pun yang menulis tentang sejarah modern pergerakan perempuan Indonesia seharusnya berterima kasih kepada karya pionir Cora Vreede-de Stuers ini.
Susan Blackburn
dalam Women and the State in Modern Indonesia

Cora Vreede-de Stuers telah mempelajari pergerakan perempuan Indonesia dengan cara yang berbeda, ia merefleksikan hubungannya dengan berbagai pergerakan perempuan, ideologi politik sezaman, dan masalah-masalah penting untuk memahami Indonesia.
Elizabeth Martyn
dalam The Women's Movement in Postcolonial Indonesia

322 pages, Paperback

First published January 1, 1960

28 people are currently reading
300 people want to read

About the author

Cora Vreede-de Stuers

10 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
26 (30%)
4 stars
25 (29%)
3 stars
23 (26%)
2 stars
8 (9%)
1 star
4 (4%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Jimmy.
155 reviews
December 22, 2008
Selalu ada seorang perempuan dibalik kesuksesan seorang lelaki. Begitulah kira-kira kata pepatah. Belakangan ini, Michele Obama menjadi perempuan yang paling banyak disorot pasca kemenangan Barrack Obama menjadi presiden kulit hitam pertama di negeri adi kuasa, Amerika Serikat. Dia dianggap sebagai perempuan cerdas dan tangguh dibalik kesuksesan suaminya menjadi presiden terpilih. Ini hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak perempuan yang memberikan kontribusi besar untuk kesuksesan suami masing-masing. Namun, hal ini tentu harus didukung oleh peningkatan hak-hak perempuan, yang sudah banyak terjadi, terutama di negara-negara maju dan berkembang. Dengan terbukanya akses pendidikan, pekerjaan, dan aktifitas lainnya terhadap kaum perempuan, mereka bisa lebih mengembangkan diri untuk dapat bersaing dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Emansipasi, begitulah mereka menyebutnya.

Bagaimana dengan perempuan-perempuan di Indonesia? Dulu (mungkin sampai sekarang), perempuan-perempuan Indonesia masih terjepit diantara hukum agama dan adat. Hak-hak mereka seperti dirampas dan dijadikan sebagai warga kelas dua di bawah kaum laki-laki. Hak untuk mengenyam pendidikan, hak (dipilih) dalam pemilu, hak dalam perkawinan, dan bahkan hak yang paling pribadi sekalipun seperti cuti hamil dan haid masih sering dirampas hingga saat ini. Kalau menoleh ke belakang, kaum perempuan sangat sering teraniaya dan terjebak dalam kasus pernikahan dini, pernikahan paksa, perjodohan, dan yang lebih tragis adalah sebagai “korban” poligami. Dengan melarang kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan, seolah-olah dengan sengaja mereka dihalangi untuk mendapatkan informasi bahwa mereka juga punya hak dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Mungkin, jika mereka tetap buta huruf, mereka pasti akan lebih sering mendapatkan informasi yang salah tentang haknya daripada informasi yang benar tentunya. Tetapi untunglah ada seorang perempuan yang bernama RA Kartini (1879 – 1904), yang berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat kaumnya, setidaknya dengan memberikan akses yang lebih mudah untuk mendapatkan informasi lewat dunia pendidikan. Dan inilah yang dianggap menjadi tonggak pergerakan perempuan Indonesia. Mungkin banyak orang yang tidak menyadari bahwa sebenarnya seorang perempuan, dalam hal ini seorang ibu, memiliki posisi yang sangat penting untuk kemajuan sebuah bangsa dan negara. Dan inilah yang menjadi salah satu perhatian Kartini, seperti yang tertuang dalam suratnya:

“Dari perempuanlah manusia pertama kali menerima pendidikan…dan makin lama makin jelas bagiku bahwa pendidikan yang pertama kali itu bukan tanpa arti bagi seluruh kehidupan. Dan bagaimana ibu-ibu bumiputra dapat mendidik anak-anaknya jika mereka sendiri tidak berpendidikan?...Bukan hanya untuk perempuan saja, tetapi untuk seluruh masyarakat Indonesia, pengajaran kepada anak-anak perempuan akan merupakan rahmat (Halaman 66).


Selain Kartini, sebenarnya masih ada beberapa tokoh perempuan yang berjuang untuk memberikan akses pendidikan kepada kaumnya. Sebut saja, Dewi Sartika yang mendirikan sekolah yang dikenal dengan nama Keutamaan Istri. Bahkan sebelum gerakan feminis timbul, Dewi Sartika sebenarnya telah berbicara tentang ketidakadilan yang dialami kaum perempuan dalam hal upah buruh, dimana upah perempuan selalu lebih rendah dari upah lelaki untuk pekerjaan yang sama berat.

Pergerakan perempuan Indonesia pada saat itu memang masih terbatas pada wilayah kehidupan sosial saja, belum menyentuh ranah politik. Mereka lebih banyak mempertanyakan dan menentang pemberlakuan pernikahan dini, kawin paksa, dan poligami, serta berupaya membuka kesempatan yang seluas-luasnya terhadap akses pendidikan bagi kaum perempuan. Masalah-masalah yang dihadapi kaum perempuan Indonesia ini juga banyak tercermin dalam karya-karya sastra yang terbit antara tahun 1922 – 1936. Kita bisa melihat bagaimana praktek-praktek kawin paksa dan pernikahan dini terjadi, misalnya dalam novel Sitti Nurbaya (1922) karya Md. Rusli, Salah Asuhan (1928) karya Abdul Muis, Azab dan Sengsara (1927) karya Merari Siregar, dan karya-karya sastra lainnya. Para penulis sepertinya mencoba memberikan gambaran penderitaan yang sering dialami oleh para perempuan pada zaman itu.

Pergerakan Perempuan Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan

Pada tahun 1912, sebuah organisasi bernama Putri Mardika didirikan, yang memberikan bantuan dana kepada kaum perempuan agar dapat bersekolah dan melanjutkan sekolah, serta memberikan kesempatan kepada perempuan untuk berperan serta dalam masyarakat. Tahun 1913, organisasi ini menerbitkan surat kabar mingguan yang memiliki semboyan: surat kabar memperhatikan pihak perempuan bumiputra di Indonesia. Beberapa judul artikel yang sempat diterbitkan, yakni: “Poligami dan Pernikahan Dini: Kebiasaan Masa Lalu Yang Harus diakhiri” (1915), “Kaum Muda Yang Berbuat Kejahatan Diabaikan” (1916), “Pernikahan Dini” (1917), “Pernikahan Dini dan Kawin Paksa Harus Dihapuskan” (1918), dan lain-lain. Organisasi ini didukung juga oleh organisasi Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 1908. Pada tahun-tahun berikutnya, beberapa organisasi perempuan Indonesia pun bermunculan, diantaranya Organisasi Pawijatan Wanito yang didirikan di Magelang pada tahun 1915. Pada tahun yang sama, Wanita Hado juga dibentuk di Jepara, disusul Wanito Susilo pada tahun 1918 di Pemalang.

Kongres perempuan Indonesia pertama sekali diadakan di Yogyakarta dari tanggal 22 – 26 Desember 1928, setahun sesudah PPKI berdiri. Kongres ini sendiri dicetuskan oleh Nyonya Soekanto (guru di sekolah Belanda-Pribumi dan juga anggota Komite Wanita Utomo), Nyonya Suwardi (istri dan rekan Ki Hajar Dewantoro), serta Nona Soejatin (yang kemudian menjadi Nyonya Kartowijono, guru perempuan Taman Siswa dan anggota Putri Indonesia). Kongres ini sendiri memfokuskan diri untuk mendiskusikan masalah yang terkait dengan pendidikan dan perkawinan, bukan masalah politik. Salah satu hasil penting kongres ini adalah pendirian Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), yang bertujuan untuk mengembangkan posisi sosial perempuan dan kehidupan keluarga secara keseluruhan. Tanggal pelaksanaan kongres ini pun menjadi tanggal yang penting dengan dikukuhkannya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Kongres kedua PPI berlangsung di Jakarta 26 – 31 Desember 1929, dengan hasil: nama organisasi diubah menjadi Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII), yang kemudian mengadakan kongres yang pertama di Surabaya pada tanggal 13 – 18 Desember 1930. Pada tahun yang sama perkumpulan Istri Sedar yang diketuai oleh Soewarni Djojoseputro (yang menjadi nyonya Pringgodigdo) pun dibentuk dibentuk, dan organisasi ini dianggap sebagai model organisasi perempuan karena sifatnya yang radikal dan tidak mengenal kompromi dalam segala perjuangannya untuk meningkatkan kedudukan perempuan di tiap kelas sosial. Pada Januari 1931, untuk pertama kalinya delegasi perempuan Indonesia dikirimkan untuk berpartisipasi dalam Kongres Perempuan Asia di Lahore, yang menentang pelaksanaan poligami. Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), satu-satunya organisasi perempuan yang diijinkan adalah Fujinkai (dalam bahasa Indonesia berarti perkumpulan perempuan). Sedangkan perkumpulan perempuan yang popular pada masa perjuangan adalah Perwani (Perastuan Wanita Negara Indonesia).

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Perwani mengadakan kongresnya yang pertama di Yogyakarta pada tanggal 15 -17 Desember 1945, diketuai oleh Maria Ulfa Santoso dan Nyonya Kartowijono. Dalam kongres ini, Perwani dan perkumpulan perempuan lain melebur jadi satu dalam Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia). Dan pada pertemuan berikutnya di Solo, 24 -26 Februari 1946, mereka memutuskan untuk membentuk satu organisasi tetap bernama Badan Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Sampai sekarang, Kowani masih tetap berkegiatan dan baru-baru ini meluncurkan sebuah situs www.ictwomen.com.

Pencapaian

Dengan mengadakan pergerakan-pergerakan, banyak yang telah dicapai oleh para perempuan Indonesia. Pernikahan dini, kawin paksa, dan poligami sudah lebih banyak berkurang. Memang, masih tetap terjadi dibeberapa daerah, tapi jumlah kasusnya sudah tidak sebanyak dulu. Kedudukan perempuan sudah disetarakan dengan laki-laki, perempuan pun sudah banyak yang merambah profesi-profesi yang umumnya dilakoni oleh para laki-laki. Akses pendidikan pun sudah terbuka lebar sehingga mereka bisa lebih mengembangkan kemampuan diri. Dibidang politik, perempuan Indonesia juga sudah mulai menyejajarkan posisinya dengan laki-laki. Menjadi anggota legislatif bukan lagi menjadi hal yang mustahil. Bahkan, posisi nomor satu di negeri inipun sangat memungkinkan dipegang oleh perempuan, dan itu sudah pernah terjadi. Dengan meningkatnya kemampuan dan keahlian para perempuan Indonesia, mereka sangat pantas dijadikan sebagai mitra yang sejajar dengan laki-laki. Majulah kaum perempuan, majukanlah negeri Indonesia. Selamat Hari Ibu!

Sebagai ungkapan penghargaan yang setinggi-tingginya buat para ibu di seluruh dunia, di Indonesia khususnya, dan terlebih khusus lagi buat ibu saya, ijinkan saya menyanyikan lagu berikut :

IBU
(Iwan Fals)

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah

Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ‘ku membalas, Ibu… Ibu…

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas, Ibu… Ibu…

Ribuan kilo, jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah

Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ‘ku membalas, Ibu… Ibu…

Profile Image for Yollavenda A.
3 reviews9 followers
January 14, 2018
Buku ini bagus karna isinya jelas dan ceritanya dikelompokin sesuai jaman, tapi bikin aku agak bingung karna tahunnya ngga urut, jadi aku harus bikin catetan kegiatan pertahunnya dari awal sampai akhir biar makin jelas. Ga wajib sih, cuma aku maunya gitu haha. Sempet agak bosen di akhir2 tapi akunya doang kali ya, bukan bukunya ehe.

Btw, ini ada catatan kegiatan pertahunnya yg uda aku rangkum:


1861
- Pemerintah membuat hukum perkawinan bagi kaum Kristiani Indonesia

Akhir abad 19
- Cut Nyak Dien dan beberapa perempuan memimpin perang Aceh dgn Belanda

1900
- Kaum perempuan mulai berani meningkatkan taraf hidupnya
- Pendidikan mulai terbuka bagi sebagian rakyat Indonesia dan beberapa jenis sekolah dasar dan sekolah desa didirikan
- Pengukuhan politik etis

1903
- Kartini mendirikan sekolah kecil

1904
- Dewi Sartika mendirikan sekolah pertama, Keutamaan Istri

1912
- Dewi Sartika telah mendirikan 9 sekolah
- Van Deventer dan istrinya mendirikan sekolah Kartini di Semarang, Jakarta, Madiun, dan Bogor

1914
- Telah terjadi peningkatan jumlah murid perempuan di Jawa dan Madura

1915
- Rahma El Junusia mendirikan sekolah agama (gabungan dari pendidikan agama dengan kurikulum modern)

1916
- Ny Abdoerachman mendirikan Oesaha Isteri yang bertujuan untuk meningkatkan ketertarikan perempuan terhadap kerajinan atau seni

1920
- Pendirian masjid perempuan di Yogyakarta (9 th kemudian namanya berubah menjadi musala Asjijah)

1922
- Ki Hadjar Dewantoro mendirikan Taman Siswa
- Rahma El Junusia mendirikan sekolah asrama agama khusus perempuan yang pertama dan modern bernama Sekolah Diniyah Puteri di Padang Panjang
- Md. Ruslin menerbitkan novel Siti Nurbaya

1928
- Lahir Sumpah Pemuda sebagai wujud dari semangat persatuan dan kesadaran nasional generasi muda masa itu
- 58% dari perempuan Indonesia berhasil meraih ijazah
- Kongres pertama Perempuan Indonesia di Yogyakarta (22-26 Des) yang dicetuskan oleh Ny Soekonto
- Menetapkan hari Ibu tgl 22 Desember
- Kongres pertama Perempuan Indonesia mendirikan Perikatan Perempuan Indonesia (PPI)
- Fase pertama: Kaum perempuan sadar terhadap tugas mereka sebagai "Ibu bagi masyarakatnya" dan menempatkan mereka dalam tugas mendidik generasi baru.

1929
- PPI berubah nama menjadi Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII)
- Ny Abdoerachman mendirikan konsultasi gizi untuk anak-anak dengan bantuan pejabat WHO

1930
- Istri Sedar didirikan di Bandung
- Masalah buta huruf sangat tinggi (lelaki 89.17% dan Perempuan 97.83%)

1931
- Perempuan Indonesia pertama kali ikut dalam pergerakan perempuan internasional (di Lahore pada Januari)

1932
- Muncul aturan bernama Ordonasi Guru, yaitu sebelum sekolah swasta dibuka, guru-guru harus memiliki izin dari pemerintah, kurikulum harus sesuai dengan kurikulum sekolah pemerintah, dan inspektur sekolah punya hak mengawasi pelajaran dan memeriksa ruang kelas setiap waktu.
- Didirikan Isteri Indonesia di bawah kepemimpinan Maria Ulfah (Juli)
- Pidato pada kongres Aisjijah yang mendukung poligami menuai protes dari perempuan Jawa, Sarekat Kaum Ibu Sumatra, dan Istri Sedar
- Didirikan bank khusus perempuan pertama di Bandung oleh Pasundan Istri

1933
- Ny Rahma El Junusia mendirikan sekolah menenun

1935
- Kongres kedua Perempuan Indonesia di Jakarta (20-24 Juli)
- PPII dibubarkan
- Perempuan Indonesia menentang keputusan pemerintah karena pemerintah lebih memilih perempuan Belanda
- Komisi Penjelidik Hukum Perkawinan didirikan di bawah pimpinan Maria Ulfah

1936
- Muncul peraturan mengenai umur perkawinan yaitu 18 th bagi lelaki dan 15 th bagi perempuan.

1938
- Kongres ketiga Perempuan Indonesia di Bandung (Juli) untuk membahas program hak memilih
- Ny Rahma El Junusia mendirikan sekolah lanjutan berbasis Islam di Padang Panjang

1939
- Didirikan Badan Perlindungan Perempuan Indonesia dalam Perkawinan (BPPIP) untuk mempertimbangkan kedudukan perempuan dalam hukum Islam, adat, dan Eropa.
- Didirikannya biro-biro konsultasi masalah perkawinan oleh BPPIP.

1940
- Didirikan asosiasi bernama Perkumpulan Pembasmian Perdagangan Perempuan dan Anak-Anak (P4A)

1941
- Kongres keempat Perempuan Indonesia di Semarang (Juli)
- Hak penuh perempuan Indonesia untuk memilih disetujui

1942
- Masuk masa pendudukan Jepang (1942-1945)
- Satu-satunya organisasi yang diizinkan berjalan adalah Fujinkai (perkumpulan perempuan) untuk memerangi buta huruf, menjalankan dapur umum, dan ikut serta pekerjaan sosial.

1943
- Pemerintah Jepang mewajibkan petani menjadi romusha (kerja rodi) tanpa upah

1945
- PMI dibentuk
- Perempuan membentuk tim perawat dan penghubung, menjalankan dapur umum, dan klinik berjalan
- Perkumpulan perempuan yang populer adalah Perwani (Persatuan Wanita Negara Indonesia)
- Kongres pertama perempuan Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan di Klaten (15-17 Des) diketuai oleh Maria Ulfah dan Ny Kartowijono dan mendirikan Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia)
- Fase kedua: pergerakan perempuan aktif dalam membangun dan memperkuat negara yang baru merdeka

1946
- Kementrian Agama dibentuk pada 3 Januari
- Didirikan Kowani (Badan Kongres Wanita Indonesia) terdiri dari Perwari dan PPII, Persatuan Wanita Kristen Indonesia dari Protestan, dan seksi perempuan Partai Katolik Indonesia
- Kongres kedua perempuan Indonesia (setelah proklamasi kemerdekaan) di Madiun (14-16 Juni) memutuskan untuk membantu tentara republik untuk melawan Belanda.
- Kongres ketiga Kowani di Magelang (14-16 Juli)
- Perjanjian Linggarjati (15 Nov)

1948
- Kongres keempat Kowani di Solo (26-28 Agustus) untuk membentuk badan pemeriksa penggantian UU dan UU perkawinan di bawah kepemimpinan Maria Ulfah

1949
- Penyelenggaraan konferensi Kowani di tengah serangan Belanda pada 26 Agustus-2 Sept di Yogyakarta

1950
- Kowani dibubarkan (24-26 Nov) dan didirikan Kongres Wanita Indonesia hanya untuk urusan administrasi antarcabang perkumpulan karna sekarang kekuasaan diserahkan di tangan para pemimpin dari cabang perkumpulan masing2 yang selanjutnya digabung di Madjelis Permusjawaratan.
- Pemerintah membentuk Panitya Penjelidik Peraturan Hukum Perkawinan, Talak, dan Rudjuk disingkat NTR (Nikah, Talak, Rudjuk) untuk memeriksa semua peraturan perkawinan yang sedang berlaku dan membuat peraturan baru sesuai dengan masanya.
- Djawatan Kesedjahteraan Ibu dan Anak mengorganisir pelatihan bagi para dukun di Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA)

1952
- Kongres yang diselenggarakan di Bandung (22-24 Nov) menghasilkan program ganda yang memperhatikan masalah hukum, pendidikan, dan sosial ekonomi yang dibagi menjadi 2 jenis yaitu tindakan secara umum dan tindakan dengan penanganan cepat
- Kongres Wanita Indonesia meminta pemerintah menunjuk perempuan untuk memiliki jabatan dalam persidangan agama
- Ny Sulianti merencanakan program keluarga berencana (KB)
- Didirikan pusat konsultasi kesehatan bagi para ibu dan bayinya di Gedung Wanita Jakarta oleh Ny Subandrio
- Didirikan perkumpulan bidan bagi kesejahteraan keluarga di Yogyakarta oleh Ny Soewito

1953
- Dibuat bendera bernama Pandji Hari Ibu yang menyimbolkan peran perempuan sebagai ibu
- Yayasan Hari Ibu mendirikan Gedung Persatuan Wanita Indonesia di Yogyakarta sebagai pusat kegiatan bagi kaum perempuan dengan fasilitas asrama, perpustakaan, dan ruang rapat untuk seminar atau pelatihan.
- Didirikan bank khusus perempuan kedua di Jakarta oleh Kongres Wanita Indonesia

1954
- Soekarno menikah dengan istri kedua
- Didirikannya Seksi Penasehat Perkawinan dan Pertjeraian oleh kepala kantor urusan agama Jakarta

1955
- Kongres pertama perempuan diadakan di Palembang pada bulan Maret dengan 45 perkumpulan yang masuk keanggotaan baru tapi terpisah dalam dua kelompok politik dan non politik sesuai minat.
- Didirikan Partai Wanita Rakjat, yaitu satu-satunya partai politik yang dijalankan sepenuhnya oleh perempuan.
- Pemerintah membentuk dewan-dewan perkawinan yang resmi di Bandung bernama Biro Penasehat Perkawinan dan Penjelesaian Pertjeraian (BP4)
- Dibuatlah pelatihan atau kursus bagi anggota perempuan bagi persidangan agar dapat memiliki jabatan dalam persidangan agama
- Terbitnya artikel Perwari yang berjudul "Dimana undang-undang perkawinan?"
- Didirikan Yayasan Hari Ibu

1956
- Gedung Wanita di Jakarta secara resmi dibuka pada 21 April
- Pemerintah membentuk dewan-dewan perkawinan yang resmi di Jakarta bernama Panitya Penasehat Perkawinan dan Penjelesaian Pertjeraian (P5)
- Bhajangkari meminta kepala kepolisian untuk membuat dewan konsultasi guna membantu para keluarga kepolisian memberantas poligami dan perceraian dan memerintahkan setiap polisi memiliki kartu identitas keluarga yang berisi foto istri pertamanya
- Didirikan bank khusus perempuan ketiga di Yogyakarta oleh Ny Soekiman

1957
- Dibentuk Perkumpulan Keluarga Berentjana di Jakarta (22 Des)

Akhir abad 19
- Cut Nyak Dien dan beberapa perempuan memimpin perang Aceh dgn Belanda

Awal abad 20
- Pengukuhan politik etis
- Beberapa jenis sekolah dasar dan sekolah desa didirikan
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dea Basori.
4 reviews5 followers
January 7, 2020
Buku Sejarah Perempuan Indonesia adalah buku wajib setiap perempuan Indonesia yang hendak mempelajari feminisme. Sebelum kita mempelajari feminisme dan praktiknya lebih dalam, ada baiknya kita menoleh ke belakang dan merefleksi bagaimana perempuan di era kolonialisme dan paska kemerdekaan berjuang untuk hak-hak mereka.

Buku ini menjelaskan dari awal mengenai peradaban masyarakat Indonesia. Ternyata banyak sekali adat-adat di Indonesia yang sudah menjunjung tinggi hak-hak kesetaraan antara perempuan dan lelaki. Perempuan ditetuakan dan dimintakan pendapatnya dalam mencarikan solusi atas permasalahan yang ada. Bahkan lelaki yang berasal dari adat yang mentetuakan perempuan di masyarakatnya ikut marah ketika Belanda hendak mencabut hak pilih mereka. Baik Perempuan dan Lelaki Indonesia sudah lama saling bekerja sama untuk menjaga perdamaian dan keharmonisan masyarakatnya. Jika perempuan dalam sebuah adat memiliki tugas dalam ranah domestik itu tak berarti derajat mereka lebih rendah. Justru mereka mengatur kehidupan sosial dari ranah domestiknya dan keduanya dilihat setara. Pekerjaan domestik diakui sama berharganya dengan pekerjaan publik. Perempuan tak dibuat bergantung pada lelaki. Perempuan bekerjasama dengan lelaki untuk menghidupi keluarganya. Ini menjadi keunikan kekayaan adat di Indonesia dan hal ini tidak ada dalam kebudayaa Eropa di kala itu.

Sejarah peradaban perempuan di Indonesia, ini penting untuk ditulis dikarenakan tak jarang kita terlanjur silau dengan teori-teori dan pergerakan feminisme, padahal di negara kita sendiri, kita sudah memiliki masyarakat yang menghargai kesetaraan namun apa yang terjadi? Ketika Belanda datang dan juga ketika tafsir agama diperberat dengan narasi patriarkal dan misoginis, semangat kesetaraan itu hilang. Kepentingan Belanda untuk meraup keuntungan dan diteruskan oleh okupasi Jepang telah merugikan perempuan. Perempuan akhirnya dibuat bergantung kehidupannya kepada lelaki.

Selama Perempuan bergerak sebelum dan sesudah kemerdekaan, masalah perempuan dari seabad lalu hingga kini masih sama saja, yaitu poligami, buta huruf (jika dikaitkan dengan hari ini, masih banyak perempuan yang hanya lulusan SD saja), perkawinan anak, akses terhadap ekonomi dan kesehatan yang buruk, timpangnya upah antara perempuan dan lelaki, kekerasan seksual, gizi buruk, tingkat kematian ibu dan anak, dan banyak lagi. Anehnya dimasa itu hingga hari ini masih ada saja perempuan yang menjadi agen Patriarki dalam membenarkan poligami, umumnya mereka berasal dari kelompok Muslim. Namun di masa itu sudah ada perempuan yang lebih radikal yang menentang poligami, contohnya dari organisasi Isteri Sedar yang dengan vokal menolak pembenaran poligami. Pemimpin Isteri Sedar itu pun tak tanggung-tanggung meninggalkan ruangan jika masih ada pembelaan terhadap poligami karena bagi mereka menolak poligami adalah mutlak. Oleh karenanya perempuan-perempuan di masa itu terus meminta para ulama dan ahlinya mengkaji terkait undang-undang perkawinan, dan ini terus dilakukan walau mendapatkan penolakkan.

Pergerakan perempuan juga sangat memfokuskan diri dengan menjamin pendirian berbagai sekolah yang dikhususkan untuk Perempuan. Sayangnya Belandalah yang pertama kali menghambat upaya untuk memajukan perempun Indonesia itu sendiri. Mereka menyatakan bahwa tidak ada dana yang mencukupi untuk membiayai sekolah perempuan. Bayangkan negara yang katanya menjunjung tinggi kesetaraan hari ini dulu sangat menindas perempuan Indonesia. AKhirnya permpuan Indonesia bergerak sendiri mendirikan sekolah-sekolah ‘liar’ dimana tak ada intervensi dari Belanda sedikit pun walaupun tak jarang Perempuan juga ditangkap dan dijatuhi hukuman karena mendirikan sekolah tersebut. Namun sekolah liar ini menunjukkan perlawanan Perempuan terhadap kolonialisme. Mereka menciptakan metode sendiri untuk perempuan agar dapat terdidik dan memiliki pengetahuan dasar. Adapula sekolah kejuruan seperti kebidanan yang berupaya menggabungkan pengetahuan-pengetahuan lama mengenai melahirkan yang digabungkan dengan pengetahuan moderen terkait kebidanan. Hal ini tak hanya membantu perempuan agar dapat melahirkan dengan selamat dan bersih namun juga membantu memberdayakan perempuan-perempuan muda. Eyang saya yang seorang bidan adalah salah satu dari hasil wujud nyata program tersebut. Berkat program kejuruan kebidanan banyak dari keluarga saya yang bisa menjadi bidan di desa-desa kecil dan memberdayakan dirinya.

Selain itu, wujud dari upaya gerakan perempuan di era tersebut adalah adanya tempat pengasuhan anak yang digagas oleh organisas perempuan seperti Gerwani. Gerwani juga melatih perempuan agar bisa terampil menjadi guru dan mengasuh anak-anak yang dititipkan agar perempuan lain dapat bekerja dengan tenang dan aman. Pada masa tersebut juga telah didirikan kelompok kerja yang berfokus kepada perdagangan manusia terutama perdagangan perempuan dan anak. Ini sungguh menarik dikarenakan konektivitas dan jejaring sudah cukup baik.

Yang saya juga kagumi adalah banyak perempuan di masa tersebut sudah menerbitkan majalah atau koran pribadi yang merupakan hasil buah pikir anggota organisasi perempuan yang sangat beragam. Setiap organisasi mengeluarkan terbitan untuk dapat dibagikan dan dibaca oleh perempuan. Ini menarik karena hari ini tidak banyak medium pemikiran perempuan yang beredar dalam bentuk cetak, yang ada hanya dalam bentuk online seperti Magdelene.co, VoxPop.id dan Konde.co. Media tentang perempuan jarang sekali mengulas pemikiran perempuan dan hanya berbicara mengenai produk-produk saja.

Hal lain lagi yang cukup membuat saya kagum yaitu didirikan TIGA Bank yang dikhususkan untuk Perempuan. Hal ini juga bersamaan dengan semangat melawan poligami. Di masa itu, perempuan yang menjadi korban poligami akan menggunakan uang mereka untuk bersolek karena bersaing dengan istri lain, namun perempuan yang monogami akan belajar untuk menyimpan uangnya sehingga mereka tidak bergantung lagi pada suami mereka. Adanya Bank dan upaya untuk menghentikan poligami secara sistematis dilakukan agar Perempuan berdaya dan bisa berdiri sendiri. Bank juga didirikan agar perempuan dapat melindungi diri dari lintah darat yang dapat menggerogoti perempuan.

Ada banyak pelajaran yang bisa di ambil dari buku ini dan tentu tak bisa saya ulas. Penulisnya, Cora Vreede-de Stuers juga seorang Indonesianis. Dalam penelusurannya dan penulisannya, ia sangat berlaku adil dalam menuliskan perempuan Indonesia. Ia tidak mengambil sudut layaknya feminis kulit putih namun melihat sejarah Indonesia yang penuh dengan kekayaan adat yang menjunjung tinggi kesetaraan. Walaupun buku ini mempersingkat sejarah perempuan Indonesia namun ia dapat membantu kita memahami bagaimana pergerakan perempuan di Indonesia.

Kita bisa menggunakan buku ini untuk merefleksikan dimana posisi perempuan Indonesia berada dan bagaimana kita melawan patriarki. Perlawanan tak boleh berhenti karena nyatanya ada masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi kesetaraan dan menaruh hormat penuh pada perempuan utnuk mengisi posisi publik dan ini telah terbukti memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi Perempuan.
Profile Image for Astrid.
93 reviews6 followers
September 15, 2021
Saya harus membaca buku ini lambat-lambat, karena walaupun buku ini diterbitkan di tahun 1960. Buku ini menyimpan banyak dari semangat dan analisa periode-periode penting dalam sejarah perempuan Indonesia. Cora berhasil menjelaskan dengan terampil detail-detail penting di periode pembentukan gerakan perempuan. Sampai dengan menganalisa detail semangat perubahan jaman mereka dalam novel-novel di periode tersebut. Saya rasa siapapun yang ingin membaca, mengerti dan mempelajari sejarah perempuan di Indonesia, buku ini sejauh ini termasuk daftar buku wajib yang harus dibaca. Memang jika dibayangkan, masih jauh dari kelengkapan secara menyeluruh mengenai tokoh dan detail peristiwa lainnya, yang saya rasa perlu ditulis oleh para perempuan Indonesia ke depannya.
Profile Image for Hikachi.
442 reviews6 followers
May 24, 2025
It's a fine read as in if you're interested in history.
However, there are several things that irks me. For starter, woman movements started by women. But to be fair, we understand our issues.
Anyhow, another thing that annoys me most is how women referred by her husband's names. Only a handful of women have their names mentioned. And this "habit" continues until today. Which is a shame.
Profile Image for Jessica Huwae.
Author 7 books32 followers
June 27, 2019
Indonesian women, you should be thankful that these women before you fought for whatever on your plate today and please dismiss your ideas of #uninstallfeminism for yeah, seriously. You're such a disgrace.
Profile Image for Nday Nday.
Author 1 book
November 18, 2015
Do not judge the book by its tittle. When I picked this book at the library I thought that I would find some melodramatic, tragic, unfair, struggling, efforts and the power of Indonesian women to get their justice and emancipation since the colonial era with some encouragement stories. But I did not find it here. This book was yes talking about the rise of women rules in the Indonesian society. But it's more in the perspective of women organizations. The writer also focus only the changing marriage regulation in Indonesia based on the view of custom and religion. It's nice effort for the writer, but this book did not dig deep enough to carry 'Sejarah Perempuan Indonesia' as the tittle.
Profile Image for Roos.
391 reviews
Want to read
August 12, 2008
Buku dari Kang Amang....hadiah karena telah menemukan meja biru di Onrust....hahahahaha. Kesannya Perempuan kuat banget yah? Nenteng meja biru nan legendaris....( Belum kebaca euy...banyak saingan...hehehehe )
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.