Beberapa waktu yang lalu kita adalah sepasang keinginan untuk menyatu. Saling menyajikan kebahagiaan tanpa jemu. Menanyakan kabarmu adalah hobiku saat itu. Membesukku adalah hal favoritmu setiap waktu. Beberapa masalah dapat kita tanggulangi tanpa menggerutu.
Itu dahulu sebelum rasa sepi benar-benar membuatku mati. Sebelum dikhianati menjadi kendali kesedihan di hati. Sebelum hati ini dijeruji oleh sebuah kata pergi yang saat ini tidak bisa kumengerti. Sebelum kau dan aku menjadi sepasang diam yang dahulunya haram dengan kata bungkam. Sebelum dirimu menjadikanku tenggelam karena membuat segalanya karam. Sebelum itu, sebelum itu, jauh sebelum itu. Ketika kau masih menjadi harapan dalam sebuah kehidupan.
📃Kamu pernah di ghosting? Ditinggal pas sayang-sayangnya? Wuhuuu, sakit ya pastinya. Lewat buku ini, tersaji kalimat-kalimat cinta, patah hati, kehilangan, kepergian dan beberapa aspek yang sering ditemukan dalam sebuah asmara. Menurut penulis, buku ini dibuat untuk memotivasi pembaca dan penulis sendiri agar lebih dewasa dan tegar dalam mencinta, tidak selalu menjadikan cinta sebagai dewa. . 📃Jika kamu memiliki kenangan-kenangan pahit soal asmara, buku ini seakan membantu menyuarakan segala isi hati yang tertahan di tengorokan, yang tak bisa terungkap secara verbal. . 📃Jika ingin membaca buku ini maka bersiaplah berjalan-jalan kembali ke sebuah memori tentang seseorg yang telah pergi dari hati dan tak lagi kembali. Berbesar hatilah sejenak menerima fase-fase kehilangan untuk seseorang yang begitu dicintai. . 📃Selain kolase-kolase kata, terdapat beberapa fotografi hitam putih yang melengkapi suasana kelam dan sendu. Ini dapat terlihat dari sudut pengambilan gambar didominasi dengan objek manusia yang membelakangi kamera. . 📃Walaupun buku ini cukup tipis namun menghipnotis jika membacanya, apalagi jika pernah memiliki pengalaman yang seiring dengan tulisan-tulisan yang tersaji.
Buku ini menceritakan tentang kehilangan melalui diksi-diksi yang unik dan meresap di hati. Membahas tentang aspek asmara terutama perasaan tokoh AKU yang kehilangan pujaan hatinya.
Jujur, saat membacanya aku mengganti subjek persepsi CINTA menjadi persepsi KEHIDUPAN. Akupun diberi pelajaran tentang keiklasan menerima hidup dan mencoba membuka diri dengan dunia yang sesungguhnya ramai.
Buku ini merupakan buku pertama penulis yang aku baca. Kesanku, buku ini sangat cocok dibaca bagi mereka yang merasa kesepian karena ditinggalkan. Bukan hanya ditinggal pujaan hati, bahkan untuk yang merasa kehilangan diri sendiri kurasa akan merasakan duduk di keramaian ketika membaca buku ini.
Bangkit. Buku ini juga mencantumkan beberapa tips bangkit dari kesedihan salah satunya adalah menerima takdir dari persepsi lain dan membuka diri pada dunia yang bersedia menampung kesedihanmu.
Persis seperti judulnya, buku ini bercerita tentang kepergian seorang kekasih yang mengkhianati kekasihnya (penulis menempatkan diri sebagai yang terkhianati). Bercerita layaknya puisi dengan banyak diksi. Mirip seperti buku Fiersa, Garis Waktu. Menulis dengan analogi-analogi yang masih memberi makna tentang perihnya kehilangan terlebih karena sebuah pengkhianatan. Saya cukup suka di bagian tengah buku ini, rasanya diksi yang dihadirkan unik dan saya bisa maerasakan bagaumana penulis mencari analogi yang tepat menggambarkan perasaannya.
Aku kira ini novel, ternyata lebih ke puisi gitu ya... Aku suka sih judul dan covernya, tapi nggak begitu dengan isinya. Aku juga suka konsepnya dengan menyertakan beberapa foto pribadi, meski kalau boleh saran, aku sih akan lebih enjoy kalau foto-fotonya juga 'bercerita', nggak cuma foto asal masuk aja. Menurutku, penulisnya kurang "menjahit" potongan ceritanya meski alur dan storylinenya cukup terstruktur. Aku kurang suka gaya penulisannya, terkesan monoton dan ritmenya cukup lambat. Bukan seleraku, sepertinya.