"Alih-alih mau mengantar pembaca ke hadapan puisi atau mengantar puisi ke hadapan pembaca, saya malah diantar puisi ke tempat-tempat tak terduga. Tempat-tempat itu bisa berada di dunia nyata, bia juga hanya di dunia maya dan dunia rekaan. Saya gembira telah dipilih oleh sajak-sajak Nezar Patria untuk mengikuti petualangan mereka, mencoba menyimak berbagai peristiwa dan suasana tanpa memikirkan akan berakhir di mana perjalanan saya."
Selain menjadi editor in chief di The Jakarta Post, saya tahu Nezar Patria dari buku Laut Bercerita (Leila S. Chudori). Leila melakukan riset tentang kerusuhan Mei 1998 dan Nezar Patria adalah salah satu responden yang ia wawancarai.
Nezar Patria merupakan seorang mantan aktivis yang pernah di culik. Ia beruntung bisa bebas disaat beberapa temannya hilang entah kemana.
Merupakan buku puisi perdana yang ia kumpulkan dalam rentang 2012 - 2017.
Puisi ini membahas tentang lukisan Affandi berjudul "Burung Mati di Tangankoe (1945)", tentang tsunami yang melanda Aceh dan ia memang seorang Aceh, tentang kedai teh Ah Mei yang ia kunjungi (saya kira dalam judul buku ini ia akan membahas tentang kerusuhan Mei tetapi tidak---Ah Mei yang saya kira seperti kata seru---ternyata memang nama kedai).
Awal-awal membaca ini biasa saja, belum bisa masuk ke dalam nyawa puisi, belum bisa menikmati puisinya. Tetapi setelah membaca ¼ dari bukunya, sudah mulai bisa menikmati puisi-puisi di buku ini.
Sepertinya buku puisi ini memberiku nyawa kembali untuk bisa menikmati puisi. Genre puisi sebenarnya my comfort genre, tetapi entah kenapa akhir-akhir ini malas membaca puisi, tidak bisa menikmati dan menghidupkan sajak-sajaknya. Setelah membaca ini, sepertinya mulai bisa menikmati puisi kembali. Puisi-puisi di sini halus tetapi berduri, puisi yang mengalun lembut tetapi bernyawa kuat. _____ Beberapa cuplikan puisi yang aku sukai
DI BENTANGAN GUNUNG
... Ya Rabb, jangan tinggalkan aku sendirian di gurun sunyi terbenam di kaut berkalang lumut terapung abadi di tepi galaksi _____ MEMBACA TANDA BACA
Di Kedai Teh Ah Mei berisi sajak-sajak, yang sepemahaman w, berisi tema-tema yg cukup humanis serta sarat akan politik, war related, dan religion related. Beberapa sajak ga berhasil w tangkep atau bahkan ga berhasil nebak-nebak ini ngomongin apa, tapi w tetep suka dan enjoy selama bacanya hihi rasanya kayak dibawa jalan-jalan sama time traveller:D
p.s. bagian Catatan Pengantar yg ditulis oleh Joko Pinurbo mengandung "spoiler". Jadi saranku, better baca dulu sampai habis lalu balik ke Catatan Pengantar
Some of them pierce my heart deep. Some of them makes me realise life from different perspective. Some of them makes me want to kneel down to my God and cry like a kid does.
suka. ini kali pertama saya membaca puisi nezar patria dan jujur sangat suka kata-kata yang ia gunakan dalam mengekspresikan perasaannya lewat puisinya.
beberapa puisi memang tidak diperuntukkan untuk dipahami menyeluruh. meski ada vibes yang tetap dapat dirasakan, saya dipenuhi kebingungan membaca sajak-sajak Nezar Patria.