Di dalam hutan Siberia, di desa kecil di Laos, di keramaian Barcelona, ketika saya sedang dalam kesulitan, selalu ada tangan terulur memberikan bantuan. Maka perjalanan ini adalah perjalanan merayakan perbedaan. Kita semua berbeda, tapi bersatu dalam kemanusiaan.
KELANA adalah catatan seorang perempuan yang melakukan perjalanan sendirian dari Indonesia ke Afrika, melewati jarak lebih dari separuh lingkar bumi. Melintasi kilometer demi kilometer ketakutan, petualangan, dan ketidakpastian, dia mencatat kebaikan-kebaikan yang muncul di tempat paling terpencil sekalipun.
“Famega membawa subgenre penulisan perjalanan ke tahap yang lebih tinggi: ia memilih untuk berdekatan dengan bumi dan air.”
Buku perjalanan pertama yang saya baca, sangat memikat dan menghangatkan hati.
Punya mimpi kecil untuk menjelajahi Asia-Eropa naik Trans Mongolian Trip, lalu mimpi itu diwujudkan melalui editor saya, Anidos, yang berbaik hati memberi kesempatan saya membaca buku ini. Buku perjalanan yang sederhana, tapi setiap lembarnya menyisakan makna. Mungkin karena penulis juga punya latar belakang jurnalis, jadi tulisannya mengalir dan cukup detail. Setelah baca buku ini, nambah deh bucketlist buat traveling: Vietnam, Malaka, Maroko!
Buku ini cocok banget buat kamu yang mau keliling separuh dunia secara backpacker, walaupun tetep duit di kantong harus maksimal juga, hahaha. Tapi menyenangkan banget rasanya, kita seolah ikut mengeksplor belahan dunia hanya dengan membaca sebuah buku. Nggak sabar mau baca cerita perjalanan Mbak Famega selanjutnya! :)
Tulisan Fame mengalir lancar dan menyenangkan untuk dibaca. Saya merasa ada bersama Fame dalam petualangannya melintasi tiga benua. Favorit saya adalah cerita pertemuannya dengan Ibby dan Nasir, dua pribadi unik yang menggarisbawahi kesadaran sosial (social consciousness) penulis tanpa harus vulgar atau pretensius. Makin membaca, saya merasa dorongan untuk berkelana jadi makin kuat pula, agar bisa berinteraksi dengan orang-orang baik yang terserak di berbagai negara.
Bagus banget. Seru banget. Menginspirasi banget. Akhirnya dapat kesempatan untuk baca buku ini saat Ibu saya berkunjung dan membawakannya dari Indonesia. Suatu hari Ibu saya bertanya saat saya sedang membacanya, "Buku sekecil itu kok lama banget dibacanya?" Yang dijawab oleh saya, "Karena bukunya bagus banget, nggak mau cepet-cepet selesai bacanya."
I wish I could have courage like her.
And Mbak Famega, please nulis buku lagi untuk perjalanan-perjalanan lainnya. :)
Perjalanan yang dilakukan penulis buku ini, bisa jadi adalah impian bagi banyak pejalan. Menyusuri 18 negara 44 kota selama 4,5 bulan melalui jalan darat dan (sedikit) laut, dengan jarak 23.181 km. Termasuk juga impian saya. Apalagi sejak saya menyimak Mark Smith, pejalan yang menjuluki dirinya The Man in Seat 61, yang selalu melakukan perjalanan melalui jalur darat (kereta). Namun, nasib pegawai yang tergantung pada cuti tahunan, yang bikin permohonan cuti pun deg-degan dikabulkan atau nggak, padahal sudah beli tiket promo 6-12 bulan lalu :D. Eh, saat sudah nggak kerja kantoran, pandemi + jadi korban pandemi pula. Nasiib....
Eh, bektuleptop. Seru menyimak kisah penulis dalam buku ini. Ia mulai melakukan perjalanan dari Dumai, Riau, menyeberang ke Malaka, lalu berlanjut ke Thailand, Laos, Vietnam, Tiongkok, Mongolia, Rusia, negara Baltik (Estonia, Latvia, Lithuania), Polandia, Ceko, Swiss, Perancis, Spanyol, dan terakhir, Maroko. Mulai dari bus, fery, kereta, hingga hitchhiking, termasuk menjajal Trans Siberia. Untuk menginap,sebagian besar dilakukan penulis di hostel dan menumpang pada kenalan (melalui jaringan Couchsurfing)
Banyak pengalaman menarik tentunya. Menumpang truk besar, ketinggalan kereta, hampir dirampok oleh pengemudi taksi, satu kabin dengan para pria, kecurian di hostel, diturunkan di jalan tol, hingga dilecehkan. Pertemuan dengan orang-orang dalam perjalanan juga menarik. Dari sopir-sopir truk yang baik hati, cowok nyentrik antimainstream, penjual bantal, hingga cucu korban Nazi.
Tapiii... jujur saya gemas dan agak kesal bacanya :D. Sebab, penulis punya materi yang bagus dan lumayan dalam, tapi tidak diolah dan dikembangkan. Apalagi penulis pernah bekerja di berbagai media beken di +62. Paling tidak jadi modal lah bukan mengembangkan tulisan yang lebih humanis. Kisah Ibby si cowok nyentrik misalnya, atau kisah Paul yang kakek-neneknya korban holokaus. Tulisan selama di kereta Trans Siberia juga kurang eksplorasi. Juga tulisan tentang Al-Andalus, yang seperti cuma tulisan numpang mampir saja di buku ini.. Yah, beginilah pembaca, suka pengen lebih, hehe.
Kisah keliling dunia yang asyik, apa adanya, tapi bukan berarti seadanya.
Kelana ku ketahui dari postingan instagram KPG, bulan Agustus kemarin, otomatis aja jadi daftar beli karena Comma Books juga lagi bagus-bagusnya kan. Kelana kebetulan baru ku selesaikan setelah pulang dari rehat sejenak dari Ambon.
Buku yang pas banget dibaca pas liburan, karena ukuran mini yang muat di saku celana. (Padahal kubaca pas selesai libur, malah :D) Iya ini bisa dibaca santai kapan pun kok, dengan hati riang atau datar sekalipun karena isinya sendiri udah penuh dengan semangat. Tulisan Fame sendiri kerasa banget kalau dia nggak seolah sedang menggurui kita yang mau tahu gimana sih perjalanan darat keliling dunia gitu. Fame kayak lagi sharing aja, apa yang dia rasain waktu dia sampai di titik A, pusing menentukan harus lanjut nebeng di daerah T, atau harus teriak dan histeris menyelamatkan diri dari mobil di daerah X. SERU.
Trus jadi pengen nyicip soto mbak Fame yang kesohor itu. Udah melalang buana cuy ceritanya. #Apalah
Terakhir buku ini direkomendasikan buat anak-anak pejalan yang ngehits sampai calon anak-anak pejalan seperti saya. Hahaha... Salam
Pertama kali saya membaca buku traveling adalah The Naked Travelernya Trinity dan mengikutinya hingga seri terakhir. Kelana memberikan rasa yang sama yang diberikan TNT kepada saya, tetapi dengan sentuhan yang lain. Bukan hanya perjalanan Famega melalui jalur darat, tetapi ada kehangatan di setiap babnya.
Yang paling menyentuh bagi saya adalah pertemuan Fame dengan orang Amerika yang berkunjung ke Auschwitz untuk mengenang kakeknya sebagai korban genosida. Perkenalan yang tidak sengaja di sebuah restoran membawa Fame menelusuri kisah hidup penyintas genosida.
Saya sepakat bahwa traveling bukan hanya sekadar jalan-jalan menghabiskan uang, tetapi traveling adalah pelajaran kehidupan. Dengan traveling, orang akan tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas. Dengan mengalami menjadi minoritas, ia akan lebih menghargai perbedaan. Bukankah itu pelajaran yang berharga?
Buku penutup 2 minggu libur tahun baru yang seru dan amat bagus! Tentang perjalanan sang penulis buku yang melakukan perjalanan dari Indonesia hingga Maroko via jalur darat, melalui negara-negara Asia Tenggara, China, Mongolia, Rusia, Eropa, dan sampailah di Maroko, Afrika. Banyak cerita manusia-manusia baik yang ditemui selama perjalanan, bener-bener kaya travel vlog yang hampir setiap malam aku tonton di YouTube HAHAHA. Ini bukti kalau banyaaak sekali manusia, dimana pun itu, yang baik hati, padahal beda-beda asal, bentuk, bahasa, ras, dll. Waktu baca bisa senyum-senyum sendiri, bahkan hampir nangis karena ‘baik amat manusia!’ HUHUHU. Jadi berpikir, 2025 lalu sempat berkunjung ke 3 negara (alhamdulillah!), lalu 2026 ini akan traveling kemana ya, aku? Hehehe
Perjalanan sendirian keliling dunia yang tak terbayangkan, apalagi oleh seorang wanita. Kisah perjalanan yang mengagumkan, patut dibaca untuk yang masih mikir-mikir melakukan perjalanan sendiri, kemanapun.
"Kelana" adalah ‘teman perjalanan’ yang sangat menyenangkan. Beruntungnya waktu itu saat saya membacanya, saya sedang dalam perjalanan juga, jadi bisa semacam mirroring dengan perjalanan saya yang juga sama-sama lewat darat, kereta dan bus, meskipun perjalanannya di “Kelana” itu jauh sekali dari yang saya lakukan. Haha
Perjalanan darat dari Indonesia sampai Maroko di Afrika, melewati negara-negara di Asia Tenggara, China, Mongolia, Rusia, dan negara-negara Eropa adalah sebuah perjalanan yang tidak mudah, murah dan tentu akan aman-aman saja. Famega banyak menceritakan kisah-kisah menarik selama perjalanan. Dari yang menyenangkan, kurang menyenangkan, menegangkan, dan menginspirasi bisa kita temui. Saya suka cara Famega menyelipkan referensi bacaan, nama-nama tokoh (kebanyakan sastrawan) dan juga fakta pada sebuah tempat atau kejadian. Ada banyak hal kemudian membuat saya penasaran untuk mencari tahunya lebih lanjut.
Favorit saya adalah cerita sehari bersama Ibby di Latvia, dan juga cerita Paul saat mengenang Holocaust. Kisah-kisah lain yang jarang saya temui juga adalah cerita-cerita kehidupan orang Mongolia. Haha ternyata sangat menarik.
Sendirian bukan berarti kesepian. Kesendirian memberikan kebebasan untuk melakukan yang ingin dilakukan, tinggal atau pergi, lebih dekat atau menjauh. Ada banyak hal yang akan ditemui, dan selalu akan ada tangan yang membantu, karena dari manapun kita berasal, kita semua manusia. Tidak salah jika dibilang perjalanan ini dibilang perjalanan merayakan perbedaan. Hehe Semoga suatu hari, saya bisa punya cerita perjalanan saya sendiri. Karena seperti kata Famega “Perjalanan adalah kesunyian masing-masing”*.
*Disadur dari perkataan Chairil Anwar: Nasib adalah kesunyian masing-masing
"Rupanya orang Mongolia punya kepercayaan khusus soal menyantap kepala kambing. Kedua mata kambing harus dimakan oleh satu orang yang sama. Langit-langit mulut kambing tidak boleh dimakan oleh laki-laki karena akan membuat mereka cerewet. Namun, jika dimakan oleh pertemuan, dia akan jadi pintar mengatur keuangan." Hal.81.
Hehe, menarik ya? jadi, nggak apa-apa perempuan memakan langit-langit mulut kambing dan bikin mereka cerewet asal di saat yang bersamaan juga bikin mereka pintar kelola keuangan.
Kebiasaan warga lokal di Mongolia seperi ini yang menjadi bagian dari buku Kelana: Perjalanan Darat dari Indonesia sampai ke Afrika. Walaupun ya, nggak 100% via darat juga karena sebagian lagi menyeberang lautan. Namun, dari segi judul dan kesesuaian isi, sudah dapat dianggap oke.
Fame memulai perjalanan dari Indonesia dan menyeberang ke Malaysia. Lanjut naik ke atas menuju Thailand, Laos dan Vietnam sebelum kemudian masuk ke wilayah Tiongkok. Pada bagian ini sebetulnya nggak banyak yang ia ceritakan. Saya merasanya terlalu lempeng, hampir nggak ada konflik mengingat kota-kota itu dilalui sekilas.
Buku ini kemudian baru terasa menarik saat Fame masuk ke Mongolia menggunakan jalur Trans-Mongolia sebelum kemudian melakukan perjalanan panjang di jalur Trans-Siberia. Ada beberapa tempat yang ia datangi di Mongolia. Misalnya saja Kuil Buddha di Karakorum, sebuah kawasan yang pernah dijadikan ibukota oleh Jenghis Khan.
"Kota yang didirikan oleh Jenghis Khan pada 1220 itu menjadi bukti toleransi kuno antaragama dengan adanya masjid, gereja, serta kuil Buddha dan Syamanisme yang berdiri berdampingan. Sayangnya, kini hampir tidak ada jejak kejayaan dari kota yang sempat berperan penting di jalur sutra ini." Hal.73.
Interaksi Fame dengan keluarga nomaden juga seru. Seperti betapa susahnya untuk menggunakan toilet sebab jika mau kencing saja, harus berjalan jauh dari tenda tanpa penerangan sedikitpun. Sebuah pengalaman yang walaupun terdengar ngenes tapi sangat mewah. Mengingat Fame harus ikutan tur dengan biaya yang lumayan mahal jika mau menjelajahi Mongolia.
"Pada 1891, Tsar Nikolai II memerintahkan dimulainya pembangunan rel. Hasilnya, pada 1916, jalur kereta Trans-Siberia membentang sejauh 9.289 km melintasi tujuh zona waktu!" hal.95.
Kebayang betapa panjangnya rel yang dibangun oleh 90.000 pekerja ini. Nih ya, jarak dari Sabang hingga Merauke saja itu 5.245 kilometer. Dan rekor naik kereta terjauh dan terlama saya yakni dari Kolkata ke Agra menempuh jarak 1.343 km dengan waktu tempuh 30 jam. Jadi, gak heran jika naik Trans Siberia waktu yang diperlukan itu hingga 8 hari!
Sayangnya, pada bagian ini tidak terlalu banyak dikupas.* Yang menarik kemudian adalah pengalaman Fame saat sudah berada di Eropa dan melakukan hitchhiking (menebeng) di mana, Fame banyak bercerita tentang orang-orang yang ia temui. Oh ya Fame juga menggunakan couchsurfing untuk mendapatkan tempat tinggal.
Obrolan-obrolan antara ia dan host/tuan rumah yang menjadikan buku ini jadi lebih beryawa. Seperti saat ia menginap di kediaman Paul yang merupakan cucu dari korban Holokaus.
"Buat saya, Auschwitz adalah pengingat bahwa biar bagaimanapun kemanusiaan akan menang. Saya seolah ingin bilang bahwa, 'Hei, saya masih hidup, kejahatan kalian tidak akan menang.'" Hal.186.
Pertemuan Fame dan Ibby di Latvia juga berkesan bagi saya. Di mana, Ibby berkata, "Moralitas sayalah yang memandu saya. Individu tidak bertanggung jawab kepada sistem, tapi kepada moralitasnya sendiri." Ya, hidup Ibby, yang pernah membakar paspor Australianya sebagai "protes" jika banyak hidup orang terkurung karena kewarganegaraannya. "Saya tidak membawa benda yang membuat saya dihakimi karena kebangsaan saya." Hal.156.
Masih banyak lagi pengalaman menarik yang diceritakan Fame di buku setebal 261 halaman ini. Tidak semua mulus tentu saja. Fame sempat kecurian laptopnya saat berada di Praha, Ceko. Yang menarik adalah ia mendapatkan kabar berkala dari polisi di sana bahkan setelah ia pulang ke Indonesia.
"Meskipun laptop saya tidak ditemukan dan penjahatnya tak ditangkap, rasanya senang diberi tahu status terbaru mengenai kasus tersebut. Rasanya seperti dimanusiakan." Hal.193. Beda sekali kan dengan kepolisian Wakanda yang warga udah kena musibah aja malah dimintain duit :p
Pada akhirnya, buku Kelana: Perjalanan Darat dari Indonesia sampai ke Afrika -"cuma" Maroko btw, memang buku yang menarik. Hanya saja, saya merasa buku ini masih dapat dikembangkan lagi secara maksimal. Apalagi mengingat Fame adalah wartawan media yang sangat terkenal. Jadi, seharusnya bercerita lebih mendalam bukanlah kendala berarti baginya.
Yang saya suka lagi dari buk terbitan KPG ini, terdapat banyak foto yang dicetak berwarna. Ini salah satu kemewahan, sebab saya tahu biaya produksi buku berwarna itu memang jauh lebih tinggi ketimbang buku-buku yang fotonya hanya dicetak hitam putih.
Skor 8/10
*Saya punya buku Jelajah Rusia dengan Trans Siberia yang belum dibaca. Sepertinya di buku itu perjalanan Trans Siberianya jadi highlightnya.
Buku ini berisi catatan perjalanan dari Indonesia ke Afrika melalui jalur darat. Menyusuri Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, Tiongkok, Mongolia, Rusia, Estonia, Latvia, Lithuania, Polandia, Kraków, Republik Cek, Swiss, Prancis, Spanyol, dan berakhir di Maroko. Semua dilakukan oleh perempuan dan seorang diri! Gila salut sama penulisnya! Tapi sayangnya, negara sebanyak itu hanya dikemas melalui buku setebal 264 halaman saja. Banyak hal-hal kecil seperti bagaimana persiapan internet roaming, atau bagaimana perasaan jika kesepian melanda tidak dijelaskan secara rinci. Terlebih lagi setiap negara atau kota hanya diceritakan kurang lebih sebanyak tiga lembar saja. Berasa seperti lagi mulai membayangkan tapi harus dihentikan secara paksa karena babnya sudah habis huhuhu. Buku ini juga mengungkap banyak pertolongan manis dari orang tidak dikenal sekalipun saat bepergian, heartwarming banget pas baca. Oh ya di beberapa bab juga ada lampiran dokumentasi perjalanannya, menarik banget! Kelana masuk dalam kategori kalau dia keluar dengan tiga series dan dijelaskan rinci, aku sudah pasti akan membeli dan menjadikannya kitab~~
Saya menantikan membaca petualangan darat dari Indonesia menuju Afrika. Dan buku ini adalah jawabannya. Si penulis menceritakan tentang pengalaman-pengalaman yang ditemui selama perjalanannya, seperti berdiri 24 jam di kereta saat berada di Tiongkok, menyelami sejarah, bahasa, geografis, dan kearifan lokal beberapa bangsa-bangsa Asia, Eropa, dan Afrika (Maroko). Meskipun beberapa negara kurang dipaparkan secara detail, karena si penulis mengejar tenggat waktu kadaluarsa visa. Terlepas dari kekurangan yang ada, It's Okay lah, tidak jadi masalah serius. Pengalaman penulis yang telah mengarungi lebih dari setengah lingkar bumi di bagian khatulistiwa atau 23.181 km dan ia tuangkan dalam buku ini menjadi penghibur sekaligus insight bagi pembaca.
Jangan nyesel yaaa.. pas udah buka buku ini bakal kepingin berkelana seperti Miss Famega, perempuan berani yang menaklukkan isi peta 18 negara dengan lincah beliau hadir untuk berkarya sekaligus berkelana dalam waktu 4,5 bulan. Ga cukup itu kecerdasan emosional beliau sudah terlatih dengan perjalanan nun jauh itulo. Inilah alasan mengapa pergi untuk kembali atau pulang menjadi manusia yang lebih baik. Kesederhanaannya membuat setiap pembaca terlena. Tentu dengan berkelana membuat Miss Famega akan lebih banyak membawa bekal dalam benak pikiran dan kenangannya dinegeri tertinggal tsb. Ayukkkkk baca buku ini💙
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sudah lama sekali sejak terakhir membaca satu buku dalam sekali duduk. Buku ini mengembalikan keseruan membaca yang sempat hilang. Famega mencatatkan perjalanannya dengan sederhana, tetapi tanpa alpa menyentuh isu-isu sensitif yang sangat penting. Saya bisa membayangkan bertualang di samping Fame melewati kompleks ger di Mongolia, patah hati karena tak bisa ke Granada, hingga marah pada Muhammad di Maroko. Pilihan bahasa yang digunakan Fame membuat hati terasa hangat, dan ingin menangis terharu saat halaman terakhir ditutup.
Dugaan saya ini adalah buku bagian pertama. Setelah ini mungkin ada sekuel sekuel lainnya. Untuk perjalanan panjang seperti ini, penulisannya sangat ringkas. Banyak hal hal yang sepertinya bisa digali lebih dalam, panjang dan lebar. Meski ringkas ini buku perjaalanan yang sangat menarik. Dan sangat ‘menghasut’ pembaca supaya jangan pernah takut modal berani melewati perjalanan yang panjang, getir, melelahkan dan aduhay sekaligus
Ini buku traveling pertama yang saya baca. Karena apa yang Fame lakukan dan ceritakan dibuku ini merupakan sesuatu yang saya impikan sejak lama. Penulisannya sederhana, tidak basa basi. Mudah dimengerti dan dipahami, cukup membawa saya membayangkan tiap tempat dan kejadian yang Fame datangi dan alami. Terimakasih sudah berbagi saya semakin termotivasi!
I think, this book was super inspiring. How can a woman went alone with a land transportation get through almost one world. Met peoples with different cultures, join their yearly parade and making a warm friendship with them. Famega told her story with a light narrative and attached many pictures so we can imagine if we go there too. Can't wait for your next book.
Buku yang menuturkan perjalanan secara apik, runut, menarik. Kisahnya relate dengan sebagian perjalanan saya sehingga menarik dibaca. Bukunya handy alias mudah dibawa kemana mana. Salah satu buku travel terfavoritt!!!❤️
Memoar selalu membawa kita ke sebuah perjalanan yang dekat dengan perasaan. Tawaran prespektif soal berkelana, beberapa ketakutan yang merangkap berani. Menyenangkan.
Senang sekali membaca buku Kelana ini, setiap moment yang diceritakan berkesan dan membuat saya semakin semangat untuk bisa sampai di Afrika lewat jalur darat dan laut. Hehe.