Jump to ratings and reviews
Rate this book

Menolak Ayah

Rate this book
Ini bukan sebuah epos dari perjuangan di masa PRRI. Hanya kisah anak Batak yang melata hingga ke Jakarta. Tatkala seorang laki-laki mengabaikan istrinya, hanya meninggalkan penderitaaan bagi perempuan, pantaskah dia menjadi seorang ayah? Ingatan pada ibu adalah sumber daya cinta. Perempuan adalah semesta kasih bagi Tondinihuta.

434 pages, Paperback

First published July 16, 2018

21 people are currently reading
212 people want to read

About the author

Ashadi Siregar

23 books16 followers
Tanda penghargaan/kehormatan

1.Medali Satyalancana Karya Satya XX Tahun, Presiden RI (1999)
2.Medali Piagam Pengharaan Kesetiaan, Rektor Universitas Gadjah Mada (1999)
3.Medali Satyalancana Karya Satya XXX Tahun, Presiden RI (2007)
4.Press Card Number One, Penghargaan Panitia Pusat Hari Pers Nasional, Persatuan Wartawan Indonesia Pusat (2010)


Pekerjaan/jabatan sekarang

1.Pegawai Negeri Sipil pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1970), pensiun Pembina Utama Madya IV/d (2010)
2.Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya/LP3Y


Pengalaman profesional

1.Redaktur Mingguan Publica Yogyakarta (1968)
2.Dosen tetap pada Jurusan Publisistik/Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1970 – 2010)
3.Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Mingguan Sendi Yogyakarta (1972 – 1973)
4.Pembantu lepas (stringer) Majalah Tempo Jakarta untuk Yogyakarta (1973)
5.Anggota Direksi Lembaga Penelitian Pendidikan Pener­bitan Yogya/LP3Y (1982 – 1992)
6.Penasehat/advisor untuk produksi 3 film berdasarkan novel Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu dan Terminal Cinta Terakhir (1976 – 1977)
7.Perancang dan supervisor berbagai pelatihan jurnalistik (1980 – sekarang)
8.Perancang dan supervisor berbagai pelatihan penulisan skenario televisi (1980 – sekarang)
9.Perancang dan supervisor berbagai pelatihan manajemen seni pertunjukan (1980 – sekarang)
10.Perancang dan supervisor berbagai pelatihan untuk aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tentang manajemen perencanaan pembangunan masyarakat (1982 – sekarang)
11.Konsultan media massa (1982 – sekarang)
12.Sekretaris Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (1990 – 1996)
13.Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya/LP3Y (1992 – sekarang)
14.Dewan Pengawas Yayasan Institut Arus Informasi (ISAI), Jakarta (1994 – 2008)
15.Produser Eksekutif Produksi Film Televisi Tajuk 6 (enam) episode ditayangkan di Televisi Pendidikan Indonesia/TPI (1996)
16.Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (1996 – 1999)
17.Redaktur Ahli Majalah JURNAL Pasar Modal Indonesia, Jakarta (2000)
18.Advisor Komunitas TV Publik Indonesia (KTVPI/Yayasan Sains Estetika Teknologi – SET), Jakarta (2000 – 2001)
19.Ketua Tim Ombudsman SKH Kompas (2003 – sekarang)
(http://ashadisiregar.com/curriculum-v...)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
32 (27%)
4 stars
59 (50%)
3 stars
22 (18%)
2 stars
3 (2%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 35 reviews
Profile Image for Delasyahma.
242 reviews123 followers
May 7, 2019
Buku ini menceritakan perjalanan hidup anak Batak bernama Tondinihuta, yang ditinggalkan ayahnya dari kecil, sang ayah pergi meninggalkan tanah Batak dan menjadi pejabat di Ibu Kota Jakarta. Sang ayah bahkan membuang nama marganya yang ada di belakang namanya. Ibu Tondi hanyalah pedagang warung gorengan di bawah jebatan kereta api. Halia --ibu Tondi-- bertekad untuk setia kepada marga Padomutua;suaminya. Suami yang bahkan terasa bukan suami, karena Pardomutua tidak pernah datang lagi padanya, tapi juga tidak pernah meminta cerai. Tapi, Halia tetap setia, dia tidak ingin mengecewakan Inangboru dan Amangborunya. Sementara Tondi, hidup dengan segala keterbatasan, tidak mampu melanjutkan sekolah. Dan berakhir menjadi kenek bus.

Seiring berjalannya waktu, kehidupan Tondi berubah. Dia bukan lagi kenek bus. Tapi sekarang dia berada didalam pasukan relawan PRRI ( Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia ), dia dilatih untuk menjadi pejuang melawan ketidakadilan di daerahnya. Sebenarnya, Tondi sendiri tidak begitu paham apa arti perang ini. Dia hanya tau PRRI dibentuk karena kekecewaan daerah-daerah terhadap pemerintahan pusat pasca kemerdekaan. Pemerintahan Soekarno kurang memeperhatikan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah, bangunan-bangunan yang rusak pasca perang melawan Belanda banyak yang terbengkalai dan tidak pernah di perbaiki. Bagi anggota PPRI ini adalah perjuangan, tapi bagi Soekarno PRRI adalah sebuah pemberontakan.


Jika ditanya apa hal yang membuat saya membawa buku ini dari jejeran buku-buku lain yang berada di rak toko buku yang saya datangi, itu adalah karena latar dari buku ini, yaitu kisaran tahun 1957-1965. Entah kenapa saya selalu suka dengan buku fiksi yang memiliki latar waktu yang jauh sebelum saya lahir. Ketika sayaitulah membacanya, saya merasa berada didalam dimensi lain. Saya merasa waktu terus berjalan, tapi cerita yang ditulis tidak akan habis di telan waktu. Itulah mengapa saya merasa harus membaca buku ini, kendati saya sendiri kurang banyak paham tentang PRRI, namun setelah membaca buku ini saya banyak mencari tahu apa itu PRRI.

Pada bagian awal ketika saya mambaca buku ini, ada hal yang membuat saya merasa buku ini berat.
sekalian
Apalagi kalau bukan soal istilah atau bahasa Batak yang ada didalam buku ini, karena asal saya bukan dari Batak dan jarang sekali membaca buku tentang daerah tersebut, saya merasa asing dengan bahasa yang digunakan. Yang saya tahu masyarakat Batak selalu memiliki marga, dan jika memiliki marga sama, maka mereka memiliki ikatan saudara dan tidak diperbolehkan menikah. Koreksi jika saya salah. Dari pengetahuan yang sepotong-sepotong itu saya merasa buku ini berat dan saya harus pelan-pelan membacanya. Untung saja, terdapat glosarium diakhir halaman buku. Jadi jika ada bahasa yang tidak saya pahami, saya langsung meluncur ke halaman akhir buku.


Saya suka cara penulis bercerita, gaya bahasa yang digunakan juga pas sekali. Saya tidak pernah merasa kebingungan saat mencerna kalimat-kalimat yang ada didalam buku. Malah menurut saya buku ini kaya akan diksi-diksi yang tersirat. Cara penulis yang cukup satire dan sarkas membuat tulisannya keras mengkritik pemerintah pada masa Soekarno. Melalui buku ini, saya bisa melihat sisi lain dari Bung Besar. Bukan menjadi tidak suka ataupun berubah sinis. Hanya saja bisa sedikit realistis menilai sosoknya. Dimana pada masa itupun, politikus-politikus hanya mengutamakan kepentingannya sendiri. Saya merasa posi sejarah dan juga kisah keluarga Batak dalam buku ini terasa sangat seimbang dan pas, romansa, keluarga, persahabatan, mistis, dan juga tentang peperangan. Saya sebagai pembaca merasa terpuaskan dengan apa yang ditulis dalam buku ini. Konfilk dan klimaks dalam buku ini menurutku memuaskan.


Saya suka buku ini, selain dari itu semua, buku ini memberi saya banyak pengalaman dan pengetahuan baru. Tentang orang- orang Batak, bagaimana mereka ternyata dahulu pernah memiliki keyakinan tersendiri yang mungkin sampai sekarang masih ada di Batak sana. tentang PRRI, tentang Soekarno dan orang-orang didalam pemeritahannya, tentang perjuangan seorang anak muda didalam hutan belantara. Dan tentang kesetiaan seorang perempuan. Tentang seorang anak yang ternyata memiliki kebahagiaan takterhingga karena bisnisnya ditengah prahara 1965.



Kalian semua, hars baca buku ini. Jangan sampai dilewatkan.


4,5/5🌟
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
March 7, 2019
Menolak Ayah atau Menolak Anak?

Seorang anak yang tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah dalam hidupnya. Penolakan atas sosok seorang ayah yang tidak pernah ada. Dilatar belakangi kondisi politik diawal kemerdekaan dan berujung peristiwa Gestok tahun 1966. Keluarga Batak yang tercerai berai karena ayah yang menolak anak. Ayah yang merasa adat istiadat dan keluarganya sudah tidak sesuai dengannya. Anak dan isteri yang tersia-sia Inang dan Tondinihuta.

Selain dunia nyata, cerita alam lain juga turut berperan dalam kisah ini. Meski ada sedikit tanya soal Tondi yang bertemu Longgom yang awal bertemu sepertinya di alam lain, hingga Tondi yang merasa hanya melewati waktu bersama mereka selama beberapa hari tapi ternyata telah melewati waktu dalam hitungan tahun. Tapi kemudian bertemu kembali di dunia nyata.

Adat, agama, keluarga, politik, asmara (?) membingkai cerita hidup Tondi, Ompu Silangit, Inang, Pardomutua, Masri, Habibah, Longgom.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
July 22, 2023
Bagaimana kehidupan seorang anak laki-laki Batak yang keberadaannya ditolak oleh sang ayah. Hanya ibunya yang selalu menjaga dan memberikan yang terbaik bagi diri ya.

Walaupun belakangan mereka bertemu, namun hubungan keduanya tidak harmonis. Bukan juga karena hal yang tertera di halaman 145,"Laki-laki Batak jarang berbicara dengan istri, anak-anak, apalagi menantunya. Biasanya laki-laki Batak akan bebas berkelakar dengan kemenakannya laki-laki, anak-anak saudara laki-laki."

Meski demikian, ia tetap mau menjaga keluarga baru sang ayah, ketika mereka tertimpa musibah. Bagaimana juga, mereka saudara sedarahnya. Perbuatan yg sungguh mulia.

Banyak kalimat yang layak untuk dijadikan bahan perenungan. Misalnya pada halaman 107, tertulis kalimat "Kalau kau ikut berperang, kau harus tahu siapa musuhmu."

Kadang, dalam kehidupan kita juga harus "berperang". Maka, untuk bisa menang, kita harus tahu apa dan bagaimana musuh kita.

Pembaca tentunya akan menemukan berbagai uraian tentang kehidupan bermasyarakat suku Batak. Untuk pembaca umum, disediakan Daftar Istilah di halaman 420-434.
Profile Image for rekasakti.
25 reviews10 followers
March 20, 2019
Barangkali, ini novel pertama saya yang menggambarkan adegan erotis. Namun, Siregar tidak melulu berbicara perihal seksualitas.
Menolak Ayah menggambarkan pergulatan kehidupan seorang Batak bernama Tondi. Agaknya agar membuat penasaran, marga dari tokoh utama tersebut, oleh Siregar tidak diberitahukan.
Menjadi catatan, akhir dari novel ini begitu aneh. Ialah akhir-bahagia: Tondi (yang baik, sebagai tokoh utama), menghadapi masalah, dan menerima kebaikan, sementara ayahnya, digambarkan dengan negatif, mengalami akibat dari perbuatannya.
Artinya, batas antara baik-jahat, atau moralitas, dalam novel ini begitu tegas. Karma bermain. Saya menaruh curiga ini dikarenakan novel tentang kebudayaan Batak, atau penulis (Siregar sendiri) ialah orang Batak, dan dengan demikian novel ini bekerja.
Profile Image for Luz.
1,027 reviews13 followers
December 1, 2021
Novel ini berisi rangkaian kejadian sejarah dimulai dari PRRI, Nasakom Soekarno, dan Gestok sebagai akhir orde lama dan awal dari orde baru-nya Soeharto. 4/5 ⭐
Profile Image for Santi Rahmayanti.
41 reviews
March 30, 2019
Cerita tentang orang Batak yang ditulis oleh orang Batak, dengan latar juga lingkungan Batak sekitaran Danau Toba hingga Sipirok, yang dilengkapi dengan bumbu adat dan cerita mistis di ranah Batak, setting waktu saat pemberontakan PRRI. Oya, tak lupa, sang legenda Bus Sibual-buali juga ikut menjadi saksi bisu kisah si Tondinihuta ini. 😉
12 reviews
October 6, 2021
Menceritakan perjalanan hidup seorang batak bernama Tondinihuta yang ditinggal oleh ayahnya (Pardomutua). Tidak hanya ditinggal secara fisik, tapi juga segala hal yang bertalian antara keduanya. Tumbuh hingga remaja dalam asuhan ibunya (Halia) bersama dengan ompung dan ompungborunya. Nilai-nilai Batak diterimanya dari Ompungnya, seorang Datu Parmalim yang mewariskan beragam pustaka dari leluhurnya.
Tondinihuta remaja yang putus sekolah dan menjadi kenek bus mencoba mengikuti jejak ayahnya yang mengubah hidup melalui jalan perang, akan tetapi perang yang ia ikuti nyatanya berbeda. Setelah menjadi pasukan PRRI kisah hidup Tondinihuta mengalami banyak sekali perubahan yang pada akhirnya membawanya hidup di Jakarta.

___
Halaman pertama buku langsung menyebutkan "sibualbuali", sebuah perusahaan bus legendaris di Sumatera Utara. Dialog-dialog yang menggunakan bahasa batak agaknya seperti tulisan yang bisa didengar bagi saya karena kebetulan juga berdarah batak.
Penjabaran tentang sistem kekerabatan orang batak mungkin akan menyulitkan bagi pembaca yang asing dengan hal itu sebelumnya.
Novel yang memuaskan ekspektasi ketika menyelesaikannya. Walaupun sempat merasa bosan dengan cerita-cerita yang terasa terlalu lambat di bagian pertengahan buku, tetapi cerita terselesaikan dengan baik.
Menolak Ayah, bagi Tondinihuta bukan lah tindakan emosional balas dendam terhadap lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Ayahnya, seorang lelaki batak yang tidak hanya meninggalkan anak dan istrinya. Melainkan juga meninggalkan Bapak, Ibu, Marga, serta seluruh hal yang mengikatnya dengan leluhur. Singkatnya ia meninggalkan jatidirinya untuk menjadi orang baru yang dianggapnya sebagai kehormatan dan kenyamanan hidup di Jakarta.
Tondinihuta, sekalipun tanpa ayah ia tetap terhubung sebagai penerus marganya. Pewaris darah ulubalang yang pernah berjuang menjaga rajanya, sukunya, dan nilai-nilai luhur para pendahulunya.
Tondinihuta yang memegang teguh nilai-nilai yang diajarkan ompungnya, serta Halia yang memilih tetap merawat Tondi tanpa menikah lagi dengan seorang Belanda yang menawarkan kehidupan lebih nyaman menggambarkan keteguhan hidup orang Batak dalam memegang prinsip. Sedangkan Pardomutua menuai hasil dari apa yang ia lakukan sebelumnya.
Profile Image for Shan Patricia.
9 reviews
November 5, 2022
Hampir tiga minggu novel ini baru selesai. Memang yang baca agak tulalit karena mesti ngulang halaman biar inget kronologisnya.

Kesan saya terhadap Menolak Ayah ini, wedan! Wkwkwkwk. Bagus bener. 9.8/10

----
Buat yang suka historical fiction dan legenda, novel ini memanjakan pikiran kita-kita ini.

Ceritanya berlatar tahun 1958-1966 dan mengisahkan perjalanan hidup putra Batak bernama Tondinihuta yang tergabung di suatu angkatan bersenjata. Dia ini keturunan ulu balang (petinggi suku di sana, CMIIW) yang pernah mengabdi sama Si Singamangaraja. Jadi, banyak ajaran dari pustaha (pustaka) seperti mantra-mantra yang diturunkan sama Ompungnya ke dia. Dari sinilah, perjalanannya untuk sampai ke Bukittinggi yang setengah mistis itu dimulai.
---
Saya suka elemen sejarah kedaerahan tentang asal usul Suku Batak dan segala bentuk kegiatan adat di sana begitu ditonjolkan oleh Pak Ashadi. Buat saya yang sukunya gajelas apa wkwkwk alias campur-campur, tentu senang bukan main menyelami kisah-kisah legenda tentang Sianjur Mula-Mula bahkan tentang dinamika marga-marga Batak di wilayah dataran Toba itu. Terlebih, ada bab yang membawa kita ke dunia Begu, harajaon gaib yang kalau kata orang diumpetin setan.

Sejarah tentang penjajahan dari Perang Batak, Perang Aceh sampe Tingki ni Pidari sampai masa-masa Pemberontakan PRRI yang mana berakar dari perasaan terabaikan pejuang-pejuang di luar Jawa, juga betul-betul membawa saya pada klimaks yang mengesankan, dengan lirihnya narasi dari sudut pandang Tondi muda.

Drama keluarga antargenerasi tentang pertentangan antara adat dan modernisme, bagaimana ajaran kolonial memudarkan jati diri kesukuan seseorang, terlebih tentang kemelut perempuan yang ditinggalkan tanpa ada kata cerai, menjadikan kompleksitas novel ini terjalin mengagumkan. Lagi-lagi, kegundahan tokoh-tokohnya bukan lagi dinarasikan sama Pak Ashadi, tapi betul-betul dipampangkan sampai enggak ada celah buat kita ngerasa ini cuma fiksi.

Seperempat halaman terakhir, ketika Tondi mulai berjaya dengan bisnis rentalnya, beberapa bagian bikin saya terenyuh.

Plot twistnya juga kacau! Aku padamu Masrul!
9 reviews
March 11, 2020
Buku ini sangat Lelaki!

Semua tokoh perempuan (bahkan laki-laki) tergila-gila pada Tondi, sang tokoh utama.
Hal yang saya suka adalah latar belakang budaya batak yang masih jarang ada di sebuah novel dan Ibu Tondi, perempuan batak yang tabah dan kuat walaupun ditinggalkan suami dan kemudian anaknya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Samuel Ginting.
31 reviews1 follower
February 20, 2022
Novel terlengkap yang pernah saya baca, sejarah (khususnya tentang PPRI), budaya (Batak), filosofi hidup, dan tentang seksualitas. Dari segi cerita perjuangan hidup tokoh di dalamnya cukup menggambarkan kenyataan sebenarnya. Terima kasih Pak Ashadi Siregar, bukunya mengingatkan ku kembali akan akarku.
Profile Image for Ryan Alam.
37 reviews17 followers
September 7, 2018
Bung dan Nona, orang Batak ? tidak ada kata pengecualian dan abai, sodara/i harus baca buku ini !
Profile Image for Muhammad Nuril.
41 reviews1 follower
November 26, 2020
Ada beberapa tokoh yang kurang mendapatkan porsi cerita. Cukup 'gemas' dengan anak-anak alur yang dibangun.
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews9 followers
December 23, 2021
Buku karya Ashadi Siregar yg pertama kalinya saya baca dan sedikit agak menyesali melihat situasi ceritanya (belum lagi jalinan asmara dan persenggamaannya si tokoh utama), meninggalkan rasa kurang enak pada hati.

Sebagai penyuka budaya dan bahasa dari suatu adat juga, buku ini memikat untuk mengenal hal-hal tersebut, dan soal keterkaitan antara satu marga dgn marga lain dan tingkatan hubungan kekerabatan dalam keluarga utama juga keluarga kakak yg audah menikah.

Pembacaan buku ini begitu lancar, meski tema maupun materi di dalamnya kadang berat, tetapi bisa kuterabas hal itu dalam pembacaannya.

Membayangkan menjadi seoeang anak dari ayah yg bahkan jarang muncul dan tak berinteraksi secara komunikatif dengannya membuat saya agak terhubung dgn Tondi, meski saya hanya merasa asing kalau dgn ayah sendiri. Dan dia hanya mengenalnya inangnya, ompung serta ompungborunya yg mengasuhnya.

Makin lama orangtua tidak lagi sebagai orangtua. Tugasnya menunjukkan jalan tidak lagi dilaksanakan. Karenanya kau tak perlu kecil hati, meskipun ayah kau tidak pernah menunjukkan jalan padamu. Anak-anaknya yang lain, yang tinggal bersamanya di Jawa sana, belum tentu mendapat petunjuk dari dia. Tentu dia akan menyerahkan ke sekolah, agar guru-guru sekolah itu yang memberi petunjuk jalan. Padahal apa yang diketahui guru-guru itu tentang jalan untuk kehidupan?


Dan kutipan di atas memang menggambarkan bagaimana di masa kini banyak orangtua seperti itu, meski tidak semuanya, semacam ada refleksi dalam memandang peran orangtua ketika membaca bagian dialog Ompung Silangit, yg menurut saya malah jadi figur bapak rasa kakek buat si Tondi, yg seterusnya malah mengikuti insting rimbanya dalam pencarian jati diri dan proses berdamai dari kecamuk bencinya pada ayahnya.

Hanya saja, bagian petualangan birahi dalam buku ini sedikit banyak membuat kurang nyaman, meski ada benarnya soal jangan memakai ego atau hanya sekadar nafsu dalam berhubungan, partner harus diperlakukan dgn baik dlm membangun gairah dan tidak terasa seperti melampiaskan diri sendiri (yang dalam hal ini tokoh Pardomutua digambarkan seperti kuda liar).

Belum lagi bagian si Tondi, yg membuat saya bertanya-tanya apakah dia mengalami biseksualitas dlm hubungan seksnya.

Tapi dari itu semua, bagian yg melibatkan sejarah kelam soal peristiwa pasca kemerdekaan soal ketidakadilan memang menarik perhatian, bagian dimana terjadi serangkaian upaya memberontak dikarenakan ketidakadilan dlm tubuh kemiliteran Indonesia kala itu, apalagi karena tokoh founding father dan wakilnya ternyata gak melek soal ini.

Apalagi saya baru ngeh kalau Sukarno sendiri rada seperti pembual, dia hebat memang dlm berpidato dan membuat hubungan dgn negara lain cuman rasanya seperti dia berisik sendiri (maaf jikalau ini menyinggung)

Secara keseluruhan bukunya menarik, dan bisa jadi bahan diskusi lebih lanjut, bagian konklusinya diselesaikan secara tak terduga.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
August 6, 2025
Menolak Ayah karya Ashadi Siregar merupakan novel yang berlatar belakang kehidupan seorang remaja suku batak bernama Tondi di pasca kemerdekaan hingga tahun 1966. Ia ditinggalkan oleh sang ayah yang memilih menjadi sang penggede di Jakarta. Bersama ompung dan juga ibunya, ia meniti jalan takdirnya sendiri dan enggan bersinggungan dengan ayah kandungnya. Tondi memilih menjadi kenek bus antar kota, kemudian bergabung dengan PRRI, menjadi sopir pribadi seorang pimpinan tentara pasukan siliwangi hingga hijrah ke Jakarta menjalani bisnis transportasi dan juga prostitusi. Dalam perjalananannya tersebut ia dipertemukan dengan banyak kejadian yang membawanya pada takdir-takdir yang ia tak bisa hindari.

Kesan pertama setelah membaca novel ini adalah "lelah". Mungkin karena berlatar belakang sejarah, sehingga penulis memerlukan ruang yang cukup untuk mengeksplorasi cerita yang ada. Namun, hal lain yang mungkin saja menjadi penyebab "lelah" itu adalah bab-bab yang terlalu panjang yang kebanyakan berisikan narasi-narasi yang sedikit dialog.

Berikutnya yaitu terkait judul Menolak Ayah, buat sy terlalu harafiah dan eksplisit dimana setelah selesai membaca, bagian menolak ayah adalah gambaran besar dari keseluruhan cerita. Sedangkan cerita berjalan dengan narasi yang tidak terlalu banyak berkaitan tentang penolakan terhadap ayah. Cerita yang ada lebih erat tentang politik dan juga adat batak yang kebetulan si tokoh ditinggalkan oleh si ayah dan ia menolak untuk mengakui ayahnya.

Saya tidak begitu paham bagaimana gambaran kehidupan yang berlangsung pada saat kisah ini terjadi (mengacu latar cerita), namun beberapa hal yang agaknya "dimudahkan" membuat pertentangan batin saya. Tokoh utama menghamili 2 perempuan istri orang dengan landasan cinta (padahal berawal dari napsu dan birahi) dan kemudian mengadopsi anak-anaknya buat sy terlalu menyakitkan. Kondisi ekonomi kedua perempuan ini membuat posisinya lemah dan tidak bisa melawan.
Profile Image for Maya.
207 reviews8 followers
November 29, 2023
Buku ini mengangkat kebudayaan Batak, terutama soal adat partuturan (silsilah keluarga, sistem kekerabatan) dan filosofi kehidupannya. Menempatkan era pemberontakan pasca-kemerdekaan sebagai latar waktu juga merupakan pilihan yang cerdik, karena pembaca bisa menyaksikan kontras penghayatan kehidupan antara Tondi dan kakeknya, Ompu Silangit. Karena pada era itu, pengaruh Belanda dan Republik Indonesia cukup besar dalam perubahan masyarakat Batak: terhadap agama, terhadap upaya meningkatkan kesejahteraan, terhadap status sosial, dll.

Lalu seiring berjalannya cerita, pembaca akan melalui petualangan hidup Tondi. Dari menjadi tentara yang berpindah kubu, terjebak di dunia begu, hingga tiba di Jakarta dan mengembangkan usaha. Tondi melalui semua itu dengan sikap yang expedient, memilih jalan yang mudah dan praktis walau mungkin caranya kurang patut atau kurang etis. Ayah yang meninggalkannya sejak ia kecil pun tak lagi dipersoalkan, hingga pada masa tumbangnya Soekarno menjadi sebuah titik bagi Tondi tentang memelihara marga.

Saya menikmati cara penulis menarasikan ceritanya, luwes namun efektif, tanpa kata-kata puitis berlebihan. Tapi seiring berlalunya bab demi bab, saya merasa bahwa ceritanya maskulin. Apakah kualitas maskulin ini bawaan dari cerminan masyarakat Batak, atau minat alami penulis (mengingat karya-karyanya terdahulu), saya tidak bisa menyimpulkan. Tapi buat saya tetap menarik, karena buku ini menggambarkan betapa pentingnya marga bagi orang Batak. Dalam marga, ada kualitas nilai sosial, tradisi, bahkan filosofis yang mungkin sulit dijelaskan kepada orang non-Batak. Walaupun begitu, penulis cerdik juga untuk tidak menuliskan marga Tondi hingga akhir cerita. Mungkin akan timbul komplain jika dituliskan, baik marga itu fiksi ataupun ada di dunia nyata.
Profile Image for Aarth.
8 reviews
July 8, 2023
Melalui buku ini saya banyak belajar terkait adat dan kebiasaan suku Batak yang selama ini tidak pernah saya dapatkan. Pun kota-kota atau daerah yang baru pertama kali saya dengar. Mungkin akan sedikit membingungkan bagi pembaca yang buta sama sekali dengan adat Batak atau kota-kota di Sumatera Utara. Selain itu, banyak juga ajaran moral dan pelajaran hidup yang cukup dalam dan bermakna namun masih relevan dengan kehidupan masa kini. Pemilihan katanya sangat lihai dan alur ceritanya tidak mudah ditebak. Banyak hal mengejutkan dan tak pernah terbayangkan terjadi pada cerita ini. Begitu juga latar belakang sejarahnya yang sangat kental memberikan saya pelajaran tentang sejarah pasca-kemerdekaan, sangat apik disajikan sesuai dengan plot cerita.

Hanya, cukup banyak didapati informasi berlebih dan berulang terkait latar belakang sejarah. Memang berguna untuk memberikan informasi tambahan atau menjelaskan latar belakang sejarah tetapi penyampaiannya serupa dan dari sudut pandang yang sama sehingga terkesan bertele-tele. Selain itu, sebenarnya separuh dari cerita sudah sangat baik dibangun dengan alur yang menarik yaitu perjalanan tokoh utama dalam peperangan, namun separuh berikutnya keseruan berhenti saat perang "tiba-tiba" usai. Alhasil antiklimaks sangat kuat di bab-bab terakhir. Cerita mulai melebar ke mana-mana dan terkesan dipaksakan agar akhir cerita cukup memuaskan. Sehingga bab-bab penghabisan saya baca sekilas dan secara cepat karena sudah tidak berkorelasi lagi dengan ide cerita awal.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
October 24, 2019
Awalnya susah mengikuti buku ini karena banyak istilah batak. Meskipun ada daftar istilah, tetap tidak mencakup semua kata yang dicetak miring. Beberapa halaman kemudian, saya mulai dapat mengikuti alurnya.

Porsi sejarah, adat batak, drama, dan mistismenya terasa pas hingga akhir buku. Begitu pula dengan diksi-diksi yang dipakai. Saya harus membuka KBBI daring seusai membaca satu halaman. Namun, saya tidak melihatnya sebagai suatu beban, malah bergairah dengan pengetahuan kata baru.

Beberapa hal yang kurang mengena bagi saya adalah kalimat-kalimat yang repetitif seakan-akan pembaca lupa bahwa A adalah anak B, atau C adalah sepupu D. Terdapat pula beberapa typo yang untungnya tidak seberapa mengganggu.

Jika manusia berperang, seharusnya adat mendamaikannya
Profile Image for juwitaju.
37 reviews6 followers
February 9, 2020
Buku ini nggak memberikan sebuah konflik yang cukup kuat untuk dipertanggungjawabkan, atau menyeret pembaca dalam permasalahan.
walaupun permasalahannya adalah kehidupan-Tondi-tanpa-Ayah, tapi justru pengaruh dari eksistensi ayah ditunjukkan secara implisit, bahkan tidak kentara sama sekali. Isi cerita cenderung tentang pengalaman-pengalaman Tondi pada hal-hal yang baru ditemuinya, baru dirasakannya dan baru dicobanya. Kebencian Tondi kepada ayahnya justru ditunjukkan dengan lemah dalam sepanjang alur cerita.
Tapi dari buku ini jadi banyak tau tentang Batak dan halhal yang terkait dengan suku tersebut. Budayanya, marga-marganya, istilah-istilah dan juga adat istiadat yang tidak banyak diketahui orang
Profile Image for Andris Sambung.
39 reviews3 followers
April 28, 2020
Kembali menemukan bacaan yang bikin hati berdesir, hangat ketika membaca dan dekat dengan perasaan. Menolak Ayah adalah sebuah cerita yang mengedepankan sisi kemanusiaan, dibalut dengan nilai-nilai lokal Adat Batak dan sejarah revolusi pada masa awal-awal kemerdekaan. Kisah-kisah perjuangan manusia selalu menjadi bahan bakar untuk lebih bisa melihat diri sendiri. Bisa ikut merasakan apa yang terjadi dalam orang-orang yang begitu gigih mempertahankan hidupnya. Ashadi Siregar agaknya mencurahkan semua kemampuan menulisnya untuk buku ini. Sehingga nyaris sempurna. Horas Mauliate hasian
Profile Image for ANoverse.
7 reviews
June 4, 2022
tentang perjalanan hidup Tondi yang lugu menjadi Tondi dewasa dan pemurah, lengkap dengan kisah-kisah orang di sekitarnya dengan latar belakang tahun 1950-1960an. dalam keseluruhan cerita digambarkan dengan rapi bentuk pemberontakan dan ketegangan politik pada itu. sayangnya, meskipun bagus pada unsur alur dan penggalan sejarah, tapi rada kurang pada bagian keterlibatan emosi pembaca
Profile Image for nandes.uka.
11 reviews
October 25, 2022
Buku fiksi sejarah karya dari Ashadi Siregar pertama yang aku baca, bukunya ku sewa bersama dengan buku Pachinko (tapi tidak selesai ku baca) dari penyewa buku online Marked This Book. Awal membacanya cukup berat, latar belakang tahun 1950-1960 dan menyinggung beberapa peristiwa sejarah dan kebudayaan Batak yang kental tapi tidak familiar buatku. Lama kelamaan mulai nyaman bacanya
Profile Image for Ridy Sudarma.
53 reviews3 followers
December 26, 2019
Menceritakan tentang kehidupan Tondi seorang anak Batak, rasanya jadi lebih mengenal budaya dan cara berpikir orang Batak. Sampai titik tertentu, sepertinya ada kemiripan antara buku ini dengan Para Priyayi karya Umar Kayam
Profile Image for Lana.
81 reviews6 followers
June 28, 2025
3.75/5

Enjoyable, I can see this being a modern classic in the Indonesian literature world. But, towards the end, I feel a little iffy about how the author potrays the women and how the women relates to the main male character.
Profile Image for Hasan Fahri Pamona.
19 reviews6 followers
April 10, 2019
Kumpulan paradoksial yang manis dikumpulkan dalam etnografis yang modern. Produser film dan sutradara jangan menolak novel ini
72 reviews1 follower
April 8, 2020
Lama ya bacanya ... sepertinya buku ini kurang cocok dgn saya
Profile Image for Aditya Sattvika.
57 reviews
June 18, 2021
menarik, fiksi sejarah yang sangat padat mengulas adat batak, alur ceritanya pun asyik diikuti, walau bab akhir seperti sudah bisa ditebak
karya yang amat bagus
Profile Image for Audrey.
1 review
September 11, 2025
finished the book. 6/10. loved it. i mostly loved how it explains batak people? but i felt like tondi’s character development was lowk off.. but a good book overall
Profile Image for Neva MH.
10 reviews
November 12, 2025
belajar banyak tentang kultur batak di buku ini (gw lah si crisis identity of being batak's daughter)
Displaying 1 - 30 of 35 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.