4.25/5
Kumpulan cerpen yang menarik. Nukila Amal memiliki gaya bercerita yang khas, gabungan antara aliran kesadaran (stream of consciousness), diksi yang unik, serta frasa-frasa yang tidak terduga. Prosa beliau dalam mendeskripsikan berbagai benda terasa sangat hidup, bahkan cenderung surreal.
Buku ini terbagi dalam dua bagian, Para Penyelamat dan Para Penari dan Para Penatap dan Para Pencerita.
Bagian pertama mengeksplorasi berbagai topik, tetapi Laluba dan Manekin adalah dua cerita terkuat menurut saya.
Laluba memberikan latar Maluku yang masih jarang saya jumpai dalam sastra Indonesia, menceritakan kisah seorang ibu mengandung dalam pelarian yang berkisah pada anaknya yang belum lahir. Imaji pesisir Maluku dan budayanya sangat kuat di sini, dan akhir ceritanya cukup menusuk.
Manekin mengisahkan seorang pensiunan politisi yang tiba-tiba terobsesi pada sebuah manekin, diceritakan dari sudut pandang asisten rumah tangganya. Deskripsi si politisi ini mengingatkan saya pada salah seorang mantan presiden Indonesia yang kontroversial dan terkenal dengan kegemarannya mengkoleksi artifak-artifak mistis.
Bagian kedua adalah kumpulan respons Nukila Amal terhadap karya-karya M.C. Escher, seorang perupa grafis Belanda yang terkenal dengan karya-karya cetaknya yang kerap mengusung tema matematis dan ilusi optik. Di sini, Nukila Amal seperti mereka ulang setiap karya dengan memberikan cerita sekaligus interpretasi. Terkadang cerita terbaca seperti biografi semi historikal M.C. Escher sendiri, sedangkan di beberapa cerita lain, Nukila Amal bermain-main dengan skenario sureal.
Sebagai perupa grafis, saya sangat menikmati interpretasi karya-karya ini, karena kebetulan cukup dekat dengan apa yang saya kerjakan. Nukila Amal juga berhasil menghadirkan dunia seni grafis (printmaking) yang meyakinkan. Namun, bagi orang-orang yang kurang mengenal karya Escher apalagi berbagai teknik seperti cukil kayu dan litografi, kumpulan cerita ini mungkin akan lebih sulit dibayangkan atau dicerna.
Saya setuju dengan beberapa ulasan di sini bahwa cerita-cerita Nukila Amal terkesan minim konflik. Seringkali cerita berakhir pada titik yang ambigu tanpa kehadiran klimaks, tidak jauh beda dengan kishotenketsu, struktur empat babak tanpa konflik dalam gaya penceritaan Asia Timur. Saya rasa, kumpulan cerita ini kurang cocok bagi pembaca yang mengharapkan konflik dan drama yang sengit. Di sisi lain, pembaca yang menyukai prosa yang unik, gaya aliran kesadaran, dan struktur cerita yang ambigu akan sangat menikmati buku ini.