Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran

Rate this book
Novel ini bercerita tentang Sawitri, seorang ibu di sebuah keluarga desa, yang selalu menanam pohon dengan karakter berbeda-beda untuk setiap anak yang ia lahirkan. Dia berharap, anak-anaknya kelak akan tumbuh dan hidup dengan karakter seperti karakter pohon-pohon itu. Tak hanya itu, bagi Sawitri, pohon-pohon itu juga menjadi obat kangen, penghibur, pengingat, dan penanda manakala anak-anaknya telah pergi merantau—meniti jalan hidupnya masing-masing—dan tak kembali untuk sekian lama.

Tujuh anak Sawitri kelak memang tumbuh dengan karakter dan kisahnya masing-masing. Ada kisah berliku yang sarat tragedi, kesedihan, kepiluan, trauma, perjuangan, kesulitan, kekerasan. Ada pula kisah yang lurus, menyenangkan dan membahagiakan. Dari warna-warni kisah itu, novel apik nan menyentuh hati ini mengajak kita masuk ke dalam relung batin dan rasa masygul orangtua yang ditinggalkan anak-anaknya, juga anak-anak yang jauh dari orangtuanya.

Di atas semua itu, kita dapat mengambil hikmah dan inspirasi tentang sikap dan nilai-nilai yang penting guna mengarungi samudra kehidupan: kesabaran, keikhlasan, kepasrahan, ketulusan, keteguhan, kegigihan, pantang menyerah, serta kasih sayang dan kecintaan yang besar pada keluarga dan kampung halaman. Inilah novel yang akan menggugah hati dan jiwa kita.

*****

“Menempatkan pohon sebagai subjek cerita, novel ini sedang mengujarkan suatu tema ekologi secara metaforis. Tema ini penting sebagai counter—setidaknya sebagai imbangan—terhadap tema-tema ‘milenial’ yang sekarang tengah digandrungi.” —Kiki Sulistyo, Penyair, Peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

“Dongeng yang indah tentang hubungan-hubungan, cinta, dan garis nasib manusia yang ada di dalamnya. Mashdar Zainal memiliki ketekunan dan detail bagus dalam mengungkap 'absurditas' manusia ketika harus melewati 'lorong waktu' yang tak mudah dipahami.” —Yanusa Nugroho, Sastrawan

“Mashdar Zainal meramu gejolak keluarga bersama gejala alam, peristiwa yang sangat dekat dengan pembaca dan disampaikan dengan bahasa yang lugas, memikat, dan penuh makna.” —Eko Triono, Cerpenis

296 pages, Paperback

First published March 1, 2018

6 people are currently reading
29 people want to read

About the author

Mashdar Zainal

22 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (42%)
4 stars
13 (46%)
3 stars
3 (10%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Hasan Fahri Pamona.
19 reviews6 followers
October 8, 2018
Sahabatku yang satu ini sepertinya mengalah pada keinginan di luar teks yang ingin dia sampaikan.


Mulanya naskahnya diikutsertakan dalam Sayembara Novel DKJ 2016 silam dengan judul “Anak Pohon”. Masuk dalam jajaran 25 besar tahap penjurian pertama membuat saya tak sabar menunggu hasil jadinya. setelah tidak lolos sebagai pemenang, waktu yang longgar membuatnya mempermatang teks dengan penceritaan yang sangat tenang, dan tuturan yang halus. Hampir tak ada eksperimentasi dari suguhan ceritanya. Kalimatnya efektif. Kaidah kebahasaannya dijaga betul, sehingga dalam pembacaan tak ada yang membuat tersendat-sendat.


Cerita dalam novel ini mencerahkan? Ya saya rasakan filsafat yang dalam sebatang pohon, metafora menjadi kendaraan utama. Saya tak perlu meraba naskah asli ketika ia dulunya menjadi salah satu peserta lomba di atas. Yang terasa dalam pembacaan memanglah sangat matang, sahabatku ini tak terburu-buru menerbitkannya setelah “Semua Ikan” melambung di langit pujian. Saya anggap sahabatku ini punya niatan yang baik untuk mematangkan teks.


Hanya saja, judulnya telah berubah menjadi lebih boombastic! (Seakan-akan hanya novel yang bernilai motivasi yang laku di pasaran). Tambahan taglineship : novel menakjupkan soal nilai-nilai kehidupan terlalu mengganggu. Katakan cerita ini sangat matang dan menyentuh. Tapi, apakah kita sebagai penulis mau tunduk dengan keinginan penerbit yang seringnya seolah-olah pelabelan itu akan meluaskan pasaran, yang justru bisa jadi menjerat daya apresiasi pembaca.


Semoga sayembara di tahun 2018 ini sahabatku mendapatkan hal yang lebih membahagiakan. Semoga sayembara tahun ini membuahkan hasil. Tapi, jika nantinya naskah alan terbit, kita sebagai penulis harus juga punya daya tawar untuk memperhankan minimal 80 persen dari konsep yang semula. Penerbitkan bukan hanya satu. Penulis banyak, penerbit juga banyak.

(Gini hari saja penjualan di daring / online punya daya tawar; tidak boleh lebih dari 10 jam, pemesan yang belum membayar dianggap hangus. Penjual dan pembeli punya waktu yang sama sama berharga. Begitu juga penerbit mana pun punya waktu yang sama persis dengan penulis mana pun).

Satu penerbit lain pasti juga menunggu dengan peluang yang sama. Sebar jala, penerbit dan penulis sama-sama boleh memberikan sinyal antrian. Masa cuma penulis yang nunggu antian? Penerbit juga boleh dong kita tawar. Bahkan konsep yang sejatinya saat teks dibuat. Penulis dan penerbit punya hak yang sama. Sebar jala, jangan ragu, sahabatku. Tabik! (Pendapat subyektif).
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews10 followers
November 12, 2018
Seperti pohon yang meneduhimu
Hidup menyaksikan waktu berjalan
Usia bergulir seperti air
Merasuk dalam seperti akar
Kupandangi daun-daunku berguguran
Mengecup tanah, menyatu

Hmm, mungkin ini pertama kalinya saya membaca novel karya Mashdar Zainal, penulis yang justru saya kenal setelah membaca salah satu cerpennya di Kompas edisi minggu sekitar setahun lalu, mungkin.
Apa yang disajikan di sini sebetulnya menarik, dilihat dari nilai filosofis sebuah pohon. Dan tentu saja membuat saya berekspektasi hal-hal berbau sufistik yang pada akhirnya tidak terlalu ada di sini. Namun, pesan-pesan mengenai pentingnya hubungan keluarga, hubungan manusia dan alam adalah sebuah nilai tambah bagi novel ini. Meski, saya merasa ada yang kurang, entah karakter yang kurang matang atau narasi yang terlihat agak mengganjal (mungkin karena saya kebut membacanya ya 🤔) dan terutama, jika saya bandingkan dengan membaca cerpennya novel ini cenderung tersendat meski tidak terlalu terlihat.
Tapi dibalik itu semua apa yang disajikan di sini tetap bagus untuk diikuti.
3 reviews1 follower
June 16, 2024
Saya tidak tahu kenapa buku ini sangat jarang muncul direkomendasi padahal bukunya sangat bagus. Pengggambaran kehidupan tokoh-tokoh juga dikemas dengan sangat unik menggunakan sudut pandang dari pohon-pohon kelahiran setiap anak. Saya suku keseluruhan cerita serta narasi yang digunakan penulis. Tidak hanya soal kehidupan, tetapi di dalam novel ini juga diajarkan tentang mencintai alam. Buku yang mengandung banyak makna seperti ini layak untuk dibaca. Terima kasih kepada penulis yang telah menulis sebuah novel yang indah
Profile Image for Damma.
152 reviews9 followers
March 21, 2021
Bercerita tentang 7 orang anak yang memiliki pohon masing masing. Pesan ayahnya, rawatlah pohon itu dengan jiwa dan raga kalian, karena sikap kalian terhadap pohon itu mencerminkan diri kalian sendiri.

Baru kali ini baca buku dengan pov tumbuhan dan hasilnya bagus banget, ceritanya pun unik. Jadi menyalakan hasrat kelak menanam pohon kelahiran 🙈

Minusnya cuma ada beberapa kata yang sama sekali gatau artinya, untungnya tidak mengganggu jalan cerita.
Profile Image for Astri.
9 reviews
January 22, 2022
Buku yang mengangkat tema yang sederhana tapi kaya akan nilai-nilai hidup. Saat membaca saya merasakan tenang dan ikut hanyut dalam cerita keluarga sawitri. Penulisan serta pembawaan penulis membuat saya nyaman ketika membaca bukunya. Emosi yang yang berusaha ditampilkan dalam buku membuat saya ikut juga merasakan apa yang dirasakan anggota masing-masing keluarganya. Serta ceritanya sangat relate dengan kehidupan nyata sehari-hari.
Profile Image for Heru Prasetio.
210 reviews2 followers
June 20, 2020
"Novel dengan tema eco-philosophy ini memiliki alur yang dingin dan sabar namun kuat di akar cerita. Pembaca diajak berkelana dalam dunia kearifan. Belajar dari kebijaksanaan bapak, kekuatan ibu dan kisah anak yang dibisikkan para pohon. Terima kasih buat penulis, mulia sekarang aku percaya kalau tumbuhan dapat berbicara."
Profile Image for Aprianto Nugraha.
100 reviews2 followers
March 15, 2019
Gila! Gw ga nyangka bakal sebagus ini. Bener - bener analalogi yang bagus banget soal kehidupan. Yang datang dan yang pergi. Takdir kesendirian. Gila!
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.